Anda di halaman 1dari 18

SAFETY CROSS (SHARIAH FINANCE TECHNOLOGY AND

CROWFUNDING SYSTEM) SEBAGAI SOLUSI PENGEMBANGAN


HALAL INDUSTRY PERTAMA DI KOTA BENGKULU

Disusun Oleh :

Zellycia Ulva Akbar C1C018094 2018


Cheny Aprianti Utami C1C018087 2018
Fadhilatul Amalia C1A018060 2018

UNIVERSITAS BENGKULU
BENGKULU
2019
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA PESERTA

Yang bertanda tangan di bawah ini


Nama Ketua Tim : Zellycia Ulva Akbar
Asal Universitas : Universitas Bengkulu
NIM : C1C018094
Alamat : Kandang Limun, Bengkulu
Dengan ini menyatakan bahwa karya tulis dengan judul “Safety Cross (Shariah
Finance Technology And Crowfunding System) Sebagai Solusi
Pengembangan Halal Industry Pertama Di Kota Bengkulu” yang
diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam adalah benar merupakan
karya kami dan karya tulis tersebut belum pernah diikutsertakan dalam
perlombaan sejenis ditempat lain.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenar – benarnya. Jika kemudian
menyalahi aturan, karya kami berhak didiskualifikasi dari perlombaan tersebut.

Bengkulu, 15 Juli 2019

...

i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya dan Shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi
Muhammad S.A.W sebagai suri tauladan, sehingga penulis dapat menyelesaikan
karya tulis ilmiah dengan judul “Safety Cross (Shariah Finance Technology
And Crowfunding System) Sebagai Solusi Pengembangan Halal Industry
Berbasis Kearifan Lokal Pertama Di Kota Bengkulu”. Karya ini akan
diikutsertakan dalam lomba karya tulis ekonomi islam pada Unila Sharia
Economic Festival 2019 di Universitas Lampung.

Karya tulis ekonomi islam ini dapat tersusun berkat bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami akan
mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya, khususnya kepada:

1. Lisa Martiah Nila P, S.E, M.Si., Ak selaku Dosen Akuntansi Universitas


Bengkulu dan pembina BO KSEI FKSI.
2. Eko Jevrian Saputra selaku Ketua B.O KSEI FKSI Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Bengkulu.
3. Orang tua, keluarga, dan teman- teman Ksei FKSI yang selalu memberi
dukungan kepada kami.
4. Semua pihak yang telah membantu hingga terselesainya penulisan karya
tulis ekonomi islam ini.
Penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi
semua orang. Kami sangat menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Akhir kata, segala saran dan masukan penulis
terima demi kesempurnaan karya tulis ini.

Bengkulu, 15 Juli 2019

Penulis

ii
Safety Cross (Shariah Finance Technology And
Crowfunding System) Sebagai Solusi Pengembangan
Halal Industry Pertama Di Kota Bengkulu
Oleh:
1. ZellyciaUlva Akbar (EkonomidanBisnis/S1
Akuntansi)
2. ChennyApriantiUtami (EkonomidanBisnis/S1
Akuntansi)
3. FadhilatulAmalia ( EkonomidanBisnis/Ekonomi
Pembangunan)

ABSTRAK

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN............................................................i
KATA PENGANTAR......................................................................ii
ABSTRAK.....................................................................................iii
DAFTAR ISI.................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................2

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada dewasa ini perkembangan industri semakin pesat, hal ini dikarenakan
kebutuhan manusia yang semakin meningkat. Berdasarkan Badan Pusat Statistik
Amerika Serikat jumlah penduduk dunia mencapai 7,53 miliar jiwa, dan akan
selalu meningkat setiap waktu. Data terakhir menunjukkan bahwa sekitar 1,8
miliar merupakan penduduk muslim. Jumlah ini berpengaruh pada perkembangan
industri didunia. Salah satunya yaitu perkembangan industri halal yang semakin
marak saat ini, mengingat kebutuhan akan produk-produk halal semakin
meningkat. Selain itu tidak hanya digemari oleh masyarakat muslim tetapi juga
masyarakat non muslim.
Agar perkembangan industri halal bisa optimal maka perusahaan perlu
mengetahui rantai halal suplay chain. Tieman (2012) dalam konsepnya
menyebutkan halal dalam rantai pasok berarti kegiatan keseluruhan entitas yang
terlibat sepanjang rantai pasok dari hulu ke hilir menerapkan konsep yang sesuai
syariat islam, dimulai dari pemilihan pemasok, proses produksi, penyimpanan,
sampai dengan distribusi. Tidak ada jaminan bahwa produk halal benar-benar
halal pada titik konsumsi tanpa menerapkan layanan rantai pasokan halal (Abdul
H. N., Yuserri Z.,& Ramayah T., 2013).
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk
mencapai 269 juta jiwa. Berdasarkan BPS tahun 2010, populasi penduduk muslim
berjumlah 87,18%, yang artinya lebih dari setengah dari jumlah penduduk
keseluruhan merupakan penganut agama islam. Hal ini tentu menjadikan
Indonesia memiliki sebuah peluang pasar produk halal yang menjanjikan. Akan
tetapi berdasarkan data dari State Of The Global Islamic Economic Indicator
tahun 2016/2017 Indonesia menempati peringkat ke 10 dunia dalam sektor halal
industri. Penyebab dari kurang perkembangan industri halal ini dikarenakan peran
pemerintah belum optimal. Salah satunya yaitu belum beroperasinya organisasi
pemerintah yaitu BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) yang
menangani sertifikasi produk halal.

1
Adapun salah satu hal yang sangat vital dalam bisnis adalah permodalan
atau pembiayaan. Sesuai konsep halal suplay chain, maka permodalan yang
diterapkan dalam halal Industri juga harus halal, dan sesuai dengan prinsip
keuangan syariah, dengan menerapkan sistem keuangan maka halal Industri akan
lebih mudah dalam pengajuan sertifikasi karena mengelola usaha sesuai dengan
prinsip syariah yang seharusnya diterapkan. Namun, faktanya banyak industri
yang masih menggunakan keuangan konvensional sebagai solusi dalam mengatasi
masalah permodalan. Seperti keadaan industri di kota Bengkulu yang sistem
pembiayaannya masih banyak menggunakan keuangan konvensional. Selain itu
peluang ekonomi yang tinggi dari Industri halal belum dimanfaatkan secara
optimal. Terkait dengan kota Bengkulu, pemasaran produk halal juga belum bisa
bersaing secara global dengan produk halal dari luar.
Berdasarkan masalah tersebut penulis membuat sebuah inovasi
pembiayaan yaitu “SAFETY CROSS (Shariah Finance Technology and
Crowfunding Syariah)” yang merupakan konsep pembiayaan yang efektif dan
efisien melalui aplikasi. Nantinya aplikasi ini akan digunakan sebagai media
untuk melakukan pembiayaan bagi Industri yang ada di Indonesia terutama di
Kota Bengkulu agar bisa berkembang sesuai dengan prinsip syariah, sehingga
terjamin sertifikasi halal dari produk yang dihasilkan. Aplikasi ini nantinya juga
menyediakan tempat untuk memasarkan produk halal yang ada di seluruh
Indonesia agar dapat bersaing di pasar domestik maupun luar negeri.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan masalah diatas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana keadaan industri yang ada di Kota Bengkulu ?
2. Bagaimana konsep dari aplikasi SAFETY CROSS ?
3. Bagaimana cara kerja aplikasi SAFETY CROSS ?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penulis memiliki tujuan yaitu:

1. Mengetahui keadaan industri yang ada di Kota Bengkulu.


2. Mengetahui konsep dari aplikasi SAFETY CROSS.

2
3. Mengetahui cara implementasi creative sociopreneur SAFETY CROSS.

1.4 Manfaat Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian diatas, hasil
dari penelitian yang dilakukan ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai
berikut:
1. Menganalisis keadaan Industri yang ada di Kota Bengkulu.
2. Memaparkan konsep dari aplikasi SAFETY CROSS.
3. Menyampaikan cara mengimplemetasikan creative sociopreneur SAFETY
CROSS.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Halal Industri dan Halal suplay chain


Menurut UU No 5 Tahun 1984 tentang perindustrian, Industri adalah
kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah
jadi, dan barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi
penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Istilah halal menunjukkan makna diperbolehkan untuk digunakan/dikonsumsi
(Yumos, et. al., 2014). Industri halal merupakan perusahaan yang menjalankan
kegiatan ekonomi berdasarkan hukum yang diperbolehkan menurut syara’.
Menurut peneliti (Christopher, 1988; Van Amstel & Van Goor; Van Assen
et al, 2010.) seperti dikutip oleh Tieman (2012) Halal memerlukan pendekatan
rantai pasokan dimana rantai nilai dan kegiatan rantai pasokanbenar-benar sejajar
dengan persyaratan syariah. Rantai pasokan halal dapat didefinisikan sebagai
integrasi proses bisnis dan kegiatan dari titik asal ke titik konsumsi sesuai dengan
hukum Islam dikenal sebagai Syariah (Omar&Jaafar, 2011).
2.1.1 Sertifikasi Halal Industri
Sertifikasi halal indusri adalah fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia
(MUI) yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai syariat Islam. Sertifikat
Halal MUI ini merupakan syarat untuk mendapatkan izin pencantuman label halal
pada kemasan produk dari Instansi pemerintah yang berwenang. Bagi industri
makanan dan minuman di Indonesia, logo halal merupakan hal yang penting.
Mengingat mayoritas penduduk di Indonesia beragama Islam.
Penelitian survei yang dilakukan oleh Al nahdi dalam islma (2011) yang
termuat dalam jurnal “understanding Mechanisms to Promote Halal Industry-The
Stakeholders Views” menunjukkan bahwa sertifikasi halal dapat meningkatkan
tingkat kepercayaan konsumen. Selain itu menyatakan bahwa persepsi kontrol
perilaku merupakan komponen yang paling berpengaruh.
Adapun tata cara memperoleh sertifikat halal
1. Permohonan sertifikat halal diajukan oleh pelaku usaha secaratertulis
kepada BPJPH.

4
2. Permohonan sertifikat halal harus dilengkapi dengan dokumen:
a. Data pelaku usaha
b. Nama dan jenis produk
c. Daftar produk dan bahan yang digunakan
d. Proses pengolahan produk
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan permohnan sertifikat
halal diatur dalam peraturan menteri.
Seperti kebanyakan negara dengan jumlah penduduk yang besar, badan sertifikasi
halal kurang optimal karena adanya anggapan bahwa setiap produk makanan yang
diproduksi di negara tersebut adalah halal sehingga sertifikasi halal tidak terlalu
diperlukan.
2.1.2 Organisasi Pemerintah pada Halal Industri
Untuk menjamin teralisasinya jaminan produk halal, pemerintah
membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). BPJPH adalah
badan yang dibentuk oleh pemerintah untuk menyelenggarakan Jaminan Produk
Halal (JPH) terhadap sejumlah produk yang dikonsumsi masyarakat.
Penyelenggaraan tersebut bertujuan memberikan kenyamanan, keamananan,
keselamatan, dan kepastian ketersediaan produk halal bagi masyrakat dalam
mengonsumsi dan menggunakan produk dan meningkatkan nilai tambah bagi
pelaku usaha untuk memproduksi dan menjual produk halal.
2.2 Fintech Teknologi
Menurut Stei dan Dhar, definisi dari financial technology merupakan
sebuah program terbaru dari sektor finance dan menggunakan model bisnis dan
telah terintegrasi melalui teknologi yang dapat mendukung peniadaan perantara,
bisa mengubah cara perusahaan yang ada dalam membuat produk dan layanan,
mengatasi permasalahn privasi, regulasi, dan tantangan hukum, memberikan
ruang guna pertumbuhan inklusif.
2.2.1 Sistem pembiayaan Crowfunding
Crowfunding adalah sebuah penggalangan dana secara kolektif yang
ditujukan untuk suatu proyek tertentu. Crowfunding diperkenalkan pertama kali
pada tahun 1885 untuk suatu proyek pembangunan patung Liberty di Amerika
(Short et al., 2017). Valanciene & jegeleviciute (2014) mendefinisikan

5
crowfunding dengan metode guna menghubungkan pengusaha yang
membutuhkan permodalan dan investor baru yang memiliki sumber daya modal
dalam jumlah kecil dengan entitas intermediary berbasis internet.
Terdapat tiga pihak utama yang menjadi pemegang kepentingan
(stakeholders) yaitu enterpreneur, platform crowfunding, dan investor (backers).
Stakeholder memiliki peranan serta kepentingan masing-masing, alur pertama
adalah pengusaha mengajukan proposal permintaan pendanaan melalui platform
funding selanjutnya menjanjikan return pada investor. Selanjutnya investor
menganalisi peluang investasi yang ditawarkan dari pengusaha untuk selanjutnya
memberikan komitmen pendanaan dan saran. Platform crowfunding berperan
sebagai perantara yang mempertemukan antara invetor dan backers (Valanciene &
Jegeleviciute, 2014).
2.2.2 Teknologi Blockchain
Menurut (Oscar, 2018) Teknologi blockchain ada sebagai hasil dari
kegelisahan beberapa pihak terhadap cara kerja teknologi yang tersentralisasi.
Teknologi ini muncul pada tahun 2010 bersama dengan bitcoin. Teknologi
blockchain merupakan teknologi dasar yang menjalankan program bitcoin tanpa
tergantung kepada server terpusat, dengan demikian akan terhindar dari risiko
yang bersifat downtime. Sistem ini hadir dengan mengubah pendekatan yang
stralistik menjadi desentralisasi. Prinsip dasar yang digunakan adalah mengatur
setiap server yang menjalankan aplikasi dan saling memverifikasi data yang ada.
Oleh karenanya, ketika salah satu server mengalami hack, maka hal tersebut tidak
akan menyebabkan permasalahan yang berarti . Hal tersebut membuat teknologi
blockchain relatif jauh lebih kuat menghadapi serangan dibandingkan teknologi
yang tersentralisasi karena selalu ada minimal 1 server yang berjalan untuk
menangani transaksi.

6
BAB III
METODE PENELITIAN

7
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Industri Halal di Kota Bengkulu


Industri di Kota Bengkulu mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Industri di kota bengkulu mengalami peningkatan sebesar 6% pertahun. Keadaan
geografis kota Bengkulu juga menjadi pendukung perkembangan Industri. Seperti
perkembangan Industri pariwisata di kota Bengkulu yang semakin meningkat,
destinasi wisata semakin banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun diluar
kota Bengkulu.
Perkembangan Pariwisata tentu saja menyebabkan perkembangan industri
yang lain, seperti pada sektor hotel yang akan ramai ketika banyak wisatawan
yang berkunjung. Namun, perkembangan sektor hotel tidak semuanya mengalami
kemajuan, banyak hotel-hotel di Bengkulu yang mengalami kerugian dan tutup
karena kalah bersaing. Akan tetapi perkembangan sektor hotel yang syariah,
Bengkulu tidak kalah dari hotel-hotel di Pulau Jawa, di bengkulu juga ada 3 hotel
yang telah memiliki sertifikasi halal dari total keseluruhan hotel berjumlah 53 , ini
menunjukkan bahwa industri halal mulai berkembang pada sektor ini.
Selain perkembangan industri lainnya yaitu pada sektor Industri makanan.
Di Bengkulu juga banyak berkembang UMKM yang semakin memperbaiki
perekonomian rakyat. Banyak pula industri makanan di Bengkulu yang sudah
memiliki sertifikasi halal. Sejauh ini yang ditemui oleh peneliti ialah produk
makanan oleh-oleh khas Bengkulu yang sudah memiliki label halal. Selain produk
oleh-oleh, belum ada produk makanan lain yang berlabel halal. Selain itu usaha
seperti restoran belum ada yang berlabel halal. Hal ini dikarenakan masyarakat
dan pelaku industri belum memiliki kesadaran tentang penting nya sertifikasi
produk halal. Dan masyarakat memiliki pemikiran bahwa makanan yang
diproduksi sudah pasti halal.
Industri Halal di kota Bengkulu belum bisa berkembang secara optimal.
Hal ini dikarenakan kurang nya peran dari pemerintah. Selain itu faktor
permodalan jg menjadi masalah bagi beberapa pelaku usaha. Berdasarkan hasil

8
dari wawancara serta kuisioner yang dibagikan kepada beberapa responden
sebanyak 54,9% mengalami kendala pada permodalan.

Gambar 1.1 Permasalan industri halal

Sedangkan kendala pada operasional, sebanyak 19,6% ketika ditelusuri


lebih dalam mengarah pada masalah permodalan juga. Masyarakat yang ingin
memulai sebuah usaha atau industri halal mengaku banyak yang belum memiliki
modal yang cukup, sedangkan ketika ingin meminjam masyrakat banyak yang
tidak tau harus meminjam ke Bank Konvensional atau Bank syariah. Hal ini
disebabkan oleh kurangnya edukasi dari pemerintah maupun para akademisi yang
mengerti tentang Ekonomi Syariah. Selain itu mengurus pinjaman ke Bank
cenderung lama dan syarat yang banyak.
4.2 Konsep Aplikasi Safety Cross
4.2.1 Proses Perancangan Desain Aplikasi SAFETY CROSS
Metode pengembangan yang digunakan oleh SAFETY CROSS ialah
metode A.D.D.I.E. Menurut Cheung (2016:4) meyatakan bawahwa A.D.D.I.E
adalah model yang mudah untuk digunakan dan dapat diterapkan dalam
pengembangan penggunaan media teknologi secara lebih mudah. Adapun tahapan
dari model A.D.D.I.E, ialah sebagai berikut:
1. Analyst, Analisis pada tahap ini peneliti meganalisis masalah apa yang
melatarbelakangi munculnya pengembangan media teknologi ini. Setelah
dianalisis masalah, maka peneliti perlu menganalisis kelayakan dan syarat-syarat
dari teknologi yang akan dibuat.

9
2. Design, Pada tahap ini, peneliti merealisasikan hal yang telah dianalisi.
Peneliti akan membuat hal yang dibutuhkan.
3. Development, Di dalam tahap ini, aplikasi akan mulai dikembangkan oleh
peneliti sesuai desain yan telah ditetapkan, setelah itu aplikasi yang telah dibuat
akan divalidasi oleh ahli bidang aplikasi dan ahli media. Jika alikasi yang dibuat
belum mencapai kriteria positif, maka peneliti akan merevisi aplikasi sesuai saran
dari ahli aplikasi mobile dan ahli media. Setelah aplikasi dikatakan positif, maka
pneliti akan mengujicobakannya kelapangan dalam hal validasi bersama
pengguna.
4. Implementation, Merupakan tahap uji coba aplikasi kepada pengguna di
daerah kota Bengkulu. Diimplementasikan aplikasi yang telah dikembangkan
pada situai yang nyata yaitu dilingkungan keramaian bisnis. Selama implementasi,
aplikasi yang telah dikembangkan diterapkan pada kondisi yang sebenarnya.
5. Evaluation, Merupakan tahap terakhir berupa evaluasi yang dilakukan
dalam bentuk formatif. Evaluasi formatif dilksanakan melalui respon pengguna
setelah menggunakan aplikasi dalam beberapa waktu tertentu telah melakukan
transaksi.
4.2.2 Konsep SAFETY CROSS (Shariah Finance Technologi and
Crowfunding System)
Dalam perkembangannya Safety Cross akan mempertemukan antara
pengusaha Industri halal yang membutuhkan modal untuk mengembangkan
usahanya dengan investor yang ingin menanam modalnya.Safety cross merupakan
solusi inovatif dari model keuangan syariah yang bisa digunakan bagi Industri
halal. Aplikasi ini nantinya bisa menjadi infrastruktur pengembangan industri
halal yang ada di Indonesia, khusunya di Kota Bengkulu.
Peneliti menggunakan akad Mudharabah yang akan diterapkan pada
aplikasi dalam hal peminjaman modal. Investor nantinya memberikan dana nya
melalui aplikasi Safety Cross. Akad yang digunakan dantara investor dengan
pihak pengelola aplikasi adalah akad Mudharabah yang nantinya akad ini akn
terbagi menjadi 2 yaitu akad mudharabah mutlaqah dan Mudharabah
muqayyadah. Apabila investor memilih mudharabah mutlaqah maka investor
menyerahkan seluruhnya pengelolaan dana yang diberikan kepada pihak aplikasi

10
dengan bagi hasil yang disepakati. Adapun jika akad mudharabah muqayyadah,
investor bisa memilih halal industri seperti apa yang akan menerima penbiayaan
darinya, dan margin bagi hasil sesuai dengan yang telah disepakati.
Selanjutnya pihak aplikasi akan menyalurkan modal kepada para pelaku
Industri halal yang membutuhkan modal. Akad yang digunakan yaitu
mudharabah. Pihak aplikasi nantinya akan memberikan syarat peminjaman
berupa berkas-berkas yang harus diupload oleh peminjam modal. Dalam hal ini
akad mudharabah antara pihak aplikasi dengan halal industri juga telah ditentukan
margin bagi hasil sesuai kesepakatan kedua pihak.

Gambaran Konsep Aplikasi SAFETY CROSS

Investor memberikan modal Pengelolaan modal oleh pihak


kepada aplikasi SAFETY aplikasi untuk didistribusikan.
CROSS

Pembagian keuntungan
Pelaku Industri Halal
menggunakan akad
mengajukan permohonan modal
mudharabah

Semua kegiatan peminjaman dana tersimpan dalam Big Data Aplikasi


untuk digunakan dalam jangka waktu panjang.

Seorang investor seblum melakukan penanaman modal mereka harus


terlebih dahulu melakukan register pada lembaga, dengan melakukan pendaftaran
menggunakan integrasi big data yang nantinya data tersebut bisa digunakan
sebagai evaluasi pada kementrian. Selanjutnya investor dapat tanam modal,
investor bisa melihat berbagai industri halal, serta prosepk industri halal tersebut
kedepannya. Investor juga dapat melihat laporan perkembangan industri halal
tersebut. Sedangkan bagi Halal Industri, juga melakukan registrasi untuk mebuat
akun pada lembaga, selanjutnya akan diarahkan oleh sistem untuk peng-uploadan
proposal. Aplikasi akan melakukan pelaporan setiap periode terkait penggunaan
moda. Didukung oleh teknologi blockchain yang melakukan pelaporan secara
real time. Selanjutnya akan dilakukan monitoring tentang perkembangan Industri

11
Halal tersebut sebagai bahan evalusi terkait perkembangan Lembaga dan kondisi
Industri halal di Indonesia
4.3 Cara Kerja Aplikasi Safety Cross
Aplikasi Safety Cross sebagai salah satu inovasi pembiayaan dan
pengembangan industri halal di Indonesia, memiliki cara kerja pembiayaan
dengan sistem crowfundig. Yang mana, Industri Halal yang telah terdaftar pada
Lembaga aplikasi harus melakukan

12
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/04/23/berapa-jumlah-penduduk-
dunia 16 juli 2019 23:04
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Islam_by_country 16 juli 2019 23:19

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Rabu 11 Oktober 2017 Fakta


soal Sertifikat Halal MUI, dari Syarat hingga Tahapannya!
https://economy.okezone.com/read/2017/10/11/320/1793336/fakta-soal-sertifikat-
halal-mui-dari-syarat-hingga-tahapannya diakses 19 juli 2019 pukul 17.25 wib

13