Anda di halaman 1dari 15

ULASAN

ASPEK FORENSIK RADIOLOGI MAKSILOFASIAL


R.E Wood
Biro Hukum Kedokteran Gigi, Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada

ABSTRAK
Radiologi telah digunakan secara luas dalam identifikasi gigi secara konvensional,
identifikasi berdasarkan anatomi dan identifikasi menggunakan landmark maksilofasial
seperti sinus frontalis. Contoh-contoh ini didokumentasikan dengan baik dalam literatur.
Tujuan dari makalah ini adalah untuk meninjau kembali metode radiografi yang dapat
digunakan untuk menentukan identitas menggunakan gigi, struktur akar dan sinus
frontalis. Selain itu, diberikan juga saran untuk penggunaan radiografi dalam bencana
massal dan kasus-kasus yang memerlukan penentuan usia korban. Computed
tomography dapat digunakan dalam penilaian tingkat kecocokan senjata terhadap luka
tumpul dalam kasus cedera kranium dan film radiograf dapat membantu
menggambarkan pola fraktur tengkorak post mortem. Mirco-computed tomography
telah digunakan dalam pencocokan senjata dengan luka dalam kasus cedera tajam.
Peran ahli radiologi dalam kasus-kasus litigasi sipil dan penipuan dibahas dan contoh-
contoh kasus diberikan. Ada celah dalam beberapa bidang ilmu yang menggunakan
ilmu radiologi. Penulis menawarkan beberapa saran untuk proyek penelitian yang
mungkin dilakukan untuk menutup beberapa celah ini.
Kata Kunci: Radiologi; Forensik; Identifikasi

DAFTAR ISI
1. Radiologi dental dan maksilofasial dalam identifikasi manusia.....................................S47
Y 1.1 Latar Belakang dan Metode............................................................................................ S47
Y2. Fitur radiologis dan anatomis hubungan spasial gigi-geligi..........................................S48
Y3. Radiologi dalam identifikasi rekonstruktif dental............................................................S49
Y4. Kegunaan spesial radiologi dalam identifikasi - sinus frontalis...................................S50
Y5. Radiografi dental dalam identifikasi korban bencana (DVI)........................................S50
Y6. Penentuan usia dan radiologi dental..................................................................................... S52
Y7. Kekurangan dalam determinasi usia - bisakah radiograf dipercaya?..........................S52
Y8. Evaluasi dan penunjukkan trauma kranial menggunakan metode radiologi............S52
Y9. Litigasi sipil, penipuan, dan radiologi dental.....................................................................S53
Y10. Mengkontemplasikan penilaian manusia..........................................................................S54
YDaftar Pustaka........................................................................................................................... S54
1. Radiologi dental dan maksilofasial dalam identifikasi manusia
1.1 Latar belakang dan metode
Identifikasi gigi-geligi telah digunakan untuk identifikasi sebelum penemuan sinar-
X rontgen pada 8 November 1895. Penggunaan teknik radiografi untuk identifikasi
pertama kali tercatat dilakukan oleh Schuller pada tahun 1921 [1]. Identifikasi gigi
dengan bantuan radiografi mungkin dapat bersifat komparatif atau rekonstruktif.
Radiografi komparatif ‘‘membandingkan” radiograf yang diambil sebelum kematian
dengan yang diambil setelah kematian. Identifikasi rekonstruktif dapat menggunakan
radiografi sebagai bantuan dalam pembuatan profil biologis seseorang yang identitasnya
masih belum diketahui.
Identifikasi komparatif menggunakan radiografi gigi, sekarang umum dilakukan
untuk evaluasi jasad manusia. Ketika identitas dicurigai, dan cara identifikasi
komparatif dipertimbangkan, algoritma dasar untuk identifikasi radiografi gigi adalah:
(1) memeriksa radiograf ante mortem untuk kualitas, jenis dan waktu pemeriksaan; (2)
memeriksa spesimen post mortem dan mengambil radiograf yang akan menduplikasi
area-area yang dibutuhkan yang terlihat dalam film ante mortem menggunakan geometri
gambar yang serupa, faktor exposure yang sesuai, dan pemrosesan arsip; (3)
menggunakan sistem penandaan atau mounting film sehingga identitas diketahui apakah
film merupakan film ante mortem atau post mortem; (4) menganalisis secara visual
radiograf, dengan mempertimbangkan informasi tambahan seperti notasi odontogram,
model gigi dan foto; (5) mentabulasikan poin-poin kesesuaian dan menjelaskan, jika
mungkin, poin-poin yang kurang sesuai antara ante mortem dan pemeriksaan radiograf
post mortem; (6) membuat keputusan apakah bahan yang disediakan memungkinkan
pengamat untuk membuat identifikasi positif, kemungkinan identifikasi atau penilaian
negatif (tidak ada identifikasi).
Contoh radiograf yang digunakan dalam kasus identifikasi gigi yang umum dan
mudah ditunjukkan pada Gambar. 1.
Jika radiograf gigi tidak tersedia, odontogram dapat digunakan. Masalah dalam
menggunakan odontogram adalah ketelitiannya. Ada banyak insiden penipuan gigi yang
dilaporkan di media massa [2]. Jelas, catatan tertulis dapat dipalsukan secara langsung.
Selain itu bisa ada kesalahan yang memang tidak disengaja dalam catatan tertulis dan
dalam perawatan yang dicatat. Arsip radiograf memberikan bukti objektif tentang
kondisi anatomi dan perawatan gigi yang dilakukan hingga titik waktu tertentu.
Sebagian besar kasus identifikasi komparatif menggunakan bukti radiografi dari
intervensi gigi (restorasi, pengisian saluran akar, pembuatan mahkota, ekstraksi, dan
sebagainya) sebagai titik identifikasi umum. Ini adalah kasus pada Gambar. 1. Fitur
anatomi yang kurang umum digunakan sebagai poin utama. Intervensi gigi, terutama
yang bersifat restoratif, dalam banyak kasus memberikan tanda unik yang umum
digunakan dalam pemeriksaan ante mortem dan post mortem. Individualitas
diskriminatif dari gigi-geligi manusia didokumentasikan dengan baik dalam karya
Seminal dari Adams [3,4] dan reliabilitas identifikasi radiografi gigi didokumentasikan
dengan baik dalam literatur baik yang menggunakan radiografi gigi konvensional [5,6]
atau dalam model digital berbasis internet [7,8].
2. Fitur radiologis dan anatomis hubungan spasial gigi-geligi
Di dunia Barat, fluoridasi air dan perawatan gigi yang lebih baik menyebabkan
penurunan insidensi karies gigi [9]. Penurunan ini dikaitkan dengan penurunan secara
bersamaan jumlah intervensi restoratif. Jika tidak ada bukti intervensi gigi maka
odontolog forensik harus mengandalkan struktur anatomi yang umum antara
pemeriksaan ante mortem dan post mortem radiografi. Fitur anatomis seperti itu
mungkin termasuk morfologi mahkota, bentuk akar, ukuran dan kelengkungan,
morfologi pulpa, dan hubungan spasial antara gigi. Penggambaran radiograf morfologi
gigi sangat tergantung pada geometri gambar. Perubahan kecil dalam angulasi sinar
horizontal atau vertikal dapat menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam tampilan
radiograf pembanding. Selain itu, walaupun masuk akal untuk mengasumsikan bahwa
beberapa struktur anatomi mungkin tidak berubah seiring waktu, (mis. Morfologi
mahkota, dilatasi akar, dan taurodontisme) yang lain dapat berubah seiring waktu
(morfologi pulpa dan pola tulang alveolar). Belum ada studi jangka panjang yang
meyakinkan tentang stabilitas relatif dari fitur gigi anatomi individu seperti yang terlihat
pada radiograf. Selain mengandalkan pengamatan anatomi gigi soliter, ada
kemungkinan untuk mencocokkan pemeriksaan ante mortem dengan pemeriksaan
radiograf post mortem menggunakan hubungan spasial gigi posterior satu sama lain
[10]. Konsep ini bergantung pada penyelarasan struktur anatomi yang terlihat secara
radiografis. Konsep ini tidak memerlukan informasi dari mahkota gigi, sehingga juga
berguna pada sisa-sisa maserasi dan insinerasi parsial yang menyebabkan mahkota
klinis mungkin rusak atau hilang. Titik-titik konkordansi diperoleh dengan
mengevaluasi keselarasan ruang ligamen periodontal, lamina dura, dinding ruang pulpa
dan tepi akar seperti yang terlihat pada radiograf posterior. Radiograf tersebut
didigitalkan dan bagian horizontal dari radiografi ante mortem atau post mortem
'dipotong'. Kemudian diposisikan di atas area anatomis yang sesuai dengan radiograf
yang berlawanan (Gbr. 2). Tingkat kesesuaian dan poin ketidaksesuaian kemudian dapat
dinilai. Dengan munculnya desktop scanner dan radiografi digital, proses ini menjadi
lebih mudah. Teknik ini tidak dapat digunakan pada korban yang sedang dalam fase gigi
geligi bercampur atau fase geligi yang lain dan juga pada pasien yang menggunakan
piranti ortodonti atau dilakukan ekstraksi ante mortem untuk pemeriksaan radiograf post
mortem yang mungkin dapat membatasi penggunaannya karena dapat memperpanjang
interval antara radiograf ante mortem dan post mortem [10].
Ketika menggunakan teknik Digital Dental Radiographic Identification (DDRI) ada
banyak kondisi yang menyulitkan untuk mereplikasi geometri radiogaf anter mortem
pada radiograf post mortem. Kondisi ini mungkin memerlukan banyak upaya
menggunakan perubahan sudut vertikal dan horizontal sinar datang serta penempatan
film. Sebuah perangkat telah dikembangkan untuk membantu dalam replikasi geometri
gambar ante mortem untuk masalah hubungan spasial ini atau bahkan dalam kasus-
kasus gambar ante mortem menunjukkan perbedaan besar dari kondisi normal [11].
Gambar 1. Dua gambar yang di atas adalah radiograf bitewing yang diambil beberapa
tahun sebelum kematian. Dua gambar di bawah diambil berdasarkan pemeriksaan
gambar ante mortem. Terdapat diskrepansi di antara keduanya namun wajar karena
pasien telah menjalani beberapa perawatan di antara interval waktu pengambilan
gambar ante dan post mortem (AM, ante mortem; PM, post mortem)
3. Radiologi dalam identifikasi rekonstruktif dental
Sebagian besar lembaga mempertimbangkan identifikasi rekonstruktif hanya ketika
tidak ada identifikasi molekuler atau catatan ante mortem yang tersedia. Ini sering
terjadi dalam kasus-kasus jasad manusia yang ditemukan dalam kondisi tubuh hanya
tersisa tulang-belulang atau hilang untuk jangka waktu yang lama. Pemeriksaan klinis
dan radiografi dapat membantu mereplikasi kembali profil individu sebelum meninggal.
Sebagai contoh, jasad tubuh yang ditemukan pada Gambar. 3 menunjukkan kehilangan
tulang alveolar dan tulang akibat trauma yang sudah lama dan perawatan restoratif
fraktur maksila yang dilakukan sebelum kematian dan nampak sudah sembuh. Informasi
ini dapat diteruskan kepada penyelidik sehingga dapat membantu dalam proses
identifikasi. Dalam kasus khusus ini bukti radiografi dari kehilangan gigi anterior sisi
kiri rahang atas akibat trauma, fraktur maksila sisi kiri yang sudah sembuh, kehilangan
tulang dento-alveolar lokal sisi kiri yang sudah lama dan restorasi dari insisivus sentralis
permanen rahang atas kiri semuanya terlihat jelas pada radiograf post mortem. Secara
klinis jenazah ini juga menunjukkan perubahan pada tepi orbital inferior yang
seharusnya nampak pada ante mortem dan jenazah juga memiliki gigi tiruan sebagian
lepasan berbahan akrilik tipe interim yang harganya tidak terlalu mahal. Semua
informasi klinis dan radiologis ini memberi para penyelidik kemungkinan bahwa orang
ini mengalami cedera wajah yang cukup serius di masa lalu.
Gigi yang hilang setelah kematian sudah umum terjadi [12]. Jika sisa gigi akan
diproses untuk digunakan untuk mendapatkan perkiraan wajah, akan berguna bagi para
profesional yang terlibat untuk memiliki informasi tentang kondisi gigi dan posisi gigi
anterior. Pemeriksaan radiografi dari soket gigi gigi anterior dalam dua dimensi (antero-
posterior dan oklusal) memberikan dokter gigi ahli rekonstruktif atau ahli perkiraan
wajah informasi mengenai jumlah dan posisi gigi anterior, adanya kehilangan tulang
periodontal dan penyakit periapikal yang dapat membuat perkiraan wajah lebih akurat.
Kadang-kadang kranium yang telah dimaserasi membutuhkan pengaturan kembali.
Dalam hal ini penting untuk melakukan konsultasi dengan odontolog forensik sehingga
pemeriksaan klinis dan radiografi menyeluruh dapat dilakukan. Contoh yang
menggambarkan pentingnya hal ini digambarkan pada Gambar 4.

Gambar 2. Contoh Digital Dental Radiographic Identification (DDRI) menggunakan


potongan horizontal pada area anterior yang “digeser dan diletakkan” di atas segmen
bukal yang sesuai

Gambar 3. Tampakan standar (atas) dan lateral kiri (bawah) radiograf oklusal post
mortem dari individu yang tidak diketahui identitasnya dan masih belum diketahui.
Radiograf ini menunjukkan adanya fraktur zygomaticus/orbital, kehilangan tulang
alveolar pada rahang atas anterior kiri akibat trauma dan restorasi yang besar pada gigi
insisivus sentral rahang atas kiri yang ada di dekatnya. Semua kondisi ini mengarah
kepada trauma wajah yang pernah terjadi di masa lalu.
4. Kegunaan spesial radiologi dalam identifikasi – sinus frontalis
Identifikasi kerangka diakui sebagai sarana yang valid untuk identifikasi tubuh pada
tulang panjang [13]. Namun, tulang wajah lebih sulit digunakan untuk identifikasi tubuh
secara radiologis karena kompleksitas anatominya, kelangkaan radiograf ante mortem
dan banyaknya struktur yang saling tumpang tindih dalam proyeksi radiograf . Salah
satu struktur anatomis maksila yang memungkinkan untuk dibandingkan pada radiograf
ante dan post mortem adalah sinus frontalis. Sinus frontalis dapat digunakan karena
umumnya gambarannya tercatat dalam pemeriksaan “sinus series”; struktur ini dilapisi
oleh permukaan internal dan eksternal dari tulang frontal; teknik pengambilan gambar
yang sering digunakan adalah occipito-mental atau waters view yang memberikan
gambaran radiograf yang sangat bagus karena bayangan yang terbentuk berada pada
kalvarium posterior yang datar. Culbert dan Law melakukan perbandingan radiografi
pertama sinus paranasal dalam identifikasi tubuh meskipun struktur ini adalah sel udara
mastoid dan identifikasi dikonfirmasi sebagian oleh restorasi gigi jenazah [14]. Sejak itu
beberapa orang telah melakukan identifikasi sinus frontal dan telah menemukan bahwa
teknik ini sangat berguna [15-17]. Christensen (2004) mempertanyakan validitas ilmiah
dan tingkat kesalahan potensial menggunakan sinus frontal untuk identifikasi tubuh
mengingat Daubert v. Merrel-Dow Pharmaceuticals Decision oleh Mahkamah Agung
Amerika Serikat [18]. Mungkin akan lebih bijaksana untuk melakukan percobaan
dengan sederet kemungkinan kecocokan dan ketidakcocokan yang pasti dimasukkan
dengan pencocokan ante mortem dan radiografi post mortem. Penggunaan cranium
yang telah dikeringkan serta radiograf ante dan post mortem “palsu” tidak akan
memberikan validitas eksternal yang baik pada studi klinis [19]. Selain itu, gambar
sinus frontal yang berpotensi cocok dapat diperiksa oleh ahli radiologi yang memenuhi
syarat dalam anatomi radiografi daerah tersebut. Ditemukan juga bahwa hampir 10%
individu yang tidak memiliki sinus frontalis untuk dievaluasi. Contoh sinus frontal yang
digunakan dalam proses identifikasi disajikan pada Gambar 5.
5. Radiografi dental dalam identifikasi korban bencana (DVI)
Radiografi gigi sebagai bukti obyektif memberikan sarana identifikasi individu yang tak
ternilai dalam insiden korban massal. Identifikasi gigi terus menjadi cara yang cepat dan
akurat untuk menemukan identitas dalam situasi seperti itu. Radiograf gigi menyediakan
data objektif untuk rekonsiliasi ante mortem dan catatan post mortem. Namun, dari
sudut pandang post mortem ada banyak faktor yang harus diingat:
1) Dalam insiden DVI, tujuan pemeriksaan radiografi bukan untuk mendiagnosis
penyakit. Oleh karena itu ruang gerak yang cukup harus diberikan pada tipe
pemeriksaan radiografi post mortem yang akan dilakukan. Sebagai contoh,
radiografi bitewing, suatu prosedur sederhana pada pasien yang hidup, jauh lebih
sulit dilakukan daripada radiograf periapikal pada jenazah dan juga dibanding
radiograf periapikal posterior dari masing-masing kuadran. Dalam kondisi
hidup, radiograf bitewing mungkin diambil dari angulasi yang berbeda; Namun,
pada jenazah film dapat diletakkan dalam posisi yang memungkinkan untuk
menduplikasi geometri radiograf bitewing yang hampir tepat. Film ukuran
oklusal kurang digunakan dalam semua prosedur identifikasi tetapi terutama
dalam bencana massal yang dapat menggantikan banyak radiograf dengan satu
film. Sebuah pepatah umum yang diterapkan untuk fotografi forensik yang
sama-sama berlaku untuk radiografi gigi forensik adalah - ‘‘ ketika ragu-ragu,
berusahalah semaksimal mungkin’’ Ini berarti mengambil lebih banyak
radiografi di post mortem daripada jumlah minimum yang dibutuhkan. Jauh
lebih mudah untuk mengekspos serangkaian film lengkap pada pemeriksaan
pertama daripada harus mengambil jenazah untuk pemeriksaan radiografi lebih
lanjut atau secara bergantian mencoba rekonsiliasi dengan bukti radiografi post
mortem minimal. Jika tubuh diduga berusia remaja atau anak-anak, radiograf
full mouth series harus diambil agar stratifikasi usia yang didapat akurat.
Kegagalan untuk melakukan hal itu akan membatasi odontolog forensic untuk
memperkirakan usia dan mungkin memerlukan pengambilan jenazah dan
pemeriksaan ulang.
2) Jika pendekatan metode penyusunan kembali digunakan untuk evaluasi post
mortem, radiografi gigi harus diambil sebelum pemeriksaan gigi secara rinci dan
pembuatan odontogram. Jika ini dilakukan, pemeriksa dapat menggunakan
radiograf dalam prosedur pembuatan odontogram dan pengkodean di awal
daripada memodifikasi odontogram atau pengkodean mereka nanti.
3) Jika film analog digunakan, sangat penting bahwa kondisi zat kimia radiograf,
dipantau, ditambah kembali, dan diganti secara teratur. Prosesor perlu
dikosongkan, dibersihkan, dan diservis secara teratur baik digunakan atau tidak
digunakan. Zat kimia radiograf akan menurun kualitasnya meskipun tidak
digunakan. Jika sejumlah besar pemeriksaan radiografi dilakukan, bahan kimia
perlu diisi lebih sering. Kegagalan untuk melakukannya akan menghasilkan
film-film yang mungkin terlihat sangat bagus pada saat otopsi tetapi kualitasnya
akan menurun dengan cepat — mungkin sebelum proses rekonsiliasi. Akan lebih
bijaksana untuk mendigitalkan film analog pada pemindai transparansi flat bed
dan menyimpannya secara elektronik.
4) Jika radiografi digital akan digunakan, sangat penting bahwa radiograf ini 'dapat
dipindahkan' dari lokasi ke lokasi dan disimpan dalam format umum seperti
JPEG atau serupa. Selain itu, drive cadangan yang tidak terlalu diperlukan juga
harus tersedia dan diperbarui secara berkala.
5) Baik penggunaan film analog atau digital, akan lebih bijaksana untuk memiliki
petugas kontrol kualitas radiologi untuk menangkap kesalahan seperti cone-cuts,
under atau over exposure, under atau over development dan kesalahan mounting.
Orang ini juga dapat memonitor fungsi prosesor dan masalah pemeliharaan dan
keselamatan radiasi. Beberapa bencana massal ditangani dengan menggunakan
pelindung yang kualitasnya sama dengan di klinik dan penting agar aspek
keselamatan radiasi dari pengumpulan data post mortem memadai.
Dimungkinkan untuk 'menyelamatkan' radiograf yang kurang optimal [20];
namun, waktu untuk melakukan ini bukanlah di tengah-tengah insiden DVI.
6. Penentuan usia dan radiologi dental
Diketahui dengan baik bahwa dalam estimasi usia remaja dari usia subjek, jenazah
atau tidak dapat dicoba dengan cara pemeriksaan maturasi gigi decidui dan permanen
[21]. Ada puluhan tulisan yang diterbitkan tentang penentuan usia. Dalam kasus dengan
sampel tidak dapat dihancurkan, radiologi sering digunakan untuk menilai usia. Jelas
tidak etis untuk menghilangkan gigi dari orang yang masih hidup sehingga teknik non-
invasif perlu digunakan dalam kasus-kasus itu juga.
Tujuan dari penentuan usia pada jasad manusia yang ditemukan adalah untuk
membantu dalam pengembangan profil biologis orang yang sudah meninggal. Jika
pemeriksaan radiologis menunjukkan pembentukan gigi permanen yang tidak lengkap,
maka odontolog forensik dapat membantu penyelidikan dengan mempersempit
kelompok usia populasi tempat orang yang meninggal itu berasal. Ini dikatakan sama
pentingnya untuk menghindari mempersempit perkiraan usia pada sisa-sisa jenazah
yang ditemukan agar tidak membatasi ruang analisa dan mengecualikan kemungkinan
kecocokan dari file orang hilang.

Gambar 4. Radiograf bitewing yang terdapat di atas adalah radiograf yang diambil dua
bulan sebelum kematian individu tersebut. Kranium dan rahang mengalami disartikulasi
akibat tembakan yang menyebabkan kematian kemudian disusun kembali setelah itu.
Radiograf oklusal dan periapikal posterior rahang atas diambil setelah penyusunan
kembali rangka post mortem. Nampak bahwa berdasarkan catatan ante dan post mortem
kedua radiograf ini berasal dari orang yang sama. Masalahnya terletak pada penyusunan
ulang. Secara kebetulan molar pertama permanen kanan dan kiri rahang atas hilang
akibat trauma yang berasal dari luka tembak dan tidak dikembalikan pada posisinya saat
penyusunan kembali tulang.
Gambar 5. Detil dari gambar sinus AM (bawah) dan PM pada kasus yang cocok
7. Kekurangan dalam determinasi usia – bisakah radiograf dipercaya?
Dalam kasus-kasus dengan satu individu hidup yang mengklaim usianya di bawah
usia mayoritas — seperti orang dewasa yang mengaku sebagai remaja, pengungsi ilegal,
dan sebagainya, pemeriksaan radiologis gigi dapat digunakan untuk mencoba dan
menunjukkan usia yang tepat. Ini adalah latihan yang jauh lebih sulit dalam beberapa
kasus seperti pada orang-orang yang sangat dekat dengan usia hukum untuk dinyatakan
dewasa. Dalam estimasi usia pada individu hidup, tujuannya mungkin untuk
mempersempit rentang usia menjadi satu titik. Hal ini sangat sulit. Jika kita membuat
asumsi bahwa maturasi radiologis sesuai dengan beberapa bentuk distribusi normal, dan
ada sedikit bukti untuk ini dalam banyak kelompok etnis, maka pertanyaan berikut
mungkin diajukan secara sah: Dimanakah posisi penuntut dalam posisi normal?
Dapatkah kita secara moral membuat keputusan yang dapat mengubah hidup seseorang
berdasarkan gambaran radiografis yang dikaitkan dengan usia?
Ada jebakan lain dalam menggunakan radiologi dalam penentuan usia. Yang
pertama adalah pemeriksaan radiologis yang digunakan pada individu yang tidak
diketahui yang akan kita bandingkan dengan sampel referensi. Ada kecenderungan
untuk melupakan bahwa radiograf panoramik, yang sering digunakan dalam prosedur
ini bukan radiografi menurut bidang. Radiograf panoramik adalah sebuah tomograf.
Dengan demikian radiograf panoramik memiliki focal through dan segala sesuatu yang
terletak di luar focal through akan nampak kabur. Oleh karena itu, jika gigi yang
digunakan untuk menilai usia gigi suatu subjek berada di luar fokus maka mungkin ada
kesalahan estimasi usia gigi.
Sebelum penelitian apa pun yang menggunakan radiografi panoramik, harus ada
penyaringan gambar oleh ahli radiologi untuk menilai kualitas gambar. Hal ini jarang
dilakukan. Bahkan jika sebuah gigi terletak di dalam focal through, jika gigi arahnya
miring pada arah bucco-lingual, ujung akarnya mungkin terletak di luar focal through
dan memberikan konsepsi radiologis yang salah tentang situasi klinis yang sebenarnya.
Ada banyak penelitian yang menggunakan perkembangan akar molar ketiga sebagai
penentu usia; namun, ini adalah variabel yang paling bervariasi dalam
perkembangannya dan penelitian yang membentuk dasar untuk tahap perkembangan
akar sekarang sudah berusia lebih dari 30 tahun [22]. Ada lebih dari 100 tulisan yang
diterbitkan mengenai penggunaan tahapan Demirjian atau variasi tekniknya pada
populasi berbeda, sebuah fakta yang mungkin saja tifak valid dikarenakan sampel yang
digunakan Demirjian adalah anak-anak keturunan Perancis-Kanada pada rentang tahun
1960-1970an. Masuk akal untuk mengasumsikan bahwa kedua teknik radiologis telah
berubah sejak saat itu dan kelompok etnis dan ras lainnya mungkin memiliki tingkat
maturasi berbeda.
Variabel radiologis lain yang harus dipertimbangkan adalah tingkat jaringan lunak
yang tumpang tindih dan cakupan jaringan keras dalam radiografi sampel referensi yang
diketahui atau kasus yang tidak diketahui. Perkiraan lebar dan tinggi pulpa pada film
radiografi intraoral dan pada sebagian kecil radiograf panoramik dipengaruhi oleh
jumlah jaringan keras dan lunak yang ada dari ujung tabung kolimator ke bidang
gambar. Sederhananya, pasien yang ‘‘ lebih tebal” atau‘ ‘lebih padat’ akan memiliki
lebar pulpa yang secara proporsional lebih kecil dan bukan struktur radiolusen yang
kecil dan tipis meskipun pulpa berukuran sama. Ini karena radiograf bukan foto
melainkan representasi dua dimensi dari objek tiga dimensi.
8. Evaluasi dan penunjukkan trauma kranial menggunakan metode radiologi
Radiologi telah digunakan untuk menunjukkan pola fraktur pada trauma benda
tumpul pada calvaria manusia [23]. Radiografi post mortem dari fraktur cranium
nampak rumit karena jumlah banyaknya superimposisi struktur anatomi. Sesuatu yang
sederhana seperti pendekatan radiografi Parma yang dimodifikasi dengan kolimator
dental unit dilepas dan port keluar unit sinar-X gigi ditempatkan bersebelahan dengan
sisi kontralateral pada fraktur kranium dapat memberikan gambaran fraktur cranium
yang sangat baik [23].
Jika senjata yang diduga digunakan ditemukan, senjata itu dapat dibandingkan
dengan cedera yang nampak di kranium. Hal ini sulit karena membutuhkan banyak
perbandingan; penggunaan CT scan yang sulit diperoleh di banyak kamar mayat; jika
senjatanya bersifat logam, yang memang sering digunakan, model tiruan dari senjata
harus dibuat menggunakan dental stone tipe IV dan terkadang entah melibatkan retensi
cranium atau fabrikasi model cranium [24]. Contoh perbandingan cedera tumpul dengan
senjata yang menyebabkannya menggunakan teknologi CT digambarkan pada Gambar.
6. Teknik ini telah diperluas dan dikembangkan lebih lanjut dengan menggunakan
micro-computed tomography secara in vitro oleh Thali et al. untuk cedera akibat benda
tajam pada tulang [25]. Penelitian lebih lanjut di bidang ini kemungkinan akan
menggunakan pencitraan canggih seperti itu dan mungkin, di masa depan merupakan
bagian dari teknik otopsi virtual [26].

Gambar 6. Composite series foto 3 potongan gambaran CT menggambarkan derajat


kesesuaian bagian belakang kapak dengan luka bekas trauma benda tumpul pada
kalvaria pada pasien pembunuhan. Bukti DNA yang didapatkan setelahnya
menunjukkan adanya darah korban pada kapak tersebut.
9. Litigasi sipil, penipuan, dan radiologi dental
Jika seorang praktisi akan melakukan penipuan, ada sedikit yang bisa dilakukan
untuk mencegahnya. Dalam sebuah studi oleh Tsang et al. [27] studi ini menunjukkan
bahwa manipulasi digital dari radiografi untuk menghasilkan penyakit yang tidak ada
pada film asli berhasil menyesatkan perusahaan asuransi pihak ketiga untuk
memberikan perawatan yang tidak diperlukan pasien. Meskipun gambar-gambar dalam
penelitian ini diubah secara digital, gambar-gambar yang diserahkan kepada perusahaan
asuransi pada akhirnya adalah jenis analog (film). Sejak berhasil berpendapat bahwa
tujuan yang sama dapat dicapai dengan menggunakan gambar analog pasien lain;
Namun, kelancaran gambar digital harus menjadi perhatian bagi praktisi yang jujur,
agen pendanaan negara, asuransi pihak ketiga dan pasien sendiri. Bukti radiografi karies
dan restorasi dapat dengan mudah ditambahkan ke gambar radiografi dan 'bukti'
penyakit atau perawatan yang didapatkan ini kemudian ditutupi dengan restorasi dengan
siapa pun kecuali pelaku [28], yang menjadi permasalahan selain itu adalah kurangnya
pengetahuan radiologis secara umum pelaku dalam kasus malpraktik, pengacara
mereka, bahkan badan regulasi dokter gigi. Di dunia Barat terdapat peningkatan jumlah
pasien yang menuntut dokter gigi mereka karena kelalaian yang benar terjadi atau yang
dirasakan. Hanya ada tiga bukti yang akan menyelesaikan kasus-kasus ini: catatan
tertulis, radiografi dan data objektif lainnya seperti model dan foto. Jika radiografi
digunakan sebagai bukti, akan lebih bijaksana untuk mendapatkan pendapat ahli dari
ahli radiologi gigi. Kasus seperti ini diilustrasikan pada Gambar. 7.
Ada banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk meningkatkan basis ilmiah dari
lingkup kerja odontolog forensik. Ini termasuk yang berikut:
1) Tidak ada data tentang bagaimana cara menentukan stabilitas landmart anatomi
gigi selama periode waktu yang panjang. Sebuah studi seperti ini dapat
menggunakan radiografi individu hidup yang diikuti oleh satu praktisi atau
klinik. Gambar ‘‘ante mortem” dan “post mortem” sebenarnya dapat digantikan
dengan gambar radiografi berkualitas tinggi yang diambil pada interval waktu
tertentu yang ditetapkan baik secara prospektif atau retrospektif. Gambar-
gambar tersebut kemudian dapat diperlihatkan kepada serangkaian pengamat
untuk menentukan persentase yang menghasilkan identifikasi yang benar,
ketidakmampuan untuk mengidentifikasi atau identifikasi yang salah.
Sensitivitas, spesifisitas dan tingkat kesalahan dari proses ini dapat dihitung.
2) Tidak ada data tentang seberapa buruk geometri gambar radiografi dapat
sebelum identifikasi tidak dapat dilakukan. Untuk menghitung pengaruh
kesalahan radiografi pada kemampuan untuk secara akurat untuk menentukan
identitas dari kasus ante mortem yang diketahui, penelitian dapat dilakukan
dengan menggunakan restorasi yang ditempatkan dalam bahan kadaver dengan
berbagai tingkat kesalahan geometri gambar. Perubahan seperti itu akan
mencakup perubahan dalam angulasi horizontal; perubahan angulasi vertikal;
perubahan dalam angulasi horisontal dan vertikal; perubahan dalam bidang film
(memutar film). Gambar yang dihasilkan kemudian dapat ditunjukkan kepada
serangkaian pengamat untuk menentukan persentase yang menghasilkan
identifikasi yang benar, ketidakmampuan untuk mengidentifikasi atau
identifikasi yang salah. Sensitivitas, spesifisitas dan tingkat kesalahan dari
proses ini dapat dihitung.
3) Perlu ada lebih banyak populasi yang dipelajari untuk penentuan usia untuk
menyediakan bahan referensi untuk berbagai kelompok etnis dan yang saat ini
digunakan sebagai bahan referensi dasar perlu diperbarui.
4) Teknik menggunakan CT scan baik untuk trauma tumpul maupun trauma tajam
yang membandingkan senjata dengan luka perlu disempurnakan. Tidak mungkin
ada cukup bahan kasus untuk mendukung ini di salah satu pusat saja. Untuk
alasan ini, baik penelitian kadaver, yang disertai dengan kelemahan bahwa
tulang tidak vital pada saat cedera; atau studi hewan in vivo yang mungkin
terkait masalah etika atau anatomi membuat ini menjadi masalah. Merancang
studi yang bermakna cukup besar untuk menghitung tingkat kesalahan, dan
memiliki validitas eksternal adalah tugas yang sangat berat.
5) Untuk kasus yang dibutuhkan determinasi usia, kontrol kualitas yang baik pada
sampel acuan dan sampel radiograf yang tidak diketahui harus dilakukan. Selain
itu pengujian yang lebih lanjut mengenai pengaruh dimensi jaringan lunak dan
keras mungkin perlu dilakukan untuk teknik yang utamanya hanya
menggunakan metode radiologis untuk membantu determinasi usia
10. Mengkontemplasikan penilaian manusia
Ada kecenderungan dalam Daubert decision dan keputusan lain untuk memberikan
sedikit kepercayaan pada konsep penilaian klinis yang kompeten. Ada juga
kecenderungan dalam kedokteran klinis terhadap pengobatan berbasis bukti [29].
Namun, keduanya tidak akan sepenuhnya menggantikan penilaian klinis dari seorang
praktisi yang kompeten - apa pun disiplinnya. Dalam sebuah studi yang mengevaluasi
keakuratan penentuan usia [21] ditemukan bahwa sebuah studi dengan seorang praktisi
yang menebak usia jenazah berdasarkan analisa teoritis menunjukkan hasil yang lebih
akurat dibanding dengan metode teknis yang canggih. Solheim dan Sundnes
menentukan estimasi usia dengan sangat baik menggunakan penilaian visual yang relatif
sederhana [30]. Ten Cate et al. menggunakan pewarnaan kuning pada akar sebagai alat
estimasi usia dan menemukan bahwa pengamat yang terlatih melakukan tugas ini
dengan cukup baik [31].
Sering tersirat bahwa kita perlu melakukan semacam tes fisik pada '' sesuatu '' untuk
memastikan bahwa kita mendapatkan '' jawaban yang tepat. '' Ahli radiologi membuat
keputusan klinis berdasarkan interpretasi gambar radiografi pada setiap hari.
Penulisingin melihat lebih banyak penyelidikan keakuratan pengamat manusia yang
terlatih dalam kasus-kasus forensik serta pengembangan teknis. Ada teknologi menarik
di cakrawala seperti sistem identifikasi gigi otomatis [32,33]; Namun, pada akhirnya
dokter lah yang harus membuat keputusan, teknik apa pun yang digunakan untuk tiba di
sana. Tidak ada kemajuan teknologi di pengadilan untuk pemeriksaan silang.

Referensi
1. Schuller, Das Roentgenogramm der Strinhole—ein Hilfsmittel fur die
Identitatbestimmung von Schadeln, Monatsshrift fur Ohren Heilkunde 55 (1921)
1617–1620.
2. http://www.oag.state.ny.us/press/2001/nov/nov06a_01.html, press release: Office of
the New York State Attorney General Eliot Spitzer November 6, 2001. Brooklyn
Dentist admits to $550,000 dental fraud.
3. B.J. Adams, The diversity of adult dental patterns in the United States and the
implications for personal identification, J. Forensic Sci. 48 (2003) 497– 503.
4. B.J. Adams, Establishing personal identification based on specific patterns of
missing, filled, and unrestored teeth, J. Forensic Sci. 48 (2003) 487– 496.
5. D. MacLean, S. Kogon, S. Stitt, Validation of dental radiographs for human ID, Int.
Dent. J. 39 (1994) 1195–1200.
6. S. Kogon, D. MacLean, Long term validation study of bitewing radiographs for
forensic ID, J. Forensic Sci. 41 (1996) 230–232.
7. I.A. Pretty, R.J. Pretty, B.R. Rothwell, D.J. Sweet, The reliability of radiographs for
dental identification: a web-based study, J. Forensic Sci. 48 (2003) 1325–1330.
8. M. Funayama, J. Kanetake, H. Ohara, Y. Nakayama, Y. Aoki, T. Suzuki, M. Nata,
S. Mimasaka, K. Takahashi, Dental identification using digital images via computer
network, Am. J. Forensic Med. Pathol. 21 (2000) 178–183.
9. K.A. Singh, A.J. Spencer, Relative effects of pre- and post-eruption water fluoride
on caries experience by surface type of permanent first molars, Commun. Dent.
Oral Epidemiol. 32 (2004) 435–446.
10. R.E. Wood, N.J. Kirk, D.J. Sweet, Digital dental radiographic identification in the
pediatric, mixed and permanent dentitions, J. Forensic Sci. 44 (1999) 910–916.
11. M. Goldstein, D.J. Sweet, R.E. Wood, A specimen positioning device for dental
radiographic identification—image geometry considerations, J. Forensic Sci. 43
(1998) 185–189.
12. H. Brkik, M. Slaus, J. Keros, V. Jerolimov, M. Petrovecki, Dental evidence of
exhumed human remains from the 1991 war in Croatia, Coll. Anthropol. Suppl. 2
(6) (2004) 259–266.
13. I. Chilvarquer, J.O. Katz, D.M. Glassman, T.J. Prihoda, J.A. Cottone, Comparative
radiographic study of human and animal long bone patterns, J. Forensic Sci. 32
(1987) 1645–1654.
14. W.L. Culbert, F.M. Law, Identification by comparison of roentgenograms, J. Am.
Med. Assoc. 88 (1927) 1634–1635.
15. D.C. Marlin, M.A. Clark, S.M. Standish, Identification of human remains by
comparison of frontal sinus radiograp : a series of four cases, J. Forensic Sci. 36
(1991) 1765–1772.
16. M. Angyal, K. Derczy, Personal identification on the basis of antemortem and
postmortem radiographs, J. Forensic Sci. 43 (1998) 1089–1093.
17. N.J. Kirk, R.E. Wood, M. Goldstein, Skeletal identification using the frontal sinus
region: a retrospective study of 39 cases, J. Forensic Sci. 47 (2002) 318–323.
18. A.M. Christensen, The impact of Daubert: implications for testimony and research
in forensic anthropology (and the use of frontal sinuses in personal identification),
J. Forensic Sci. 49 (2004) 427–430.
19. A.M. Christensen, Assessing the variation in individual frontal sinus outlines, Am.
J. Phys. Anthropol. 127 (2005) 291–295.
20. J.J. Fitzpatrick, B.L. Kaufman, R.J. Kirschner, H. MacMahon, L.J. Levine, W.
Maples, Optical & digital techniques for enhancing radiographic anatomy for ID of
human remains, J. Forensic Sci. 41 (1996) 947–959.
21. H. Soomer, H. Ranta, M.J. Lincoln, A. Penttila, E. Leibur, Reliability and validity
of eight dental age estimation methods for adults, J. Forensic Sci. 48 (2003) 149–
152.
22. A. Demirjian, H. Goldstein, J.M. Tanner, A news system of dental age assessment,
Hum. Biol. 45 (1973) 211–217.
23. J.K. Wong, B. Blenkinsop, D. Chiasson, R.E. Wood, A simple means of
demonstrating skull fractures using radiographic altered image geometry, J.
Forensic Odontostomatol. 15 (1997) 17–21.
24. R.E. Wood, D. Chiasson, B. Blenkinsop, S.E. Brooks, Use of computerassisted
tomography in wound-weapon matching in cases of fatal skull injuries, Can. Soc.
Forensic Sci. J. 29 (1996) 49–55.
25. M.J. Thali, U. Taubenreuther, M. Karolczak, M. Braun,W. Brueschweiler, W.A.
Kalender, R. Dirnhofer, Forensic microradiology: micro-computed tomography
(micro-CT) and analysis of patterned injuries inside of bone, J. Forensic Sci. 48
(2004) 1336–1342.
26. M.J. Thali, M. Braun, U. Buck, E. Aghayev, C. Jcakowski, P. Vock, M.
Sonnesnschein, R. Dirnohofer, Virtopsy—scientific documentation, reconstruction
and animation in forensic: individual and real 3D data based geo-metric approach
including optical body/object surface and radiological CT/MRI scanning, J.
Forensic Sci. 50 (2005) 428–442.
27. A. Tsang, D.J. Sweet, R.E. Wood, Potential for fraudulent use of digital
radiography, J. Am. Dent. Assoc. 130 (1999) 1325–1329.
28. J.M. Sinton, R.E. Wood, M.J. Pharoah, D.W. Lewis, Influence of the addition of
restorations on the diagnosis of caries from digitized bitewing radiographs, Oral
Surg. Oral Med. Oral Pathol. Oral Radiol. Endod. 84 (1997) 443–448.
29. L. Lohfield, A. Neville, G. Norman, PBL in undergraduate medical education: a
qualitative study of the views of Canadian residents, Adv. Health Sci. Theory Pract.
10 (2005) 189–214.
30. T. Solheim, P.K. Sundnes, Dental age estimation of Norwegian adults—a
comparison of different methods, Forensic Sci. Int. 16 (1980) 7–18.
31. A.R. Ten Cate, G.W. Thompson, J.B. Dickinson, H.A. Hunter, The estimation of
age of skeletal remains from the colour of roots of teeth, Can. Dent. J. 43 (1977)
83–86.
32. H. Chen, A.K. Jain, Tooth contour extraction for matching dental radiographs, in:
Proceedings of ICPR III, Cambridge, UK, (2004), pp. 522–525.
33. G. Fahmy, D. Nassar, E. Haj-Said, H. Chen, O. Nomir, J. Zhou, R. Howell, H.H.
Ammar, M. Abdel-Mottaleb, A.K. Jain, Towards an automated dental identification
system (ADIS), in: Proceedings of International Conference on Biometric
Authentication (ICBA), Hong Kong, China, 2004.