Anda di halaman 1dari 31

TANDA GEJALA DAN PROSES TERJADINYA GANGGUAN SISTEM

INDRA (THT & MATA) DAN NEOPLASMA


Dosen Pengampu: Ns. Trimawati, S.Kep., M.Kep.

Disusun Oleh :

Mahasiswa Semester II Kelompok 12 :

1. Chandeni Putri Larasati (010117A015)


2. Devi Ismawati (010117A016)
3. Finanaila Syaadah (010117A031)
4. Haris Muslim Al-Choir (010117A037)

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO


TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat serta hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul TANDA
DAN PROSES TERJADINYA GANGGUAN SISTEM INDRA(THT & MATA),
TANDA DAN PROSES TERJADINYA NEOPLASMA dalam rangka untuk memenuhi
tugas patofisiologi.
Dalam menyelesaikan penyusunan karya makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak
pihak. Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa pada makalah ini masih terdapat banyak kekurangan mengingat
keterbatasan kemampuan kami. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca sebagai masukan bagi kami.
Akhir kata kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya
dan kami sebagai penulis pada khususnya. Atas segala perhatiannya kami mengucapkan
banyak terima kasih.

Ungaran, 18 Mei 2018

Penulis
DAFTAR ISI

Cover………………………………………………………………………….. i
Kata Pengantar .......................................................................................................ii
Daftar Isi ...............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Review Fungsi Sistem Indera(THT & Mata) & Neoplasma ...............2
B. Gangguan pada Sistem Indera(THT & Mata) ......................................12
C. Gangguan Neoplasma ..........................................................................22
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ..........................................................................................26
B. Saran ....................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................27

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Panca indera adalah organ-organ akhir yang di khususkan untuk menerima ragsang
jenis tertentu. Serabut saraf yang menanganinya merupakan alat perantara yang
membawa kesan rasa ( sensori impression ) dari organ indera menuju ke otak di mana
perasaan ini di tafsirkan.
Bebrapa kesan timbul dari luar seperti sentuhan, pengecapan, penglihatan, penciuman
dan suara. Ada kesan yang timbul dari dalam antara lain, lapar, haus, dan rasa sakit.
Dalam segala hal, serabut saraf sensorik di lengkapi dengan ujung akhir khusus
mengumpulkan rangsangan yang khas dimana setiap organ berhubungan. Sistem indera,
memerlukan bantuan sistem saraf yang menghubungkan badan indera dengan sistem saraf
pusat, organ indera adalah sel-sel tertentu yang dapat menerima stimulus dari lingkungan
maupun dari dalam badan sendiri untuk di teruskan sebagai impuls saraf melalui serabut
saraf ke pusat sususan saraf. Setiap organ indera menerima setimulus tertentu, kesan yang
sesuai sebagi sistem organ indera hanya mampu menerima stimulus, menghasilkan dan
mengirim impuls saraf, interpretasi dari pada semua organ indera dapat di klasifikasikan
menjadi dua yaitu, organ indera umum seperti reseptor raba tersebar di seluruh tubuh dan
organ indera khusus seperti puting pengecap penyebaranya terbatas pada lidah.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana Fungsi Sistem Indera ( THT dan Mata) & Neoplasma ?
b. Bagaimana Konsep Gangguan pada Sistem Indera ?
c. Apa Konsep Gangguan Neoplasma ?
C. TUJUAN
a. Tujuan umum
Untuk mengetahui fungsi sitem Indera dan Neoplasma.

b. Tujuan khusus
1. Untuk dapat mengetahui fungsi sistem Indera dan Neoplasma.

2. Mengetahui gangguan yang terdapat pada Indera dan Neoplasma

3. Mengetahui mekanisme Indera

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Review Fungsi Sistem Indera(THT & Mata) & Neoplasma


1. Indera Penglihatan (Mata)
Indera Penglihatan yang terletak pada mata (organ visus) terdiri dari organ okuli
assesoria (alat bantu mata) dan oculus (bola mata). Saraf indera penglihatan, saraf
optikus (urat saraf kranial kedua), timbul dari sel-sel ganglion dalam retina, bergabung
untuk membentuk saraf optikus.
a. Alis
Dua potong kulit tebal yang melengkung ditumbuhi oleh bulu yang berfungsi
sebagai pelindung mata dari sinar matahari yang sangat terik dan sebagai alat
kecantikan.
b. Kelopak Mata
Terdiri dari dua bagian kelopak mata atas dan kelopak mata bawah, fungsinya
adalah pelindung mata sewaktu-waktu kalau ada gangguan pada mata(menutup dan
membuka mata).
c. Organ Okuli Assesoria
Organ Okuli Assesoria(alat pembantu mata), terdapat disekitar bola mata yang
sangat erat hubungannya dengan mata, terdiri dari :
1. Kavum orbita
Merupakan rongga mata yang bentuknya seperti kerucut dengan puncaknya
me ngarah ke depan, dan ke dalam.
Dinding rongga mata dibentuk oleh tulang :
1) Os Frontalis
2) Os Zigomatikum
3) Os Slenoidal
4) Os Etmoidal
5) Os Palatum
6) Os Lakrimal

2. Supersilium(alis mata)
Merupakan batas orbita dan potong kulit tebal yang melengkung, ditumbuhi
oleh bulu pendek yang berfungsi sebagai kosmetik atau alat bamtu kecantikan.

3. Palpebra(Kelopak mata)
Merupakan 2 buah lipatan atas dan bawah kulit yang terletak di depan bulbus
okuli, kelopak mata atas lebih lebar dari kelopak mata bawah.
Kelopak mata atas lebih mudah digerakkan yang terdiri dari muskulus levator
palpebra superior.
Pada pinggir kelopak mata terdapat silia(bulu mata).

2
Tarsus merupakan bagian dari kelopak yang berlipat-lipat.
Pada kedua tarsus terdapat beberapa kelenjar :
1) Kelenjar tarsalia.
2) Kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.
Fungsi kelopak mata sebagai pelindung bola mata terhadap gangguan pada bola
mata.
4. Aparatus lakrimalis(air mata)
Air mata dihasilkan oleh kelenjar lakrimalis superior dan inferior, melalui
duktus eksretorius lakrimaris masuk ked lam sakus konjungtiva, melalui bagian
depan bola mata terus ke sudut tengah bola mata ked lam kanalis lakrimalis
mengalir ke duktus nasilakrimalis terus ke meatus nasalis inferior.
Fungsi organ Otot pada mata:
a. Muskuls Levator Palpebralis Superior Inferior, fungsinya mengangkat
kelopak mata.
b. Muskulus orbikularis okuli otot lingkar mata, fungsinya untuk menutup
mata.
c. Muskulus rektus okuli inferior(otot disekitar mata), fungsinya untuk
menutup mata.
d. Muskulus rektus okuli medial(otot disekitar mata), fungsinya untuk
menggerakkan mata dalam(bola mata).
e. Muskulus obliques okuli inferior, fungsinya untuk menggerakkan mata ke
bawah dan ke dalam.
f. Muskulus obliques okuli superior, fungsinya untuk memutar mata ke atas,
ke bawah dan ke luar.
5. Konjungtiva.
Permukaan dalam kelopak mata disebut konjungtiva palpebra merupakan
lapisan mukosa, bagian yang membelok dan kemudian melekat pada bola mata
disebut konjungtiva bulbi, pada konjungtiva ini banyak sekali kelenjar-kelenjar
limfe dan pembuluh darah.
Peradangan konjungtiva disebut konjungtivitis.
Kadang- kadang terlihat granulasi kelenjar-kelenjar limfe yang meradang
menahun.
Misal pada trakoma, kadang-kadang telah membentuk jaringan parut.

d. Okulus(mata)
Meliputi bola mata(bulbus okuli). Nervus : optikus saraf otak II, merupakan saraf
otak yang menghubungkan bulbus okuli dengan otak dan merupakan bagian penting
dari pada organ visus.
1. Tunika okuli, terdiri dari :
a. Kornea
Merupakan selaput yang tembus cahaya, melalui kornea kita dapat melihat
membrane pupil dan iris.
Penampang kornea lebih tebal dari sklera, terdiri dari 5 lapisan epitel kornea,

3
2 lamina elastika anterior(bowmen), 3 subtansi propia, 4 lamina elastika posterior dan 5
endotelium. Kornea tidak mengandung pembuluh darah peralihan anatara kornea ke sklera
disebut sclera corneal junction.

b. Sklera
Merupakan lapisan fibrous yang elastis yang merupakan bagian dinding luar
bola mata dan membentuk bagian putih mata, bagian depan sklera tertutup oleh
kantong konjungtiva.
c. Tunika Vaskulosa Okuli
Merupakan lapisan tengah dan sangat peka akan pembuluh darah. Lapisan ini
menurut letaknya terbagi atas 3 bagian yaitu :
 Koroid
Merupakan selaput yang tipis dan lembab merupakan bagian belakang tunika
vaskulasa. Fungsinya memberikan nutrisi pada tunika.
 Korpus Siliaris
Merupakan lapisan tebal terbentang mulai dari ora serata sampai ke iris.
Bentuk keseluruhan seperti cincin, korpus siliaris terdiri dari orbikulus siliaris,
korona siliaris adan muskulus siliaris terdapat pada bagian luar korpus siliaris
antara sklera dan korona siliaris. Fungsinya untuk terjadinya akomodasi pada
proses melinat muskulus siliaris harus berkontraksi.
 Iris
Merupakan bagian terdepan tunika vaskulosa okuli, berwarna karena
mengandung pigment, berbentuk bulat seperti piring dengan penampang 12 mm,
tebal ½ mm, ditengah terletak bagian berlubang yang disebut pupil. Pupil berguna
untuk mengatur cahaya yang masuk ke mata.
Bagian belakang dari ujung iris menempel pada lensa mata, sedangkan ujung
pinggirnya melanjut sampai ke korpus siliaris.
Pada bagian iris terdapat 2 buah otot, muskulus sfingter pupila pada pinggir
iris, dan muskulus dilatators pupila terdapat agak ke pangkal iris dan banyak
mengandung pembuluh darah dan sangat mudah terkena radang bisa menjalar ke
korpus siliaris.
e. Tunika Nervosa
Merupakan lapisan terdalam bola mata disebut retina, retina dibagi atas 3 bagian:
1) Pars optika retina, dimulai dari kutub belakang bola mata sampai di depan
khatulistiwa bola mata.
2) Pars pilaris, merupakan lapisan yang dilapisi bagian dalam korpus siliar.
3) Pars iridika melapisi bagian permukaan belakang iris.
Retina, terdapat dibagian belakang melanjut sampai ke nervus optikus, secara
histologist retina terdiri dari 10 lapisan, pembagian lapisannya :
 Lapisan 1 lapisan berpigment.
 Lapisan 2, 4 dan sebagian 5 lapisan fotoreseptika.
 Lapisan 5(sisa) 6, 7, 8, 9, merupakan lapisan neuron.

4
 Lapisan 3 dan 10 sebagai lapisan penunjang.
Pada daerah macula lutea, retina mengalami penyederahanaan sesuai dengan
fungsinya untuk melihat jelas.

Semua akson dari neuron ganglion berkumpul pada bagian belakang dari pada
optik disk(papilla), optik disk disebut juga titik buta oleh karena cahaya yang jatuh
didaerah ini memberikan kesan dapat melihat. Bulbus okuli berisi tiga jenis cairan
refrakting media dan masing-masing cairan mempunyai kekentalan yang berlainan.

1) Aques humor
Cairan seperti limfe yang mengisi bagian depan mata, cairan ini diperkirakan
dihasilkan oleh prosessus siliaris kemudian masuk ke dalam kamera okuli
posterior, melalui celah Fontana(sudut iris) masuk ke dalam kamera okuli
anterior.
2) Lensa kristalina
Merupakan masa yang tembus cahaya berbentuk bikonkaf terletak antara iris
dan korpus vitrous yang sangat elastis. Keduanya ujung lensa ini diikat oleh
ligamentum suspensorium, lensa ini terdiri dari 5 lapisan.

3) Korpus vitrous
Merupakan cairan bening kental seperti agar, terletak antara lensa dan retina,
isinya merupakan 4/5 bagian dari pada bulbus okuli, sehingga bola mata ini tidak
kempes.

e. Fungsi Mata
1) Sebagai indra penglihatan yang menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada
retina dengan penantraan serabut nervus optikus, menghantarkan rangsangan ini ke
pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan.
2) Fungsi Refraksi Mata
Bila cahaya mata yang jatuh di atas mata menimbulkan bayangan yang letaknya
difokuskan pada retina. Bayangan itu akan menembus dan diubah oleh kornea lensa
badan eques dan vitrous, lensa membiaskan cahaya dan memfokuskan bayangan pada
retina bersatu menangkao sebuah titik bayangan yang difokuskan.
3) Kelenjar Air Mata
Terdiri dari kelenjar majemuk yang terlihat pada sudut sebelah atas rongga orbita,
kelenjar itu mengeluarkan air mata dialirkan ke dalam kantong konjungtiva dari saluran
kelenjar lakrimalis, bila bola mata dikedipkan maka air mata akan menggenangi seluruh
permukaan bola mata, sebagian besar cairan ini menguap sebagian lagi masuk ke
hidung melalui nasolakrimalis.

5
B. INDERA PENDENGARAN ( AUDITORY APHARATUS)
Merupakan salah satu alat panca indera untuk mendengar. Anatomi telinga terdiri
dari :
a. Telinga bagian luar (auris eksternal )
Aurikula( daun telinga ), menampung gelombang suara datang dari luar masuk
kedalam telinga. Meakus akustikus eksterna (liang telinga ), saluran penghubung
aurikula dengan membran timpani panjangnya ±2,5 cm terdiri dari tulang rawan dan
tulang keras, saluran ini mengandung rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat,
khususnya menghasilkan sekret bersebtuk serum. Membran timpani, anatara telinga
luar dan telinga tengah terdapat selaput gendang telinga yang disebut membran
timpani.

b. Telinga bagian tengah (auris Media)


Kavum timpani, rongga di dalam tulang temporalis terdapat 3 buah tulang
pendengaran yang terdiri dari maleus, inkus dan stapes yang melekat pada bagian
dalam membran timpani dan bagian dasar tulang stapes membuka pada fenestra
ovalis.
Autrum timpani, merupakan rongga tidak teratur yang agak luas terletak di bagian
bawah samping dari kavum timpani. Autrum timpani di lapisi oleh mukosa
merupakan lanjutan dari lapisan mukosa kavum timpani, rongga ini berhubngan
dengan beberapa rongga kecil yang di sebut sellula mastoid yang terdapat di
belakang bawah antrum di dalam tulang temporalis. Dan adanya hubungan ini dapat
mengakibatkan menjalarnya proses radang.

c. Telinga Bagian Dalam ( auris interna )


Terletak pada bagian tulang keras pilorus temporalis, terdapat reseptor
pendengaran dan alat ini di sebut labirin.
Labirintus osseous, serangkain saluran bawah di kelilingi oleh cairan dinamankan
perilinfe.
1. Vestibulum.
Bagian tengah labirintus osseous pada vestibulum ini membuka fenestra ovale
dan fenensta rotundum dan pada bagian belakang atas menerima muara kanalis
sirkularis.
2. Koklea
Koklea berbentuk seperti rumah siput, pada koklea ini ada 3 pintu yang
menghubungkan koklea dengan vestibulum, kavum timpani dan dengan kanalis
koklearis.
3. Kanalis semi sirkularis
Merupakan saluran setengah lingkaran yang terdiri dari 3 saluran, yang satu
dengan lainya membentuk sudut 90º; kanilis semi sirkularis superior, kanalis semi
sirkularis posterior, dan kalanis semi sirkularis lateralis.
Labirintus membranosus, terdiri dari:

6
1. Utrikulus

Bentuknya seperti kantong lonjong dan agak gepeng terpaut pada tempatnya oleh
jaringan ikat, disini terdapat syaraf (nervus akustikus) pada bagian depan dan
sampingnya ada daerah yang lonjong di sebut makula akustika utrikulo.

Pada dinding belakang utrikulus ada muara dari duktus semi sirkularis dan pada
dinding depanya ada tabung halus disebut utrikulosa sirkularis, saluran yang
menghubungkan utrikulus dengan sakulus.

2. Sakulus

Bentuknya agak lonjong lebih kecil dari utrikulus, terletak pada bagian depan dan
bawah dari vestibulum dan terpaut erat oleh jaringan ikat, dimana terdapat nerves
akustikus. Pada bagian depan sakulus di temukan serabut halus cabang nervus
akustikus berakhir pada makula akustika sakuli.

Pada permukaan bawah sakulus ada duktus reunien yang menghubungkan sakulus
dengan duktus koklearis, di bagian sudut sakulus ada saluran halus di sebut duktus
endo limfatikus berjalan melalui aquaduktus festibularis menuju permukaan bagian
bawah tulang temporalis berakhir sebagai kantong buntu di sebut sakus endo
limfatikus, yang terletak tepat di lapisan otak durameter.

3. Duktus semi sirkularis

Ada 3 tabung selaput semisirkularis yang berjalan dalam kanalis semi sirkularis
(superior,posterior,dan lateralis). Penampangnya kira-kira sepertiga penampang
kanalis semisirkularis.

Bagian duktus yang melebar disebut ampula selaput, setiap ampula mengandung satu
celah sulkus ampularis merupakan tempat tempat masuknya cabang ampula nervus
akustikus, sebelah dalam ada krista ampularis yang terlihat menonjol kedalam yang
menerima ujung-ujung saraf.

4. Duktus koklearis

Merupakan saluran yang bentuknya agak segitiga seolah olah membuat batas pada
koklea timpani, atap duktus koklearis terdapat membran vestibularis pada alasanya
terdapat membran basilaris.

Duktus koklearis mulai dari kantomh buntu(seikum vestibular) dan berakhir tepat
diseberang kanalis lamina spiralis pada kantong buntu(seikum ampilare).pada
membran basilaris di temukan organ korti sepanjang duktus koklealis yang
merupakan hearing sense organ.

7
C. PROSES PENDENGARAN

Ditimbulkan oleh getaran atmosfer yang dikenal sebagai gelombang suara dimana
kecepatan dan volumenya berbeda beda.

Gelombang suara bergerak melalui rongga telinga luar (auris eksterna) yang
menyebabkan membran timpani bergetar, getaran getaran tersebut di teruskan menuju
inkus dan stapes melalui maleous yang terkait pada membran itu.

Karena getaran yang timbul pada setiap tulang itu sendiri maka tulang akan
memperbesar getaran yang kemudian di salurkan ke fenestra vestibuler menuju
perilimfe. Getaran perilimfe dialihkan melalui membran menuju endolimfe dalam
saluran koklea dan rangsangan mencapai ujung ujung akhir saraf dalam organ korting
selanjutnya di hantarkan menuju otak. Perasaan pendengaran di tafsirkan otak sebagai
suara yang enak atau tidak enak, gelombang suara menimbulkan bunyi.

a. Tingkatan suara biasa 80-90 desible.


b. Tingkatan maksimum kegaduhan 130 desible.

Bagi orang secara terus menerus menghadapi kegaduhan seperti di pabrik di berikan
perlengkapan pelindung telinga.

a. Keseimbangan

Nesus yang terbesar dalam kanalis semi sirkularis menghantarkan impuls menuju
otak. Impuls ini di bangkitkan dalam kanal kanal tadi, karena adanya perubahan
kedudukan cairan dalam kanal atau saluran saluran itu. Hal ini mempunyai hubungan
erat dengan kesadaran kedudukan kepala terhadap badan. Apabila seseorang di dorong
ke salah satu sisi maka kepalanya cenderung mirinng ke arah lain (berlawanan dengan
arah badan yang di dorong) guna mempertahankan keseimbangan, berat badan di atur,
posisi badan di pertahankan sehingga jatuhnya badan dapat dipertahankan.

b. Saraf Pendengaran

Nervus auditory mengumpulkan sensibilitas dan bagian vestibular rongga telinga


dalam yang mempunyai hubungan dengan keseimbangan. Serabut serat ini bergerak
menuju nukleus vestibularis yang berada pada titik pertemuan anatara pons dan medula
oblongata terus bergerak menuju serebelum. Bagian koklealis pada nervus auditory
saraf pendengaran yang sebenarnya, serabut saraf di pancarkan ke sebuah nukleus
khusus yang berada di belakang talamus, di pancarkan menuju korteks otak yang
terletak pada bagian temporalis.

8
c. Indera Pencium

Alat pencium terdapat dalam rongga hidung dari ujung saraf otak nervus olfaktorius,
serabut saraf ini timbul pada bagian atas selaput lendir hidung di kenal dengan
olfaktori.
Nelfus okvaktorius dilapisi oleh sel sel yang sangat khusus yang mengeluarkan fibril-
fibril yang sangat halus tenalin dengan serabu serabut dari bulbus olfaktorius yang
merupakan otak terkecil , saraf olfaktorius terletak di atas lempeng tulang etmoidalis.

D. Proses Penciuman
Bau yang masuk kedalam rongga hidung akan merangsang saraf (nervus olfaktorius)
dari bulbus olfaktorius, perasaan bergerak melalui traktus olfaktorius dengan perantara
stasiun penghubung hingga mencapai daerah penerima akhir dalam pusat olfaktorius
pada lobus temporalis otak dimana perasaan itu di tafsirkan. Rasa pencium di rangsang
oleg gas yang dihisab dan kepekaan akan rasa tersebut mudah hilang bila dihadapkan
pada suatu bau yang sama untuk waktu yang cukup lama.
Contoh: orang yang berada dalam satu ruangan yang sesak dan pengap tidak
merasakan bau yang tidak enak sementara di lain pihak bau segera menyerang hidung
orang yang baru datang dari lingkungan udara segar.

F. Tenggorokan

Tenggorokan adalah bagian yang cukup kompleks anatomi, bukan hanya tidak
merupakan bagian dari saluran pernapasan bagian atas, tetapi membantu dengan tahap
awal pencernaan bersama dengan membantu membentuk pembicaraan kita.
Tenggorokan manusia terdiri dari lima bagian utama yaitu : kerongkongan, trakea,
pita suara, tonsil dan epiglotis. Trakea adalah tabung yang memungkinkan untuk
menelan dengan tepat. Juga dikenal sebagai tenggorokan, trakea yang membantu
mengangkut udara ke paru-paru. Pita suara, yang terletak di kotak suara, adalah apa yang
membantu menghasilkan suara.

Amandel adalah gumpalan jaringan yang terletak di bagian belakang tenggorokan,


sementara epiglotis adalah flap kecil yang mencegah makanan tidak masuk ke paru-paru.
Memungkinkan seseorang untuk menelan denga benar, kerongkongan memiliki panjang
sekitar 9 inci (23 cm) dan terletak di antara tulang belakang dan trakea. Ini adalah tabung
berotot yang berjalan dari tenggorokan ke lambung. Kontraksi dinding tabung akan
memaksa makanan ke dalam lambung.

Trakea adalah bagian dari anatomi tenggorokan yang membantu mendapatkan udara
ke paru-paru setelah awalnya melewati laring. Ketika menghembuskan napas, udara
masuk dari paru-paru melalui trakea, kemuadian laring dan akhirnya keluar hidung dan
mulut.

Pita suara adalah bagian dari anatomi tenggorokan yang memungkinkan suara
seseorang dapat terjadi. Tulang rawan di depan itu adalah apa yang disebut sebagai “apel

9
Adam” yang pada pria. Tali mengencang lebih dekat bersama-sama saat berbicara
terjadi dan suara seseorang diproduksi saat udara lewat di antara tali dan menyebabkan
mereka bergetar. Bibir, gigi dan lidah adalah apa yang membantu seseorang membentuk
kebisingan dalam kata-kata.

Amandel adalah benjolan berbentuk oval di belakang tenggorokan. Beberapa orang


berpikir amandel tidak memiliki tujuan, tetapi mereka adalah bagian dari anatomi
tenggorokan diyakini membantu menyaring virus dan bakteri; Namun, itu bisa
diperdebatkan tentang apakah ini hanya terjadi pada anak di bawah usia satu tahun atau
apakah itu segala usia. Tonsilitis disebabkan ketika amandel membengkak, dan meskipun
itu dapat sembur dengan sendirinya, serangan yang berulang-ulang atau kasus yang parah
mungkin memerlukan pengangkatan amandel.

Anatomi Tenggorokan Manusia (Anatomi Trakea)

Epiglotis adalah flap tulang rawan yang mencegah makanan tidak masuk ke paru-paru.
Selama menelan, epiglotis merata dan mencakup laring; jika flap sedang tegak dan otot-
otot rileks. Tanpa penutup kecil ini, tersedak atau batuk akan terjadi setiap kali makan
berlangsung.

3 Sub Struktur Yang ada dalam Laring Anatomi Tenggorokan Manusia (Anatomi


Trakea)

Ada tiga sub-struktur yang terkandung dalam laring dan ini disebut glotis, Supraglotis
dan subglotis itu.

1. Faring
Faring adalah bagian atas dari jalan napas dan dimulai pada bagian belakang hidung

10
2. dan hasil ke atas esofagus. Hal ini umumnya dianggap sebagai bagian dari kedua
saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Sebagai faring berisi banyak struktur
yang berbeda itu dipecah menjadi tiga komponen: orofaring, nasofaring dan
laringofaring tersebut. Orofaring ini terletak di bagian belakang mulut dan terdiri dari
uvula (bagian dari jaringan lunak yang terletak di bagian belakang mulut), epiglotis,
amandel dan pangkal lidah.
Nasofaring termasuk jaringan lunak yang terletak di bagian belakang hidung dan
laringofaring mengacu pada struktur yang terletak di daerah tenggorokan dibawah
orofaring terus pembukaan kerongkongan
3. Epiglotis
Ini adalah nama yang diberikan untuk bagian dari tulang rawan yang terletak di antara
bagian belakang lidah dan laring. Ini adalah struktur yang sangat penting karena hal
inilah yang menyebabkan laring yang akan diblokir selama menelan untuk melindungi
paru-paru dari makanan dan cairan. Ia bekerja sebagai katup dan menutup setiap kali
kita menelan, (bahkan air liur) tanpa kita harus membuat usaha sadar untuk
menjalankan aksinya.
4. Uvula
Uvula adalah sepotong kecil jaringan yang menggantung di belakang tenggorokan.
Ketika kita menelan membantu untuk menyembunyikan hidung dan melindungi
saluran udara kita dari terhalang dengan makanan dan cairan.
5. Adenoids Dan Amandel
Para adenoid dan tonsil adalah jaringan limfatik dan oleh karena itu merupakan
bagian dari sistem kekebalan tubuh kita. Amandel dapat dilihat di bagian belakang
tenggorokan dan kelenjar gondok ditemukan ke arah belakang bagian hidung.

11
A. GANGGUAN PADA THT
1.Contact Ulcers
Contact Ulcers adalah luka/koreng yang terasa nyeri pada selaput lendir yang
membungkus kartilago (tulang rawan) tempat melekatnya pita suara.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut penderita diharuskan istirahat
berbicara atau berbicara seperlunya, minimal selama 6 minggu. Untuk menghindari
kekambuhan, penderita harus mengetahui batas-batas suaranya dan belajar
menyesuaikan suaranya. Bisa dilakukan terapi suara. Jika hasil rontgen menunjukkan
adanya refluks asam lambung, diberikan antasid atau obat anti-ulkus (misalnya
penghambat histamin) dan penderita tidur dengan posisi kepala lebih tinggi.
2.       Abses Parafaringeal
Abses Parafaringeal adalah penimbunan nanah di dalam kelenjar getah bening yang
terletak di samping tenggorokan (faring). Abses parafaringeal biasanya terjadi setelah
faringitis atau tonsilitis.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut pada awalnya diberikan suntikan
penicillin, lalu dilanjutkan dengan penicillin per-oral (melalui mulut).
3.       Abses Peritonsiler
Abses Peritonsiler adalah penimbunan nanah di daerah sekitar tonsil (amandel). Abses
peritonsiler merupakan komplikasi dari tonsilitis. Abses peritonsiler bisa menyerang
anak-anak yang lebih besar, remaja dan dewasa muda. Tetapi sejak penggunaan
antibiotik untuk mengobati tonsilitis, penyakit ini sekarang relatif jarang ditemukan.a
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut diberikan antibiotik. Untuk
mengatasi nyeri bisa diberikan analgetik (obat pereda nyeri). Nanah biasanya dibuang
dengan cara menyedotnya dengan jarum suntik atau dengan membuat sayatan pada
abse.
4.       Barotitis Media
Barotitis Media (Aerotitis, Barotrauma) adalah gangguan telinga yang terjadi akibat
perubahan tekanan udara di telinga luar dan telinga tengah yang dipisahkan oleh
gendang telinga. Gendang telinga merupakan pemisah antara saluran telinga dan
telinga tengah. Jika tekanan udara di dalam saluran telinga dan tekanan udara di dalam
telinga tengah tidak sama, maka bisa terjadi kerusakan pada gendang telinga.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut jika selama mengikuti
penerbangan perubahan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba menyebabkan rasa penuh
atau nyeri di telinga, maka untuk menyamakan tekanan di telinga tengah dan
mengurangi rasa nyeri bisa diatasi dengan menguap, mengunyah permen karet,
mengisap permen, dan menelan. Mengunyah atau menelan bisa membantu membuka
tuba eustakius sehingga udara bisa keluar-masuk untuk menyamakan tekanan dengan

12
udara luar. Penderita infeksi atau alergi hidung dan tenggorokan bisa mengalami rasa
nyeri ketika bepergian dengan pesawat terbang atau menyelam. Untuk meringankan
penyumbatan dan membantu membuka tuba eustakius bisa diberikan dekongestan,
misalnya penilefrin dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot.
5.       Deviasi Septum
Deviasi Septum adalah pembatas lubang hidung kiri dan kanan, merupakan kerangka
penunjang yang dilapisi oleh selaput lendir dan sebagian besar terdiri dari tulang rawan
(kartilago). Idealnya, septum hidung terletak pada garis tengah hidung. Diperkirakan
80% dari septum terletak menyimpang dari garis tengah, dan hal ini seringkali tidak
diperhatikan. Deviasi septum terjadi jika septum bergeser sangat jauh dari garis tengah.
Deviasi septum biasanya terjadi akibat cacat bawaan atau cedera.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut jika deviasi septum menyebabkan
perdarahan hidung atau infeksi sinus berulang, dianjurkan untuk menjalani
pembedahan septoplasti.
6.       Faringitis
Faringitis (radang tengorokan) adalah suatu peradangan pada tenggorokan (faring).
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikutuntuk mengurangi nyeri
tenggorokan diberikan obat pereda nyeri (analgetik), obat hisap atau berkumur dengan
larutan garam hangat. Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan remaja yang
berusia dibawah 18 tahun karena bisa menyebabkan sindroma Reye. Jika diduga
penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik. Untuk mengatasi infeksi dan
mencegah komplikasi (misalnya demam rematik), jika penyebabnya streptokokus,
diberikan tabelt penicillin. Jika penderita memiliki alergi terhadap penicillin bisa
diganti dengan erythromycin atau antibiotik lainnya.
7.       Kanker Laring
Kanker Laring adalah keganasan pada pita suara, kotak suara (laring) atau daerah
lainnya di tenggorokan.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut pengobatan tergantung kepada
lokasi kanker di dalam laring. Kanker stadium awal diatasi dengan pembedahan atau
terapi penyinaran. Jika menyerang pita suara, lebih sering dilakukan terapi penyinaran
karena bisa mempertahankan suara yang normal. Kanker stadium lanjut biasanya
diatasi dengan pembedahan, yang bisa meliputi pengangkatan seluruh bagian laring
(laringektomi total atau parsial), diikuti dengan terapi penyinaran
8.       Kanker kepala dan leher
Kanker kepala dan leher (diluar kanker otak, mata dan tulang belakang) rata-rata
muncul pada usia 59 tahun. Biasanya kanker kelenjar ludah, kelenjar tiroid atau sinus

13
menyerang usia di bawah 59 tahun dan kanker mulut, tenggorokan (faring) atau kotak
suara (laring) menyerang usia diatas 59 tahun.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut pengobatan tergantung kepada
stadium kanker. Kanker stadium I, dimanapun lokasinya pada kepala dan leher,
memberikan respon yang hampir sama terhadap pembedahan dan terapi penyinaran.
Biasanya penyinaran tidak hanya ditujukan kepada kanker, tetapi juga kepada kelenjar
getah bening pada leher kiri dan kanan, karena lebih dari 20% kanker menyebar ke
kelenjar getah bening.  
9.     Kanker Leher Metastatik Kanker Leher Metastatik adalah kanker leher yang terjadi
sebagai akibat dari penyebaran kanker di bagian tubuh lainnya.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut jika sel-sel kanker ditemukan di
dalam kelenjar getah bening leher yang membesar dan sumber kankernya tidak dapat
ditemukan, maka dilakukan terapi penyinaran terhadap faring, tonsil, dasar lidah dan
kedua sisi leher. Selain itu, dilakukan pengangkatan kelenjar getah bening dan jaringan
lainnya yang terkena. Kelenjar getah bening leher merupakan tempat penyebaran
kanker dari bagian tubuh lainnya. Kanker bisa berasal dari faring (tenggorokan), laring
(kotak suara), tonsil (amandel), dasar lidah atau paru-paru, prostat, payudara, lambung,
usus besar maupun ginjal.
10.    Kanker nasofaring Tumor tenggorok (istilah medisnya Karsinoma Nasofaring),
merupakan tumor yang timbul di daerah antara tenggorokkan bagian atas dan rongga
hidung bagian belakang ( naso = hidung , faring = tenggorok ). Tumor tenggorokkan
merupakan tumor yang paling sering dijumpai di bidang THT.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut pengobatan akan lebih
mempunyai keberhasilan yang besar jika tumor dapat diketahui secara dini dan pada
saat kondisi badan masih fit. Pengobatan pada umumnya adalah dilakukan penyinaran
pada tumornya (istilahnya Radiotherapi) dan juga dengan penyuntikan obat tumor
(istilahnya Kemotherapi).
11.    Kanker Tonsil
Kanker Tonsil adalah keganasan pada tonsil (amandel). 
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut pengobatannya beruba terapi
penyinaran dan pembedahan. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat tumor,
kelenjar getah bening leher dan sebagian rahang.
12.    Laryngitis
Laryngitis (larynx + itis = peradangan) adalah peradangan dari kotak suara,
menyebabkan parau/serak atau suara yang berbunyi suara parau atau bahkan
ketidakmampuan untuk berbicara.

14
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut seperti dengan struktur lain apa
saja dalam tubuh yang meradang, istirahat adalah kunci ke penyembuhan. Untuk
laryngitis, itu berarti membatasi jumlah bicara. Jika bicara diperlukan, seseorang harus
menghindari berbisik dan sebagai gantinya bicara dalam suara yang biasa, tidak perduli
bagaimana ia bersuara. Berbisik memerlukan pita-pita suara diregangkan secara ketat
dan memerlukan lebih banyak kerja oleh otot-otot yang mengelilinginya.  
13.    Neuronitis Vestibularis
Definisi: Neuronitis Vestibularis (Vestibular Neuronitis) adalah suatu penyakit yang
ditandai oleh adanya serangan vertigo (perasaan berputar) mendadak akibat
peradangan pada saraf yang menuju ke kanalis semisirkularis.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut untuk meringankan vertigo bisa
diberikan scopolamin, antihistamin, barbiturat atau diazepam. Tindakan pembedahan
untuk mengurangi vertigo adalah neurektomi vestibuler, dimana dilakukan
pemotongan saraf yang menuju ke kanalis semisirkularis (bagian dari telinga tengah
yang mengatur keseimbangan).
14.    Aterosklerosis
Aterosklerosis (Atherosclerosis) merupakan istilah umum untuk beberapa penyakit,
dimana dinding arteri menjadi lebih tebal dan kurang lentur. Penyakit yang paling
penting dan paling sering ditemukan adalah aterosklerosis, dimana bahan lemak
terkumpul dibawah lapisan sebelah dalam dari dinding arteri. Aterosklerosis bisa
terjadi pada arteri di otak, jantung, ginjal, organ vital lainnya dan lengan serta tungkai.
Jika aterosklerosis terjadi di dalam arteri yang menuju ke otak (arteri karotid), maka
bisa terjadi stroke. Jika terjadi di dalam arteri yang menuju ke jantung (arteri koroner),
bisa terjadi serangan jantung.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut bisa diberikan obat-obatan untuk
menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah (contohnya Kolestiramin,
kolestipol, asam nikotinat, gemfibrozil, probukol, lovastatin). Aspirin, ticlopidine dan
clopidogrel atau anti-koagulan bisa diberikan untuk mengurangi resiko terbentuknya
bekuan darah. Angioplasti balon dilakukan untuk meratakan plak dan meningkatkan
aliran darah yang melalui endapan lemak. Enarterektomi merupakan suatu
pembedahan untuk mengangkat endapan. Pembedahan bypass merupakan prosedur
yang sangat invasif, dimana arteri atau vena yang normal dari penderita digunakan
untuk membuat jembatan guna menghindari arteri yang tersumbat.
15.    Otitis Media Akut
Otitis Media Akut adalah infeksi telinga tengah oleh bakteri atau virus. Otitis media
akut bisa terjadi pada semua usia, tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak
terutama usia 3 bulan- 3 tahun.

15
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut infeksi diobati dengan antibiotika
per-oral (melalui mulut). Pilihan pertama adalah amoxicillin, tetapi untuk penderita
dewasa bisa diberikan penisilin dosis tinggi. Obat flu yang mengandung phenilephrine
bisa membantu membuka tuba eustakius dan jika terdapat alergi bisa diberikan
antihistamin. Miringotomi dilakukan jika nyerinya menetap atau hebat, demam,
muntah atau diare atau jika gendang telinga menonjol. Pada prosedur ini dibuat sebuah
lubang pada gendang telinga untuk mengeluarkan cairan dari telinga tengah.
Pembuatan lubang ini tidak akan mengganggu fungsi pendengaran penderita dan
nantinya akan menutup kembali dengan sendirinya.
16.    Meniere
Penyakit Meniere adalah suatu penyakit yang ditandai oleh serangan berulang vertigo
(perasaan berputar), tuli dan tinnitus (telinga berdenging).
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut untuk meringankan vertigo bisa
diberikan scopolamin, antihistamin, barbiturat atau diazepam. Tindakan pembedahan
untuk mengurangi vertigo adalah neurektomi vestibuler, dimana dilakukan pemotongn
saraf yang menuju ke kanalis semisirkularis (bagian dari telinga tengah yang mengatur
keseimbangan). Jika vertigo sangat mengganggu dan terjadi gangguan pendengaran
yang berat, dilakukan labirintektomi, yaitu pengangkatan koklea (bagian dari telinga
tengah yang mengatur pendengaran) dan kanalis semisirkularis.
17.    Tonsilitis
Tonsilitis adalah suatu peradangan pada tonsil(amandel). Tonsilitis sangat sering
ditemukan, terutama pada anak-anak.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut jika penyebabnya adalah bakteri,
diberikan antibiotikper-oral (melalui mulut) selama 10 hari. Jika anak mengalami
kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
18.    Tumor Saraf Pendengaran
Tumor Saraf Pendengaran (Neroma Akustik, Neurinoma Akustik, Schwannoma
Vestibuler, Tumor Saraf VIII) adalah suatu tumor jinak yang berasal dari sel Schwann
(sel yang membungkus saraf). 7% dari tumor yang tumbuh di dalam tulang tengkorak
adalah tumor saraf pendengaran.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut untuk menghindari kerusakan
pada saraf wajah, tumor yang kecil diangkat melalui pembedahan mikro. Tumor yang
lebih besar diangkat melalui pembedahan yang lebih luas.
19.    Vertigo Postural
Vertigo Postural (Vertigo Posisional) adalah vertigo(perasaan berputar) berat yang
berlangsung kurang dari 30 detik dan terjadi pada posisi kepala tertentu.

16
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut penderita sebaiknya menghindari
posisi tubuh yang menyebabkan terjadinya vertigo seperti berbaring miring atau ketika
kepalanya menengadah ke atas.  Jika keadaan ini menetap selama 1 tahun maka untuk
meringankan gejala biasanya dilakukan pembedahan untuk memotong salah satu saraf
yang menuju ke kanalis semisirkularis.
20.    Sinusitis maksilarasis
Sinusitis maksilarasis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi
atau infeksi virus, bakteri maupun jamur yang terjadi dibagian pip. Orang paling
banyak terkene sinus ini karenadi sebabkan sinus maksilarasis sinus terbesar dan
dasarnya mempunyai hubungan dengan dasar akar gigi, sehinga dapat berasal dari
infeksi gigi.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikutSinusitis akut Untuk sinusitis akut
biasanya diberikan:
a.  Dekongestan untuk mengurangi penyumbata
b. Antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri
c. Obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa nyeri. 

Dekongestan dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot hidung hanya boleh dipakai
selama waktu yang terbatas (karena pemakaian jangka panjang bisa menyebabkan
penyumbatan dan pembengkakan pada saluran hidung). Untuk mengurangi
penyumbatan, pembengkakan dan peradangan bisa diberikan obat semprot hidung
yang mengandung steroid. Sinusitis kronis Diberikan antibiotik dan dekongestan.
Untuk mengurangi peradangan biasanya diberikan obat semprot hidung yang
mengandung steroid.

21.    Sinusitis frontali
Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi.
Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikutSinusitis akut untuk sinusitis akut
biasanya diberikan:
a. Dekongestan untuk mengurangi penyumbatan
b. Antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri
c. Obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa nyeri.

Dekongestan dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot hidung hanya boleh dipakai
selama waktu yang terbatas (karena pemakaian jangka panjang bisa menyebabkan
penyumbatan dan pembengkakan pada saluran hidung). Untuk mengurangi
penyumbatan, pembengkakan dan peradangan bisa diberikan obat semprot hidung
yang mengandung steroid.Sinusitis kronis Diberikan antibiotik dan dekongestan.

17
Untuk mengurangi peradangan biasanya diberikan obat semprot hidung yang
mengandung steroid. Jika penyakitnya berat, bisa diberikan steroid per-oral (melalui
mulut).

22. Sinusitis etmoidalis
Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit
kepala di dahi. Peradangan sinus etmoidalis juga bisa menyebabkan nyeri bila
pinggiran hidung di tekan, berkurangnya indera penciuman dan hidung
tersumbat. Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai berikut Sinusitis akut Untuk
sinusitis akut biasanya diberikan:
a. Dekongestan untuk mengurangi penyumbatan
b. Antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri
c. Obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa nyeri.

Dekongestan dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot hidung hanya boleh dipakai
selama waktu yang terbatas (karena pemakaian jangka panjang bisa menyebabkan
penyumbatan dan pembengkakan pada saluran hidung). Untuk mengurangi
penyumbatan, pembengkakan dan peradangan bisa diberikan obat semprot hidung
yang mengandung steroid.Sinusitis kronis Diberikan antibiotik dan dekongestan.
Untuk mengurangi peradangan biasanya diberikan obat semprot hidung yang
mengandung steroid. Jika penyakitnya berat, bisa diberikan steroid per-oral (melalui
mulut)

23.    Sinusitis Sfenoidalis
Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa
dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang menyebabkan
sakit telinga dan sakit leher Adapaun cara pengobatannya adalah sebagai
berikut Sinusitis akut Untuk sinusitis akut biasanya diberikan:
a. Dekongestan untuk mengurangi penyumbatan
b. Antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri
c. Obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa nyeri.  

Dekongestan dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot hidung hanya boleh dipakai
selama waktu yang terbatas (karena pemakaian jangka panjang bisa.

18
B. GANGGUAN PADA MATA
Bila seseorang mampu melibatkan benda yang jauh dan dekat dengan jelas tanpa
bantuan alat dapat disebut mata normal  atau emetropi (emmetrop).. ada banyak orang yang
penglihatannya tak normal, karena mengalami gangguan. Macam – macam gangguan pada
penglihatan, antara lain adalah:

1. Miopi
Miopi merupakan rabun jauh atau tidak dapat melihat jauh. Gangguan ini disebabkan bila
mata terlalu panjang atau lensa mata sangat cembung sehingga bayangan benda jatuh di
depan bintik kuning. Mata miopi dapat dibantu dengan menggunakan kaca mata berlensa
cekung (negatif).

2. Hipermetropi
Hipermetropi merupakan rabun dekat atau tak dapat melihat dekat. Gangguan ini terjadi
karena bola mata terlalu pendek atau lensa mata terlalu pipih sehingga bayangan jatuh
dibelakang bintik kuning. Untuk membantu penderita hipermetropi, digunakan kaca mata
berlensa cembung, agar bayangan jatuh tepat pada bintik kuning.

3. Presbiopi
Presbiopi merupakan rabun jauh dan dekat. Gangguan ini pada umumnya diderita oleh orang
yang sudah tua atau kira – kira berumur di atas 45 tahun. Hal ini dapat terjadi karena otot
penggerak lensa mata telah mengendur sehingga daya akomodasinya berkurang. Agar
penderita presbiopi dapat melihat dengan sempurna perlu dibantu dengan kaca mata berlensa
rangkap, yaitu lensa cekung (negatif) di bagian atas dan lensa cembung (positif) di bagian
bawah.

4. Rabun Senja atau Rabun Ayam


Penderita ini tidak dapat melihat benda pada malam hari atau dapat keadaan cahaya yang
remang – remang. Gangguan ini disebabkan karena kekurangan vitamin A.

5. Buta Warna
Buta warna adalah kelainan pada penglihatan yang tidak dapat atau sulit membedakan warna
tertentu yaitu merah, biru dan hijau. Buta warna bersifat menurun atau genetid, terutama
menurun pada anak laki – laki.

6. Astigmatisme (mata silindris)


Astigmatisme adalah gangguan mata yang mengakibatkan penglihatan cenderung kabur. Hal
ini dikarenakan bagian kornea mata tidak rata. Untuk mengatasi gangguan ini dapat
digunakan kaca mata berbentuk silindris.

19
7. Katarak atau Bular Mata
Katarak merupakan gangguan penglihatan karena lensa mata keruh sehingga menghalangi
masuknya cahaya pada selaput jala (retina). Penderita ini umumnya karena sudah tua (umur
55 tahun ke atas) dan dapat diatasi dengan operasi.

20
A. PENGERTIAN NEOPLASMA

Neoplasia secara harfiah berarti proses “pertumbuhan baru” dan suatu pertumbuhan
baru disebut neoplasma. Kata tumor semula diterapkan untuk pembengkakan akibat
peradangan. Neoplasma juga dapat memicu pembengkakan, tetapi setelah beberapa lama
pemakaian tumor untuk menerangkan hal selain neoplasma mulai ditinggalkan. Oleh
karena itu, kata ini sekarang berarti neoplasma.  Onkologi (Yunani oncos=tumor) adalah
ilmu tentang tumor atau neoplasma. Kanker adalah kata umum untuk semua tumor ganas.
Meskupun asal mula asal kata ini agak kurang jelas, diperkirakan kanker berasal dari kata
lathin untuk kepiting, cancer-mungkin karena kanker” melekat pada bagian apapun yang
dapat dicenghkramnya secara terus menerus, seperti kepiting”.
Onkologi ialah ilmu yang mempelajari penyakit yang disebabkan oleh tumor. Dalam
artian umum, tumor adalah benjolan atau pembengkakan abnormal didalam tubuh, tetapi
dalam artian khusus, tumor adalah benjolan yang disebabkan neoplasma. Secara klinis 
secara klinis, tumor dibedakan atas golongan neoplasma dan nonneoplasma misalnya,
kista, akibat reaksi radang atau hiper trofi.
Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasma ganas atau kanker terjadi karena
timbul atau berkembangbiaknya sel secara tidak terkendali sehingga sel-sel ini tumbuh
terus merusak bentuk dan fungsi organ tempat tumbuhnya. Kanker karsinoma, atau
sarkoma tumbuh menyusut (infiltratif) kejaringan sekitarnya sambil merusaknya
(destruktif), dapat menyebar kelain tubuh, dan umumnya fatal jika dibiarkan. Neoplasma
jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak, tetapi membesar dan
menekan jaringan disekitarnya (ekspansif), dan umumnya tidak bermetastasis misalnya
lifoma.
Menurut Sir Rupert Willis, Neoplasma(Tumor) adalah massa abnormal jaringan yang
pertumbuhannya berlebihan & tidak terkoordinasikan dengan pertumbuhan jaringan
normal serta terus demikian walaupun rangsangan yang memicu perubahan tersebut telah
berhenti. Klasifikasi patologi tumor dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan miskroskopik
pada jarinagan dan sel tumor. Dari pemeriksaan mikroskopik ini tampak gambaran
keganasan yang sangat bervariasi, mulai dari yang relatif jinak, ke yang paling ganas. Pada
satu organ dapat timbul satu atau lebih neoplasma yang sifatnya berlainan. Meskipun
semua dokter mengetahui apa yang maksud ketika menggunakan kata neoplasma, untuk
menentukan difinisi kata ini, ternyata cukup sulit. Ahli onkologi inggris terkemuka Willis,
mungkin paling mendekati, “neoplasma adalah suatu massa abnormal jaringan, yang
pertumbuhannya melebihi serta tidak terkoordinasi dengan jaringan normal dan tetap
berlebihan walaupun rangsangan yang memicunya telah berhenti”. Kita mengetahui
bahwa mneatapnya tumor karena bahkan setelah rangsangan pemicu lenyap terjadi akibat
perubahan genetik (herediter) yang diwariskan keketurunan sel tumor. Perubahan genetik
ini memungkinkan sel tumor berpoliperasi secara berlebihan dan tidak terkendali serta
menjadi otonom(independen terhadap rangsangan pertumbuhan fisiologis).

21
B. Gangguan Neoplasma

1. Neoplasma jinak.
sel-sel yang berproliferasi merupakan cenderung sangat kohesif, sehingga waktu massa sel
neoplastik itu tumbuh, terjadi perluasan massa secara sentrifugal dengan batas yang sangat
nyata. Neoplasma jinak memilik kapsul jaringan ikat padst yang memisahkan neoplasma dari
sekelilingnya. Neoplasma jinak tidak menyebar ka tempat yang jauh dan laju
pertumbuhannya lambat.

2. Neoplasma ganas.
memiliki banyak sifat yang berlawanan dengan sifat yang dimilik neoplasma jinak.
Neoplasma ganas tumbuh lebih cepat dan progresif. Neoplasma ganas tidak memiliki sifat
kohesif, akibatnya pola penyebarannya tidak  teratur. Neoplasma ganas cenderugn tidak
berkapsul. Pertumbuhan neoplasma ganas dengan cara menyerbu dan mampu melakukan
penyebaran ke daerah yang jauh atau sering disebut metastasis.

C. Macam Penyakit Noplasma


1.    Nonneoplasma (biasanya akibat bekas dari infeksi ataupun trauma)
2.    Neoplasma (tumor)
3.    Kista
4.    Hipertrofi
5.    Ganas/maligna (kanker)
6.    Karsinoma sarkoma
7.    Benigna
8.    Radang

a. Atas dasar sifat biologik tumor


Atas dasar sifat biologiknya tumor dapat dibedakan atas tumor yang bersifat jinak (tumor
jinak), tumor yang bersifat ganas (tumor ganas) dan tumor yang terletak antara jinak dan
ganas yang disebut “intermediate”.

1. Tumor jinak atau beligna


Tumor jinak tumbuhnya lambat dan biasanya mempunyai simpai (kapsul), tidak
tumbuh infiltrative, tidak merusak jaringan sekitarnya dan tidak menimbulkan anak
sebar pada tempat yang jauh. Tumor jinak pada umumnya dapat disembuhkan dengan
sempurna kecuali yang mensekresi horrmon atau yang terletak pada tempat yang
sangat penting, misalnya di sumsum tulang belakang yang dapat menimbulkan
paraplegia atau pada saraf otak yang menekan jaringan otak.
2. Tumor ganas atau maligna
Tumor ganas pada umumnya tumbuh cepat, infiltrative dan merusak jaringan
sekitarnya. Disamping itu dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran limfe atau
aliran darah dan dapat menimbulkan kematian.
3. Tumor intermediate
Di antara dua kelompok, terdapat segolongan tumor yang memiliki sifat invasive
local tetapi kemampuan metastasisnya kecil. Tumor demikian disebut tumor yang

22
agresif local atau tumor ganas berderajat rendah. Sebagai contoh ialah karsinoma
sel basal kulit.
b.    Atas dasar sel atau jaringan
Tumor diklasifikasikan dan diberi nama atas dasar jaringan dasar sel tumor yaitu
·         Berasal dari sel totipoten
1. Sel totipoten
adalah sel yang dapat berdeferensiasi ke dalam tiap jenis sel tubuh. Sebagai
contoh ialah zigot yang berkembang menjadi janin. Paling sering ditemui pada gonad
yaitu sel germinal. Dapat pula terjadi retroperitoneal, dimediastinum dan daerah
pineal.
·       2. Berasal dari sel embrional pluripoten
Sel embrional dapat berdeferensiasi ke dalam berbagai jenis sel dan sebagai
tumor akan membentuk berbagai jenis struktur alat tubuh. Sebagai contoh ialah tumor
sel embrional pluripoten yang berasal dari anak ginjal, disebut nefroblastoma, sering
berdeferensiasi ke dalam struktur yang menyerupai tubulus ginajal dan kadang-
kadang jaringan otot, tulang rawan atau tulang rudimenter. Tumor ini contohnya dapat
terdapat pada retinoblastoma, hepatoblastoma, embrional rhabdomisarcoma.
·       3. Berasal dari sel yang berdeferensiasi
Jenis sel dewasa yang bederensiasi, terdapat dalam bentuk sel alat-alat tubuh
pada kehidupan postnatal. Kebanyakan tumor pada manusia terbentuk dari sel
berdeferensiasi.

C. PROSES PENYAKIT NEOPLASMA

1. Invasi lokal
Tumor jinak tetap berada ditempatnya berasal, tidak memiliki kemampuan
menginfiltrasi, menginvasi, atau menyebar ke tempat yang jauh seperti kanker.
Contohnya, fibroma dan adenoma berkembang secara  lambat, membentuk kapsul fibrosa
yang memisahkannya dari jaringan pejamu.
Kapsul ini mungkin berasal dari stroma jaringan asli karena sel parenkim mengalami
atrofi akibat tekanan tumor yang membesar, tidak semua neoplasma jinak memiliki
kapsul.
Kanker tumbuh dengan cara menginfiltrasi, menginvasi dan penetrasi progresif ke
jaringan sekitar, tidak membentuk kapsul yang jelas. Cara pertumbuhan yang bersifat
infiltratif menyebabkan perlunya pengangkatan jaringan normal disekitar secara luas
melalui bedah.
2. Metastasis
Metastasis menunjukkan terbentuknya implan sekunder yang terpisah dari tumor
primer, mungkin di jaringan yang jauh. Dibandingkan ciri-ciri neoplastik lainnya,
kemampuan invasi dan metastasis menunjukkan secara pasti suatu neoplasma bersifat
ganas.
Namun, tidak semua kanker memiliki kemampuan sel bermetasis yang setara. Secara
umum, semakin anaplastik dan besar neoplasma primernya, semakin besar kemungkinan

23
metastasis.  Namun kanker yang sangat kecil juga dapat mengakibatkan metastasis, dan
sebaliknya, kanker yang besar mungkin belum tentu menyebar saat ditemukan.

Neoplasma ganas menyebar melalui salah satu :


1. Penyemaian dalam rongga tubuh
2. Penyebaran limfatik
3. Penyebaran hematogen
Penyemaian kanker terjadi bila neoplasma menginvasi rongga alami tubuh.
Misalnya karsinoma kolon dapat menembus dinding usus dan mengalami reimplantasi
di rongga peritonium.
Penyebaran limfatik lebih khas untuk karsinoma, sedangkan rute hematogen lebih
kepada sarkoma. Namun terdapat banyak hubungan antara sistem limfe dan vaskular
sehingga kanker dapat berkembang melalui salah satu atau kedua sistem.
Misalnya karsinoma paru yang timbul di saluran nafas menyebar ke kelenjar getah
bening bronkialis regional, kemudian ke kelenjar getah bening trakeobronkus dan hilus.
Karsinoma payudara biasanya timbul di kuadran luar atas dan menyebar ke kelenjar aksila.
Penyebaran hematogen merupakan konsekuensi kanker yang paling ditakuti. Arteri
lebih sulit ditembus daripada vena. Setelah vena mengalami invasi, sel kanker mengikuti
aliran vena bersama darah, hati dan paru adalah tempat sekunder yang paling sering
terkena.
 
 
D. RESPON SEL TERHADAP PENYAKIT TRAUMA
Apoptosis ialah kematian sel terprogram yang terjadi akibat beberapa proses fisiologik
atau neoplastik.Penumpukan sel pada neoplasma,tidak hanya terjadi akibat aktifasi gen
perangsang perumbuhan atau anti-onkogen,tapi juga terjadinya mutasi gen pengatur
apoptosis. Pertumbuhan sel diatur oleh proto-onkogen dan onkogen,sedangkan kehidupan
sel diatur oleh gen perangsang dan penghambat apoptosis.Gen penghambat apoptosis ialag
bcl-2 sedangkan yang meningkatkan apoptosis adalah bax/bad.Hubungan kedua sel in
menentukan jumlah sel.

E. RESPON IMUN TERHADAP PENYAKIT NEOPLASMA


Sistem imun adalah semua mekanisme yang di gunakan untuk mempertahankan ke
utuhan tubuh sebagi perlindungan terhadap bahaya yang dapat di timbulkan oleh berbagai
bahan dalam dalam lingkungan hidup.
Pertahanan tersebut terdiri atas sistem imun spesifik adaptive/acquired dan nonspesifik
natural/innate. Respons imun spesifik bergantung pada adanya pemaparan benda asing,
pengenalan, kemudian reaksi terhadapnya. Sebaliknya, Sebaliknya, respons nonspesifik
terjadi sesudah pemaparan inisial dan pemaparan lanjutan terhadap benda asing.
Kemudian terjadi diferensiasi selektif self dan nonself di mana respons nonspesifik ini
tidak bergantung pada pengenalan spesifik. Respons imunologik menjalankan 3 fungsi
yaitu pertahanan, homeostatis, dam pengawasan.
Sistem imun masih baru dikenal dan disebut sebagai fungsi pengawasan diri
surveillance. Fungsi pengawasan ini memonitor pengenalan jenis-jenis sel abnormal yang

24
secara tetap selalu timbul dalam tubuh. Sel-sel mutan ini dapat terjadi secara spontan
atau disebabkan oleh pengaruh virus tertentu atau zat-zat kimia. Sistem imun diberi tugas
pengenalan dan pembuangan benda-benda baru yang di dapat yang sebagian besar dari
tugas ini terjadi di permukaan sel. Kegagalan mekanisme ini di tetapkan sebagai penyebab
utama perkembangan penyakit-penyakit neoplasma.

25
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Panca indera adalah organ-organ yang di khususkan untuk menerima ragsang jenis
tertentu. Serabut saraf yang menanganinya merupakan alat perantara yang membawa
kesan rasa ( sensori impression ) dari organ indera menuju ke otak di mana perasaan ini di
tafsirkan. Beberapa kesan timbul dari luar seperti sentuhan, pengecapan, penglihatan,
penciuman dan suara. Ada kesan yang timbul dari dalam antara lain, lapar, haus, dan rasa
sakit.
Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna.
Sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata saja tetapi juga otot-otot
penggerak bola mata, kotak mata, kelopak, dan bulu mata. Selain itu mata mempunyai
gangguan dan penyakit seperti Presbiopi, Miopi, Astigmatisma, Katarak, dan lain
sebagainya.
Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi, untuk
keseimbangan tubuh. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga
luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Ada berbagai kelainan seperti perikondritis,
eksim, tumor, kanker dan lain sebagainya.

Neoplasma merupakan suatu abnormalitas darim sel-sel yang berada dalam tubuh

manusia, dimana sel-sel tersebut terus mengalami pembelahan secara aktif serta yang
menjadi bahaya adalah karena neoplasma ini bersifat parasit, dalam kata lain menjadi
pesaing untuk sel-sel yang sehat, sehingga apabila pertumbuhannya tidak dihentikan
maka akan mengakibatkan penyakit-penyakit.

Atas dasar sifat biologiknya tumor dapat dibedakan menjadi :

· Tumor jinak atau beligna

· Tumor ganas atau maligna

· Tumor intermediate (Antara Jinak dan Ganas)

Atas Dasar Sel atau Jaringan

· Berasal dari sel totipoten

· Berasal dari sel embrional pluripoten

· Berasal dari sel yang berdeferensiasi

26
DAFTAR PUSTAKA

Syaifuddin.1997.Anatomi Fisiologi edisi 2.Jakarta : EGC.

Spalteholz.1987.Atlas Anatomi Manusia.Jakarta : EGC

https://www.merenyaho.com/2017/08/anatomi-tenggorokan-manusia-anatomi-trakea.html

http://www.academia.edu/8329431/Anatomi_Fisiologi_Telinga_Hidung_Tenggorokan_THT

http://www.autoimuncare.com/penyakit-tht/

https://halomata.com/jenis-jenis-penyakit-mata

Kumar,cotran,robin.2007.Patologi edisi 7 volume 1.2007.Jakarta: EGC

27