Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Gingiva adalah jaringan lunak yang menutupi gigi.

Gingiva yang sehat berwarna merah muda, konsistensi

kenyal dengan adanya stipling. Pertambahan ukuran gingiva

adalah hal yang umum pada penyakit gingiva, kondisi

tersebut disebut gingival enlargement. Gambaran klinisnya

disebut hipertropi gingivitis atau hiperplasi gingiva dengan

gingiva berwarna merah, konsistensi lunak, tepi tumpul dan

tidak adanya stipling.

Gingival enlargement atau pembesaran gingiva adalah

suatu peradangan pada gingiva yang disebabkan oleh banyak

faktor baik faktor lokal maupun sistemik, yang paling utama

adalah faktor lokal yaitu plak bakteri.

Plak bakteri penyebab penyakit periodontal biasanya

terakumulasi pada area dekat gingiva, atau retensi pada alat

ortodonsi cekat, sehingga pasien akan kesulitan

membersihkannya, dan jika kebersihannya terabaikan, maka

bakteri plak akan mudah berkembang biak. Akumulasi bakteri

sepanjang gingival merupakan hal yang mendukung awal

terjadinya peradangan gingiva.

1
Gingival enlargement memiliki tanda klinis berupa

gingiva membesar, mengkilat, konsistensi lunak, warna

merah dan pinggirannya tampak membulat. Hal ini

menimbulkan estetik yang kurang baik, sehingga

memerlukan perawatan yaitu gingivektomi. Gingivektomi

adalah pemotongan jaringan gingiva dengan membuang

dinding lateral poket yang bertujuan untuk menghilangkan

poket dan keradangan gingiva sehingga didapat gingiva yang

fisiologis, fungsional dan estetik baik. Gingivektomi

diindikasikan pada pembesaran gingiva yang tumbuh

berlebih, jaringan yang fibrosis dan poket supraboni. 1,2

1.2 TUJUAN

Adapun tujuan penyusunan laporan kasus ini adalah untuk memenuhi

tugas requirement pada bagian periodonsia, serta diharapkan dengan adanya

laporan kasus ini dapat menambah ilmu pengetahuan khususnya bagi

penyusun dan umumnya bagi pembaca.

2
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN

No. RM : 2383

Nama : Nn. S

Umur : 23 Tahun

TTL : Pare-pare, 14 Oktober 1995

Jenis kelamin : Perempuan

Suku/Ras : Bugis

Pekerjaan : Mahasiswa

Alamat : BTN Pepabri, Sudiang

No. Hp : 082346907364

2.2 PEMERIKSAAN SUBJEKTIF

Keluhan utama :

Gusi bengkak

Riwayat penyakit sekarang :

3
Pasien datang dengan keluhan terdapat pembesaran pada gusi bagian depan

pada rahang atas dan rahang bawah, pasien tidak merasakan sakit, namun

pada saat menyikat gigi sering berdarah, pasien merasa gusinya mengalami

pembesaran kurang lebih tiga bulan lalu, pasien merasa kurang nyaman dan

ingin dilakukan perawatan.

Riwayat penyakit dahulu :

Tidak ada keluhan

Riwayat penyakit keluarga dan sosial :

Tidak ada keluhan

Pemeriksaan Tanda Vital :

TD : 120/80 mm/Hg

N : 80 x/menit

P : 24 x/menit

S : 36,5oC

Riwayat Penyakit / Kelainan sistemik :

Alergi : Tidak ada keluhan

Jantung : Tidak ada keluhan

Tekanan Darah Tinggi : Tidak ada keluhan

Kelainan Darah : Tidak ada keluhan

Hepatitis A/B/C : Tidak ada keluhan

Gastritis : Ada

4
Diabetes Melitus : Tidak ada keluhan

HIV/AIDS : Tidak ada keluhan

Penyakit Paru-paru : Tidak ada keluhan

Kelainan Pencernaan : Tidak ada keluhan

Penyakit Ginjal : Tidak ada keluhan

Epilepsi : Tidak ada keluhan

Dll : Tidak ada keluhan

2.3 PEMERIKSAAN OBJEKTIF

Pemeriksaan intraoral :

Debris : Ada ( RA dan RB)

Stain : Tidak ada

Kalkulus : Tidak ada

Perdarahan papilla interdental : Tidak ada kelainan

Gingiva : Ada

Mukosa pipi/bibir : Tidak ada kelainan

Palatum : Tidak ada kelainan

Lidah : Tidak ada kelainan

Dasar mulut : Tidak ada kelainan

Hubungan rahang : Ortognati

Poket : RA= 11, 12 (3 mm)

RB= 41,42,43(3 mm), 45(2mm)

Hiperplasi : RA= 11,12

RB = 41,42,43

5
Resesi : RA = 13 (Bukal)

RB = 45 (Mesial)

Perdarahan : RA= 11,12 (setitik)

:RB= 41,42,43,45(setitik)

Kegoyangan : Tidak ada kelainan

Migrasi dan Malposisi : 31 (Labioversi)

Pemeriksaan ekstraoral :

Wajah/leher : Simetri

Bibir dan sudut bibir : Tidak ada kelainan

Kelenjar Getah bening submandibula :

Kiri : Teraba, lunak, tidak sakit

Kanan : Teraba, lunak, tidak sakit

Pemeriksaan penunjang

Foto Rontgen : -

2.4 DIAGNOSA

Gingival enlargement

2.5 Status Periodontal

Tabel CPITN
17-14 13-23 24-27
I II I
I II I
47-44 43-33 34-37

D-IS C-IS
1 1 1 2 1 1
1 1 1 1 1 1

6
OHIS : 2,1 (sedang)

2.6 PERAWATAN

1. Perawatan Pertama :

Kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan subjektif, pemeriksaan

objektif dan kemudian penentuan diagnosis dan rencana perawatan,

dokumentasi sebelum perawatan serta penandatanganan informed

consent.

2. Perawatan kedua

a. Ulaskan larutan antiseptik povidone iodine menggunakan cotton pellet

pada daerah yang akan dilakukan gingivektomi

b. Isolasi daerah kerja dan lakukan anastesi infiltrasi menggunakan obat

anastesi atau larutan anastetikum pehacain

c. Mengukur kedalaman poket dengan periodontal probe

d. Masukkan pocket marker kedalam poket dengan cara memasukkan

ujung yang tidak tajam dari poket marker kedalam poket

7
e. Tekan ujung yang tajam ke gingiva sehingga menimbulkan bercak

darah ( bleeding point ) untuk menandakan dasar poket sebagai acuan

dilakukan insisi, lakukan sistematis dari distal ke mesial

f. Incisi ( beveled incision) menggunakan kirkland knife pada bagian

permukaan fasial dan lingual sampai bagian distal gigi yang

bersangkutan. Incisi dimulai kearah apikal dari bleeding point

g. Eksisi sesuai dengan incisi yang telah dibuat dengan menggunakan

orban knife

h. Menghilangkan dinding poket yang sudah tereksisi , membersihkan

area dengan larutan irigasi

i. Kuret jaringan granulasi yang ada secara hati-hati dan hilangkan sisa

kalkulus dengan menggunakan alat scaler dan sementum yang

nekrosis sehingga permukaan gigi bersih

j. Irigasi dengan larutan saline kemudian tekan dengan kain kasa kering

( tampon ) 2-3 menit untuk menghentikan perdarahan

k. Tutup area luka dengan periodontal pack

l. Pemberian antibiotik dan analgetik

R/ Amoxicilin tab 500mg no.XV


∫ 3 dd 1 p.c
R/ ibuprofen tab 400 mg no.XV
∫ 3 dd 1 p.c

3. Perawatan keempat

8
Kunjungan berikutnya adalah 7 hari paska gingivektomi dan kontrol

hasil operasi kedua. Tidak terdapat keluhan dari pasien. Pemeriksaan

klinis menunjukkan penyembuhan yang baik pada area operasi.

2.7 PROGNOSIS
Baik
DOKUMENTASI :

Sebelum
dilakukan

gingivektomi

Desinfeksi menggunakan povidone iodin

Diberikan anastesi pada daerah yang akan dilakukan gingivektomi

9
Ukur kedalaman poket menggunakan probe

poket marker untuk mendapatkan bleeding point

Insisi dilakukan dengan menggunakan blade

Dilakukan kuretase untuk


menghilangkan jaringan gralunasi

10
Dilakukan Irigasi dan menghentikan perdarahan dengan tampon

Tu tup

menggunakan pack periodontal

Keadaan gingiva setelah dilakukan pembukaan pack periodontal

11
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 GINGIVA

3.1.1 DEFINISI

Gingiva merupakan bagian dari jaringan periodontal

yang melekat pada prosesus alveolaris dan gigi. Fungsi

12
gingiva adalah melindungi akar gigi, jaringan periodontal

dan tulang alveolar terhadap rangsangan dari luar,

khususnya dari bakteri-bakteri dalam mulut. Gingiva

merupakan bagian terluar dari jaringan periodontal yang

nampak secara klinis.

3.1.2 GINGIVA NORMAL

Gingiva adalah jaringan lunak yang menutupi gigi.

Gingiva yang sehat berwarna merah muda, konsistensi

kenyal dengan adanya stipling. Adapun tanda-tanda

gingiva yang normal, yaitu :

1. Berwarna merah muda. Warna ini tergantung derajat vaskularisasi,

ketebalan epitel, derajat keratinisasi dan konsentrasi pigmen melanin

2. Konturnya berlekuk seperti kulit jeruk dan licin

3. Konsistensinya kuat dan kenyal, melekat pada struktur di bawahnya

4. Melekat pada gigi dan tulang alveolar

5. Ketebalan free gingiva 0,5 – 1 mm, menutupi leher gigi dan meluas

menjadi papilla interdental

6. Sulkus gingiva tidak lebih 2 mm

7. Tidak mudah berdarah dan tidak terdapat edema

8. Tidak terdapat eksudat

9. Ukuran tergantung dengan elemen seluler, interseluler dan suplai

vaskular 1,3

13
Gambar : Gingiva Sehat

3.2 PEMBESARAN GINGIVA (GINGIVAL ENARGEMENT)

3.2.1 DEFINISI

Pertambahan ukuran gingiva adalah hal yang umum

terjadi pada penyakit gingiva, keadaan ini disebut sebagai

gingival enlargement. Gingival enlargement adalah

jaringan gingiva yang membesar secara berlebihan di

antara gigi dan atau pada daerah leher gigi. Gambaran

klinisnya disebut hipertropi gingivitis atau hiperplasi

gingiva dengan gingiva berwarna merah, konsistensi

lunak, tepi tumpul dan tidak adanya stipling (halus).

Gingival enlargement adalah pertumbuhan berlebih

jaringan gingiva yang ditandai dengan pembengkakan

pada daerah interdental papilla dan meluas ke margin

gingiva hingga dapat pula menutup mahkota gigi baik

secara lokal maupun general yang dapat menimbulkan

efek negatif berupa gangguan fungsi, baik estetik maupun

fungsional. Gingival enlargement ini merupakan hasil dari

adanya faktor iritan lokal seperti plak dan kalkulus, serta

faktor sekunder berupa perubahan hormonal yang

14
bertanggung jawab atas respon peradangan yang

berlebihan terhadap iritan lokal. Selain itu, gingival

enlargement juga merupakan hasil dari perubahan

inflamsi akut atau kronis, dimana perubahan kronis lebih

umum terjadi akibat dari plak gigi yang terekspos dalam

jangka waktu yang lama. 1,3,4,5

3.2.2 ETIOLOGI

Gingival enlargement adalah suatu peradangan pada

gingiva yang disebabkan oleh beberapa faktor, akan

tetapi faktor yang paling utama adalah faktor lokal yaitu

plak bakteri. Adapun faktor-faktor yang dapat

menyebabkan terjadinya gingival enlargement adalah

sebagai berikut :

1. Inflamasi Akut

a. Abses gingiva

Manifestasi klinik abses gingiva berupa lesi merah menonjol

yang terlokalisir dengan permukaan yang mengkilat, nyeri jika

ditekan, terdapat adanya eksudat yang purulen pada tepi gingiva

atau papilla interdental. Dalam 24-48 jam abses menjadi fluktuasi

dan dapat ruptur secara spontan sehingga mengeluarkan eksudat

purulen dari lubang abses. 3

b. Abses periodontal

15
Disebabkan karena pertumbuhan bakteri dalam

poket periodontal. Poket Periodontal diawali dari

penyakit periodontal karena infeksi gusi yang

disebabkan oleh plak bakteri, tar, sisa makanan yang

terakumulasi dan pengaruh sistem imun tubuh.

Abses periodontal bersifat sangat destruktif dan jika

tidak diterapi dengan tepat dan cepat dapat

menimbulkan kerusakan yang irreversible pada

ligamen periodontal dan tulang alveolar sehingga gigi

dapat tanggal dengan sendirinya. 3

2. Inflamasi Kronik

Kondisi kronik biasanya merupakan komplikasi dari inflamasi

akut atau trauma. Pada tahap awal, pembesaran gingiva terjadi pada

papilla interdental dan atau tepi gingiva, kemudian akan semakin

bertambah besar hingga menutup permukaan mahkota gigi. Prosesnya

berjalan lambat serta tanpa rasa sakit, kecuali jika terdapat komplikasi

akut atau adanya trauma. Penyebab - penyebab terjadinya inflamasi

kronik pada gingiva, yaitu :

a. Faktor lokal endogen (gigi)

 Kebersihan rongga mulut

Faktor lokal yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit

periodontal antara lain adalah bakteri dalam plak, kalkulus,

material alba dan food debris. Semua faktor lokal tersebut

16
terjadi akibat kurangnya kebiasaan memelihara kebersihan gigi

dan mulut.

Terjadinya inflamasi pada gingiva oleh bakteri didalam plak

disebabkan karena bakteri tersebut menghasilkan enzim-enzim

yang mampu menghidrolisa komponen interseluler dari epitel

gingiva dan jaringan ikat di bawahnya. Hal tersebut yang dapat

menyebabkan iritasi pada gingiva secara terus menerus sehingga

dapat menyebabkan peradangan pada gingiva dan

mengakibatkan pembesaran gingiva. 3

 Malposisi gigi

Malposisi gigi dapat terjadi bila gigi-gigi tidak terletak baik

di dalam lengkung gigi yang bersangkutan, seperti berputar

(rotasi) pada porosnya, miring ke arah dalam (lingual/palatal),

ke arah luar atau samping (lateral/medial). Susunan gigi yang

tidak teratur akan memudahkan terjadinya retensi makanan serta

pembersihan gigi menjadi sangat sulit. Hal ini memicu

terakumulasinya plak dan kalkulus pada rongga mulut. 3

Gambar : Malposisi Gigi

17
 Penggunaan protesa

Pada penggunaan protesa atau gigi palsu dapat

menyebabkan terjadinya iritasi pada gingiva karena

penggunaannya yang tidak sesuai, misalnya pada kasus

pemasangan gigi palsu yang dipasang terlalu dalam atau

ukurannya yang terlalu kecil sehingga menginduksi terjadiya

iritasi gingiva. 3

 Penggunaan alat ortodontik

Kebersihan rongga mulut akan terpengaruh oleh adanya alat

ortodonti di dalam mulut. Adanya kegagalan dalam menjaga

kebersihan rongga mulut ini dapat meningkatkan terjadinya

akumulasi plak dan sejumlah lesi karies. Sebagian besar masalah

periodontal yang timbul selama masa perawatan ortodonti

disebabkan oleh akumulasi plak. Penggunaan alat ortodonti

cekat di dalam mulut semakin meningkatkan retensi plak, yang

bila tidak ditanggulangi akan menimbulkan reaksi yang

berkelanjutan seperti gingivitis dan yang lebih parah lagi adalah

periodontitis. 3

18
Gambar : Penggunaan alat ortodontik

 Kavitas karies

Pencegahan terjadinya penyakit periodontal dan karies

harus didasari oleh kontrol plak yang baik. Bakteri pada plak

dapat memicu terjadinya karies pada gigi. 3

b. Faktor lokal eksogen (lingkungan)

 Rokok

Merokok tidak hanya menimbulkan efek secara sistemik,

tetapi juga dapat menyebabkan timbulnya kondisi patologis pada

rongga mulut. Gigi dan jaringan lunak rongga mulut, merupakan

bagian yang dapat mengalami kerusakan akibat rokok. Penyakit

periodontal, karies, kehilangan gigi, resesi gingiva, lesi

prakanker, kanker mulut, serta kegagalan implant adalah kasus-

kasus yang dapat timbul akibat kebiasaan merokok.

Panas yang ditimbulkan akibat pembakaran rokok dapat

mengiritasi mukosa mulut secara langsung sehingga dapat

menyebabkan perubahan vaskularisasi dan sekresi saliva.

Perubahan vaskularisasi gingiva akibat merokok menyebabkan

terjadinya inflamasi pada gingiva. Dilatasi pembuluh darah

kapiler diikuti dengan peningkatan aliran darah pada gingiva

dan infiltrasi agen-agen inflamasi, sehingga menimbulkan

terjadinya pembesaran gingiva. 3

19
3. Akibat penggunaan obat

Pembesaran gingiva diketahui dapat dipengaruhi oleh

penggunaaan obat seperti antikonvulsan, immunosupresan dan

antihipertensi. Obat tersebut tidak hanya memiliki efek pada organ

target, namun memiliki efek samping ke jaringan tubuh yang lain

seperti gingiva, yang dapat menyebabkan perubahan gingiva secara

histopatologi dan klinik. Perubahan tersebut berpengaruh terhadap

proses berbicara, proses mengunyah, pertumbuhan gigi maupun dapat

mengganggu dalam hal estetika. 3

4. Keadaan sistemik tubuh

a. Kehamilan

Selama kehamilan terjadi peningkatan hormon progesterone

dan esterogen. Pada trimester ke-3 kehamilan, peningkatan kedua

hormon bisa mencapai 10-30 kali. Hal ini menyebabkan perubahan

permeabilitas vaskuler, memicu timbulnya edema pada gingiva dan

berpotensi menginduki terjadinya iritasi lokal pada jaringan

gingiva. Gingiva tampak merah, mengkilat, lunak dan sering terjadi

perdarahan spontan. Reduksi spontan terjadi setelah selesai masa

kehamilan dan setelah iritasi lokal dihilangkan. 3

b. Pubertas

Terjadi pada laki-laki atau perempuan remaja pada saat masa

pubertas. Pembesaran gingiva sering terjadi pada tempat akumulasi

plak gigi. Manifestasi kliniknya berupa penonjolan bulbous pada

20
tepi dan interdental gingiva, berwarna merah, mengkilat dan

edema. 3

c. Defisiensi vitamin C

Tampak merah kebiruan pada gingiva, permukannya mengkilat

dan lunak serta terjadi pembesaran pada tepi gingiva. Gingiva dapat

berdarah secara spontan atau dengan sedikit provokasi. Pada

permukaan gingiva terdapat jaringan nekrosis disertai

pseudomembran.3

3.2.3 GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis yang dapat ditemukan pada pasien gingival

enlargement meliputi :

a. Gambaran klinis gingival enlargement akibat inflamasi kronik, yaitu :

 Berupa tonjolan kecil pada papilla interdental dan atau margin

gingiva

 Terlokalisir atau menyeluruh

 Berlangsung perlahan-lahan dan tanpa rasa sakit kecuali jika

terinfeksi akut atau terkena trauma 6

b. Gambaran klinis gingival enlargement akibat inflamasi akut, yaitu :

 Terlokalisir

 Terasa sakit dan meluas secara cepat serta dapat terjadi secara tiba-

tiba

 Umumnya terbatas pada papilla interdental atau margin gingiva

 Berwarna merah, edema, dan permukaan mengkilat

21
 Dalam 24-48 jam lesi dapat membentuk fistula, dan jika terus

berkembang akan pecah secara spontan 6

c. Gambaran klinis gingival enlargement akibat penggunaan obat-

obatan, yaitu :

 Terdapat pembesaran seperti tonjolan yang muncul pada papilla

interdental yang tidak sakit akan tetapi memanjang hingga fasial

dan lingual margin gingiva

 Pembesaran di marginal dan papilla interdental tersebut menyatu

menjadi lipatan jaringan yang besar menutupi sebagian luas

mahkota

 Saat belum terjadi komplikasi, bentuknya seperti mulberry, padat,

pink, pucat, dan tidak mudah berdarah

 Pada oral hygiene yang buruk memicu peradangan sekunder karena

bakteri pada plak sehingga menyebabkan warna merah / merah

kebiruan, memperjelas batas dari lobus dan meningkatkan

kecenderungan perdarahan 6

d. Gambaran klinis gingival enlargement akibat kehamilan, yaitu :

 Massa tunggal / ganda seperti tumor

 Berwarna merah terang sampai kebiruan / merah tua

 Margin gingiva terlihat membulat, halus, mengkilat, lunak dan

lentur serta mudah berdarah 6

e. Gambaran klinis gingival enlargement akibat pubertas, yaitu :

22
 Derajat pembesaran dan kecenderungan untuk rekuren dipengaruhi

oleh keadaan plak dan kalkulus 6

f. Gambaran klinis gingival enlargement akibat defisiensi vitamin C,

yaitu :

 Tonjolan pada daerah marginal dengan warna kebiruan, lunak,

permukaan halus, dan mengkilap

 Hemoragia dapat terjadi secara spontan atau dengan sedikit

rangsang

 Ada nekrosis permukaan dengan pembentukan pseudomembran 6

3.2.4 PENATALAKSANAAN

Pada perawatan periodontal biasanya diawali dengan fase perawatan

tahap awal yang meliputi dental health education (DHE), supra dan

subgingival scaling. Pada gingivitis hiperplasi dapat dirawat dengan

scaling, bila gingiva tampak lunak dan ada perubahan warna, terutama

bila terjadi edema dan infiltrasi seluler, dengan syarat ukuran pembesaran

tidak mengganggu pengambilan deposit pada permukaan gigi. Akan

tetapi, apabila gingivitis hiperplasi terdiri dari komponen fibrotik yang

tidak bisa mengecil setelah dilakukan perawatan scaling atau ukuran

pembesaran gingiva menutupi deposit pada permukaan gigi, dan

mengganggu akses pengambilan deposit, maka perawatannya adalah

pengambilan secara bedah atau gingivektomi.

Pembesaran gingiva adalah suatu peradangan pada gingiva yang

disebabkan oleh banyak faktor baik faktor lokal maupun sistemik, yang

23
paling utama adalah faktor lokal yaitu plak bakteri. Tanda klinis yang

muncul yaitu gingiva membesar, halus, mengkilat, konsistensi lunak,

warna merah dan pinggirannya tampak membulat sehingga hal ini

menimbulkan estetik yang kurang baik sehingga memerlukan perawatan

yaitu gingivektomi.

Gingivektomi adalah pemotongan jaringan gingiva dengan

membuang dinding lateral poket yang bertujuan untuk menghilangkan

poket dan keradangan gingiva sehingga didapat gingiva yang fisiologis,

fungsional dan estetik baik. Keuntungan teknik gingivektomi adalah

teknik sederhana karena dapat mengeliminasi poket secara sempurna,

lapangan penglihatan baik, dan dapat membentuk kembali morfologi

gingiva dengan baik. 1,7,8

24
BAB IV

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Pembesaran gingiva adalah peradangan yang terjadi pada gingiva

karena faktor lokal yaitu bakteri plak. Perawatan pembesaran gingiva yang

tidak mengecil setelah dilakukan scaling, root planing, curettage dan

polishing maka harus dilakukan gingivektomi yang akan menghasilkan

morfologi dan estetik gingiva yang baik. Plak kontrol merupakan kunci

keberhasilan gingivektomi sehingga tidak terjadi kekambuhan pembesaran

gingiva.

Gingivektomi adalah pemotongan jaringan gingiva dengan membuang

dinding lateral poket yang bertujuan untuk menghilangkan poket dan

keradangan gingiva sehingga didapat gingiva yang fisiologis, fungsional dan

estetik baik.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Andriani, I., 2009, Perawatan Pembesaran Gingiva dengan Gingivektomi,

Jurnal Mutiara Medika, Vol. 9, No. 1, Hal. 60-70

2. Lastianny, S.P., 2012, Dampak Pemakaian Alat Ortodontik Terhadap

Kesehatan Jaringan Periodontal, Jurnal Kedokteran Gigi, Vol. 19, No. 2,

Hal. 181-183

3. Irlinda, Riva, 2014, Pembesaran Gingiva, Semarang, Universitas

Diponegoro, Hal. 9, 14-24, 30-31

4. Kurniasari, A., 2016, Gingival Enlargement, SCRIBD, Hal. 1

5. Cornain, T.Z., Ismu, S.S., Gingivitis Kronis pada Anak Umur 10 Tahun,

Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Vol. 3, No. 2, Hal. 49-50

6. Musdiyanti, E., 2017, Gambaran Klinis Gingival Enlargement, SCRIBD,

Hal. 1-3

7. Widagdo, A.K., Kwartarini, M., 2015, Gingivektomi Menggunakan

Scalpel dan Electrocautery pada Perawatan Gingival Enlargement

Wanita Pubertas, Majalah Kedokteran Gigi Klinik, Vol. 1, No. 1, Hal. 1-2

8. Ruhadi, I., Izzatul, A., Kekambuhan Gingivitis Hiperplasia Setelah

Gingivektomi, Majalah Kedokteran Gigi (Dental Journal), Vol. 38, No. 3,

Hal. 108

26
27