Anda di halaman 1dari 3

KONSEP PONDASI CERUCUK KAYU

GELAM/DOLKEN

Kayu gelam atau kayu dolken gelam memiliki segudang manfaat di bidang pembangunan

ataupun lainnya. Kulit kayu gelam saja sangat berguna untuk industri perkapalan dan

Kayunya untuk bangunan. Kayu gelam sering digunakan pada bagian perumahan, perahu,

kayu bakar, pagar, atau tiang sementara.

Umumnya kayu dolken gelam yang kecil dikenal dan dipakai sebagai steger pada konstruksi

bagunan dengan dasar beton. Karena diyakini kayu gelam sangat baik digunakan untuk

pembuatan seteger, sedangkan kayu gelam yang berdiameter besar biasa dipakai untuk

cerucuk pada pekerjaan sungai dan jembatan. Kayu dolken gelam ini juga dapat dibuat arang

atau arang aktif untuk bahan penyerap. Banyak orang yang menjual arang dari kayu dolken

gelam.

Setiap wilayah di Indonesia mempunyai jenis dan struktur tanah yang berbeda seperti keras,
lembek dan gambut. Sifat dan karakteristik dari masing-masing jenis memiliki perbedaan.
Contoh sederhananya, mendirikan bangunan di atas tanah yang dasarnya agak keras tentu
saja lebih mudah ketimbang di atas tanah yang lembek, karena tanah lembek dapat
menyebabkan terjadinya amblas dan lonsor.

Mendirikan bangunan di atas tanah dengan agregat yang baik dapat menggunakan pondasi
telapak atau pondasi batu kali. Sedangkan jika membangun di atas tanah lembek tidak bisa
menggunakan pondasi tersebut karena harus menggunakan pondasi yang khusus.

Bangunan yang didirikan di atas tanah lunak seringkali mengalmai penurunan karena
pengaruh dari beban berat beban rumah itu sendiri. Sebenarnya ada metode konstruksi untuk
mengatasi masalah pembangunan di atas tanah lunak yaitu dengan menggunakan pondasi
cerucuk.
Pondasi Cerucuk adalah pondasi yang didesain untuk membangun diatas kondisi tanah yang
kurang mendukung dengan kondisi tanah yang kurang stabil dimana elevasi muka air tanah
yang cukup tinggi. Pondasi Cerucuk menancapkan kayu sebagai daya dukung tanah dengan
diameter 8 -15 sentimeter.

Pondasi ini sebenarnya memiliki konsep yang sama dengan pondasi pancang, dimana pilar-
pilar harus ditancapkan ke dalam tanah untuk memberikan daya dukung tanah agar kuat
menopang bangunan agar tidak runtuh. Tapi sebelum dilakukan pemasangan pondasi
biasanya dilakukan pengukuran tekanan air tanah menggunakan alat Piezometer.

Sumber gambar : youtube.com

Pemasangan kayu dapat menggunakan tenaga manusia untuk menancapkan gelondongan


kayu dengan kedalaman yang sudah di rencanakan atau bisa juga menggunakan bantuan alat
berat berupa ekskavator atau bekho sebagai hammer agar proses penancapan tiang bisa
dilakukan dengan mudah.

Susunan kayu yang telah di tancapkan akan di kelompokkan  untuk dijadikan kepala crucuk
yang nantinya di cor. Kepala cerucuk dapat berupa pangapit, kawat pengikat, papan penutup
atau balok poer.

Setelah itu proses selanjutnya dapat dilakukan pemasangan tulangan untuk pengecoran dan
dilanjutkan pengerjaan struktur untuk membuat bangunan tahan lama dan berdiri dengan
kokoh. Dengan begitu, pembangunan di atas tunah lunak sudah tidak menjadi masalah.
Untuk perencanaan kedalaman dan jarak anatara tiang pancang harus dilakukan
berdasarkan pemeriksaan tanah.