Anda di halaman 1dari 34

KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Dosen Pembimbing
1. Ns. Rumentalia Sulistini, M.Kep
2. Ns. Lukman, S.Kep, MM, M.Kep

Disusun Oleh
Rheynanda (PO.71.20.1.17.062)
Tingkat 3 B

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG


PRODI DIII KEPERAWATAN PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, karena hanya dengan karunia-Nya
itulah penyusunan makalah ini dapat disesuaikan dengan rencana.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak. Oleh
karena itulah, Penyusun menyampaikan rasa terima kasih kepada yang terhormat
Ibu Ns. Rumentalia Sulistini, M.Kep sebagai dosen mata kuliah Keperawatan
Kritis sebagai dosen pembimbing terselesaikannya makalah ini yang berjudul
―Keseimbangan Cairan dan Elektrolit serta Cara Pengukurannya‖
Saya menyadari bahwa di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itulah kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
diharapkan. Atas perhatian dan tanggapan dari pembaca saya ucapkan terima
kasih.

Palembang, 20 Maret 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii


DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................3
2.1 Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh .......................................................3
2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Keseimbangan Normal Cairan Dan Elektrolit .....11
2.3 Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit ................................................13
2.4 Cara Menghitung Keseimbangan Cairan ...........................................................20
2.5 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Keseimbangan Cairan
Elektrolit Pengkajian ..........................................................................................25
BAB III PENUTUP ................................................................................................30
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................30
3.2 Saran ...................................................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................31
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sel-sel hidup dalam tubuh diselubungi cairan interstisial yang mengandung
konsentrasi nutrien, gas dan elektrolit yang di butuhkan untuk mempertahankan
fungsi normal sel. Kelangsungan hidup memerlukan lingkungan internal yang
konstan (homeostatis). Mekanisme regulator penting untuk mengendalikan
keseimbangan volume, komposisi dan keseimbangan asam basa cairan tubuh
selama fluktuasi metabolik normal atau saat terjadi abnormalisasi seperti penyakit
atau trauma.
Menjaga agar volume cairan tubuh tetap relatif konstan dan komposisinya
tetap stabil adalah penting untuk homeostatis. Sistem pengaturan
mempertahankan konstannya cairan tubuh, keseimbangan cairan dan elektrolit dan
asam basa, dan pertukaran kompartemen cairan ekstraseluler dan intraseluler.
Kehidupan manusia sangat bergantung pada apa yang ada di sekelilingnya
termasuk dalam memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu makan dan minum lebih
kurang 60% berat badan orang dewasa pada umumnya terdiri dari cairan (air dan
elektrolit). Faktor yang mempengaruhi jumlah cairan tubuh adalah umur, jenis
kelamin, dan kandungan lemak dalam tubuh.
Secara umum orang yang lebih muda mempunyai persentase cairan tubuh
yang lebih tinggi dibanding dengan orang yang lebih tua, dan pria secara
proporsional mempunyai lebih banyak cairan tubuh dibanding dengan wanita.
Orang yang lebih gemuk mempunyai jumlah cairan yang lebih sedikit
dibandingkan dengan orang yang lebih kurus, karena sel lemak mengandung
sedikit air.
1.2 Rumusan Masalah
1) Pengertian keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
2) Faktor yang mempengaruhi keseimbangan normal cairan dan elektrolit
3) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
4) Cara menghitung keseimbangan cairan
5) Asuhan keperawatan pada keseimbangan cairan dan elektrolit

1.3 Tujuan Penulisan


1.3 1 Tujuan Umum : Untuk mengetahui dan memahami materi keseimbangan
cairan dan elektrolit .
1.3.2 Tujuan Khusus :
1) Untuk mengetahui pengertian keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
2) Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi keseimbangan normal
cairan dan elektrolit
3) Untuk mengetahui gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
4) Untuk mengetahui cara menghitung keseimbangan cairan
5) Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada keseimbangan cairan dan
elektrolit
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh


Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi
tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah
merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan
elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan
tubuh adalah larutan yang terdiri dari air (pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut).
Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik
yang disebut ion jika berada dalam larutan.
Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman,
dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan
cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan
elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit
saling bergantung satu dengan yang lainnya jika salah satu terganggu maka akan
berpengaruh pada yang lainnya. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar
yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler.
Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh,
sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri
dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan
cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem
vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan
cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan
intraokuler, dan sekresi saluran cerna.
a) Distribusi Cairan Tubuh
Didistribusikan dalam dua kompartemen yang berbeda.
1. Cairan Ekstrasel,
tediri dari cairan interstisial (CIS) dan Cairan Intravaaskular. Cairan
interstisial mengisi ruangan yang berada diantara sebagian besar sel tubuh dan
menyusun sebagian besar cairan tubuh. Sekitar 15% berat tubuh merupakan cairan
tubuh interstisial.
Cairan intravascular terdiri dari plasma, bagian cairan limfe yang mengandung air
tidak berwarna, dan darah mengandung suspensi leukosit, eritrosit, dan trombosit.
Plasma menyusun 5% berat tubuh.
2. Cairan Intrasel
adalah cairan didalam membran sel yang berisi subtansi terlarut atau solut
yang penting untuk keseimbangan cairan dan elektrolit serta untuk metabolisme.
Cairan intrasel membentuk 40% berat tubuh. Kompartemen cairan intrasel
memiliki banyak solute yang sama dengan cairan yang berada diruang ekstrasel.
Namun proporsi subtansi subtansi tersebut berbeda. Misalnya, proporsi kalium
lebih besar didalam cairan intrasel daripada dalam cairan ekstasel.
Secara Skematis Jenis dan Jumlah Cairan Tubuh dapat digambarkan sebagai
berikut :
Distribusi cairan tubuh adalah relatif tergantung pada ukuran tubuh itu sendiri.
 Dewasa 60%
 Anak-ank 60 – 77%
 Infant 77%
 Embrio 97%
 Manula 40 – 50 %
Pada manula, prosentase total cairan tubuh berkurang dikarenakan sudah
mengalami kehilangan jaringan tubuh.
 Intracellular volume = total body water – extracellular volume
 Interstitial fluid volume = extracellular fluid volume – plasma volume
 Total bloods volume = plasma volume / (1 - hematocrite)

Fungsi Cairan dalam Tubuh


a. Dalam proses metabolisme yang terjadi didalam tubuh,air mempunyai 2 fungsi
utama yaitu sebagai pembawa zat-zat nutrisi seperti karbohidrat,vitamin dan
mineral pembawa oksigen ke dalam sel-sel tubuh.
b. Selain itu,air didalam tubuh juga akan berfungsi untuk mengeluarkan produk
samping hasil metabolism juga dapat dikatakan berperan dalam proses
metabolisme seperti karbon dioksida(CO ) dan juga senyawa nitrat
c. Sebagai pelembab jaringan-jaringan tubuh seperti mata,mulut dan hidung,
pelumas dalam cairan sendi 02 Sports Science Brief tubuh
d. Katalisator reaksi biologik sel,
e. Pelindung organ dan jaringan tubuh serta juga akan membantu dalam menjaga
tekanan darah dan konsentrasi zat terlarut.
f. Selain itu sebagai pengatur panas untuk menjaga agar suhu tubuh tetap berada
pada kondisi ideal yaitu ± 37C.

b) Komposisi Cairan Tubuh


Zat Plasma Intertisial Intraselular
(mOsm/l) (mOsm/l) (mOsm/l)
Na+ 142 139 14
K+ 4,2 4,0 140
Ca2+ 1,3 1,2 0
Mg2+ 0,8 0,7 20
Cl- 108 108 4
HCO3- 24 28,3 1,0
HPO4-, H2PO4 2 2 11
SO42- 0,5 0,5 1
Fosfokreatin - - 45
Kamosin - - 14
Asam amino 2 2 8
Kreatin 0,2 0,2 9
Laktat 1,2 1,2 1,5
Adenosin trifosfat - - 5
Heksosa - - 3,7
monofosfat
Glukosa 5,6 5,6 -
Protein 1,2 1,2 4
Ureum 4 4 4
Lain-lain 4,8 3,9 10
Total mOsm/l 301,8 300,8 301,2
Aktivitas osmolar 282 281 281
terkoreksi
Tekanan osmotik 5443 5423 5423
total

c) Pergerakan Cairan Tubuh


Mekanismepergerakancairantubuhmelaluienam proses, yaitu :
a. Difusi
Perpindahan partikel melewati membran permeabel dan sehingga kedua
kompartemen larutan atau gas menjadi setimbang. Partikel listrik juga dapat
berdifusi karena ion yang berbeda muatan dapat tarik menarik. Kecepatan
difusi (perpindahan yang terus menerus dari molekul dalam suatu larutan atau
gas) dipengaruhi oleh :
 Ukuran molekul ( molekul kecil lebih cepat berdifusi dari molekul besar).
 Konsentrasi molekul (molekul berpindah dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah).
 Temperatur larutan (temperatur tinggi meningkatkan kecepatan difusi).
b. Osmosis
Pelarut bergerak melewati membran menuju larutan yang berkonsentrasi
lebih tinggi. Tekanan osmotik terbentuk ketika dua larutan berbeda yang
dibatasi suatu membran permeabel yang selektif. Proses osmosis (perpindahan
pelarut dari dari yang konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi), dipengaruhi
oleh :
 Pergerakan air
 Semipermeabilitas membran.
c. Transfor aktif
Merupakan proses pemindahan molekul atau ion yang memiliki gradien
elektrokimia dari area berkonsentrasi rendah menuju konsentrasi yang lebih
tinggi. Pada proses ini memerlukan molekul ATP untuk melintasi membran
sel.
d. Tekanan hidrostatik
Gaya dari tekanan zat cair untuk melawan tahanan dinding pembuluh
darah. Tekanan hidrostatik berada diantara arteri dan vena (kapiler) sehingga
larutan ber[indah dari kapiler ke intertisial. Tekanan hidrostatik ditentukan
oleh :
 kekuatan pompa jantung
 kecepatan aliran darah
 tekanan darah arteri
 tekanan darah vena
e. Filtrasi
Filtrasi dipengaruhi oleh adanya tekanan hidrostatik arteri dan kapiler
yang lebih tinggi dari ruang intertisial. Perpindahan cairan melewati membran
permeabel dari tempat yang tinggi tekanan hidrostatiknya ke tempat yang
lebih rendah tekanan hidrostatiknya.
f. Tekanan osmotik koloid
Terbentuk oleh larutan koloid (protein atau substansi yang tidak bisa
berdifusi) dalam plasma. Tekanan osmotik koloid menyebabkan perpindahan
cairan antara intravaskuler dan intertisial melewati lapisan semipermeabel.
Hal ini karena protein dalam intravaskuler 16x lebih besar dari cairan
intertisial, cairan masuk ke capiler atau kompartemen pembuluh darah bila
pompa jantung efektif.
Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu :
1. Fase I :
Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan
nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal.
2. Fase II :
Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel
3. Fase III :
Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan
interstitial masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membran sel
yang merupakan membran semi permiabel mampu memfilter tidak semua
substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah.
d) Pengaturan Cairan tubuh
Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan antara
jumlah cairan yang masuk dan jumlah cairan yang keluar.
1. Asupan
Asupan (intake) cairan untuk kondisi normal pada orang dewasa adalah ±
2500cc per hari. Asupan cairan dapat langsung berupa cairan atau ditambah dari
makanan lain. Pengaturan mekanisme keseimbangan cairan ini menggunakan
mekanisme haus. Pusat pengaturan rasa haus dalam rangka mengatur
keseimbangan cairan adalah hipotalamus. Apabila terjadi ketidakseimbangan
volume cairan tubuh di mana asupan cairan kurang atau adanya perdarahan, maka
curah jantung menurung, menyebabakan terjadinya penurunan tekanan darah.
2. Pengeluaran
Pengeluaran (output) cairan sebagai bagian dalam mengimbangi asupan
cairan pada orang dewasa, dalam kondisi normal adalah ±2300 cc. Jumlah air
yang paling banyak keluar berasal dari ekskresi ginjal (berupa urine), sebanyak
±1500 cc per hari pada orang dewasa. Hal ini juga dihubugkan dengan banyaknya
asupan air melalui mulut. Asupan air melalui mulut dan pengeluaran air melalui
ginjal mudah diukur, dan sering dilakukakan melalui kulit (berupa keringat) dan
saluran pencernaan (berupa feses). Pengeluaran cairan dapat pula dikategorikan
sebagai pengeluaran cairan yang tidak dapat diukur karena, khususnya pada
pasien luka bakar atau luka besar lainnya, jumlah pengeluaran cairan (melalui
penguapan) meningkat sehingga sulit untuk diukur. Pada kasus seperti ini, bila
volume urine yang dikeluarkan kurang dari 500 cc per hari, diperlukan adanya
perhatian khusus. Setiap 1 derajat celcius akan berpengaruh pada output cairan.
Pasien dengan ketidakadekuatan pengeluaran cairan memerlukan
pengawasan asupan dan pengeluaran cairan secara khusus. Peningkatan jumlah
dan kecepatan pernapasan, deman, keringat, dan diare dapat menyebabkan
kehilangan cairan secara berlebihan adalah muntah secara terus menerus.
Hasil-hasil pengeluaran cairan adalah:
1. Urine
Pembentukan urine terjadi di ginjal dan dikeluarkan melalui vesika urinaria
(kandung kemih). Proses ini merupakanproses pengeluaran cairan tubuh yang
utama. Cairan dalam ginjal disaring pada glomerulus dan dalam tubulus ginjal
untuk kemudian diserap kembali ke dalam aliran darah. Hasil ekskresi terakhir
proses ini adalah urine. Jika terjadi penurunan volume dalam sirkulasi darah,
reseptor atrium jantung kiri dan kanan akan mengirimkan impuls kembali ke
ginjal dan memproduksi ADH sehingga mempengaruhi pengeluaran urine.
2. Keringat
Keringat terbentuk bila tubuh menjadi panas akibat pengaruh suhu yang
panas. Keringat banyak mengandung garam, urea, asam laktat, dan ion kalium.
Banyaknya jumlah keringat yang keluar akan memengaruhi kadar natrium dalam
plasma.
3. Feses
Feses yang keluar mengandung air dan sisanya berbentuk padat.
Pengeluaran air melalui feses merupakan pengeluaran cairan yang paling sedikit
jumlahnya. Jika cairan yang keluar melalui feses jumlahnya berlebihan,maka
dapat mengakibatkan tubuh menjadi lemas. Jumlah rata-rata pengeluaran cairan
melalui feese adalah 100 ml/hari.

e) Pengaturan Elektrolit
1. Natrium (Na+)
Merupakankation paling banyak dalam cairan ekstrasel. Na+ mempengaruhi
keseimbangan air, hantaran impuls saraf dan kontraksi otot. Ion natrium di dapat
dari saluran pencernaan, makanan atau minuman masuk ke dalam cairan
ekstrasel melalui proses difusi. Pengeluaran ion natrium melalui ginjal,
pernapasan, saluran pencarnaan, dan kulit. Pengaturan konsentrasi ion di lakukan
oleh ginjal. Normalnyasekitar 135-148 mEq/lt.
2. Kalium (K+)
Merupakan kation utama cairan intrasel. Berfungsi sebagai excitability
neuromuskuler dan kontraksi otot. Diperlukan untuk pembentukan glikogen,
sintesa protein, pengaturan keseimbanganan asam basa, karena ion K+ dapat
diubah menjadi ion hidrogen (H+). Kalium dapat diperoleh melalui makanan
seperti daging, buah-buahan dan sayur-sayuran. Kalium dapat dikeluarkan melalui
ginjal, keringat dan saluran pencernaan. Pengaturan konsentrasi kalium
dipengaruhi oleh perubahan ion kalium dalam cairan ekstrasel.Nilai normal nya
sekitar 3,5-5,5 mEq/lt.
3. Kalsium (Ca2+)
Kalsium merupakan ion yang paling banyak dalam tubuh, berguna untuk
integritas kulit dan struktur sel, konduksi jantung, pembekuan darah, serta
pembentukan tulang dan gigi. Kalsium dalam cairan ekstra sel diatur oleh kelenjar
paratiroid dan tiroid. Hormon paratiroid mengabsorpsi kalisum melalui
gastrointestinal, sekresi melalui ginjal. Hormon thirocalcitonin menghambat
penyerapan Ca+tulang. Kalsuim diperoleh dari absorpsi usus dan resorpsi tulang
dan di keluaran melalui ginjal, sedikit melalui keringaserta di simpan dalam
tulang. Jumlah normal kalsium 8,5 – 10,5 mg/dl.
4. Magnesium (Mg2+)
Merupakan kation terbanyak kedua pada cairan intrasel. Sangat penting
untuk aktivitas enzim, neurochemia, dan muscular excibility. Sumber magnesium
didapat dari makanan seperti sayuran hijau, daging dan ikan.Nilai normalnya
sekitar 1,5-2,5 mEq/lt.
5. Klorida (Cl ˉ )
Terdapat pada cairan ekstrasel dan intrasel, berperan dalam pengaturan
osmolaritas serum dan volume darah, regulasi asam basa, berperan dalam bufer
pertukaran oksigen, dan karbon dioksida dalam sel darah merah. Klorida disekresi
dan di absorpsi bersama natrium di ginjal dan pengaturan klorida oleh hormin
aldosteron. Normalnya sekitar 95-105 mEq/lt.
6. Bikarbonat (HCO3ˉ )
HCO3 adalah buffer kimia utama dalam tubuh dan terdapat pada cairan
ekstra sel dan intrasel dengan fungsi utama adalah regulasi keseimbangan asam
basa. Biknat diatur oleh ginjal.
7. Fosfat
Merupakan anion buffer dalam cairan intrasel dan ekstrasel. Berfungsi
untuk meningkatkan kegiatan neuromuskular, metabolisme karbohidrat,
pengaturan asambasa. Pengaturan oleh hormon paratiroid.
Fungsi Elektrolit dalam Tubuh
a. Membantu dalam perpindahan cairan antara ruangan dalam sel dan di luar sel
terutama denga adanya natrrium. Apabila jumlah natrium dalam CES
meningkat maka sejumlah cairan akan berpindah menuju CES untuk
keseimbangan cairan.
b. Mengatur keseimbangan asam basa dan menentukan pH darah dengan adanya
sistem bufer.
c. Dengan adanya perbedaan komposisi elektrolit di CES dan CIS maka akan
terjadi perpindahan yang menghasilkan implus – implus saraf dan
mengakibatkan terjadinya kontraksi otot.

NILAI-NILAI NORMAL

Jenis Cairan dan Elektrolit Nilai Normal dalam Tubuh

Potasium [K+] 3.5 – 5 mEq/L


Sodium [Na+] 135 – 145 mEq/L
2+
Kalsium [Ca ] 8.5 – 10.5 mg/dl (4.5 – 5.8 mEq/L)
2+
Magnesium [Mg ] 1.5 – 2.5 mEq/L
Fosfat [PO42-] 2.7 – 4.5 mg/dl
Klorida [Cl-] 98 – 106 mEq/L
Bikarbonat [HCO3] 24 – 28 mEq/L

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan Normal Cairan dan


Elektrolit
1. Usia
Asupan cairan individu bervariasi berdasarkan usia. Dalam hal ini,
usiaberpengaruh terhadap proporsi tubuh, luas permukaan tubuh, kebutuhan
metabolik, serta berat badan. Bayi dan anak di masa pertunbuhan memiliki
proporsi cairan tubuh yang lebih besar dibandingkan orang dewasa.Karenanya,
jumlah cairan yang diperlukan dan jumlah cairan yang hilang juga lebih besar
dibandingkan orang dewasa. Besarnya kebutuhan cairan pada bayi dan anak-
anak juga dipengaruhi oleh laju metabolik yang tinggi serta kondisi ginjal mereka
yang belum atur dibandingkan ginjal orang dewasa. Kehilangan cairan dapat
terjadi akibat pengeluaran cairan yang besar dari kulit dan pernapasan. Pada
individu lansia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sering disebabkan
oleh masalah jantung atau gangguan ginjal.

2. Aktivitas
Aktivitas hidup seseorang sangat berpengaruh terhadap kebutuhan cairan
dan elektrolit. Aktivitas menyebabkan peningkatan proses metabolisme dalam
tubuh. Hal ini mengakibatkan penigkatan haluaran cairan melalui keringat.
Dengan demikian, jumlah cairan yang dibutuhkan juga meningkat. Selain
itu,kehilangan cairan yang tidak disadari (insensible water loss) juga mengalami
peningkatan laju pernapasan dan aktivasi kelenjar keringat.

3. Iklim
Normalnya, individu yang tinggal di lingkungan yang iklimnya tidak terlalu
panas tidak akan mengalami pengeluaran cairan yang ekstrem melalui kulit dan
pernapasan. Dalam situasi ini, cairan yang keluar umumnya tidak dapat disadari
(insensible water loss, IWL). Besarnya IWL pada tiap individu bervariasi,
dipengaruhi oleh suhu lingkungan, tingkat metabolisme,dan usia. Individu yang
tinggal di lingkungan yang bertsuhu tinggi atau di dearah dengan kelembapan
yang rendah akan lebih sering mengalami kehilangan cairandan elektrolit.
Demikian pula pada orang yang bekerja berat di lingkungan yang bersuhu tinggi,
mereka dapat kehilangan cairan sebanyak lima litet sehari melalui keringat.
Umumnya, orang yang biasa berada di lingkungan panas akan kehilangan cairan
sebanyak 700 ml per jam saat berada ditempat yang panas, sedangkan orang yang
tidak biasa berada di lingkungan panas dapat kehilangan cairan hingga dua liter
per jam.
4. Diet
Diet seseorang berpengaruh juga terhadap asupan cairan dan elektrolit. Jika
asupan makanan tidak seimbang, tubuh berusaha memcah simpanan protein
dengan terlebih dahulu memecah simpanan lemak dan glikogen. Kondisi ini
menyebabkan penurunan kadar albumin.

5. Stress
Kondisi stress berpengaruh pada kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh. Saat
stress, tubuh mengalami peningkatan metabolism seluler, peningkatan konsentrasi
glukosa darah, dan glikolisis otot. Mekanisme ini mengakibatkan retensi air dan
natrium.Disamping itu, stress juga menyebabkan peningkatan produksi hormone
anti deuritik yang dapat mengurangi produksi urine.

6. Penyakit
Trauma pada jaringan dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit
dasar sel atau jaringan yang rusak (mis., Luka robek, atau luka bakar). Pasien
yang menderita diare juga dapat mengalami peningkatan kebutuhan cairan akibat
kehilangan cairan melalui saluran gastro intestinal. Gangguan jantung dan ginjal
juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Saat aliran
darah ke ginjal menurun karena kemampuan pompajantung menurun, tubuh akan
melakukan penimbunan cairan dan natrium sehingga terjadi retensi cairan dan
kelebihan beban cairan (hipervelomia). Lebih lajut, kondisi inidapat menyebabkan
edema paru. Normalnya, urine akan dikeluarkan dalam jumlah yang cukup
untukmenyeimbangkan cairan dan elektrolit serta kadar asam dan basa dalam
tubuh. Apabila asupan cairan banyak, ginjal akan memfiltrasi cairan lebih banyak
dan menahan ADH sehingga produksi urine akan meningkat. Sebaliknya, dalam
keadaan kekurangan cairan, ginjal akan menurunkanproduksi urine dengan
berbagi cara. Diantaranya peningkatan reapsorpsi tubulus, retensi natrium dan
pelepasan renin. Apabila ginjal mengalami kerusakan, kemampuan ginjal untuk
melakukan regulasi akan menurun. Karenanya, saat terjadi gangguan ginjal (mis.,
gagal ginjal) individu dapat mengalami oliguria (produksi urine kurang
dari 40ml/ 24 jam) sehingga anuria (produksi urine kurang dari 200 ml/ 24 jam).
7. Tindakan Medis
Beberapa tindakan medis menimbulkan efek sekunder terhadap kebutuhan
cairan dan elektrolit tubuh. Tindakan pengisapan cairan lambung dapat
menyebabkan penurunan kadar kalsium dan kalium.

8. Pengobatan
Penggunaan beberapa obat seperti Diuretik maupun laksatif secara
berlebihan dapat menyebabkan peningkatan kehilangan cairan dalam
tubuh.Akibatnya, terjadi defist cairan tubuh. Selain itu, penggunan diuretic
menyebabkan kehilangan natrium sehingga kadar kalium akan meningkat.
Penggunaan kortikostreroid dapat pula menyebabkan retensi natrium dan air
dalam tubuh.

9. Pembedahan
Klien yang menjalani pembedahan beresiko tinggi mengalami
ketidakseimbangan cairan. Beberapa klien dapat kehilangan banyak darah selama
perode operasi, sedangkan beberapa klien lainya justru mengalami kelebihan
beban cairan akibat asupan cairan berlebih melalui intravena selama pembedahan
atau sekresi hormon ADH selama masa stress akibat obat-obat anastesia.

2.3 Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit


 Gangguan Keseimbangan Cairan
Hal ini dapat terjadi apabila mekanisme kompensasi tubuh tidak mampu
mempertahankan homeostatis. Gangguan keseimbangan cairan dapat berupa
defisit volume cairan atau sebaliknya.
1. Defisit volume cairan (fluid volume defisit [FVD]).
Defisit volume cairan adalah suatu kondisi ketidakseimbangan yang
ditandai dengan defisiensi cairan dan elektrolit di ruang ekstrasel, namun proporsi
antara keduanya (cairan dan elektrolit) mendekati normal. Kondisi ini dikenal
juga dengan istilah hipovolemia. Pada keadaan hipovolemia, tekanan osmotik
mengalami perubahan sehingga cairan interstisial menjadi kosong dan cairan
intrasel masuk ke ruang interstisial sehingga mengganggu kehidupan sel. Secara
umum, kondisi defisit volume cairan (dehidrasi) terbagi menjadi tiga, yaitu :
a) Dehidrasi isotonik. Ini terjadi apabila jumlah cairan yang hilang sebanding
dengan jumlah elektrolit yang hilang. Kadar Na+ dalam plasma 130-145 mEq/l.
b) Dehidrasi hipertonik. Ini terjadi jika jumlah cairan yang hilang sebanding
dengan jumlah elektrolit yang hilang. Kadar Na+ dalam plasma 130-150 mEq/l.
c) Dehidrasi hipotonik. Ini terjadi apabila jumlah cairan yang hilang lebih
sedikit daripada jumlah elektrolit yang hilang. Kadar Na+ dalam plasma darah
adalah 130 mEq/l.

Kehilangan cairan ekstrasel secara berlebihan dapat menimbulkan


beberapa perubahan. Di antaranya adalah penurunan volume ekstrasel
(hipovolemia) dan perubahan hematokrit. Pada dasarnya, kondisi ini bisa
disebabkan oleh banyak faktor, seperti kurangnya asupan cairan, tingginya asupan
pelarut (mis., protein dan klorida atau natrium) yang dapat menyebabkan eksresi
urine berlebih, berkeringat banyak dalam waktu yang lama, serta kelainan lain
yang menyebabkan pengeluaran urine berlebih. Lebih lanjut, kondisi dehidrasi
dapat digolongkan menurut derajat keparahan menjadi :
a. Dehidrasi ringan. Pada kondisi ini, kehilangan cairan mencapai 5% dari berat
tubuh atau sekitar 1,5-2 liter. Kehilangan cairan sebesar 5% pada anak yang
lebih besar dan individu dewasa sudah dikategorikan sebagai dehidrasi berat.
Kehilangan cairan yang berlebih dapat berlangsung melalui kulit, saluran
pencernaan, perkemihan, paru-paru, atau pembuluh darah.
b. Dehidrasi sedang. Kondisi ini terjadi apabila kehilangn cairan mencapai 5-
10% dari berat tubuh atau sekitar 2-4 liter. Kaddar natrium serum berkisar 152-
158 mEq/l. Salah satu gejalanya adalah mata cekung.
c. Dehidrasi berat. Kondisi ini terjadi apabila kehilangan cairan mencapai 4-6
liter. Kadar natrium serum berkisar 159-166 mEq/l. Pada kondisi ini penderita
dapat mengalami hipotensi.
2. Volume cairan berlebih (fluid volume eccess [FVE]).
Volume cairan berlebih (overhidrasi) adalah kondisi ketidakseimbangan
yang ditandai dengan kelebihan (retensi) cairan dan natrium di ruang ekstrasel.
Kondisi ini dikenal juga dengan istilah hipervolemia. Overhidrasi umumnya
disebabkan oleh gangguan pada fungsi ginjal. Manifestasi yang kerap muncul
terkait kondisi ini adalah peningkatan volume darah dan edema. Edema terjadi
akibat peningkatan tekanan hidrostatik dan penurunan tekanan osmotic. Edema
sering muncul di daerah mata, jari, dan pergelangan kaki. Edema pitting adalah
edema yang muncul di daerah perifer. Jika area tersebut ditekan, akan terbentuk
cekungan yang tidak langsung hilang setelah tekanan dilepaskan. Ini karena
perpindahan cairan ke jaringan melalui titik tekan edema pitting tidak
menunjukkan kelebihan cairan yang menyeluruh. Sebaliknya pada edema non-
pitting, cairan di dalam jaringan tidak dapat dialihkan ke area dengan penekanan
jari. Ini karena edema non-pitting tida menunjukkan kelebihan cairan ekstrasel,
melainkan kondisi infeksi dan trauma yang menyebabkan pengumpulan dan
pembekuan cairan di permukaan jaringan. Kelebihan cairan vascular
meningkatkan tekanan hidrostatik dan tekanan cairan pada permukaan interstisial.
Edema anasarka adalah edema yang terdapat diseluruh tubuh. Manifestasi edema
paru antara lain penumpukan sputum, dispnea, batuk, dan bunyi nafas ronkhi
basah.

 Gangguan Keseimbangan Elektrolit


a. Hiponatremia dan hipernatremia.
Hiponatremia adalah kekurangan kadar natrium di cairan ekstrasel yang
menyebabkan perubahan tekanan osmotic. Perubahan ini mengakibatkan
pindahnya cairan dari ruang ekstrasel ke intrasel sehingga sel menjadi bengkak.
Hiponatremia umumnya disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit Addison,
kehilangan natrium melalui pencernaan, pengeluaran keringat berlebih, dieresis,
serta asidosis metabolic. Penyebab lain yang berkaitan dengan kelebihan cairan
adalah sindrom ketidaktepatan hormon antidiuretik (syndrome of inappropriate
antidiuretic hormon [SIADH]), peningkatan asupan cairan, hiperaldosteronisme,
ketoasidosis diabetes, oliguria, dan polidipsia psikogenik. Tanda dan gejala
hiponatremia meliputi cemas, hipotensi postural, postural dizziness, mual,
muntah, diare, takikardi, kejang dan koma. Temuan laboratorium untuk kondisi
ini adalah kadar natrium serum <136 mEq/l dan berat jenis urine <1,010.
Hipernatremia adalah kelabihan kadar natrium di cairan ekstrasel yang
menyebabkan peningkatan tekanan osmotic ekstrasel. Kondisi ini mengakibatkan
berpindahnya cairan intrasel keluar sel. Penyebab hipernatremia meliputi asupan
natrium yang berlebihan, kerusakan sensasi haus, disfagia, diare, kehilangan
cairan berlebih dari paru-paru, poliuria karena diabetes insipidus. Tanda dan
gejalanya meliputi kulit kering, mukosa bibir kering, pireksia, agitasi, kejang,
oliguria, atau anuria. Temuan laboratorium untuk kondisi ini kadar natrium serum
>144 Meq/l, berat jenis urine >11,30.

b. Hipokalemia dan hiperkalemia.


Hipokalemia adalah kekurangan kadar kalium di cairan ekstrasel yang
menyebabkan pindahnya kalium keluar sel. Akibatnya, ion hydrogen dan kalium
tertahan di dalam sel dan menyebabkan gangguan atau perubahan pH plasma.
Gejala defisiensi kalium pertama kali terlihat pada otot, distensi usus, penurunan
bising usus, serta denyut nadi yang tidak teratur. Pada pemeriksaan laboratorium
ditemukan nilai kalium serum <3,0 mEq/l. hiperkalemia adalah kelebihan kadar
kalium di cairan ekstrasel. Kasus ini jarang sekali terjadi, kalaupun ada, tentu
akan sangat membahayakan kehidupan sebab akan menghambat trasmisi impuls
jantung dan menyebabkan serangan jantung. Saat terjadi hiperkalemia, salah satu
upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan insulin sebab insulin dapat
membantu mendorong kalium masuk ke dalam sel. Tanda dan gejala hiperkalemia
sendiri meliputi cemas, iritabilitas, irama jantung ireguler, hipotensi, parastesia,
dan kelemahan. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan nilai kalium serum >5
mEq/l, sedangkan pada pemeriksaan EKG didapat gelombang T memuncak, QRS
melebar, dan PR memanjang.
c. Hipokalsemia dan hiperkalsemia.
Hipokalsemia adalah kekurangan kadar kalsium di cairan ekstrasel. Bila
berlangsung lama, kondisi ini dapat menyebabkan osteomalasia sebab tubuh akan
berusaha memenuhi kebutuhan kalsium dengan mengambilnya dari tulang. Tanda
dan gejala hipokalsemia meliputi spasme dan tetani, peningkatan motilitas
gastrointestinal, gangguan kardiovaskuler, dan osteoporosis. Temuan
laboratorium untuk kondisi ini meliputi kadar kalsium serum <4,5 mEq/l atau 10
mg/100 ml serta memanjangnya interval Q-T. Selain itu, hipokalsemia juga dapat
dikaji dari tanda Trosseau dan Chvostek positif. Hiperkalsemia adalah kelebihan
kadar kalsium pada cairan ekstrasel. Kondisi ini menyebabkan penurunan
eksitabilitas otot dan saraf yang pada akhirnya menimbulkan flaksiditas. Tanda
dan gejala hiperkalsemia meliputi penurunan kemampuan otot, anoreksia, mual,
muntah, kelemahan dan letargi, nyeri punggung, dan serangan jantung. Temuan
laboratorium meliputi kadar kalsium serum >5,8 mEq/l atau 10 mg/100 ml dan
peningkatan BUN akibat kekurangan cairan. Hasil rontgen menunjukkan
osteoporosis generalisata serta pembentukan kavitas tulang yang menyebar.

d. Hipomagnesemia dan hipermagnesemia.


Hipomagnesemia terjadi apabila kadar magnesium serum urang dari 1,5
mEq/l. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh konsumsi alohol yang berlebih,
malnutrisi, diabetes mellitus, gagal hati, absorpsi usus yang buruk. Tanda dan
gejalanya meliputi tremor, refleks tendon profunda yang hiperaktif, konfusi,
disorientasi, halusinasi, kejang, takikardi, dan hipertensi. Temuan laboratorium
untuk kondisi ini meliputi kadar magnesium serum <1,4 mEq/l. Hipermagnesemia
adalah kondisi meningkatnya kadar magnesium di dalam serum. Meski jarang
ditemui, namun kondisi ini dapat menimpa penderita gagal ginjal., terutama yang
mengkonsumsi antasida yang mengandung magnesium. Tanda dan gejala
hipermagnesemia meliputi aritmia jantung, depresi refleks tendon profunda,
depresi pernapasan. Temuan laboratorium untuk kondisi ini meliputi kadar
magnesium serum >3,4 mEq/l.
e. Hipokloremia dan hiperkloremia.
Hipokloremia adalah penurunan kadar ion klorida dalam serum. Secara
khusus, kondisi ini disebabkan oleh kehilangan sekresi gastrointestinal yang
berlebihan, seperti muntah, diare, dieresis, serta pengisapan nasogastrik. Tanda
dan gejala yang muncul menyerupai alkalosis metabolic, yaitu apatis, kelemahan,
kekacauan mental, kram, dan pusing. Temuan laboratorium untuk kondisi ini
adalah nilai ion klorida >95 mEq/l. Hiperkloremia adalah peningkatan kadar ion
klorida serum. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan hipernatremia, khususnya saat
terdapat dehidrasi dan masalah ginjal. Kondisi hiperkloremia menyebabkan
penurunan bikarbonat sehingga menimbulkan ketidakseimbangan asam-basa.
Lebih lanjut, kondisi ini bisa menyebabkan kelemahan, letargi, dan pernapasan
Kussmaul. Temuan laboratoriumnya adalah nilai ion klorida >105 mEq/l.

f. Hipofosfatemia dan hiperfosfatemia.


Hipofosfatemia adalah penurunan kadar fosfat di dalam serum. Kondisi
ini dapat muncul akibat penurunan absorpsi fosfat di usus, peningkatan ekskresi
fosfat, dan peningkatan ambilan fosfat untuk tulang. Hipofosfatemia dapat terjadi
akibat alkoholisme, malnutrisi, ketoasidosis diabetes, dan hipertiroidisme. Tanda
dan gejalanya meliputi anoreksia, pusing, parestesia, kelemahan otot, serta gejala
neurologis yang tersamar. Temuan laboratorium untuk kondisi ini adalah nilai ion
fosfat <2,8 mEq/dl. Hiperfosfatemia adalah peningkatan kadar ion fosfat dalam
serum. Kondisi ini dapat muncul pada kasus gagal ginjal atau saat kadar hormon
paratiroid menurun. Selain itu, hiperfosfatemia juga bisa terjadi akibat asupan
fosfat berlebih atau penyalahgunaan laksatif yang mengandung fosfat. Karena
kadar kalsium berbanding terbalik dengan fosfat, maka tanda dan gejala
hiperfosfatemia hampir sama dengan hipokalsemia yaitu peningkatan eksibilitas
sistem saraf pusat, spasme otot, konvulsi dan tetani, peningkatan motilitas usus,
masalah kardiovaskular seperti penurunan kontraktilitas jantung/gejala gagal
jantung, dan osteoporosis. Temuan laboratoriumnya adalah nilai ion fosfat >4,4
mg/dl atau 3,0 mEq/l.
2.4 Cara Menghitung Keseimbangan Cairan

Data 24 jam yang dipakai!


Rumus Balance Cairan
Intake / cairan masuk = Output / cairan keluar + IWL (Insensible Water
Loss)
 Intake / Cairan Masuk : mulai dari cairan infus, minum, kandungan cairan
dalam makanan pasien, volume obat-obatan, termasuk obat suntik, obat yang
di drip, albumin dll.
 Output / Cairan keluar : urine dalam 24 jam, jika pasien dipasang
kateter maka hitung dalam ukuran di urobag, jka tidak terpasang maka
pasien harus menampung urinenya sendiri, biasanya ditampung di botol
air mineral dengan ukuran 1,5 liter, kemudian feses.
 IWL (insensible water loss (IWL) : jumlah cairan keluarnya tidak
disadari dan sulit diitung, yaitu jumlah keringat, uap hawa nafas.

Rumus IWL
IWL = (15 x BB )

24 jam

Cth: Tn.A BB 60kg dengan suhu tubuh 37⁰C (suhu normal)

IWL = (15 x 60 ) = 37,5 cc/jam


24 jam

*Bila dlm 24 jam → 37,5 x 24 = 900cc/24 jam

*Rumus IWL Kenaikan Suhu


[(10% x CM)x jumlah kenaikan suhu] + IWL normal
24 jam
Cth: Tn.A BB 60kg, suhu= 39⁰C, CM= 200cc

IWL = [(10%x200)x(39⁰C-37⁰C)] + 37,5cc


24 jam
= (20×2) + 37,5cc
24
= 1,7 + 37,5 = 39cc/jam

*CM : Cairan Masuk


Menghitung balance cairan seseorang harus diperhatikan berbagai faktor,
diantaranya Berat Badan dan Umur..karena penghitungannya antara usia anak
dengan dewasa berbeda.
Menghitung balance cairanpun harus diperhatikan mana yang termasuk
kelompok Intake cairan dan mana yang output cairan. Berdasarkan kutipan dari
Iwasa M. Kogoshi S (1995) Fluid Therapy do (PT. Otsuka Indonesia)
penghitungan wajib per 24 jam bukan pershift.

PENGHITUNGAN BALANCE CAIRAN UNTUK DEWASA


Input cairan:
Air (makan+Minum) = ……cc
Cairan Infus = ……cc
Therapi injeksi = ……cc
Air Metabolisme = ……cc (Hitung AM= 5 cc/kgBB/hari)
Output cairan:
Urine = ……cc
Feses = …..cc (kondisi normal 1 BAB feses = 100 cc)
Muntah/perdarahan cairan drainage luka/
cairan NGT terbuka = …..cc
IWL = …..cc (hitung IWL= 15 cc/kgBB/hari)
(Insensible Water Loss)

Contoh Kasus:
Tn Y (35 tahun) , BB 60 Kg; dirawat dengan post op Laparatomi hari kedua
akibat appendix perforasi, Keadaan umum masih lemah, kesadaran
composmentis..Vital sign TD: 110/70 mmHg; HR 88 x/menit; RR 20 x/menit, T
37 °C: masih dipuasakan, saat ini terpasang NGT terbuka cairan berwarna
kuning kehijauan sebanyak 200 cc; pada daerah luka incici operasi terpasang
drainage berwarna merah sebanyak 100 cc, Infus terpasang Dextrose 5% drip
Antrain 1 ampul /kolf : 2000 cc/24 jam., terpasang catheter urine dengan jumlah
urine 1700 cc, dan mendapat tranfusi WB 300 cc; mendapat antibiotik Cefat 2 x
1 gram yg didripkan dalam NaCl 50 cc setiap kali pemberian, Hitung balance
cairan Tn Y!

Input Cairan:
Infus = 2000 cc
Tranfusi WB = 300 cc
Obat injeksi = 100 cc
AM = 300 cc → (5 cc x 60 kg)
Total Input = 2000 cc + 300 cc + 100 cc + 300 cc
= 2700 cc
Output Cairan :
Drainage : 100 cc
NGT : 200 cc
Urine : 1700 cc
IWL : 900 cc → (15 cc x 60 kg)
Total Ouput = 100 cc + 200 cc + 1700 cc + 900 cc
= 2900 cc

Jadi Balance cairan Tn Y dalam 24 jam :


= Intake cairan – output cairan
= 2700 cc – 2900 cc
= - 200 cc.

Bagaimana jika ada kenaikan suhu? maka untuk menghitung output terutama
IWL gunakan rumus : IWL + 200 (suhu tinggi – 36,8 .°C), nilai 36,8 °C adalah
konstanta
Andaikan suhu Tn Y adalah 38,5 °C, berapakah Balance cairannya?
Berarti nilai IWl Tn Y= 900 + 200 (38,5 °C – 36,8 .°C)
= 900 + 200 (1,7)
= 900 + 340 cc
= 1240 cc
Masukkan nilai IWL kondisi suhu tinggi dalam
penjumlahan kelompok Output :
Drainage =100 cc
NGT = 200 cc
Urine = 1700 cc
IWL = 1240 cc
———– +
=3240 cc
Jadi Balance cairannya dalam kondisi suhu febris pada Tn Y adalah :
2700 cc – 3240 cc = -540 cc

Menghitung Balance cairan anak tergantung tahap umur, untuk


menentukan Air Metabolisme, menurut Iwasa M, Kogoshi S dalam Fluid
Tehrapy Bunko do (1995) dari PT. Otsuka Indonesia yaitu:

Usia Balita (1 – 3 tahun) : 8 cc/kgBB/hari


Usia 5 – 7 tahun : 8 – 8,5 cc/kgBB/hari
Usia 7 – 11 tahun : 6 – 7 cc/kgBB/hari
Usia 12 – 14 tahun : 5 – 6 cc/kgBB/hari

Untuk IWL (Insensible Water Loss) pada anak = (30 – usia anak dalam tahun) x
cc/kgBB/hari Jika anak mengompol menghitung urine 0,5 cc – 1 cc/kgBB/hari

CONTOH :

An X (3 tahun) BB 14 Kg, dirawata hari ke dua dengan DBD, keluhan pasien


menurut ibunya: ―rewel, tidak nafsu makan; malas minum, badannya masih
hangat; gusinya tadi malam berdarah‖ Berdasarkan pemeriksaan fisik didapat
data: Keadaan umum terlihat lemah, kesadaran composmentis, TTV: HR 100
x/menit; T 37,3 °C; petechie di kedua tungkai kaki, Makan /24 jam hanya 6
sendok makan, Minum/24 jam 1000 cc; BAK/24 jam : 1000 cc, mendapat Infus
Asering 1000 cc/24 jam. Hasil pemeriksaan lab Tr terakhir: 50.000. Hitunglah
balance cairan anak ini!
 Input cairan:
Minum : 1000 cc
Infus : 1000 cc
AM : 112 cc → (8 cc x 14 kg)
Total Input = 2112 cc
 Output cairan :
Muntah : 100 cc
Urin : 1000 cc
IWL : 378 cc → (30-3 tahun) x 14 kg
Total Ouput = 1478 cc

Balance cairan = Intake cairan – Output Cairan


= 2112 cc – 1478 cc
= + 634 cc

Sekarang hitung balance cairannya jika suhu An x 39,8 °C !


yang perlu diperhatikan adalah penghitungan IWL pada kenaikan suhu gunakan
rumus:

IWL + 200 ( Suhu Tinggi – 36,8 °C) 36,8 °C adalah konstanta.


IWL An X = 378 + 200 (39,8 °C – 36,8 °C)
= 378 + 200 (3)
= 378 + 600
= 978 cc
Maka output cairan An X
Muntah : 100 cc
Urin : 1000 cc
IWL : 978 cc
——— +
2078 cc

Jadi Balance cairannya = 2112 cc – 2078 cc


= + 34 cc.
2.5 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Keseimbangan Cairan
Elektrolit Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
meliputi pengkajian riwayat kesehatan (keperawatan), pengukuran klinis (berat
badan harian, tanda vital, serta asupan dan haluaran cairan), pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan laboratorium untuk mengevaluasi keseimbangan cairan dan
elektrolit.
1. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan dalam pengkajian meliputi asupan makanan dan cairan,
haluaran cairan, tanda–tanda kehilangan atau kelebihan cairan, tanda-tanda
gangguan keseimbangan elektrolit, penyakit yang diderita, obat atau tindakan
yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan.

2. Pengukuran klinis
Tiga jenis pengukuran klinis yang dapat dilakukan oleh perawat adalah
pengukuran berat badan harian, tanda-tanda vital, serta asupan dan haluaran
cairan.

3. Pengukuran berat badan


Pengukuran berat badan harian menyediakan informasi yang relatif akurat
tentang status cairan sebab perubahan berat badan menunjukkan adanya
perubahan cairan akut. Setiap penurunan berat badan satu kilogram menunjukkan
tubuh kekurangan cairan sebanyak satu liter. Perubahan berat badan menunjukkan
terjadinya perubahan cairan pada seluruh kompartemen tubuh. Apabila
kehilangan/kelebihan berta badan mencapai 5%-8% dari total berat badan, ini
mengindikasikan terjadinya kelebihan/kehilangan cairan sedang hingga berat.
Untuk memperoleh hasil pengukuran berat badan yang akurat, diperlukan
standardisasi alat ukur yang digunakan sebelun dan sesudah penimbangan. Selain
itu, penimbangan berat badan sebaiknya dilakukan pada waktu yang sama (mis.,
sebelum sarapan atau setelah buang air besar) dan dengan mengenakan pakaian
yang sama. Secara umum, jumlah cairan yang hilang dapat dihitung dengan rumus
berikut.
4. Kehilangan air = berat badan normal – berat badan sekarang
Jika berat badan turun lebih dari 500 g/hari, ini mungkin menunjukkan telah
terjadi kehilangan cairan dari tubuh. Akan tetapi, jika penurunan kurang dari 300
g/hari, ini mungkin disebabkan oleh penyebab lain. Begitu juga bila ada
penambahan berat bdan, mungkn ini menunjukkan retensi cairan.

5. Tanda vital
Perubahantanda vital mungkin mengindikasikan adanya ketidakseimbangan
cairan, elektrolit, dan asma basa, atau sebagai upaya kompensasi dalam
mempertahankan keseimbangan dalam tubuh. Peningkatan suhu tubuh mungkin
menunjukkan kondisi dehidrasi, sedangkan takikardia merupakan tanda pertama
yang menunjukkan adanya hipovolemia akibat kekurangan cairan. Denyut nadi
cenderung menguat pada kondisi kelebihan cairan dan melemah pada kekurangan
cairan. Perubahan laju dan kedalaman pernapasan mungkin menunjukkan adanya
gangguan keseimbangan asam-basa. Tekanan darah cenderung meningkat pada
kelebihan cairan dan menurun pada kekurangan cairan.

6. Asupan dan haluaran


Pengukuran klinis ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah besarnya
asupan dan haluaran cairan. Pengukuran dan pencatatan asupan dan haluaran
cairan dalam 24 jam diperlukan sebagai data dalam menentukan keseimbangan
cairan tubuh. Perawat harus memberikan informasi pada klien, keluarga, dan
seluruh tenaga kesehatan tentang perlunya penghitungan asupan dan haluaran
cairan yang akurat. Penghitungan asupan cairan meliputi asupan minum per oral,
makanan, makanan cair, cairan parenteral, obat-obat intravena, serta irigasi kateter
atau selang. Adapun penghitungan haluaran cairan meliputi haluaran urine, feses
encer, muntahan, keringat, drainase (lambung atau usus), drainase luka/fistula,
serta dari pernapasan yang cepat dan dalam.
Untuk menentukan apakah asupan dan haluaran cairan proporsional, kita
dapat melakukan beberapa teknik, seperti membandingkan total asupan cairan per
24 jam dengan total haluaran dalam 24 jam atau dengan membandingkan hasil
pengukuran saat ini dengan sebelumnya. Langkah ini terutama dilakukan untuk
mengukur jumlah cairan yang besar, seperti urine. Normalnya, orang dewasa
memproduksi urine 40-80 ml/jam. Jika volume urine melebihi kisaran tersebut,
kemungkinan tubuh mengalami kelebihan cairan. Sebaliknya, jika volume urine
kurang dari 30ml/jam, kemungkinan terjadi dehidrasi.

7. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang diperlukan untuk mengkaji kebutuhan cairan dan
elektrolit difokuskan pada kulit, rongga mulut, mata, vena jugularis,vena-vena
tangan, dan sistem neurologis.

8. Turgor kulit
Turgor kulit menggambarkan cairan intertisial dan elastisitas kulit.
Penurunan turgor terkait dengan elastisitas kulit. Normalnya, jika dicubit, kulit
akan kembali ke posisi normal setelah dilepaskan. Pada klien dengan defisit
volume cairan, kulit akan kembali datar dalam jangka waktu yang lebih
lama(hingga beberapa detik). Pada orang dewasa, pengukuran turgor kulit paling
baik dilakukan di atas sternum, kening, dan paha sebelah dalam. Pada anak,
pengukuran turgor sebaiknya dilakukan di area abdomen atau paha bagian tengah.
Pada orang tua, turgor kulit mengalami penurunan sehingga perlu dilakukan
penimbangan berat badan untuk mengukur status hidrasi disamping dengan
pengukuran turgor kulit.

9. Iritabilitas neuromuskular
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengkaji ketidakseimbangan kalsium dan
magnesium. Pemerikaan fisik meliputi pemeriksaan tanda chovstek dan tanda
trousseau. Pemeriksaan tanda chovstek dilakukan dengan mengetuk saraf wajah
(sekitar 2cm di depan liang telinga). Jika pada saat diketuk terjadi refleks meringis
pada otot wajah, termasuk bibir, berarti tanda chovstek positif (mungkin terjadi
hipomagnesemia atau hipokalsemia). Untuk melakukan test trousseau, pasang
manset tekanan darah pada lengan, pompa dengan tekanan di bawah sistole
selama 2-3 menit. Apabila timbul spasme karpal dan tetani, mengindikasikan
terjadinya hipokalsemia dan hipomagnesemia.
10. Pemeriksaan laboratorium Elektrolit serum
Pemeriksaan kadar elektrolit serum sering dilakukan untuk mengkaji adanya
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pemeriksaan yang paling sering
adalah natrium, kaliium , klorida, dan ion bikarbonat. Penghitungan kebutuhan
cairan dengan menggunakan nilai Na+adalah:
Air yang hilang = 0,6 x BB x (Na+ serum terukur – 142)
Na+serum terukur

11. Hitung darah


Hematokrit (Ht) menggambarkan persentase total darah dengan sel darah
merah. Karena hematokrit adalah pengukuran volume sel dalam plasma, nilainya
akan dipengaruhi oleh jumlah cairan plasma. Dengan demikian, nilai Ht pada
klien yang mengalami dehidrasi atau hipovolemia cenderung meningkat,
sedangkan nilai Ht pada pasien yang mengalami overdehidrasi dapat menurun.
Normalnya, nilai Ht pada laki-laki adalah 40%-54% dan perempuan 37%-47%.
Biasanya, peningkatan kadar hemoglobin diikuti dengan peningkatan kadar
hematokrit.
Air yang hilang= PAT x BB x [1- (Ht normal/Ht terukur)
Keterangan :
Perbandingan air tubuh(PAT)
a) nilai 0,2 untuk dehidrasi akut
b) nilai 0,6 untuk dehidrasi kroni

12. Osmolalitas
Osmolalitas merupakan indikator konsentrasi sejumlah partikel yang terlarut
dalam serum dan urine. Biasanya dinyatakan dalam mOsm/kg.

13. Ph urine
pH urine menunjukkan tingkat keasaman urine yang dapat digunakan untuk
menggambarkan ketidakseimbangan asam-basa. pH urine normal adalah 4,6-8
pada kondisi asidosis metabolik.
14. Berat jenis urine
Berat jenis urine dapat digunakan sebagai indikator gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit, walaupun hasilnya kurang reliabel. Akan tetapi, pengukuran
BJ urine merupakan cara paling mudah dan cepat untuk menentukan konsentrasi
urine. Berat jenis urine dapat meningkat saat terjadi pemekatan akibat kekurangan
cairan dan menurun saat tubuh kelebihan cairan. Nilai BJ urine normal adalah
1,005-1,030 (biasanya 1,010-1,025). Selain itu, BJ urine juga meningkat saat
terdapat glukosa dalam urine, juga pada pemberian dekstran, obat kontras
radiografi, dan beberapa jenis obat lainnya.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Cairan tubuh merupakan media semua reaksi kimia di dalam sel. Tiap sel
mengandung cairan intraseluler (cairan di dalam sel) yang komposisinya paling
cocok untuk sel tersebut dan berada di dalam cairan ekstraseluler (cairan di luar
sel) yang cocok pula.
Tubuh harus mampu memelihara konsentrasi semua elektrolit yang sesuai
didalam cairan tubuh, sehingga tercapai keseimbangan cairan dan elektrolit.
Keseimbangan cairan tubuh adalah keseimbangan antara jumlah cairan yang
masuk dan keluar.
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler
dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel
di seluruh tubuh, sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar
sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan
interstitial dan cairan transeluler. Cairan tubuh terdiri dari air (pelarut) dan
substansi terlarut (zat terlarut).
Air menyusun ± 50 – 60% dari total berat badan. Hubungan antara berat
badan total dan total air dalam tubuh relatif konstan pada tiapindividu dan
merupakan refleksi dari lemak tubuh. Terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit diantaranya adalah : usia, aktivitas,
iklim, diet, stress, penyakit, tindakan medis, pengobatan, dan pembedahan.
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh dapat dipengaruhi oleh
dua faktor yaitu kelebihan dan kekurangan cairan dan elektrolit.

3.2 Saran
Demikian makalah yang telah kami susun, semoga dengan makalah ini
dapat menambah pengetahuan serta lebih bisa memahami tentang pokok bahasan
makalah ini bagi para pembacanya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita semua.
DAFTAR PUSTAKA

A, Aziz Alimul H.2009:”Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Buku 2.”Jakarta:


Salemba Medika.
Potter, Perry.2009:”Fundamental Keperawatan, Edisi 7 Buku.” Jakarta: Salemba
Medika.
Tamsuri, Anas. 2009. Seri Asuhan Keperawatan “Klien Gangguan
Keseimbangan Cairan & Elektrolit” . Jakarta: ECG
https://www.academia.edu/22337964/MAKALAH_KESEIMBANGANCAIRAN
_DAN_ELEKTROLIT_DALAM_TUBUH_MANUSIA diakses pada tanggal 20
Maret 2020 pukul 13.00 WIB

https://www.academia.edu/30553208/KESEIMBANGAN_CAIRAN_TUBUH
diakses pada tanggal 20 Maret 2020 pukul 13.15 WIB

http://yuniartri.blogspot.com/2014/11/makalah-keseimbangan-cairan-dan.html
diakses pada tanggal 20 Maret 2020 pukul 14.00 WIB