Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MATA KULIAH MANAJEMEN PROYEK

“Pengadaan Jasa Lainnya”

Disusun Oleh :
Kelompok 3 Kelas A

Rifnawati Farkhanah 21080118120014


Yesia Rani San Grace Purba 21080118120039
Ika Laiki Ramdani 21070118120043
Devita Nuvita Sari 21080118120044
Zumrotus Sa'adah 21080118140048
Daffa Reyhan P 21080118130056

DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam menjalankan fungsi pemerintahan, sudah pasti dibutuhkan logistik, peralatan dan


jasa yang menunjang optimalnya kerja instansi tersebut. Kebutuhanini dipenuhi oleh beberapa
pihak, baik itu perusahaan milik pemerintah maupunswasta. Berbeda dengan pengadaan barang
dan jasa di instansi dan perusahaanswasta, pengadaan barang dan jasa di instansi pemerintahan
lebih rumit karena berhubungan dengan perhitungan APBN/APBD yang digunakan untuk
membayar  barang atau jasa tersebut. terlebih lagi ada beberapa aturan yang mengatur proses
pengadaan barang tersebut, Perpres 54 tahun 2010 sebagai perubahan tentang tata dan cara
pengadaan barang dan jasa pemerintah dari Keputusan Presiden No 8 tahun 2003

Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah adalah kegiatan untuk memperoleh Barang dan
Jasa oleh Kementerian, Lembaga, Satuan Kerja Perangkat Daerah, Institusi lainnya yang
prosesnya dimula dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk
memperoleh Barang dan Jasa. Pengadaan Barang dan Jasa di K/L/D/I yang bersifat permanen,
dapat berdiri sendiri atau melekat pada unit yang sudah ada. Sehubungan dengan hal tersebut,
Peraturan Presiden tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah ini dimaksudkan untuk
memberikan pedoman pengaturan mengenai tata cara Pengadaan Barang dan Jasa yang
sederhana, jelas dan komprehensif, sesuai dengan tata kelola yang baik. Pengaturan mengenai
tata cara Pengadaan Barang dan jasa Pemerintah dalam Peraturan Presiden ini diharapkan dapat
meningkatkan iklim investasi yang kondusif, efisiensi belanja negara, dan percepatan
pelaksanaan APBN/APBD.

Selain itu Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yang berpedoman pada Peraturan
Presiden ini ditujukan untuk meningkatkan keberpihakan terhadap industri nasional dan usaha.
Mengenai pelaksanaan pengadaan Barang dan Jasa yang dilakukan pemerintah ternyata sering
dilakukan tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku karena tidak adanya undang-undang yang
memberikan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh aparatur negara sehingga
pelaksanaan pengadaan Barang dan Jasa menimbulkan keresahan di masyarakat
1.2 Tujuan

Tujuan pelaksanaan pengadaan menurut Peraturan Presiden no. 70 Tahun 2012 tentang
Pengadaan barang/jasa pemerintah bahwa:

a. meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengadaan barang/jasa pemerintah

b. meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan barang/jasa pemerintah

c. memudahkan sourcing dalam memperoleh data dan informasi tentang barang/jasa dan
penyedia barang/jasa

d. menjamin proses pengadaan barang/jasa pemerintah berjalan lebih cepat dan akurat

e. menjamin persamaan kesempatan, akses dan hak yang sama bagi para pihak pelaku
pengadaan barang/jasa

f. menciptakan situasi yang kondusif agar terjadi persaingan yang sehat antar penyedia
barang/jasa

g. menciptakan situasi yang kondusif bagi aparatur pemerintah dan menjamin


terselenggaranya komunikasi online untuk mengurangi intensitas pertemuan langsung
antara penyedia barang/jasa dengan panitia pengadaan dalam mendukung pemerintahan
yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pengadaan

Pengadaan merupakan proses kegiatan untuk pemenuhan atau penyediaan kebutuhan dan


pasokan barang atau jasa di bawah kontrak atau pembelian langsung untuk memenuhi kebutuhan
bisnis. Pengadaan dapat mempengaruhi keseluruhan proses arus barang karena merupakan
bagian penting dalam proses tersebut.

2.2 Definisi Pengadaan Jasa Lainya menurut Perundang – undangan dan Secara Umum
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang
Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah bahwa Jasa Lainnya adalah jasa yang membutuhkan kemampuan
tertentu yang mengutamakan keterampilan (skillware) dalam suatu sistem tata kelola yang telah
dikenal luas di dunia usaha untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau segala pekerjaan dan/atau
penyediaan jasa selain Jasa Konsultansi, pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi dan pengadaan
Barang.

Sedangkan berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018


tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah bahwa Jasa Lainnya adalah jasa non-konsultansi atau
jasa yang membutuhkan peralatan, metodologi khusus, dan/atau keterampilan dalam suatu sistem
tata kelola yang telah dikenal luas di dunia usaha untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

2.3 Tata Cara Pengadaan Jasa Lainya

Sesuai dengan Perpres No. 54 Tahun 2010 yang mengatur Tata Cara Pengadaan Barang
dan Jasa, termasuk untuk sebagai Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa Lainnya adalah sebagai
berikut :

1. Pelelangan Umum, paling umum dilakukan untuk dalam proyek pengadaan barang dan
jasa pemerintah

2. Pelelangan Sederhana, dilakukan jika proyek yang ada bernilai paling tinggi 200 juta
dan tidak bersifat kompleks.
3. Pengadaan Langsung, dilakukan jika proyek yang ada berupa pengadaan barang/jasa
operasional yang beresiko kecil, berteknologi sederhana dan bernilai maksimal 100
juta.
4. Penunjukkan Langsung,
5. Kontes/Sayembara, kontes dilakukan dengan memperlombakan gagasan, kreativitas
maupun inovasi tertentu yang telah ditentukan harga/biaya satuannya. Sedangkan
sayembara dilakukan untuk kriteria yang belum ditentukan harga/nilai satuannya di
pasaran. Biasanya kontes diaplikasikan untuk pengadaan barang, dan sayembara untuk
pengadaan jasa.

2.4 Contoh Pengadaan Jasa Lainya

Contoh pengadaan jasa lainnya diantaranya: jasa boga (catering service); jasa layanan
kebersihan (cleaning service); jasa penyedia tenaga kerja; jasa asuransi, perbankan dan
keuangan; jasa layanan kesehatan, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia,
kependudukan; jasa penerangan, iklan/reklame, film, pemotretan; jasa percetakan dan penjilidan;
jasa pemeliharaan/perbaikan; jasa pembersihan, pengendalian hama (pest control) dan fumigasi;
jasa pengepakan, pengangkutan, pengurusan dan penyampaian barang; jasa penjahitan/konveksi;
jasa impor/ekspor; jasa penulisan dan penerjemahan; jasa penyewaan; jasa penyelaman; jasa
akomodasi; jasa angkutan penumpang; jasa pelaksanaan transaksi instrument keuangan; jasa
penyelenggaraan acara (event organizer); jasa pengamanan; jasa layanan internet; jasa pos dan
telekomunikasi; jasa pengelolaan aset.

2.5 Contoh Kasus Pengadaan Jasa Lainya dan analisisnya

Kasus Pengadaan Jasa Pekerjaan Life Time Extension (LTE) Gas Turbine (GT)

Mohammad Bahalwan (59 tahun) terdakwa korupsi pada proyek pengadaan jasa
pekerjaan Life Time Extension (LTE) Gas Turbine (GT) 2.1 dan GT 2.2 Pembangkit Listrik
Tenaga Gas Uap (PLTGU) Belawan Medan, telah disidangkan perkaranya di Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi (TIPIKOR) Medan sejak 30 April 2014 lalu. Menurut Bahalwan, kasus korupsi
yang menjerat dirinya tidak lebih dari kriminalisasi yang bertujuan untuk menutupi korupsi pada
proyek pengadaan jasa pekerjaan LTE GT 1.1 dan GT 1.2 PLTGU DG 10530 Belawan Medan,
yang melibatkan beberapa oknum pejabat PLN KITSBU (Pembangkit Sumatera Bagian Utara)
dan CV Sri Makmur, dengan nilai proyek Rp 23,9 miliar di mana hingga saat ini Tersangka Yuni
Direktur CV Sri Makmur dinyatakan buron dan tidak diketahui keberadaannya.
Adanya keterlibatan 'orang penting di Republik Indonesia' di balik CV Sri Makmur
menyebabkan oknum Kejaksaan mencoba menutupi keterlibatan pejabat tinggi negara itu
melalui kriminalisasi Bahalwan, yang juga mengerjakan proyek Gas Turbine di unit PLN yang
sama. Ditambahkan Bahalwan, motif kedua penyebab kriminalisasi terhadap dirinya adalah
persaingan bisnis antara PT Mapna dengan PT Siemens, yang sama-sama merupakan pemasok
mesin, peralatan dan suku cadang Gas Turbine di PLN, namun PT Mapna mampu memberikan
penawaran harga jauh lebih murah dibanding PT Siemens.

"Sejak PT Mapna menjadi rekanan PLN khususnya dalam pengadaan dan pekerjaan Gas
Turbine, PT Siemens menganggap kami sebagai ancaman besar. Tidak hanya dalam efisiensi
harga, tetapi juga kehadiran PT Mapna akan membongkar praktek korupsi dengan modus
penggelembungan harga (mark up) yang dilakukan PT Siemens selama lebih dari tujuh tahun. PT
Siemens sangat khawatir korupsi mereka di masa lalu akan terbongkar dengan keberadaan
kami," ujar Bahalwan di Medan (1/8/2014). Bahalwan menjelaskan ia telah menyampaikan
semua bukti-bukti bahwa kasus yang menjeratnya adalah murni rekayasa dari oknum-oknum
kejaksaan dan PT Siemens pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tanggal 26 Februari 2014.

Dalam BAP tersebut, Bahalwan mengungkapkan bahwa pada sekitar akhir Desember
2011, ia didatangi oleh beberapa orang, antara lain: Gideon Simamora dari PT. Ansaldo dan
Janto D Armando dari LSM GERPAN (Gerakan Penyelamat Harta Negara). Di mana saat itu
mereka menekannya agar PT Mapna mundur sebagai peserta lelang LTE. Karena Bahalwan
menolak mundur, mereka mengajak PT Mapna untuk berkolusi dengan PT Siemens dan
menyepakati harga penawaran pekerjaan LTE sebesar Rp 840 miliar.

Tawaran kolusi dari PT Siemens itu ditolak Bahalwan. PT Siemens juga menawarkan fee
sebesar 17% dari nilai kontrak atau Rp 142 miliar sebagai 'uang diam' jika PT Mapna bersedia
mundur. Namun tawaran suap fee PT Siemens juga ditolak Bahalwan. Orang-orang yang
menawarkan berkolusi kepada Bahalwan langsung memaki-maki dengan nada mengancam
keselamatan Bahalwan. Ketika PT Mapna tetap mengikuti tender LTE di PLN KITSBU pada
pertengahan Januari 2012, pihak PT Siemens meluapkan kemarahannya atas kehadiran PT
Mapna Co, yang saat itu diwakili Majib Zarei, Ali Nikbakht dan Abbas Foroutani.
Pertengkaran mulut di depan panitia tender/lelang PLN KITSBU itu mereda setelah
ditengahi pihak panitia. Saat itu PT Siemens ditegur panitia karena memaksakan kehendak agar
tetap dimenangkan meski penawaran mereka jauh lebih tinggi yakni Rp 840 miliar, dibanding
harga penawaran PT Mapna Co sebesar Rp 431 miliar, atau lebih rendah Rp 409 miliar
dibanding PT Siemens. Berdasarkan fakta tersebut, PT Siemens diduga mencari segala macam
cara agar dapat menjatuhkan PT Mapna Co, diantaranya melalui kriminalisasi terhadap diri
Bahalwan selaku perwakilan PT Mapna Co di Indonesia.

Efisiensi harga pengadaan dan pekerjaan Gas Turbine PLN sekitar 45% yang diperoleh
dari PT Mapna Co, di satu sisi sangat menguntungkan negara, namun di sisi lain, khususnya bagi
PT Siemens dianggap sebagai lonceng kematian perusahaan dan ancaman terhadap praktek KKN
yang selama ini telah mereka lakukan di PLN. Jika anggaran PLN untuk pengadaan dan
pekerjaan LTE Gas Turbine rata-rata sebesar US$ 2 miliar atau Rp 23 triliun, maka dengan
kehadiran PT Mapna Co, PLN atau negara dapat menghemat lebih dari Rp 10 triliun per tahun.

Dengan kata lain, PT Siemens akan gulung tikar karena praktek mark up mereka
terungkap dan harga mereka tidak dapat bersaing. "Pada bulan Desember 2011 sampai Januari
2012 Pimpinan PT Siemens yaitu Christop Silalahi merayu saya melalui telepon dan SMS (pesan
singkat). Christop membujuk saya untuk berkolusi dalam proyek pengadaan pekerjaan LTE Gas
Turbine sebesar Rp 840 miliar. Bukti SMS Christop masih saya simpan sampai sekarang," ujar

Bahalwan kepada GebrakNews. Bahalwan yang kini masih menjalani persidangan


sebagai terdakwa di Pengadilan Tipikor Medan, berharap pihak-pihak terkait dapat
membantunya mencari keadilan di negeri ini.

Di kemudian waktu, Pengadilan Tinggi (PT) Medan mengganjar para terdakwa korupsi
pembangunan PLTGU Belawan dengan hukuman berat dan denda besar, di tingkat banding.

Majelis hakim tinggi yang diketuai ATH Pudjiwahono menilai para terdakwa terbukti
melakukan korupsi dalam pekerjaan life time extention (LTE) Gas Turbine (GT) 2.1 dan 2.2
PLTGU Belawan tahun 2012 sebagaimana dalam dakwaan jaksa. Dalam putusannya, hakim
menjatuhkan hukuman 9 tahun penjara kepada Manager Sektor PLN Belawan, Rodi Cahyawan.
Vonis yang dijatuhkan PT Medan ditingkat banding ini jauh lebih tinggi dari putusan
Pengadilan Tipikor Medan yang menghukum Rodi Cahyawan hanya 3 tahun penjara. "Menerima
permintaan banding dari Penasehat Hukum Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Mengubah putusan Pengadilan Tipikor Medan tanggal 1 Oktober 2014,


Nomor:44/Pid.Sus.K/2014/P N-Mdn. Menjatuhkan hukuman penjara selama 9 tahun kepada
terdakwa Rodi Cahyawan," kata ATH Pudjiwahono, dalam putusannya sebagaimana dikutip dari
laman www.ptmedan. go.id, Minggu (1/3). Selain hukuman penjara, hakim juga memerintahkan
Rodi Cahyawan untuk membayar denda Rp500 juta subsider 4 tahun kurungan.

Dengan diterapkannya hukuman denda itu, apabila Rodi Cahyawan tak membayarnya,
maka dia akan mendekam di penjara selama 13 tahun. Selain Rodi Cahyawan, hakim juga
menjatuhkan hukuman 9 tahun penjara kepada General Manager (GM) PT PLN Pembangkit
Sumatera Bagian Utara (Kitsbu), Chris Leo Manggala. Bukan hanya hukuman penjara, hakim
juga memerintahkan agar Chris Leo Manggala membayar denda Rp500 juta subsider 4 tahun
kurungan.

Terdakwa lainnya, M Ali, Pegawai PT PLN Kitsbu, divonis 8 tahun penjara. Hakim juga
memerintahkan agar M Ali membayar denda Rp500 juta subsider 4 tahun kurungan. Vonis
terhadap M Ali ini jauh lebih berat dari putusan Pengadilan Tipikor Medan yang menghukumnya
4 tahun penjara.

Hukuman berat juga diganjar oleh PT Medan kepada Surya Dharma Sinaga, Pegawai
PLN Kitsbu. Hakim menjatuhkan hukuman 8 tahun penjara kepada Surya Dharma Sinaga dan
denda Rp500 juta subsider 4 tahun penjara. Vonis terhadap Surya Dharma Sinaga ini jauh
lebihberatdari putusanPengadilan Tipikor Medan yang menghukumnya 4 tahun penjara.

Sementara Supra Dekanto selaku Direktur PT Nusantara Turbine & Propulsi (NTP),
hakim menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 3 bulan kurungan.
Vonis terhadap Supra Dekanto ini jauh lebih berat dari putusan Pengadilan Tipikor Medan yang
menghukum 1,5 tahun penjara.

"Para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 3 Undang-
Undang Nomor 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah
dengan UU Nomor 20/ 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Memerintahkan agar para
terdakwa tetap berada dalam tahanan," kata hakim.

Dalam perkara ini, ada 6 terdakwa yang mengajukan banding. Selain kelima pejabat PLN
Kitsbu ini, sebelumnya majelis hakim yang sama juga telah memvonis M Bahalwan selaku
Direktur Operasional PT Mapna Indonesia, selama 11 tahun penjara. Semua terdakwa dalam
kasus yang disebut jaksa merugikan negara Rp2,3 triliun ini diperberat oleh hakim tinggi
hukumannya.

Analisis Kasus

Setelah menelaah berita kasus pengadaan jasa perbaikan di atas, terdapat beberapa
kelemahan yang terjadi ketika misalnya indikasi korupsi diakibatkan oleh perbedaan jumlah hasil
produksi yang dihasilkan oleh Gas Turbine oleh rekanan PT. PLN dan dianggap merugikan
negara. Karena dari hasil perbaikan, hanya didapat kapasitas 123MW dari jumlah 132MW.
Seharusnya, jika ternyata lebih kecil dari yang diperjanjikan, maka hal tersebut adalah
wanprestasi—dan bisa diselesaikan misalnya dengan mengurangi/ mengembalikan kelebihan
pembayaran pada rekanan dan bukan memaksanya sebagai kasus korupsi. Karena PT. Mepna
Indonesia tidak secara langsung mengurangi jasa atau barang. Banyak faktor yang dapat
mempengaruhi produksi listrik di PT. PLN tersebut.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam pengadaan barang dan jasa
alangkah lebih baik kita mengetahui bagaimana tata cara maupun swakelola pengadaan barang
dan jasa lainnya, dan begitu pula lebih baik mengetahui siapa saja yang terlibat atau panitia
pengadaan dan penyedia barang/jasa. Pengadaan barang dan jasa juga tidak terlepas dari
penyalahgunaan dalam pengadaannya, untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah pencegahan
untuk meminimalisir terjadinya penyalahgunaan maupun penanganan jika terjadi
penyalahgunaan.

3.2. Saran
Dalam penulisan makalah ini penyusun mengharapkan semoga menjadi sesuatu yang
bermanfaat bagi pembaca umumnya dan khususnya bagi kami sebagai penyusun juga menyadari
bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu diperlukan kritik
dan saran yang bersifat konstruktif demi kelancaran pembelajaran makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
https://grefisayankdewi.blogspot.com/p/pengertian-dan-tujuan-pengadaan-barang.html

ulp.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/01/Manual-Prosedure-Pengadaan-Jasa-Konstruksi-
UB.pdf

https://www.academia.edu/33122800/Pengadaan_Barang_dan_Jasa_iii_iii

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah

repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/40719/Chapter%20I.pdf;sequence=5