Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH

BELAJAR BERBASIS MASALAH (BBM)


PENGENDALIAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA
SKENARIO LEDAKAN

Oleh:
KELOMPOK III

Aniqa Tadzkiya Putri 1710912120001


Risna Ridha Aulia 1710912120017
Angelicha Wiranda Rizky 1710912220005
Rahmida Nurmiyanti 1710912220032
Marcselino Pradayuna M 1710912310030
Desyca Ayu Rahmadani 1710912320012
Nuzulia Bella Destriani 1710912320049
Sela Yulianti 1710912320066

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2019
MAKALAH
BELAJAR BERBASIS MASALAH (BBM)
PENGENDALIAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA
SKENARIO LEDAKAN

Disusun Oleh :
KELOMPOK III

Aniqa Tadzkiya Putri 1710912120001


Risna Ridha Aulia 1710912120017
Angelicha Wiranda Rizky 1710912220005
Rahmida Nurmiyanti 1710912220032
Marcselino Pradayuna M 1710912310030
Desyca Ayu Rahmadani 1710912320012
Nuzulia Bella Destriani 1710912320049
Sela Yulianti 1710912320066

Telah disahkan dan diterima dengan baik oleh:

Banjarbaru, 5 Mei 2019


Koordinator BBM-Pengendalian Tutor,
kependudukan dan keluarga berencana (KB)
PSKM FK-ULM

Rudi Fakhriadi., SKM., M.Kes (Epid)


Musafaah, SKM., MKM NIP. 19850403 200812 1 004
NIP. 19810402 200604 2 001

DAFTAR ISI

ii
Halaman
COVER................................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Skenario .............................................................................................1
B. Analisis Kasus.....................................................................................1
1. Langkah 1......................................................................................1
2. Langkah 2......................................................................................2
3. Langkah 3......................................................................................2
4. Langkah 4......................................................................................3
5. Langkah 5......................................................................................4
BAB II. PEMBAHASAN
A. Tinjauan Kasus Berdasarkan Sasaran Belajar yang Mengacu pada
Pustaka yang Relevan dengan Kasus..................................................5
B. Analisis Kasus Pada Skenario Lebih Mendalam..............................16
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................23
B. Saran.................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Skenario
Ledakan…
Kementerian Perencanaan Pembangunan/Bappenas memperkirakan jumlah
penduduk Indonesia pada tahun 2045 mencapai 321 juta jiwa. Indonesia akan
mengalami peningkatan jumlah proporsi usia produktif selama rentang waktu
2020-2035, yang mencapai puncaknya pada 2030. Salah satu strategi yang harus
dilakukan adalah menjaga tingkat fertilitas ratio dan mempercepat penurunan
angka kematian bayi.

B. Analisa Kasus
1. Langkah 1. Klarifikasi/Identifikasi Instilah (Clarify term)
a. Identifikasi Istilah
1) Fertilitas ratio
2) Proporsi
3) Usia & produktif
4) Angka kematian bayi
b. Klarifikasi Istilah
1) Fertilitas ratio adalah perbandingan bayi lahir hidup dan bayi lahir mati.
2) Proporsi adalah perbandingan objek satu dan yang lain dengan perbandingan
objek keseluruhan.
3) Usia adalah lama waktu seseorang hidup, dan produktif adalah mengerjakan
suatu aktivitas dengan maksimal dan optimal yang bermanfaat bagi orang lain.
Jadi, usia produktif adalah lama waktu seseorang hidup dimana seseorang
melakukan kegiatan bermanfaat dalam kurun waktu15-64 tahun.
4) Angka kematian bayi adalah angka kematian bayi kurang dari 1 tahun dalam
1000 kelahiran hidup.

1
2

2. Langkah 2. Membuat Daftar Masalah (define the problem)


a. Apa maksud dari mempercepat penurunan angka kematian bayi?
b. Strategi seperti apa yang dipakai untuk mempercepat penurunan angka
kematian bayi ?
c. Berapa tingkat fertilitas ratio di Indonesia dan berapa angka kematian bayi di
Indonesia?
d. Apakah peningkatan jumlah proporsi usia produktif berhubungan dengan
bonus demografi?
e. Berapa tingkat fertilitas ratio ideal di Indonesia?
f. Apa peran Bappenas dalam menjaga strategi fertilitas dan penurunan angka
kematian bayi?
g. Apa peran sarjana kesehatan masyarakat untuk menjaga fertilitas dan
penurunan angka kematian bayi?
h. Apakah ada lembaga lain dalam masalah fertilitas ratio dan penurunan angka
kematian bayi?

3. Langkah 3. Menganalisa Masalah (analyze the problem)


a. Maksud dari mempercepat penurunan angka kematian bayi adalah menekan
angka kematian bayi agar berkurang secara signifikan.
b. Strategi yang dipakai untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi
adalah dengan program KB.
c. Peningkatan jumlah proporsi usia produktif berhubungan dengan bonus
demografi karena bonus demografi adalah meningkatnya jumlah usia
produktif. Karena dengan meningkatnya jumlah usia produktif dapat
menurunkan angka ketergantungan.
d. Peran sarjana kesehatan masyarakat untuk menjaga fertilitas dan penurunan
angka kematian bayi adalah dengan promosi kesehatan yaitu dengan
memberikan pengetahuan tentang KIA dan rematri.
e. Lembaga lain yang menangani permasalahan fertilitas ratio dan penurunan
angka kematian bayi adalah BKKBN, Kemenkes dan Dinkes.
3

4. Langkah 4. Problem Tree

Rendahnya Ada masyarakat


kualitas & yang tidak Status gizi
peningkatan menggunakan ibu kurang
kuantitas KB
penduduk

Tingkat Fertilitas Ratio


& AKB

Persepsi
Status Kurangnya masyarakat
ekonomi pengetahuan terhadap KB

Kurangnya
Tidak
perhatian
Budaya meratanya
pemerintah
pernikahan persebaran
terhadap
dini penduduk
ledakan
penduduk

5. Langkah 5. Menetapkan Sasaran Belajar (formulate learning objective)


a. Strategi seperti apa yang digunakan untuk mempercepat penurunan angka
kematian bayi dan tingkat fertilitas ratio
b. Berapa tingkat fertilitas ratio dan angka kematian bayi di Indonesia
c. Tingkat fertilitas ratio ideal di Indonesia
d. Peran Bappenas dalam menjaga fertilitas ratio dan penurunan angka kematian
bayi
4

e. Definisi fertilitas ratio, proporsi, usia produktif, dan angka kematian bayi
f. Perbedaan ratio dan proporsi
g. Penyebab tingkat fertilitas ratio dan angka kematian bayi yang tinggi
h. Dampak negatif bonus demografi
i. Konsep fertilitas ratio dan angka kematian bayi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tinjauan Kasus Berdasarkan Sasaran Belajar yang Mengacu pada


Pustaka yang Relevan dengan Kasus
1. Strategi yang digunakan untuk mempercepat penurunan AKB & tingkat
fertilitas ratio
Dalam menghadapi masalah kependudukan mengenai angka fertilitas yang
kian meningkat, pemerintah telah mengambil kebijaksanaan salah satunya dengan
menjalankan program keluarga berencana hingga saat ini. Program keluarga
berencana diujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu
dan anak, keluarga serta masyarakat pada umumnya. Dengan pelaksanaan
keluarga berencana, diusahakan agar angka kelahiran dapat diturunkan sehingga
tingkat kecepatan perkembangan penduduk tidak melebihi kemampuan kenaikan
produksi, dan dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan taraf kehidupan
dan kesejahteraan rakyat. Pelaksanaan program ini dilakukan atas sukarela serta
tidak bertentangan dengan agama, kepercayaan, dan moral pancasila (Bappenas,
2015).
Dalam menghadapi peningkatan AKB terdapat beberapa strategi yang
dilakukan oleh BAPPENAS untuk menekan angka pertumbuhannya, yaitu
(Kemenkes RI, 2018):
a. Peningkatan akses dan mutu continuum of care
b. Peningkatan kunjungan ibu hamil
c. Pertolongan persalinan di Fasyankes
d. Penurunan kasus kematian ibu dirumah sakit
e. UKS, Posyandu, dll.

2. Tingkat fertilitas ratio & AKB di Indonesia


Berdasarkan hasil survei demografi pada tahun 2016, kejadian AKB di
Indonesia sebesar 23,50/per 1000 kelahiran hidup. Kemudian pada tahun 2017
kejadian AKB di Indonesia mengalami peningkatan yaitu 24/per 1000 kelahiran
hidup. Adapun tingkat fertilitas ratio atau TFR di Indonesia menurut survei

5
demografi dan kesehatan Indonesia 2012 yang melakukan perhitungan TFR
dengan metode estimasi langsung sebesar 2,6. Namun kemudian angka TFR turun
dari

6
6

angka 2,6 anak per wanita menjadi angka 2,4 anak per wanita sesuai hasil survei
demografi dan kesehatan Indonesia tahun 2017. Meskipun belum mencapai
sasaran Renstra 2015-2019 yakni 2,3 namun ada tren kecenderungan penurunan
yang memberi harapan (Indraswari, 2017).

3. Tingkat fertilitas yang ideal


Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia masih berada pada angka 2,6 di
tahun 2012. Menurut United Nations (UN), angka TFR di Indonesia tersebut
tergolong tinggi. Meskipun pada tahun 2015 sudah mengalami sedikit penurunan
menjadi sebesar 2,5, tetapi TFR tersebut masih tergolong tinggi jika dibandingkan
dengan negara lain, misalnya dua kali lebih tinggi dari TFR di Singapura, 1,25
kali lebih tinggi dari TFR Malaysia dan menempati peringkat keempat di ASEAN.
Menurut UN (2007) suatu negara akan mencapai tahap Replacement Level
Fertility ketika TFR berada pada angka 2,1 (Rahmayeni, 2016).

4. Peran Bappenas/Kementrian Perencanaan Pembangunan dalam menjaga


Angka Kematian Bayi (AKB) dan tingkat fertilitas ratio
Status kesehatan anak Indonesia semakin membaik. Hal ini ditunjukkan
oleh semakin rendahnya angka kematian neonatal, bayi, dan balita. Angka
kematian balita menurun dari 97 per seribu kelahiran hidup pada tahun 1991
menjadi 44 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2007. Angka kematian bayi
turun dari 68 per seribu kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi hanya 34 per
seribu kelahiran hidup (2007). Angka kematian neonatal juga menurun dari 32 per
seribu kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi 19 per seribu kelahiran hidup
pada tahun 2007 (Bappenas, 2012).
Namun demikian, jika dibandingkan hasil SDKI 2002-2003 dengan SDKI
2007 penurunan kematian neonatal, bayi maupun balita cenderung stagnan.
Penyebab utama kematian balita adalah masalah neonatal (asfiksia, berat badan
lahir rendah, dan infeksi neonatal), penyakit infeksi (utamanya diare dan
pneumonia) serta terkait erat dengan masalah gizi (gizi buruk dan gizi kurang).
Masalah lain adalah disparitas angka kematian neonatal, kematian bayi dan angka
kematian balita yang cukup tinggi, antarprovinsi. Kondisi ini disebabkan oleh
7

masalah akses dan kualitas pelayanan kesehatan, masalah sosial ekonomi dan
budaya, pertumbuhan infrastruktur serta kerterbukaan wilayah tersebut akan
pembangunan ekonomi dan pendidikan (Bappenas, 2012).
Upaya membaiknya tingkat kesehatan anak dipengaruhi oleh meningkatnya
cakupan pelayanan yang diterima sejak anak berada dalam kandungan melalui:
pelayanan pemeriksaan kehamilan yang berkualitas, persalinan oleh tenaga
kesehatan utamanya di fasilitas kesehatan, pelayanan neonatal (melalui kunjungan
neonatal), cakupan imunisasi utamanya cakupan imunisasi campak, penanganan
neonatal, bayi dan balita sakit sesuai standar baik di fasilitas kesehatan dasar dan
fasilitas kesehatan rujukan dan meningkatnya pengetahuan keluarga dan
masyarakat akan perawatan pada masa kehamilan, pada masa neonatal, bayi dan
balita, serta deteksi dini penyakit dan care seeking behaviour ke fasilitas
kesehatan (Bappenas, 2012).
Membaiknya tingkat kesehatan anak tersebut terkait dengan upaya-upaya
pencegahan penyakit, termasuk pemberian imunisasi. Imunisasi dasar lengkap
bagi anak meliputi BCG sebanyak 1 kali, DPT-HB 3 kali, polio 4 kali, dan
campak 1 kali. Secara rerata 77,90 persen anak umur 12-23 bulan telah
memperoleh imunisasi BCG, 74,40 persen memperoleh imunisasi campak, 66,70
persen memperoleh imunisasi polio, dan 61,90 persen memperoleh imunisasi
DPT-HB. Berbagai upaya yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan
kesehatan anak Indonesia, yakni melalui continuum of care berdasarkan siklus
hidup, continuum of care berdasarkan pelayanan kesehatan (promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif), continuum of care pathway sejak anak di rumah, di
masyarakat (pelayanan posyandu dan poskesdes), di fasilitas pelayanan kesehatan
dasar, dan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan (Bappenas, 2012).
Upaya percepatan penurunan kematian balita fokus pada penyebab
kematian. Mengingat 56 persen kematian bayi terjadi pada masa neonatal dan 46
persen kematian balita terjadi di periode neonatal maka dalam upaya percepatan
penurunan angka kematian bayi dan balita fokus utama pada peningkatan akses
dan kualitas pelayanan neonatal, menurunkan prevalensi dan kematian yang
disebabkan oleh diare dan pneumonia, mengurangi dan menanggulangi gizi
8

kurang dan gizi buruk serta meningkatkan cakupan imunisasi campak (Bappenas,
2012).
Upaya menurunkan angka kematian neonatal dilakukan dengan
meningkatkan persalinan oleh tenaga kesehatan dan utamanya di fasilitas
kesehatan, meningkatkan pelayanan kunjungan neonatal oleh tenaga kesehatan
menjadi 3 kali (6-48 jam setelah persalinan, hari ke-3 sampai ke-7 serta hari ke-8
sampai ke-28), ketersediaan pelayanan obstetrik neonatal emergensi dasar di
Puskesmas PONED (minimal 4 Puskesmas PONED per kabupaten/kota), serta
pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif di RS PONEK (minimal 1
RS PONEK perkabupaten/kota). Sejak tahun 2010 pemerintah mencanangkan
program Jampersal (jaminan persalinan nasional) merupakan salah satu terobosan
untuk percepatan menurunkan kematian ibu dan neonatal. Jaminan persalinan
bertujuan melindungi dan menyelamatkan ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru
lahir dari komplikasi dan resiko kematian. Jaminan persalinan ini memberikan
jaminan pelayanan pemeriksaan kehamilan, persalinan, pelayanan ibu nifas dan
bayi baru lahir bagi semua ibu dan bayi baru lahir yang belum memiliki jaminan
kesehatan (Bappenas, 2012).
Untuk mengendalikan kasus dan kematian karena diare sebagai penyebab
terbanyak kematian setelah masalah neonatal maka ketersedian dan distribusi
oralit dan zinc yang merata baik di level masyarakat maupun fasilitas pelayanan
kesehatan menjadi penting disamping keberhasilan ASI Eksklusif, ketersediaan
air bersih, ketersediaan jamban keluarga, hygiene dan sanitasi serta tatalaksana
diare sesuai standar. Untuk mengendalikan kasus dan kematian karena pneumonia
sebagai penyebab ketiga kematian pada bayi dan balita maka ketersedian dan
distribusi antibiotika di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi penting disamping
keberhasilan ASI Eksklusif, imunisasi dasar lengkap, hygiene dan sanitasi,
mencegah indoor dan outdoor polution serta tatalaksana pneumonia sesuai standar
(Bappenas, 2012).
Upaya meningkatkan cakupan imunisasi campak selain ketersediaan dan
distribusi yang merata vaksin dan rantai dingin maka meningkatkan sosialisasi
terkait imunisasi menjadi sangat penting melalui media baik media elektrolik
9

maupun media cetak, serta dilakukan pendekatan khusus pada daerah sulit akses
karena masalah geografi maupun masalah cuaca dengan pendekatan Sustainable
Outreach Services (SOS) (Bappenas, 2012).
Langkah-langkah yang ditempuh untuk menurunkan kematian neonatal,
bayi, dan balita adalah intervensi baik di tingkat keluarga dan masyarakat, di
tingkat pelayanan kesehatan dasar maupun di tingkat pelayanan kesehatan
rujukan. Adapun intervensi di tingkat keluarga dan masyarakat antara lain;
penerapan Buku KIA bahkan hingga di fasilitas kesehatan rujukan, penguatan
Posyandu, meningkatkan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan
balita, imunisasi dasar lengkap, pemberian Vitamin A pada bayi dan balita,
pemberian besi folat ibu hamil, pemberian oralit dan zinc bila diare, penyuluhan
PHBS termasuk cuci tangan dengan sabun, kegiatan kelas ibu balita, deteksi dini
bayi dan balita sakit termasuk deteksi dini bayi dan balita gizi kurang dan gizi
buruk, community feeding centre serta kunjungan rumah (Bappenas, 2012).
Intervensi di tingkat pelayanan dasar dan rujukan meliputi pemeriksaan
kehamilan yang berkualitas dan terintegrasi, persalinan ditolong tenaga kesehatan
utamanya di fasilitas pelayanan kesehatan, penanganan kasus emergensi melalui
Puskesmas PONED dan RS PONEK, pelayanan pasca salin bagi ibu nifas dan
bayi baru lahir, pelayanan KB dan pelayanan rujukan KB, penanganan neonatal,
bayi dan balita sakit sesuai standar (antaralain Manajemen Terpadu Balita Sakit),
penanganan balita gizi kurang dan buruk (Terapeutik Feeding Centre) dan
pelayanan rujukan kasus gizi buruk dengan komplikasi, serta pelayanan rujukan
bayi dan balita sakit (Bappenas, 2012).
Agar pelayanan tersebut di atas dapat terlaksana maka ketersediaan tenaga
kesehatan menjadi sangat penting baik dari segi jenis dan kompetensi yang
dimiliki (bidan, perawat, tenaga gizi lapangan dan nutrisionist, dokter, dr Spesialis
Anak, dr Spesialis Obgyn serta dr Spesialis Anestesi). Bagi daerah yang memiliki
masalah dengan ketersediaan dan kesinambungan keberadaan tenaga kesehatan
tersebut maka dilakukan beberapa strategi antara lain; program (program
pendidikan dokter spesialis (PPDS), dokter dengan kewenangan tambahan,
penempatan resident senior, penugasan khusus perorangan (resident dan D3
10

tenaga kesehatan), penugasan khusus tim (contracting in dan contracting out).


Bagi daerah yang sulit akses maka perlu pendekatan khusus untuk memberikan
pelayanan, metode Sustainable Out Services (SOS), peningkatan komptensi kader
tidak hanya dalam deteksi dini tapi juga memberikan pertolongan pertama atau
pendekatan lain yang dianggap lebih sesuai mulai diujicobakan di daerah
Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Buru (Bappenas, 2012).
Tidak kalah pentingnya ketersediaan dan distribusi obat-obatan dan
peralatan medis yang lengkap dan siap digunakan sangat mendukung pelayanan
sesuai standar disamping supervisi fasilitatif yang dilaksanakan secara berkala.
Keberhasilan pelayanan kesehatan juga tidak terlepas dari membaiknya
infrastruktur, transportasi yang semakin membaik, peran dari profesi dan
perguruan tinggi serta lembaga swadaya masyarakat dan donor agencies dalam
mendukung pelayanan kesehatan yang berkualitas (Bappenas, 2012).

5. Definisi fertilitas ratio, proporsi, usia produktif dan AKB


a. Fertilitas ratio
Fertilitas adalah jumlah kelahiran hidup (live birth) dari seorang wanita atau
sekelompok wanita. Atau dengan kata lain fertilitas adalah kemampuan seorang
wanita atau sekelompok wanita untuk memberikan keturunan yang diukur dengan
bayi lahir hidup (hasil nyata). Pengertian lahir hidup (live birth) menurut PBB dan
WHO adalah peristiwa keluarnya hasil konsepsi dari rahim seorang ibu tanpa
memandang/melihat usia kehamilan, dan setelah perpisahan/keluar tadi bayi
menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti; bernafas, ada denyut jantung atau
denyut tali pusat atau gerakan-gerakan otot, tanpa memandang tali pusat sudah
dipotong/masih melekat pada placenta. Sedangkan pengertian lahir mati adalah
peristiwa menghilangnya tanda-tanda kehidupan dari hasil konsepsi tersebut
keluar dari rahim ibunya tanpa memandang usia kehamilannya. (di dalam
kandungan sudah mati). Tingkat Fertilitas Total (Total fertility Rate / TFR) TFR
adalah jumlah bayi yang akan dilahirkan oleh 1.000 wanita selama masa suburnya
(Mardiani, 2018).
11

b. Proporsi
Proprosi adalah ratio yang spesifik, dengan pembilang yang termasuk ke
dalam penyebutnya dan nilai akhir dinyatakan sebagai presentase atau bilangan
pecahan. Ratio pria terhadap wanita bukan proporsi, tetapi dapat diubah menjadi
suatu proporsi (Pohan, 2007). Contohnya adalah proprosi atau presentase
kelahiran bayi laki-laki terhadap semua kelahiran. Proporsi adalah perbandingan
antarbagian (Nurhadiat, 2004).
Kelahiran bayilaki−laki
Proporsi (%) =
Kelahiran( bayilaki−laki+bayi perempuan)

c. Usia produktif
Usia produktif adalah penduduk pada kelompok usia dimana ia dapat
berpenghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya yaitu antara usia 15-64
tahun (Sugiharsono, 2008). Usia produktif adalah masa usia kerja penduduk (BPS,
2010).

d. AKB (Angka Kematian Bayi)


AKB (Angka Kematian Bayi) adalah jumlah kematian bayi dalam usia 28
hari pertama kehidupan per 1000 kelahiran hidup. Penyebab kematian bayi, ada
dua macam yaitu endogen dan eksogen. Kematian bayi endogen atau kematian
neonatal disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa bayi sejak dilahirkan, yang
dapat diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi. Sedangkan kematian bayi
eksogen atau kematian postneonatal disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan
dengan pengaruh lingkungan luar (Wulandari, 2017).
Tingginya angka kematian bayi disebabkan oleh penyakit infeksi saluran
pencernaan (diare), infeksi saluran pernapasan atas (ispa), penyakit infeksi lain
seperti campak (morbili), kurang gizi dan lain-lain. Adanya penyakit tersebut
disebabkan karena lingkungan dan sanitasi yang buruk, pendidikan yang rendah
serta kemiskinan (Wulandari, 2017).

6. Perbedaan ratio dan proporsi


Ratio merupakan sebuah bilangan yang menghubungkan 2 kuantitas atau
ukuran dalam situasi tertentu terhadap sebuah hubungan perkalian. Sedangkan
12

proporsi yaitu pernyataan kesetaraan dua ratio. Dalam bentuk forma, proporsi

a c
dapat dituliskan = (Nugraha, 2016).
b d
Ratio mencerminkan hubungan antara dua bilangan dalam bentuk hasil bagi

x
misalnya x:y atau . Sedangkan proprosi adalah bentuk khusus dari ratio, dimana
y
didalam peyebut termasuk juga pembilang dan hasilnya adalah nilai yang
dinyatakan dalam bentuk presentase (Dwiprahasto, 2018).

7. Penyebab tingkat fertilitas ratio dan angka kematian bayi yang tinggi
Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya fertilitas dapat dibagi
menjadi dua yaitu faktor demografi dan faktor non demografi (Sunaryanto, 2015
dan Kusuma, 2016):
a. Faktor demografi adalah struktur perkawinan (susunan perkawinan dari usia
muda sampai yang tua), umur kawin pertama (usia laki-laki/ perempuan pada
saat perkawinan pertama), paritas (adanya keseimbangan/ banyaknya
kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang wanita), disrupsi perkawinan, dan
proporsi yang kawin (perbandingan yang kawin dengan yang belum kawin).
Menurut penelitian ditemukan bahwa di Indonesia sebagian besar struktur
umur suami adalah berusia antara 30-39 tahun dan sebagian besar struktur
umur istri adalah berusia antara 20-29 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ada
perbedaan struktur umur antara suami dan istri yang mana umur suami lebih
tua dari umur istri. Dengan sebagian besar umur istri yang masih di usia subur
sehingga pasangan memiliki potensi yang besar untuk menambah jumlah anak
yang dimiliki. Umur perkawinan (umur perkawinan pasangan) merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi suami dan istri dalam hal memiliki anak.
Umur kawin pertama, merupakan faktor penting dalam menentukan jumlah
anak dan jarak kelahiran, baik dilihat dari umur suami atau istri saat
perkawinan pertama. Sebagian besar responden mengatakan bahwa umur
suami saat perkawinan pertama adalah antara 21-25 tahun dan umur istri saat
13

perkawinan pertama sebagian besar adalah 17-20 tahun. Hal ini dapat
diakatakan bahwa umur saat perkawinan pertama bisa dikatakan cukup muda.
b. Faktor non demografi antara lain, keadaan ekonomi penduduk, tingkat
pendidikan, perbaikan status perempuan, urbanisasi dan industrialisasi.
Pendidikan, merupakan hal yang penting karena pendidikan mempengaruhi
pikiran seseorang menentukan jumlah anak yang akan dimiliki, pendidikan
dapat dilihat dari pendidikan terakhir suami dan istri. Semakin tinggi tingkat
pendidikan istri atau wanita cenderung untuk merencanakan jumlah anak yang
semakin sedikit. Keadaan ini menunjukkan bahwa wanita yang telah
mendapatkan pendidikan lebih baik cenderung memperbaiki kualitas anak
dengan cara memperkecil jumlah anak, sehingga akan mempermudah dalam
perawatannya, membimbing dan memberikan pendidikan yang lebih layak.
Keadaan ekonomi suatu keluarga sangat tergantung pada pendapatan keluarga
itu sendiri. Perubahan pada pendapatan keluarga dapat mempengaruhi
fertilitas.
Ada 4 faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan dan merupakan
factor determinan tidak langsung yang berinteraksi menimbulkan terjadinya
kematian bayi yaitu: pelayanan kesehatan, perilaku kesehatan, lingkungan, dan
genetik. Di Indonesia, faktor perilaku manusia merupakan factor determinan yang
paling besar dan paling sulit ditanggulangi, diikuti faktor lingkungan, pelayanan
kesehatan, dan genetika (Maryati, 2015).
Perilaku adalah semua kegiatan/ aktivitas manusia, baik yang dapat diamati
langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. perilaku manusia
terkait kesehatan (health related behavior) menjadi tiga, perilaku kesehatan
(health behavior), perilaku sakit (illness behavior), dan perilaku peran sakit (sick
role behavior). Kesehatan adalah tanggung jawab seluruh pihak termasuk
masyarakat. Pemberdayaan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat
menjadi misi pembangunan kesehatan Indonesia. Sesuai dengan desentralisasi
atau otonomi daerah di bidang kesehatan, Propinsi Jawa Tengah di mana
Kecamatan Pejawaran terletak di salah satu kabupatennya menetapkan Standar
14

Pelayanan Minimal (SPM), termasuk penyuluhan perilaku kesehatan masyarakat


untuk kabupaten/ kota di Propinsi Jawa Tengah (Maryati, 2015).
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi perikehidupan, kesehatan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lainnya. Ruang lingkup kesehatan lingkungan mencakup
perumahan dan sanitasi dasar (pembuangan tinja, penyediaan air bersih,
pembuangan sampah, pembuangan air limbah, kandang ternak). Kondisi
lingkungan optimum berpengaruh positif terhadap status kesehatan optimal.
Penyakit karena lingkungan yang menyebabkan kematian bayi di Indonesia antara
lain ISPA, komplikasi perinatal, dan diare (Maryati, 2015).

8. Dampak negatif bonus demografi


Dalam konsep ekonomi kependudukan, bonus demografi juga dimaknai
sebagai keuntungan ekonomis karena dengan semakin besarnya jumlah penduduk
usia produktif maka akan semakin besar pula jumlah tabungan dari penduduk
produktif sehingga dapat memacu investasi dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga
kondisi tersebut juga dikenal sebagai jendela kesempatan (windows of
oppprtunity) bagi suatu Negara untuk melakukan akselerasi ekonomi dengan
menggenjot industri manufaktur, infrastruktur, maupun UKM karena
berlimpahnya angkatan kerja tersebut (Alfana, 2015).
Namun akan ada dampak efek negatif berikutnya paska bonus demografi
yang harus diperhatikan yaitu terjadinya peningkatan penduduk usia tua sementara
transisi usia muda menjadi usia produktif belum sempurna. Hal itulah yang
kemudian menyebabkan pembengkakan jaminan sosial dan pensiunanan sehingga
akan mendorong terjadinya stagnasi dalam perekonomian nasional karena
tabungan dari usia produktif dialihkan sebagai dana talangan kedua hal tersebut.
Jika diperhatikan lebih seksama, bonus demografi akan menjadi pilar peningkatan
produktifitas suatu Negara dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi melalui
pemanfaatan SDM yang produktif dalam arti bahwa penduduk usia produktif
tersebut benar-benar mampu menghasilkan pendapatan untuk memenuhi
15

kebutuhan konsumsi mereka dan memiliki tabungan yang dapat dimobilisasi


menjadi investasi. Akan tetapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, dimana
penduduk usia produktif yang jumlah besar tidak terserap oleh lapangan pekerjaan
yang tersedia dalam sebuah perekonomian, maka akan menjadi beban ekonomi
karena penduduk usia produktif yang tidak memiliki pendapatan akan tetap
menjadi beban bagi penduduk yang bekerja dan akan memicu terjadinya angka
pengangguran yang tinggi(Alfana, 2015).

9. Konsep fertilitas dan angka kematian bayi


Angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR) adalah banyaknya
kematian bayi berumur di bawah satu tahun per 1000 kelahiran hidup dalam satu
tahun. Imunisasi merupakan salah satu upaya pelayanan kesehatan dasar dari segi
preventif yang memegang peranan dalam menurunkan angka kematian bayi.
Upaya pelayanan imunisasi dilakukan melalui kegiatan imunisasi rutin dan
tambahan dengan tujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat
penyakit – penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Selain itu
perbaikan gizi merupakan syarat utama dalam perbaikan kesehatan ibu hamil,
menurunkan angka kematian bayi dan balita. Bukti nya menurut kepala Dinas
Kesehatan Cianjur bahwa sebesar 12.6% dari jumlah total 167.019 balita di
Kabupaten Cianjur menderita gizi kurang dan 1.4% menderita gizi buruk. Kondisi
ini diantaranya disebabkan karena faktor ekonomi. Untuk dapat menurunkan
angka kematian bayi akan lebih mudah tercapai apabila ditunjang dengan
sumberdaya manusia yang berkualitas dan ketersediaan standar, pedoman, sistem
pencatatan pelaporan serta logistik yang memadai dan bermutu (Kusuma, 2016).
Fertilitas atau yang sering dikenal dengan kelahiran dapat diartikan sebagai
hasil reproduksi yang nyata dari penduduk (actual reproduction performance)
atau jumlah anak hidup yang dilahirkan oleh seorang atau sekelompok
perempuan. Kelahiran yang dimaksud hanya mencakup kelahiran hidup, yaitu
bayi yang dilahirkan menunjukkan tanda-tanda hidup meskipun hanya sebentar
dan terlepas dari lamanya bayi itu dikandung. Natalitas mempunyai arti sama
dengan fertilitas, hanya berbeda ruang lingkupnya, dimana fertilitas mencakup
16

peranan kelahiran pada perubahan penduduk, sedangkan natalitas mencakup


peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia
(Sunaryanto, 2015). Konsep-konsep lain yang terkait dengan pengertian fertilitas
dan penting untuk diketahui, yaitu (Alfana, 2015):
a. Lahir hidup (live birth), adalah kelahiran bayi tanpa memperhitungkan
lamanya di dalam kandungan, dimana si bayi menunjukkan tanda-tanda
kehidupan, seperti bernafas, ada denyut jantung, dan gerakan-gerakan otot.
b. Fecunditas, adalah kemampuan secara potensial seorang wanita untuk
melahirkan anak.
c. Steril, adalah ketidakmampuan seorang pria atau wanita dalam menghasilkan
suatu kelahiran.
d. Natalitas, adalah kelahiran yang merupakan komponen dari perubahan
penduduk.
e. Abortus, adalah kematian bayi dalam kandungan dengan umur kehamilan
kurang dari 28 minggu. Ada dua macam abortus: (1) disengaja (induced), dan
(2) tidak disengaja (spontaneus). Abortus yang disengaja lebih sering dikenal
dengan istilah aborsi, sedangkan yang tidak disengaja lebih sering dikenal
dengan istilah keguguran.
f. Lahir mati (stiil birth), adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang
kehamilannya berumur paling sedikit 28 minggu tanpa menunjukkan tanda–
tanda kehidupan

B. Analisis Kasus pada Skenario Lebih Mendalam


1. Fertilitas
Fertilitas adalah jumlah kelahiran hidup (live birth) dari seorang wanita atau
sekelompok wanita. Atau dengan kata lain fertilitas adalah kemampuan seorang
wanita atau sekelompok wanita 1untuk memberikan keturunan yang diukur
dengan bayi lahir hidup (hasil nyata). Wanita fertil adalah wanita yang pernah
melahirkan bayi lahir hidup, tetapi wanita yang pernah hamil belum tentu fertile.
Ada dua macam pengukuran fertilitas yaitu pengukuran fertilitas tahunan dan dan
pengukuran fertilitas kumulatif. Pengukuran fertilitas tahunan adalah mengukur
17

jumlah kelahiran pada tahun tertentu dan dihubungkan dengan jumlah penduduk
yang mempunyai resiko untuk melahirkan pada tahun tertentu. Pengukuran
kumulatif adalah mengukur jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang
wanita sampai mengakhiri batas usia subur (Mardiani, 2018).
Asumsi fertilitas dibuat berdasarkan tren tingkat fertilitas di masa lalu dan
kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan tingkat fertilitas. Data yang
digunakan untuk memperkirakan tingkat fertilitas adalah data SDKI91, SDKI94,
SDKI97, SDKI2002/2003, SDKI2007, dan SDKI2012. Selain menggunakan data
kecenderungan tingkat fertilitas masa lalu, juga digunakan informasi mengenai
target pencapaian tingkat fertilitas di masa yang akan datang. Target TFR
diperoleh dari BKKBN selaku lembaga yang berwenang menentukan kebijakan
pengendalian penduduk. Asumsi TFR Indonesia menurun sesuai dengan tren di
masa lampau, dan diproyeksikan akan mencapai Net Reproduction Rate (NRR)=1
atau setara TFR=2,1 pada 2025 (BPS, 2013).
Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya fertilitas dapat dibagi
menjadi dua yaitu faktor demografi dan faktor non demografi.Faktor Demografi
adalah struktur atau komposisi umur, status perkawinan, umur kawin pertama,
lama perkawinan, paritas, disrupsi perkawinan, fekunditas, dan proporsi penduduk
yang kawin.Faktor Non Demografi antara lain, keadaan ekonomi penduduk,
tingkat pendidikan, perbaikan status perempuan, urbanisasi dan industrialisasi
(Mardiani, 2018).

2. Angka kematian ibu


Pengertian kematian ibu adalah kematian ibu berkaitan dengan melahirkan.
Ada pendapat lain menyatakan kematian ibu adalah kematian perempuan pada
saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan
tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian
yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena
sebabsebab lain seperti kecelakaan, terjatuh, dan lain-lain. Angka kematian ibu
merupakan indikator dari suatu sistem kesehatan. Tren AKI hingga tahun 2007
mengalami penurunan, namun meningkat tajam pada tahun 2012 (dari 228 pada
18

tahun 2007 menjadi 359 di 2012). Jumlah kematian ibu tertinggi di kelompok usia
25-29, 30-34, dan 35-39 (Lestari, 2017).
Menurut data UNESCAP, angka kematian ibu di Indonesia sebesar
220/100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut berada di tingkat keempat kematian
tertinggi diantara negaranegara di Asia Tenggara. Berdasarkan Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia tahun 2012 menunjukkan angka kematian ibu (AKI)
yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas sebesar 359/100.000
kelahiran hidup. Target penurunan AKI di Indonesia pada tahun 2015 adalah 102
per 100.000 kelahiran hidup (Priharwanti, 2017).
Masalah kematian maupun kesakitan pada ibu dan anak sesungguhnya
tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam
masyarakat dimana mereka berada. Rendahnya penggunaan fasilitas
kesehatan seperti Puskesmas, rumah sakit dan sebagainya, seringkali
kesalahan atau penyebabnya dilemparkan kepada faktor jarak antara fasilitas
tersebut dengan masyarakat yang terlalu jauh (baik jarak secara fisik
maupun secara sosial) tarif yang tinggi, pelayanan yang tidak memuaskan
dan sebagainya (Aditya, 2017).
Ada dua klasifikasi kematian ibu yaitu (COMDEV, 2016):
a. Penyebab langsung yaitu kematian ibu yang disebabkan oleh komplikasi
obstetri pada masa hamil, bersalin dan nifas, atau yang disebabkan oleh suatu
tindakan yang dilakukan pada masa hamil, bersalin dan nifas, atau berbagai
hal akibat tindakan tersebut.
b. Penyebab tidak langsung yaitu kematian ibu yang disebabkan oleh penyakit
yang bukan komplikasi obstetri, yang berkembang atau bertambah berat
akibat kehamilan atau persalinan.
Peningkatan AKI bukan hanya masalah kesehatan ibu, tetapi juga adanya
ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender. Kesadaran masyarakat yang masih
rendah terhadap kesehatan ibu hamil juga berpengaruh terhadap AKI. Hal ini
terlihat dengan masih banyak faktor 3 (tiga) T, yaitu: Terlambat mencapai
fasilitas; Terlambat mendapatkan pertolongan; dan Terlambat mengenali tanda
bahaya kehamilan dan persalinan. Selain itu juga disebabkan oleh 4 (empat) Ter:
19

Terlalu muda; Terlalu tua; Terlalu sering melahirkan dan Terlalu banyak. AKI
juga menjadi salah satu target dalam tujuan pembangunan millenium (Millenium
Development Goals, MDG), yaitu tujuan ke-5 adalah meningkatkan kesehatan ibu
dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 mengurangi hingga ¾ resiko
jumlah kematian ibu (Priharwanti, 2017).

3. Angka kematian bayi


Angka kematian bayi (Infant Mortality Rate) merupakan salah satu indikator
penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat karena dapat
menggambarkan kesehatan penduduk secara umum. Angka ini sangat sensitif
terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Angka kematian bayi
tersebut dapat didefenisikan sebagai kematian yang terjadi antara saat setelah bayi
lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Human Development Index
(HDI) mengalami penurunan peringkat, beberapa indikator kesehatan dalam HDI
adalah tingkat harapan hidup, Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Ibu
(AKI dan AKB). Tingginya AKI lah yang menyebabkan penurunan posisi HDI
Indonesia (Adtya, 2017).
Angka kematian bayi (AKB) mencerminkan tingkat pembangunan
kesehatan dari suatu negara serta kualitas hidup dari masyarakatnya. Angka ini
digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi program, serta kebijakan
kependudukan dan kesehatan suatu negara di seluruh dunia. Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 menargetkan
penurunan angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup menjadi 24 di tahun
2019. Selain itu, Sustainable Development Goals (SDGs) bidang kesehatan dan
kesejahteraan (SDGs ke-3), memiliki target yang akan dicapai pada tahun 2030.
Target tersebut diantaranya mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat
dicegah dengan menurunkan angka kematian neonatal hingga 12 per 1.000
kelahiran hidup dan angka kematian balita 25 per 1.000 kelahiran hidup (BPS,
2018).
Meskipun sudah ada kemajuan, angka kematian anak masih relatif tinggi.
Untuk setiap 1.000 kelahiran hidup, 30 bayi yang baru lahir meninggal pada bulan
20

pertama kehidupan dan 57 meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun (UNICEF,


2017). Mayoritas perempuan dapat mengakses layanan persalinan dan 92 persen
kelahiran dibantu oleh penolong persalinan terlatih. Namun, layanan kesehatan
reproduksi tetap masih perlu perbaikan, termasuk dalam hal peningkatan akses
terhadap metode kontrasepsi modern (Kemenkes, 2014).

4. Bonus demografi
Selama kurun waktu satu dekade terakhir ini, Indonesia tengah mengalami
fenomena transisi demografi. Kondisi ini terindikasi dari hasil sensus penduduk
pada tahun 2000 yang memberikan fakta signifikan bahwa program KB (Keluarga
Berencana) yang dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia pada
waktu yang lalu memberi dampak yang sangat positif. Fakta yang diperlihatka
oleh Sensus Penduduk 2010 memperlihatkan bahwa penduduk berusia dibawah
15 tahun hampir tidak bertambah; dimana pada periode tahun 1970-1980an
jumlahnya sekitar 60 juta dan hingga akhir tahun 2000 penduduk dalam kelompok
usia ini hanya meningkat menjadi 63-65 juta jiwa. Sebaliknya, penduduk usia 15 –
64 tahun pada tahun 1970 jumlahnya mencapai 63-65 juta dan telah berkembang
menjadi lebih dari 133 – 135 juta, atau mengalami kenaikan dua kali lipat selama
30 tahun (Maryati, 2015).
Selanjutnya jika dilihat beban ketergantungan penduduk yang diukur dari
ratio penduduk usia anak-anak dan tua per penduduk usia kerja, maka tampak
bahwa tingkat ketergantungan penduduk Indonesia menunjukkan trend yang
menurun cukup tajam, dimana pada tahun 1970an nilainya sekitar 85-90 per 100
dan pada tahun 200 menurun hingga ke level sekitar 54-55 per 100 di tahun 2000.
Hasil sensus penduduk tahun 2010 juga menunjukkan trend positif pada penduduk
usia produktif (15-64 tahun), dimana pada tahun 2010 porsinya mencapai 66
persen dari total penduduk yang jumlahnya mencapai 157 juta jiwa. Sedangkan
jumlah penduduk usia muda (15-24 tahun) mencapai 26,8 persen atau 64 juta
jiwa. Kenaikan angka usia produktif kerja tersebut menyebabkan semakin
kecilnya nilai angka ketergantungan menjadi 51. Hal ini berarti 100 penduduk
usia produktif menanggung 51 orang penduduk tak produktif (di bawah 15 tahun
21

dan di atas 64 tahun). Menurut United Nations transisi demografi yang terjadi
pada beberapa dekade terakhir di Indonesia akan membuka peluang bagi
Indonesia untuk menikmati bonus demografi (demographic devident) pada
periode tahun 2020-2030 (Maryati, 2015).
Bonus demografi adalah kondisi dimana proporsi usia produktif semakin
membesar dibandingkan usia non produktif. Hal ini menyebabkan angka
ketergantungan menurun dan standar hidup masyarakat naik. Fenomena bonus
demografi telah dialami tiongkok dengan sukses. Secara akumulatif, 30%
pertumbuhan ekonomi Cina yang mencapai dua digit disumbang oleh dukungan
bonus demografi. Oleh karena itu Indonesia harus bisa memanfaatkan bonus
demografi yang terjadi (Egsa, 2014).
Mayoritas penduduk yang berada pada usia produktif mendorong
ketersediaan tenaga kerja. Bila keberlimpahan tenaga kerja tersebut dimanfaatkan
dengan baik sebagai input produksi, perekonomian akan tumbuh dengan pesat.
Namun lonjakan penduduk usia produktif tersebut juga dapat menjadi bencana
tersendiri bila pasar tenaga kerja tidak bisa menyerap mereka sepenuhnya hingga
berujung pada tingkat pengangguran yang tinggi yang dapat menyebabkan
masalah sosial baru seperti peningkatan kejahatan, kriminalits, kemiskinan dan
penurunan standard of living. Selain pembukaan lapangan kerja melalui
peningkatan investasi, untuk dapat memanfaatkan potensi bonus demografi
Indonesia harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu
berkontribusi secara produktif bagi perekonomian Indonesia (Egsa, 2014).
Pendidikan dan riset merupakan hal yang esensial untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia dalam memanfaatkan bonus demografi. Terkait
dengan pendidikan, sumber daya manusia yang terdidik secara signifikan
mempengaruhi kebangkitan ekonomi negara. Mereka memberikan kontribusinya
sebagai educators, businessman, professionals, dan promotor di luar negeri.
Sedangkan riset berguna untuk mengembangkan hasil dari pendidikan tersebut.
Ada sebuah studi mengatakan bahwa aktivitas R&D (research and develovment)
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (Egsa, 2014).
22

5. Strategi menjaga tingkat fertilitas dan penurunan angka kematian bayi


Konsep fertilitas sendiri ada 4 yaitu, lahir hidup atau life birth, lahir mati
atau still birth, abortus dan masa reproduksi atau childbearing age. Lahir hidup
atau life birth menurut WHO adalah suatu kelahiran seorang bayi tanpa
memperhitungkan lamanya didalam kandungan, dimana si bayi menunjukkan
tanda-tanda kehidupan missal bernafas, ada denyut jantungnya, atau tali pusat,
atau gerakan-gerakan otot. Lahir mati atau still birth adalah kelahiran seorang
bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan
tanda-tanda kehidupan. Abortus adalah kematian bayi dalam kandungan dengan
umur kurang dari 28 minggu. Masa reproduksi atau childbearing age adalah masa
dimana perempuan melahirkan , yang disebut juga usia subur (15-49) tahun.
Konsep angka kematian bayi ada dua yaitu mati atau death dan lahir mati atau
fetal death. Mati atau death adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan secara
permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Lahir mati atau
fetal death adalah menghilangnya tanda-tanda kehidupan dari hasil konsepsi
sebelum hasil konsepsi tersebut dikeluarkan dari rahim ibunya (Kurniawan,
2018).
Strategi pemerintah dalam menjaga fertilitas ratio yaitu dengan program dari
BKKBN yang berupaya untuk penurunan dan pengendalian kelahiran dengan
meningkatkan jumlah peserta KB aktif. Sedangkan untuk menurunkan angka
kematian bayi yaitu dengan merumuskan suatu kebijakan public mengenai
program Indonesia sehat dengan pendekatan keluarga dan kebijakan program
lainnya seperti program pembangunan nasional, strategi dan usaha, jaringan
pengaman sosial, peraturan perundangan dan program Nasional bagi anak
Indonesia. Selama ini upaya penurunan angka kematian bayi dan balita
merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan kesehatan (Zuhairah, 2018).
Dalam dokumen Propenas 2000–2004, upaya-upaya ini termaktub dalam tiga
program kesehatan nasional, yaitu Program Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan
Pemberdayaan Masyarakat; Program Upaya Kesehatan; serta Program Perbaikan
Gizi Masyarakat (Helmizar, 2015).
23

Selain itu, strategi dan usaha untuk mendukung upaya penurunan kematian
bayi dan balita antara lain adalah meningkatkan kebersihan (hygiene) dan sanitasi
di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat melalui penyediaan air bersih,
meningkatkan perilaku hidup sehat, serta kepedulian terhadap kelangsungan dan
perkembangan dini anak; pemberantasan penyakit menular, meningkatkan
cakupan imunisasi dan, meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk
pelayanan kontrasepsi dan ibu, menanggulangi gizi buruk, kurang energi kronik
dan anemi, serta promosi pemberian ASI ekslusif dan pemantauan pertumbuhan
(Bappenas, 2015).
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bonus demografi adalah kondisi dimana proporsi usia produktif semakin
membesar dibandingkan usia non produktif. Menurut United Nations transisi
demografi yang terjadi pada beberapa dekade terakhir di Indonesia akan membuka
peluang bagi Indonesia untuk menikmati bonus demografi (demographic
devident) pada periode tahun 2020-2030. Hal ini menyebabkan angka
ketergantungan menurun dan standar hidup masyarakat naik. Namun akan ada
dampak efek negatif berikutnya paska bonus demografi yang harus diperhatikan
yaitu terjadinya peningkatan penduduk usia tua sementara transisi usia muda
menjadi usia produktif belum sempurna. Salah satu strategi yang harus dilakukan
adalah menjaga tingkat fertilitas ratio dan mempercepat penurunan angka
kematian bayi. Strategi pemerintah dalam menjaga fertilitas ratio yaitu dengan
program dari BKKBN yang berupaya untuk penurunan dan pengendalian
kelahiran dengan meningkatkan jumlah peserta KB aktif. Selain itu, strategi dan
usaha untuk mendukung upaya penurunan kematian bayi dan balita antara lain
adalah meningkatkan kebersihan (hygiene) dan sanitasi di tingkat individu,
keluarga, dan masyarakat.

A. Saran
Ledakan penduduk Indonesia dapat menjadi keuntungan dan kerugian. Oleh
karena itu, sebaiknya pemerintah mampu lebih menggalakan program untuk
menjaga tingkat fertilitas ratio dan menurunkan angka kematian bayi. Kualitas
penduduk yang baik akan mempengaruhi bonus demografi yang akan dialami oleh
Indonesia. Oleh karena itu, sebaiknya pembangunan di bidang ekonomi,
pendidikan, dan kesehatan dapat ditingkatkan sehingga mampu meningkatkan
kualitas penduduk Indonesia.

23
DAFTAR PUSTAKA

Adtya, K, B., Puspitaningrum, D., & Setiawan, Y. 2017 Sistem informasi


geografis pemetaan faktor-faktor yang mempengaruhi angka kematian ibu
(aki) dan angka kematian bayi (akb) dengan metode K-Means Clustering
(sudi kasus : provinsi Bengkulu). Jurnal Teknik Informatika UIN Syarif
Hidayatullah. 10(1): 59-66.
Alfana M, et al. 2015. Fertilitas Dan Migrasi: Kebijakan kependudukan untuk
migran di kabupaten Sleman. Jurnal Kajian Ilmu Administrasi Negara. 3(1) :
17-24.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 2015.

Badan Pusat Statistik. Statistik daerah Kabupaten Belitung Timur. 2010. Belitung:
Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung Timur.

Bappenas. 2012. Laporan pencapaian tujuan pembangunan milenium di Indonesia


2011.. Jakarta: Kementrian Perencanaan dan Pembangunan Nasional.

BAPPENAS. 2015. Kebijakan perencanaan pembangunan kesehatan (rencana


pembangunan jangka menengah nasional RPJMN 2015-2019/Perpres
No.2/2015). Rakerkesnas Regional Timur Makassar.
BPS. 2013. Proyeksi penduduk Indonessia 2010-2035. Jakarta: Badan Pusat
Statistik.
BPS. 2018. Profil anak Indonesia. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak.
COMDEV. 2016. Kajian partisipasi organisasi perempuan dalam menurunkan
angka kematian ibu di provinsi Jawa Barat. Jakarta: Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
Dwiprahasto I. 2018. Epidemiologi. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran UGM.

Egsa Fair. 2014. Gagasan mahasiswa untuk menjawab jendela kesempatan bonus
demografi. Yogyakarta. CV Budi Utama.
Helmizar. 2015. Evaluasi persalinan dalam penurunan angka kematian ibu dan
bayi di Indonesia. Jurnal kesmas; 9(2) : 197-205.

Indraswari RR, Yuhan RJ. 2017. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penundaan


Kelahiran Anak Pertama di Wilayah Perdesaan Indonesia: Analisis Data
SDKI 2012. Jurnal Kependudukan Indonesia. 12(1):1-12.
Indrawati L, Hapsari D, Nainggolan O. 2016. Perhitungan fertilitas menggunakan
metode anak kandung: Analisis Lanjut Data RISKESDAS 2013. Jurnal
Populasi. 24(2):67-69.

24
InfoDATIN. 2014. Situasi kesehatan ibu. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
KEMENKES RI. 2018. Profil kesehatan Indonesia. Jakarta. KEMENKES RI.
Kurniawan R, Melaniani S. 2018. Hubungan paritas, penolong persalinan dan
jarak kehamilan dengan angka kematian bayi di Jawa Timur. Jurnal
Biometrika dan kependudukan. 7(2)113-121.
Kurniawan R, Melaniani S. 2018. Hubungan paritas, penolong persalinan dan
jarak kehamilan dengan angka kejadian bayi di Jawa Timur. Jurnal
biometrika kependudukan; 7(2) : 113-121.

Kusuma A , Indawati R. 2016. Faktor penyebab kematian bayi di kabupaten


Sidoarjo. Jurnal Biometrika dan Kependudukan. 1(1): 33-42.
Lestari H. 2017. Akses universal pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi
profil Indonesia. Jakarta: Yayasan Kesehatan Perempuan.
Mardiani Z., & Purnomo NH. 2018. Fertilitas dan mortalitas. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Maryati S. 2015. Dinamika pengangguran terdidik: tantangan menuju bonus
demografi di Indonesia. Journal of economic and economic education. 3(2):
124 – 136.
Nugraha Y, Imam S, Pungadi. 2016. Penalaran proporsional siswa kelas VII.
Jurnal todris matematika. 9(1): 34-47.

Nurhadiat D dan Untung P. 2004. Kerajinan tangan dan kesenian. Jakarta: Medio.

Pohan IS. 2007. Jaminan mutu pelayanan kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku
Layanan Kedokteran EGC.

Priharwanti, A., Fitriani, E., & Baiti, N. 2017. Strategi promosi kesehatan dalam
upaya penurunan angka kematian ibu (aki) di kota Pekalongan. Jurnal
Litbang Kota Pekalongan. 13: 40-47.
Rahmayeni Z. 2016. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas Pasangan Usia
Subur Peserta KB di Kelurahan Aur Kuning Kecamatan Aur Birugo Tigo
Sugiharsono, dkk. 2008. Ilmu pengetahuan sosial. Jakarta: PT. Gramedia.
Sunaryanto H. 2015. Analisis fertilitas penduduk: Provinsi Bengkulu. Jurnal
Kependudukan Indonesia. 7(1): 19-38.
UNICEF. 2017. Profil singkat provinsi Kalimantan Selatan. Jakarta: Kementerian
PPN.
Wulandari DA dan Is HU. 2017. Responsivitas dinas kesehatan Kabupaten
Karanganyar dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Karanganyar. Jurnal wacana
public. 1(3): 40-49.

25
Zuhairah ZA. 2018. Melaniani S. Pengaruh angka kematian bayi, angka
partisipasi murni, ratio ketergantungan terhadap indeks pembnangunan
manusia provinsi Jawa Timur. Jurnal biometrika dan kepedudukan; 7(1): 87-
95.

26
LAMPIRAN

27
28
29