Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH ADAPTASI ANATOMI DAN FISIOLOGI PADA

MASA NIFAS

Disusun oleh :

1. DARA SAKINAHTUL DIPA NIM : 193302080012

2. DELVITA IRMAYASARI NIM : 193302080002

3. INGGRIANI BIDAYA NIM : 193302080037

4. ROMANA YUTRISANI BALI NIM : 193302080003

5. WILDA SRI DEVI LUBIS NIM : 193302080014

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI S - 1 KEBIDANAN

UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA

TAHUN 2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunia –Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah kami dengan tepat waktu yang
berjudul : “ Adaptasi Anatomi Dan Fisiologi Pada Masa Nifas’’. Harapan kami sebagaimana
penyusun adalah agar pembaca dapat memahami tentang bagaimana cara “ Adaptasi Anatomi
Dan Fisiologi Pada Masa Nifas”. Terkhusus pada makalah ini kami akan membahas tentang
adaptasi pada endometrium, adaptasi pada sistem pencernaan, adaptasi pada sistem endokrin,
adaptasi pada tanda- tanda vital, dan yang terakhir adalah adptasi pada sistem hematologi .
dan tidak lupa pula kami ingin mengucapkan rasa terima kasih kami kepada dosen kami yang
bernama ibuk Verawaty Fitrinelda Silaban,STr.Keb,MTr.Keb. yang telah membimbing kami
dalam menyusun makalah ini menjadi lebih baik. Kami menyadari sepenuhnya dalam
menyusun makalah Adaptasi Anatomi Dan Fisiologi Pada Masa Nifas ini masih terdapat
banyak kekurangan, baik dalam sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa. Kami
berharap semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah ilmu wawasan kita mengenai
bagaimana cara adaptasi anatomi dan fisiologi pada seorang ibu dalam masa nifas. Akhir kata
kami mengucapkan terima kasih.

Medan, 13 Maret 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 4


1.2 Rumusan Masalah 5
1.3 Tujuan 5
1.4 Manfaat 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Nifas 7
2.1.1 Pengertian Masa Nifas 7
2.2 Pembagian Masa Nifas 7
2.2.1 puerperium dini 7
2.2.2 puerperium intermedial 8
2.2.3 remote puerperium 8
2.3 Adaptasi Anatomi & Fisiologi Endometrium Pada Ibu Dalam Masa Nifas 10
2.4 Adaptasi Anatomi & Fisiologi Sitem Pencernaan Pada Ibu Dalam Masa Nifas 14
2.5 Adaptasi Anatomi & Fisiologi Sistem Endokrin Pada Ibu Dalam Masa Nifas 16
2.6 Adaptasi Anatomi & Fisiologi Sistem Hematologi Pada Ibu Dalam Masa Nifas 18
2.7 Adaptasi Tanda- Tanda Vital Pada Ibu Dalam Masa Nifas 19

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 20
3.2 Saran 24

DAFTAR PUSTAKA 25

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa menjadi seorang ibu adalah masa yang paling dinantikan oleh seluruh wanita di
dunia. Seperti yang telah kita ketahui sebelum mencapai masa menjadi seorang ibu,
seorang wanita harus mengalami terlebih dahulu masa yang dinamakan masa kehamilan.
Dimana pada masa ini seorang wanita telah mengandung seorang janin dalam perutnya
yang dimulai dari bulan 1 mengandung hingga 9 bulan kemudian atau 38 minggu.
Hingga akhir dimana sang janin keluar dan menjadi seorang bayi. Setelah seorang wanita
melahirkan maka wanita tersebut telah memasuki masa baru yaitu masa yang dinamakan
masa nifas.
Beberapa pengertian masa nifas menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai
dengan 6 minggu (42 hari) (Dewi dan Sunarsih, 2012: 1).
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum
hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Sulistyawati, 2015).
Masa ini merupakan masa yang cukup penting bagi tenaga kesehatan untuk selalu
melakukan pemantauan karena pelaksanaan yang kurang maksimal dapat menyebabkan
ibu mengalami berbagai masalah, bahkan dapat berlanjut pada komplikasi masa nifas,
seperti sepsis puerperalis. Perawatan payudara yang kurang atau sama sekali tidak
dilakukan maka akan mengakibatkan terjadi sumbatan sehingga terjadi bendungan ASI.
Selain itu, penggunaan bra yang ketat serta keadaan putting susu yang tidak bersih dapat
menyebabkan sumbatan pada duktus (Vivian dan Tri, 2011;40).
Masa nifas merupakan masa yang rawan bagi ibu, sekitar 60% kematian ibu terjadi
setelah melahirkan dan iasto 50% dari kematian pada masa nifas terjadi pada 24 jam
pertama setelah persalinan, diantaranya disebabkan oleh adanya komplikasi masa nifas.

4
Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab bidan untuk memberikan asuhan kebidanan
ibu nifas dengan pemantauan mencegah beberapa kematian ini (Vivian dan Tri, 2011;3)
Dalam hal ini kita juga akan membahas tentang bagaimana cara adaptasi pada
endometrium selama masa nifas, seperti yang kita ketahui endometrium itu sendiri
adalah lapisan ke 3 pada organ uterus ( rahim ) pada sistem reproduksi wanita. Dan
setelah itu kita juga akan membahas tentang perubahan yang terjadi pada sistem
pencernaan selama masa nifas. dan juga kita akan membahas tentang perubahan apa saja
yang terjadi pada sistem endokrin ( hormone ) selama masa nifas. dan juga perubahan
tanda – tanda vital pada seorang ibu dalam masa nifas. dan yang terakhir adalah kita akan
membahas tentang perubahan yang terjadi pada sistem hematologi ( darah ) pada seorang
ibu dalam masa nifas.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian masa nifas ?
2. Apa saja pembagian masa nifas ?
3. Bagaimana adaptasi anatomi dan fisiologi endometrium pada seorang ibu dalam masa
nifas ?
4. Bagaimana adaptasi anatomi dan fisiologi sistem pencernaan pada seorang ibu dalam
masa nifas ?
5. Bagaimana adaptasi anatomi dan fisiologi sistem endokrin pada seorang ibu dalam
masa nifas ?
6. Bagaimana adaptasi anatomi dan fisiologi sistem hematologi pada seorang ibu dalam
masa nifas ?
7. Bagaimana perubahan tanda – tanda vital pada seorang ibu nifas ?
1.3 TUJUAN
1. Agar pembaca dapat memahami apa yang dimaksud dengan masa nifas.
2. Agar pembaca dapat mengetahui apa saja pembagian pada masa nifas.
3. Supaya pembaca dapat mengetahui bagaimana cara adaptasi anatomi dan fisiologi
endometrium pada seorang ibu dalam masa nifas.
4. Supaya pembaca dapat mengetahui bagaimana cara adaptasi anatomi dan fisiologi
Sistem pencernaan pada seorang ibu dalam masa nifas.
5. Supaya pembaca dapat mengetahui bagaimana cara adaptasi anatomi dan fisiologi
Sistem endokrin pada seorang ibu dalam masa nifas.
6. Supaya pembaca dapat mengetahui bagaimana cara adaptasi anatomi dan fisiologi
Sistem hematologi pada seorang ibu dalam masa nifas.
5
7. Agar pembaca dapat mengetahui perubabhan apa saja yang terjadi pada tanda – tanda
vital seorang ibu dalam masa nifas.

1.4 MANFAAT
Manfaat kami membuat makalah tentang adaptasi anatomi dan fisiologi pada masa nifas
adalah supaya pembaca makalah ini dapat mengetahui apa saja yang berubah pada
seorang ibu dalam masa nifas khususnya perubahan pada endometriumnya, pada sistem
pencernaannya, pada sistem endokrinnya, pada sistem hematologinya dan yang terakhir
perubahan pada tanda tanda vitalnya dan untuk menambah wawasan pembaca mengenai
topik ini.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP DASAR NIFAS

2.1.1 PENGERTIAN MASA NIFAS

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-
alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung
selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari (Anggraini, 2010).

Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta serta
selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti
sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Saleha, 2013).

Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6
minggu setelah melahirkan. Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil
yang berlangsung kira- kira 6 minggu. (Marmi 2014)

Periode postpartum adalah waktu penyembuhan dari perubahan yaitu waktu


kembali pada keadaan tidak hamil. Dalam masa nifas, alat- alat genitalia interna
maupun eksterna akan berangsur- angsur pulih seperti pada keadaan sebelum hamil.
(Lia Nanny 2014)

Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta
selaput yang diperlukan memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum
hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Walyani & Purwoastuti,2015)

2.2TAHAPAN MASA NIFAS

2.2.1 PUERPERIUM DINI

7
yaitu kepulihan ketika ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta
beraktivitas layaknya wanita normal. (Walyani & Purwoastuti, 2015)

2.2.2 PUERPERIUM INTERMEDIAL

Yaitu, kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya sekitar 6-8 minggu
(Walyani & Purwoastuti, 2015)

2.2.3 REMOTE PUERPERIUM

Yaitu, waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila
selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi (Walyani &
Purwoastuti, 2015)

2.2.1 PUERPERIUM DINI (IMMEDIATE PUERPERIUM)

Yaitu, waktu 0-24 jam post partum. Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan
berdiri dan berjalan-jalan. (Anggraini, 2010).

2.2.2 PUERPERIUM INTERMEDIAL (EARLY PUERPERIUM)

waktu 1-7 hari post partum. Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang
lamanya 6-8 minggu. (Anggraini, 2010).

2.2.3 REMOTE PUERPERIUM (LATER PUERPERIUM)

waktu 1-6 minggu post partum. Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi. Waktu untuk sehat bisa berminggu-minggu, bulan atau tahun.
(Anggraini, 2010).

2.2.1 PUERPERIUM DINI

yaitu masa kepulihan yakni dimana saat ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan. (Suherni, 2010)

2.2.2 PUERPERIUM INTERMEDIAL

8
yaitu masa kepulihan menyeluruh dari organ- organ genital, kira-kira lamanya
antara 6-8 minggu. (Suherni, 2010)

2.2.3 REMOTE PUERPERIUM

Yaitu, waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama apabila
ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi. (Suherni, 2010)

ADAPUN PERIODE POSTPARTUM INI DIURAIKAN OLEH RUBIN DALAM 3


TAHAP, YAITU :

d) TAHAP 1 : TAKING IN
Periode ini berlangsung 1-2 hari setelah melahirkan. Ibu baru umumnya pasif dan
sangat tergantung, serta perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan tubuhnya. Ia
akan mengingat-ingat kembali pengalamannya sewaktu melahirkan.
b. TAHAP 2 : TAKING HOLD
Periode ini berlangsung pada hari ke-2 sampai hari ke-4 pascapartum. Ibu mulai
sadar dengan kemampuannya untuk menjadi orang tua yang sukses dan meningkatkan
tanggung jawab terhadap bayinya. Ibu berkosentrasi pada pengontrolan fungsi
tubuhnya, BAB dan BAK, juga kekuatan serta ketahanan tubuhnya. Ibu berupaya keras
menguasai berbagai keterampilan perawatan bayi misalnya menggendong, menyusui,
memandikan dan memasang popok. Pada periode ini, ibu cenderung iastole dan
merasa tidak mahir melakukan keterampilan tersebut.
c. TAHAP 3 : LETTING GO
Periode ini biasanya dimulai setelah ibu pulang kerumah dan sangat berpengaruh
terhadap waktu dan perhatian yang diberikan kepada keluarga. Ibu harus
mengambil alih tanggung jawab perawatan bayi.
KUNJUNGAN MASA NIFAS
Adapun frekuensi kunjungan, waktu dan tujuan kunjungan pada ibu dalam masa nifas
(Suherni, 2010) :
d) KUNJUNGAN PERTAMA, WAKTU 6-8 JAM SETELAH PERSALINAN
Tujuan :
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena persalinan atonia uteri.

9
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila perdarahan berlanjut.
c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah
perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
d. Pemberian ASI awal.
e. Memberikan iastole kepada ibu bagaimana teknik melakukan hubungan
antara ibu dan bayi baru lahir.
f. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi. Bila ada bidan atau
petugas lain yang membantu melahirkan, maka petugas atau bidan itu harus tinggal
dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama.
2. KUNJUNGAN KEDUA, WAKTU 6 HARI SETELAH PERSALINAN
Tujuan :
a. Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal.
b. Evaluasi adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan normal.
c. Memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada tanda-tanda adanya
penyulit.
e. Memberikan konseling pada ibu mengenai hal-hal berkaitan dengan asuhan
pada bayi.
3. KUNJUNGAN KETIGA, WAKTU 2 MINGGU SETELAH PERSALINAN
Tujuan : Sama seperti kunjungan hari keenam
4. KUNJUNGAN KEEMPAT, WAKTU 6 MINGGU SETELAH PERSALINAN
Tujuan :
a. Menanyakan penyulit-penyulit yang ada.
b. Memberikan konseling untuk KB secara dini.
2.3 ADAPTASI ANATOMI DAN FISIOLOGI ENDOMETRIUM PADA IBU DALAM
MASA NIFAS

A. ANATOMI UTERUS

10
1. UTERUS ( RAHIM )
iastolean organ muscular yang berongga berbentuk seperti buah pir dan
berdinding tebal. Uterus berfungsi sebagai jalur sperma untuk mencapai tuba
pallopi agar dapat bertemu dengan ovum serta tempat perkembangan embrio
dan janin. Apabila implantasi tidak terjadi, maka uterus akan mengalami proses
menstruasi. Uterus biasanya terletak antefleksi (membengkok ke anterior relative
terhadap serviks), dan anteversi (berujung di anterosuperior relatif terhadap axis
vagina) se iastolemasa uterus terletak pada vesica. (Moore,2013)
Uterus mempunyai panjang 7-7.5 cm, lebar lebih dari 5,25 cm, tebal dinding
uterus 1.25 cm (Prawirohardjo,2016)
Secara histology, lapisan uterus pada manusia dari luar ke dalam terdiri atas
perimetrium, miometrium, endometrium (Prawirohardjo,2016)
Pada wanita yang tidak hamil, uterus mempunyai berat sekitar 40-50 gram.
Sedangkan pada multipara, uterus mempunyai berat sekita 10 gram. Pada
wanita menopause, uterus mengalami penurunan berat akibat terjadinya atrofi
pada uterus (Letz et al., 2012)
LAPISAN UTERUS (RAHIM)
Uterus terdiri dari tiga lapisan berdasarkan histologi, yaitu sebagai
berikut iastole ra, 2013)
1. PERIMETRIUM
Lapisan ini merupakan bagian terluar dari lapisan uterus. Perimetrium terdiri dari
Connective Tissue dan memiliki jumlah serosa yang banyak dan dilapisi oleh
mesotelium. Perimetrium tersusun oleh epitel skuamous sederhana.
2. MIOMETRIUM
Miometrium terdiri dari berkas-berkas serat otot polos yang dipisahkan oleh serat
elastik dan kolagen serta mengandung banyak pembuluh darah. Berkas-berkas
otot polos membentuk 4 lapisan yang berbatas tidak tegas. Lapisan ini merupakan
lapisan paling tebal dari uterus dan terdiri dari banyak serat-serat otot polos

11
serta dipisahkan dengan pleksus vena dan limfatik oleh Connective Tissue.
Miometrium akan mengalami pertumbuhan yang pesat pada masa kehamilan berupa
peningkatan jumlah sel-sel otot polos, sel-sel otot polos akan mensintesis
kolagen, hipertrofi sel dan peningkatan produksi kolagen oleh sel-sel otot yang
berfungsi untuk meningkatkan kekuatan dinding uterin. Pasca melahirkan,
terjadi apoptosis dari sel-sel otot polos dengan penghancuran kolagen yang tidak
dibutuhkan dan uterus kembali dengan ukuran normalnya.
3. ENDOMETRIUM
Lapisan ini terdiri atas 2 lapisan yaitu epitel (epitel kolumnar selapis bersilia) dan
(lamina propia atau stroma) yang mengandung kelenjar tubular simpleks serta jaringan
yang mengandung banyak pembuluh darah. Kelenjar dan stroma mengalami
perubahan siklik yang berlangsung 28 hari. Jaringan ikat lamina propia kaya akan
fibroblas dan mengandung banyak substansi dasar. Sel-sel epitel pelapis endometrium
merupakan gabungan selapis sel-sel silindris sekretorus dan sel bersilia. Serat
jaringan ikat endometrium berasal dari kolagen tipe III.
LAPISAN ENDOMETRIUM DAPAT DIBAGI MENJADI 2 ZONA YAITU
SEBAGAI BERIKUT:
- LAPISAN FUNGSIONAL
yang merupakan bagian tebal dari endometrium dan akan luruh pada fase
menstruasi.
- LAPISAN BASAL
Merupakan lapisan yang paling dalam dan berdekatan dengan miometrium. Lapisan
ini mengandung lamina propia yang lebih berpori dan berperan sebagai bahan
regenerasi dari lapisan fungsional serta akan tetap bertahan pada fase menstruasi.
Lapisan ini memiliki lebih banyak substansi-substansi dasar. Endometrium mengalami
perubahan terus menerus sehubungan dengan respon terhadap perubahan iastol,
stromal, dan iastole dengan tujuan agar uterus siap saat terjadi pertumbuhan
embrio pada kehamilan. Rangsangan estrogen berhubungan dengan pertumbuhan
dan proliferasi endometrium.

12
Lapisan uterus (Human Biology Lab, 2013)

ADAPTASI FISIOLOGI ENDOMETRIUM PADA MASA NIFAS

yaitu timbulnya berupa iastole i, degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi


plasenta pada hari pertama endometrium yang kira – kira setebal 2 – 5 mm itu
mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin
regenerasi endometrium terjadi dari sisa – sisa sel desidua basalis yang memakai waktu
2 sampai 3 minggu. Ligamen – iastole dan diafragma pelvis serta fasia yang merenggang
pada sewaktu kehamilan dan perlu setelah janin lahir berangsur – angsur kembali seperti
sedia kala (Hadijono, 2008).

Trombosis adalah proses koagulasi dalam pembuluh darah yang berlebihan sehingga
menghambat aliran darah, atau bahkan menghentikan aliran tersebut. (Wikipedia)

Koagulasi (en:coagulation, clotting) adalah suatu proses yang rumit di dalam sistem
koloid darah yang memicu partikel koloidal terdispersi untuk memulai proses
pembekuan (en:agglomerate) dan membentuk iastole. (Wikipedia)

Sistem koloid/ disingkat “koloid” merupakan suatu bentuk campuran (sistem iastole)
dua atau lebih zat yang bersifat iastole namun memiliki ukuran partikel terdispersi
yang cukup besar (1 – 1000 nm), sehingga mengalami Efek Tyndall. (Wikipedia)

Degenerasi merupakan suatu perubahan keadaan secara fisika dan kimia dalam sel,
jaringan, atau organ yang bersifat menurunkan efisiensinya. Degenerasi dapat
diakibatkan dari penuaan dan disebabkan oleh penyakit. (Wikipedia)

Perubahan pada endometrium adalah timbulnya thrombosis, degenerasi, dan nekrosis di


tempat implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai
permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua, dan selaput janin. Setelah tiga hari mulai
rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi plasenta. (Saleha
2013)

13
Endometrium adalah lapisan mukosa pada kavum uteri dan desidua merupakan
endometrium yang berubah selama masa kehamilan. (Wikipedia)

2.4 ADAPTASI ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN PADA IBU


DALAM MASA NIFAS

PENGERTIAN SALURAN PENCERNAAN

Saluran pencernaan merupakan saluran yang kontiniu berupa tabung yang dikelilingi
otot. Saluran pencernaan mencerna makanan, memecahnya menjadi bagian yang lebih
kecil dan menyerap bagian tersebut menuju pembuluh darah. Organ-organ yang
termasuk di dalamnya adalah: mulut, faring, iastole , lambung, usus halus serta usus besar.
Dari usus besar makanan akan dibuang keluar tubuh melalui anus (Wikipedia)

ADAPTASI FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN IBU PADA MASA NIFAS

Mual dan muntah terjadi akibat produksi saliva meningkat pada kehamilan trimester I, gejala
ini terjadi 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung kurang lebih 10 minggu. Juga terjadi
pada ibu nifas. Pada ibu nifas terutama yang partus lama dan terlantar mudah terjadi
ileus paralitikus, yaitu adanya obstruksi usus dalam kehamilan dan partus lama,
sehingga membatasi gerak iastole ia usus, serta bisa juga terjadi karena pengaruh psikis
takut BAB karena ada luka jahitan perineum. ( Saleha, 2013)

Diperlukan waktu 3- 4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar iastole ia
menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama
satu atau dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum
melahirkan diberikan enema. Rasa sakit di daerah perineum dapat menghalangi keinginan
untuk buang air besar (BAB) sehingga pada masa nifas sering timbul keluhan konstipasi
akibat tidak teraturnya BAB (Astutik, 2015).

MENURUT RUKIYAH (2010: 64), beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada
sistem pencernaan antara lain :

14
d) NAFSU MAKAN

Pasca melahirkan, ibu biasanya merasa lapar sehingga ibu diperbolehkan untuk mengonsumsi
makanan. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali
normal. Meskipun kadar iastole ia menurun setelah melahirkan, asupan makanan juga
mengalami penurunan satu atau dua hari.

2) MOTILITAS

Secara khas, penurunan otot tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu
yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat
pengembalian tonus otot dan motilitas ke keadaan normal.

3) PENGOSONGAN USUS

Pasca melahirkan, ibu sering mengalami kontsipasi. Hal ini disebabkan tonus otot menurun
selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema
selama melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem
pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.

MENURUT RUKIYAH, DKK (2015) BEBERAPA HAL YANG BERKAITAN


DENGAN PERUBAHAN PADA SISTEM PENCERNAAN, ANTARA LAIN:

d) NAFSU MAKAN

Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi
makanan.Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 3-4 hari sebelum usus kembali normal.

d) MOTILITAS

Kelebihan analgesia dan anastesi bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke
keadaan normal.

d) PENGOSONGAN USUS

Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus
menurun selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan,

15
kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada masa
nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna cukup menetap selama waktu yang singkat
setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesi dapat menyebabkan terhambatnya
pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal (Bobak, dkk., 2005).

Terdapat adanya pembatasan pada asupan nutrisi dan cairan yang dapat menyebabkan
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit serta akan menimbulkan keterlambatan
pemulihan fungsi tubuh (Bobak, 2010)

2.5 ADAPTASI ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN PADA IBU MASA
NIFAS

PENGERTIAN SISTEM ENDOKRIN

Sistem endokrin adalah sistem iastol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan
iastol yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk memengaruhi organ-organ
lain. Hormon bertindak sebagai “pembawa pesan” dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai
sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan “pesan” tersebut menjadi suatu
tindakan. (Wikipedia)

ADAPTASI FISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN PADA IBU MASA NIFAS

Hormon kehamilan mulai menurun segera setelah plasenta keluar. Turunnya estrogen dan
iastole ia menyebabkan peningkatan prolaktin dan menstimulasi air susu ( Sari, 2014)

Hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat setelah


persalinan dan menetap sampai 10 % dalam tiga jam hingga hari ketujuh postpartum.
Pada wanita menyusui kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah
melahirkan. Setelah persalinan kadar estrogen menurun 10% dalam kurun waktu tiga
jam. Progesteron turun pada hari ketiga postpartum kemudian digantikan dengan
peningkatan iastol prolaktin dan prostaglandin yang berfungsi sebagai pembentukan
ASI (Nugroho, dkk., 2014)

Menurut Astutik (2015) Kadar estrogen menurun 10% dalam waktu sekitar 3 jam
nifas. Progesteron turun pada hari ke 3 nifas. Kadar prolaktin dalam darah berangsur-
angsur hilang.

16
d) HORMON PLASENTA

Human Chorionik Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10%
dalam 3 jam hingga hari ke-7 masa nifas.

b) HORMON OKSITOSIN

Oksitosin dikeluarkan dari hipotalamus posterior, untuk merangsang kontraksi otot uterus
berkontraksi dan pada payudara untuk pengeluaran air susu.

c) HORMON PITUITARI

Prolaktin dalam darah meningkat dengan cepat, pada wanita yang tidak menyusui menurun
dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu
ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

d) HIPOTALAMIK PITUITARI OVARIUM

Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi lamanya mendapatkan
menstruasi. Diantara wanita laktasi sekitar 15% menstruasi setelah 12 minggu. Diantara
wanita yang tidak laktasi 40% menstruasi setelah 6 minggu, 65% setelah 12 minggu dan 90%
setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita
yang tidak laktasi 50% siklus pertama anovulasi.

Menurut (Saleha, 2013) selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada
sitem endokrin, terutama pada hormone-hormon yang berperan dalam proses tersebut.

d) OKSITOSIN

Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Selama tahap ketiga persalinan,
hormone oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi,
sehingga mencegah perdarahan.

d) PROLAKTIN

Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar iastole bagian belakang


untuk mengeluarkan prolactin, iastol ini berperan dalam pembesaran payudara untuk
merangsang produksi susu.

17
d) ESTROGEN DAN PROGESTERON

Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun mekanismenya secara penuh belum
dimengerti. Diperkirakan bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar iastol
antidiuretic yang meningkatkan volume darah. Disamping itu, progesterone
mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh
darah.

Sistem Endokrin Kelenjar tiroid akan mengalami perbesaran hingga 15,0 ml pada saat
persalinan akibat dari iastole ia kelenjar dan peningkatan vaskularisasi (Romauli,2013)

2.6 ADAPTASI ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM HEMATOLOGI PADA IBU


MASA NIFAS

PENGERTIAN HEMATOLOGI

adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah, organ pembentuk darah, dan
penyakitnya. Asal katanya dari bahasa Yunani haima artinya darah

ADAPTASI FISIOLOGI SISTEM HEMATOLOGI PADA IBU MASA NIFAS

Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta iasto-
faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama masa nifas, kadar fibrinogen
dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah lebih mengental dengan meningkatnya
viskositas sehingga meningkatkan factor pembekuan darah. Penurunan volume dan
peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit
dan hemoglobin pada hari ke 3-7 masa nifas dan akan kembali normal dalam 4-5
minggu masa nifas (Astutik, 2015).

Leukosit akan tetap tinggi jumlahnya selama beberapa hari pertama masa postpartum.
Jumlah sel-sel darah putih tersebut masih bisa naik lebih tinggi hingga 25.000-30.000
tanpa adanya kondisi patologis jika wanita mengalami persalinan lama. Biasanya
terdapat suatu penurunan besar kurang lebih 1500 ml dalam jumlah darah keseluruhan selama
kelahiran dan masa nifas ( Saleha 2013 )

Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma, serta iasto-
faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama postpartum, kadar fibrinogen
dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah lebih mengental dan terjadi

18
peningkatan viskositas sehingga meningkatkan iasto pembekuan darah. Leukositosis
yang meningkat dengan jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama proses
persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari post partum. Jumlah sel darah tersebut
masih dapat naik lagi sampai 25.000 – 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita
tersebut mengalami persalinan yang lama. Hal ini dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi
wanita tersebut. Jumlah Hb, Hmt, dan eritrosit sangat bervariasi pada saat awal – awal masa
post partum sebagai akibat dari volume darah, plasenta, dan tingkat volume darah yang
berubah-ubah. Semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita
tersebut. Selama kelahiran dan post partum, terjadi kehilangan darah sekitar 200-500 ml.
Penurunan volume dan peningkatan Hmt dan Hb pada hari ke-3 sampai hari ke-7 postpartum,
yang akan kembali normal dalam 4-5 minggu postpartum (Sulistyawati, 2015: 82)

Pada awal postpartum, jumlah hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit sangat bervariasi.
Hal ini disebabkan volume darah, volume plasenta, dan tingkat volume darah yang
berubah – ubah. Tingkatan ini dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi dari wanita
tersebut (Nugroho, dkk., 2014)

2.7 ADAPTASI ANATOMI DAN FISIOLOGI TANDA – TANDA VITAL PADA IBU
MASA NIFAS
Tanda-tanda vital (juga dikenal sebagai tanda vital ) adalah kelompok dari empat hingga
enam tanda medis paling penting yang menunjukkan status fungsi vital tubuh (menopang
hidup). Pengukuran ini dilakukan untuk membantu menilai kesehatan fisik umum seseorang,
memberikan petunjuk kemungkinan penyakit, dan menunjukkan kemajuan menuju
pemulihan. Kisaran normal untuk tanda-tanda vital seseorang bervariasi sesuai dengan usia,
berat badan, jenis kelamin, dan kesehatan secara keseluruhan.(Wikipedia)
Menurut Departemen Kesehatan RI, (1994) perubahan tanda-tanda vital pada masa nifas
diantaranya adalah:
1) SUHU BADAN
Satu hari (24 jam) postpartum suhu badan akan naik sedikit (37,5 0C-38 0C) sebagai akibat
kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Pada hari ketiga suhu badan
naik lagi karena adanya pembentukan air susu ibu (ASI), buah dada menjadi bengkak,
berwarna merah karena banyaknya ASI (Anggraini, 2010).
2) DENYUT NADI

19
Setelah persalinan jika ibu dalam keadaan istirahat penuh, denyut nadi sekitar 60 x / menit
dan terjadi terutama pada minggu pertama masa nifas. Frekuensi nadi normal 60-80 x / mnit
(Astutik, 2015).
3) TEKANAN DARAH
Tekanan darah <140 mmHg dan bisa meningkat dari sebelum persalinan sampai 1-3 hari
masa nifas (Astutik, 2015).
4) RESPIRASI
Respirasi/pernapasan umumnya lambat atau normal, karena ibu dalam keadaan pemulihan
atau keadaan istirahat. Pernapasan yang normal setelah persalinan adalah 16-24 x / menit
atau rata-rata 18 x / menit (Astutik, 2015).
Beberapa perubahan tanda – tanda vital bisa terlihat jika wanita dalam keadaan normal.
Peningkatan tekanan darah sistol maupun iastole dapat timbul dan berlangsung sekitar
empat hari setelah melahirkan. Fungsi pernapasan kembali ke fungsi saat wanita tidak hamil
pada bulan keenam setelah wanita melahirkan (Bobak, dkk., 2005)

PERUBAHAN TANDA-TANDA VITAL MENURUT (SUHERNI, 2010)

1) SUHU BADAN

Dua puluh empat (24) jam postpartum suhu badan akan naik seidkit (37,5°C-38°C) sebagai
akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan, apabila dalam keadaan
normal suhu badan akan biasa lagi. Pada hari ketiga suhu badan akan naik lagi karena ada
pembentukan ASI.

2) DENYUT NADI

Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang
melebihi 100 adalah abnormal dan hal ini mungkin disebabkan oleh infeksi atau perdarahan
postpartum yang tertunda.

3) TEKANAN DARAH

Biasanya tidak merubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan
karena ada perdarahan.

4) PERNAPASAN

20
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Apabila suhu
dan denyut nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya kecuali ada gangguan
khusus pada saluran pernafasan.

PERUBAHAN TANDA-TANDA VITAL MENURUT (ASTUTUIK, 2015) PADA


MASA NIFAS

1) SUHU BADAN

Sekitar hari ke-4 setelah persalinan suhu ibu mungkin naik sedikit, antara 37,2 ºC -37,5ºC.
Kemungkinan disebabkan karena ikutan dari aktivasi payudara. Bila kenaikan mencapai 38ºC
pada hari ke-2 sampai hari-hari berikutnya, perlu diwaspadai adanya infeksi atau sepsis masa
nifas

2) DENYUT NADI

Setelah persalinan jika ibu dalam keadaan istirahat penuh, denyut nadi sekitar 60x/ menit dan
terjadi terutama pada minggu pertama masa nifas.Frekuensi nadi normal yaitu 60-
80x/menit.Denyut nadi masa nifas umumnya lebih stabil dibandingkan suhu badan. Pada ibu
yang nervous , nadinya akan lebih cepat kira-kira 110x/menit, bila disertai peningkatan suhu
tubuh bisa juga terjadi shock karena infeksi.

3) TEKANAN DARAH

Tekanan darah <140 mmHg, dan bisa meningkat dari sebelum persalinan sampai 1-3 hari
masa nifas. Bila tekanan darah menjadi rendah perlu diwaspadai adanya perdarahan pada
masa nifas. Sebaliknya bila tekanan darah tinggi, hal merupakan salah satu petunjuk
kemungkinan adanya pre-eklamsi.

4) RESPIRASI

Respirasi/pernafasan umumnya lambat atau normal, karena ibu dalam keadaan pemulihan
atau keadaan istirahat.Pernafasan yang normal setelah persalinan adalah 16-24x/menit atau
rata-ratanya 18x/menit Bila respirasi cepat pada masa nifas (>30x/menit), kemungkinan
adanya shock.

21
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput
yang diperlukan memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan
waktu kurang lebih 6 minggu (Walyani & Purwoastuti,2015)

TAHAPAN MASA NIFAS DI BAGI MENJADI 3 YAITU

PUERPERIUM DINI

yaitu kepulihan ketika ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta beraktivitas
layaknya wanita normal. (Walyani & Purwoastuti, 2015)

PUERPERIUM INTERMEDIAL

Yaitu, kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya sekitar 6-8 minggu
(Walyani & Purwoastuti, 2015)

REMOTE PUERPERIUM

Yaitu, waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama
hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi (Walyani & Purwoastuti, 2015)

22
ADAPTASI FIOLOGI ENDOMETRIUM SELAMA MASA NIFAS

Perubahan pada endometrium adalah timbulnya thrombosis, degenerasi, dan nekrosis di


tempat implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai
permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua, dan selaput janin. Setelah tiga hari
mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi plasenta.
(Saleha 2013)

ADAPTASI FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN PADA MASA NIFAS

Diperlukan waktu 3- 4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar iastole ia
menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama
satu atau dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum
melahirkan diberikan enema. Rasa sakit di daerah perineum dapat menghalangi keinginan
untuk buang air besar (BAB) sehingga pada masa nifas sering timbul keluhan konstipasi
akibat tidak teraturnya BAB (Astutik, 2015).

ADAPTASI FISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN PADA MASA NIFAS

Hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat setelah


persalinan dan menetap sampai 10 % dalam tiga jam hingga hari ketujuh postpartum.
Pada wanita menyusui kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah
melahirkan. Setelah persalinan kadar estrogen menurun 10% dalam kurun waktu tiga
jam. Progesteron turun pada hari ketiga postpartum kemudian digantikan dengan
peningkatan iastol prolaktin dan prostaglandin yang berfungsi sebagai pembentukan
ASI (Nugroho, dkk., 2014)

ADAPTASI FISIOLOGI HEMATOLOGI PADA MASA NIFAS

Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta iasto-
faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama masa nifas, kadar fibrinogen
dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah lebih mengental dengan meningkatnya
viskositas sehingga meningkatkan factor pembekuan darah. Penurunan volume dan
peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit
dan hemoglobin pada hari ke 3-7 masa nifas dan akan kembali normal dalam 4-5
minggu masa nifas (Astutik, 2015).

ADAPTASI FISIOLOGI TANDA-TANDA VITAL PADA MASA NIFAS

23
PERUBAHAN TANDA-TANDA VITAL MENURUT (ASTUTUIK, 2015) PADA
MASA NIFAS

1) SUHU BADAN

Sekitar hari ke-4 setelah persalinan suhu ibu mungkin naik sedikit, antara 37,2 ºC -37,5ºC.
Kemungkinan disebabkan karena ikutan dari aktivasi payudara. Bila kenaikan mencapai 38ºC
pada hari ke-2 sampai hari-hari berikutnya, perlu diwaspadai adanya infeksi atau sepsis masa
nifas

2) DENYUT NADI

Setelah persalinan jika ibu dalam keadaan istirahat penuh, denyut nadi sekitar 60x/ menit dan
terjadi terutama pada minggu pertama masa nifas.Frekuensi nadi normal yaitu 60-
80x/menit.Denyut nadi masa nifas umumnya lebih stabil dibandingkan suhu badan. Pada ibu
yang nervous , nadinya akan lebih cepat kira-kira 110x/menit, bila disertai peningkatan suhu
tubuh bisa juga terjadi shock karena infeksi.

3) TEKANAN DARAH

Tekanan darah <140 mmHg, dan bisa meningkat dari sebelum persalinan sampai 1-3 hari
masa nifas. Bila tekanan darah menjadi rendah perlu diwaspadai adanya perdarahan pada
masa nifas. Sebaliknya bila tekanan darah tinggi, hal merupakan salah satu petunjuk
kemungkinan adanya pre-eklamsi.

4) RESPIRASI

Respirasi/pernafasan umumnya lambat atau normal, karena ibu dalam keadaan pemulihan
atau keadaan istirahat.Pernafasan yang normal setelah persalinan adalah 16-24x/menit atau
rata-ratanya 18x/menit Bila respirasi cepat pada masa nifas (>30x/menit), kemungkinan
adanya shock.

SARAN

Sebagaimana kami sebagai penyusun makalah ini mengharapkan kepada pembaca untuk
memberikan kritik dan saran terhadap hasil kerja kelompok kami yang berjudul “ Adaptasi
Anatomi Dan Fisiologi Pada Masa Nifas ” khususnya dalam materi adaptasi anatomi fisiologi
endometrium pada masa nifas, anatomi fisiologi sistem pencernaan pada masa nifas, adaptasi
fisiologi sistem endokrin pada masa nifas, hematologi dan tanda-tanda vital. karena kritik dan

24
saran dari pembaca makalah ini dapat membuat makalah ini menjadi lebih baik lagi. Akhir
kata kami ucapkan terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

1. Simangunsong, Caroline.2016. Asuhan Kebidanan Pada Ny. R Masa Hamil Sampai


Dengan Pelayanan Keluarga Berencana Di Klinik Pratama Vina Medan. Skripsi.
Medan : Diploma. Poltekes Kemenkes RI Medan Jurusan Kebidanan Prodi D.III
Kebidanan.Medan.
(online).http://repo.poltekkesmedan.ac.id/jspui/bitstream/123456789/1833/1/LTA
%20DARMIKA.pdf.
2. Seprilla, Pindi.2016. Asuhan Kebidanan Pada Ny. I Masa Hamil Sampai Dengan
Pelayanan Keluarga Berencana Di Bidan Praktek Mandiri (BPM) HJ. Rukni Lubis
Jalan Luku I Medan Johor.Laporan Tugas Akhir. Medan : Diploma. Poltekes
Kemenkes RI Medan Jurusan Kebidanan Prodi D III Kebidanan. Medan. (online)
http://ecampus.poltekkesmedan.ac.id/jspui/bitstream/123456789/1808/1/PINDI
%20SEPRILLA.pdf.
3. Purba,Helen.2016. Asuhan Kebidanan Pada Ny. J Masa Hamil Sampai Dengan
Pelayanan Keluarga Berencana Di Klinik Bersalin Dina Bromo Ujung.Skripsi. Medan
:Diploma. Poltekes Kemenkes RI Medan Jurusan Kebidanan Prodi D.III
Kebidanan.Medan.
(online)http://repo.poltekkesmedan.ac.id/jspui/bitstream/123456789/1813/1/LTA
%20HELEN.pdf.
4. Wulandari,Dewi.2017.Asuhan Keperawatan & Kebidanan Pada Ibu Nifas.Fakultas
IlmuKesehatan(online).(http://repository.ump.ac.id/3900/3/DEWI%20INDAH
%20WULANDARI%20BAB%20II.pdf),diakses (13 Maret 2017).

25
5. Fahrumnisa, Aulia.2020.Efek Antifertilitas Ekstrak Kunyit (Curcuma Longa L )
Terhadap Ketebalan Lapisan Endometrium Tikus Putih Betina (Rattus norvegicus)
Galur Spargue Dawley.Skripsi.Bandar Lampung : Sarjana Kedokteran.Fakultas
kedokteranuniversitaslampungBandarLampung.
(online).http://digilib.unila.ac.id/60648/3/SKRIPSI%20TANPA%20BAB
%20PEMBAHASAN.pdf.
6. Rahmadani, Suci. 2018. Asuhan Kebidanan Pada Ny. S Masa Hamil Sampai Dengan
Masa Nifas Dan Keluarga Berencana Di Klinik HJ. Khaifah Jl. Menteng II
No.92,Kecamatan Medan Area.Laporan Tugas Akhir.Medan : Diploma. Poltekes
Kemenkes RI Medan Jurusan Kebidanan Prodi D III Kebidanan. Medan.(online)
http://ecampus.poltekkesmedan.ac.id/jspui/bitstream/123456789/1269/1/P0752411511
2%20LTA%20SUCI%20RAHMADANI.pdf.

26
27