Anda di halaman 1dari 6

NAMA :SAFRUDIN

NIM :5183142028

Jawablah pertanyaan berikut ini dengan menggunakan ayat dan hadis/hadis

1. Allah Esa pada 3 hal jelaskan satu persatu beserta contohnya?


2. Bisakah iman seseorang bertambah dan berkurang jelaskan beserta contohnya?
3. Iman kepada allah ialah membenarkan dengan yakin sepenuhnya tanpa sedikitpun keraguan
akan adanya allah dan keesaannya baik pada rububiyah uluhiyamaupun asma wafiatnya
.Jelaskan beserta contohnya yg dimaksud dengan tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan asma
wasifat?
4. Apa yang dimaksud dengan ihsan beri contohnya?
5. Bisahkah iman,ihsan dan islam dipisahkan dipisahkan beri alasannya?
6. Asal-usul kejadian manusia menurut ajaran agama islam berbeda dengan pendapatahli filsafat
dan antropologiterutama darwin dan pengikut teori evolusinya?
7. Apa yang dimaksud dengan manusiakhalifatullah di bumi. mengapa manusia yang di jadikan
khalifatullah di bumi, kenapa tidak malaikat atau jin. Jelaskan?
JAWABAN

1.Meskipun hanya terdiri dari empat ayat, namun kandungan yang terdapat dalam surat ini
teramat padat karena pondasi keimanan kepada Allah dijelaskan secara lugas dan tegas. Selain
tentang keesaan Allah, di dalamnya juga disampaikan kandungan bahwa keesaan Allah
menuntut pengesaan terhadap-Nya atau yang lazim dikenal dengan tauhid. Hal ini merupakan
konten atau muatan dakwah yang senantiasa disampaikan oleh seluruh nabi dan rasul yang
diutus Allah Ta’ala [lihat QS. Al-Anbiya : 25 dan asy-Syura : 23].

Di awal surat pada ayat pertama, secara tegas dinyatakan bahwa Allah Ta’ala adalah al-Ahad,
Yang Mahaesa, tidak berbilang sebagaimana keyakinan kaum musyrikin. Dan karena keesaan-
Nya itulah Allah semata yang patut dan layak dijadikan sesembahan bukan yang lain. Abu Bakr
al-Jazaairi rahimahullah mengatakan, “Rabb-ku adalah Allah, satu-satunya sesembahan yang
berhak ditujukan segala bentuk penghambaan dan peribadatan. Esa dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-
Nya, dan perbuatan-Nya. Dengan demikian, tidak ada yang serupa dan sepadan dengan-Nya
dalam hal tersebut karena Dia-lah Sang Pencipta dan Pemilik segala sesuatu di alam ini. Tidaklah
patut sesuatu yang diadakan dan diciptakan memiliki kedudukan seperti Pencipta-nya. Dan
Pencipta mereka adalah Allah, al-Ma’bud, satu-satunya Dzat yang berhak disembah” [Aisaar at-
Tafaasir 5/628]. Oleh karenanya, pada ayat kedua dinyatakan bahwa Allah adalah ash-Shamad
yang berarti Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Seluruh makhluk di langit dan
di bumi memanjatkan permohonan kepada diri-Nya untuk dikabulkan. Keberadaan berbagai
sesembahan selain-Nya yang memiliki ketidaksempurnaan, kelemahan, dan sifat ketergantungan
menunjukkan bahwa mereka semua tidak layak untuk disembah. Berbagai sesembahan tersebut
pada hakikatnya merupakan makhluk yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan
sebagaimana kekuasaan dan kemampuan yang dimiliki Allah. Bahkan Allah lah yang Maha Kuasa
menciptakan mereka dan menangani berbagai kebutuhan hamba.

Keesaan Allah juga ditegaskan dalam ayat ketiga dan ayat keempat ketika dinyatakan bahwa
Allah tidak mengangkat seorang anak pun, tidak pula menjadi anak bagi selain-Nya, dan bahwa
tidak ada seorang pun yang sama, sepadan, sebanding, setara dengan-Nya. Tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya. Hal tersebut menjadi bukti yang semakin mendukung bahwa
hanya Tuhan yang memiliki sifat tersebut yang layak menjadi tujuan dalam segenap
peribadahan.

Keesaan Allah dan perkara tauhid merupakan pondasi keimanan dan perkara yang mendasar
dalam Islam. Hal tersebut telah dijelaskan dengan gamblang dan lugas dalam surat al Ikhlash.
Siapa pun yang menyelisihi ketentuan yang terdapat dalam surat ini maka ia telah mengingkari
keesaan Allah, sehingga terjatuh dalam kekufuran atau kesyirikan.

2. iman itu bertambah dan berkurang, maka mengenal sebab-sebab bertambah dan
berkurangnya iman memiliki manfaat dan menjadi sangat penting sekali. Sudah sepantasnya
seorang muslim mengenal kemudian menerapkan dan mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-hari, agar bertambah sempurna dan kuat imannya. Juga untuk menjauhkan diri dari
lawannya yang menjadi sebab berkurangnya iman sehingga dapat menjaga diri dan selamat
didunia dan akherat.

Syeikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa seorang hamba yang


mendapatkan taufiq dari Allah Ta’ala selalu berusaha melakukan dua perkara:

Merealisasikan iman dan cabang-cabangnya serta menerapkannya baik secara ilmu dan amal
secara bersama-sama.
Berusaha menolak semua yang menentang dan menghapus iman atau menguranginya dari
fitnah-fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi, mengobati kekurangan dari awal dan
mengobati yang seterusnya dengan taubat nasuha serta mengetahui satu perkara sebelum
hilang.[1]
Mewujudkan iman dan mengokohkannya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab
bertambahnya iman dan melaksanakannya. Sedangkan berusaha menolak semua yang
menghapus dan menentangnya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab berkurangnya iman
dan berhati-hati dari terjerumus di dalamnya.

3.- Tauhid rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala perbuatan-Nya, seperti
menciptakan dan mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan
bahaya dan manfaat, memberi rizqi dan semisalnya. Allah Ta’alaberfirman

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (Q.S. Al-Fatihah : 1)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau adalah Rabb di langit dan di bumi”
(Mutafaqqun ‘Alaih)

- Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam ibadah, seperti berdoa, bernadzar, berkurban,
shalat, puasa, zakat, haji dan semisalnya. Allah Ta’ala berfirman

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Baqarah : 163)
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maka hendaklah apa yang kamu dakwahkan
kepada mereka pertama kali adalah syahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali
Allah” (Mutafaqqun ‘Alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari, “Sampai mereka mentauhidkan Allah”.

- Tauhid asma’ was shifat adalah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa
yang telah disifati oleh Allah untuk diri-Nya di dalam Al-Quran atau yang telah ditetapkan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam As-Sunnah yang shahih tanpa takwil
(menyelewengkan makna), tanpa tafwidh (menyerahkan makna), tanpa tamtsil (menyamakan
dengan makhluk) dan tanpa ta’thil.

Allah Ta’ala berfirman :

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat” (Q.S. Asy-Syuura : 11)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia
pada setiap malam” (Mutafaqqun ‘Alaih). Di sini turunnya Allah tidak sama dengan turunnya
makhluk-Nya, namun turunnya Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan dzat Allah.
Ahlussunnah hanya mengimani bahwa Allah memang turun ke langit dunia. Tapi tidak
membahas hakikat bagaimana Allah turun apalagi menyamakan turunnya Allah dengan turunnya
makhluk.

- Yang dimaksud dengan ubudiyah adalah hal penyembahan kepada Allah. Tidak ada yang lain
yang berhak disembah kecuali hanya Allah yang wajib disembah (dipuja), tanpa sekutu dalam
pemujaan-Nya.

Allah berfirman ;

“ iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in(u) ”

hanya kepada Engkau-lah (Allah) kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami
memohon pertolongan. (Quran surat Al-Fatihah: 5).

4. Ihsan (Arab: ‫" ;احسان‬kesempurnaan" atau "terbaik") adalah seseorang yang menyembah Allah
seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang
tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

Ihsan adalah lawan dari isa'ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan
kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada
hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.[1]
Dari Abu Hurairah, ia berkata: "Pada suatu hari, rasulullah S.A.W. muncul di antara kaum
muslimin. Lalu datang seseorang dan berkata: 'Wahai rasulullah, apakah Iman itu?' Rasulullah
S.A.W. bersabda: 'Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-Nya,
pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada Hari Kebangkitan akhir'.
Orang itu bertanya lagi: 'Wahai rasulullah, apakah Islam itu?' Rasulullah S.A.W. bersabda: 'Islam,
yaitu engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan
salat fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan'.
Orang itu kembali bertanya: 'Wahai rasulullah, apakah Ihsan itu?' Rasulullah S.A.W. bersabda:
'Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu
melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu'.
Orang itu bertanya lagi: 'Wahai rasulullah, kapankah Hari Kiamat itu?' Rasulullah S.A.W.
bersabda: 'Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang menanya. Apabila ada budak
perempuan melahirkan majikannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila ada orang
yang semula miskin menjadi pimpinan manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila
orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling berlomba memperindah bangunan,
maka itu termasuk di antara tandanya. Ada lima hal yang hanya diketahui oleh Allah'.

5. makna iman, islam & ihsan


makna iman, islam & ihsan
Agama secara umum seringkali didefinisikan sebagai perangkat aturan yang memberikan
pedoman hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama dan lingkungan. Agama juga
mempunyai makna sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan berupa tindakan tindakan
yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterprestasikan serta
dalam rangka memberikan tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang
gaib dan suci.
Menurut Budiman Arief dalam bukunya ‘agama, demokrasi dan keadilan’ bahwa agama itu
dibagi dalam 2 kategori yaitu;
1. sebagai keimanan dimana orang percaya terhadap kehidupan abadi dikemudian hari
kemudian orang mengabdikan dirinya untuk kepercayaannya itu.
2. dalam terminologi/istilah ilmu sosial, agama dilihat sebagai nilai nilai yang mempengaruhi
perilaku manusia
Sedangkan pengertian Islam dari segi bahasa adalah derivasi dari kata ‘salama’ yang dalam
bahasa arab artinya mengakui sesuatu atau bisa pula berdamai. Makna yang lebih mendasar
adalah mengikat dalam arti membuat ikatan yang kekal antara dua esensi. Kata kerja yang
membentuk islam adalah aslama yang berarti menyerahkan atau memasrahkan kehendak dan
kehidupan seseorang kepada kehendak Allah, orang yang melaksanakan disebut muslim.
Islam adalah agama taohid, perkataan taohid erat hubungannya dengan kata wahid, sebagai
istilah yang digunakan dalam membahas ketuhanan ( segala sesuatu mengenai tuhan).
Agama Islam (al-islam) itu sendiri bermakna keyakinan yang berasal dari Allah, sebutan bagi al-
islam ada beberapa macam kadang disebut dinullah, agama milik Allah, dinul-haq artinya agama
yang haq, kebenarannya nyata dalam kehadirannya dan adanya, juga disebut Ad-dinul-khalis
artinya Agama yang bersih dan murni kemusyrikan dan khufarat, sehingga kebersihan dan
kemurnian ajarannya terpelihara selama lamanya. Agama Islam juga merupakan fitrah Allah atau
asal kejadiannya sesuatu, maksudnya adalah karena alam semesta ini dijadikan dan diatur oleh
Allah dengan Agama Allah atau dengan Al-islam yaitu fitrah Allah, Maka Allah menyatakan
bahwa segala yang ada dilangit dan dibumi semuanya aslama baik secara tidak sadar maupun
sadar dan taat.
Allah berfirman : "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi"
6. Pandangan agama Islam tentang teori Darwin
1. Alam semesta dengan seluruh isinya, baik yang dapat ditangkap oleh panca indra maupun
tidak merupakan Ciptaan Allah Swt, yang dengan sengaja diciptakan oleh Allah.
Teori yang mengatakan alam semesta dengan seluruh isinya berasal dari kejadian yang spontan,
kebetulan, dan tiba-tiba, nyata-nyata bertentangan dengan agama Islam.

2. Keragaman makhluk sengaja diciptakan Allah dan setiap jenis makhluk diciptakan secara
kompleks, lengkap rumit, teratur, dalam bentuk,ukuran, dan proses atau waktu yang tepat, serta
disusun dari komponen secara seimbang dan akurat.
Teori Darwin yang menyatakan bahwa keragaman jenis makhluk berasal dari satu sel organism
yang sederhana kemudian berkembang menjadi berbagai jenis makhluk sampai manusia karena
seleksi alam, nyata-nyata teori itu bertentangan dengan agama Islam.

3. Manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang amat baik, makhluk yang terhormat disisi Allah,
sehingga dijadikan Kholifah yang ada di Bumi.
Teori yang menyatakan bahwa manusia berasal dari hewan (kera) yang berevolusi karena seleksi
alam, nyata-nyata teori itu bertentangan dengan agama Islam.

4. Setiap jenis makhluk hidup termasuk manusia dengan jutaan gen dan triliunan DNA (berisi
informasi genetic) secara spesifik, system yang kompleks yang merupakan ciptaan Allah Swt.
Oleh karena itu kerja seleksi alam tak akan mampu mengubah kera menjadi manusia, berarti
teori Darwin jelas tidak masuk akal dan tidak bias dipercaya. Secara mutlak bahwa teori evolusi
Darwin dan para pengikutnya bertentangan dengan ajaran agama Islam. Umat islam yang
mempercayai kebenaran teori evolusi Darwin dapat dikatan sebagai umat yang murtad, tidak
beriman, kafir, atau atheis.

Kesimpulan
Pada dasarnya teori evolusi Darwin bertentangan dengan Sains dan Islam. Teori yang
mengatakan alam semesta dengan seluruh isinya berasal dari kejadian yang spontan, kebetulan,
dan tiba-tiba, nyata-nyata bertentangan dengan agama Islam.

Teori Darwin yang menyatakan bahwa keragaman jenis makhluk berasal dari satu sel organisme
yang sederhana kemudian berkembang menjadi berbagai jenis makhluk sampai manusia karena
seleksi alam, nyata-nyata teori itu bertentangan dengan agama Islam. Islam nenyatakan bahwa
keragaman makhluk sengaja diciptakan Allah dan setiap jenis makhluk diciptakan secara
kompleks, lengkap rumit, teratur, dalam bentuk,ukuran, dan proses atau waktu yang tepat, serta
disusun dari komponen secara seimbang dan akurat. Setiap jenis makhluk hidup termasuk
manusia dengan jutaan gen dan triliunan DNA (berisi informasi genetic) secara spesifik, system
yang kompleks yang merupakan ciptaan Allah Swt. Oleh karena itu kerja seleksi alam tak akan
mampu mengubah kera menjadi manusia, berarti teori Darwin jelas tidak masuk akal dan tidak
bias dipercaya.
7. "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau. Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui." - Surah Al-Baqarah: Ayat 30

Dalam ayat di atas diterangkan tujuan manusia diciptakan adalah untuk dijadikan khalifah di
muka bumi.
Dalam tafsir Ibn Katsir, ayat "menjadikan seorang khalifah" bukan sahaja bermaksud untuk
melantik pemimpin dalam kalangan manusia, malahan Allah berkehendak melantik para Nabi
dan Rasul.
Selain itu, Allah juga berkehendak menjadikan di antara manusia itu para syuhada, orang-orang
soleh, wali-wali, ulama-ulama dan secara umumnya orang yang mencintai Allah serta orang-
orang yang mengikuti para rasul-Nya.

Apa yang paling utama adalah Allah yang Maha Penyayang mahu memberi kenikmatan syurga
kepada hamba-Nya yang ingin menikmati syurga.
Jadi, adakah kita benar-benar menepati tujuan kita diciptakan?
Adakah kita benar-benar mencintai Allah yang Maha Agung dan mengikuti apa yang diajarkan
oleh Rasulullah s.a.w.?
Adakah kita benar-benar mahukan nikmat syurga?
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." -Surah
Adz-Dzariyat: Ayat 56

Dalam ayat di atas, Allah secara jelas menerangkan tujuan penciptaan jin dan manusia, iaitu
untuk menyembah-Nya. Tidak boleh dipersoalkan lagi.
Mengikut Ibn Abas r.a., tidak diciptakan mereka (jin dan manusia) itu, kecuali untuk tunduk
(patuh) beribadah kepada Allah secara sukarela atau terpaksa.
Dalam tafsir Ibn Katsir juga menerangkan sedemikian dan ditambah, manusia disuruh beribadah
kepada-Nya dan bukan kerana Aku (Allah yang Maha Tinggi) memerlukan mereka (manusia).
Jadi, adakah kita benar-benar memerlukan Allah atau kita memerlukan selain-Nya?
Adakah kita lebih memerlukan pangkat, harta dan segala jenis keindahan di dunia melebihi
rahmat dan penjagaan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?
"Apakah manusia mengira, bahawa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?"
- Surah Al-Qiyaamah : Ayat 36

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia daripada setitis mani yang bercampur, yang
Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), kerana itu Kami jadikan dia
mendengar dan melihat." - Surah Al-Insaan: Ayat 2
Manusia diberi ujian berupa tanggungjawab melaksanakan perintah dan menjauhi larangan di
bumi sebelum diadili di akhirat, iaitu penentu sama ada masuk syurga atau neraka.
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" - Surah Al-Mu'minuun: Ayat 115