Anda di halaman 1dari 6

ASUHAN KEBIDANAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DENGAN

HIPOMENOREA DI KLINIK MEDIKA UTAMA


BALONGBENDO SIDOARJO

NUR KAMILAH
1211010119

Subject: Akseptor, KB Suntik 3 Bulan, Hipomenorea

DESCRIPTION:

Metode KB Suntik telah menjadi bagian gerakan keluarga berencana nasional yang
makin tambah. Tingginya minat pemakaian suntikan KB karena aman, sederhana, efektif
dan dapat dipakai pada paska persalinan, KB suntik juga mempunyai banyak efek samping
gangguan pola haid seperti hipomenorea, terlambatnya kembali kesuburan setelah
penghentian pemakaian, peningkatan berat badan. Tujuan studi kasus adalah pemberian
asuhan kebidanan akseptor KB suntik 3 bulan dengan hipomenorea di Klinik Medika
Utama Balongbendo Sidoarjo.
Studi kasus dilakukan di Klinik Medika Utama Balongbendo Sidoarjo. Subyek
penelitian ini adalah Ny. E usia 30 tahun dengan hipomenorea. Waktu studi kasus pada
tanggal 3-6 Juni 2015. Proses manajemen kebidanan diselesaikan melalui lima langkah,
yaitu pengkajian data asuhan kebidanan, penentuan diagnosa kebidanan, rencana asuhan
kebidanan, pelaksanaan dan evaluasi.
Asuhan kebidanan pada Ny E, ibu mengatakan sebagai akseptor KB suntik 3 bulan
sejak 3 tahun yang lalu sebanyak 12 kali suntikan dan pada tanggal 31 Mei 2015 ibu
mengeluh mengeluarkan darah selama 2 hari yang keluar dari alat kelamin dan berhenti
tanggal 1 Juni 2015. Akseptor merasakan cemas karena siklus menstruasinya singkat.
Masalah akseptor mengalami ketidaknyamanan sehubungan dengan hipomenorea
Pelaksanaan asuhan kebidanan yang diberikan meliputi: melakukan pendekatan dan
komunikasi terapeutik terhadap akseptor, memberikan informasi bahwa hipomenorea
merupakan salah satu efek samping kontrasepsi suntik, memeriksa TTV dan menganjurkan
ibu untuk melakukan kunjungan ulang bila ada keluhan.
Asuhan kebidanan pada Ny. E dengan hipomenorea ditemukan beberapa
kesesuaian antara teori dan kasus yang ada yaitu siklus menstruasi yang singkat (kurang
dari 3 hari). Akseptor yang menggunakan KB Suntik 3 bulan (Depo Progestin) dengan
Hipomenorea lebih mengetahui efek samping KB Suntik Depo Progestin dan segera
ketenaga kesehatan agar segera dilakukan penanganan.

ABSTRACT:

Contraceptive injections have become part of the national family planning


movement that increasingly added. The high interest in the use of contraceptive injections
because safe, simple, effective and can be used in postpartum, contraceptive injection have
many side effects such as hypomenorrhea menstrual pattern disturbance, delay in return of
fertility after discontinuation, weight gain. The purpose of the case study was to provide
midwifery care in 3 monthly contraceptive injection acceptor with hypomenorrhea in
Medika Utama Clinic Balongbendo Sidoarjo.
Case study conducted in the Medika Utama Clinic Balongbendo Sidoarjo, the
subject of case study was Mrs. E age of 30 years with hypomenorrhea, a case study on 3-6
June 2015, midwifery management process completed through the five steps, namely the

1
assessment of data midwifery care, diagnosis determination of midwifery diagnosis,
midwifery care plan, implementation and evaluation.
Result of midwifery care on Mrs E at the age of 30 years with hypomenorrhea.
Mother said being acceptor of 3 monthly contraceptive injection since three years ago as
many as 12 injections and on May 31, 2015 mother complained to bleed for 2 days out of
the genitals and stopped since June 1, 2015. Mother said the see felt anxious because her
menstrual cycle was short. The problem experienced was discomfort due to the
hypomenorrhea implementation of midwifery care namely therapeutic approach and
communication to the acceptor, providing information that hypomenorrhea was one side
effect of contraceptive injection, check of vital signs, ask the mother about wanting to get
pregnant again and advocated mothers to re-visit if there any complaints.
Provision of midwifery care of the Mrs. E with hypomenorrhea researcher found
some compatibility between theory and case that was menstruation cycle has short time
(less than 3 days). It is expected was acceptors of 3 monthly contraceptive method (Depo
Progestion) with hypomenorrhea should be more understand the side effects of Depo
Progestion contraceptive injection and health workers should immediately treat it.
Keywords: Acceptor, 3 Monthly Contraceptive Injection, Menstruation Disorders,
Hypomenorrhea
Contributor : 1. Ika Yuni Susanti, S.SiT., S.KM., M.P.H
2. Agustin Dwi Syalfina, S.ST.,SKM
Date : 23 Juni 2015
Type Material : Laporan Penelitian
Identifier :-
Right : Open Document
Summary :

LATAR BELAKANG
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk
meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan, keselamatan ibu, anak serta perempuan
(Depkes RI, 2013: 83). Metode keluarga berencana yang ada di Indonesia antara lain alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR), susuk/implant, kontrasepsi suntikan, kontrasepsi pil,
kondom, metode operasi wanita (MOW) dan metode operasi pria (MOP). Penggunaan alat
kontrasepsi ini disesuaikan dengan pilihan akseptor (Sarwono, 2008).
Jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan salah satunya adalah KB hormonal
suntikan (injectables) dan merupakan salah satu alat kontrasepsi yang berdaya kerja
panjang (lama) yang tidak membutuhkan pemakaian setiap hari (Saifuddin, 2010). Metode
suntikan KB telah menjadi bagian gerakan keluarga berencana nasional serta peminatnya
makin tambah. Tingginya minat pemakaian suntikan KB oleh karena aman, sederhana,
efektif dan dapat dipakai pada pasca persalinan namun demikian KB suntik juga
mempunyai banyak efek samping gangguan pola haid seperti amenorrhea, menoragia dan
muncul bercak (spotting), terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian,
peningkatan berat badan (Manuaba, 2010: 600).
World Health Organization (WHO) berpendapat dewasa ini hampir 380 juta
pasangan menjalankan keluarga berencana dan 65-75 juta diantaranya terutama di negara
berkembang menggunakan kontrasepsi suntik, pil, implant dan kondom (Hevitia, 2013).
Penggunaan kontrasepsi suntik di Indonesia pada tahun 2013 KB aktif sebesar 46,87%
akseptor dan akseptor KB baru sebesar 48,56% (Depkes RI, 2013: 84). Insiden amenorea
di Indonesia terjadi pada 0.1 – 2.5% wanita usia reproduksi yang menggunakan kontrasepsi
suntik (Pranata, 2013). Berdasarkan data profil kesehatan provinsi Jawa Timur tahun 2012

2
menjelaskan bahwa di Jawa Timur jumlah peserta KB suntik aktif sebesar 55,95% dan
akseptor KB baru sebesar 58,45% sedangkan jumlah akseptor KB suntik aktif di
Kabupaten Mojokerto sebesar 64,75% dan akseptor KB suntik baru sebesar 62,06%
(Dinkes Jatim, 2013).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di BPS Eka Erfana, S.ST., M.Kes
Pungging pada tanggal 2 Maret 2015 didapatkan bahwa peserta KB suntik 3 bulan sampai
bulan Februari 2015 yaitu sebanyak 173 akseptor dan 60% akseptor mengalami efek
samping amenorea dan spotting.
Kontrasepsi suntik 3 bulan memiliki kelebihan dan kekurangan, kelebihan dari
suntik 3 bulan antara lain adalah sangat efektif, dapat menunda kehamilan dalam waktu
yang cukup lama dan tidak mempengaruhi produksi ASI sedangkan kelemahan dari
kontrasepsi suntik 3 bulan adalah terganggunya pola haid, salah satunya adalah menoragia
(Varney, 2007). Pada akseptor KB suntik (DMPA) dengan gangguan haid berupa
menoragia disebabkan oleh progesteron dalam komponen DMPA menekan Luteinizing
Hormone (LH). Meningkatnya DMPA dalam darah akan menghambat LH , perkembangan
folikel dan ovulasi selama beberapa bulan. Penurunan Folikel Stimulating Hormonal (FSH)
akan menghambat perkembangan folikel sehingga tidak terjadinya ovulasi atau pembuahan.
Menoragia berkepanjangan pada pemberian progesteron diketahui membahayakan karena
dapat menyebabkan anemia (Riyanti, 2013).
Tenaga kesehatan perlu memberikan konseling tentang jenis kontrasepsi yang
cocok untuk akseptor KB. Konseling adalah bentuk komunikasi atau interaksi yang
mendalam dan usaha bersama antara bidan dengan klien untuk mencapai tujuan konseling
yang dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan ataupun perubahan tingkah
laku atau sikap dalam pelayanan kebidanan. Bidan memberikan konseling terhadap jenis
kontrasepsi, kelebihan dan kelemahan alat kontrasepsi yang digunakan pasiennya sehingga
mereka mengerti dan memahami dari sesuatu yang mereka gunakan. Akseptor yang
mengalami efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi seperti gangguan menstruasi
atau haid maupun efek samping yang membuat akseptor khawatir sebelum memutuskan
drop out sebaiknya konsultasikan dengan bidan atau dokter untuk dapat dilakukan
penanganan yang lebih lanjut (Tyastuti, 2009: 114).
Banyak wanita merasa bahwa mendapatkan suntikan yang menyebabkan hal
tersebut tidak alami dan ada kekawatiram terhadap tidak menstruasi sehingga sanggat
membebani, oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang gambaran
asuhan kebidanan akseptor KB suntik 3 bulan dengan gangguan haid di Klinik Medika
Utama Balongbendo Sidoarjo.

METODOLOGI
Studi kasus dilakukan di Klinik Medika Utama Balongbendo Sidoarjo, subyek studi
kasus ibu bersalin Ny. E usia 30 tahun dengan hipomenorea, waktu studi kasus pada
tanggal 3-6 Juni 2015, proses manajemen kebidanan diselesaikan melalui lima langkah,
yaitu pengkajian data asuhan kebidanan, penentuan diagnosa kebidanan, rencana asuhan
kebidanan, pelaksanaan dan evaluasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada pengkajian diperoleh data subyektif dan data obyektif. Pada data subyektif Ny.
E mengatakan sebagai akseptor KB suntik 3 bulan sejak 3 tahun yang lalu sebanyak 12 kali
suntikan dan sejak tanggal 31 Mei 2015 ibu mengeluh mengeluarkan darah selama 2 hari
yang keluar dari alat kelamin dan berhenti sejak tanggal 1 Juni 2015. Ibu mengatakan
setelah melahirkan anak pertama menggunakan KB suntik 3 bulanan sampai sekarang lama
pemakaian ± 3 tahun. Data obycccektif diperoleh dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

3
labolatorium pada Ny. E meliputi keadaan umum: baik, kesadaran: Composmentis,
pemeriksaan vulva dan vagina tidak ada darah yang keluar dari alat kelamin.
Data subjektif adalah informasi yang dicatat mencakup identitas, keluhan yang
diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada pasien/klien (anamnesis) atau dari
keluarga dan tenaga kesehatan (alio anamnesis) (Sari, 2012). Tinjauan teori data subjektif
hipomenorea adalah klien yang menggunakan KB suntik 3 bulan mempunyai keluhan
utama seperti mengeluarkan darah yang keluar dari alat kelamin diluar haid dalam waktu
kurang dari 3 hari. Data objektif hipomenorea antara lain pemeriksaan vulva/vagina tidak
keluar darah (Wulandari, 2012). Salah satu efek samping dari penggunaan KB suntik 3
bulan adalah hipomenorea. Hipomenore yaitu sedikitnya volume darah yang keluar dengan
siklus normal. Jumlah pembalut yang digunakan umumnya kurang dari 3 pembalut/hari
(Varney, 2008).
Hasil dari data pengkajian sebagian besar sesuai dengan teori asuhan kebidanan
pada akseptor KB suntik 3 bulan dengan hipomenorea. Data hasil pemeriksaan subjektif
menunjukkan bahwa riwayat menstruasi sebelum suntik KB 3 bulan menstruasi pertama
kali usia 13 tahun, siklus 30 hari, frekuensi 2-3 kali ganti pembalut/hari, lama
menstruasi 7 hari dan sesudah menggunakan suntik KB 3 bulan ibu mengatakan belum
menstruasi. Hasil pemeriksaan objektif menunjukkan bahwa karakteristik akseptor KB
suntik 3 bulan yang mengalami hipomenorea menunjukkan vulva/vagina tidak
mengeluarkan darah.
Data yang telah dikumpulkan diinterpretasikan menurut diagnosa kebidanan,
masalah dan kebutuhan. Pada langkah ini diagnosa kebidanan yang muncul yaitu Ny. E
P1A0 umur 31 tahun akseptor KB suntik 3 bulan dengan hipomenorea. Masalah yang
dialami adalah rasa cemas dan tidak nyaman karena perdarahan bercak yang dialami pada
kategori sedang dengan skor 22. Kebutuhan yng diberikan adalah informasi tentang efek
samping KB suntik yaitu hipomenorea.
Hipomenorea adalah perdarahan yang lebih pendek serta kurang dari biasanya.
Hipomenorea tidak menggagu fertilitas. Siklus menstruasi tetap, tetapi lama perdarahan
memendek kurang dari 3 hari Hipomenorea dapat disebabkan kesuburan endometrium
kurang karena keadaan gizi penderita yang rendah, penyakit menahun, dan gangguan
hormonal dan hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau
lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari). Terjadinya hipermenorea berkaitan dengan
kelainan pada rahim yaitu mioma uteri, polip endometrium dan gangguan pelepasan
endometrium (Dewi, 2012). Varney (2008) masalah yang muncul pada akseptor KB Suntik
Depo Progestin dengan hipomenorea yaitu rasa cemas tentang perdarahan haid yang
berlangsung singkat. Kebutuhan yang diberikan adalah informasi tentang efek samping KB
suntik, hipomenorea sering dijumpai pada pengguna KB suntik 3 bulan, tetapi hal ini
bukanlah masalah serius.
Hasil dari data diagnosa kebidanan diketahui bahwa Ny E dengan hipomenorea.
Data objektif yang didapat dari pemeriksaan vulva/vagina: tidak ada darah yang keluar dari
alat kelamin. Masalah yang telah ditegakkan juga sesuai dengan teori yaitu ibu mengalami
ketidaknyamanan yaitu cemas sehubungan dengan hipomenorea, hipomenorea yang
dialami ibu merupakan menstruasi dengan jangka waktu singkat. Pada tahap diagnosa
kebidanan ada kesamaan antara teori asuhan kebidanan dengan penegakan diagnosa
kebidanan pada penelitian.
Pada kasus Ny.A P1 A0 akseptor KB Suntik Depo Progestin dengan hipomenorea
rencana tindakannya adalah lakukan pendekatan dan komunikasi terapeutik terhadap
akseptor, jelaskan pada akseptor bahwa hipomenorea merupakan salah satu efek samping
kontrasepsi suntik, anjurkan akseptor untuk istirahat, anjurkan akseptor untuk olahraga
dengan teratur selama 30 menit/hari, tanyakan kepada ibu tentang keinginan untuk hamil

4
lagi, pantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan) dan anjurkan ibu
untuk kunjungan ulang jika ada keluhan 3 hari lagi.
Penatalaksanaan hipomenorea adalah sebagai berikut: informasikan bahwa
perdarahan ringan sering dijumpai tetapi hal ini bukanlah masalah serius dan biasanya
tidak memerlukan pengobatan (Prawirohardjo, 2009).
Hasil penelitian pada perencanaan asuhan yang diberikan pada Ny. E dengan
hipomenorea yang dilakukan selama 1×24 jam dengan kriteria hasil kesehatan umum baik,
TTV dalam batas normal dan ibu tidak cemas dengan keadaannya sekarang. Pada tahap
perencanaan asuhan telah sesuai antara teori asuhan kebidanan dengan penelitian.
Pada langkah implementasi telah dilakukan tindakan yang sesuai dengan
perencanaan yaitu melakukan pendekatan dan komunikasi terapeutik terhadap akseptor,
memberikan informasi bahwa hipomenorea merupakan perdarahan yang ringan karena
merupakan efek samping akibat pemakaian KB Suntik Depo Progestin, memeriksaa tanda-
tanda vital, dengan hasil sebagai berikut: keadaan umum baik, tekanan darah 110/80
mmHg, suhu 36,2oC, nadi 80 x/menit, respirasi: 20 x/menit. Menanyakan kepada ibu
tentang keinginan untuk hamil lagi, menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang
bila ada keluhan dan memberitahu ibu bahwa akan ada kunjungan rumah 3 hari lagi yaitu
pada tanggal 3 Juni 2015.
Menurut Sulistyawati (2012), pada langkah implementasi melaksanakan langsung
tindakan yang telah direncanakan pada akseptor KB Suntik Depo Progestin dengan
hipomenorea yaitu melakukan pendekatan dan komunikasi terapeutik terhadap akseptor,
memberikan informasi bahwa hipomenorea merupakan efek samping akibat pemakaian
KB Suntik Depo Progestin, memeriksaa tanda-tanda vital dan menganjurkan ibu untuk
melakukan kunjungan ulang bila ada keluhan dan memberitahu ibu bahwa akan ada
kunjungan rumah 3 hari lagi.
Pelaksanaan asuhan kebidanan pada Ny E terdapat tidak ada kesenjangan antara
teori asuhan kebidanan dengan perencanaan asuhan kebidanan pada Ny E. Pelaksanaan
asuhan kebidanan pada Ny E yaitu pememberikan informasi bahwa hipomenorea
merupakan perdarahan yang ringan karena merupakan efek samping akibat pemakaian KB
Suntik Depo Progestin
Evaluasi dari Asuhan Kebidanan selama 2 hari, mulai dari tanggal 3 Juni 2015
sampai 6 Juni 2015 diperoleh keadaan umum ibu baik, tidak ada diagnosa potensial yang
muncul, ibu tidak cemas dan sudah merasa nyaman, ibu akan datang ke sarana kesehatan
bila ada keluhan dan ibu tetap menggunakan KB Suntik Depo Progestin.
Evaluasi kegiatan yang perlu dilaksanakan adalah mencatat proses manajemen
kebidanan. Evaluasi diperoleh dari tindakan pengukuran antara keberhasilan dan rencana.
Evaluasi juga dilakukan dengan membandingkan keberhasilan dengan langkah-langkah
manajemen lainnya. Hasil evaluasi dapat dijadikan identifikasi/analisis masalah
selanjutnya bila diperlukan (Sari, 2012). Menurut saifuddin (2006) evaluasi yang
diharapkan pada akseptor KB suntik 3 bulan dengan hipomenorea meliputiIbu sudah
merasa nyaman dengan keadaannya, Spooting dapat teratasi dan sudah tidak merasa cemas
pasien tetap menggunakan KB suntik Depo Progestin.
Pemberian asuhan kebidanan pada Ny E dengan hipomenorea yang dilaksanakan
telah kriteria hasil. Ibu mengerti dan mampu menjelaskan keadaanya yang dialami
merupakan salah satu efek samping dari penggunaan KB Suntik 3 bulan (Depo Progestin).
Pada langkah ini penulis tidak menemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus yang
ada dilahan.

5
Simpulan
Pada tahap pengkajian Ny.E diperoleh data subyektif dan data objektif penulis
tidak mengalami kesulitan karena selama penulis melakukan pengkajian klien sangat
kooperatif. Sehingga penulis mendapatkan data sesuai dengan yang dibutuhkan dan data
yang didapatkan sesuai dengan karakteristik penderita hipomenorea. Pada tahap
identifikasi masalah dan kebutuhan penulis menemukan kesamaan antara teori
asuhan kebidanan dengan penegakan diagnosa kebidanan pada penelitian. Pada tahap
perencanaan asuhan terdapat kesesuaan antara teori asuhan kebidanan dengan penelitian.
Pada tahap pelaksanaan kasus ini terdapat kesesuaian antara teori dengan praktik yang
ada dilapangan. Pada tahap evaluasi telah sesuai antara teori asuhan kebidanan dengan
penelitian

Rekomendasi
Diharapkan pada akseptor KB Suntik 3 bulan (Depo Progestin) dengan
Hipomenorea lebih mengetahui efek samping KB Suntik Depo Progestin dan segera
ketenaga kesehatan agar segera dilakukan penanganan. Bidan diharapkan dapat
memberikan asuhan kebidanan dalam penanganan kasus pada akseptor KB Suntik Depo
Progestin dengan hipomenorea. Institusi pendidikan dapat menambah referensi dan
literatur bagi mahasiswa maupun pengajar tentang asuhan kebidanan pada akseptor KB
Suntik Depo Progestin dengan Hipomenorea. Hendaknya peneliti selanjutnya dapat
mengembangkan konsep penelitian dengan melakukan penelitian tentang efek sampling
dari penggunaan KB suntik 3 bulan selain hipomenorea.

Alamat Correspondensi :
- Email : nurkamilah701@yahoo.co.id
- No. HP : 089526994599
- Alamat : Dusun Medalem RT.06/RW.02 Kelurahan Tulangan Kecamatan
Tulangan Kabupaten Sidoarjo