Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY “R” DENGAN

MASALAH TIMOR MAMMAE (TU) DI RUANGAN


KAMAR OPRASI RSUD HAJI MAKASSAR

Oleh
SERLY BANNA KADANG .S.Kep
NS 0619122

CI LAHAN CI INSTITUSI

(…………………….) (………………………)

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGIILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANUDDIN MAKASSAR
2020
LAPORAN PENDAHULUAN PADA KASUS
TU. MAMMAE
1.1. LAPORAN PENDAHULUAN
1.1.1. KONSEP PENYAKIT/KASUS
Kanker payudara menjadi penyakit kanker nomor satu bagi wanita,
yang sangat mempengaruhi kesehatan menyebabkan kematian pada
wanita.

Penyebab kanker payudara juga berkaitan dengan faktor keturunan,


dan banyak faktor seperti gangguan sekresi hormon seksual dan pola
hidup, kebiasaan buruk, dan emosinal. Tetapi kebanyakan ahli kanker
sekarang berpendapat bahwa ada dua aspek penyebab utama kanker
payudara yaitu:

Pertama, Perubahan genetik sel epitel mammae di bagian payudara,


menjadi ganas, terjadi hyperplasia atau pertumbuhan sel tak terbatas, dan
membentuk benjolan atau massa. Benjolan ini sebenarnya terbentuk oleh
akumulasi racun dalam tubuh, semakin banyak racun, semakin besar
benjolannya. Karena itu, menghilangkan racun dalam tubuh sangat
menentukan untuk penyembuhan kanker payudara.

Yang kedua, adalah masalah fungsi kekebalan tubuh yang lemah. Para
pakar ahli kanker berpendapat bahwa terjadinya kanker berhubungan
dengan fungsi kekebalan tubuh yang lemah. Oleh karena itu, sangat
penting untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh pasien dan
meningkatkan kebugaran fisik pasien untuk mendorong penyembuhan
kanker payudara dan mencegah sel-sel kanker dari
metastasis, memperbaiki kerusakan sel serta mencegah kanker kambuh .
(Harahap & Arif, 2016)

1.1.2. Definisi
Tumor mamae adalah adalah karsinoma yang berasal dari
parenkim, stroma, areola dan papilla mamma. (Lab. UPF Bedah RSDS,
2010).
Tumor payudara adalah gangguan dalam pertumbuhan sel normal
mammae di mana sel abnormal timbul dari sel-sel normal,
berkembangbiak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah.
(Nurarif & Kusuma, 2015)
1.1.3. Patofisiologi
Tumor / neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan
ciri-ciri proliferasi selyang berlebihan dan tidak berguna yang tidak
mengikuti pengaruh struktur jaringan sekitarnya. Neoplasma yang maligna
terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan proliferasi yang tidak
terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi
danmemasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ
yang jauh. Di dalam sel tersebut terjadi perubahan secara biokimia
terutama dalam intinya. Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel
di mana telah terjadi transformasi maligna dan berubah
menjadisekelompok sel-sel ganas di antar sel-sel normal (Arif, 2015)
Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase :
1. Fase induksi: 15-30 tahun
Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi bourgeois
lingkunganmungkin memegang peranan besar dalam terjadinya kanker
pada manusia. Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-
tahun samapi bisa merubah jaringan displasi menjadi tumor ganas. Hal ini
tergantung dari sifat, jumlah, dan konsentrasi zat karsinogen tersebut,
tempat yang dikenai karsinogen, lamanya terkena, adanya zat-zat
karsinogen atau ko-karsinogen lain, kerentanan jaringan dan individu.

2. Fase in situ: 1-5 tahun


Pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre-cancerous
yang bisaditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru-paru, saluran
cerna, kandung kemih, kulit dan akhirnya ditemukan di payudara.
3. Fase invasi
Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi meleui
membrane sel ke jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe.
Waktu antara fase ke 3 dan ke 4 berlangsung antara beberpa minggu
sampai beberapa tahun.
4. Fase diseminasi: 1-5 tahun
Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-
tempat lain bertambah.
1. Macam Tumor Mammae
a. Tumor jinak
Hanya tumbuh membesar, tidak terlalu berbahaya dan tidak menyebar
keluar jaringan.
b. Tumor ganas
Kanker adalah sel yang telah kehilangan kendali dan mekanisme
normalnya sehingga mengalami pertumbuhan tidak wajar, lair, dan
kerap kali menyebar jauh ke sel jaringan lain serta merusak.
1.1.4. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium meliputi :
a) Morfologi sel darah
b) Laju endap darah
c) Tes faal hati
d) Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum
atau plasma.

2. Pemeriksaan sitologik
Pemeriksaan ini memegang peranan penting pada penilaian cairan yang
keluar spontan dari putting payudar, cairan kista atau cairan yang keluar
dari ekskoriasi.

3. Mammagrafi
Pengujian mammae dengan menggunakan sinar untuk mendeteksi secara
dini. Memperlihatkan struktur internal mammae untuk mendeteksi kanker
yang tidak terabaatau tumor yang terjadi pada tahap awal. Mammografi
pada masa menopause kurang bermanfaat karean gambaran kanker di
antara jaringan kelenjar kurang tampak.

4. Ultrasonografi
Biasanya digunakan untuk mndeteksi luka-luka pada daerah padat pada
mammae ultrasonography berguna untuk membedakan tumor sulit dengan
kista. Kadang-kadang tampak kista sebesar sampai 2 cm.

5. Thermography
Mengukur dan mencatat emisi panas yang berasal dari mammae atau
mengidentifikasi pertumbuhan cepat tumor sebagai titik panas karena
peningkatan suplaydarah dan penyesuaian suhu kulit yang lebih tinggi.

6. Xerodiography
Memberikan dan memasukkan kontras yang lebih tajam antara pembuluh-
pembuluh darah dan jaringan yang padat. Menyatakan peningkatan
sirkulasi sekitar sisi tumor.

7. Biopsi
Untuk menentukan secara menyakinkan apakah tumor jinak atau ganas,
dengancara pengambilan massa. Memberikan diagnosa definitif terhadap
massa dan bergunaklasifikasi histogi, pentahapan dan seleksi terapi .
8. CT. Scan
Dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ
lain.

9. Pemeriksaan hematologi
Yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran
darah dengan sendimental dan sentrifugis darah.

1.1.5. Penatalaksanaan
Ada beberapa penanganan tumor mammae, antara lain :
1. Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara. Ada 3 jenis
mastektomi, yaitu :
a) Modified radical mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh
payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan
tulang iga serta benjolan di sekitar ketiak.
b) Total (simple) mastectomy, yaitu pengangkatan di seluruh payudara
saja, tetapi bukan kelenjar ketiak.
c) Radical mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dar
payudara. Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya
pada bagian yang mengandung sel kanker, bukan seluruh payudara.
2. Lumpektomi, yang berfungsi untuk mengangkat tumor
3. Radiasi
4. Kemoterapi

2. Pathway Tumor Mammae


Faktor predisposisi dan resiko tinggi
Hiperplasia pada sel mamme

Sel atau jaringan Mendesak pembuluh


darah

Pertumbuhan tidak normal Aliran darah terhambat

Terputusnya jaringan Hipoksia

Benjolan pada payudara Nekrosis jaringan


(pembedahan)

Adanya luka terbuka


Nyeri akut

Adanya bakteri patogen

Resiko infeksi
1.2. Pengkajian
Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara,
pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan
laboratorium dan diagnostik, serta review catatan sebelumnya. Langkah-
langkah pengkajian yang sistemik adalah pengumpulan data, sumber data,
klasifikasi data, analisa data dan diagnosa keperawatan (Nurarif &
Kusuma, 2015)
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya
benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan
mengeras, bengkak dan nyeri.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada
mammae, kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada
bagian dada sehingga pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada,
ataupun mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau
kanker serviks.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada
kemungkinan klien mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah
mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker
servi ks.
1.3. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan proses pembedahan
2. Resiko infeksi dengan luka infeksi pembedahan
DAFTAR PUSTAKA

Arif, M. (2015). kapita salekta kedokteran jilid 2. jakarta: media aesclapius.


Harahap, & Arif, W. (2016). cancer Epidemiology & cancer risks factor surgery
depertemnt. Andalas Medical School.
Nurarif, H. A., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis Dan Nanda Nic-Noc (Edisi Revi). Jogyakarta: Media
Action.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN “C” DENGAN
MASALAH RINOSINOSITIS DI RUANGAN
KAMAR OPRASI (OK)
RSUD HAJI MAKASSAR

Oleh
SERLY BANNA KADANG .S.Kep
NS 0619128

CI LAHAN CI INSTITUSI

(…………………….) (………………………)

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGIILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANUDDIN MAKASSAR
2020
LAPORAN PENDAHULUAN PADA KASUS
RINOSINOSITIS

1.1. LAPORAN PENDAHULUAN


1.1.1. KONSEP PENYAKIT/KASUS
Rinosinusitis merupakan suatu penyakit peradangan
mukosa yang melapisi hidung dan sinus paranasalis. Rinosinusitis
adalah istilah yang lebih tepat karena sinusitis jarang tanpa
didahului rinitis dan tanpa melibatkan inflamasi mukosa hidung.
Inflamasi sering bermula akibat infeksi bakteri, virus, jamur,
infeksi dari gigi, serta dapat pula terjadi akibat tumor dan fraktur.
Berdasarkan konsensus tahun 2004, rinosinusitis dibagi atas 3
kriteria, yaitu rinosinusitis akut yang berlangsung selama empat
minggu, rinosinusitis sub akut yang berlangsung antara empat
sampai dua belas minggu, dan rinosinusitis kronik yang
berlangsung lebih dari dua belas minggu.1-3
Rinosinusitis kronik memiliki prevalensi yang tinggi di
masyarakat. Di Eropa diperkirakan sekitar 10 – 15% menderita
penyakit rinosinusitis. Sebanyak 14% penduduk Amerika, paling
sedikit pernah mengalami episode rinosinusitis dan sekitar 15%
diperkirakan menderita rinosinusitis kronik. Data dari respiratory
surveillance program menunjukkan bahwa rinosinusitis paling
banyak ditemukan pada etnis kulit putih (Trihastuti H, Budiman
BJ, 2015)
1.1.2. Definisi
Sinusitis merupakan suatu proses peradanagn pada mukosa
atau selaput lender sinus paranasal. Akibat peradangan ini
mengakibatkan pemebntukan cairan atau kerusakan tulang di
bawahnya. Sinus paranasala adalah rongga-rongga yang terdpat
pada tulang-tulang di wajah. Teridiri dari sinus frontal
( didahi),sinus edmoid (pangkal hidung) ,sinus maxilla ( pipi kanan
dan kiri) sinus lenoid ( dibelakang sinus etmid) (Nurarif &
Kusuma, 2015).
Sinusitis di bagi menjadi :
1. Akut ( berlangsung kurang dari 4 minggu)
2. Sub akut ( berlangsung antara 4-12 minggu)
3. Kronik (berlangsung lebih dari 12 minggu)
1.1.3. Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostiumostium sinus dan
lancarnya klirens mukosiliar (mucociliarry clearance) di dalam KOM
(kompleks osteomeatal). Mukus juga mengandung substansi antimikrobial
dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap
kuman yang masuk bersama udara pernapasan.
Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila
terjadi edema mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia
tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan
negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi,
mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non-
nacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Bila
kondisi ini menetap, sekret yang berkumpul didalam sinus merupakan
media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi
purulen. Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bakterial dan
memerlukan terapi antibiotik. Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena
ada faktor presdiposisi, inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri
anaerob berkembang. Mukosa makin membengkan dan ini merupakan
rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa
menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan
kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi.
Sinustis bisa disebabkan juga oleh kerusakan gigi yang disebut
dengan sinusitis dentogen. Sinusitis dentogen merupakan salah satu
penyebab penting sinusitis kronik. Dasar sinus maksila adalah prosesus
alveolaris tempat akar gigi rahang atas, sehingga rongga sinus maksila
hanya terpisahkan oleh tulang tipis dengan akar gigi, bahkan kadang-
kadang tanpa tulang pembatas. Infeksi gigi rahang atas seperti infeksi
apikal akar gigi atau inflamasi jaringan periodontal muah menyebar secara
langsung ke sinus atau melalui pembulu darah dan limfe (Soepardi, 2010)
1.1.4. Pemeriksaan penunjang
1. Rinoskopi anterior: mukosa merah, mukosa bengkak, mukopus di
meatus medius
2. Rinoskopi posterior: mukopus nasoparing
3. Nyeri tekan pipi sakit
4. Transimulasi: kesuraman pada sisi sakit
5. X foto sinus paranasalis , kesuraman, gambaran, penebalan mukosa.
(Nurarif & Kusuma, 2015)
1.1.5. Penatalaksanaan medis
Prinsip pengobatan ialah menghilangkan gejala,
memberantas infeksi, dan menghilangkan penyebab. Pengobatan
dapat di lakukan dengan cara konservatif dan pembedahan .
pengobatan konveratif terdiri dari :
1. Istrahat yang cukup dan udara di sekitarnya harus bersih
dan kelembapan yang ideal 45-55%
2. Antibiotic yang adekuat paling sedikit selama 2 minggu
3. Analgetika untuk mengatasi rasa nyeri
4. Dekongestan untuk memperbaiki saluran yang tidak
bolehn di berikan lebih dari pada 5 hari karena dapat
terjadi rebound congestion dan rhinitis medikamentosa.
Selain itu pda pemberian dekongestan terlalu lama
dapat timbul rasa nyeri, rasa terbakar, dan rasakering
karena atrofi mukosa dan kerusakan silia
5. Antihistamin jika ada faktor alergi
6. Kortikosteroid dalam dalam jangka pendek jika ada
riwayat alergi yang cukup parah.
Pengobatan operatif dilakukan hanya jika ada gejala sakit
yang kronis, otitis media kronik, bronchitis kronis, aatau ada
komlpikasi seperti abses orbita atau komplikasi abses intrakarnial.
Prinsip operasi sinus iyalah untuk memperbaiki saluran-saluran
sinus paranalisis yaitu dengan cara membebaskan muara sinus dari
sumbatan. Operasi dapat dilakukan dengan alat sinoskopi.
Teknologi ballon sinuplasty digunakann sebagai perawat sinusitis.
Teknologi ini, sama dengan ballon angioplastyuntuk jantung ,
menggunakan kateter balon sinus yang kecil dan lentur (fleksibel)
untuk membuka sumbatan saluran sinus, memulihkan saluran
pembuangan sinus yang normal dan fungsi-fungsinya. Ketika balon
mengembang ,ia akan secara perlahan mengubah struktur dan
memperlebar dinding –dinding dari saluran tersebut tanpa merusak
jalur sinus (Nurarif & Kusuma, 2015).

1.2. Pengkajian
1. Pengkajian Keperawatan
Kaji gejala dan tanda menibgkatnya suhu tubuh, terutama
pada malam hari, nyeri kepala, tidak ada nafsu makan,
epistaksis, penurunan kesadaran.
a. Data biografi : nama, alamat, umur, status perkawinan, tgl
MRS, diagnosa medis, catatan kedatangan, keluarga yang
dapat dihubung.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Mengapa pasien masuk rumah sakit dan apa keluhan utama
pasien, sehingga dapat ditegakkan prioritas masalah
keperawatan yang dapat muncul.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Apakah sudah pernah sakit dan dirawat dengan penyakit
yang sama.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada dalam keluarga pasien yang sakit seperti
pasien.
e. Riwayat psikososial
Intrapersonal: perasaan yang dirasakan klien(cemas/sedih)
Interpersonal: hubungan dengan orang lain
f. Pola fungsi kesehatan
1) Pola nutrisi dan metabolisme :
Biasanya nafsu makan klien berkurang karena
terjadi gangguan
2) Pola istirahat dan tidur
Selaam sakit pasien merasa tidak dapat istirahat
karena pasien merasakan sakit .
g. Pemeriksaan fisik
1) Kesadaran dan keadaan umum pasien
Kesadaran pasien perlu dikaji dari sadar-tidak sadar
(composmentis-coma) untuk mengetahui berat
ringannya prognosis penyakit pasien.
2) Tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik kepala-kaki
TD, nadi, respirasi, temperatur yang merupakan
tolak ukur dari keadaan umum pasien dan termasuk
pemeriksaan dari kepala sampain kaki dengan
menggunakan prinsip-prinsip inspeksi, aulkultasi,
palpasi, perkusi. Disamping itu juga penimbangan
BB untuk mengetahui adanya penurunan BB karena
peningkatan gangguan nutrisi yang terjadi, sehingga
dapat dihitung kebuthan nutrisi yang dibutuhkan.

1.3. Diaknosa keperwatan


1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d sekresi berlebihan sekunder
akibat proses inflamasi.
2. Hipertermia b/d proses inflamsi, pemajaman kuman
3. Nyeri akut b/d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi
4. Ansiatas b/d ancaman pada satatus masa kini
5. Defisiensi pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakut yang
diderita dan pengobatannya.
(Nurarif & Kusuma, 2015)

DAFTRA PUSTAKA

Nurarif, H. A., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis Dan Nanda Nic-Noc (Edisi Revi). Jogyakarta: Media
Action.

Soepardi, efiaty arsyad dkk. (2010). Buku Ajar Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan (6th ed.). jakarta.
Trihastuti H, Budiman BJ, E. (2015). Profil Pasien Rinosinusitis Kronik di
Poliklinik THT-KL RSUP DR.M.DJAMIL.PADANG. Jurnal Kesehatan
Andalas, 4(3), 877–882.