Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN ANALISA SINTESA

TINDAKAN KEPERAWATAN NEBULIZER

Disusun oleh :

Hadi Surynto
1808058

PRODI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2018/2019
DI INSTALANSI GAWAT DARURAT RSUD UNGARAN

Inisial Klien : Mr.X


Diagnose Medis : bronkus Pneumonia
No. Reg. : 422***
Tanggal : 12 maret 2019

A. Diagnosa Keperawatan dan Dasar Pemikiran :


1. Dx. Kep : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
sekresi yang tertahan
DS : pasien mengatakan sesak nafas kurang lebih 4 hari dan sering
batuk.
DO : pasien tampak pucat, gelisah, dan kesulitan bernafas serta bicara.
Auskultasi paru terdapat bunyi suara napas tambahan wheezing
diseluruh lapang paru.
TD : 110/80 mmHg, N : 79 x/menit, RR : 28x/menit, S: 36,1oC,
SPO2: 85%
2. Dasar pemikiran :
Bronkos pneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang
melibatkan bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk
bercak-bercak (patchy distribution) (Bennete, 2013).Pneumonia
merupakan penyakit peradangan akut pada paru yang disebabkan oleh
infeksi mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan oleh penyebab non-
infeksi yang akan menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat.
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya
disebabkan oleh virus penyebab Bronkopneumonia yang masuk ke saluran
pernafasan sehingga terjadi peradangan bronkus dan alveolus. Inflamasi
bronkus ini ditandai dengan adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi
demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman
sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps
alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas,
dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan
penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk
melembabkan rongga fleura. Emfisema ( tertimbunnya cairan atau pus
dalam rongga paru ) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis
mengakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis
respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan
mengakibatkan terjadinya gagal napas.
Oleh sebab itu, diperlukan suatu terapi untuk mengatasi masalah
tersebut, yaitu dengan terapi inhalasi atau nebulizer. Terapi inhalasi
merupakan suatu metode yang mengubah obat cair menjadi aerosol,
dihisap melalui masker/mouthpiece dan bekerja secara langsung ke target
organ di saluran napas.
B. Tindakan Keperawatan yang Dilakukan :
Pemberian terapi nebulizer (Ventolin 25 mg + Flixotide 10 mg)
C. Prinsip – Prinsip Tindakan :
1. Bersih
2. Terapi inhalasi adalah pemberian obat secara langsung ke dalam saluran
napas melalui penghisapan.
3. Dosis obat dan pengenceran harus tepat.
4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan Nebuleizer :
 Menganjurkan posisi duduk / setengah duduk.
 Gunakan inhaler / nebulizer sesuai dengan dosis yang diperintahkan
dari dokter.
 Anjurkan saat menarik nafas posisi masker / inhaler langsung dihirup
dan saat mengeluarkan nafas masker / inhaler bisa dilepas.
 Anjurkan untuk berkumur – kumur setelah melakukan terapi
nebulizer / dengan inhaler untuk menghindari efek samping dari obat.
D. Analisa Tindakan Keperawatan :
Tujuan dilakukan nebulizer adalah mengencerkan secret, mengobati
peradangan saluran napas atas, melegakan saluran napas. Terapi nebulizer
dapat diberikan langsung pada tempat/sasaran aksinya (seperti paru) oleh
karena itu dosis yang diberikan rendah, dosis yg rendah dapat menurunkan
absorpsi sistemik dan efek samping sistemik, pengiriman obat melalui
nebulizer ke paru sangat cepat, sehingga aksinya lebih cepat dari pada rute
lainnya seperti subkutan atau oral, udara yang dihirup melalui nebulizer telah
lembab, yang dapat membantu mengeluarkan sekresi bronchus.
Perawat langsung menyiapkan alat-alat untuk nebuliser seperti alat
nebuliser, masker oksigen disambungkan dengan selang pada mesin nebuliser,
obat yang dimasukkan (Ventolin 25 mg + Flixotide 10 mg).Sakelar dalam
mesin nebuliser dihubungkan dengan sumber listrik.
Mr.X diposisikan fowler, combivent dan flixotid kemudian dimasukkan
dalam tabung di dalam nebuliser. Memasang masker oksigen pada klien,
kemudian menekan tombol on. Maka uap obat akan mengalir dari mesin
nebuliser ke masker oksigen dan akhirnya akan dihirup oleh klien. Perawat
mengajarkan cara menghirup yang benar. Setelah obat habis, nebulizer
dimatikan dan klien kembali memakai kanul oksigen.
Ketika hendak melakukan nebuliser, perawat tidak cuci tangan terlebih
dahulu, dan tidak menggunakan sarung tangan, paling tidak sarung tangan
bersih. Wadah nebulizer untuk cairan obat tidak dibersihkan. Wadah dalam
nebulizer sebaiknya dibersihkan setelah dipakai, yaitu dengan membuang sisa
obatnya, dibersihkan dengan air panas dan sabun setelah dipakai, dibersihkan
dengan disinfektan setiap 24 jam bila penggunaan setiap hari. Perawat juga
hanya mengkaji frekuensi nafas, dan suara napas sebelum dan sesudah
tindakan.
E. Bahaya – bahaya yang mungkin muncul terjadi akibat tindakan tersebut
dan cara pencegahannya :
a. Pengendapan aerosol di dalam saluran pernapasan
b. Mual
c. Muntah
d. Tremor
e. Bronkospasme
f. Takikardi
F. Hasil yang didapat dan maknanya :
S : Pasien mengatakan sudah lega, sesak napas berkurang, rasa ingin batuk
berkurang.
O : Irama napas teratur, frekuensi 20x/menit, suara nafas vesikuler tidak
ada bunyi nafas tambahan
- GCS : E3 V4 M5, Compos mentis
- Klien terlihat lemah
- TD : 110/80 mmHg, N : 79 x/menit, RR : 28x/menit, S: 36,1oC, SPO2:
98%

- Klien tampak sesak, RR : 24x/menit, tidak ada suara tambahan


A : Belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
Anjurkan pasien untuk napas dalam, batuk efektif, minum air putih hangat
G. Tindakan keperawatan lain yang dapat dilakuakan untuk mengatasi
diagnose keperawatan di atas :
1. Berikan posisi yang nyaman, tinggikan tempat tidur 45o /semi fowler
1. Kolaborasi pemberian oksigen.
2. Kolaborasi pemberian obat bronkodilator, mukolitik, serta kortekosteroid
sesuai indikasi.
3. Berikan minum hangat
H. Evaluasi diri :
Dalam mempersiapkan alat-alat sampai melakukan nebuliser, akan lebih baik
jika cuci tangan terlebih dahulu. Membersihkan masker oksigen dengan kapas
alkohol, membuang sisa obat dan membersihkan wadah dalam nebuliser
dengan air hangat dan sabun. Suara nafas, denyut nadi, status respirasi, dan
saturasi oksigen diukur sebelum dan sesudah tindakan
2. Kepustakaan
a. Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI. Terapi
Inhalasi. Upload: 1 Mei 2009.
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/7001abad927d536232531639
aaf2b156d9e1ea62.pdf . Diakses 16 Maret 2019.
b. Layman, ME. Nebuliser Therapy, dalam buku Emergency Nursing
Procedures. Edisi ke-2 oleh Jean A Proehl. USA: W.B. Saunders
Company.
c. Kusyati, E. et al. Keterampilan dan prosedur Keperawatan Dasar.
Semarang: Kilat Press. 2003.
d. Bennete M.J. 2013. Pediatric Pneumonia.
http://emedicine.medscape.com/article/967822-overview. (16 Maret 2013)

Mengetahui

Pembimbing Mahasiswa

(……………………..) (Hadi Suryanto)