Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai pulau, suku, ras dan, agama yang
memiliki beragam kebudayaan di masing-masing daerah. Kebudayaan itu sendiri mempunyai arti
yaitu sebuah konsep yang bersifat universal. Herkovitas memandang bahwa kebudayaan sebagai
superorganic karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke generasi tetapi hidup
terus, walaupun orang-orang yang ,menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti
disebabkan oleh kematian dan kelahiran.
Kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sebuah kebiasaan nenek moyang yang
dilakukan manusia dalam lingkup sosial tertentu dan dilakukan terus menerus secara turun
temurun, sehingga kebudayaan dapat menunjukkan tinggi rendahnya peradaban suatu
masyarakat.
Salah satu Kota yang erat akan kebudayaan adalah Ponorogo. Secara geografis
Kabupaten Ponorogo beradapada ketinggian 92 sampai dengan 2.563 meter diatas permukaan
laut dengan luas wilayah 1.371.78 Km2 yang terletak antara 111°17’ – 111° 52’ BT dan 7°49’ –
8°20’ LS.
Kabupaten Ponorogo terletak di sebelah barat Provinsi Jawa Timur. Pada setiap tahun
baru Islam atau Suro Kabupaten Ponorogo mengadakan suatu rangkaian acara berupa Grebeg
Suro. Dalam acara tahunan ini ditampilkan berbagai macam seni dan tradisi seperti Festival Reog
Mini, Festival Reyog Nasional, pawai budaya, kirab pusaka dan larung sesaji risalah do’a yang
dipusatkan di Telaga Ngebel. Selain untuk menjaga tradisi ritual ini juga berperan untuk
meningkatkan kepariwisataan di Ponorogo. Ponorogo adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur
yang memiliki berbagai budaya yang tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lainnya.
Upacara risalah doa yang dilasanaan oleh masyarakat Ngebel mempunyai ciri khas
tersendiri, jika biasanya larungan dilakukan pada siang hari berbeda dengan di Ngebel, karena
larungan dilakukan pada malam hari. Upacara larungan risalah doa di Ngebel mempunyai
karakter yang unik dan sangat berbeda dengan daerah – daerah lain karena dalam upacara risalah
doa di Telaga Ngebel menggunakan penerangan tradisional obor
Di era globalisasi seperti saat ini, kita sebagai generasi muda perlu mengerti dan
memahami kebudayaan disekitar kita yang nantinya akan melestarikan kebudayaan tersebut,
dengan kata lain kebudayaan tersebut nantinya tidak hanya dipahami sebagai hiburan atau
tontonan semata, tetapi juga harus dimengerti maknanya.