Anda di halaman 1dari 8

JUDUL

“ Rendahnya Kesadaran Masyarakat Dalam Mengurus Dokumen Atau Surat


Kepemilikan Tanah Dan Bangunan di Daerah Pedesaan “

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam
mengurus dokumen atau surat-surat yang terkait dengan kepemilikan tanah atau bangunan,
terutama di daerah pedesaan yang notabene kepemilikan tanah dan bangunan yang dimilik
oleh masyarakatnya biasanya berdasarkan cara diturunkan dari generasi sebelumnya, jadi
banyak masyarakat yang masih mempertahankan kepemilikan tanah dan bangunannya
karena merasa keturunan dari orang sebelumnya. Meskipun sebenarnya status kepemilikan
tanah dan bangunan harusnya dilengkapi dengan surat-surat dan dokumen yang sah
berdasarkan mekanisme kepemilikan tanah dan bangunan yang diatur oleh negara.
Hadirnya modernisasi harusnya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengurus
dokumen dan surat-menyurat kepemilikan tanahnya sehingga menjadi legal di mata hukum
dan negara, sehingga nantinya masalah-masalah pertanahan yang mungkin saja timbul
akibat legalitas tanah dan bangunan yang meragukan dapat diminimalisir.
Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara hukum yang mana setiap urusan negara baik
masyarakat biasa atau aparatur negara semuanya diatur berdasarkan konstitusi yang
berlaku, begitu juga hal-hal yang berkaitan dangan pertanahan yang mana sudah ada
Undang-undang agrarian yang mengatur akan hal tersebut.
Undang-undang agraria mengatur segala hal yang berkaitan denga tanah,
kepemilikan tanah, dan bangunan.
Sebelum diterbitkannya UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) No. 5
Tahun
1960, yang membuka hak atas tanah yaitu terdapat pada pasal 51 ayat 7 IS, pada Stb
1872
No. 117 tentang Agraris Eigendom Recht yaitu memberi hak eigendem (hak milik)
pada orang Indonesia. Hal tersebut juga disamakan dengan hak eigendom yang
terdapat pada buku II BW, tetapi hak tersebut diberikan bukan untuk orang
Indonesia. Maka dengan adanya dualisme aturan yang mengatur tentang hak-hak
tanah untuk menyeragamkannya pada tanggal 24 september 1960 diterbitkan Undang-
Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun
1960 pada lembar Negara No. 104/1960.
Undang-undang No.5 tahun 1960 tersebut bersifat nasionalis, yaitu
diberlakukan secara nasional dimana seluruh warga negara indonesia menggunakan
Undanng-Undang
Pokok Agraria No. 5 tahun 1960 tersebut. Dasar kenasionalan hukum agraria yang
telah dirumuskan dalam UUPA, adalah:

1. Wilayah indonesia yang terdiri dari bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam
yang terkandung didalamnya merupakan satu kesatuan tanah air dari rakyat
indonesia yang bersatu sebagai bangsa indonesia (pasal 1 UUPA).
2. Bumi air ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
merupakan karunia tuhan yang maha esa kepada bangsa indonesia dan
merupakan kekayaan nasional. Untuk itu kekayaan tersebut harus dipelihara dan
digunakan untuksebesar- besarnya kemakmuran rakyat (pasal1,2,14, dan 15 UUPA).
3. Hubungan antara bangsa indonesia dengan bumi, air, ruang angkasa, dan
kekayaan
alam yang terkandung didalamnyabersifat abadi, sehingga tidak dapat diputuskan
oleh siapa pun (pasal 1 UUPA).
4. Negara sebagai organisasi kekuasaan dari bangsa dan rakyat indonesia
diberi wewenang untuk menguasai bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan
alam yang terkandung didalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran, rakyat
(pasal 2 UUPA).
5. Hak ulayat sebagi hak masyarakat hukum adat diakui keberadaanya.
Pengakutan tersebut disertai syarat bahwa hak ulayat tersebut masih ada,
tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan peraturan perundang-
uandangan yang lebih tinggi (pasal 3 UUPA).
6. Subjek hak yang mempunyai hubungan sepenuhnya dengan bumi, air, ruang
angkasa,
dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya adalah warga negara indonesia
tanpa dibedakan asli dan tidak asli. Badan hukum pada perinsipnya tidak
mempunyai hubungan sepenuhnya alam yang terkandung didalamnya (pasal 9,
21,dan 49 UUPA)
7. Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam
hukum pertanahan.

Namun meskipun undang-undang ini sudah lama diberlakukan di Indonesia,


masyarakatnya umumnya di desa masih saja enggan untuk untuk mengurus andministrasi
tanahnya, dengan kemungkinan ketidaktahuannya akan adanya undang-undang tersebut,
juga beranggapan itu semua mungkin tidak perlu.
PEMBAHASAN
Pentingnya Administratif Pertanahan
Dalam menjamin kepemilikan tanah dan bangunan undang-undang agraria
mengatur bagaiman tanah dan bangunan tersebut sah di mata negara menjadi milik
seseorang, administrasi pertanahan kadang masih dianggap urusan yang rumit bagi
masyarakat, terutama masyarakat pedesaan yang masih memiliki pengetahuan minim akan
administrasi pertanahan, padahal pembuatan akta tanah, surat dan dokumen lainnya
tersebut amat penting bagi masyarakat, demi menjaga status dan keleluasaan dalam
mengolah dan memanfaatkan tanah dan bangunannya.
Adapun mekanisme pengurusan dokumen atau administrasi pertanahan sebenarnya tidak
serumit yang dibayangkan, berikut adalah mekanisme pembuatan dokumen dan surat-surat
tanah yang berlaku di Indonesia.

Mengurus Sertifikat Tanah


Adapun langkah-langkah yang diperlukan untuk membuat sertifikat tanah:
1. Menyiapakan Dokumen
Anda harus menyiapkan dan melampirkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat.
Tentunya, syarat ini perlu disesuaikan dengan asal hak tanah. Adapun, syarat-syaratnya
mencakup:
 Sertifikat Asli Hak Guna Bangunan (SHGB)
 Fotokopi Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
 Identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK)
 SPPT PBB
 Surat pernyataan kepemilikan lahan
Selain itu, mungkin Anda mungkin berkeinginan membuat sertifikat tanah atau girik.
Sertifikat ini berasal dari tanah yang berasal dari warisan atau turun-temurun dari kakek
nenek yang mungkin belum disahkan dalam sertifikat. Untuk itu, Anda bisa membuatkan
sertifikat dengan melampirkan:
 Akta jual beli tanah;
 Fotokopi KTP dan KK;
 Fotokopi girik yang dimiliki;
 Dokumen dari kelurahan atau desa, seperti Surat Keterangan Tidak Sengketa, Surat
Keterangan Riwayat Tanah, dan Surat Keterangan Tanah secara Sporadik.
 
2. Mengunjungi Kantor BPN
Anda perlu menyesuaikan lokasi BPN sesuai dengan wilayah tanah berada. Di BPN,
belilah formulir pendaftaran. Anda akan mendapatkan map dengan warna biru dan kuning.
Buatlah janji dengan petugas untuk mengukur tanah.
3. Penerbitan Sertifikat Tanah Hak Milik
Setelah pengukuran tanah, Anda akan mendapatkan data Surat Ukur Tanah. Serahkanlah
untuk melengkapi dokumen yang telah ada. Setelah itu, Anda hanya perlu bersabar
menunggu dikeluarkannya surat keputusan. Anda akan dibebankan BEA Perolehan Hak
Atas Tanah (BPHTB) sembari menunggu sertifikat tanah Anda terbit. Lama waktu
penerbitan ini kurang lebih setengah hingga satu tahun lamanya. Kadangkala, Anda perlu
memastikan kepada petugas BPN kapan sertifikat tanah Anda jadi dan dapat
diambil.Selain BPN, Anda dapat membuat sertifikat melalui PPAT, namun bisa jadi harga
untuk mengurusnya bisa berlipat-lipat. Selain itu, upayakan agar Anda melakukannya
sendiri dan tidak menggunakan cara yang meragukan, bahkan calo.
Mengurus Sertifikat Tanah Girik
Tanah warisan atau yang biasa dikenal dengan istilah tanah girik merupakan salah satu aset
yang perlu untuk dilindungi. Untuk itu, semua tanah yang belum sertifikat, seperti tanah
girik perlu didaftarkan konversi haknya ke kantor pertanahan setempat. Hal tersebut diatur
dalam UU No. 5 Tahun 1960 atau Undang-undang Pokok Agraria (UUPA). Adapun hak-
hak yang ada dalam UUPA tersebut mencakup Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak
Pakai, Hak Guna Usaha, dan lain-lain. Jenis tanah lainnya yang belum bersertifikat, antara
lain ketitir, petok D, rincik, ketitir, Verponding Indonesia, Eigendom Verponding,
erfpacht, opstaal, vruchtgebruik.
Namun demikian, karena kurangnya informasi yang diperoleh masyarakat, sehingga tanah-
tanah tersebut masih ada saja yang belum memiliki sertifikat. Untuk mengurus tanah girik,
ada dua tahapan yang perlu ditempuh, yaitu tahap pengurusan di kantor kelurahan dan
kantor pertanahan.
1. Mengurus di Kelurahan Setempat
Ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui untuk melalui tahapan pengurusan sertifikat
untuk tanah girik. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
 Surat Keterangan Tidak Sengketa
 Anda perlu memastikan bahwa tanah yang diurus bukan merupakan tanah
sengketa. Hal ini merujuk pada pemohon sebagai pemilik yang sah. Sebagai
buktinya, dalam surat keterangan tidak sengketa perlu mencantumkan tanda tangan
saksi-saksi yang dapat dipercaya. Saksi-saksi tersebut adalah pejabat Rukun
Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) setempat. Hal tersebut karena mereka
adalah kalangan tokoh masyarakat yang mengetahui sejarah penguasaan tanah yang
dimohonkan. Namun, jika suatu tempat tidak terdapat RT dan RW seperti beberapa
daerah, saksi bisa didapat dari tokoh adat setempat.
 Surat Keterangan Riwayat Tanah
 Berikutnya, Anda perlu membuat Surat Keterangan Riwayat Tanah. Fungsinya,
untuk menerangkan secara tertulis riwayat penguasaan tanah awal mula pencatatan
di kelurahan sampai dengan penguasaan sekarang ini. Termasuk pula di dalamnya
proses peralihan berupa peralihan sebagian atau keseluruhan. Biasanya, tanah girik
awalnya sangat luas kemudian dijual atau dialihkan sebagian.
 Surat Keterangan Penguasaan Tanah Secara Sporadik
 Surat Keterangan Penguasaan Tanah Secara Sporadik ini mencantumkan tanggal
perolehan atau penguasaan tanah.
 
2. Mengurus di Kantor Pertanahan setelah mengurus dokumen di kelurahan setempat,
Anda dapat menlanjutkan ke kantor pertanahan. Adapun, tahapannya sebagai berikut:
 Mengajukan Permohonan Sertifikat
Caranya dengan melampirkan dokumen-dokumen yang diurus di kelurahan, dan
dilengkapi dengan syarat formal, yaitu fotokopi KTP dan KK pemohon, fotokopi PBB
tahun berjalan, dan dokumen-dokumen lain yang disyaratkan oleh undang-undang.
 Pengukuran ke Lokasi
Pengukuran ini dilakukan setelah berkas permohonan lengkap dan pemohon menerima
tanda terima dokumen dari kantor pertanahan. Pengukuran dilakukan oleh petugas dengan
ditunjukkan batas-batas oleh pemohon atau kuasanya.
 Pengesahan Surat Ukur
Hasil pengukuran di lokasi akan dicetak dan dipetakan di BPN dan Surat Ukur disahkan
atau tandatangani oleh pejabat yang berwenang, pada umumnya adalah kepala seksi
pengukuran dan pemetaan.
 Penelitian oleh Petugas Panitia A
Setelah Surat Ukur ditandatangani dilanjutkan dengan proses Panitia A yang dilakukan di
Sub Seksi Pemberian Hak Tanah. Anggota Panitia A terdiri dari petugas dari BPN dan
lurah setempat.
 Pengumuman Data Yuridis di Kelurahan dan BPN
Data yuridis permohonan hak tanah tersebut diumumkan di kantor kelurahan dan BPN
selama enam puluh hari. Hal ini bertujuan supaya memenuhi pasal 26 PP No. 24 Tahun
1997. Dalam praktiknya, bertujuan untuk menjamin bahwa permohonan hak tanah ini tidak
ada keberatan dari pihak lain.
 Terbitnya SK Hak Atas Tanah
Setelah jangka waktu pengumuman terpenuhi, dilanjutkan dengan penerbitan SK hak atas
tanah. Tanah dengan dasar girik ini akan langsung terbit berupa Sertifikat Hak Milik
(SHM).
 Pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah (BPHTB)
BPHTB dibayarkan sesuai dengan luas tanah yang dimohonkan seperti yang tercantum
dalam Surat Ukur. Besarnya BPHTB tergantung dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan
luas tanah. BPHTB ini juga bisa dibayarkan pada saat Surat Ukur selesai, yaitu pada saat
luas tanah yang dimohon sudah diketahui secara pasti.
 Pendaftaran SK Hak untuk diterbitkan sertifikat
SK Hak kemudian dilanjutkan prosesnya dengan penerbitan sertifikat pada subseksi
Pendaftaran Hak dan Informasi (PHI).
 Pengambilan Sertifikat
Pengambilan sertifikat dilakukan di loket pengambilan. Lamanya waktu pengurusan
sertifikat ini tidak dapat dipastikan. Banyak faktor yang menentukan. Akan tetapi, kira-kira
dapat diambil sekitar 6 bulan dengan catatan bahwa tidak ada persyaratan yang kurang.
3. Besarnya Biaya Pengurusan Sertifikat dari Tanah  Girik
Biaya sangat relatif terutama tergantung pada lokasi dan luasnya tanah. Semakin luas
lokasi dan semakin strategis lokasinya, biaya akan semakin tinggi.
PENUTUP

Kesimpulan

Rendahnya kesadaran maskyarakat dalam mengurus dokumen pertanahan memang masih


menjadi masalah di zaman sekarang ini, padahal hal tersebut bisa menimbulkan masalah
serius terutama bagi pemilik tanah sendiri, faktor pemahaman tentang mekanisme
pengurusan dan rendahnya tingkat pendidikan menjadi salah satu faktor yang membuat
masyarakat enggan dalam mengurus administrasi pertanahan, minimnya masalah sengketa
tanah dan kultur budaya di masayarakat desa membuat masyarakat merasa masih aman
dan nyaman dengan status kepemilikan tanahnya juga membuat masyarakat enggan
membuat dokumen pertanahan.

Saran

Aparatur desa dan negara seharusnya bisa memberikan pemahaman kepada masyarakt
khususnya di desa akan pentingnya administrasi pertanahan, agar mind set masyarakat
yang berpendapat bahwa mengurus adminustrasi pertanahan itu rumit dan sulit dapat
dihilangkan.
DAFTAR PUSTAKA

Bernhard Limbong, Politik Pertanahan, Margaretha Pustaka, Jakarta, 2014.

Hadi Setia Tunggal, Peraturan Perumahan dan Pertanahan, Harvarindo, Jakarta, 2011.
Dr. Mukti fajar ND, Yulianto Achmad, M.H, Dualisme Penelitian Hukum
Normatif & Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2013.
Muchsin, Konflik Sumber Daya Agraria dan Upaya Penegakan Hukumnya,
Makalah,
Seminar Pertahanan Nasional 2002, Pembaruan Agraria STPN, Yogyakarta
2002

Notonagoro, Politik Hukum dan Pembangunan Agraria Di Indonesia, Bina Aksara,


Jakarta, 1984.
Urip Santoso, Hukum Agraria & Hak-hak Atas Tanah, PT Fajar Interpratama Offset,
Jakarta, 2009.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta, Bina
Aksara, 1989.

Soeprapto, Undang-undang pokok Agraria Dalam Praktek, Universitas indonesia


Perss, Jakarta 1986.
Widhi Handoko, Kebijakan Hukum Pertanahan Sebuah Refleksi Keadilan
Hukum Progresif, Thafa Media, Jogjakarta, 2014.