Anda di halaman 1dari 2

KEBIJAKAN LOCKDOWN DAN PENGANGGURAN

Pandemi COVID-19 telah sukses menimbulkan keresahan global. Virus yang dapat menyebar dengan
cepat ini membuat setiap negara mengeluarkan berbagai upaya untuk meredam penyebaran virus ini.
Opsi lockdown-pun tercetus sebagai salah satu upaya penyelesaiannya. Lockdown berhasil membantu
china menekan tingginya kasus baru dinegaranya namun nampaknya beberapa negara seperti Italia,
Malaysia, dan India tidak terlihat adanya penurunan yang signifikan. Pemerintah Indonesia saat ini
masih tidak ingin menggunakan opsi lockdown. Hal ini bukan tanpa alasan. Beberapa dampak seperti
ekonomi, sosial dan keamanan menjadi bahan pertimbangannya.

Lockdown memperlambat perekonomian secara drastis, hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap
segala sektor perekonomian. Pembatasan dapat membuat produksi nasional berkurang. Akibatnya
banyak pekerja yang akan dirumahkan bahkan di PHK. Selain itu apabila produksi berkurang maka
terjadilah kelangkaan dan menimbulkan masalah inflasi. Daya beli masyarakatpun akan menurun jika
tidak dibarengi dengan bantuan dana pemerintah seperti BLT. Namun daya beli efektif apabila terdapat
barang dan jasa yang dihasilkan sektor produksi. Indonesia pernah mengalami krisis pada tahun 1998,
pada saat itu UMKM menjadi tulang punggung perekonomian negara,UMKM sendiri menyumbang 63%
dari PDB Indonesia. Namun berbeda dengan krisis 98, saat ini UMKM sangat terpukul karena hanya
sedikit kegiatan di masyarakat. Terlebih lagi apabila dilakukan lockdown, maka UMKM akan terpukul
paling depan. Bersyukur saat ini masih ada beberapa sektor informal yang bergerak sehingga membuat
perekonomian masih berjalan. Disaat perekonomian melambat dikhawatirkan akan meningkatkan kredit
macet, tentunya ini sangat membahayakan jika mengingat di tahun 1998 terjadi kredit macet massal.
Walaupun stimulus sudah banyak diberikan namun apabila COVID-19 tidak cepat ditangani, tak ayal
kredit macet massal bisa terjadi. Dampak lockdown selanjutnya ialah pelemahan rupiah beserta
tumbangnya IHSG. Indonesia adalah negara yang sangat rentan karena investor dan penjualan dollar.
IHSG sempat terpuruk di level 3.900-an sampai pada akhirnya rebound. IHSG adalah salah satu indikator
untuk melihat potensi perekonomian yang akan datang berdasarkan pandangan para investor. Apabila
dilakukan lockdown, kemungkinan IHSG akan tumbang karena tentunya investor tidak ingin menanam
modal kepada perusahaan yang tidak bergerak. Kecuali terdapat sentimen positif saat itu terjadi. Selain
IHSG, rupiah akan terpukul akibat penguatan dari dollar. Secara naluri orang-orang akan mengamankan
asetnya untuk mengantisipasi dampak ekonomi. Sehingga terkadang jalan untuk menukar rupiah ke
dollar karena mata uang dollar lebih stabil ketimbang rupiah. Dari sisi ekonomi tentunya akan
menimbulkan perlambatan perekonomian. Menteri keuangan Indonesia memperkirakan pertumbuhan
ekonomi indonesia turun nenjadi 2,3% bahkan skenario terburuknya -0,4%. Hal ini dapat membuat
banyak orang yang gulur tikar serta PHK massal.

Selain lockdown nasional, lockdown juga dapat diterapkan untuk kota yang hanya terdapat kasus positif
tinggi seperti Jakarta. Namun beberapa faktor juga harus ikut dipertimbangkan mengingat jakarta
menentukan lebih dari 60% perekonomian nasional dan menyumbang 25% PDB nasional. Dari sisi
geografisnya hampir 50% dari total kawasan hunian di jakarta adalah kawasan kumuh. Lockdown akan
sangat berpengaruh mengingat biasanya mereka memakai toilet bersama dan kebanyakan dari mereka
ialah pekerja harian. Lockdown akan menimbulkan kericuhan apabila pemerintah tidak memfasilitasi
masyarakat golongan bawah dari segi kecukupan finansial dan juga supply makanan yang tersedia. Jika
tidak, para urban akan memaksa kembali ke daerahnya. Pemerintah harus memikirkan berapa biaya
yang harus dikeluarkan untuk memberikan subsidi maupun bantuan kepada masyarakat. Negara China
memang berhasil meredam kasus COVID-19 dengan kebijakan lockdown. Namun kita harus melihat
bahwa jumlah produsen, teknologi, tenaga medis, dan perekonomiannya lebih maju dari Indonesia.
Cadangan devisa negara china mencapai 3,1 trilliun USD, sedangkan Indonesia hanya 130,4 miliar USD.
Sebenarnya kebijakan lockdown tergantung pada kegiatan apa saja yang dibatasi, seberapa luas dan
berapa lama periodenya. Pemerintah harus mengkaji dan memikirkan matang-matang untuk
menyiapkan segala hal seperti regulasi yang jelas maupun supply barang, serta menahan dampaknya.
Lockdown akan efektif apabila diikuti dengan informasi yang terbuka serta penanganan yang cepat
terhadap orang-orang yang positif terken virus ini. Jika tidak, terlalu lama lockdown akan menimbulkan
pembengkakan anggaran dan kerusuhan di masyarakat. Kita juga dapat mengambil upaya lain seperti di
korea selatan yang tidak melakukan lockdown. Korea selatan menggunakan partisipasi publik dan
teknologi yang canggih. lockdown dapat diambil menjadi opsi terakhir dengan pertimbangan yang
benar-benar matang.

Taufik Qurohman

(190413629743)