Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

TENTANG PENGENALAN ALAT-ALAT K3 DI UPT LABORATORIUM


KESEHATAN KERJA

DOSEN PENGAMPU:
1. Dr. Dra. SUNARSIEH, M.Kes
2. Paulina, SKM, M,Kes

DISUSUN OLEH :
1. Amin Japar (20181313005)
2. Asep Suherman (20181313007)
3. Chairul Fikri (20181313008)
4. Julhaidir Akbar (20181313015)
5. Sindi Sriwahyu (20181323030)
6. Walluyo (20181311033)

PRODI DIV JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN


POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan
karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah berjudul “Pengenalan Alat-Alat
K3 di UPT Laboratorium Kesehatan Kerja” sebagai tugas Mata Kuliah Kesehatan dan
Keselamatan Kerja.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari peranan
dan bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Dra.
Sunarsieh,M.Kes dan Ibu Paulina,S.K.M, M.Kes selaku Dosen Pengampu mata kuliah
Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Penulis menyadari walaupun sudah berusaha maksimal dalam penyusunan makalah ini
namun masih terdapat kekurangan dan masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan selanjutnya. Akhirnya, semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua.

Pontianak, November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .......................................................................................... i
Daftar Isi .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Tujuan Praktikum ......................................................................... 1
C. Manfaat Praktikum ...................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 3
A. Pencahayaan ................................................................................. 3
B. Kebisingan .................................................................................... 6
C. Iklim Kerja .................................................................................... 9
D. Audiometri ................................................................................... 10
E. Spirometri ..................................................................................11
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 14
A. Hasil ............................................................................................ 14
B. Pembahasan ................................................................................. 21
Daftar Pustaka .......................................................................................... 28

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu aspek perlindungan
tenaga kerja yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Dengan
menerapkan teknologi pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja, diharapkan tenaga
kerja akan mencapai ketahanan fisik, daya kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi.
Disamping itu keselamatan dan kesehatan kerja dapat diharapkan untuk menciptakan
kenyamanan kerja dan keselamatan kerja yang tinggi. Jadi, unsur yang ada dalam
kesehatan dan keselamatan kerja tidak terpaku pada faktor fisik, tetapi juga mental,
emosional dan psikologi.
Berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun. Keselamatan kerja mempunyai ruang
lingkup yang berhubungan dengan mesin, landasan tempat kerja dan lingkungan kerja,
serta cara mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, memberikan
perlindungan sumber-sumber produksi sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan
produktifitas.

B. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui alat-alat kesehatan dan keselamatan kerja beserta fungsi dan cara
penggunaan di UPT Laboratorium Kesehatan Kerja.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui jenis-jenis instrumen yang digunakan untuk pemeriksaan
kesehatan lingkungan kerja di UPT Laboratorium Kesehatan Kerja.
b. Untuk mengetahui jenis-jenis instrumen yang digunakan untuk pemeriksaan
kesehatan tenaga kerja di UPT Laboratorium Kesehatan Kerja.
c. Untuk mengetahui fungsi dan cara penggunaanmasing-masing instrument di UPT
Laboratorium Kesehatan Kerja.

1
C. Manfaat Praktikum
1. Agar mahasiswa mengetahui dan mengenal jenis-jenis instrumen untuk pemeriksaan
kesehatan lingkungan kerja dan kesehatan tenaga kerja.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan cara menggunakan instrumen untuk
pemeriksaan kesehatan lingkungan kerja dan kesehatan tenaga kerja

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pencahayaan
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1405 tahun 2002, penerangan adalah
jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan
secara efektif. Oleh sebab itu salah satu masalah lingkungan ditempat kerja harus
diperhatikan yaitu pencahayaan. Pencahayaan minimal yang dibutuhkan menurut jenis
kegiatanya seperti berikut:
Pengukuran cahaya dilakukan dengan menggunakan Lux meter.
Tingkat Menurut
PMP no. Jenis Kegiatan Pencahayaan Keterangan 7 tahun
Minimal (lux)
Pekerjaan kasar Ruang penyimpanan dan peralatan
dan tidak terus- 100 atau instalasi yang memerlukan
menerus pekerjaan kontinyu
Pekerjaan kasar Pekerjaan dengan mesin dan
dan terus- 200 perakitan kasar
menerus
Ruang administrasi, ruang kontrol,
Pekerjaan rutin 300
pekerjaan mesin dan perakitan
Pembuatan gambar atau bekerja
Pekerjaan agak
500 dengan mesin kantor, pemeriksaan
halus
atau pekerjaan dengan mesin
Pemilihan warna, pemrosesan
Pekerjaan halus 1000 tekstil, pekerjaan mesin halus dan
perakitan halus
1500 Mengukir dengan tangan,
Pekerjaan sangat tidak pemeriksaan pekerjaan mesin, dan
halus menimbulkan perakitan yang sangat halus
bayangan
3000 Pemeriksaan pekerjaan, perakitan
Pekerjaan terinci tidakmenimbulkan sangat halus
bayangan

3
1964, tingkat penerangan atau NAB (Nilai Ambang Batas) di tempat kerja tercantum
dalam tabel.
Tabel Tingkat Penerangan atau NAB (Nilai Ambang Batas)
di Masing-Masing Area Kerja
Tingkat
Penerangan
Area Kegiatan
Minimal
(Lux)
Penerangan darurat 5 lux
Penerangan untuk halaman dan jalan dalam lingkungan perusahaan 20 ux
Pekerjaan yang membedakan barang kasar, seperti:
1. Mengerjakan bahan-bahan kasar
2. Mengerjakan arang atau abu
3. Mengerjakan barang-barang yang besar 50 lux
4. Mengerjakan bahan tanah atau batu
5. Gang-gang, tangga di dalam gedung yang selalu dipakai
6. Gudang-gudang untuk menyimpan barang-barang besar dan kasar
Pekerjaan yang membedakan barang-barang kecil secara sepintas,
seperti:
1. Mengerjakan barang-barang besi dan baja yang setengah selesai
2. Pemasangan yang kasar
3. Penggilingan padi
4. Pengupasan/pengambilan dan penyisihan bahan kapas
100 lux
5. Mengerjakan bahan-bahan pertanian
6. Kamar mesin dan uap
7. Alat pengangkut orang dan barang
8. Ruang-ruang penerimaan dan pengiriman dengan kapal
9. Tempat menyimpan barang-barang sedang dan kecil
10. Kakus, tempat mandi dan tempat kencing
Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang kecil agak teliti, seperti: 200 lux
1. Pemasangan alat-alat yang sedang (tidak kasar)
2. Pekerjaan mesin dan bubut yang kasar

4
3. Pemeriksaan atau percobaan kasar terhadap barang-barang
4. Menjahit tekstil atau kulit yang berwarna muda
5. Pemasukan dan pengawetan bahan-bahan makanan dalam kaleng
6. Pembungkusan daging
7. Mengerjakan kayu
8. Melapis perabot
Pekerjaan perbedaan yang teliti daripada barang-barang kecil, seperti:
1. Pekerjaan mesin yang teliti
2. Pemeriksaan yang teliti
3. Percobaan-percobaan yang teliti dan halus
4. Pembuatan tepung 300 lux
5. Penyelesaian kulit dan penenunan bahan-bahan katun atau wol
berwarna muda
6. Pekerjaan kantor yang berganti-ganti menulis dan membaca,
pekerjaan arsip dan seleksi surat-surat
Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang halus dengan kontras
sedang dan dalam waktu yang lama, seperti:
1. Pemasangan yang halus
2. Pekerjaan-pekerjaan mesin yang halus
3. Pemeriksaan yang halus
500-1000 lux
4. Penyemiran yang halus dan pemotongan gelas kaca
5. Pekerjaan kayu yang halus (ukir-ukiran)
6. Penjahit bahan-bahan wol yang berwarna tua
7. Akuntan, pemegang buku, pekerjaan steno, mengetik atau
pekerjaan kantor yang lama dan teliti
Pekerjaan yang membedakan barang-barang yang sangat halus dengan Paling sedikit
kontras yang sangat kurang untuk waktu yang lama, seperti: 1000 lux
1. Pemasangan ekstra halus (arloji, dll)
2. Pemeriksaan yang ekstra halus (ampul obat)
3. Percobaan alat-alat yang ekstra halus
4. Tukang mas dan intan
5. Penilaian dan penyisihan hasil-hasil tembakan

5
6. Penyusunan huruf dan pemeriksaan copy dalam percetakan
7. Pemeriksaan dan penjahitan bahan pakaian berwarna tua

B. Kebisingan
Batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan
dari usaha atau kegiatan telah diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor
48 Tahun 1996 tentang baku tingkat kebisingan. Sedangkan nilai ambang batas
kebisingan di tempat kerja telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Nomor 13 Tahun 2011 tentang nilai ambang batas faktor fisika dan faktor
kimia di tempat kerja.
Baku Tingkat Kebisingan
Peruntukan Kawasan / Lingkungan Kegiatan Tingkat kebisingan dBA
1. Peruntukan kawasan
a. Perumahan dan permukiman 55
b. Perdagangan dan Jasa 70
c. Perkantoran dan perdagangan 65
d. Ruang Terbuka Hijau 50
e. Industri 70
f. Pemerintahan dna Fasilitas Umum 60
g. Rekreasi 70
h. Khusus:
- Bandar udara *)
- Stasiun kereta api *) 70
- Pelabuhan laut 60
- Cagar budaya
2. Lingkungan kegiatan
a. Rumah sakit atau sejenisnya 55
b. Sekolah atau sejenisnya 55
c. Tempat ibadah atau sejenisnya 55
Keterangan:
*) disesuaikan dengan ketentuan Menteri Perhubungan
Nilai Ambang Batas Kebisingan di Tempat Kerja

Waktu pemaparan per hari Intensitas kebisingan (dBA)

6
Waktu pemaparan per hari Intensitas kebisingan (dBA)
4 Jam 88
2 Jam 91
1 Jam 94
30 Menit 97
15 Menit 100
7,5 Menit 103
3,75 Menit 106
1,88 Menit 109
0,94 Menit 112
28,12 Detik 115
14,06 Detik 118
7,03 Detik 121
3,52 Detik 124
1,76 Detik 127
0,88 Detik 130
0,44 Detik 133
0,22 Detik 136
0,11 Detik 139
Catatan:
Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dBA, walaupun sesaat.
Peraturan Menteri Kesehatan No. 718 tahun 1987 tentang kebisingan yang
berhubungan dengan kesehatan menyatakan pembagian wilayah dalam empat zona.
1. Zona A adalah zona untuk tempat penelitian, rumah sakit, tempat perawatan
kesehatan atau sosial. Tingkat kebisingannya berkisar 35 – 45 dB.
2. Zona B untuk perumahan, tempat pendidikan, dan rekreasi. Angka kebisingan
45 – 55 dB.
3. Zona C, antara lain perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dengan
kebisingan sekitar 50 – 60 dB.

7
4. Zona D bagi lingkungan industri, pabrik, stasiun kereta api, dan terminal bus.
Tingkat kebisingan 60 – 70 dB.
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kebisingan yaitu Sound Level Meter
Langkah-langkah Pengukuran Kebisingan:
1. Menghidupkan dan Posisikan sound level meter pada kedudukan yang
merepresentasikan tingkat intensitas bising di tempat itu
2. Aktifkan pengukuran dengan mengatur saklar geser pada kedudukan Lo atau
Hi. Lo atau Low Intensity berada pada skala 40 s/d 80 dB, sedangkan Hi atau
High Intensity berada pada skala 80 s/d 120 dB.Mengatur ketinggian alat pada
posisi zona pendengaran (1,2-1,5 meter)
3. Mengarahkan mikrophon ke sumber datangnya suara bising yang paling
dominan
4. Catat intensitas kebisingannya setelah angka di monitor stabil, Pencatatan
pada satu kedudukan akan terkait dengan pembacaan skala minimum dan
skala maksimum.
5. Ambil jumlah titik kedudukan sebanyak yang diperlukan.
C. Iklim Kerja
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 70 tentang Standar Kesehatan
Lingkungan Kerja Industri, Nilai Ambang Batas (NAB) iklim lingkungan kerja
merupakan batas pajanan iklim lingkungan kerja atau pajanan panas (heat stress) yang
tidak boleh dilampaui selama 8 jam kerja per hari. NAB iklim lingkungan kerja
dinyatakan dalam derajat Celsius Indeks Suhu Basah dan Bola (ºC ISBB).
Tabel Nilai Ambang Batas Iklim Lingkungan Kerja Industri
Alokasi Waktu NAB (ºC ISBB).
Ringan Sedang Berat Sangat Berat
Kerja dan Istirahat
75-100% 31,0 28,0 * *
50-75% 31,0 29,0 27,5 *
25-50% 32,0 30,0 29,0 28,0
0-25% 32,5 31,5 30,0 30,0
Catatan:
1. ISBB atau dikenal juga dengan istilah WBGT (Wet Bulb Globe Temperature)
merupakan indikator iklim lingkungan kerja
2. ISBB luar ruangan = 0,7 Suhu Basah Alami + 0,2 Suhu Bola + 0,1 Suhu Kering

8
3. ISBB dalam ruangan = 0,7 Suhu Basah Alami + 0,3 Suhu Bola
(*) tidak diperbolehkan karena alasan dampak fisiologis

D. Audiometri
Audiometri adalah pemeriksaan untuk menentukan jenis dan derajat ketulian
(gangguan dengar).Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan jenis ketulian apakah :
1. Tuli Konduktif
2. Tuli Saraf (Sensorineural)
3. Serta derajat ketulian.
Audiometer adalah peralatan elektronik untuk menguji pendengaran. Audiometer
diperlukan untuk mengukur ketajaman pendengaran:
1. digunakan untuk mengukur ambang pendengaran
2. mengindikasikan kehilangan pendengaran
3. pembacaan dapat dilakukan secara manual atau otomatis
4. mencatat kemampuan pendengaran setiap telinga pada deret frekuensi yang berbeda
5. menghasilkan audiogram (grafik ambang pendengaran untuk masing-masing telinga
pada suatu rentang frekuensi)
6. pengujian perlu dilakukan di dalam ruangan kedap bunyi namun di ruang yang
heningpun hasilnya memuaskan
7. berbiaya sedang namun dibutuhkan hanya jika kebisingan merupakan
masalah/kejadian yang terus-menerus, atau selain itu dapat menggunakan fasilitas di
rumah sakit setemapat.
Audiogram adalah catatan grafis yang diambil dari hasil tes pendengaran dengan
audiometer, yang berisi grafik ambang pendengaran pada berbagai frekuensi terhadap
intensitas suara dalam desibel (dB).
Derajat ketulian (menurut buku FKUI) :
1. Normal : 0 – 25 dB
2. Tuli ringan : 26 – 40 dB
3. Tuli sedang : 41 – 60 dB
4. Tuli berat : 61 – 90 dB

9
5. Tuli sangat berat : > 90 dB
Ada pula referensi yang menggolongkan derajat ketulian sebagai berikut (berlaku
di Poliklinik THT RSWS) :
1. Normal : -10 – 26 dB
2. Tuli ringan : 27 – 40 dB
3. Tuli sedang : 41 – 55 dB
4. Tuli sedang-berat : 56 – 70 dB
5. Tuli berat : 71 – 90 dB
6. Tuli total : > 90 dB

E. Spirometri
Alat untuk mengukur jumlah (volume) dan/atau kecepatan (aliran) udara yang
dihirup dan dihembuskan adalah spirometer. Pengukuran tersebut antara lain :
1. Forced expiratory volume in one second (FEV1) atau volume udara paksa
maksimum dalam 1 detik
Yaitu untuk mengukur beberapa banyak udara yang dapat dihembuskan dalam waktu
1 detik. Paru-paru dan saluran pernapasan normal umumnya dapat menghembuskan
hampir semua isi udara dalam paru-paru dalam waktu 1 detik.
2. Forced vital capacity (FVC) atau kapasitas vital paksa
Yaitu total udara yang dapat dihembuskan dalam satu tarikan napas penuh
3. Perbandingan nilai FEV1 dan FVC (FEV1/FVC)
Yaitu perbandingan udara yang dapat ditarik dan dihembuskan dalam satu kali
bernapas penuh dalam 1 detik.
Test spirometri dapat membantu mendiagnosa empat hal berikut :
1. Paru-paru normal
Definisi normal, bervariasi, bergantung usia, ukuran paru-paru, dan jenis
kelamin. Nilai normal ini dapat diketahui dari daftar table nilai normal hasil
spirometry.
2. Paru-paru obstruktif
Yaitu kondisi dimana terjadi penyempitan pada saluran pernapasan,
umumnya terjadi pada kondisi asma dan penyakit paru-paru obstruksi kronis

10
(COPD). Jika terjadi penyempitan saluran pernapasan, maka jumlah udara yang
dapat dihembuskan dengan cepat akan berkurang. Dalam hal ini berarti nilai
FEV1 berkurang dan rasio FEV1/FVC menjadi rendah.
Aturan umumnya adalah :
Anda cenderung mengalami penyempitan saluran pernapasan bila :
Nilai FEV1 lebih kecil dari 80% dari nilai prediksi sesuai usia, jenis
kelamin, dan ukuran badan anda atau rasio FEV1/FVC lebih rendah atau sama
dengan 0,7. Pada kondisi penyempitan saluran napas, kapasitas normal paru-paru
anda biasanya tetap normal atau sedikit berkurang pada kondisi paru-paru
obstruktif nilai FVC biasanya normal atau mendekati normal. Spirometri juga
dapat membantu mengecek apakah perawatan yang dilakukan (misalnya
penggunaan inhaler) benar-benar membantu membuka saluran napas. Hasil
bacaan spirometri akan meningkat jika saluran pernapasan menjadi lebih lebar
setelah pemberian obat. Secara umum, kondisi asma lebih mungkin memperoleh
saluran pernapasan normal dibandingkan kondisi COPD. COPD sendiri
dikelompokkan menurut tingkatan keparahannya. Nilai ini diperoleh dari
pengukuran FEV1 setelah pasien diberi pengobatan bronkodilator untuk
membuka saluran pernapasan. Respon pengobatan penderita COPD tidak secepat
pada penderita asma. Berikut adalah tentang nilai dalam mendiagnosa COPD dan
tingkat keparahannya :
a. COPD ringan
Nilai FEV1 80% atau lebih dari nilai prediksi. Hal ini menunjukkan bahwa
seseorang COPD ringan seseorang dengan COPD ringan memiliki nilai hasil
spirometri normal setelah diberikan obat bronkodilator.
b. COPD sedang
Nilai FEV1 antara 50-79% dari nilai prediksi setelah diberikan bronkodilator.
c. COPD berat
Nilai FEV1 antara 30-49% dari nilai prediksi setelah diberikan bronkodilator.
d. COPD sangat berat
Nilai FEV1 dibawah 30% dari nilai prediksi setelah diberikan bronkodilator.
3. Paru-paru restriktif

11
Paru-paru restriktif yaitu ketika nilai FVC lebih rendah dari nilai prediksi untuk
usia, jenis kelamin, dan ukuran tubuh seorang. Hal ini disebabkan oleh berbagai
kondisi yang mempengaruhi kemampuan paru-paru mengembang dan menahan
sejumlah udara. Hal lain adalah terjadinya fibrosis atau luka pada paru-paru. Pada
kondisi konstruktif, nilai FEV1 juga menurun sejalan dengan penurunan nilai
FVC sehingga pada kondisi paru-paru restriktif, rasio FEV1/FVC tetap normal.
4. Kombinasi paru-paru obstruktif dan restriktif
Terjadi pada kondisi misalnya: pasien terkena asma dan gangguan paru-paru
lainnya. Contoh lainnya misalnya fibrosis sistik dimana terkumpul banyak lendir
(mukus) di saluran pernapasan yang menyebabkan penyempitan saluran
pernapasan (paru-paru obstruktif), dan kerusakan jaringan paru-paru
(kecenderungan paru-paru restriktif).

F. Vibration Meter
Vibration Tester atau Vibration Meter dapat diartikan sebagai sebuah perangkat
atau alat yang digunakan untuk mengukur gerakan bolak-balik dari komponen mekanik
dari suatu mesin sebagai reaksi dari adanya gaya dalam(gaya yang dihasilkan oleh mesin
tersebut) maupun gaya luar (gaya yang berasal dari luar atau sekitar mesin).
Dari beberapa tester di bawah ini perangkat analisis    Vibration Tester atau Vibration
Meter  ini terbagi dalam beberapa tipe yaitu:

1. Sensor Getaran, Secara konseptual, sensor getaran berfungsi untuk mengubah besar


signal getaran fisik menjadi sinyal getaran analog dalam besaran listrik dan pada
umumnya berbentuk tegangan listrik.
2. Dinamic Signal Analizer (DSA), merupakan getaran mesin dalam kombinasi
kompleks dari sinyal yang berasal dari berbagai sumber getaran mesin didalam mesin.

Aturan tentang nilai ambang batas getaran dibuat untuk menjaga kondisi pekerja
dari resiko yang ditimbulkan oleh getaran mekanis. Aturan standar mengenai getaran
yang diakui secara internasional adalah ISO 2631-1 yang dikeluarkan oleh Organisasi
Standar International yang berpusat di Jenewa. ISO 2631-1 merupakan standar yang
menunjukkan tingkat resiko paparan getaran berdasarkan nilai percepatan getaran dan

12
nilai Value Dose Vibration (VDV). Nilai percepatan getaran dihitung dengan
metode root mean square, dan digunakan sebagai kriteria untuk mengukur tingkat resiko
yang disebabkan oleh getaran yang bersifat stabil dan terus menerus. Sedangkan,
nilai Value Dose Vibration (VDV) digunakan sebagai ukuran untuk mengukur getaran
yang bersifat benturan seketika.

3. Tabel 1. Tingkat Resiko Terhadap Paparan Getaran (ISO 2631-1)

Nilai
percepatan Total Value Dose
Tingkat getaran Vibration (VDV)
Resiko r.m.s (m/s2) (m/s1.75) Keterangan
Paparan getaran masih
di bawah zona ‘‘Health
Guidance Caution
Zone (HGCV)’’. Kasus
penyakit akibat kerja
belum pernah ditemui
pada nilai percepatan
Low < 0,45 <0,85 getaran ini.
Paparan getaran berada
di zona HGCV.
Terdapat potensi resiko
Moderate 0,45 – 0,90 8,5 – 17 kesehatan kerja.
Paparan getaran berada
di atas zona HGCV.
Resiko kesehatan kerja
sering terjadi pada
High > 0,90 > 17 tingkat ini.
4. Sedangkan, peraturan nasional yang dikeluarkan pemerintah Indonesia adalah
Kepmenaker NO : KEP–51/MEN/I999, tentang nilai ambang batas  faktor fisika di

13
tempat kerja. Peraturan ini dibuat untuk melindungi pekerja dari resiko getaran mekanis.
Peraturan ini mengatur secara khusus tentang getaran yang merambat melalui tangan 
(Hand Transmitted Vibration).
5. Tabel 2. Nilai Ambang Batas Getaran pada Lengan dan Tangan (Kepmenaker NO :
KEP–51/MEN/I999)

Jumlah waktu kerja per hari kerja Nilai percepatan pada frekuensi dominan (m/s2)
4 jam dan kurang dari 8 jam 4
2 jam dan kurang dari 4 jam 6
1 jam dan kurang dari 2 jam 8
kurang dari 2 jam 12
6. Keputusan menteri ini memberikan informasi bahwa semakin besar nilai percepatan
getaran, maka waktu kerja yang diperbolehkan semakin kecil. Pada pekerjaan normal
dengan kerja delapan jam, paparan getaran dibatasi sebesar 4 m/s2.

G. Reaction Timer
 Reaction timer adalah suatu alat yang digunkan untuk mengukur kecepatan reaksi
yang diberikan oleh tenaga kerja terhadap rangsangan yang diberikan. Bentuk
rangsangan yang diberikan berupa rangsangan cahaya dan rangsangan bunyi.
Kelemahan dari metode ini adalah penempatan bola lampu atau rangsangan cahaya
serta frekwensi dan intensitas rangsangan bunyi yang diberikan mungkin tidak sesuai
dengan intensitas dan frekwensi yang mungkin masih dapat didengar oleh tenaga
kerja. Serta ada periode dimana tenaga kerja belum begitu mengenal
cara penggunaan alat dan pada akhir pemeriksaan ada kesiagaan yang berlebihan
dari tenaga kerja sehingga akan mempengaruhi kecepatanya bereaksi terhadap
rangsangan, han ini dikoreksi dengan mengabaikan hasil pengukuran pada lima kali
pengukuran di awal dan lima pengukuran di akhirt.

Standar evaluasi kelelahan :


a. Kelelahan ringan              : 240 – 409 milidetik
b. Kelelahan sedang           : 410 – 579 milidetik
c. Kelelahan berat                 : > 580 milidetik

14
H.

15
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Pencahayaan
NO
HASIL PENGUKURAN (LUX)
LOKASI/RUANG
R. ADMINISTRASI
SETEMPAT UMUM
1 2 3 1 2 3
1.

SETEMPAT UMUM

3
5 3
1 3

4 2
2
1

INTESITAS BISING (dB A)


NO LOKASI WAKTU LEQ
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 PERUMAHAN KARYAWAN L3 15,42.15,52 75,7 75,1 71,4 73,2 74,2 72,1 73,1 71,2 79,2 73,2 74,1 75,1
72,4 73,1 74,1 72,3 71,2 77,3 75,6 77,8 72,1 74,1 72,1 73,1
2. Kebisingan
75.1 76,1 72,2 73,4 74,2 76,7 78,2 79,1 70,1 72,1 72,1 70,1
70,1 71,2 72,3 74,2 75,3 74,2 78,2 77,2 70,1 70,2 73,4 71,2
73,1 74,1 72,1 73,1 74,2 75,1 70,1 73,1 74,2 70,1 73,1 70,1
74,2 73,4 75,2 76,7 77,7 78,1 70,1 66,2
16
3. Iklim kerja

NO LOKASI JAM TK TB TG RH ISBB SUMBER PANAS CUACA KET


07.00-07.20 26,9 23,1 27,6 65% 24,5
1 RUANG ADMIN 10.45-11.05
14.30-14.50
07.25-07.45
2 LAB 11.10-11.30
14.55-15.15
07.55-08.15
3 GUDANG 11.40-12.00
15.25-15.45

4. Audiometri

17
5. Spirometri

SPIROMETRI
JENIS BERAT TINGGI
UMUR MASA FVC FEV1 KETERANGAN
NO NOMOR SAMPEL NAMA BAGIAN KELAMIN BADAN BADAN FVC FVC FEV 1
(Th) KERJA (Th)
(L/P) (Kg) (Cm) Mease Pred Mease/FVC Mease FEV1 Pred Mease/FVC
Pred(%) Pred (%)
1 10300 WAHYU SEKRETARIS 19 P 5 70 170 1,77 2,70 65 1,74 2,47 70 Normal

6. Reaction Timer

JENIS MASA Hasil Pemeriksaan Ke-(Milidetik)


UMUR
NO NAMA BAGIAN KELAMIN KERJA KETERANGAN
(Th) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
L/P) (Th)
1 AMIN JAPAR Ka. CS 38 L 5 186,6 200 200 219,6 281,4 199,0 149,9 175,2 213,2 124,1
2 ASEP SUHERMAN SATPAM 27 L 5 175,8 163,2 276,9 217,6 213,5 188,4 112,4 175,8 123,5 140,2
3 CHAIRUL FIKRI RESEPSIONIS 23 L 5 2003 187,8 225,6 167,6 137,8 350,4 150.5 150,5 312,3 211,0
4 JULHAIDIR AKBAR Ka.Pest Control 30 L 5 175,8 138,0 213,8 210,0 212,2 225,3 1632 238,7 123,1 121,0
5 WAHYU SRI SINDI SEKRETARIS 22 P 5 175,3 187,4 203,5 213,5 313,8 319,0 187,3 162,6 120,2 302,3
6 WALLUYOHHHH KANG PARKIR 20 L 5 230,6 213,8 176,8 200,9 187,8 200,9 238,4 150,5 210,1 320,3

7. Vibration Meter

18
Percepatan Percepatan Percepatan aeq
No. Lokasi/Alat m/det2 m/det2 m/det2 Domi Ket
kerja Sumbu X Sumbu Y Sumbu Z nan/av
( m/de
t2 )

A1 A2 A3 Aeq A1 A2 A3 Aeq A1 A2 A3 Aeq


1. Getaran 0,933 0,684 0,668 0,771 0,841 0,684 0,668 0,735 0, 0, 0,6 0,78 0,789
Lengan 97 68 68 9
Tangan 7 4
( /20det )
2. Whole 0,468 0,484 0,462 0,468 0,484 0,462 0, 0, 0,4 0,544
Body 46 48 62
8 4

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil praktek yang kami lakukan di UPT Laboratorium Kesehatan
Kerja. Kami sekarang dapat mengetahui jenis-jenis instrumen untuk pemeriksaan
kesehatan lingkungan kerja dan kesehatan tenaga kerja yang terdapat di UPT
Laboratorium Kesehatan.
1. Instrumen untuk pemeriksaan Kesehatan Lingungan Kerja
a. Lux Meter

1) Pengertian

19
Alat ukur cahaya (lux meter) adalah alat yang digunakan untuk mengukur
besarnya intensitas cahaya di suatu tempat. Besarnya intensitas cahaya ini
perlu untuk diketahui karena pada dasarnya manusia juga memerlukan
penerangan yang cukup. Untuk mengetahui besarnya intensitas cahaya ini
maka diperlukan sebuah sensor yang cukup peka dan linier terhadap cahaya.
Semakin jauh jarak antara sumber cahaya ke sensor maka akan semakin kecil
nilai yang ditunjukkan lux meter. Alat ini didalam memperlihatkan hasil
pengukurannya menggunakan format digital yang terdiri dari rangka, sebuah
sensor. Sensor tersebut diletakan pada sumber cahaya yang akan diukur
intenstasnya.
2) Prinsip Kerja
Luxmeter merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur kuat
penerangan (tingkat penerangan) pada suatu area atau daerah tertentu. Alat ini
didalam memperlihatkan hasil pengukurannya menggunakan format digital.
Alat ini terdiri dari rangka, sebuah sensor dengan sel foto dan layar panel.
Sensor tersebut diletakan pada sumber cahaya yang akan diukur intenstasnya.
Cahaya akan menyinari sel foto sebagai energi yang diteruskan oleh sel foto
menjadi arus listrik. Makin banyak cahaya yang diserap oleh sel, arus yang
dihasilkan pun semakin besar. Sensor yang digunakan pada alat ini
adalah photo diode. Sensor ini termasuk kedalam jenis sensor cahaya atau
optic. Sensor cahaya atau optic adalah sensor yang mendeteksi perubahan
cahaya dari sumber cahaya, pantulan cahaya ataupun bias cahaya yang
mengenai suatu daerah tertentu. Kemudian dari hasil dari pengukuran yang
dilakukan akan ditampilkan pada layar panel.
Berbagai jenis cahaya yang masuk pada luxmeter baik itu cahaya alami
atapun buatan akan mendapatkan respon yang berbeda dari sensor. Berbagai
warna yang diukur akan menghasilkan suhu warna yang berbeda,dan panjang
gelombang yang berbeda pula. Oleh karena itu pembacaan yang ditampilkan
hasil yang ditampilkan oleh layar panel adalah kombinasi dari efek panjang
gelombang yang ditangkap oleh sensor photo diode.

20
Pembacaan hasil pada Luxmeter dibaca pada layar panel LCD (liquid
Crystal digital) yang format pembacaannya pun memakai format digital.
Format digital sendiri didalam penampilannya menyerupai angka 8 yang
terputus-putus. LCD pun mempunyai karakteristik yaitu Menggunakan
molekul asimetrik dalam cairan organic transparan dan orientasi molekul
diatur dengan medan listrik eksternal.
b. Sound Level Meter
1) Pengertian
Sound Level Meter ialah suatu alat yang digunakan untuk mengukur
kebisingan, suara yang tak dikehendaki, atau yang dapat menyebabkan rasa
sakit ditelinga. Sound level meter biasanya digunakan di lingkungan kerja
seperti, industri penerbangan dan sebagainya.
2) Fungsi alat
Untuk mengukur intensitas kebisingan ditempat kerja.Cara pengambilan
kebisingan alat harus berada diatas telinga pengambil.
3) Prinsip kerja
Prinsip kerja Sound Level Meter ialah didasarkan pada getaran yang
terjadi. Apabila ada objek atau benda yang bergetar, maka akan menimbulkan
terjadinya sebuah perubahan pada tekanan udara yang kemudian akan
ditangkap oleh sistem peralatan, Lalu selanjutnya jarum analog akan
menunjukkan angka jumlah dari tingkat kebisingan yang dinyatakan dengan
nilai dB. Pada umumnya SLM akan diarahkan ke sumber suara, setinggi
telinga, agar bisa menangkap kebisingan yang telah tercipta. Untuk keperluan
mengukur nilai kebisingan pada suatu ruang kerja, pencatatan dilaksanakan
satu shift kerja penuh dengan beberapa kali pencatatan dari SLM.
4) Cara penggunaan alat
a) Pilih selektor pada posisi fast untuk jenis kebisingan
continue/berkelanjutan, selektor pada posisi slow untuk jenis kebisingan
impulsif/ terputus-putus.
b) Pilih selektor range intensitas kebisingan.
c) Tentukan area pengukuran.

21
d) Setiap area pengukuran dilakukan pengamatan selama 1-2 menit dengan
kurang lebih 6 kali pembacaan. Hasil pengukuran yaitu angka yang
ditunjukkan pada monitor.
e) Tulis hasil pengukuran dan hitung rata-rata kebisingan (Lek) {Lek = 10
log 1/n (10 L1/10+10L2/10+10L3/10+….) dBA}.
5) Cara Kalibrasi Sound Level Meter:
a) Hidupkan kalibrator dan sound level meter.
b) Putar tombol penyetel, dan atur tingkat tekanan suara.
c) Pastikan kalibrator berada pada sound level meter yang benar.
d) Lalu sesuaikan sound level meter untuk memperoleh hasil yang benar.
c. Iklim Kerja (Questemp 32)

1) Pengertian
Alat ini digunakan untuk mengukur iklim di tempat kerja, yaitu : dry (suhu
kering), wet (suhu basah), RH (kelembaban), dan radiasi (TG). Alat ini
digunakan hanya 15 menit, karena jika terlalu lama suhunya tidak berubah,
dan jika terlalu cepat suhu pasti akan berubah-ubah. Alat yang dapat
digunakan adalah Arsmann psychrometer  untuk mengukur suhu basah,
termometer bola untuk mengukur suhu radiasi. Selain itu pengukuran iklim
kerja dapat menggunakan “Questemp”  yaitu suatu alat digital untuk
mengukur tekanan panas dengan parameter Indek Suhu  Bola Basah (ISBB).
Alat ini dapat mengukur suhu basah, suhu kering dan suhu radiasi.
Pengukuran tekanan panas di lingkungan kerja dilakukan dengan meletakkan
alat pada ketinggian 1,2 m (3,3kaki) bagi tenaga kerja yang berdiri dan 0,6 m
(2 kaki) bila tenaga kerja duduk dalam melakukan pekerjaan.Pada saat

22
pengukuran reservoir (tendon) termometer suhu basah diisi dengan aquadest 
dan waktu adaptasi alat 10 menit (Tim Hiperkes, 2006).
2) Fungsi alat
Untuk mengukur kelembaban, suhu, dan lain-lain.
3) Cara penggunaan alat
Adapun cara penggunaan dari ThermalEnviroment Monitor
Questemp 032 adalah sebagai berikut:
         Cara menggunakan alat :

a.     Pastikan sumbu bola basah dalam keadaan bersih. Isi


reservoir dengan air dalam suling.
b.    Tempatkan QUESTemppada area kerja yang aman dengan
jarak sekitar 3,5 meter dari tanah.
c. Putar tombol ON. Jika tegangan baterai yang ditampilkan
saat power-on
      urutan kurang dari atau sama dengan 6,4 volt, kemudian
ganti atau isi  
      ulang baterai pada alat tersebut.
d. Gunakan tombol panah untuk mengatur tampilan pada
item yang diinginkan.
e. Biarkan alat tersebut selama 10 menit agar sensor dapat
stabil dengan lingkungan sebelum hasilnya diperoleh.

2. Instrumen untuk pemeriksaan Kesehatan Tenga Kerja


a. Audiometer

23
1) Pengertian
Audiometer merupakan suatu peralatan elektronik yang digunakan untuk
menguji pendengaran, dimana audiometer mampu menghasilkan suara
yang memenuhi syarat sebagai bahan pemeriksaan yaitufrekuensi (125-
8000 dan intensitas suara yang dapat diukur (-10 s/d 110 dB).
2) Fungsi alat
a) Untuk mengukur berapa tingkat ketajaman pendengaran manusia
b) Untuk mengukur ambang pendengaran manusia
c) Untuk mengidentifikasi apabila terjadi kehilangan fungsi pendengaran
d) Mampu mencatat kemampuan pendengaran dari setiap telinga pada
deret frekuensi yang berbeda-beda
e) Dapat menghasilkan audiogram (suatu gambar berupa grafik dari
ambang pendengaran dari setiap masing-masing telinga terhadap suatu
tentang frekuensi).
3) Cara penggunaan alat
a) Tekan tombol power,   coba dengan memasang Earphone pada telinga
saudara sendiri dan lakukan pengoperasian berbagai tombol pengatur
b) Swicht kiri untuk pengaturan dB dan switch kanan untuk pengaturan
frekuensi
c) Tentukan pilihan jenis pemeriksaan phone (bone tidak kita periksa)
d) Pasanglan ear muf pada kedua telinga karyawan, warna merah untuk
telinga Kanan, dan warna biru untuk telinga Kiri

24
e)  Tentukan telinga mana yang akan di periksa terlebih dahulu dengan
menekan tombol Right atau Left
f) Tekan tombol stimulus untuk memberikan singnal ke klien
g) Subject respone untuk melihat apakah klien mendengar singnal dari
tombol stimulus tadi dengan melihat lampunya nyala atau mati
h) Masking jika diperlukan, untuk memasang bunyi masking (seperti
bunyi angin)

b. Spirometer
1) Pengertian
Spirometer adalah pemeriksaan fungsi paru yang berguna untuk
membedakan antara penyakit paru restriktif dan untuk menentukan tingkat
(ringan, sedang, atau berat), dari kelainan paru obstruktif atau restriktif.
Spirometer juga dapat digunakan untuk memonitor kinerja paru-paru dan
responnya terhadap perawatan yang sedang dilakukan. Spirometri
mengukur kemampuan paru-paru menarik dan menghembuskan napas.
Kemampuan ini dapat dipengaruhi oleh adanya penyakit dalam paru-paru
seperti obstruksi paru-paru kronis, asma, fibrosis paru dan sistik.
2) Fungsi alat spirometer
a) Mengetahui fungsi kerja paru-paru, apakah statusnya adalah
normal,restriksi,obstruksi ataupun campuran.
b) Sangat membantu dokter untuk menentukan resiko operasi bedah.
c) Memprediksi kemungkinan penyakit di masa depan.
d) Mengetahui manfaat dari pengobatan yang telah dilakukan.
e) Mengetahui diagnosa penyakit seperti asma,penyakit paru-paru,dan
lain-lain.
3) Cara penggunaan alat spirometer
a) Terlebih dahulu,pasien terlebih dahulu mengukur berat badan dan tinggi
badan.

25
b) Melakukan tes spirometri dengan menarik nafas dalam-dalam dengan
posisi sungkup mulut terpasang pada mulut.setelah penuh,tutup mulut
anda.
c) Kemudian hembuskan nafas sekencang-kencangnya dan semaksimal
mungkin hingga udara dalam paru-paru anda sepenuhnya kosong.
d) Proses ini memakai waktu beberapa detik.
e) Terkadang penghembusan nafas dilakukan perlahan hingga maksimum
tergantung test spirometri yang diperlukan.
f) Penggunaaan penutup hidung saat melakukan test spirometri sebuah klip
penutup hidung dapat dipasang pada hidung pasien untuk memastikan
tidak hembusan nafas yang keluar memlalui hidung saat test dilakukan.
g) Pengukuran spirometri dapat di ulang 2 – 3 kali untuk memastikan
pengkuran yang akurat .
h) Terkadang test spirometri dilakukan dalam ruang tertutup khusus
memperoleh hasil yang lebih akurat dan detail.

26
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat kami simpulkan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui jenis-jenis instrumen yang digunakan untuk pemeriksaan
kesehatan lingkungan kerja di UPT Laboratorium Kesehatan Kerja.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis instrumen yang digunakan untuk pemeriksaan
kesehatan tenaga kerja di UPT Laboratorium Kesehatan Kerja.
3. Untuk mengetahui fungsi dan cara penggunaan masing-masing instrument di UPT
Laboratorium Kesehatan Kerja.

27
DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang


Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri
Menteri Kesehatan, 1987, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 718/MENKES/Per/XI/1987
Tentang Kebisingan yang Berhubungan dengan Kesehatan, Jakarta.
Peraturan Menteri Perburuhan Nomor 7 Tahun 1964 tentang Syarat Kebersihan Serta
Penerangan dalam Tempat Kerja
Rukmini Sri, Teknik Pemeriksaan THT, Penerbit EGC, Jakarta, 2005.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

28