Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang
ditandai dengan keterbatasan aliran udara didalam saluran napas yang tidak
sepenuhnya reversible dan bersifat progresif (Depkes RI, 2004). Indikator diagnosis
PPOK adalah penderita diatasusia 40 tahun, dengan sesak napas yang progresif,
memburuk dengan aktivitas, persisten,batuk kronik, produksi sputum kronik.
Biasanya terdapat riwayat pejanan rokok, asap atau gas berbahaya didalam
lingkungan kerja atau rumah.
Data Badan Kesehatan Dunia (WHO), menunjukkan pada tahun 2002 PPOK
telah menempati urutan kelima penyebab utama kematian setelah penyakit
kardiovaskuler (WHO, 2002). Diperkirakan pada tahun 2030 akan menjadi penyebab
kematian ketigadi seluruh dunia. Menurut American Lung Association(ALA), PPOK
merupakan penyebab utama keempat kematian di Amerika Serikat. Hasil survei
penyakit tidak menular oleh Direktur Jendral PPM &PL di 5 Rumah Sakit di
Indonesia (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung dan Sumatera Selatan)
pada tahun 2004, PPOK menempati urutan pertama penyumbang angka kesakitan
(35%) (Depkes RI, 2004).
Berdasarkan sudut pandang fisioterapi, pasien PPOK menimbulkan berbagai
tingkat gangguan yaitu impairmentberupa nyeri dan sesak nafas, oedema, terjadinya
perubahan pola pernapasan, rileksasi menurun, perubahan postur tubuh,
functionallimitationmeliputi gangguan aktivitas sehari-hari karena keluhan-keluhan
tersebut diatas dan pada tingkat participation retrictionyaitu berat badan menjadi
menurun. Modalitas fisioterapi dapat mengurangi bahkan mengatasi gangguan
terutama yang berhubungan dengan gerak dan fungsi diantaranya mengurangi nyeri
dada dengan menggunakan terapi latihan yang berupa breathing exerciseakan
mengurangi spasme otot pernafasan, membersihkan jalan napas, membuat menjadi
nyaman, melegakan saluran pernapasan (Helmi, 2005).

1
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa peran fisioterapi pada pasien
PPOKsangatlah bermanfaat, maka dari itu penulis ingin mempelajari lebih lanjut
tentang metode penanganan fisioterapi pada kasus Penyakit Paru Obstruksi Kronik
(PPOK) eksaserbasi akut.

1.2 Rumusan Masalah


Ditinjau dari kondisi PPOK eksaserbasi akutyang sebagian besar memiliki
permasalahan seperti batuk berdahak, spasme otot-otot bantu pernapasan, sesak napas
dan penurunan aktivitas fungsional.
Dari permasalahan yang muncul pada penderita PPOK eksaserbasi akut
diperoleh beberapa rumusan masalah:
1. Apakah ada pengaruh nebulizer dan chest fisioterapiuntuk mengurangi sesak
napas pada kondisi PPOK eksaserbasi akut?
2. Apakah ada pengaruh nebulizer dan chest fisioterapi untuk membersihkan
jalan napas pada kondisi PPOK eksaserbasi akut?
3. Apakah ada pengaruh nebulizer dan chest fisioterapi untuk merileksasi otot-
otot bantu pernafasan pada kondisi PPOK eksaserbasi akut?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Tujuan Umum
Mengetahui proses penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi PPOK
eksaserbasi akut, menambah pengetahuan dan menyebar luaskan peran fisioterapi
pada kondisi PPOK eksaserbasi akutpada kalangan medis dan masyarakat.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penulisan karya tulis ilmiah ini pada kondisi PPOK
eksaserbasi akut adalah:
a. Untuk mengetahui apakah pengaruh nebulizer dan chest fisioterapidapat
mengurangi sesaknapas pada kondisi PPOK eksaserbasi akut.
b. Untuk mengetahui apakah pengaruh nebulizer dan chest fisioterapi dapat
membantu membersihkan jalan napas pada kondisi PPOK eksaserbai akut.
c. Untuk mengetahui apakah pengaruh nebulizer dan chest fisioterapi dapat
merileksasi otot-otot bantu pernapasan pada kondisi PPOK eksaserbasi akut.

2
1.4 Manfaat
a.Memperluas pengetahuan tentang kondisi PPOK eksaserbasi akut dan bagaimana
proses penatalaksanaan fisioterapinya.
b.Menambah informasi pada fisioterapi pada khususnya dan kepada tenaga media pada
umumnya.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar PPOK

2.1.1 Definisi PPOK

COPD ( Chronic Obstructive Pulmonary Disease ) atau PPOK ( Penyakit Paru


Obstruktif Kronik ) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok
penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi
terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Ketiga penyakit yang
membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronchitis kronis,
emfisema paru-paru dan asthma bronciale (S Meltzer, 2011).

PPOK adalah kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat aktivitas
dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru (Bruner dan Suddarth, 2011).

2.1.2 Klasifikasi

Penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit paru obstruksi kronik adalah sebagai
berikut :

1. Bronchitis kronis
a. Definisi
Bronchitis kronis merupakan gangguan klinis yang ditandai dengan
pembentukan mucus yang berlebihan dalam bronkus dan termanifestasikan
dalam bentuk batuk kronis dan pembentuk sputum selama 3 bulan dalam
setahun, paling sedikit 2 tahun berturut-turut. (Bruner dan Suddath, 2002).
b. Etiologi
Terdapat 3 jenis penyebab bronchitis yaitu :
1) Infeksi : stafilakokus, sterptokokus, pneumokokus, haemophilus
influenzae.
2) Alergi
3) Rangsang : misal asap pabrik, asap mobil, asap rokok, dll.
c. Manifestasi klinis
1) Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar,
yang mana akan meningkatkan produksi mukus.
2) Mukus lebih kental
3) Kerusakan fungsi chilliary sehingga menurunkan mekanisme
pembersihan mukus. Oleh karena itu, “mucochilliary defence” dari
paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecendrungan untuk
terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus akan menjadi
hipertropi dan hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat.
4) Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai 2 kali
ketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. Mukus kental ini
bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat

4
beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar.
Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus
besar, tetapi biasanya seluruh saaluran nafas akan terkena.
5) Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi
jalan nafas, terutama selama ekspirasi. Jalan nafas mengalai kollaps,
dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Obstruksi ini
menyebabkan penurunan ventilasi alveolar, hypoxia dan asidosis.
6) Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan : ratio ventilasi perfusi
abnormal timbul, dimana terjadi penurunan PaO2. Kerusakan ventilasi
dapat juga meningkatkan nilai PaCO2.
7) Klien terlihat cyanosis. Sebagai kompensasi dari hipoxemia, maka
terjadi polisitemia (overproduksi eritrosit). Pada saat penyakit
memberat, diproduksi sejumlah sputum yang hitam, biasanya karena
infeksi pulmonary.
8) Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan
pada RV dan FRC. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi,
hypoxemia akan timbul yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal
dan CHF.
2. Emfisema
a. Definisi
Perubahan anatomis parenkim paru yang ditandai pelebaran dinding alveolus,
duktus alveolaris dan destruksi dinding alveolar (Bruner dan Suddath, 2002).
b. Etiologi
1) Faktor tidak diketahui
2) Predisposisi genetic
3) Merokok
4) Polusi udara
c. Manifestasi klinis
1) Dispenea
2) Trakipnea
3) Inspeksi : barrel chest, penggunaan otot bantu pernapasan
4) Perkusi : hiperresonan, penurunan fremitus pada seluruh bidang paru
5) Auskultasi bunyi napas : krekles, ronchi, perpanjangan ekspirasi
6) Hipoksemia
7) Hiperkapnia
8) Anoreksia
9) Penurunan BB
10) Kelemahan

5
3. Asthma bronchiale
a. Definisi
Suatu penyakit yang ditandai dengan tanggap reaksi yang meningkat
dari trachea dan bronkus terhadap berbagai macam rangsangan dengan
manisfestasi berupa kesukaran bernafas yang disebabkan oleh penyempitan
yang menyeluruh dari saluran nafas (Bruner dan Suddarth, 2002).
b. Etiologi
1) Alergen (debu, bulu binatang, kulit, dll)
2) Infeksi saluran nafas
3) Stress
4) Olahraga (kegiatan jasmani berat)
5) Obat-obatan
6) Polusi udara
7) Lingkungan kerja
8) Lain-lain (iklim, bahan pengawet)
c. Manifestasi klinis
1) Dispnea
2) Permulaan serangan terdapat sensasi kontriksi dada (dada terasa berat)
3) Wheezing
4) Batuk non produktif
5) Takikardi
6) Takipnea

2.1.3 Etiologi
Secara keseluruhan penyebab terjadinya PPOK tergantung dari jumlh partikel
gas yang dihirup oleh seorang individu selama hidupnya. Partikel gas ini termasuk :
a. Asap rokok
1) Perokok aktif
2) Perokok pasif
b. Polusi udara
1) Polusi di dalam ruangan - asap rokok - asap kompor
2) Polusi di luar ruangan- gas buangkendaraan bermotor- debu jalanan
c. Polusi di tempat kerja ( bahan kimia, zat iritasi, gas beracun )
d. Infeksi saluran nafas bawah berulang

6
2.1.4 Patofisiologi
Saluran napas dan paru berfungsi untuk proses respirasi yaitupengambilan
oksigen untuk keperluan metabolisme dan pengeluaran karbondioksida dan air
sebagai hasil metabolisme. Proses ini terdiri dari tiga tahap, yaitu ventilasi, difusi dan
perfusi. Ventilasi adalah proses masuk dan keluarnya udara dari dalam paru. Difusi
adalah peristiwa pertukaran gas antara alveolus dan pembuluh darah, sedangkan
perfusi adalah distribusi darah yang sudah teroksigenasi. Gangguan ventilasi terdiri
dari gangguan restriksi yaitu gangguan pengembangan paru serta gangguan obstruksi
berupa perlambatan aliran udara di saluran napas. Parameter yang sering dipakai
untuk melihat gangguan restriksi adalak kapasitas vital ( KV ), sedangkan untuk
gangguan obstruksi digunakan parameter volume ekspirasi paksa detik pertama
( VEP 1 ), dan rasio volume ekspirasi paksa detik pertama terhadap kapasitas vital
paksa ( VEP 1/KVP )
Faktor risiko utama dari PPOK adalah merokok. Komponen-komponen asap
rokok merangsang perubahan pada sel-sel penghasil mukus bronkus. Selain itu, silia
yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia.
Perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mukus dan silia ini mengganggu sistem
eskalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus kental dalam jumlah
besar dan sulit dikeluarkan dari sakuran napas. Mukus berfungsi sebagai tempat
persemaian mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi sangat purulen. Timbul
peradangan yang menyebabkan edema jaringan. Proses ventilasi terutama ekspirasi
terhambat. Timbul hiperkapnia akibat dari ekspirasi yang memanjang dan sulit
dilakukan akibat mukus yang kental dan adanya peradangan.

7
2.1.5 WOC

8
2.1.6 MANIFESTASI KLINIS
Batuk merupakan keluhan pertama yang biasanya terjadi pada pasien PPOK.
Bantuk bersifat produktif, yang pada awalnya hilang timbul lalu kemudian berlangsung
lama dan sepanjang hari. Batuk disertai dengan produksi sputum yang pada awalnya
sedikit dan mukoid kemudian berubah menjadi banyak dan purulen seiring dengan
semakin bertambahnya parahnya batuk penderita.
Penderita PPOK juga akan mengelihkan sesak yang berlangsung lama,
sepanjang hari, tidak hanya pada malam hari, dan tidak pernah hilanh sama sekali, hal
ini menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas yang menetap. Keluhan sesak inilah
yang biasanya membawa penderita PPOK berobat kerumah sakit. Sesak dirasakan
memberat saat melakukan aktivitas dan pada saat mengalami eksaserbasi akut.
Gejala-gejala PPOK eksaserbasi akut meliputi :
a. Batuk bertambah berat
b. Produksi sputum bertambah
c. Sputum berubah warna
d. Sesak nafas bertambah berat
e. Bertambahnya keterbatasan aktivitas
f. Terdapat gagal nafas akut pada gagal nafas kronis
g. Penurunan kesadaran

2.1.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan radiologi
a. Pada bronchitis kronik secara radiologis ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan :
1) Tubular shadows atau farm lines terlihat bayangan garis-garis
yang paralel, keluar dari hilus menuju apeks paru. Bayangan
tersebut adalah bayangan bronkus yang menebal.
2) Corak paru yang bertambah
b. Pada emfisema paru terdapat 2 bentuk kelainan foto dada yaitu :
1) Gambaran defisiensi arteri, terjadi overinflasi, pulmonari
oligoemia dan bula. Keadaan ini lebih sering terdapat pada
emfisema panlobular dan pink puffer.
2) Corakan paru yang bertambah
3) Pemeriksaan faal paru
Pada bronchitis kronik terdapat FEP 1 dan KV yang menurun,
VR yang bertambah dan KTP yang normal. Pada emfisema paru
terdapat penurunan FEP 1, KV dan KAEM (Kecepatan arum
ekspirasi maksimal), kenikan KRF dan VR sedangkan KTP
bertmabah atau normal. Keadaan diatas lebih jelas pada stadium
lanjut, sedang pada stadium dini perubahan hanya pada saluran
napas kecil (small airways). Pada emfisema kapasitas difusi
menurun karena permukaan alveoli untuk difusi berkurang.

9
2. Analisi gas darah
Pada bronchitis PaCO2 naik, saturasi hemoglobin menurun, timbul sianosis,
terjadi vasulkonstriksi vaskuler paru dan penambahan eritropoesis. Hipoksia
yang kronik merangsang pembentukan eritropoetin sehingga menimbulkan
polisitemia. Pada kondisi umur 55-60 tahun polisitemia menyebabkan jantung
kanan harus bekerja lebih berat dan merupakan salah satu penyebab payah
jantung kanan.
3. Pemeriksaan EKG
Kelainan yang paling dini adalah rotasi clock wise jantung. Bila sudah terdapat
kor pulmonal terdapat deviasi aksis ke kanan dan Pepulmonal pada hantaran II,
III, dan Avf. Voltrase QRS rendah di V1 rasio R/S lebih dari 1 dan V6 rasio R/S
kurang dari 1. Sering terdapat RBBB incomeplat
4. Kultur sputum, untuk mengetahui petoge penyebab infeksi.
5. Laboratorium darah lengkap

2.1.7 Komplikasi
1. Hiposemia
Hiposemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg,
dengan nilai 1 rasi oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan
mood, penurunan konsentrasi dan pelupa. Pada tahap lanjut timbul ceanosis.
2. Asidosis respiratory
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapmia). Tanda yang muncul
antara lain : nyeri kepala, vatique, lhetargi, dizzines, tachipnea.
3. Infeksi respiratori
Infeksi pernapasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus,
peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya
aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dari timbulnya dispnea.
4. Gagal jantung
Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus
diobservasi terutama pada klien dengan dispnea berat. Komplikasi ini sering kali
berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan enfisema berat juga
dapat mengalami masalah ini.
5. Cardiac distritmia
Timbul akibat dari hiposemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis
respiratori.
6. Status asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan astma bronchial. Penyakit
ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon
terhadap therapi yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan dan
distensi vena leher seringkali terlihat.

10
2.1.8 PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah :
1. Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala tidak hanya pada fase
akut, tetapi juga fase kronik
2. Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian
3. Mengurangi laju progresivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksi
lebih awal

Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagaai berikut :


1. Menidakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan
merokok, menghindari polusi udara
2. Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara
3. Memberantas infeksi dengan antimikroba
4. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator
5. Pengobatan simtomatik
6. Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul
7. Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan

Tindakan rehabilitasi yang meliputi :


1. Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret bronkus
2. Latihan pernapasan
3. Latihan dengan beban olahraga tertentu
4. Vocational guidance
Pathogenesis Penatalaksanaan ( Medis ) :
1. Pencegahan : mencegah kebiasaan merokok, infeksi, dan polusi udara
2. Terapi eksaserbasi akut di lakukan dengan :
a. Antibiotik
b. Terapi oksigen diberikan jika terdapat kegagalan pernapasan karena
hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2
c. Fisioterapi
d. Bronkodilator
3. Terapi jangka panjang di lakukan :
a. Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang
b. Bronkodiltor, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas
tiap pasien maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan
obyektif dari fungsi faal paru
4. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik
5. Mukolitik dan ekspektoran
6. Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II

11
2.1.9 ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Biodata
2. Riwayat kesehatan
 Keluhan utama
 Riwayat kesehatan dulu
 Riwayat kesehatan keluarga

3. Pengkajian diagnostic COPD


 Chest X – Ray
 Pemeriksaan fungsi paru
 Total lung capacity ( TLC )
 Kapasitas inspirasi
 FEV1/FVC
 Arterial blood gasses ( ABG )
 Bronkogram
 Darah lengkap
 Kimia darah
 Skutum kultur
 Electrokardiogram ( ECG )
 Exercise ECG, stress test

4. Pemeriksaan fisik
 Objectif
a. Batuk produktif/nonproduktif
b. Respirasi terdengar kasr dan suara mengi ( whezing ) pada kedua fase
respirasi semakin menonjol
c. Dapat disertai batuk dengan sputum kental yang sulit dikeluarkan
d. Bernapas dengan menggunakan otot-otot napas tambahan
e. Sianosis, takikardi, gelisah, dan pulsus paradoksus
f. Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing ( di apeks dan hilus )
g. Penurunan berat badan secara bermakna

 Subjektif
Klien merasa sukar bernapas, sesak dan anoreksia
 Psikososial
 Bronkodilator
 Kortikosteroid
 Pemberian oksigen
 Beta agnosis

12
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkokontriksi,


peningkatan produksi sputum, batuk tidak efektif, kelelahan/berkurangnya tenaga
dan infeksi bronkopulmonal
2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas pendek, mukus,
bronkokontriksi dan iritan jalan napas
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi
perfusi
4. Intolernsi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan
kebutuhan oksigen
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea,
kelemahan, efek samping obat, produksi sputum dan anoreksia, mual muntah

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO Diagnosis keperawatan NOC NIC


( NANDA )
1. Bersihan jalan nafas tidak Status respirasi : a. Manajemen
efektif berhubungan dengan Kepatenan jalan jalan
 Bronkospasme nafas dengan skala b. Penurunan
 Peningkatan (1-5) setelah kecermasan
produksi secret diberikan perawatan c. Aspiration
 Menurunnya selama.....hari, d. Fisisoterapi
energi/fatigue dengan kriteria : dada
 Tidak ada e. Latih batuk
Ditandai dengan : demam efektif
 Klien mengeluh sulit  Tidak ada f. Terapi
bernafas cemas oksigen
 Perubahan  RR normal g. Pemberian
kedalaman jumlah  Irama nafas posisi
napas, penggunaan normal h. Monitoring
otot bantu pernafasan  Pergerakan respirasi
 Suara nafas abnormal sputum i. Monitoring
seperti wheezing, keluar dari tanda vital
ronchi, dan cracles jalan nafas
 Batuk  Bebas dari
(presisten) dengan suara nafas
/tanpa produksi tambahan
sputum
2. Gangguan pertukaran gas Status respirasi a. Manajemen
yang berhubungan dengan : pertukaran gas asam basa
 Kurangnya suplai dengan skala.... (1- tubuh
oksigen ( obstruksi 5) setelah diberikan b. Manajemen
jalan nafas oleh perawatan jalan napas
secret, selama....hari c. Latihan

13
bronkospasme, air dengan kriteria : batuk efektif
trapping )  Status d. Tingkatkan
 Destruksi alveoli mental aktivitas
dalam batas e. Terapi
Ditandai dengan normal oksigen
 Dyspnca  Bernapas f. Monitoring
 Confusion,lemah dengan respirasi
 Tidak mampu mudah g. Monitoring
mengeluarkan secret  Tidak ada tanda vital
 Nilai ABGs sinosis
abnormal (hipoksia  Pao paco
dan hiperkapnea) dalam batas
 Perubahan tanda vital normal
 Menurunnya  Saturnasi O
toleransi terhadap dalam
aktivitas rentang
normal
3. Ketidakseimbangan nutrisi : Status nutrisi intake a. Manajemen
Kurang dari kebutuhan cairan dan makanan cairan
tubuh yang berhubungan gas dengan skala... b. Monitoring
dengan : (1-5) setelah cairan
 Dispnea fatique diberikan perawatan c. Status diet
 Efek samping selama ...hari d. Manajemen
pengobatan dengan kriteria : gangguan
 Produksi sputum  Asupan makan
 Anoreksia, makanan e. Manajemen
nausea/vomiting adekuat nutrisi
-dengan f. Kolaborasi
Ditandai dengan : skala...(1-5) dengan ahli gizi
 Penurunan berat  Intake cairan untuk
badan per oral memberikan
 Kehilangan massa adekuat, terapi nutrisi
otot, tonus otot jelek dengan g. Konseling
skala...(1-5) nutrisi
 Dilaporkan adanya
 Intake cairan h. Kontroling
perubahan sensasi
adekuat nutrisi
rasa
dengan dilakukan untuk
 Tidak bernafsu untuk
skala... (1-5) memenuhi diri
makan, tidak tertarik
pasien
makan
Status nurisi intake i. Terapi menelan
nutrien gas dengan j. Monitoring
skala (1-5) setelah tanda vital
diberikan perawatan k. Bantuan untuk
selama..... peningkatan BB
 Intake kalori l. Manajemen
adekuat berat badan
dengan skala
(1-5)
 Intake

14
protein,
karbohidrat
dan lemak
adekuat,
dengan skala
....(1-5)

Control berat badan


dengan skala ...(1-5)
diberikan perawatan
selama...hari dengan
kriteria :
 Mampu
memelihara
intake kalori
secara
optimal (1-
5)
 Mampu
memelihara
keseimbanga
n cairan (1-
5)
 Mampu
mengontrol
asupan
makanan
secara
adekuat (1-
5)
4. Intoleransi aktivitas  Berpartisipa  Kolaborasi
berhubungan dengan si dalam dengan
ketidakseimbangan antara aktivitas tenaga
suplaid dan kebutuhan fisik tanpa rehabilitasi
oksigen disertai medikdalam
peningkatan merencanaka
darah, nadi n program
dan RR terapi yang
 Mampu tepat
melakukan  Bantu klien
aktivitas untuk
sehari-hari mengidentifi
( ADLs) kasi aktivitas
secara yang mampu
mandiri dilakukan
 Tanda-tanda  Bantu untuk
vital normal memilih
 Energi aktivitas
psikomotor yang sesuai
dengan

15
 Level kemampuan
kelemahan fisik, sosial,
 Mampu dan
berpindah;de psikologi
ngan  Bantu untuk
atayumengg mengidentifi
unakan alat kasi dan
 Status mendapatka
kardiopulmo n sumber
nari adekuat yang
 Sirkulasi diperlukan
status baik untuk
 Status aktivitas
respirasi;pert yang
ukaran gas diinginkan
davetilasi  Bantu klien
adekuat untuk
mendapatka
n alat
bantuan
aktivitas
seperti kursi
roda, krek
 Bantu untuk
mengidentifi
kasi aktivitas
yang disukai
 Bantu klien
membuat
jadwal
latihan di
waktu luang
 Monitor
respon fisik,
emosi, sosial
dan spiritual
5. Risiko tinggi penyebaran  Tidak  Monitor vital
infeksi yang berhubungan muncul sign, terutam
dengan penyakit kronis tanda-tanda ta pada
infeksi proses terapi
sekunder  Demonstrasi
 Klien dapat kan teknik
mendemonst mencuci
rasikan yang benar
kegiatan  Ubah posisi
untuk dan berikan
menghindari pulmonari
infeksi toilet yang
baik

16
 Batasi
pengunjung
atas indikasi
 Lakukan
isolasi sesuai
dengan
kebutuhan
individual

17
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan kumpulan
penyakit paru yang sudah lama dan bertahun tahun, ditandai dengan adanya
penyumbatan pada aliran udara dari paru-paru. Dengan penyebab utama dari
lingkungan polusi udara, merokok, paparan debu, dan gas-gas kimiawi. Faktor
Usia dan jenis kelamin sehingga mengakibatkan berkurangnya fungsi paru-
paru bahkan pada saat gejala penyakit tidak dirasakan. Infeksi sistem
pernafasan akut, seperti peunomia, bronkitis, dan asma orang dengan kondisi
ini berisiko mendapat PPOK.
Jika individu berhenti merokok, progresif penyakit dapat ditahan. Jika
merokok dihentikan sebelum terjadi gejala, resiko bronkhitis kronis dapat
menurun dan pada akhirnya mencapai tingkat seperti bukan perokok.
3.2 Saran
Adapun saran dari kami yaitu, untuk lebih memahami dan
memperdalam pengetahuan mengenai konsep medis dan konsep proses
keperawatan dari PPOK, pembaca juga bisa lebih menambah wawasan tentang
kesehatan melalui makalah ini.

18
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Susan C. 2011. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Somantri, Irman. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta : Penerbit Salemba Medika.

Somantri, Irman. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan . Vol:2. Jakarta : Penerbit Salemba Medika

19