Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH HUKUM PERBANKAN

(Perlindungan Hukum Nasabah Terhadap Likuidasi Bank)

OLEH :
I GUSTI NGURAH JULIARTA WIDIANTARA
NIM : 20180043201

Dosen Pengajar : Putu Eka Trisna Dewi, SH.,MM.

FAKULTAS EKONOMI MANEJEMEN


UNIVERSITAS NGURAH RAI DENPASAR
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita
berbagai macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu
membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada
kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita
capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen serta
teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun
materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa
maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian,
yang kadangkala hanya menturuti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami
jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan
makalah-makalah kami dilain waktu.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-
mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-
teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau
mengambil hikmah dari judul ini ( masyarakat desa dan masyarakat kota ) sebagai
tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.

Denpasar, Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 1
B. Rumusan Masalah....................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 4
A. Pengaturan Likuidasi Bank.......................................................... 4
B. Perlindungan Nasabah Terhadap Likuidasi Bank....................... 5
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 8
A. Kesimpulan.................................................................................. 8
B. Saran............................................................................................ 8

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 9

ii
BAB I
PENDAHULUAN
 
A. Latar Belakang Masalah
Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi perorangan,
badan-badan usaha swasta, badan-badan usaha milik negara, bahkan lembaga-
lembaga pemerintahan menyimpan dana-dana yang dimilikinya.
Perbankan merupakan sektor yang sangat vital dan memiliki peran
yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Lancarnya aliran uang
sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan perekonomian. Dengan
demikian, kondisi sektor perbankan yang sehat dan kuat penting menjadi
sasaran akhir dari kebijakan moneter. Di samping itu, perbankan merupakan
alat yang sangat vital dalam menyelenggarkan transaksi pembayaran baik
nasional maupun internasional.
Bisnis perbankan merupakan bisnis yang penuh risiko, di samping
menjanjikan keuntungan yang besar jika di kelola secara baik dan hati-hati.
Dikatakan sebagai bisnis penuh risiko karena aktivitasnya sebagian besar
mengandalkan dana titipan masyarakat, baik dalam bentuk tabungan giro
maupun deposito. Besarnya peran yang diperhatikan oleh sektor perbankan,
bukan berarti membuka peluang sebebas-bebasnya bagi siapa saja untuk
mendirikan, mengelola ataupun menjalankan bisnis perbankan tanpa di
dukung dengan aturan perbankan yang baik dan sehat. Pemerintah melalui
otoritas keuangan dan perbankan berwenang menetapkan aturan dan
bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap jalannya usaha dan
aktivitas perbankan. Oleh karenanya, kebijakan pemerintah disektor
perbankan harus di arahkan pada upaya mewujudkan perbankan yang sehat,
kuat dan kokoh. Hal ini mengingat kebijakan di bidang perbankan ini tidak
lagi semata-mata memegang peranan penting dalam pengembangan
infrasturktur keuangan dalam rangka mengatasi kesenjangan antara tabungan
dan investasi, tetapi juga berperan penting dalam memelihara kestabilan
ekonomi makro melalui keterkaitannya dengan efektivitas kebijakan moneter.

1
Apabila kita melihat kondisi perbankan pada era 1997-1998 yang
mengalami krisis moneter, pada pertengahan tahun 1997 krisis moneter
semakin melebar menjadi krisis perbankan. Masyarakat heboh dengan
terjadinya 16 bank yang dilikuidasi. Mereka khawatir apakah uang mereka
dapat dikembalikan secara utuh atau tidak, maklum selaku nasabah tidak
mengerti apa yang mesti diperbuat. Kepercayaan masyarakat terhadap
perbankan nasional memudar. banyak dana yang hengkang dari bank–bank
lokal berpindah ke bank asing, bahkan tidak sedikit yang di bawa ke luar
negeri.
Dampak selanjutnya dari keadaan tersebut akan dapat mengancam
perekonomian dan sistem perbankan nasional. Kepercayaan masyarakat akan
goyah terhadap bank atas perlindungan nasabah ketika terjadi likuidasi bank
tersebut.
Apabila bank mengalami kesulitan likuiditas, kemungkinan besar
terjadi efek yang menular khususnya apabila suatu bank di-rush, yaitu
dananya diambil secara besar-besarnya oleh nasabahnya karena tidak adanya
jaminan perlindungan hukum terhadap nasabah.
Kemauan masyarakat untuk menyimpan dananya pada bank semata-
mata dilandasi oleh kepercayaan bahwa uangnya akan dapat diperoleh kembali
pada waktunya dan disertai imbalan bunga. Berdasarkan data-data yang
diperoleh menunjukan, baik di Indonesia maupun di Negara-negara lain
bahwa ada beberapa bank yang mengalami kesulitan dan terpaksa ditutup
sehingga merugikan masyarakat, karena sebagian atau seluruh dananya tidak
dapat diperoleh kembali.
Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan
nasional, pemerintah mengeluarkan jaminan kewajiban pembayaran bank
umum atau dikenal dengan blanket guarantee yang merupakan financial
safety net dengan keputusan presiden Nomor 26 Tahun 1998 dan Undang-
Undang No.10 Tahun 1998 (Pasal 37). Atas dasar tersebut, penulis mencoba
meneliti tentang perlindungan nasabah terhadap likuidasi bank yang

2
dituangkan dalam makalah yang berjudul “Perlindungan Hukum Nasabah
Terhadap Likuidasi Bank”.
 
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas maka dapat diajukan rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaturan likuidasi bank berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku?
2. Bagaimana perlindungan hukum masyarakat penyimpan dana/nasabah
ketika terjadi likuidasi bank?
 
 

3
BAB II
PEMBAHASAN
 
 
A. Pengaturan Likuidasi Bank
Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga
Penjamin Simpanan jo Perpu No. 3 Tahun 2008 tentang Perubahan UU No. 24
Tahun 2004 jo UU No. 7 Tahun 2009 tentang Penetapan Perpu No. 3 Tahun
2008, bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan likuidasi dilakukan oleh
Lembaga Penjamin Simpanan yang sebelumnya dilaksanakan oleh Bank
Indonesia. Undang-undang Lembaga Penjamin Simpanan itu ditetapkan
penjaminan simpanan nasabah bank, yang diharapkan dapat memelihara
kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dan dapat
meminimumkan risiko yang membebani anggaran negara.
Penjamin simpanan nasabah bank tersebut diselenggarakan oleh
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yang dibentuk oleh pemerintah sebagai
badan hukum berdasarkan undang-undang Lembaga Penjamin Simpanan. LPS
sendiri memiliki dua fungsi yaitu menjamin simpanan nasabah bank dan
melakukan penyelsaian atau penanganan bank gagal.
Penjaminan simpanan nasabah bank yang dilakukan LPS bersifat
terbatas tetapi dapat mencakup sebanyak-banyaknya nasabah. Setiap bank
yang menjalankan usahanya di Indonesia diwajibkan untuk menjadi peserta
penjaminan dan membayar premi penjaminan. Apabila bank tidak dapat
melanjutkan usahanya dan harus dicabut izin usahanya, LPS akan membayar
simpanan setiap nasabah bank tersebut terlebih dahulu sampai jumlah tertentu.
Adapun simpanan yang tidak dijamin akan diselsaikan melelui proses
likuidasi bank.
Pemebentukan LPS ini merupakan amanat dari Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Ketentuan dalam Pasal 37 B
Undang-Undang tersebut menetapkan bahwa setiap bank wajib menjamin

4
dana masyarakat yang disimpan pada bank yang bersangkutan. Untuk
menjamin simpanan masyarakat dibentuk Lemabaga Penjamin Simpanan
(LPS) yang berbentuk badan hukum dan diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah. Pembentukan LPS tersebut dimaksudkan untuk melindungi
kepentingan nasabah dan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat
kepada bank. Indonesia dalam rangka untuk mendukung sistem perbankan
nasional yang sehat dan stabil, maka dilakukan penyempurnaan terhadap
program penjaminan simpanan nasabah bank dengan membentuk suatu
lembaga yang independent yang diberi tugas dan wewenang untuk
melaksanakan program penjaminan simpanan nasabah bank dimaksud yaitu
LPS. Ketentuan dalam Pasal 4 dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan menetapkan fungsi dan tugas LPS.
Fungsi LPS adalah menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif
dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya.
Kemudian Pasal 96 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga
Penjamin Simpanan menetapkan, bahwa LPS melaksankan fungsi penjaminan
tersebut bagi bank berdasarkan prinsip syariah, yang lebih lanjut ditetapkan
dalam Peraturan Pemerintah.
 
B. Perlindungan Nasabah Terhadap Likuidasi Bank
Kehadiran hukum dalam masyarakat di antaranya adalah untuk
mengintegrasikan dan mengoordinasikan kepentingan-kepentingan yang biasa
bertentangan satu sama lain. Berkaitan dengan itu, Hukum harus mampu
mengintegrasikannya sehingga benturan-benturan kepentingan itu dapat
ditekan sekecil kecilnya. Apabila dikaitkan dengan hukum mengenai peran
perbankan dalam melindungi nasabah ketika terjadi likuidasi bank maka
mengacu pada Peraturan Perbankan Indonesia, yaitu bahwa hukum
memberikan perlindungan terhadap nasabah dengan cara:
1. Perlindungan secara implicit (Implisit deposit protection), yaitu:
perlindungan yang dihasilkan oleh pengawasan dan pembinaan bank yang
efektif, yang dapat menghindarkan terjadinya kebangkrutan bank.

5
Perlindungan ini yang diperoleh melalui: (1) peraturan perundang-
undangan di bidang perbankan, (2) perlindungan yang dihasilkan oleh
pengawasan dan pembinaan yang efektif, yang dilakukan oleh Bank
Indonesia, (3) upaya menjaga kelangsungan uasaha bank sebagai sebuah
lembaga pada khususnya dan perlindungan terhadap sistem perbankan
pada umumnya, (4) memihara tingkat kesehatan bank, (5) melakukan
usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian, (6) cara pemberian kredit yang
tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah, dan (7) menyediakan
informasi resiko pada nasabah.
2. Perlindungan eksplisit (Eksplicit deposit orotection), yaitu : perlindungan
melalui pembentukan suatu lembaga yang menjamin simpanan
masyarakat, sehingga apabila bank mengalami kegagalan, lembaga
tersebut yang akan mengganti dana masyarakat yang disimpan pada bank
yang gagal tersebut. Perlindungan ini diperoleh melalui pembentukan
lembaga yang menjamin simpanan masyarakat, sebagaimana diatur dalam
Keputusan Presiden RI No. 26 Tahun 1998 tentang jaminan Terhadap
Kewajiban Bank Umum.
Bahwa hakikat dari perlindungan Hukum tersebut adalah melindungi
kepentingan nasabah penyimpan dan simpanannya yang disimpan di suatu
bank tertentu terhadap suatu resiko kerugian. Perlindungan ini juga merupakan
upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat
khususnya nasabah, maka sudah seharusnya/sepatutnya dunia perbankan perlu
memberikan perlindungan Hukum itu.
Bank Indonesia mempunyai wewenang pembinaan dan pengawasan
dalam rangka menjaga kelangsungan usaha bank, demikian juga Bank
Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan
memperhatikan aspek pemodal (capital), kualitas asset, manejemen, likuiditas,
dan lain-lain misalnya dalam perlindungan nasabah mengenai perlindungan
pemberian kredit pada nasabah. Dalam hubungannya perlindungan dengan
perlindungan kepentingan-kepentingan nasabah dalam kegiatan bank di
bidang rehabilitas ini, diperlukan pembentukan suatu lembaga yang dapat

6
menjamin bahwa dana nasabah yang disimpan pada bank terjamin
pengambilanya. Misalnya, apabila suatu bank dilikuidasi, nasabah dari bank
yang bersangkutan akan memperoleh penggantian dananya dari lembaga
penjamin.
Berbicara tentang perlindungan Hukum menurut KUHPerdata, bagi
nasabah, pada dasarnya perlindungan Hukum diperlakukan oleh nasabah, baik
nasabah penyimpan dana atau nasabah kreditor, juga nasabah penerima kredit
atau disebut nasabah debitur serta pengguna jasa perbankan. Apabila dikaitkan
dengan UU No 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yang
memasukan nasabah bank sebagai konsumen, maka dasar hubungan Hukum
kedua belah pihak adalah berakar dari suatu perjanjian. Hal ini tampak dari
Pasal 2 angka 5 UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No 7
Tahun 1992 tentang Perbankan. Disebutkan bahwa simpanan adalah dana
yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian
penyimpanan uang dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan
dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
Dalam rangka memperoleh kembali dana yang disimpananya juga
dengan bunganya apabila dimungkinkan, maka pada dasarnya nasabah
merupakan pihak konkuren yang mendapat perhatian pertama untuk dibayar
dari hasil penjualan harta kekayaan bank yang bersangkutan sebagaimana
dicantumkan dalam PP No. 25 Tahun 1999 ayat (2) huruf a, sehingga nasabah
yang dirugikan oleh nasabah bank yang bermasalah dan dilikuidasi dapat
meminta hak atas dasarnya dengan menggugat ke pengadilan, baik secara
class action maupun perorangan.
 

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan makalah di atas maka dapat diberikan
kesimpulan mengenai perlindungan terhadap nasabah mengenai likuidasi
suatu bank telah diantisipasi oleh pihak bank sendiri melalui perlindungan
secara implicit dan explicit dimana keduanya sudah dijelaskan di atas dan
diatur dalam UU Perbankan. Disamping itu Bank Indonesia mempunyai
wewenang pembinaan dan pengawasan dalam rangka menjaga kelangsungan
usaha bank, demikian juga Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang
kesehatan bank dengan memperhatikan aspek pemodal (capital), kualitas
asset, manejemen, likuiditas, dan lain-lain misalnya dalam perlindungan
nasabah mengenai perlindungan pemberian kredit pada nasabah, yang mana
pembinaan dan pengawasan tersebut akan berpengaruh terhadap kesehatan
dan kelancaran operasional bank agar tidak terjadi permasalahan yang
mempengaruhi kesehatan bank.
 
B. Saran
Dari pembahasan diatas mengenai perlindungan hukum nasabah
terhadap likuidasi bank, maka penulis dapat memberikan saran yaitu bagi
pihak bank terkait transparansi kesehatan bank mungkin agar selalu
diumumkan keadaan atau kesehatan bank, baik melalui media massa atau
melalui website, karena seluruh kelancaran dan kelangsungan operasional
bank ini berdasar pada kesehatan bank itu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar
para nasabah mengetahui resiko terhadap dana simpanannya. Disamping itu
hendaknya juga pihak bank memberikan perlakuan yang sama terhadap
nasabah penyimpan dana baik yang kecil maupun yang besar. Untuk
menghidari terjadinya likuidasi bank hendaknya dari pihak bank menjaga
kesehatan bank dengan mematuhi peraturan perundang-udangan yang berlaku
dalam operasional perbankan.

8
DAFTAR PUSTAKA
 
 
Asikin Zainal, “Pengantar Hukum Perbankan Indonesia”, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2016), Hlm. 235.

Asikin Zainal, “Pengantar Hukum Perbankan Indonesia”, (Jakarta: Rajawali


Pers, 2016), Hlm. 234.

Asikin Zainal, “Pengantar Hukum Perbankan Indonesia”, (Jakarta: Rajawali


Pers, 2016), Hlm. 40.

Asikin Zainal, “Pengantar Hukum Perbankan Indonesia”, Jakarta: Rajawali Pers,


2016.

Gusary,”Catatan Setelah Penutupan 16 Bank Dalam Likuidasi Tahun 1997”,


diakses dari https://kinerjabank.com/catatan-setelah-penutupan-16-bank-
dalam-likuidasi-tahun-1997/, pada tanggal 27 Agustus 2017 pukul 18.23
Wita.

Hermansyah, “Hukum Perbankan Nasional Indonesia”, (Jakarta: Kencana,2005),


hlm. 7.

Hermansyah, “Hukum Perbankan Nasional Indonesia”, (Jakarta: Kencana,2005),


hlm. 121.

Hermansyah, “Hukum Perbankan Nasional Indonesia”, Jakarta: Perdana Media,


2005.

http://www.lps.go.id/fungsi-tugas-wewenang

https://kinerjabank.com/catatan-setelah-penutupan-16-bank-dalam-likuidasi-
tahun-1997

Lembaga Penjamin Simpanan, “Fungsi, Tugas & Wewenang Lembaga Penjamin


Simpanan (LPS)”, diakses dari http://www.lps.go.id/fungsi-tugas-
wewenang, pada tanggal 28 Agustus 2017 pukul 08.35 Wita

Lembaga Penjamin Simpanan, “Kewajiban Bank Peserta”, diakses dari


http://www.lps.go.id/kewajiban-bank-peserta, pada tanggal 28 Agustus
2017 pukul 08.15 Wita

Prabowo Shidqon, “Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum: Perlindungan Hukum Terhadap


Nasabah” Semarang: Unwahas, 2010.

9
Prabowo Shidqon, “Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum: Perlindungan Hukum Terhadap
Nasabah” (Semarang: Unwahas,2010), Hlm. 95

Prabowo Shidqon, “Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum: Perlindungan Hukum Terhadap


Nasabah” (Semarang: Unwahas,2010), Hlm. 96

10