Anda di halaman 1dari 15

FISIOLOGI dan TEKNOLOGI PASCA PANEN

Bunga Kol

Disusun oleh :

Meyke Arune Id’ha


201310220311147/IV ITP D

ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN-PETERNAKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Buah dan sayuran pascapanen adalah merupakan produk hidup yang masih aktif
melakukan aktifitas metabolismenya. Hal ini ditandai dengan adanya proses respirasi
yang masih berjalan seperti halnya sebelum produk tersebut dipanen. Keragaman akan
laju respirasi pascapanennya sering dijadikan sebagai indikator sebagai tingkat laju
kemunduran dari produk tersebut. Semakin tinggi tingkat laju respirasinya maka semakin
cepat laju kemunduran dan semakin cepat kematian yang terjadi. Aktivitas metabolisme
pada buah dan sayuran segar dicirikan dengan adanya proses respirasi. Respirasi
menghasilkan panas yang menyebabkan terjadinya peningkatan panas. Sehingga proses
kemunduran seperti kehilangan air, pelayuan, dan pertumbuhan mikroorganisme akan
semakin meningkat.
Disamping itu, selain proses metabolisme yang masih aktif, berbagai macam
kerusakan pada buah dan sayur pada pra dan pasca panen juga sangat berpengaruh
terhadap kondisi produk buah dan sayur yang dihasilkan. Berbagai macam kerusakan
seperti kerusakan mekanis,fisik,khemis,fisiologis,biologis dan mikrobiologis. Kerusakan-
kerusakan harus dihindari baik pra maupun pasca panen karena akan menyebabkan
penurunan kualitas produk baik saat grading, pengemasan,pengangkutan dan juga saat
pemasaran. Kerusakan yang terjadi akan menyebabkan perubahan fisik maupun kimia
pada produk buah dan sayur yang akan mengakibatkan penurunan tampilan dan kualitas
pada produk buah dan sayur.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah, klasifikasi dan morfologi pada kembang kol

2. Bagaimana teknik budidaya pada bunga kol ?

3. Bagaimana syarat tumbuh tanaman Kembang Kol ?

4. Bagaimana penanganan pasca panen pada bunga kol ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui sejarah, klasifikasi dan morfologi pada kembang kol.

2. Mengetahui teknik budidaya pada bunga kol.

3. Mengetahui syarat tumbuh tanaman kembang kol.

4. Mengetahui penanganan pasca panen pada bunga kol.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.Sejarah, Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kubis Bunga


Tanaman kubis bunga diduga berasal dari Eropa, pertama kali ditemukan di Cyprus,
Italia Selatan dan Mediterania. Beberapa spesies kubis bunga telah tumbuh di Mediterania
selatan lebih dari 2000 tahun. Mengenai masuknya kubis bunga di Indonesia tidak terdapat
keterangan pasti, didugaterjadi pada abad XIX, yang varietasnya berasal dari India
(Rukmana, 1994).
Tanaman kubis bunga termasuk dalam golongan tanaman sayuran semusim atau umur
pendek. Tanaman tersebut hanya dapat berproduksi satu kali dan setelah itu akan mati.
Pemanenan kubis bunga dapat dilakukan pada umur 60 – 70 hari setelah tanam, tergantung
pada jenis dan varietasnya (Cahyono, 2001).
Menurut klasifikasi dalam tata nama (sistem tumbuhan) tanaman kubis bunga
termasuk kedalam :
1. Divisi : Spermatophyta (tanaman berbiji).
2. Sub divisi : Angiospermae (biji berada di dalam buah).
3. Kelas : Dicotyledoneae (biji berkeping dua atau biji belah).
4. Ordo : Rhoeadales (Brassicales).
5. Famili : Cruciferae (Brassicaceae).
6. Genus : Brassica
7. Spesies : Brassica oleraceae var. botrytis L.
Kubis bunga merupakan salah satu anggota dari keluarga tanaman kubis-kubisan
(Cruciferae). Bagian yang dikonsumsi dari sayuran ini adalah massa bunganya atau
disebut dangan “Curd”. Massa bunga kubis bunga umumnya berwarna putih bersih atau
putih kekuning - kuningan (Anonim. A,2009).
B.Teknik Budidaya Tanaman Bunga Kol
1. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah pada lahan hendaknya tanah disterilisasi dari rumput - rumput liar
maupun sisa - sisa perakaran tanaman. Penggemburan tanah dilakukan dengan cara
mencangkul tanah supaya tanah - tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga
pertukaran udara di dalam tanah menjadi baik, gas - gas oksigen dapat masuk ke dalam
tanah, gas – gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam - asam dapat
keluar dari tanah. Selain itu dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak
dengan bebas menyerap zat - zat makanan di dalamnya (Anonim. A, 2009).
Tanah yang telah diolah selanjutnya dapat dibentuk menjadi bedengan - bedengan dan
parit. Bedengan - bedengan tersebut berfungsi sebagai tempat penanaman bibit yang
telah disemai, sedangkan parit atauselokan berfungsi sebagai saluran irigasi dan drainase
(Fitriani,2009).
2. Pengadaan Benih dan Pembibitan
Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih
yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani
tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara
membuat sendiri cukup rumit. Disamping itu, mutunya belum tentu terjamin baik
(Cahyono, 2003).
Kubis bunga diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih
yang berdaya tumbuh baik. Benih kubis bunga sudah banyak dijual di toko-toko
pertanian. Untuk mendapatkan kubis yang baik maka biji disemaikan terlebih dahulu
hingga dewasa baru dipindah ke lapangan. Setelah benih disebar (disemai), biasanya
pada umur 4 – 5 hari kemudian sudah tumbuh menjadi bibit kecil. Pada umur 10–15 hari
setelah sebar benih , bibit telah berdaun 1 – 2 helai dapat segera dipindahkan ke dalam
polibag. Kubis bunga yang siap dipindahkan ke lahan adalah bibit yang sudah berdaun
3– 4 helai(Fitriani,2009).
Pesemaian dibuat dengan maksud membantu tanaman muda yang masih lemah agar
lebih mudah dirawat. Sinar matahari yang terik, hujan lebat, kekurangan air dan lain
sebagainya relatif dapat dihindari (Sutarya,1995).
3. Penanaman
Bibit kubis bunga yang disemai dapat langsung dipindahkan pada lahan setelah umur
10 – 15 hari setelah tanam dan ditanam dengan jarak tanam 50 x 60 cm. Waktu tanam
yang baik adalah pagi hari pukul 06.00 –10.00 atau sore hari antara pukul 15.00-17.00
saat penguapan air oleh pengaruh sinar matahari dan temperatur udara tidak terlalu
tinggi. Selesai penanaman, segera diairi sampai basah benar, baik dengan cara disiram
(Cahyono, 2001).
4. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pokok pemeliharaan dalam budidaya tanaman kubis bunga meliputi tahapan
penyiraman, penyiangan dan penggemburan tanah,pemupukan, penutupan massa bunga
(curd), pengendalian hama dan penyakit, serta pemanenan.
a. Penyiraman
Kubis bunga mempunyai sistem perakaran yang dangkal sehingga perlu pengairan
yang rutin, terutama dimusim kemarau. Hal yang terpenting adalah menjaga agar
tanah tidak kering atau kekurangan air. Waktu pemberian air sebaiknya pagi atau sore
hari. Pada musim kemarau, pengairan perlu dilakukan 1 – 2 kali sehari,terutama pada
fase awal pertumbuhan dan pembentukan bunga(Rukmana, 1994).
b. Penyiangan
Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu
digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, juga dapat melakukan pencabutan
rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak
perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 1 kali seminggu (Anonim. B,
2009).
Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang - alang hampir
sama dengan tanaman perdu, mula - mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek
dengan gancu. Akar - akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di
bawah sinar matahari, setelah kering rumput kemudian dibakar (Sugeng, 1981).
c. Pemupukan Susulan
Pemupukan adalah pemberian zat - zat makanan yang diperlukan oleh tanaman untuk
pertumbuhan dan pembentukan hasil. Pemupukan susulan ini merupakan pemupukan
yang kedua setelah pemupukan dasar yang dilakukan pada saat pengolahan tanah.
Sehingga pemupukan tahap ini dikenal sebagai pemupukan susulan yang besifat
memberikan makanan tambahan berupa zat makanan (hara) atas kekurangan pada
pemupukan dasar, dan berupa pemberian zat makanan (pupuk) yang disesuaikan
dengan tingkat pertumbuhan tanaman (Suteja, 2002).
5. Pengendalian Hama dan Penyakit
Organisme pengganggu tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit merupakan
salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi kubis-kubisan di Indonesia.
Misalnya saja, kehilangan hasil akibat serangan hama ulat tritip (Plutella xylostella L.) ,
ulat grayak (Spodoptera sp.) dan kutu daun (Aphis brassicae). Untuk penyakit yang
banyak menyerang tanaman kubis bunga antara lain, penyakit akar bengkak
(Plasmodiopora brassicae), penyakit bercak hitam, penyakit busuk lunak (busuk basah)
(Tjahjadi, 1996).
6. Pemanenan
Cara pemanenan massa kubis bunga sangat sederhana, yaitu dengan memotong
tangkai bunga bersama dengan batang dan daun - daunnya dengan menggunakan sabit
atau pisau. Pemotongan sebagian batang dan daun - daunnya hendaknya dilakukan
jangan terlalu dekat dengan tangkai bunganya, yaitu sepanjang kurang lebih 25 cm atau
mendekati permukaan tanah (pangkal batang). Waktu pemanenan kubis bunga yang baik
adalah pagi atau sore hari saat cuaca yang cerah (tidak mendung atau hujan) (Cahyono,
2001).
Kembang kol  dapat dipanen saat kuntum bunga belum membuka dan kepala bunga
masih kompak atau sekitar 47-65 hari setelah tanam, tergantung varietas yang digunakan.
Apabila panen terlambat, maka warna kuntum bunga akan menjadi kuning dan kepala
bunga menjadi longgar sehingga mutu dan harganya akan merosot. Panen sebaiknya
dilakukan pagi hari setelah embun menguap atau sore hari sebelum embun jatuh dengan
cara dipotong pada tangkai kepala bunga. Untuk tanaman yang diberi lindungan atau
naungan plastik, panen dapat dilakukan tanpa perlu memperhatikan jatuhnya embun.
C.Syarat Tumbuh Tanaman Kembang Kol
a. Iklim
Kembang kol merupakan tanaman sayuran yang berasal dari daerah sub tropis. Di
tempat itu kisaran temperatur untuk pertumbuhan kembang kol yaitu minimum 15.5-18 °C
dan maksimum 24 °C. Kelembaban optimum bagi tanaman kembang kol antara 80-90%.
Budidaya tanaman kembang kol juga dapat dilakukan di dataran rendah (0-200 m dpl) dan
menengah (200-700 m dpl). Temperatur malam yang terlalu rendah menyebabkan
terjadinya sedikit penundaan dalam pembentukan bunga dan umur panen yang lebih
panjang (Rukmana,1994).
b. Media Tanam
Tanah lempung berpasir lebih baik untuk budidaya kubis bunga daripada tanah
berliat. Tetapi tanaman ini toleran pada tanah berpasir atau liat berpasir.  Kemasaman
tanah yang baik antara 5,5-6,5 dengan pengairan dan drainase yang memadai. Tanah harus
subur, gembur dan mengandung banyak bahan organik. Tanah tidak boleh kekurangan
magnesium (Mg), molibdenum (Mo) dan Boron (Bo) kacuali jika ketiga unsur hara mikro
tersebut ditambahkan dari pupuk. Tanah lempung berpasir lebih baik untuk budidaya
kembang kol daripada tanah berliat. Tetapi tanaman ini toleran pada tanah berpasir atau
liat berpasir. Menurut Pracaya (2005), apabila pH di bawah 5,0 pertumbuhan tanaman
menjadi terganggu, terkadang tumbuh daun memanjang kecil yang biasa disebut ekor
cambuk (Rukmana,1994).

c. Ketinggian Tempat 
Di Indonesia, sebenarnya kubis bunga hanya cocok dibudidayakan di daerah
pegunungan berudara sejuk sampai dingin pada ketinggian 1.000-2.000 m dpl. Walaupun
tanaman ini adalah tanaman dataran tinggi triopka dan wilayah dengan lintang lebih tinggi,
beberapa kultivar dapat membentuk bunga di dataran rendah sekitar khatulisiwa. Daerah
dataran tinggi (pegunungan) adalah pusat budidaya kubis bunga. Pusat Produksi tanaman
ini terletak di Jawa Barat yaitu di Lembang, Cisarua, Cibodas. Tetapi saat ini kubis bunga
mulai ditanam di sentra-sentra sayuran lainnya seperti Bukit Tinggi (Sumatera Barat),
Pangalengan, Maja dan Garut (Jawa Barat), Kopeng (Jawa Tengah) dan Bedugul
(Bali),Batu(Jawa Timur) (Rukmana,1994).
D. Perlakuan Pascapanen
Perlakuan-perlakuan pascapanen adalah bertujuan memberikan penampilan yang baik
dan kemudahan-kemudahan untuk konsumen, memberikan perlindungan produk
darikerusakan dan memperpanjang masa simpan. Penanganan pascapanen memerlukan
koordinasi dan integrasi yang hati-hati dari seluruh tahapan dari operasi pemanenan
sampai ke tingkat konsumen untuk mempertahankan mutu produk awal. Beberapa
tahapan perlakuan umum pascapanen akan dijelaskan di bawah ini(Eckert, J.W. 1978).

Pre-sorting

Pre-sorting biasanya dilakukan untuk mengeliminasi produk yang luka, busuk atau
cacat lainnya sebelum pendinginan atau penanganan berikutnya. Pre-sorting akan
menghemat tenaga karena produk-produk cacat tidak ikut tertangani. Memisahkan
produk busuk akan menghindarkan penyebaran infeksi ke produk-produk lainnya,
khususnya bila pestisida pascapanen tidak dipergunakan(Eckert, J.W. 1978).

Pencucian/pembersihan

Kebanyakan buah dan sayuran membutuhkan pembersihan untuk menghilangkan


kotoran seperti debu, insekta atau residu penyemprotan yang dilakukan sebelum panen.
Pembersihan dapat dilakukan dengan sikat atau melalukan pada semprotan udara.
Namun lebih umum digunakan dengan penyemprotan air atau mencelupkan ke dalam air.
Bila kotoran agak sulit dihilangkan maka dapat ditambahkan deterjen. Sementara
pencucian dilakukan sudah dengan efektif menghilangkan kotoran, maka disinfektan
dapat ditambahkan untuk mengendalikan bakteri dan beberapa jamur pembusuk. Klorin
adalah bahan kimia yang umum ditambahkan untuk pengendalian mikroorganisme
tersebut. Namun klorin efektif bila larutan dijaga pada pH netral. Perlakuan klorin
dengan konsentrasi 100-150 ppm dapat membantu mengendalikan patogen selama
operasi lebih lanjut(Eckert, J.W. 1978).
Pelilinan
Pelilinan sayuran dalam bentuk buah seperti mentimun, terung, tomat dan buah-
buahan seperti apel dan peaches adalah umum dilakukan. Lilin alami yang banyak
digunakan adalah shellac dan carnauba atau beeswax (lilin lebah) yang semuanya
digolongkan sebagai food grade. Pelapisan lilin dilakukan adalah untuk mengganti lilin
alami buah yang hilang karena operasi pencucian dan pembersihan, dan dapat
membantu mengurangi kehilangan air selama penanganan dan pemasaran serta
membantu memberikan proteksi dari serangan mikroorganisme pembusuk. Bila produk
dililin, maka pelapisan harus dibiarkan kering sebelum penanganan berikutnya( Eckert,
J.W. 1978).
Pengendalian Penyakit
Sering dibutuhkan pengendalian terhadap pertumbuhan dan perkembangan jamur
dan bakteri penyebab penyakit. Menurut Eckert, J.W. (1978) Pengendalian penyakit
yang baik membutuhkan:
1. Indentifikasi yang benar terhadap mikroorganisme penyebab penyakit.
2. Pemilihan cara pengendalian yang tepat yang sangat dipengaruhi oleh apakah
penyebab penyakit tersebut melakukan infeksi sebelum atau sesudah panen.
3. Praktik penanganan yang baik untuk meminimumkan pelukaan atau kerusakan
lainnya dan menjaga lingkungan untuk tidak memacu perkembangan penyakit
tersebut.
4. Memanen produk pada satadia kematangan yang tepat.
Fungisida adalah alat yang penting untuk pengendalian penyakit pascapanen,
namun bukan hanya pendekatan cara ini yang tersedia. Manajemen suhu adalah cara
sangat penting untuk mengendalikan penyakit. Adalah kenyataan bahwa seluruh
teknik pengendalian lainnya dapat digambarkan sebagai suplemen dari cara
pengelolaan suhu tersebut. Penghilangan panas lapang secara cepat dan menjaganya
tetap pada suhu rendah, menghambat perkembangan kebanyakan penyakit
pascapanen.
Pengendalian Insekta
Perlakuan pengendalian insekta yang tidak merusak produk, tidak berbahaya bagi
operator dan kunsumen adalah perlu sehingga tidak terjadi restriksi perpindahan dari
produk ke pasar terutama pasar internasional. Cara pengendalian insekta dapat
dilakukan dengan pendinginan atau pemanasan. Penyimpanan pada suhu 0.5C atau
dibawahnya selama 14 hari adalah memenuhi persyaratan karantina pasar dunia untuk
pengendalian lalat buah “Queensland”. Produk yang dapat diperlakukan dengan cara
ini adalah apel, apricot, buah kiwi, nectarine, peaches, pears, plum, delima dsb.
Produk yang sensitive terhadap kerusakan dingin tidak dapat diperlakukan dengan
cara ini. Perlakuan panas sudah lama dilakukan namun pendekatan ini jarang
dilakukan untuk pengendalian insekta. Karena waktu expose yang lama, pentingnya
pengendalian suhu tinggi dan kemungkinan kerusakan pada produk, maka potensinya
untuk pengendalian insekta adalah minimal. Perlakuan dengan iradiasi sinar Gamma
dapat sebagai alternatif yang baik untuk pengendalian insekta seperti lalat buah dan
ulat biji mangga. Namun masih dibutuhkan approval dari negara-negara pengimport
dan konsumen bisa menerima produk teriradiasi(Eckert, J.W. 1978).

Grading

Buah-buahan, sayur-sayuran dan bunga-bungaan adalah kelompok produk yang


non-homogenous. Mereka bervariasi a) antar group, b) antar individu dalam
kelompok dan c) antar daerah produksi. Perbedaan timbul karena perbedaan kondisi
lingkungan, praktik budidaya dan perbedaan varietas. Sebagai akibatnya, setiap
operasi grading harus menangani variasi dalam total volume produk, ukuran individu
produk, kondisi produk (kematangan dan tingkat kerusakan mekanis) dan keringkihan
dari produk(Eckert, J.W. 1978).

Grading memberikan manfaat untuk keseluruhan industri, dari petani, pedagang


besar dan pengecer karena:ukurannya seragam untuk dijual,kematangan seragam,
didapatkan buah yang tidak lecet atau tidak rusak tercapai keuntungan lebih baik
karena keseragaman produk, dan menghemat biaya dalam transport dan pemasarannya
karena bahan-bahan rusak di sisihkan. Grading, akan tetapi, membutuhkan biaya. Alat
dapat saja yang canggih dan mahal. Pada sisi lain, system grading sederhana akan
membantu memanfaatkan tenaga kerja manual. Beberapa parameter dapat digunakan
sebagai basis grading:

Ukuran. Parameter ini umum digunakan karena kesesuaiannya dengan aplikasi


mekanis. Ukuran dapat ditentukan oleh berat atau dimensi(Eckert, J.W. 1978).

Menyisihkan produk yang tidak diinginkan. Ini sering dibutuhkan untuk


memisahkan produk dengan produk yang luka karena perlakuan mekanis, karena
penyakit dan insekta, karena kotoran yang dibawa dari lapang dan sebagainya( Eckert,
J.W. 1978).

Warna. Beberapa produk sangat ditentukan oleh warna dalam penjualannya.


Kematangan sering dihubungkan dengan warna dan digunakan sebagai basis sortasi,
seperti pada tomat (Eckert, J.W. 1978).

Pengemasan dan Pengangkutan

Panen bisa dilakukan pada umur 50-70 HST, tergantung pada varietas yang ditanam
dan ketinggian tempat penanaman. Semakin tinggi dataran penanaman, semakin
bertambah umur panenya.Ciri-ciri bunga yang siap panen sebagai berikut:
1. Bentuk bunga sudah seperti kubah (permukaana atas bunga sudah tidak rata lagi).
2. Kepadatan bunga masih kompak, belum tampak adanya anak bunga yang mekar.
Panen dilakukan dengan cara memotong batang dengan menyertakan 3-4 helai daun.
Hasil panen dikumpulkan pada tempat yang teduh.
Untuk permintaan pasar supermarket tahapan pengerjaan setelah panen adalah:
Potong habis daun-daunya hingga batang dan bunga tampak jelas,–kemudian potong
batang sebatas 10-15 cm dibawah bunga, tergantung besar kecilnya bunga, kemudian
lakukan pengemasan dengan cara membungkus bunga dengan menggunakan plastik
wrapping,dibungkus rapat,satu bunga satu kemasan,dan yang terakhir susun rapi bunga
di boks plastik untuk pengiriman selanjutnya.
Untuk permintaan pasar tradisional, berikut tahapan pengerjaan setelah panen.
Angin-anginkan dahulu hasil panen selam 3-5 jam hingga kondisi daun agak
layu,kemudian tutupkan lembaran-lembaran daun ke bunganya satu per satu,tujuanya
agar bunga terlindungi dari gesekan dan tekanan,dan yang terakhir Susun rapi bunga di
bak mobil dengan posisi buga dilindungi oleh daun-daunya. Brokoli dan bunga kol siap
dikirim ke pasar(Anonim C,2009).
BAB III

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil dari pengamatan, Bunga Kol termasuk kedalam komoditi sayuran
yang laju respirasinya tinggi, sehingga menyebabkan laju penurunan kualitas komoditi
meningkat. Hal tersebut terbukti saat bunga kol disimpan di dalam ruangan suhu
kamar,apalagi jika bunga kol tersebut dibungkus oleh plastik,maka akan mempercepat proses
pembusukan yang disebabkan oleh proses respirasi yang tinggi. Pada sebuah literatur
menjelaskan bahwa pada suhu 50 C laju respirasinya tinggi. Respirasi yang tinggi
menghasilkan panas pada produk sehingga mempercepat pelayuan dan bakteri serta jamur
akan lebih mudah untuk menjadikan produk mengalami pembusukan. Laju respirasi juga
digunakan sebagai indikator masa simpan dan penanganan pascapanen pada suatu produk
buah dan sayur. Berbagai produk mempunyai laju respirasi berbeda, umumnya tergantung
pada struktur morfologi dan tingkat perkembangan jaringan bagian tanaman tersebut (Kays,
1991). Secara umum, sel-sel muda yang tumbuh aktif cenderung mempunyai laju respirasi
lebih tinggi dibandingkan dengan yang lebih tua atau sel-sel yang lebih dewasa. Laju
respirasi menentukan potensi pasar dan masa simpan yang berkaitan erat dengan; kehilangan
air, kehilangan kenampakan yang baik, kehilangan nilai nutrisi dan berkurangnya nilai cita
rasa. Masa simpan produk segar dapat diperpanjang dengan menempatkannya dalam
lingkungan yang dapat memeperlambat laju respirasi dan transpirasi melalui penurunan suhu
produk, mengurangi ketersediaan O2 atau meningkatkan konsentrasi CO2 , dan menjaga
kelembaban nisbi yang mencukupi dari udara sekitar produk tersebut. Respirasi merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi pasca panen.

C6H12O6 + O2 -------------> CO2 + H2O + Energi + panas

Penyebab pascapanen yang menghasilkan mutu rendah kadangkala juga disebabkan


oleh kesalahan pada pra panen seperti buah atau sayuran yang jatuh saat dipanen sehingga
menyebabkan luka karena benturan sehingga luka tersebut merupakan tempat yang nyaman
bagi mikroorganisme untuk tinggal yang dapat menyebabkan kebusukan pada komoditi buah
maupun sayur. Bunga kol yang saya dapatkan tidaklah memiliki kerusakan,hanya saja kurang
tepat dalam menempatkannya. Bunga kol yang saya miliki dilettakkan pada suhu ruang yang
mempercepat laju respirasi.

Selanjutnya faktor yang mempengaruhi pasca panen adalah perubahan air menjadi uap
air yang dilepaskan ke lingkungan,hal ini berkaitan dengan proses repirasi. Dimana proses
perubahan air menjadi uap air menggunakan energi dari respirasi. Menurut Utama (2006)
proses tersebut dinamakan transpirasi. Transpirasi adalah proses fisik dimana uap air lepas dari
jaringan tanaman berevaporasi ke lingkungan sekitar. Transpirasi, secara prinsip terjadi pada
daun melalui struktur yang dinamakan stomata. Sebagai proses yang tipikal yang terjadi pada
jaringan hidup, transpirasi dipengaruhi oleh aktivitas fisiologis produk.

Bunga kol dapat ditanam di daearah dataran rendah maupun tinggi. Bunga kol dapat
tumbuh optimal di tanah lempung, lempung berpasir, tanah humus, tanah vulkanik yang
mengandung bahan organik dengan suhu udara 18o-28o C, pH tanah 5,6 - 7, curah hujan
sedang serta penyinaran matahari dalam sehari minimal 7 jam. Hal ini sesuai dengan
pendapat Rukmana (1994) Kubis bunga merupakan tanaman sayuran yang berasal dari
daerah sub tropis. Di tempat itu kisaran temperatur untuk pertumbuhan kubis bunga yaitu
minimum 15.5-18 derajat C dan maksimum 24 derajat C, tanah lempung berpasir lebih baik
untuk budidaya kubis bunga daripada tanah berliat. Tetapi tanaman ini toleran pada tanah
berpasir atau liat berpasir. Kemasaman tanah yang baik antara 5,5-6,5 dengan pengairan dan
drainase yang memadai. 

Pemanenan bunga kol dilakukan saat massa bunga mencapai ukuran maksimal dan
mampat. Umur panen antara 55-100 hari tergantung dari kultivar. Sebaiknya panen dilakukan
di pagi atau sore hari dengan cara memotong tangkai bunga bersama sebagian batang dan
daunnya sepanjang 25 cm. Berdassarkan pengamatan sesuai dengan penuturan sebuah artikel
(Anonim D,2014) bahwa bunga kol dapat dipanen pada umur 55-100 hari setelah masa
tanam, tergantung dari kultivar yang ditanam. Panen dapat dilakukan pada pagi atau sore hari.
Setelah dilakukan pemanenan, kegiatan berlanjut dengan melakukan penyortiran dan
penyimpanan di storage.

Menurut Yusuf(2011)kembang kol  dapat dipanen saat kuntum bunga belum membuka
dan kepala bunga masih kompak atau sekitar 47-65 hari setelah tanam, tergantung varietas
yang digunakan. Apabila panen terlambat, maka warna kuntum bunga akan menjadi kuning
dan kepala bunga menjadi longgar sehingga mutu dan harganya akan merosot. Panen
sebaiknya dilakukan pagi hari setelah embun menguap atau sore hari sebelum embun jatuh
dengan cara dipotong pada tangkai kepala bunga. Untuk tanaman yang diberi lindungan atau
naungan plastik, panen dapat dilakukan tanpa perlu memperhatikan jatuhnya embun.

Penanganan pascapanen pada bunga kol adalah pengumpulan,setelah bunga kubis


dipanen, hasil panen disimpan di tempat yang teduh untuk dilakukan sortasi. Selanjutnya
adalah penyortiran, sortasi dilakukan berdasarkan diameter kepala bunga yang dibagi menjadi
4 kelas yaitu >30cm,25-30cm,20-25 cm dan 15-20 cm kemudian penyimpanan, penyimpanan
terbaik di ruang gelap pada temperatur 20 derajat C, kelembaban 75-85% atau kamar dingin
dengan temperatur 4.4 derajat C dengan kelembaban 85-95%. Pada ruangan-ruanganyang
seperti itu bunga kol dapat tetap segar selama 2-3 minggu. Terakhir adalah pengemasan dan
penganngkutan,pengemasan dilakukan dalam peti kayu dengan kapasitas 25-30 kg. Untuk
transportasi jarak jauh, sertakan kira-kira 6 helai daun dan daun yang berada di atas massa
bunga dipatahkan untuk menutupi bunga. Untuk transportasi jarak dekat ujung-ujung daun
dipotong. 

Berdasarkan hasil pengamatan, umumnya penanganan pasca panen hortikultura masih


dilakukan sangat sederhana. Setelah panen buah dan sayur hanya dikemas dengan keranjang
bambu maupun karung plastik dan tidak dilakukan penanganan pasca panen seperti
pencucian, sortasi, pendinginan awal dan sebagainya. Pengemasan dengan menggunakan
keranjang bambu maupun  plastik hanya untuk memudahkan pengangkutan. Setelah sampai
pada pedagang, penanganan pasca panen seperti sortasi dan grading dilakukan untuk
memisahkan buah dan sayur yang rusak dengan yang baik, sedangkan grading dilakukan
terutama pada buah-buahnan supaya diperoleh harga yang lebih bervariasi. Dengan demikian
umur simpan dari hasil pertanian tersebut menjadi pendek, tingkat kerusakan tinggi, sehingga
sampai ke tangan konsumen kualitasnya menjadi rendah.

Menurut Ulilalbab (2012) tidak dilakukannya penanganan pasca panen di tingkat petani
karena disebabkan harga buah dan sayur di tingkat petani rendah sehingga penanganan pasca
panen dirasa mahal. Sedangkan di tingkat pedagang biaya penanganan pasca panen yang lain
dirasa mahal, sehingga tidak sesuai dengan laba yang diperoleh karena daya beli konsumen
yang rendah. Buah dan sayur yang dijual di pasar modern (super market) pada umumnya
berasal dari petani yang sudah mengkhususkan diri melayani permintaan super market
tersebut. Umumnya petani ini biasanya sudah maju dalam arti memiliki modal besar,
pengetahuan yang baik, penggunaan sarana produksi yang unggul sehingga produk yang
dihasilkan lebih baik dibanding produk yang dihasilkan petani tradisional.

Untuk pengemasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, untuk yang pertama buah dan
sayuran dikemas dalam plastik yang memiliki daya lekat yang kuat, lentur dan tidak mudah
sobek sehingga menjadikan buah dan sayuran tetap segar, tahan lama, tidak kering dan
melindungi serta menjaga tetap bersih. Misalnya pada bunga kol, kobis, brokoli, luttuce dan
lain sebagainya. Cara yang kedua buah dan sayuran dimasukkan ke dalam plastik polyetilen
yang diberi lobang-lobang yang memungkinkan terjadinya sirkulasi udara. Cara yang ketiga
adalah tidak dilakukannya pengemasan, tetapi buah dan sayuran diletakkan pada lemari
pendingin yang terbuka yang kadang-kadang disemprot dengan butir-butir air yang halus
untuk mengurangi penguapan, seperti sayur-sayuran daun, apel, jeruk, anggur dan lain
(Ulilalbab 2012).

Sedangkan cara yang keempat adalah penempatan buah di udara terbuka di bawah
kondisi AC seperti salak, pepaya, sawo, dan mangga. Keuntungan dan kerugian : dengan
adanya penanganan pasca panen holtikultura pada pasar modern menjadikan harga komoditi
menjadi lebih tinggi dan kualitas barang lebih baik. Untuk melakukan penanganan pasca
panen dibutuhklan tambahan pengetahuan. Di samping itu juga dibutuhkan tambahan tenaga,
biaya dan peralatan. Penanganan pasca panen pada pasar modern menjadikan umur simpan
buah dan sayuar lebih panjang (Ulilalbab 2012).

KESIMPULAN
1. Bunga kol merupakan komoditi sayuran yang memiliki laju respirasi tinggi.

2. Respirasi yang tinggi menghasilkan panas pada produk sehingga mempercepat


pelayuan dan bakteri serta jamur akan lebih mudah untuk menjadikan produk
mengalami pembusukan dan sebagai indikator masa simpan dan penanganan
pascapanen pada suatu produk buah dan sayur.

3. Beberapa faktor yang mempengaruhi pasca panen diantaranya adalah terjadinya proses
respirasi dan transpirasi.

4. Kubis bunga merupakan tanaman sayuran yang berasal dari daerah sub tropis. Di tempat
itu kisaran temperatur untuk pertumbuhan kubis bunga yaitu minimum 15.5-18 derajat
C dan maksimum 24 derajat C, tanah lempung berpasir lebih baik untuk budidaya kubis
bunga daripada tanah berliat. Tetapi tanaman ini toleran pada tanah berpasir atau liat
berpasir. Kemasaman tanah yang baik antara 5,5-6,5 dengan pengairan dan drainase
yang memadai. 

5. Bunga kol dapat dipanen pada umur 55-100 hari setelah masa tanam, tergantung dari
kultivar yang ditanam. Panen dapat dilakukan pada pagi atau sore hari.

6. Tidak dilakukannya penanganan pasca panen di tingkat petani karena disebabkan harga
buah dan sayur di tingkat petani rendah sehingga penanganan pasca panen dirasa mahal.
Sedangkan di tingkat pedagang biaya penanganan pasca panen yang lain dirasa mahal,
sehingga tidak sesuai dengan laba yang diperoleh karena daya beli konsumen yang
rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. A. 2009. Teknologi Budi Daya Tanaman Pangan.http://www.iptek.net.id/ind/
teknologi_pangan/index.phd?id=203. Diakses tanggal 28 maret 2009.
Anonim B. 2009. Budidaya Kubis Bunga. http://www.budidaya furniture.blogshot.com.
Diakses pada tanggal 28 maret 2009.
Anonim C.2009. http://blog.faedahjaya.com/petunjuk-budidaya/budidaya-brokoli-bunga-kol.
Diakses tanggal 28 Maret 2009.
Anonim D. 2014. http://obatpertanian.com/cara-menanam-kembang-kol-yang-baik-dan-
benar.html. Di akses pada tanggal 16 Juni 2014, pukul : 14.15 WITA.

Cahyono, B. 2001. Kubis Bunga dan Broccoli. Kanisius. Yogyakarta.

Eckert, J.W. 1978. Pathological disease of fresh fruit and vegetables. In Postharvest Biology
and Biotechnology. Hultin, H.O. and Miller, N (eds). Food and Nutrition Press,
Westport, Connecticut:161-209.

Fitriani, Mey Lina. 2009 . Budidaya Tanaman Kubis Bunga (Brassica oleraceae var botrytis
L.). Surakarta : Universitas Sebelas Maret.

Kays, S. J. 1991. Postharvest Physiology of Perishable Plant Products. An AVI Book, NY.

Rukmana, R. 1994. Budidaya Kubis Bunga dan Broccoli. Kanisius. Yogyakarta.

Sugeng, 1981. Bercocok tanam sayuran. Aneka ilmu. Semarang.

Sutarya. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Universitas Gajah


Mada Press. Yogyakarta.

Suteja, M. 2002. Pupuk dan cara pemupukan. PT. Rineka cipta. Jakarta.

Tjahjadi, Nur. 1996. Hama dan penyakit tanaman. Kanisius. Yogyakarta.

Utama , I Made Supartha. 2006. PERANAN TEKNOLOGI PASCAPANEN UNTUK FRESH


PRODUCE RETAILING . Denpasar-Bali: Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas
Udayana.

Ulilalbab,Arya. 2012. Penanganan Pasca Panen Buah dan Sayur di Pasar Tradisional
& Modern. Surabaya: Universitas Airlangga.
Yusuf . 2011. http://yusufsila-tumbuhan.blogspot.com/2011/10/kembang-kol-brokoli.html .
diakses tanggal 21 Oktober 2011.

LAMPIRAN
Bakal bunga kol sebelum dipetik

Siap dipetik Sudah dipetik