Anda di halaman 1dari 2

1.

Perbedaan TCL dan SCL

TCL SCL
Teacher Centereded Learning (TCL) Pada sistem pembelajaran SCL
adalah pemberian materi oleh dosen mahasiswa dituntut aktif mengerjakan
yang ternyata membuat mahasiswa tugas dan mendiskusikannya dengan
pasif karena hanya mendengarkan dosen sebagai fasilitator. Dengan
kuliah sehingga kreativitas mereka aktifnya mahasiswa, maka kreativitas
kurang terpupuk atau bahkan mahasiswa akan terpupuk. Kondisi
cenderung tidak kreatif. Pada model tersebut akan mendorong dosen untuk
TCL, dosen lebih banyak melakukan selalu mengembangkan dan
kegiatan belajar-mengajar dengan menyesuaikan materi kuliahnya dengan
bentuk ceramah (lecturing)., sedangkan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
mahasiswa pada saat kuliah atau Teknologi (IPTEK)
mendengarkan ceramah hanya sebatas
memahami sambil membuat catatan, Pada model pembelajaran SCL, berarti
bagi yang merasa memerlukannya. mahasiswa harus didorong untuk
Dosen menjadi pusat peran dalam memiliki motivasi dalam diri mereka
pencapaian hasil pembelajaran dan sendiri kemudian berupaya keras
seakan-akan menjadi satu-satunya mencapai kompentensi yang diinginkan.
sumber ilmu.

2. Model kuliah Five Jumps

a. Presentation and clarification of the new term


b. Discussion / Practice in small group to large group
c. Class of Expertive ( Penyelesaian masalah yang belum sempat ditemukan )
d. Demonstration ( Practice by lecture & Student )
e. Practice Under the lecture and assignment submittance

3. Miller’s Pyramid

 Does

 Shows

 Knows how

 Knows

Penjelasannya cari sendiri !!!!


4. Bed site Teaching

 Adalah Adalah Pembelajaran yang dilakukan langsung di depan pasien. Dengan metode bedside
teaching Mahasiswa dapat menerapkan ilmu pengetahuan, melaksanakan kemampuan komunikasi,
keterampilan klinik dan profesionalisme, menemukan seni pengobatan, mempelajari bagaimana
tingkah laku pendekatan fisioterapis kepada pasien.
 Tekhnik ini merupakan sistem pembelajaran yang konseptual dan Interaktif yang mendekatkan
pembelajaar dalam hal ini mahasiswa kepada real clinical setting. Dimana Mahasiswa
mengaplikasikan kemampuan kognitif, psikomotor dan afektif secara terintegrasi. Sementara itu
dosen, bertindak sebagai fasilitator, dan mitra pembelajaran yang siap untuk memberikan
bimbingan