Anda di halaman 1dari 23

1. Mukri SG. Menyongsong Bonus Demografi Indonesia.

Buletin Hukum &


Keadilan Adalah 2018. 2(6):51-52.

2. Sulystyastuti DR. Tantangan Indonesia Mengoptimalkan Bonus Demografi.


Jurnal Studi Pemuda 2017. 6(1):538-547.

3. Dewi S. Bonus Demografi di Indonesia Suatu Anugrah/Petaka. Journal of


Information System Management, Accounting, and Research. 2018.

4. Umar MA. Bonus Demografi Sebagai Peluang dan Tantangan Pengelolaan


Sumber Daya Alam di Era Otonomi Daerah. Jurnal genta Mulia 2017.
8(2):90-99.

5. Rusdianasari F, Kamariyah S, Adenan M. Perlambatan Pertumbuhan dan


Transisi Demografi di Indonesia. Jurnal Media Trend 2019. 14(1):105-119.

6. Efendi F dan Makhfudi. Keperawatan kesehatan komunitas. Jakarta: Salemba


Medika: 2009.

7. Noor M. Kebijakan pembangunan kependudukan dan Bonus Demografi.


Jurnal ilmiah UNTAG Semarang, 2015. 4(1): 121-129.

8. Suartha N. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya laju pertumbuhan dan


implementasi kebijakan penduduk di Provinsi Bali. Jurnal piramida 2016.
12(1): 1-7.

9. Badan pusat statistik. Proyeksi penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta:


Badan Pusat Statistik: 2013.

10. Maryati S. Dinamika pengangguran terdidik: tantangan menuju bonus


demografi di Indonesia. Journal of economic and economic education 2015.
3(2): 124-136.

11. Hariyono K. Perencanaan Pembangunan Di Papua Dan Bonus Demografi


2020. 2016. Jurnal Tata Kelola & Akuntabilitas Keuangan Negara. 2 (1):46-
69.

12. Najihah D. Resistensi Masyarakat Terhadap Program Keluarga Berencana


(KB). 2018. Keluarga Berencana. 1(2): 53-71.

13. Penggabean M. Studi deskriftif tidak tercapainya bonus demografi di


kabupaten landak.Jurnal ekonomi, bisnis & kewirausahaan 2017. 6(1): 43-58.

14. Jati WR. Bonus demografi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Jurnal
popilasi 2015. 23(1): 1-19.
15. Zulfa A. Pengaruh petumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi terhadap
tingkat pengangguran di Kota Lhokseumawe. Jurnal Visioner & Strategis
2016; 5(1): 13-22.

16. Darni. Dampak keluarga berencana terhadap kualitas hidup penduduk di


Provinsi Jawa Timur (Studi tentang penguatan fungsi keluarga di bidang
kesehatan, pendidikan, dan ekonomi). Jurnal Studi Perempuan 2016; 12(1):
85-106.

17. Kusyanto H. Review penurunan fertilitas di negara berkembang. Jurnal


administrasi publik 2017. 5(2): 34-40.

18. Mardiani, Z. I., & Purnomo, N, H. Permasalahan kependudukan dan bonus


demografi. Jakarta: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi
2018.

19. Dinas Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana. Rencana strategis


dinas pengendalian penduduk dan keluarga berencana kabupaten Minahasa
Tenggara. Ratahan: Dinas Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana,
2017.

20. Hartanto, H. KB dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010.

21. Mardiani, Z. I., & Purnomo, N, H. Fertilitas dan mortalitas. Jakarta:


Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, 2018.

22. Oktriyanto. Penyelenggaran pelayanan keluarga berencana dalam jaminan


kesehatan nasional. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen 2016. 9(2): 77-88.

23. BKKBN. Jurnal Keluarga: Waspada ledakan penduduk. Jakarta: BKKBN,


2018.

24. Ridwan, Mulia J., Ningsih, A. W., Strategi balai penyuluhan keluarga
berencana kabupaten bungo dalam pengendalian pertumbuhan penduduk suku
anak dalam. KEMUDI: Jurnal Ilmu Pemerintahan 2019. 3(2): 212-236.

ii
MAKALAH
BELAJAR BERBASIS MASALAH (BBM)
PENGENDALIAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA
SKENARIO PENDUDUK PADAT, RAKYAT MELARAT

Oleh:
KELOMPOK III

Aniqa Tadzkiya Putri 1710912120001


Risna Ridha Aulia 1710912120017
Angelicha Wiranda Rizky 1710912220005
Rahmida Nurmiyanti 1710912220032
Marcselino Pradayuna M 1710912310030
Desyca Ayu Rahmadani 1710912320012
Nuzulia Bella Destriani 1710912320049
Sela Yulianti 1710912320066

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2019

iii
MAKALAH
BELAJAR BERBASIS MASALAH (BBM)
PENGENDALIAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA
SKENARIO PENDUDUK PADAT, RAKYAT MELARAT

Disusun Oleh:
KELOMPOK III

Aniqa Tadzkiya Putri 1710912120001


Risna Ridha Aulia 1710912120017
Angelicha Wiranda Rizky 1710912220005
Rahmida Nurmiyanti 1710912220032
Marcselino Pradayuna M 1710912310030
Desyca Ayu Rahmadani 1710912320012
Nuzulia Bella Destriani 1710912320049
Sela Yulianti 1710912320066

Telah disahkan dan diterima dengan baik oleh:

Banjarbaru, 15 Mei 2019


Koordinator BBM-Pengendalian Tutor,
kependudukan dan keluarga berencana (KB)
PSKM FK-ULM

Musafaah, SKM., MKM Lenie Marlinae, SKM., MKL


NIP. 19810402 200604 2 001 NIP. 19770412 200501 2 002

DAFTAR ISI

iv
Halaman
COVER................................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Skenario .............................................................................................1
B. Analisis Kasus.....................................................................................1
1. Langkah 1......................................................................................1
2. Langkah 2......................................................................................2
3. Langkah 3......................................................................................2
4. Langkah 4......................................................................................3
5. Langkah 5......................................................................................3
BAB II. PEMBAHASAN
A. Tinjauan Kasus Berdasarkan Sasaran Belajar yang
Mengacu pada Pustaka yang Relevan dengan Kasus........................5
B. Analisis Kasus Pada Skenario Lebih Mendalam..............................10
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................13
B. Saran.................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Skenario
Penduduk padat, rakyat melarat…
Tingkat kelahiran yang tinggi terus memacu pertumbuhan penduduk di
Indonesia. Belum optimalnya kampanye “Dua Anak Cukup” untuk mengganti
slogan “Banyak Anak Banyak Rezeki” membuat Indonesia berada di peringkat
keempat dalam hal penduduk terbanyak di dunia. Data dari Badan Pusat Statistik
(BPS) menunjukan penurunan tingkat pertumbuhan dari tahun 2010-2015 yang
sebesar 1,49% menjadi 1,30% pada 2018. Dinamika perubahan struktur usia
berdampak pada menurunnya proporsi penduduk non-produktif dan
meningkatnya proporsi penduduk usia produktif. Pertumbuhan penduduk yang
pesat memunculkan beragam masalah. Bonus demografi dan program Keluarga
Berencana (KB) adalah dua hal yang saling terkait. Penguatan program KB akan
mendorong optimalisasi keuntungan bonus demografi. Tak hanya itu, pemerintah
juga harus perhatian dalam penyediaan sarana-sarana keluarga berencana serta
peningkatan pengetahuan, sikap dan praktek keluarga berencana. Lalu,
bagaimana nasib penduduk Indonesia di masa yang akan datang?

B. Analisa Kasus
1. Langkah 1. Klarifikasi/Identifikasi Instilah (Clarify term)
a. Identifikasi Istilah
1) KB & Bonus demografi
2) Kampanye
3) Optimalisasi
4) Dinamika
5) Sarana KB
6) Optimal
b. Klarifikasi Istilah
1) KB adalah program pemerintah (BKKBN) untuk menekan jumlah penduduk
dengan menggunakan alat kontrasepsi dan bonus demografi adalah masa

1
2

dimana usia produktif lebih banyak daripada usia non-produktif.


2) Kampanye adalah tindakan atau usaha yang bertujuan untuk memperjuangkan
program tersebut.
3) Optimalisasi adalah usaha untuk mencapai sesuatu yang ideal.
4) Dinamika adalah arus atau perubahan tingkatan.
5) Sarana KB adalah wujud alat pendukung program KB.
6) Optimal adalah nilai efektifyang bisa dicapai atau nilai ideal.

2. Langkah 2. Membuat Daftar Masalah (define the problem)


a. Sarana yang diperlukan untuk program KB?
b. Mengapa kampanye “Dua Anak Cukup” belum optimal?
c. Bagaimana agar program promosi kesehatan mengenai KB dapat berjalan
optimal?
d. Bagaimana hubungan antara bonus demografi dan program keluarga
berencana (KB)?
e. Apa penyebab penurunan tingkat pertumbuhan penduduk dari tahun 2010-
2015 ke 2018?
f. Bagaimana hubungan tingkat pertumbuhan penduduk dengan bonus
demografi?

3. Langkah 3. Menganalisa Masalah (analyze the problem)


a. Sarana yang diperlukan untuk program KB seperti ketersediaan alat
kontrasepsi dan perbaikan distribusi.
b. Kampanye “Dua Anak Cukup” belum optimal dikarenakan masih banyak
masyarakat yang berfikiran tradisional terkait “Banyak Anak Banyak Rezeki”
serta juga dipengaruhi budaya dan pola pikir.
c. Agar program promosi kesehatan mengenai KB dapat berjalan optimal maka
pemerintah melakukan pendekatan kepada masyarakat terkait program KB.
Misalnya, mengenai manfaat program KB serta penggunaan KB.
d. Hubungan antara bonus demografi dan program keluarga berencana (KB
adalah apabila program KB gagal maka akan mempengaruhi bonus demografi.
3

e. Penyebab penurunan tingkat pertumbuhan penduduk dari tahun 2010-2015 ke


2018 adalah keberhasilan program KB dan angka kematian menurun

4. Langkah 4. Problem Tree

Kurangnya
Penurunan
Ketersediaan partisipasi dari
derajat Ledakan jumlah
lapangan masyarakat
kesehatan penduduk
pekerjaan terkait program
penduduk
pemerintah

Pertumbuhan
Penduduk

Kurangnya Tingkat
kegiatan fertilitas
Pengaruh
promotif yang tinggi
budaya dan
dan dan
pola pikir
preventif mortalitas
masyarakat
dari penduduk
pemerintah yang rendah

5. Langkah 5. Menetapkan Sasaran Belajar (formulate learning objective)


a. Bagaimana hubungan tingkat pertumbuhan penduduk dengan bonus
demografi?
b. Apakah penyebab penurunan tingkat pertumbuhan penduduk dari tahun 2010-
2015 ke 2018?
4

c. Bagaimana hubungan antara bonus demografi dan program keluarga


berencana dengan penurunan tingkat pertumbuhan penduduk?
d. Bagaimana kegiatan promotif dan preventif pemerintah untuk menurunkan
pertumbuhan penduduk?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tinjauan Kasus Berdasarkan Sasaran Belajar yang Mengacu pada


Pustaka yang Relevan dengan Kasus
1. Hubungan tingkat pertumbuhan penduduk dengan bonus demografi
Pertumbuhan penduduk merupakan suatu keuntungan bagi suatu negara
salah satunya dapat menurunkan angka ketergantungan dan meningkatnya usia
produktif yang disebut dengan istilah bonus demografi (Mukri, 2018). Bonus
demografi merupakan masa transisi demografi yaitu terjadinya penurunan tingkat
kematian yang diikuti dengan penurunan tingkat kelahiran dan dapat digunakan
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan penduduk usia
produktif secara optimal. Bertambahnya jumlah penduduk diikuti dengan
meningkatnya proporsi penduduk yang berusia 15-64 tahun, yang artinya
presentase penduduk produktif juga menguat (Sulystyastuti, 2018).
Bonus demografi dapat menjelaskan hubungan penduduk dengan
pertumbuhan ekonomi yaitu melalui penawaran kerja, peranan perempuan,
investasi/tabungan, dan modal manusia. Jadi, modal manusia yaitu usia produktif
yang banyak dapat diserap di tenaga kerja melalui penawaran kerja sehingga
pemerintah pun bisa memanfaatkan tenaga kerja dalam negri dengan optimal dan
tidak perlu banyak menggunakan tenaga kerja asing. Kemudian peranan
perempuan dalam bekerja juga menjadi salah satu keuntungan ekonomi dimana
keluarga yang memiliki anak sedikit bisa menyisihkan penghasilan yang
didapatkan untuk ditabung (Dewi, 2018).
Namun pertumbuhan penduduk yang pesat dan tidak terkendali bisa saja
menjadi boomerang bagi suatu negara, karena akan mengakibatkan ledakan
penduduk (baby booming) dimana usia belum produktif lebih banyak dari pada
usia produktif sehingga berdampak bagi pangan, energi, papan, dan juga bagi
keseimbangan ekonomi. Kondisi ini akan dapat memberikan kontribusi positif
jika suatu negara mampu mengelola bonus demografi dengan baik. Dalam konsep
ekonomi kependudukan bonus demografi dinilai sebagai keuntungan ekonomis

5
6

karena semakin besar jumlah penduduk usia produktif maka akan besar juga
tabungan dari penduduk produktif sehingga dapat memicu investasi dan
pertumbuhan ekonomi (Rusdianasari, 2019 dan Umar, 2017).

2. Penyebab penurunan tingkat pertumbuhan penduduk dari tahun (2010-


2015)-2018
Penyebab penurunan tingkat pertumbuhan penduduk yaitu karena
keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang berkontribusi terhadap
penurunan perutmbuhan penduduk sebagai akibat dari penurunan angka
kesuburan total (Total Fertility Rate- TFR). Ini juga terjadi karena keberhasilan
pembangunan kependudukan dalam rangka menurunkan angka fertilitas dan
peningkatan usia harapan hidup yang menghasilkan transisi demografi yang
ditandai dengan menurunnya angka kelahiran dan kematian serta meningkatnya
angka harapan hidup (AHP) (Noor, 2015).
Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan tingkat pertumbuhan
penduduk yaitu (Suartha, 2016):
b. Total feritility rate yang menurun karena program KB
c. Mortality yang tinggi, masih diatas 1%
d. Faktor demografi yang mencakup
1. Kelahiran
2. Kematian
3. Migrasi
Penyebab penurunan tingkat pertumbuhan dari tahun 2010-2015 ke tahun
2018, dipengaruhi oleh tingkat kelahiran dan kematian. Tingkat penurunan
kelahiran lebih cepat daripada tingkat penurunan kematian. Dilihat dari angka
kelahiran kasus, turun dari 21,0/1000 penduduk pada awal proyeksi, kemudian
turun menjadi 14,0/1000 penduduk pada akhir proyeksi. Sedangkan angka
kematian kasus naik dari 6,4/1000 penduduk menjadi 8,8/1000 penduduk dalam
kurun waktu yang sama. Penyebab penurunan tingkat pertumbuhan penduduk atau
laju pertumbuhan penduduk (LPP) di Indonesia memiliki kecenderungan menurun
7

dikarenakan kebijakan pemerintah untuk menekan LPP dengan adanya program


KB pada tahun 1980 an yang semakin nyata hasilnya (Maryati, 2015).

3. Hubungan antara bonus demografi dan program keluarga berencana


dengan penurunan tingkat pertumbuhan penduduk
Program Keluarga Berencana yang bertajuk dua anak cukup berhasil
menurunkan laju pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia dari 2,31% menjadi
1,49% pada periode 1971-1980 ke periode 2000-2010 (BPS, 2011d). Tren
komposisi umur penduduk mengalami transisi demografi sejak tahun 1971-2010
terlihat dari piramida penduduk Indonesia yang menunjukkan pola ekspansif
menjadi konstruktif. Saat ini, piramida penduduk Indonesia berbentuk konstruktif
yang mana kelompok usia muda non produktif mendominasi sehingga pada
proyeksi penduduk tahun 2030 akan terjadi bonus demografi karena penduduk
usia muda saat ini akan menjadi penduduk usia produktif pada tahun 2030 yang
mengubah piramida penduduk di Indonesia menjadi stasioner serta secara
matematis akan mencapai Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS). Lonjakan
penduduk pada tahun 2030 dikatakan bonus demografi karena diharapkan
mendominasinya usia produktif mampu menurunkan rasio ketergantungan dan
meningkatkan produktivitas sektor-sektor lain yang terkait pembangunan
nasional. Diperkirakan bonus demografi akan berakhir di tahun 2035, diharapkan
Indonesia mampu memanfaatkan bonus demografi dalam jangka waktu 5 tahun
tersebut (Hariyono, 2016).
Keberhasilan KB memyebabkan penurunan fertilitas dan mortalitas dalam
jangka waktu panjang yang membuka jendala kesempatan bagi pembangunan
kependudukan untuk memanfaatkan kondisi ini untuk memperbaiki kualitas SDM
dari aspek pendidikan, ekonomi, dan kesehatan (Hariyono, 2016). Berbicara
tentang keluarga berencana atau family planning tentu erat kaitannya dengan usia
subur. Banyaknya jumlah penduduk wanita usia subur (15-49 th) akan
mempengaruhi tingkat fertilitas di tahun-tahun berikutnya tercatat pada tahun
2015 jumlah wanita usia subur sebanyak 69,2 juta dan diperkirakan pada tahun
2035 akan bertambah menjadi 76,1 juta. Meskipun saat ini mayoritas perempuan
8

telah mengerti program keluarga berencana namun tetap harus diimbangi dengan
pembangunan fasilitas kesehatan yang memberi kemudahan akses dalam
mendukung perawatan kesehatan reproduksi agar ibu memiliki pengetahuan yang
tepat dan anak yang dilahirkan mampu menjadi bibit yang berkualitas di masa
depan (Najihah, 2018).
Sejak tahun 1994 tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga
Berencana Nasional. Sejarah Hari Keluarga Berencana Nasional ditetapkan
sebagai pengingat agar tiap keluarga mampu mewujudkan keluarga yang sehat
dan sejahtera dengan perencanaan yang baik. Gerakan Keluarga Berencana
pertama kali diusung oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
pada tahun 1957 yang dilakukan secara silent operation, hal ini dikarenakan pada
tahun 1950 pasca kemerdekaan pola perkawinan penduduk tidak terarah dan
minimnya pengetahuan tentang pertumbuhan penduduk namun isu kependudukan
masih tabu sehingga gerakan tersebut dilakukan secara diam-diam. Meningkatnya
jumlah penduduk saat itu tidak sebanding dengan ketersediaan pangan untuk
kebutuhan penduduk yang semakin hari semakin melonjak (Panggabean, 2017).
Ditambah stigma “banyak anak, banyak rezeki” menjadi pedoman dalam
membangun keluarga di masa itu padahal banyaknya penduduk yang berusia non-
produktif dapat meningkatkan angka beban ketergantungan bagi usia produktif.
Perhatian terhadap laju pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol akhirnya
mulai menjadi perhatian pemerintah pada masa Orde Baru tahun 1970-an
sehingga dibentuklah badan pemerintahan yang khusus menangani penekanan laju
fertilitas penduduk dengan Program Keluarga Berencana yang terkenal slogannya
“dua anak, lebih baik”(Jati, 2015).
Pentingnya merencanakan dengan baik pola perkawinan dan jumlah anak
dengan program keluarga berencana menjadi salah satu upaya kita dalam
memanfaatkan jendela kesempatan untuk meraih bonus demografi. Jumlah anak
yang tidak terencana dan tren menikah muda yang tidak dikontrol dengan baik
dapat mempengaruhi perubahan struktur umur penduduk di masa depan dan kita
akan kehilangan jendela kesempatan untuk memanfaatkan bonus demografi
(Hariyono, 2016). Apabila masih banyak penduduk menikah di bawah usia
9

menikah dan memiliki anak maka di awal usia produktifnya ia akan sibuk
mengurus anak ditambahnya minimnya kemampuan dan pengetahuan mengurus
anak secara psikologis bagi pasangan di bawah usia menikah dapat menyebabkan
anaknya tumbuh tidak sehat dan cerdas (Najihah, 2018). Kita tidak tahu kapan
lagi Indonesia memiliki kesempatan mendapatkan bonus deomgrafi, oleh karena
itu kita tidak boleh hanya mengandalkan program pemerintah saja tetapi juga
harus peduli terhadap kondisi kependudukan saat ini. Pengetahuan tentang kondisi
kependudukan dan target mendapatkan bonus demografi di tahun 2030-2035
dapat dipenetrasi kepada lingkungan sekitar dengan obrolan ringan dan
diharapkan masyarakat luas memiliki wawasan terkait bonus demografi (Jati,
2015).

4. Kegiatan preventif dan promotif pemerintah untuk menurunkan


pertumbuhan penduduk
Kebijakan kependudukan di Indonesia merupakan salah satu bentuk upaya
pemerintah yang tujuannya untuk mengatur pengendalian jumlah pertumbuhan
penduduk dengan berusaha mempengaruhi tiga variabel utama yaitu kelahiran
(fertilitas), kematian (mortalitas) dan perpindahan penduduk (migrasi).
Pemerintah telah merapkan beberapa kebijakan kependudukan seperti
melaksanakan program keluarga berencana, pembatasan usia perkawinan,
memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Kebijakan kependudukan
bedasarkan sifat biasanya dibagi menjadi dua yaitu kebijakan lansung dan tidak
langsung. Kebijakan langsung merupakan bentuk kebijakan yang langsung
mempengaruhi tiga variabel utama, kebijakan tidak lansung merupakan
kebijakanya yang bersifat perantara. Contohnya memperluas kesempatan
mendapatkan pendidikan,serta perluasan peluang kerja yang secara tidak lansung
menjadi perantara penghambat bagi usia perkawinan (Noor, 2015).
Penundaan perkawinan cenderung menyebabkan penurunan dalam
kesuburan, itu saja tidak bisa membawa ke tingkat fertilitas rendah (Smith 1983).
Selain itu, penundaan perkawinan untuk menyelesaikan pendidikan formal (untuk
10

wanita usia 21-24.) untuk menghindari biaya ekonomi tinggi jika menikah dan
sekolah. Akibatnya banyak anak diluar pernikahan (Zulfa, 2016).
Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam rangka menanggulangi
tingginya tingkat pertumbuhan melalui pembatasan kelahiran dengan program
Keluarga Berencana telah diterbitkannya UU No. 52 tahun 2009 serta UU
Kependudukan Nomor 23 tahun 2006. Diterbitkannya undang-undang ini dapat
dipergunakan sebagai pedoman penanggulangan kependudukan, sebagaimana
diamanatkan Pasal 43 pada undangundang ini (Suartha, 2016).

B. Analisis Kasus pada Skenario Lebih Mendalam


Hubungan tingkat pertumbuhan dengan bonus demografi yaitu pertumbuhan
penduduk yang pesat akan memunculkan beragam masalah. Pertumbuhan
penduduk merupakan indikator penting dalam suatu negara. dengan intensitas
yang berbeda. Pertumbuhan penduduk di suatu daerah, akan berpengaruh positif
maupun negatif terhadap komponen lingkungan seperti lahan, air, flora dan fauna,
dan lain-lain. Pertumbuhan penduduk memerlukan pangan, tempat tinggal, air
bersih, dan lain-lain Perubahan penggunaan lahan akan berpengaruh pada
komponen lain termasuk sumber daya, air, tanah, dan lain-lain. Sedangkan bonus
demografi adalah diartikan sebagai keuntungan ekonomi yang disebabkan rasio
ketergantungan. Apabila rasio ketergantungannya rendah berarti usia produktif
(15-64 tahun) proporsinya besar, sehingga dapat menguntungkan neraga karena
mereka yang dapat membuat perekonomian negara berputar dengan baik. Melihat
lajunya pertumbuhan penduduk di Indonesia pemerintah membuat kebijakan
program untuk menekan angka pertumbuhan penduduk degan usia dibawah 14
tahun dengan mengeluarkan program KB sehingga bonus demografi dapat
berjalan dengan optimal (Darni, 2016).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan
tingkat pertumbuhan dari tahun 2010-2015 yang terbesar 1,49% menjadi 1,30%
pada 2018, dikarenakan telah terlaksananya program KB dari pemerintah untuk
membantu individu-individu atau pasangan suami isteri guna mencapai tujuan-
tujuan menghindari kelahiran yang tidak diinginkan atau diharapkan dan
11

memperoleh anak-anak yang didambakan, mengatur jarak kehamilan, mengatur


waktu kelahiran dalam hubungannya dengan umur dari suami isteri dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga (Kusyanto, 2017).
Bonus demografi merupakan salah satu perubahan dinamika demografi
yang terjadi karena adanya perubahan struktur penduduk menurut umur.
Parameter yang digunakan dalam menilai fenomena bonus demografi dengan
menggungakan dependency ratio atau rasio ketergantungan yang menggambarkan
perbandingan antara jumlah penduduk usia produktis dengan penduduk usia non
produktif yang menunjukkan beban tanggungan penduduk usia produktif terhadap
penduduk usia nonproduktif (Mardiani, 2018).
Program kependudukan dan keluarga berencana merupakan dua komitmen
nasional yang sangat penting. Program KB pada hakekatnya memiliki arti yang
sangat penting dan strategis dalam menyusun langkah-langkah dalam
pembangunan upaya mewujudkan manusia Indonesia sejahtera disamping
program pendidikan dan kesehatan. Program KB adalah upaya mengatur kelahiran
anak, jarak dan usia ideal menikah, mengatur kehamilan, melalui promosi,
perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan
keluarga berkualitas (Dinas PPKB, 2017).
Pada tahun 2018, Indonesia terjadi penurunan penduduk. Ini terjadi karena
keberhasilan program KB selama berpuluh tahun sebelumnya mampu menggeser
penduduk berusia di bawah 15 tahun ke penduduk usia produktif yaitu 15-64
tahun (Mardiani, 2018). Struktur piramida yang mengembang di tengah semacam
ini menguntungkan karena beban ketergantungan penduduk usia nonproduktif
menjadi lebih ringan karena banyaknya penduduk usia produktif. Selain itu
selaras dengan program KB dimana bertujuan untuk menekan angka laju
pertumbuhan penduduk untuk mewujudkan penduduk tumbuh kembang dan
keluarga berkualitas (Hartanto, 2010).
Dalam rangka menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk dan menekan
angka laju pertumbuhan penduduk, pemerintah telah melakukan upaya promotif
dan preventif yang salah satunya yaitu dengan dikeluarkannya Undang-Undang
Nomor 52 Tahun 2009 dan Undang-Undang Kependudukan Nomor 23 Tahun
12

2006 yang dipergunakan sebagai pedoman penanggulangan kependudukan yang


terdapat pada pasal 43 (Mardiani, 2018). Selain itu juga dengan Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan
yang menyebutkan bahwa KB merupakan suatu manfaat pelayanan promotif dan
preventif (Oktriyanto, 2016).
Program lain yang dijalankan adalah komunikasi, informasi dan edukasi
(KIE) terkait dengan penguatan pengetahuan dan sikap tentang KB, ada pula
pendidikan seks guna mencegah penyalahgunaan seks khususnya yang tidak
direncanakan juga ada konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan
(Oktriyanto, 2016). Pemerintah bersama BKKBN juga gencar mengkampanyekan
slogan “2 anak cukup”, mengembangkan program seperti Bina Keluarga Balita
(BKB), Bina Keluarga Lansia (BKL), Pusat Informasi dan Konseling
Remaja/Mahasiswa (PIK R/M), Generasi Berencana (GenRe) dan lainnya untuk
meningkatkan kualitas generasi muda bangsa (BKKBN, 2018). Ada lagi upaya
yang dilakukan pemerintah ialah menggalakkan program transmigrasi nasional,
memberlakukan tariff tinggi pada para imigran, meningkatkan pelayanan dalam
bidang pendidikan dan kesehatan, menyadarkan dan meningkatkan wajib belajar
pendidikan dasar bagi masyarakat, pemerataan lapangan kerja dan pembatasan
tunjangan anak bagi ABRI dan TNI (Ridwan, 2019).
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pertumbuhan penduduk merupakan suatu keuntungan bagi suatu negara
salah satunya dapat menurunkan angka ketergantungan dan meningkatnya usia
produktif yang disebut dengan istilah bonus demografi. Keberhasilan program KB
memyebabkan penurunan fertilitas dan mortalitas dalam jangka waktu panjang
yang membuka jendala kesempatan bagi pembangunan kependudukan untuk
memanfaatkan kondisi ini untuk memperbaiki kualitas SDM dari aspek
pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Hubungan tingkat pertumbuhan dengan
bonus demografi yaitu pertumbuhan penduduk yang pesat akan memunculkan
beragam masalah. Pertumbuhan penduduk merupakan indikator penting dalam
suatu negara. dengan intensitas yang berbeda. Dalam rangka menurunkan tingkat
pertumbuhan penduduk dan menekan angka laju pertumbuhan penduduk,
pemerintah telah melakukan upaya promotif dan preventif yang salah satunya
yaitu dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 dan
Undang-Undang Kependudukan Nomor 23 Tahun 2006 yang dipergunakan
sebagai pedoman penanggulangan kependudukan yang terdapat pada pasal 43.
Selain itu juga dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun
2013 tentang Jaminan Kesehatan yang menyebutkan bahwa KB merupakan suatu
manfaat pelayanan promotif dan preventif.

B. Saran
Pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi dapat menjadi keuntungan
dan kerugian. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah mampu lebih menggalakan
program untuk menjaga tingkat pertumbuhan penduduk. Kualitas penduduk yang
baik akan mempengaruhi bonus demografi yang akan dialami oleh Indonesia.
Oleh karena itu, sebaiknya pembangunan di bidang ekonomi, pendidikan, dan
kesehatan dapat ditingkatkan sehingga mampu meningkatkan kualitas penduduk
Indonesia.

13
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2013. Proyeksi penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta:


Badan Pusat Statistik.

BKKBN. 2018. Jurnal Keluarga: Waspada ledakan penduduk. Jakarta: BKKBN.

Darni. 2016. Dampak keluarga berencana terhadap kualitas hidup penduduk di


Provinsi Jawa Timur (Studi tentang penguatan fungsi keluarga di bidang
kesehatan, pendidikan, dan ekonomi). Jurnal Studi Perempuan; 12(1): 85-
106.

Dewi S. 2018. Bonus Demografi di Indonesia Suatu Anugrah/Petaka. Journal of


Information System Management, Accounting, and Research.
Dinas Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana. 2017. Rencana strategis
dinas pengendalian penduduk dan keluarga berencana kabupaten Minahasa
Tenggara. Ratahan: Dinas Pengendalian Penduduk Dan Keluarga
Berencana.

Efendi F, Makhfudi. 2009. Keperawatan kesehatan komunitas. Jakarta: Salemba


Medika.

Hariyono K. 2016. Perencanaan Pembangunan Di Papua Dan Bonus Demografi


2020.. Jurnal Tata Kelola & Akuntabilitas Keuangan Negara. 2 (1):46-69.

Hartanto, H. 2010. KB dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Jati WR. 2015. Bonus demografi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Jurnal
popilasi. 23(1): 1-19.

Kusyanto H. 2017. Review penurunan fertilitas di negara berkembang. Jurnal


administrasi publik. 5(2): 34-40.

Mardiani, Z. I., & Purnomo, N, H. 2018. Permasalahan kependudukan dan bonus


demografi. Jakarta: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Maryati S. 2015. Dinamika pengangguran terdidik: tantangan menuju bonus


demografi di Indonesia. Journal of economic and economic education.
3(2): 124-136.

Mukri SG. 2018. Menyongsong Bonus Demografi Indonesia. Buletin Hukum &
Keadilan Adalah 2018. 2(6):51-52.
Najihah D. 2018. Resistensi Masyarakat Terhadap Program Keluarga Berencana
(KB).. Keluarga Berencana. 1(2): 53-71.
Noor M. 2015. Kebijakan pembangunan kependudukan dan Bonus Demografi.
Jurnal ilmiah UNTAG Semarang. 4(1): 121-129.

Oktriyanto. 2016. Penyelenggaran pelayanan keluarga berencana dalam jaminan


kesehatan nasional. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen. 9(2): 77-88.

Penggabean M. 2017. Studi deskriftif tidak tercapainya bonus demografi di


kabupaten landak.Jurnal ekonomi, bisnis & kewirausahaan. 6(1): 43-58.

Ridwan, Mulia J., Ningsih, A. W. 2019. Strategi balai penyuluhan keluarga


berencana kabupaten bungo dalam pengendalian pertumbuhan penduduk
suku anak dalam. KEMUDI: Jurnal Ilmu Pemerintahan. 3(2): 212-236.

Rusdianasari F, Kamariyah S, Adenan M. 2019. Perlambatan Pertumbuhan dan


Transisi Demografi di Indonesia. Jurnal Media Trend. 14(1):105-119.
Suartha N. 2016. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya laju pertumbuhan
dan implementasi kebijakan penduduk di Provinsi Bali. Jurnal piramida.
12(1): 1-7.

Sulystyastuti DR. 2017. Tantangan Indonesia Mengoptimalkan Bonus Demografi.


Jurnal Studi Pemuda. 6(1):538-547.
Umar MA. 2017. Bonus Demografi Sebagai Peluang dan Tantangan Pengelolaan
Sumber Daya Alam di Era Otonomi Daerah. Jurnal genta Mulia. 8(2):90-
99.
Zulfa A. 2016. Pengaruh petumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi
terhadap tingkat pengangguran di Kota Lhokseumawe. Jurnal Visioner &
Strategis; 5(1): 13-22.
LAMPIRAN