Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KOMUNIKASI NON VERBAL DAN

KOMUNIKASI ORGANISASI

Disusun oleh :

1. DARA SAKINAHTUL DIPA NIM : 193302080012

2. JULIA IN GLORY GULO NIM : 193302080016

3. INGGRIANI BIDAYA NIM : 193302080037

4. SANTALIA SIMATUPANG NIM : 193302080006

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI S - 1 KEBIDANAN

UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA

1
TAHUN 2019/2020

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunia –Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah kami dengan tepat waktu yang berjudul :
“Komunikasi Non Verbal Dan Komunikasi Organisasi’’. Harapan kami sebagaimana penyusun
adalah agar pembaca dapat memahami tentang bagaimana cara kita ber komunikasi non verbal &
ber komunikasi dalam organisasi. dan tidak lupa pula kami ingin mengucapkan rasa terima kasih
kami kepada dosen kami yang bernama ibuk Harauly LL Manulu,SST,MKM yang telah
membimbing kami dalam menyusun makalah ini menjadi lebih baik. Kami menyadari
sepenuhnya dalam menyusun makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik dalam
sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa. Kami berharap semoga dengan adanya
makalah ini dapat menambah ilmu wawasan kita mengenai bagaimana cara kita berkomunikasi
non verbal dan komunikasi dalam organisasi Akhir kata kami mengucapkan terima kasih.

Medan, 14 Maret 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 4


1.2 Rumusan Masalah 5
1.3 Tujuan 5
1.4 Manfaat 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi Non Verbal
2.1.1 Pengertian Komunikasi Non verbal
2.1.2 Fungsi Komunikasi Non verbal
2.1.3 Tujuan Komunikasi Non verbal
2.1.4 Karakteristik Komunikasi Non verbal
2.1.5 Contoh Komunikasi Non Verbal
2.2 Komunikasi Organisasi
2.2.1 Definisi Komunikasi Organisasi
2.2.2 Fungsi Komunikasi Organisasi
2.2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Organisasi
Contoh Komunikasi Organisasi

BAB III PENUTUP

3
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan bersosialisasi. Mengapa
demikian, karena dengan adanya komunikasi kita dapat mengerti apa yang dikatakan oleh
lawan bicara kita. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai komunikasi non verbal
& komunikasi organisasi. Seperti yang kita ketahui 2 contoh komunikasi ini sering kita
gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti komunikasi non verbal, dalam
komunikasi non verbal kita sering menggunakan komunikasi pada saat kita tidak ingin
berbicara dan kita hanya menggunakan bahasa tubuh saja inilah yyang dimaksud dengan
komunikasi non verbal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi non verbal ?
2. Apa Fungsi dari komunikasi Non verbal?
3. Apa tujuan dari komunikasi non verba?
4. Apa saja karakteristik dari komunikasi non verbal?
5. Apa saja contoh dari komunikasi non verbal ?
6. Apa yang dimaksud dengan komunikasi organisasi ?
7. Apa fungsi dari komunikasi organisasi?
8. Apa saja faktor yang mempengaruhi komunikasi
organisasi?
9. Apa saja contoh dari komunikasi organisasi ?
1.3 Tujuan
1. Agar pembaca dapat mengerti apa yang dimaksud dengan
komunikasi non verbal.

4
2. Agar pembaca dapat memahami fungsi dari komunikasi
non verbal.
3. Agar pembaca dapat memahami apa tujuan dari
komunikasi non verbal.
4. Agar pembaca dapat memahami karakteristik dari
komunikasi non verbal.
5. Agar pembaca dapat mengetahui contoh dari komunikasi
non verbal.
6. Agar pembaca dapat mengerti apa yang dimaksud dengan
komunikasi organisasi.
7. Agar pembaca dapat mengetahui fungsi dari komunikasi
organisasi.
8. Agar pembaca dapat mengetahui faktor apa saja yang
mempengaruhi komunikasi organisasi.
9. Agar pembaca dapat mengetahui contoh dari komunikasi
organisasi.
1.4 Manfaat
Manfaat kami membuat makalah tentang komunikasi non verbal dan komunikai organisasi
adalah supaya pembaca makalah ini dapat mengetahui bagaimana cara komunikasi
menggunakan komunikasi non verbal & komunikasi organisasi dan untuk menambah
wawasan pembaca mengenai topik ini.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KOMUNIKASI NON VERBAL


2.1.1 PENGERTIAN KOMUNIKASI NON VERBAL
Komunikasi non verbal adalah proses yang dijalani oleh seseorang individu atau lebih
pada saat menyampaikan isyarat-isyarat nonverbal yang memiliki potensi untuk
merangsang makna dalam pikiran individu atau individu-individu lain.(Andriana,
Pemahaman, h.118.)
Komunikasi nonverbal juga dapat diartikan sebagai penciptaan dan pertukaran pesan
dengan tidak menggunakan kata-kata, komunikasi ini menggunakan gerakan tubuh,
sikap tubuh, intonasi nada (tinggi-rendahnya nada), kontak mata, ekspresi muka,
kedekatan jarak, dan sentuhan-sentuhan. Dapat juga dikatakan bahwa komunikasi
nonverbal adalah semua kejadian di sekeliling situasi komunikasi yang tidak
berhubungan dengan kata-kata yang diucapkan atau dituliskan dan meliputi semua
stimulus nonverbal yang dalam setting komunikatif digeneralisasikan oleh individu dan

6
lingkungan individu yang memakainya.(Alo Lili Weri, Makna Budaya dalam
Komunikasi Antar Budaya (Yogyakarta: Lkis, 2007), h. 177)
Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di
luar kata-kata terucap dan tertulis walau tidak terdapat kesepakatan tentang proses
nonverbal ini, kebanyakan ahli setuju bahwa hal-hal berikut mesti dimasukkan seperti
isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, postur, gerakan tubuh, sentuhan, pakaian,
artefak, diam, ruang, waktu dan suara. (Deddy Mulyana, Komunikasi Antar Budaya
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003), h.12)
2.1.2 FUNGSI KOMUNIKASI NON VERBAL
Komunikasi nonverbal dapat menjalankan sejumlah komunikasi penting. Periset
nonverbal mengidentifikasi enam fungsi utama komunikasi nonverbal sebagai berikut:
a. Untuk mengulangi perilaku verbal, misalnya menganggukkan kepala ketika
mengatakan “ya”.
b. Untuk menekankan atau melengkapi, komunikasi nonverbal digunakan untuk
menonjolkan atau menekankan beberapa bagian dari pesan verbal. Misalnya saja
tersenyum untuk menekankan suatu hal tertentu.
c. Untuk menggantikan, misalnya mengatakan “oke” dengan tangan tanpa berkata apa apa
yang dapat digantikan dengan menganggukkan kepala untuk mengatakan “ya” atau
menggelengkan kepala untuk mengatakan “tidak.”
d. Untuk meregulasi perilaku verbal, contohnya mengerutkan bibir, mencondongkan badan ke
depan, atau membuat gerakan tangan untuk menunjukkan bahwa anda ingin mengatakan
sesuatu.
e. Untuk menunjukkan kontradiksi, pesan verbal dapat bertentangan dengan gerakan
nonverbal. Sebagai contoh, anda dapat menyilangkan jari anda atau mengedipkan mata
untuk menunjukkan bahwa yang anda katakan adalah tidak benar.(Mulyana, Ilmu
Komunikasi, h.314.)
JALALUDDIN RAHMAT menjelaskan bahwa komunikasi non verbal memiliki
beberapa fungsi, yaitu:
a. REPETISI

7
Di sini komunikasi non verbal memiliki fungsi untuk mengulang kembaligagasan yang
disajikan secara verbal. Misalnya setelah seseorang menjelaskan penolakannya terhadap
suatu hal ia akan menggelengkan kepalanya berulang kaliuntuk menjelaskan penolakannya.
b. SUBSTITUSI
Di sini komunikasi non verbal memiliki fungsi untuk menggantikanlambang-lambang
verbal.Misalnya seseorang memuji sesuatu hanya denganmengacungkan jempol tanpa
menggunakan sepatah kata.
c. KONTRADIKSI
Kontradiksi dapat terjadi ketika pesan verbal dan nonverbal bertentangan.Seringkali fungsi
ini terjadi secara tidak sengaja.Fungsi kontradiksiini biasanya digunakan pada saat
menyindir atau humor.Pesan verbalnyamenyatakan satu makna, tetapi bahasa nonverbalnya
menyatakan perasaan yangdirasakan sebenarnya.Seperti misalnya seseorang memuji prestasi
temannyatetapi sambil mencibirkan bibir.
d. KOMPLEMEN
Di sini komunikasi nonverbal memiliki fungsi untuk melengkapi pesanverbal.Tetapi
komplemen berbeda dengan subtitusi. Verbal dan kode nonverbalsaling menambahkan
makna satu sama lain. Nada suara, gestur dan gerakantubuh dapat mengindikasikan perasaan
seseorang yang melengkapi pesan 6 verbal.Misalnya raut muka seseorang menunjukkan
tingkat penderitaan yangtidak terungkap dengan kata-kata.
e. AKSENTUASI
Menegaskan pesan verbal atau menggaris bawahinya.Misalnya seseorangmengungkapkan
kejengkelannya sambil memukul mimbar atau meja.
f. REGULASI
Regulasi Pada fungsi ini komunikasi nonverbal bertugas untuk memonitordan mengontrol
ketika berinteraksi dengan seseorang.Contohnya seperti padasaat memberikan kontak mata
ketika berbicara dengan seseorang.Selain itu komunikasi nonverbal juga mempunyai fungsi
metakomunikatifyang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas
tinggi.Yaitumemberikan informasi tambahan yang memperjelas maksud dan makna pesan.
2.1.3 TUJUAN KOMUNIKASI NON VERBAL
1. Meyediakan atau memberikan informasi.
2. Mengatur alur suatu percakapan.

8
3. Mengekspresikan suatu emosi.
4. Memberi sifat, melengkapi, menentang atau mengembangkan pesan- pesan verbal.
5. Mengendalikan atau mempersuasi orang lain.
6. Mempermudah tugas-tugas khusus, misalnya dalam mengajar seseorang untuk melakukan
serve badminton, belajar golf dan sejenisnya.
2.1.4 KARAKTERISTIK KOMUNIKASI NON VERBAL
Tanda-tanda komunikasi non verbal itu ambigu.Tidak ada kamus yang mengklarifikasi
semua tanda non verbal karena semua tanda non verbal itu tidak mempunyai makna
denotatif, yang ada hanyalah makna konotatif yang ditentukan oleh faktor
kebudayaan pemakainya. Selain tergantung dengan latar belakang budaya, pemahaman
atas pesan non verbal sangat tergantung pada tujuan pesan nonverbal,
7. konteks, dan derajat interaksi antar peserta komunikasi. Misalnnya anggukan kepala dalam
suatu budaya bisa dianggap setuju, namun dalam budaya lain mungkin berarti
“ saya mengerti yang anda katakana”. Gelengan kepala bisa berarti tidak setuju, tapi
mungkin bisa berarti “ saya tidak mengerti mengapa semua itu bisa terjadi”. Hal
tersebutlah yang menyimpulkan bahwa pesan-pesan non verbal itu bersifat ambigu

Menurut Jerry W. Koehler (1981:53). Kita dapat berkerjasama lebih baik jika kita mampu
mengenali dan merespon dengan tepat terhadap komunikasi non verbal. Dengan menjadi
lebih jeli postur, ekspresi wajah, penggunaan ruang pribadi, pengaturan ruang, penggunaan
waktu, dan isyarat non verbal yang sama kita bisa menjadi lebih efektif dalam pertukaran
pesan dalam organisasi.
KINESICS
Bidang yang menelaah bahasa tubuh adalah kinesika (kinesics), suatu istilah yang
diciptakan seorang perintis studi bahasa non verbal, Ray L.Birdwhistell.Setiap anggota
tubuh dapat digunakan sebagai isyarat simbolik karena semua anggota tubuh kita senantiasa
bergerak. Dalam bahasa tubuh terdapat isyarat tangan, gerakan kepala, postur tubuh dan
gerakan kaki, danekspresi wajah dan tatapan mata dan sebagainya.
Gerakan tubuh memberitahu kita bagaimana orang berurusan dengan perasaan mereka pada
saat tertentu, sedangkan ekspresi wajah mereka mungkin menunjukkan perasaan mereka
sendiri. Meskipun gerakan tubuh menawarkan isyarat yang dapat diartikan gerakan ini

9
tergantung pada kepekaan kita terhadap diri kita sendiri bagaimana kita biasanya berperilaku
ketika kita merasa marah, gembira, takut, tidak aman, dan sebagainya
KINESTETIK MEMPUNYAI 3 KOMPONEN PENUNJANG, ANTARA LAIN :
1) Pesan fasial (wajah) Pesan ini menggunakan air muka untuk menyampaikan maknatertentu.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapatmenyampaikan paling sedikit sembilan
kelompok makna, diantaranyaadalah: kebahagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kesedihan,
kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban dan tekad.Leathers 1997 menyimpulkan
penelitian tentang wajah sebagai berikut:
a) Wajah mengkomunikasikan penilaian tentang ekspresi senang dantak senang yang
menunjukkan komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk.
b) Wajah mengkomunikasikan minat seseorang kepada orang lainatau lingkungan.
c) Wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pertanyaan sendiri.
d) Wajah barangkali mengkomunikasikan adanya kekurangan ataukelebihan
pengertian.Barangkali elemen muka yang memberikan pengaruh yang kuatdalam
berkomunikasi adalah mata. Dari pandangan mata dapat diketahui bagaimana sikap
seseorang apakah dia siap untuk berinteraksi apakah berminat atau memperhatikan pesan
yang disampaikan atau tidak. Ada situasi tertentu di mana tatapan mata sebagai pilihan
artinya dapat dilakukan dan dapat tidak. Misalnya bila seorang pembicara menanyakan
pertanyaan pada sejumlah orang banyak, tiap orang dari kelompok tersebut boleh
memilih untuk melihat pembicara atau tidak. Dalam situasi demikian non verbal dibaca
sebagai ekspresi minat dansebagai suatu kemauan atau keinginan terhadap janji verbal.
2) PESAN GESTURAL
Menunjukkan gerakan sebagian badan seperti mata dan tangan untukmengkomunikasikan
berbagai makna, menurut Galloway, pesan ini berfungsi untuk mengungkapkan:
a) Mendorong atau membatasi
b) Menyesuaikan atau mempertentangkan
c) Responsive atau non responsive
d) Perasaan positive atau negative
e) Memperhatikan atau tidak memperhatikan
f) Melancarkan atau tidak reseptif
g) Menyetujui atau menolak

10
Pesan gestural yang mempertentangkan terjadi bila pesan gesturalmemberikan arti lain
dari pesan verbal atau pesan lainnya. Pesangestural tak responsive menunjukan gesture
yang ada kaitannya,negative menunjukan sikap dingin, merendahkan atau
menolak.Takresponsive mengabaikan permintaan untuk bertindak.

3) PESAN POSTURAL
Berkaitan dengan seluruh anggota badan, Mehrabian menyebutkan tiga makna yang
dapat disampaikan postural.
a) IMMEDIACY
Merupakan ungkapan kesukaan atau ketidaksukaan terhadap individu yang lain. Postur
tubuh yang condong ke arah lawan bicara menunjukan kesukaan dan penilaian positif.
b) POWER

Mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator.

c) RESPONSIVENESS
Individu mengkomunikasikan nya bila ia bereaksi secara emosional pada lingkungan nya
baik positif maupun negatif.
4) SENTUHAN / HAPTIK
Biasanya sentuhan ini melalui sensitivitas kulit. Sepertihal nya orang yang marah ia akan
mencubit keras, ungkapan rasa sayang, keakraban dan lain-lain. Smith melaporkan berbagai
perasaan yang dapat disampaikan perasaan dan yang paling biasa dikomunikasikan sentuhan ada
lima, yaitu: Tanpa perhatian, kasih sayang, takut, marah dan bercanda. Budaya bervariasi banyak
dalam sikap mereka untuk sentuhan.Sentuhan efektif untuk mendapatkan perhatian seseorang
dan data mendorong orang untuk mengungkapkan informasi lebih banyak dari yang mereka
miliki.
Studi tentang sentuh-menyentuh disebut haptika (haptics). Kenyataan sentuhan ini bisa
merupakan tamparan, pukulan, cubitan, senggolan, belaian, pelukan,hingga sentuhat lembut
sekilas. Sentuhan mungkin lebih jauh bermakna dari pada kata-kata.
Menurut Heslin terdapat lima kategori sentuhan. Kategori tersebut adalah :
a. FUNGSIONAL
professional. Disini sentuhan bersifat “dingin” dan berorientasi bisnis.

11
b. SOSIAL

sopan. Perilaku dalam situasi ini membangun dan memperteguh pengharapan.

c. PERSAHABATAN

kehangatan. Kategori ini meliputi setiap sentuhan yang menandakan hubungan akrab.

d. CINTA

keintiman. Kategori ini merujuk pada sentuhan yang menyatakan ketertarkan emosional.

e. RANGSANGAN SEKSUAL.

Kategori ini berkaitan erat dengan kategori sebelumnya, hanya saja motifnya bersifat
seksual. Rangsangan seksual tidak otomatis bermakna atau keintiman.

5) KOMUNIKASI OBJEK / ARTIFAKTUAL

Pesan ini diungkapkan melalui body image, pakaian kosmetik dan lain-lain. Umumnya
pakaian kita pergunkan untuk menyampaikan identitas kita,yang berarti menunjukkan kepada
orang lain bagaimana perilaku kita dan bagaimana orang lain sepatutnya memperlakukan
kita. Selain itu pakaian juga berguna untuk mengungkapkan perasaan (misalnya pakaian
hitam berarti duka cita) dan formalitas (sandal untuk situasi informal dan batik untuk situasi
formal). Setiap orang memiliki persepsi mengenai penampilan seseorang, baik itu busananya
(model, kualitas bahan, dan warna), dan juga oranamen lain yang dipakainya seperti
kacamata, sepatu, tas, jam tangan, perhiasan, dan sebagainya. Sering kali orang memberi
makna tertentu pada karakter fisik orang yang bersangkutan seperti bentuk tubuh, warna
kulit, model rambut, dasi, ikat pinggang, perhiasan, dan sebagainya memuaskan keinginan
kita untuk perhatian. Mereka juga memenuhi.

6) OLFLAKSI

Merupakan pesan non verbal melalui penciuman hidung yang merasakan bau-bauan yang
telah dikenalnya seperti bau minyak wangi, bau bawang, makanan dan lain-lain.Bahkan
seseorang dapat mengenali bau minyak wangiyang sering dipakai oleh orang
terdekatnya.kebutuhan kita untuk diterima sebagai anggota kelompok dan untuk harga diri.

12
2.1.5 KOMUNIKASI NON VERBAL DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Terdapat beberapa contoh dari penggunaan komunikasi nonverbal dalam kehidupan sehari-
hari, yaitu sebagai berikut:

1. Nada suara lemah lembut


berarti ada kehangatan dan sebaliknya nada suara keras berarti bersifat dingin.
2. Senyuman dann menaruh perhatian
sebagai tanda adanya sikap hangat, sebaliknya wajah yang berkerut dan tidak enaruh minat
adalah tanda dari sikap dingin.
3. Anggukan kepala/badan, relaks
sebagai tanda kehangatan dan gerakan menjauh,tegang, sikap kebalikannya sebagai tanda
sikap dingin.
4. Tatapan mata secara langsung
sebagai tanda adanya kehangatan dansebaiknya adalah mengelak bertatapan muka.

5. Sentuhan halus tanda

adanya sikap kehangatan dan sebaliknya adalahdenganmengelak sentuhan.

6. Gerakan tubuh dengan aba-aba terbuka,

mengandung arti senang dan hangat,sebaliknya gerakan yang diawali dengan aba-aba
mempertahankan diri dan menjauh adalah tanda dari adanya sikap dingin.

7. Gerakan yang mempersempit jarak

adalah tanda adanya sikap hangat, sedangkan gerakan yang memperbesar jarak adalah tanda
dari adanya sikap dingin.

2.2 KOMUNIKASI ORGANISASI

2.2.1 DEFINISI KOMUNIKASI ORGANISASI

13
Komunikasi organisasi adalah suatu komunikasi yang terdiri dalam suatu organisasi tertentu.

Kalau dalam organisasi dikenal adanya struktur formal dan informal maka dalam

komunikasinya yang kiranya juga amat penting dikemukakan sebagai unsur kontinum yang

ketiga ialah komunikasi antarpribadi (Prasetya, 2011).

2.2.2 FUNGSI KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

Sendjaja (2004) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:

1. FUNGSI INFORMATIF

Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemprosesan informasi. Maksudnya, seluruh

anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak,

lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi

dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen

membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi

konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan

informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan

keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti, dan sebagainya.

2. FUNGSI REGULATIF

Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi.

Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu:

a. Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang

memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Juga

memberi perintah atau intruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana

semestinya.

14
b. Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja.

Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak

boleh untuk dilaksanakan.

3. FUNGSI PERSUASIF

Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa

hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang

lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang

dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar

dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.

4. FUNGSI INTEGRATIF

Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat

melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat

mewujudkan hal tersebut, yaitu: a. Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus

dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi. b. Saluran

komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja,

pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan

menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap

organisasi.

Griffin (2003) dalam A First Look at Communication Theory, membahas komunikasi

organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu bayaran pada

daya produksi, presisi, dan efisiensi. Adapun prinsip-prinsip dari teori management klasikal

adalah sebagai berikut:

 KESATUAN KOMANDO

15
suatu karyawan hanya menerima pesan dari satu atasan

 RANTAI SKALAR

garis otoritas dari atasan ke bawahan, yang bergerak dari atas sampai ke bawah untuk

organisasi; rantai ini, yang diakibatkan oleh prinsip kesatuan komando, harus digunakan

sebagai suatu saluran untuk pengambilan keputusan dan komunikasi.

 DIVISI PEKERJAAN

manegement perlu arahan untuk mencapai suatu derajat tingkat spesialisasi yang dirancang

untuk mencapai sasaran organisasi dengan suatu cara efisien.

 TANGGUNG JAWAB DAN OTORITAS

perhatian harus dibayarkan kepada hak untuk memberi order dan ke ketaatan seksama; suatu

ketepatan keseimbangan antara tanggung jawab dan otoritas harus dicapai.

 DISIPLIN

ketaatan, aplikasi, energi, perilaku, dan tanda rasa hormat yang keluar seturut kebiasaan dan

aturan disetujui.

 MENGEBAWAHKAN KEPENTINGAN INDIVIDU DARI KEPENTINGAN

UMUM

melalui contoh peneguhan, persetujuan adil, dan pengawasan terus-menerus.

2.2.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI ORGANISASI

Lesikar menguraikan adanya empat faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi

organisasi yaitu meliputi :

1. komunikasi formal. Merupakan cara komunikasi yang didukung, dan mungkin

dikendalikan oleh manajer. Contohnya adalah newsletter, memo reguler, laporan, rapat

staf, dan lain-lain.

16
2. Struktur wewenang. Perbedaan status dan kekuasaan dalam organisasi membantu

menentukan siapa yang akan berkomunikasi dengan enak kepada siapa. Selain itu, isi dan

akurasi komunikasi juga dipengaruhi oleh perbedaan wewenang.

3. Spesialisasi pekerjaan. Biasanya akan mempermudah komunikasi dalam kelompok yang

berbeda-beda. Anggota suatu kelompok kerja biasanya memiliki jagron, pandangan

mengenai waktu, sasaran, tugas dan gaya pribadi yang sama.

4. Kepemilikan informasi, Setiap individu mempunyai informasi yang unik dan

pengetahuan mengenai pekerjaan mereka, yang merupakan semacam kekuasaan bagi

individu-individu yang memilikinya.

2.2.4 PENDEKATAN KOMUNIKASI ORGANISASI

Untuk melihat komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi dapat digunakan tiga

pendekatan, yaitu :

 PENDEKATAN MAKRO

Dalam pendekatan makro organisasi dipandang sebagai suatu struktur global yang berinteraksi

dengan lingkungannya. Dalam berinteraksi, organisasi melakukan aktivitas tertentu seperti :

1. Memproses informasi dan lingkungan.

2. Mengadakan identifikasi.

3. Melakukan intergrasi dengan organisasi lain.

4. Menentukan tujuan organisasi.

 PENDEKATAN MIKRO

17
Pendekatan ini terutama menfokuskan kepada komunikasi dalam unit dan sub-unit pada

suatu organisasi. Komunikasi yang diperlukan pada tingkat ini adalah komunikasi antara

anggota kelompok seperti :

1. Komunikasi untuk pemberian orientasi dan latihan.

2. Komunikasi untuk melibatkan anggota kelompok dalam tugas kelompok.

3. Komunikasi untuk menjaga iklim organisasi.

4. Komunikasi dalam mensupervisi dan pengarahan pekerjaan.

5. Komunikasi untuk mengetahui rasa kepuasan kerja dalam organisasi.

Pendekatan individual berpusat pada tingkahlaku komunikasi individual dalam organisasi.

Semua tugas-tugas yang telah diuraikan pada dua pendekatan sebelumnya diselesaikan oleh

komunikasi individual satu sama lainnya. Ada beberapa bentuk komunikasi individual :

1. Berbicara pada kelompok kerja.

2. Menghadiri dan berinteraksi dalam rapat-rapat.

3. Menulis dan mengonsep surat.

4. Berdebat untuk suatu usulan.

18