Anda di halaman 1dari 8

Reflektif, kritikal reflektif, reflektif terhadap kasus yang

telah dan sedang terjadi/ pertemuan 3 Harauly


Berpikir Kritis-Reflektif

    Berpikir kritis dalam pandangan John Dewey adalah, "berpikir


reflektif", yang artinya adalah pertimbangan yang sifatnya
aktif, persisten (terus-menerus) dan teliti, mengenai sebuah
keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja,
dengan dipandang dari sudut alasan yang mendukungnya, dan
kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya (Dewey,
1909:9).

Apa yang dimaksudkan Dewey di sini adalah, bahwa secara


essensial, berpikir kritis adalah sebuah proses aktif dengan
beberapa prinsip berpikir kritis-reflektif berikut:

 Fokus berpikir dalam diri sendiri: yaitu dengan prinsip-


prinsip: a) memikirkan sesuatu secara mendalam; b)
menghindari pelbagai hal yang datangnya dari orang lain,
yang cenderung pasif; c) mengajukan berbagai pertanyaan
dalam diri sendiri, sebagai upaya menemukan informasi yang
relevan.
 Berpikir terus-menerus dalam diri sendiri dengan teliti. Tidak
buru-buru menuju kesimpulan.
 Pikirkan apa hal-hal yang menjadi alasan untuk meyakini
sesuatu, dan implikasinya dari keyakinan-keyakinan.

    Dalam perkembangannya, muncul seorang penulis terkenal,


Edward Glaser yang mengembangkan konsep Dewey ini dengan
mendefenisikan berpikir kritis dengan tiga pengertian berikut:
1. Berpikir kritis adalah suatu sikap mau berpikir secara
mendalam tentang masalah-masalah yang berada dalam
jangkauan pengalaman seseorang.
2. Berpikir kritis adalah pengetahuan tentang metode-metode
pemeriksaan dan penalaran yang logis.
3. Berpikir kritis adalah semacam suatu keterampilan untuk
menerapkan metode-metode, yang menuntut upaya keras
untuk memeriksa setiap keyakinan atau pengetahuan
asumtif (dugaan) berdasarkan bukti pendukungnya dan
kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang diakibatkannya.

Dari apa yang didefenisikan Glaser di atas, prinsip berpikir kritis-


reflektif dapat diringkas menjadi 2 poin penting berikut ini:

 Memiliki keterampilan berpikir tertentu


 Menggunakan keterampilan itu

    Sementara itu, Robert Ennis yang merupakan pakar


perkembangan tradisi berpikir kritis, menegaskan bahwa berpikir
kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif, yang
bertugas untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya dan
dilakukan. Prinsip-prinsip utama dari berpikir kritis menurut
pengertian Robert Ennis ini adalah, masuk akal, reflektif (aktif
danpresisten), dan mengambil keputusan.

     Berdasarkan pengertian dan prinsip-prinsip berpikir kritis para


ahli di atas, maka berpikir kritis-reflektif adalah berpikir secara
terus-menerus dan mendalam, demi mencapai keterampilan
berpikir tertentu, untuk dapat mengambil suatu keputusan yang
tepat. Dan didalam berpikir kristis-relektif ini, dapat dilakukan
dengan prinsip-prinsipnya seperti:
 Fokus berpikir dalam diri sendiri---mediasi diri
 Essensial (aktif dan resisten)---terus menerus dan teratur
 Menghindari masukan negatif yang pasif
 Meyakini hal yang masuk akal---wajar
 Mengajukan pertanyaan-pertanyan positif
 Tidak terburu-buru memutuskan---pertimbangan matang
 Mengambil keputusan---memutuskan dengan cara terampil

Contoh:

     Ada sebuah habitat persahabatan di sudut kota Kupang.


Mereka terdiri dari tiga sahabat. Satu bernama Hitam. Dinamakan
hitam, karena memang kulitnya sedikit gelap. Tapi Hitam itu pasti
manis. Karena dimana-mana yang namanya hitam, pasti manis.
Sahabat satunya lagi bernama Putih. Kulitnya memang putih dan
raut wajahnya tampan. Sementara yang satunya bernama Pink. Ia
memang suka warna pink. Pink ini sangat cantik dan ayu. Kulitnya
putih dan mulus. Sementara senyumnya bagaikan bunga yang
merekah di pagi hari. Singkatnya, Hitam dan Putih berjenis
kelamin pria. Sementara Pink berjenis kelamin wanita. Sejak kecil,
mereka memang selalu bersama. Ini artinya, persahabatan mereka
sesungguhnya dimulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Persahabatan mereka cukup unik. Dikatakan unik, karena Hitam
adalah anak dari orang tua yang miskin. Sementara Putih anak
orang kaya. Sedangkan Pink masuk golongan menengah, yaitu
tidak kaya, tetapi juga tidak terlalu miskin.

     Namun sejalan dengan waktu, keunikan ini mulai terusik


dengan munculnya 'perasaan suka' terhadap lawan jenis, yang
terdapat di dalam diri Putih dan Hitam. Ya, keduanya sama-sama
menyukai Pink. Sehingga setiap saatnya, mereka berdua selalu
berusaha mencuri hati Pink, yaitu dengan berlomba-lomba
menampilkan apa saja yang terbaik di mata Pink. Hingga akhirnya,
dalam waktu yang berbeda, Putih dan Hitam pun mengutarakan
isi hati mereka alias Katakan Cinta (KC). Akhirnya Pink menjadi
bingung tak berdaya, di satu sisi, Pink mencintai Putih, dan sisi
lainnya, Pink juga menyayangi Hitam (dikutip dari buku "Judulnya
Belum Berjudul", Busthan Abdy, 2016).

      Nah, timbul pertanyaan mendasar, apakah Pink harus


menerima salah satu diantara mereka? Hitam atau Putih? Ataukah
Pink harus menerima kedua-duanya? Pastinya ini suatu keadaan
sulit! Dalam keadaan seperti ini, dibutuhkanlah pemikiran kritis-
reflektif secara mendalam. Pink harus berpikir resisten dan
mendalam. Sehingga melalui pemikiran yang tepat maka ia tidak
merugikan semua pihak.

Pertanyaannya, jika Anda menjadi Pink, bagaimana Anda berpikir


secara kritis-reflektif? Jawabannya adalah:

1. Fokus berpikir dalam diri sendiri: Pink berpikir sendiri dalam


dirinya, dengan fokus pada persoalanyang dihadapi
2. Essensial (aktif dan resisten): Pink tidak berhenti untuk terus
memikirkannya secara terus-menerus
3. Menghindari masukan negatif: Pink menghindari masukan-
masukan dari orang lain yang mungkin saja bisa pasif
4. Meyakini hal yang masuk akal: Pink menimbang secara bijak,
mungkin tentang sifat dan karakter positif dari kedua
sahabatnya, atau keputusan apa yang tidak mengecewakan
semuanya
5. Mengajukan pertanyaan positif: Pink bisa mengajukan
pertanyaan-pertanyaan positif, jika dia menerima Putih apa
dampaknya? Begitupun sebaliknya
6. Tidak terburu-buru memutuskan: dalam hal ini Pink lebih
berpikir tenang dan tidak terburu-buru,
sertamempertimbangkan berbagai faktor-faktor yang tidak
merugikan dirinya dan orang lain
7. Memutuskan dengan terampil: Pink mengambil keputusan
yang tepat, melalui proses berpikir kritis-reflektif

Berpikir Kritis-Kreatif

     Berpikir kritis adalah juga berpikir dengan kreatif. Dalam arti


bahwa, berpikir kritis memerlukan kaidah-kaidah kreatif,sehingga
mampu menciptakan kreatifitas dalam bernalar.

Jurgen Habermas (dalam McCharthy, menyatakan bahwa, ide


tentang nalar kritis, meliputi beberapa hal berikut:

 Kehendak untuk rasional: yaitu bertindak berdasarkan


kehendak atau kecenderungan tertentu melalui nalar
sehat---masuk akal
 Kehendak untuk meraih mundigkeit: menuju konsep moral
sebagai pengalaman moralitas, di mana dalam hal ini nalar
membatasi dirinya pada kepentingan untuk mencapai
keotonoman tanggung jawab (keseimbangan empiris-
pengalaman dengan hal dari dalam diri)
 Otonomi dan tanggungjawab dalam kehidupan: yaitu sistem
"pemeliharaan diri" ketika menghadapi problem kehidupan.
Hal ini disebutkan juga sebagai "refleksi-diri", di mana
didalamnya, pengetahuan demi pengetahuan akan
menemukan kesejajaran dengan kepentingan untuk otonomi
dan tanggung jawab---dalam kekuasaan refleksi diri,
pengetahuan dan kepentingan adalah satu.

Albert Einstein, ilmuan jenius berdarah Yahudi, menyatakan


bahwa, berpikir adalah berimajinatif. Berpikir dalam berimajinatif
itu seperti menulis dengan tangan keliru. Dalam pengertiannya,
bahwa berpikir kreatif menuntut seseorang menghadirkan ide-ide
berbeda dari yang biasanya, bahkan sekalipun harus bertolak-
belakang dari yang biasanya, yaitu yang menggelikan oleh akal
sehat (Thorpe Scott).

Beberapa prinsip berpikir kritis-kreatif yang ditawarkan Einstein


adalah sebagai berikut:

 Menemukan masalah tepat: yaitu masalah-masalah yang


memungkinkan menemukan solusi imajinatif yang berbeda
dari pemikiran semula. Sebab tak akan ada satu pun solusi
seandainya seseorang "keliru" menemukan masalahnya.
 Memecahkan pola: yaitu mempertimbangkan apapun,
terutama ide-ide menggelikan (imajinatif)
 Melanggar aturan: yaitu cara yang disengaja, dan terfokus
untuk menemukan solusi. Jika selama ini, seseorang tidak
menemukan solusi diantara sekian alternatif yang dapat
diterima, maka ia harus memeriksa alternatif-alternatif yang
mustahil, yaitu dengan melanggar aturan tertentu. Cara ini
dibuktikan Einstein dalam menemukan teori relativitasnya
yaitu dengan melanggar aturan.
 Tumbuhkan Solusi: yaitu dengan cara menunda penilaian,
dan mencari pertolongan, membuat kekeliruan-kekeliruan
untuk menumbuhkan suatu ide hebat. Sebab solusi-solusi
hebat jarang tampak hebat jika hanya sebatas dibayangkan
saja. Tetapi haruslah diimplementasikan.

Einstein memang menggunakan prinsip-prinsip di atas untuk


mengubah dunia. Di mana dia menggunakan masalah yang
sedikitnya lebih memungkinkan, bermain-main dengan ide-ide
liar, melanggar aturan spesifik, lalu kembangkan ide-idenya
menjadi solusi yang unggul.

M. Neil Browne dan Stuart M Keleey (2007), menyatakan bahwa


istilah berpikir kritis adalah kemampuan untuk membuat
serangkaian pertanyaan kritis yang saling berkaitan, serta
kemampuan dan kemauan untuk bertanya dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut pada saat yang tepat. Hal ini
dapatlah dilakukan dengan dua pendekatan metode, yaitu:

1. Metode spons, yaitu berpikir dengan menyerap informasi


seperti spons yang merespon air dengan menyerapnya.
Menekankan penyerapan pengetahuan.
2. Metode mendulang Emas, yaitu dengan cara mendulang
informasi seperti mendulang emas. Setelah informasi diserap
pada langkah awal, maka informasi yang diserap tersebut
harus dinilai dan dipertimbangkan dengan baik. Menekankan
interaksi yang aktif dengan pengetahuan, seiring dicerapnya
pengetahuan tersebut.

Berdasarkan pengertian dan prinsip-prinsip berpikir kritis dari


beberapa ahli di atas, maka berpikir kritis-kreatif adalah berpikir
dengan menggunakan kehendak rasional secara seimbang, yaitu
dengan mengkombinasikan ide-ide lama ke dalam kombinasi
baru dengan berimajinatif dan menyerap pengetahuan melalui
interaksi aktif, sebagai upaya menemukan solusi tepat dan
produktif, untuk menumbuhkan pertahanan diri. 

Dalam berpikir kritis-kreatif ini, Busthan Abdy (2016) menyarankan


untuk dilakukan dengan prinsip-prinsip seperti berikut:

  Bertindak dengan nalar sehat---masuk akal


  Meraih pengalaman moralitas dalam nalar (keseimbangan
empiris-pengalaman dengan hal dari dalam diri).
  Pemeliharaan diri (refleksi-diri)---dalam kekuasaan refleksi
diri, pengetahuan dan kepentingan adalah satu.
  Menyusun kombinasi-kombinasi dari hal lama dengan hal
baru dengan memilih apa yang penting
  Menemukan masalah tepat 
  Memecahkan pola dengan mempertimbangkan ide-ide
imajinatif
  Melanggar aturan tertentu dengan cara disengaja untuk
menemukan solusi baru yang kreatif dan imajinatif
  Tumbuhkan terus setiap solusi yang ada
  Penyerapan pengetahuan dengan interaksi aktif yang
dilakukan bersamaan dengan menyerap pengetahuan
tersebut.

Dengan prinsip-prinsip berpikir kritis-kreatif di atas, hal yang


menarik dalam berpikir kreatif adalah: melanggar aturan atau
dalam hal ini bertindak diluar dari hal yang wajar. Banyak orang
pesimis dengan cara ini, namun kebanyakan orang bijaksana
sukses menggunakan cara ini.

Berpikir Logis