Anda di halaman 1dari 15

BAGIAN ILMU ANESTESI DAN REANIMASI JURNAL

FAKULTAS KEDOKTERAN 10 MARET 2020


UNIVERSITAS PATTIMURA

INVESTIGATING THE ASSOCIATION OF REGIONAL ANESTHESIA


DURING LABOR WITH POSTPARTUM DEPRESSION

OLEH:
FARRA Y. PATTIPAWAE
2018-84-057

PEMBIMBING:
dr. ONY. ANGKEJAYA, Sp.An
dr. FAHMI. MARUAPEY, Sp.An

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA


BAGIAN ILMU ANESTESI DAN REANIMASI RSUD dr. M. HAULUSSY
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan anugerah-Nya, penulis dapat menyelesaikan jurnal dengan judul
“Investigating the association of regional anesthesia during labor with postpartum
depression”. Jurnal ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas
kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Bedah RSUD dr. M. Haulussy.
Penyusunan jurnal ini dapat diselesaikan dengan baik karena adanya bantuan,
bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis
ingin mengucapkan terima kasih kepada dr. Ony. Angkejaya, Sp.An dan dr. Fahmi.
Maruapey, Sp.An selaku pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu,
pikiran, dan tenaga untuk membantu penulis dalam menyelesaikan jurnal ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan jurnal ini masih belum sempurna.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak sangat
penulis harapkan demi perbaikan penulisan jurnal ini ke depannya. Semoga jurnal ini
dapat memberikan manfaat ilmiah bagi semua pihak yang membutuhkan.

Ambon, Maret 2020

Penulis
MENYELIDIKI HUBUNGAN ANESTESI REGIONAL SELAMA
PERSALINAN DENGAN DEPRESI POSTPARTUM

Abstrak

Pengantar : Depresi postpartum (PPD) adalah gangguan umum dan jenis depresi
klinis yang mempengaruhi ibu selama 4 minggu pertama setelah melahirkan.
Mempertimbangkan efek destruktif dari penyakit ini pada perilaku ibu, identifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi PPD dan menggunakan metode yang tepat dalam
persalinan normal adalah penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan
hubungan antara anestesi regional selama persalinan dan kejadian wanita PPD dirujuk
ke rumah sakit yang berafiliasi dengan Universitas Ilmu Kedokteran Shahid
Beheshti.

Metodologi : Dalam penelitian ini, 200 wanita hamil dirujuk ke rumah sakit
Universitas Ilmu Kedokteran Shahid Beheshti selama 2015-2017 masuk dalam dua
kelompok yang sama, Grup R, administrasi RA dan Grup C, grup control tanpa RA
sesuai dengan keinginan mereka. Setiap kelompok terdiri dari 100 ibu melahirkan,
dan dua kelompok membandingkan kejadian PPD dan hubungan depresi dengan RA
selama persalinan.

Hasil : Berdasarkan data yang diperoleh, peserta dalam dua kelompok tidak berbeda
secara signifikan dalam hal umur, indeks masa tubuh (BMI), lamanya fase persalinan
dan depresi pada minggu pertama pasca persalinan. Namun, keparahan nyeri pada
fase berbeda-beda karena penggunaan anestesi untuk salah satu kelompok. Tidak ada
hubungan yang signifikan antara RA dan depresi yang diamati pada minggu pertama
setelah melahirkan. Namun, RA memiliki hubungan yang signikfikan dengan PPD
pada minggu ke 4, sehingga penggunaan RA mengurangi kejadian PPD pada minggu
ke-4 (p=0,066).
Kesimpulan : Kami menyimpulkan bahwa penggunaan anestesi regional (RA) tidak
memiliki efek yang signifikan pada depresi postpartum (PPD) pada minggu pertama,
tetapi mengurangi kejadian depresi postpartum pada minggu ke 4 setelah melahirkan.

PENDAHULUAN

Deprsi postpartum (PPD) adalah gangguan umum diantara wanita hamil dan dapat
menunjukkan tanda-tanda depresi (merasa kesepian, cemas, bingung, dan kurang
gerak) pada ibu selama 1-4 minggu setelah melahirkan. Penyakit ini lebih sering
terjadi pada wanita terutama mereka yang pertama kali hamil, Sebuah meta-analisis
pada tahun 1996 menunjukkan bahwa 10-15% ibu mengalami kondisi ini selama 12
bulan pertama kelahiran bayi mereka. Penelitian lain menunjukkan bahwa insidensi
penyakit lebih tinggi diantara wanita muda dan ibu yang memiliki riwayat stress dan
pelecehan seksual. Studi lain menunjukkan bahwa prevalensi gejala depresi yang
dilaporkan oleh ibu setelah melahirkan adalah sekitar 12% hingga 20,5%. Penyebab
tidak diketahui dengan pasti, dan berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa
banyak faktor yang dapat mempengaruhi kejadian dan tingkat keparahan depresi ini.
Studi-studi ini telah menunjukkan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi
kemungkinan timbulnya dan keparahan depresi adalah jumlah rasa sakit yang dialami
ibu selama persalinan. Di Iran, penelitian terbatas telah dilakukan untuk menguji
hubungan antara proses kelahiran dan anestesi regional (RA) setelah itu dengan
depresi. Penelitian Luar Negeri juga mempelajari dampak dari varibel seperti stress,
gangguan mental prenatal, kehamilan pertama dan masalah perkawinan pada PPD,
tetapi beberapa penelitian juga telah dilakukan untuk menilai hubungan antara RA dm
PPD. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, penggunaan RA selama persalinan
sebagai variabel yang mungkin mempengaruhi PPD pada wanita yang dirujuk ke
rumah sakit pendidikan Universitas Ilmu Kedokteran Shabid Beheshti selama 2015
-2017 yang dilihat.
METODOLOGI

Penelitian ini adalah studi kohort prospektif yang mencakup 200 ibu melahirkan dari
Noolipar Singh, berdasarkan persalinan pervaginam yang dirujuk ke rumah sakit
pendidikan Universitas Ilmu Kedokteran Shahid Baheshti selama tahun 2015-2017.
Proses penelitian untuk ibu dijelaskann pada saat masuk dalam ruang persalinan, dan
berdasarkan keinginan mereka untuk memasukan kedalam kedua kelompok; Grup R-
dengan RA atau Grup C-tanpa RA. Dari semua pasien dalam penelitian ini diperoleh
persetujuan secara tertulis. Kriteria eksklusi meliputi persalinan sesar, multiparitas,
riwayat depresi sebelumnya, gangguan mood dan memiliki masalah neurologis
seperti epilepsy, riwayat merokok, anomaly embrio, kematian bayi dan lahir mati.
Data demografis, usia kehamilan, usia ibu, riwayat penyakit dan penggunaan
narkoba, merokok, atau alcohol diminta dan dimasukkan dalam kuesioner khusus.
Juga, informasi tentang durasi setiap fase melahirkan, total waktu melahirkan, skor
nyeri (intensitas nyeri) pada setiap fase berdasarkan VAS (0= tidak menyakitkan
sampai 10= Nyeri terburuk dan terparah) juga ditanyakan dan dicatat. Skor ini dicatat
di Grup C ketika pembukaan serviks ≥ 3 cm dan di grup R 10 hingga 30 menit
setelah RA. Anestesi dilakukan pada fase aktif persalinan (dilatasi 3-5 cm). setelah 7
hari dan 4 minggu PPD, berdasarkan Skala Postnatal Depresi Edinburgh (EPDS),
kuesioner dengan 10 item, dan hasilnya dicatat dalam kuesioner khusus untuk setiap
ibu. Kemudian data dimasukkan kedalam perangkat lunak SPSS versi 21 dan
dianalisis. Data kontinu dilaporkan sebagai jumlah rata-rata dan standar deviasi
(Mean ± SD) dan data diskrit dilaporkan sebagai frekuensi (jumlah atau persen).
Untuk membandingkan hasil sebelum dan setelah perawatan, uji berpasangan
digunakan dan kedua kelopok dibandingkan dengan uji Independent T. Untuk
kelompok perbandingan kuantitatif metode chi-square digunakan dan hubungan
antara variable diselidiki dengan uji regresi dan metode korelasi Pearson. Dalam
penelitian ini α dianggap kurang dari 0,05.
HASIL

Karakteristik Demografi dari data

Ringkasan informasi yang tersedia pada penelitian ini mengenai adanya pasien dalam
kelompok yang dibius dan tidak dibius disajikan pada Tabel 1. Seperti yang dapat
dilihat pada tabel ini, keparahan nyeri berkurang sacara signifikan setelah
menerapkan RA dan menurun dari 9,08 pada fase pertama persalinan menjadi 1,14
pada fase kedua persalinan. Oleh karena itu, jelas bahwa penggunaan RA akan
mengurangi rasa sakit pasien dan indeks ini memiliki perbedaan yang signifikan pada
kedua kelompok.

Hasil untuk variabel lain disajikan pada Tabel 2.

Tabel 3 menunjukkan bahwa anggota kedua kelompok dalam hal usia, indeks masa
tubuh (BMI), durasi fase pertama, kedua dan ketiga persalinan, tingkat depresi pada
minggu pertama, tingkat depresi pada minggu ke-4 dan keparahan nyeri pada fase
pertama persalinan sebelum RA pada tingkat kepercayaan 95%, tidak ada perbedaan
yang signifikan. Namun, keparahan nyeri fase 1 setelah anestesi, serta keparahan
nyeri pada fase 2 dan 3, berbeda secara signifikan anatara kedua kelompok. Karena
RA memiliki efek dramatis pada penghilang rasa sakit, jadi wajar bahwa setelah
anestesi, keparahan nyeri akan berbeda antara kedua kelompok.

Variabel sama dari usia, BMI dan durasi fase persalinan menunjukkan bahwa anggota
dari dua kelompok dipilih secara acak dan temuan penelitian dapat dikutip. Namun,
variabel depresi pada minggu ke-4 setelah melahirkan harus diperiksa lebih tepat
berdasarkan Skala Edinburgh Postnatal Depression (EPDS-28). Uji-t dalam uji rata-
rata untuk dua kelompok untuk variabel EPDS-28 adalah 847/1, yang mendekati 1,96
dan tingkat atau nilai p-value yang signifikan diperoleh 0,66. Bahkan, asumsi nol
pada persamaan makna kedua kelompok dalam variabel EPDS-28 (depresi pada
minggu ke-4 setelah melahirkan) dapat ditolak pada tingkat signifikan 93% dan lebih
rendah. Oleh Karena itu, dalam kasus tingkat signifikan 95% sebagai standar, dapat
disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara tingkat keparahan depresi
pada minggu ke-4 pada kedua kelompok.
Korelasi antara variabel penelitian

Untuk menyelidiki hubungan antara variabel yang berbeda dengan tingkat depresi
dalam minggu 1 dan minggu ke-4 setelah persalinan, korelasi pearson dapat
digunakan. Pertama, Grup C (dengan persalinan normal tanpa penggunaan epidural)
telah diselidiki dan hasilnya dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3 berisi beberapa data. Menurut tabel ini, Semua variabel memiliki korelasi
positif dan signifikan dengan depresi pada minggu ke-4 setelah persalinan. Koefisien
Kolerasi positif menunjukkan hubungan langsung antara variabel yang berbeda dan
ukuran koefisien korelasi menunjukkan tingkat keparahan pengaruh variabel-varibel
ini satu sama lain. Karena nilai koefisien korelasi selalu kurang dari 0,3, dapat
disimpulkan bahwa ada korelasi yang lemah antara variabel yang berbeda dan depresi
pada minggu ke-4 setelah persalinan. Di sisi lain, koefisien positif menunjukkan
bahwa bertambahnya usia, peningkatan BMI dan meningkatnya keparahan nyeri
menyebabkan peningkatan kejadian PPD pada minggu ke-4. Menariknya, usia dan
BMI memiliki efek signifikan dan positif pada jumlah depresi dalam minggu pertama
setelah melahirkan. Untuk alasan ini, dapat disimpulkan bahwa dengan tidak adanya
RA, peningkatan usia dan BMI akan meningkatkan depresi pada minggu pertama
(juga pada minggu ke-4) setelah melahirkan. Hubungan antara usia dan variabel BMI
dengan depresi didasarkan pada tabel 4 di grup C. Ada yang positif, signifikan dan
korelasi lemah antara variabel-variabel ini. Koefisien korelasi Pearson dan tingkat
kepercayaan yang terkait dengan kelompok anestesi yang disajikan pada tabel 4.
Tidak seperti kelompok tanpa anestesi, penggunaan metode anestesi untuk persalinan
normal tidak menyebabkan korelasi yang signifikan antara usia, BMI dan keparahan
pada fase pertama dan ketiga persalinan dengan depresi di minggu pertama dan ke-4
setelah melahirkan.

Tingkat keparahan nyeri pada fase pertama (setelah anestesi) dan kelahiran kedua
memiliki positif, kolerasi signifikasn dan keparahan yang buruk pda minggu pertama
dan ke-4 setelah melahirkan. Perlu dicatat bahwa koefisien korelasi pearson pada
Tabel 5 selalu kurang dari 0,267 dan hubungan antara berbagai variabel yang buruk.
Agregrasi hasil yang diperoleh dari penelitian kelompok yang berbeda menunjukkan
bahwa intensitas fase kedua memiliki hubungan positif dan bermakna dengan depresi
setelah minggu ke-4 persalinan. Namun, tidak ada hasil yang menentukan dalam
korelasi variabel lain dan oleh karena itu total sampel anggota pada tabel 5 telah
diperiksa untuk korelasi dan kebermaknaannya.

Hasil Tabel 5 menunjukkan bahwa ada positif dan korelasi signifikan antara BMI dan
PPD, tetapi hubungan ini sangat lemah dan koefisien korelasi pearson adalah 157/0
dan 167/0. Di sisi lain, keparahan nyeri pada fase kedua dan ketiga melahirkan tidak
memiliki korelasi yang signifikan dengan depresi pada minggu pertama setelah
melahirkan, tetapi sekali lagi ada hubungan yang lemah , positif dan signifikan antara
variabel-variabel ini dan depresi pada minggu ke-4 setelah melahirkan. Menggunakan
mean pain intensity (VAS) dan menguji korelasi variabel ini dengan depresi yang
akan memungkinkan kesimpulan yang lebih akurat (Tabel 6). Tabel 7 menunjukkan
bahwa keparahan nyeri dengan depresi tidak berkorelasi pada minggu pertama setelah
melahirkan, tetapi dengan depresi pada minggu ke-4 setelah melahirkan memiliki
hubungan yang lemah dan positif. Koefisien korelasi Pearson antara mean pain
severity (VAS) dan depresi pada minggu ke-4 postpartum adalah 0,2 dan koefisien ini
bahkan signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Tidak ada korelasi yang signifikan
antara usia dan PPD, korelasi positif antara BMI dan depresi pada kedua periode dan
juga korelasi positif yang signifikan antara tingkat keparahan nyeri rata-rata dan
depresi pada minggu ke-4 setelah melahirkan adalah salah satu temuan dari penelitian
ini.
Tinjau Hipotesis Utama:

Tabel 2. Menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat depresi
pada minggu ke-4 setelah melahirkan antara kelompok anestesi dan tanpa anestesi
pada tingkat kepercayaan 95% dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada tingkar
kepercayaan 95%. Tabel 7 menunjukkan jumlah orang dengan PPD dalam dua
kelompok dan diamati bahwa 17 dan 16% dari anggota kelompok memiliki gejala
depresi tanpa anestesi pada minggu pertama dan ke-4 setelah melahirkan. Disisi lain,
15% dan 7% ibu di grup R mengalami depresi pada pada minggu 1 dan ke-4
postpartum. Meskipun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara jumlah orang yang
mengalami depresi pada minggu pertama antara kedua kelompok tersebut, tetapi
perbandingan angka 16 dan 7% mengingat kesamaan jumlah anggota kelompok,
menunjukkan bahwa tingkat depresi pada minggu ke-4 postpartum antara kelompok
anestesi dan tanpa anestesi terdapat perbedaan.

Perbandingan gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang


signifikan antara jumlah ibu dengan PPD pada minggu ke-4 melahirkan untuk kedua
kelompok. Oleh karena itu, pada tingkat kepercayaan 90%, dapat disimpulkan bahwa
penggunaan RA akan memiliki efek signifikan pada pengurangan tingkat depresi
pada minggu ke-4 setelah melahirkan, tetapi efek ini buruk dan kesimpulan yang
tepat tentang hal itu akan berkaitan dengan peningkatan jumlah sampel. Gambar 1
menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara usia dan masa tubuh pada
kedua kelompok dan penelitian statistic telah mengkonfirmasi bahwa tidak ada
perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok. Tetapi pada gambar 2, dimana
didasarkan pada data di tabel 8, diamati bahwa kelompok yang menggunakan anestesi
secara signifikan memiliki frekuensi depresi yang lebih rendah pada minggu 1 dan
ke-4 postpartum (p=0,066).
DISKUSI

Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki hubungan antara RA selama persalinan


dan kemungkinan PPD. Informasi penting, misalnya usia ibu, BMI, durasi fase
melahirkan, intensitas nyeri dalam fase yang berbeda, dan PPD dikumpulkan sebagai
variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia ibu tidak memiliki hubungan yang
signifikan dengan tingkat PPD, tetapi BMI memiliki korelasi positif dengan tingkat
depresi baik dalam interval satu minggu dan minggu ke-4 setelah melahirkan. Disisi
lain penggunaan RA tidak memiliki efek signifikan pada tingkat depresi di minggu
pertama setelah melahirkan. Tetapi, ada hubungan yang bermakna dan lemah antara
RA dan depresi dalam minggu ke-4 postpartum. Berdasarkan data dari penelitian ini,
17% ibu yang mengalami persalinan normal dan melahirkan tanpa anestesi
mengalami depresi pada minggu pertama setelah melahirkan dan 16% ibu
menunjukkan gejala depresi pada minggu ke-4 postpartum. Dari ibu yang memilih
RA, 15% dari minggu postpartum mengalami depresi dan hanya 7% dari mereka
memiliki gejala depresi pada minggu ke-4 setelah melahirkan. Uji paritas rata-rata
dari dua kelompok dan koefisien korelasi pearson menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan yang bermakna antara depresi jangka pendek setelah melahirkan regional
dan RA memiliki korelasi negative. Kami mengamati bahwa RA tidak memiliki efek
negative pada PPD dan ada hubungan yang signifikan antara anestesi jangka panjang
(minggu ke-4 postpartum) dan penurunan depresi. Untuk mendapatkan hasil yang
lebih akurat, disarankan agar studi prospektif dilakukan untuk mengukur depresi.
Studi eksternal telah menunjukkan bahwa meningkatkan interval antara melahirkan
dapat mengurangi efek RA dan tidak ada hubungan yang signifikan antara anestesi
dan depresi dalam jangka panjang. Selain itu, regresi cross-sectional dapat digunakan
untuk secara akurat menentukan bagaimana pengaruh variabel terhadap satu sama
lain. Menggunakan variabel independen dan kontrol dalam regresi cross-sectional,
efek RA pada depresi ditentukan secara kuantitatif dan efek variabel seperti usia dan
BMI dapat lebih akurat dihitung. Karena sekitar 15% pasien dalam penelitian ini
menderita PPD, peningkatan jumlah sampel juga harus dianggap sebagai cara yang
paling efektif untuk meningkatkan hasil yang akurat. Dalam penelitian ini, 16 pasien
tanpa anestesi dan 7 pasien dalam kelompok anestesi menderita depresi pada periode
empat bulan postpartum dan jelas bahwa jumlah kecil seperti 16 dan 7 tidak
sebanding secara statistic dan tidak dapat dibandingkan secara meyakinkan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian kami, kami menyimpulkan bahwa penggunaan anestesi


regional tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap frekuensi depresi
postpartum pada minggu pertma, tetapi mengurangi frekuensinya pada minggu ke-4
setelah melahirkan secara signifikan. Kami merekomendasikan penelitian prospektif,
multi pusat dengan ukuran sampel yang lebih besar untuk secara akurat
mendokumentasikan efek dalam kerangka waktu setelah melahirkan yang berbeda.