Anda di halaman 1dari 4

Infeksi virus dan bakteri juga diduga sebagai pencetus timbulnya sariawan ini.

Ada pula yang


mengatakan bahwa sariawan merupakan reaksi imunologik abnormal pada rongga mulut. Dan
imunologik sangat erat hubungannya dengan psikologis (stress). Faktor psikologis (stress) telah
diselidiki berhubungan dengan timbulnya stomatitis (sariawan) di sebagian besar masyarakat.
Berikut adalah klasifikasi stomatitis :
a. Stomatitis Primer, meliputi :
1. Recurrent Aphtouch Stomatitis (RAS)
Merupakan ulcer yang terjadi berulang. Bentuknya 2 – 5 mm, awal lesi kecil, dan
berwarna kemerahan. Akan sembuh ± 2 minggu tanpa luka parut.
2. Herpes Simplek Stomatitis
Stomatitis yang disebabkan oleh virus. Bentuknya menyerupai vesikel.
3. Vincent’s Stomatitis
Stomatitis yang terjadi pada jaringan normal ketika daya tahan tubuh menurun.
Etiologinya, bakteri normal yang ada pada mulut, yaitu B. Flora. Bentuk stomatitis ini
erythem, ulcer dan nekrosis pada ginggival.
4. Traumatik Ulcer
Stomatitis yang ditemukan karena trauma. Bentuknya lesi lebih jelas, dan nyeri tidak
hebat.
b. Stomatitis Sekunder, merupakan stomatitis yang secara umum terjadi akibat infeksi oleh
virus atau bakteri ketika host (inang) resisten baik lokal maupun sistemik.
a. Mucositis/Stomatitis
Defenisi mucositis dan stomatitis sering tertukar dalam penggunaannya tetapi
terdapat perbedaan yang besar diantara keduanya. Mucositis dijelaskan sebagai suatu
inflammatory toksik yang mempengaruhi traktus gastrointestinal dari mulut sampai
anus, yang dapat dihasilkan akibat dari pennyorotan radiasi sampai agen
kemoterapeutik atau radiasi ionisasi. Tipikal mucositis termanifestasi sebagai suatu
eritematous, lesi seperti terbakar atau acak, focal to diffuse, dan lesi ulseratif.
Mucositis dapat tereksaserbasi dengan factor lokal. Stomatitis merujuk pada suatu
reaksi inflamasi yang terjadi pada mukosa oral, dengan atau tanpa ulserasi dan dapat
berkembang oleh faktor lokal seperti yang teridentifikasi pada etiologi/patofisiologi
pada pembahasan ini. Stomatitis dapat menjadi berkadar ringan atau parah. Pasien
dengan stomatitis yang parah tidak akan mampu memasukkan apapun kedalam
mulutnya. Mucositis eritematous dapat terjadi 3 hari setelah pemaparan kemoterapi,
tapi secara umum berkisar 3-7 hari. Perkembangan menuju mucositis ulseratif
umumnya berlangsung 7 hari setelah kemoterapi. Dokter gigi harus waspada terhadap
potensi berkembangnya toksisitas akibat peningkatan dosis atau lamanya perawatan
pada percobaan klinik yang menunjukkan toksisitas gastrointestinal. Dosis tinggi
kemoterapi seperti yang dilakukan pada perawatan leukemia dan pengaturan jadwal
obat dengan infus berlanjut, berulang dan tidak terputus (seperti bleomycin,
cytarabine, methotrexate dan fluororacil) sepertinya merupakan penyebab mucositis
dibanding obat infus satu bolus dengan dosis yang setara. Mucositis tidak akan
bertambah parah jika tidak terkomplikasi oleh infeksi dan secara normal dapat
sembuh total dalam waktu 2-4 minggu. Beberapa garis panduan untuk perawatan
mulut termasuk penilaian sebanyak dua kali sehari untuk pasien dirumah sakit dan
perawatan mulut yang sering (minimal 4 jam dan sewaktu akan tidur) malahan
meningkatkan keparahan dari mucositis.
b. Infeksi
Mucositis oral dapat berkomplikasi dengan infeksi pada pasien dengan sistim imun
yang menurun. Tidak hanya mulut itu sendiri yang dapat terinfeksi, tetapi hilangnya
epitel oral sebagai suatu protektif barrier terjadi pada infeksi lokal dan menghasilkan
jalan masuk buat mikroorganisme pada sirkulasi sistemik. Ketika ketahanan mukosa
terganggu, infeksi lokal dan sistemik dapat dihasilkan oleh indigenous flora seperti
mikroorganisme nosokomial dan oportunistik. Ketika jumlah netrofil menurun
sampai 1000/kubik/mm, insiden dan keparahan infeksi semakin meningkat. Pasien
dengan neutropenia berkepanjangan berada pada resiko tinggi buat perkembangan
komplikasi infeksi yang serius.
Penggunaan antibiotik berkepenjangan pada penyakit neutropenia
mengganggu flora mulut, menciptakan suatu lingkungan favorit buat jamur untuk
berkembang yang dapat bereksaserbasi oleh terapi steroid secara bersamaan. Dreizen
dan kawan-kawan melaporkan bahwa sekitar 70 % infeksi oral pada pasien dengan
tumor solid disebabkan oleh Candida Albicans dan jamur lainnya, 20 % disusun oleh
Herpex Simplex Virus (HSV) dan sisanya disusun oleh bakteri bacillus gram negatif.
Pada pasien dengan keganasan hematologik, 50 % infeksi oral akibat bakteri Candida
Albicans, 25 % akibat HSV, dan 15 % oleh bakteri bacillus gram negatif. HSV
merupakan gejala paling umum pada infeksi oral viral.
c. Hemorrhage
Hemorrhage dapat terjadi sepanjang perawatan akibat trombositopenia dan atau
koagulasipati. Pada lokasi terjadinya penyakit periodontal dapat terjadi perdarahan
secara spontan atau dari trauma minimal. Perdarahan oral dapat berbentuk minimal,
dengan ptekiae berlokasi pada bibir, palatum lunak, atau lantai mulut atau dapat
menjadi lebih parah dengan hemorrhage mulut , terutama pada krevikular gingival.
Perdarahan gingiva spontan dapat terjadi ketika jumlah platelet mencapai paling
kurang 50.000/kubik/mm.

d. Xerostomia
Xerostomia dapat dikenali sebagai berkurangnya sekresi dari glandula saliva. Gejala
klinik tanda xerostomia termasuk diantaranya : rasa kering, suatu sensasi rasa luka
atau terbakar (khususnya melibatkan lidah), bibir retak-retak, celah atau fissura pada
sudut mulut, perubahan pada permukaan lidah, kesulitan untuk memakai gigi palsu,
dan peningkatan frekuensi dan atau volume dari kebutuhan cairan. Pengaturan
perawatan preventif oral, termasuk applikasi topikal flour harus segera dimulai untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut. Xerostomia dapat dihasilkan melalui reaksi
inflammatory dan efek degeneratif radiasi ionisasi pada glandula saliva parenkim,
khususnya pada serous acinar. Perubahan ini biasanya sangat pesat dan bersifat
irreversible, khususnya ketika glandula saliva termasuk daerah penyorotan radiasi.
Aliran saliva mengalami penurunan 1 minggu setelah perawatan dan berkurang secara
progresif ketika perawatan terus dilanjutkan, Derajat dari disfungsi tersebut sangat
berhubungan dengan dosis radiasi dan volume jaringan glandula pada lapangan
radiasi. Glandula parotid dapat menjadi lebih rentan terhadap efek radiasi daripada
glandula submandibular, sublingual, dan jaringan glandula saliva minor.
Xerostomia mengganggu kapasitas buffer mulut dan kemampuan
pembersihan mekanis, sering berkonstribusi pada dental karies dan penyakit
periodontal yang progresif. Perkembangan dental karies berakselerasi dengan sangat
cepat pada terjadinya xerostomia akibat hilangnya immunoprotein protektif yang
merupakan komponen dari saliva. Saliva dibutuhkan untuk eksekusi normal dari
fungsi mulut seperti mengecap, mengunyah, dan berbicara. Keseluruhan kecepatan
aliran saliva yang kurang dari 0,1 ml/menit dianggap sebagai indikasi xerostomia
(normal = 0,3-0,5 ml/menit). Xerostomia menghasilkan perubahan didalam rongga
mulut antara lain: