Anda di halaman 1dari 21

ANATOMI, FISIOLOGI, KIMIA DAN FISIKA SISTEM

PERKEMIHAN

OLEH :

KELOMPOK 3
B12-C
GUSTI AYU KETUT DESI WIDIANTARI (193223166)
GUSTI AYU NYOMAN ASTARIANI (193223167)
I MADE SUJANA (193223173)
I MADE UDI (193223174)
NI KOMANG ARI TRISNADEWI (193223186)
NI MADE DWI YANI (193223189)
NI MADE RAI DIAH PURNAMA DEWI (193223190)
NI MADE SANTHI ASTUTI (193223191)
NI MADE SUWARTINI (193223192)
NI NYOMAN ANGGRENI (193223193)
NI PUTU AYU LESTARINA (193223196)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI

DENPASAR

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga makalah yang berjudul “Anatomi, Fisiologi,
Kimia dan Fisika Sistem Perkemihan” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Adapun maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
pedoman bagi mahasiswa untuk mengetahui lebih dalam dan mampu menjelaskan
tentang Anatomi, Fisiologi, Kimia dan Fisika Sistem Perkemihan serta dalam
memenuhi tugas mata kuliah Sistem Perkemihan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sebuah kesempurnaan.
Oleh sebab itu, kami mohon maaf apabila ada kesalahan-kesalahan di dalam
penulisan makalah ini. Demikian pula halnya, kami juga mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat konstruktif demi penyempurnaan makalah ini untuk
selanjutnya dapat menjadi lebih baik dan mempunyai potensi untuk
dikembangkan.
Sebagai akhir kata, dengan selesainya makalah ini maka seluruh isi makalah
ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami dan seberapapun sederhana
makalah ini, kami harapkan mempunyai suatu manfaat bagi semua pihak.

Denpasar, 24 Nopember 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... ii

DAFTAR ISI...................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan..................................................................................... 2
D. Manfaat Penulisan................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Anatomi Organ-Organ Sistem Perkemihan............................................ 3


B. Fisiologi Sistem Urinarius....................................................................... 7
C. Proses Pembentukan Dan Komposisi Urin............................................. 8
D. Penyimpanan Dan Eliminasi Urin........................................................... 11
E. Pemekatan Urin, Mekanisme Counter-Current....................................... 13

BAB III PENUTUP  

A. Simpulan................................................................................................. 17
B. Saran ....................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem perkemihan atau sering disebut dengan system urinary adalah
salah satu sistem yang berhubungan dengan eliminasi. Sistem perkemihan,
adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga
darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap
zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin(air
kemih). Sistem urinari terdiri atas renal, ureter, vesica urinaria, dan uretra.
Selain mempunyai fungsi eliminasi, sistem perkemihan juga
mempunyai fungsi lainnya sebagai berikut yaitu meregulasi volume darah dan
tekanan darah dengan mengeluarkan sejumlah cairan ke dalam urine dan
melepaskan eritropoietin serta melepaskan rennin, meregulasi konsentrasi
plasma dari sodium, potassium, klorida dan mengontrol kuantitas kehilangan
ion-ion lainnya ke dalam urine serta menjaga batas ion kalsium dengan
menyintesis kalsitrol, mengonsentrasi stabilisasi pH darah dengan mengontrol
jumlah keluarnya ion hydrogen dan ion bikarbonat ke dalam urine,
menghemat pengeluaran nutrisi dengan memelihara ekskresi pengeluaran
nutrisi tersebut pada saat proses eliminasi produk sisa, terutama pada saat
pembuangan nitrogen seperti urea dan asam urat, membantu organ hati dalam
mendetoksifikasi racun dan selama kelaparan, deaminasi asam amino yang
dapat merusak jaringan, aktivitas sistem perkemihan dilakukan secara hati-
hati untuk menjaga komposisi darah dalam batas yang bisa diterima. Setiap
adanya gangguan dari fisiologis di atas akan memberikan dampak yang fatal.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja anatomi organ-organ sistem perkemihan?
2. Bagaimana fisiologi sistem urinarus ?
3. Bagaimana proses pembentukan dan komposisi urin ?
4. Bagaimana proses penyimpanan dan eliminasi urine ?

1
5. Bagaimana pemekatan urine mekanisme counter-current ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi, fisiologi, kimia, fisika dan
biokimia sistem perkemihan.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui anatomi organ-organ sistem perkemihan.
b. Untuk mengetahui fisiologi sistem urinarus.
c. Untuk mengetahui pembentukan dan komposisi urin.
d. Untuk mengetahui penyimpanan dan eliminasi urine.
e. Untuk mengetahui pemekatan urine mekanisme counter-current.

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang bisa diperoleh dari penulisan makalah ini yaitu
untuk menyadarkan mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan bahwa
pentingnya mempelajari dan memahami tentang anatomi, fisiologi, kimia dan
fisika sistem perkemihan agar lebih memahaminya serta pentingnya dalam
konteks keperawatan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi Organ – Organ Sistem Perkemihan


Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan
oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-
zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan
berupa urin (air kemih).
Sistem perkemihan terdiri dari :
1. Dua ginjal (Ren) yang menghasilkan urin
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum
pada kedua sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke 3.
Bentuk ginjal seperti biji kacang. Ginjal kanan lebih rendah dari gijal kiri
karena adanya lobus hepatis dexter yang besar.
a. Anatomi Kasar Ginjal
1) Tampilan
Ginjal adalah organ berbentuk seperti kacang berwarna merah tua,
panjangnya sekitar 12,5 cm dan lebarnya 2,5 cm (kurang lebih
sebesar kepalan tangan). Setiap ginjal memiliki berat antara 125-
175 g pada laki-laki dan 115-155 pada perempuan.
2) Lokasi
a) Ginjal terletak diarea yang tinggi, yaitu pada dinding abdomen
posterior yang berdekatan dengan dua pasang iga terakhir.
Organ ini merupakan organ retroperitoneal dan terletak
diantara otot-otot punggung dan peritoneum rongga abdomen
atas. Tiap-tiap ginjal memiliki sebuah kelenjar adrenal
diatasnya.
b) Ginjal kanan terletak agak kebawah dibandingkan ginjal kiri
karena ada hati pada sisi kanan.
3) Jaringan ikat pembungkus
Setiap ginjal diselubungi tiga lapisan jaringan ikat

3
a) Fasia renal adalah pembungkus terluar. Pembungkus ini
melabuhkan ginjal pada struktur disekitarnya dan
mempertahankan posisi organ.
b) Lemak perirenal adalah jaringan adipose yang terbungkus fasia
ginjal. Jaringan ini membantali ginjal dan membantu orang
tetap pada posisinya.
c) Korpus fibrosa atau ginjal adalah membrane halus transparan
yang langsung membungkus ginjal dan dapat dengan mudah
dilepas.
b. Struktur Internal Ginjal
1) Hilus (hilum) adalah tingkat kecekungan tepi medial ginjal
2) Sinus ginjal adalah rongga berisi lemak yang terbuka pada hilius.
Sinus ini membentuk perlekatan untuk jalan masuk dan keluar
ureter, vena dan arteri renalis, saraf dan limfatik.
3) Pelvis ginjal adalah perluasan ujung proksimal ureter. Ujung ini
berlanjut menjadi dua sampai tiga kaliks mayor, yaitu rongga
yang mencapai glandular, bagian penghasil urine pada ginjal.
Setiap kaliks mayor bercabang menjadi beberapa (8-18) kaliks
minor.
4) Parenkim ginjal adalah jaringan ginjal yang menyelubungi
struktur sinus ginjal. Jaringan ini terbagi menjadi medulla dalam
dan korteks luar.
a) Medulla terdiri dari masa-masa triangular yang disebut
piramida ginjal. Ujung yang sempit dari setiap
piramida,papilla, masuk dengan pas dalam kaliks minor dan
ditembus mulut ductus pengumpul urine
b) Korteks tersusun dari tubulus dan tubulus darah nefron yang
merupakan unit structural dan fungsional ginjal. Korteks
terletak didalam di antara piramida-piramida medulla yang
bersebelahan untuk membentuk kolumna ginjal yang terdiri
dari rubulu-tubulus pengumpul yang mengalir ke dalam ductus
pengumpul.

4
5) Ginjal terbagi lagi menjadi lobus ginjal. Setiap lobus terdiri dari
satu piramida ginjal, kolumna yang sering berdekatan, dan
jaringan korteks yang melapisinya
c. Fungsi Ginjal
1) Pengeluaran zat sisa organic. Ginjal mensekresi urea, asam urat,
kreatinin, dan produk penguraian hemoglobin dan hormone.
2) Pengaturan konsentrasi ion-ion penting. Ginjal mensekresi ion
natrium, kalium, kalsium, magnesium, sulfat dan phosfat. Eksresi
ion-ion ini seimbang dengan asupan dan eksresinya melalui rute
lain, seperti pada saluran gastroinstestinal atau kulit.
3) Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh. Ginjal
mengendalikan ekskresi ion hydrogen (H+), bikarbonat (HCO3-),
amonium (NH4+), serta memproduksi urin asam atau basa,
tergantung pada kebutuhan tubuh.
4) Pengaturan produksi sel darah merah. Ginjal melepas
eritroprotein, yang mengatur produksi sel darah merah dalam
sumsum tulang.
5) Pengaturan tekanan darah. Ginjal mengatur volume cairan yang
esensial bagi pengaturan tekanan darah, dan juga memproduksi
enzim rennin. Rennin adalah komponen penting dalam
mekanisme rennin - antiangiotensin - aldosteron, yang
meningkatkan tekanan darah dan retensi air.
6) Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan
asam amino darah. Ginjal melalui eksresi glukosa dan asam amino
berlebih, bertanggung jawab atas konsentrasi nutrient dalam darah.
7) Pengeluaran zat beracun. Ginjal mengeluarkan polutan, zat
tambahan makanan, obat-obatan atau zat kimia asing lain dari
tubuh.
2. Dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung
kemih)
Terdiri dari dua saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal
ke vesika urinaria.

5
Panjangnya ± 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian
terletak pada rongga abdomen dan sebagian lagi terletak pada rongga
pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah lapisan otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerak-gerakan peristaltic yang
mendorong urin
masuk ke dalam kandung kemih.
3. Satu vesika urinaria (VU) tempat urin dikumpulkan
Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk
seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan
ligamentum vesika umbilikalis medius. Letaknya di belakang simfisis
pubis di dalam rongga panggul. Vesika urinaria dapat mengembang dan
mengempis seperti balon karet.
Dinding kandung kemih terdiri dari :
a. Lapisan sebelah luar (peritoneum)
b. Tunika muskularis (lapisan berotot)
c. Tunika submukosa
d. Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam)
4. Satu uretra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang
berfungsi menyalurkan air kemih ke luar.
Pada laki-laki panjangnya kira-kira 13,7 – 16,2 cm terdiri dari :
a. Uretra pars Prostatica
b. Uretra pars membranosa (terdapat spinchter uretra externa)
c. Uretra pars spongiosa
Lapisan uretra laki-laki terdiri dari:
a. Lapisan mukosa (lapisan paling dalam)
b. Lapisan submukosa

6
Sedangkan uretra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7 – 6,2 cm (Taylor)
3 – 5 cm (Lewis). Sphincter uretra terletak di sebelah atas vagina (antara
clitoris dan vagina) dan uretra disini hanya sebagai saluran ekskresi.
Lapisan uretra wanita terdiri dari :
a. Tunika muskularis (lapisan sebelah luar)
b. Lapisan spongeosa
c. Lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam)
Dinding uretra terdiri dari 3 lapisan :
a. Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot polos dari vesika
urinaria. Mengandung jaringan elastis dan otot polos. Sphincter uretra
menjaga agar uretra tetap tertutup.
b. Lapisan submokasa, lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan
saraf
c. Lapisan mukosa pembentukan urine yang pekat.

B. Fisiologi Sistem Urinarius


Ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra membentuk sistem urinarius.
Fungsi utama ginjal adalah mengatur cairan serta elektrolit dan komposisi
asam basa cairan tubuh : mengeluarkan produk akhir metabolic dari dalam
darah : dan mengatur tekanan darah. Urine yang terbentuk sebagai hasil dari
proses ini diangkut dari ginjal melalui ureter ke dalam kandung kemih tempat
urine tersebut disimpan untuk sementara waktu. Pada saat urinasi, kandung
kemih berkontraksi dan urine akan diekskresikan dari tubuh lewat uretra.
Meskipun cairan serta elektrolit dapat hilang melalui jalur lain dan ada
organ lain yang turut serta dalam mengatur keseimbangan asam basa, namun
organ yang mengatur lingkungan kimia internal tubuh secara akurat adalah
ginjal. Fungsi ekskresi ginjal diperlukan untuk mempertahankan kehidupan.
Namun demikian, berbeda dengan sistem kardiovaskuler dan repiratorius,
gangguan total fungsi ginjal tidak menimbulkan kematian dalam waktu yang
singkat. Dialysis (Ginjal artificial) dan bentuk – bentuk terapi lainnya dapat
dilakukan untuk menggantikan fungsi – fungsi tertentu dari ginjal. Cirri
penting sistem renal terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi terhadap

7
beban muatan cairan yang sangat bervariasi sesuai kebiasaan dan pola hidup
individu. Ginjal harus mampu untuk mengekskresikan berbagai produk
limbah makanan dan metabolisme dalam jumlah yang dapat diterima serta
tidak dieliminasi oleh organ lain. Jika diukur tiap hari, jumlah produk tersebut
biasanya berkisar dari 1 hingga 2 liter air, 6 hingga 8 gram (natrium klorida),
6 hingga 8 gram kalium klorida dan 70 mg ekuivalen asam per hari.
Disampingitu ureum yang merupakan produk akhir metabolisme protein dan
berbagai produk limbah lainnya diekskresikan ke dalam urine.
Jumlahsubstansi yang diterima ginjal mungkin berbeda jika pasien
mendapatkan infuse cairan intravena, nutrisi parental total atu nutrisi enteral
lewat selang nasogastrik.

C. Proses Pembentukan Dan Komposisi Urine


1. Proses Pembentukan
Glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada kapsula bowman,
berfungsi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Pada tubulus
ginjal akan terjadi penyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring pada
glomerulus, sisa cairan akan diteruskan ke piala ginjal terus berlanjut ke
ureter.
Urine berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam
ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian
plasma darah. Ada tiga tahap pembentukan urine :
a. Proses Filtrasi
Terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena permukaan aferen
lebih besar dari permukaan eferen maka terjadi penyerapan darah.
Sedangkan sebagian tersaring adalah bagian cairan darah kecuali
protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang
terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat, dll yang
diteruskan ke tubulus ginjal.
Filtrasi darah terjadi di glomerulus, dimana jaringan kapiler
dengan struktur spesifik dibuat untuk menahan selular dan medium-
molekular-protein besar kedalam vascular sistem, menekan cairan

8
yang identik dengan plasma di elektrolitnya dan komposisi air. Cairan
ini disebut filtrateglomerular. Tumpukan glomerulus tersusun dari
jaringan kapiler. Tumpukan glomerulus dibungkus didalam lapisan
epithelium yang disebut kapsula bowman. Area antara glomerulus dan
kapsula bowman disebut bowman space dan merupakan bagian yang
mengumpulkan filtrate glomerular, yang menyalurkan ke segmen
pertama dari tubulus proksimal. Tekanan hidrostatik darah dalam
kapiler dan tekanan encotik dari cairan di dalam bowman space
merupakan kekuatan untuk filtrasi. Hasil penyaringan di glomerulus
berupa filtrate glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa
dengan darah tetapi tidak mengandung protein.
b. Proses Reabsorpsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar
glukosa, sodium, klorida, fosfat, dan beberapa ion bikarbonat.
Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi
terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah
terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion bikarbonat, bila
diperlukan akan diserap kembali ke dalam tubulus bagian bawah,
penyerapannya terjadi secara aktif dikenal dengan reabsorpsi fakultatif
dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
Volume urin manusia hanya 1% dari filtrate glomerulus. Oleh
karena itu, 99% filtrate glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada
tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta
urea pada tubulus kontortus distal. Sunstance yang masih berguna
seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah
kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrate dikeluarkan dalam urin.
Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air
melalui peristiwa osmosis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus
proksimal dan tubulus distal.
c. Proses Sekresi / Augmentasi
Sisanya penyerapan kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan
ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke luar.

9
2. Komposisi Urine
Ginjal berfungsi sebagai organ ekskresi yang utama dari tubuh.
Organ ini membuang produk akhir metabolisme tubuh. Ketika ginjal
berfungsi normal, jumlah bahan – bahan yang diekskresikan setiap hari
akan sama dengan jumlah yang dikonsumsi atau dibentuk sehingga dalam
suatu periode waktu tidak akan terjadi perubahan netto pada komposisi
total tubuh.
Urine terutama tersusun dari air. Individu yang normal akan
mengkonsumsi kurang lebih 1 hingga 2 liter air per hari dan dalam
keadaan normal seluruh asupan cairan ini akan diekskresikan keluar
termasuk 400 hingga 500 ml yang diekskresikan ke dalam urine. Sisanya
akan diekskresikan lewat kulit, paru – paru pada saat bernapas, dan feses.
Elektrolit, yang mencakup natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan ion –
ion lain jumlahnya lebih sedikit juga diekskresikan melalui ginjal. Diet
rata – rata orang Amerika mengandung 6 hingga 8 gram natrium klorida
(garam) serta kalium klorida per hari, dan hampir seluruhnya akan
diekskresikan ke dalam urine.
Kelompok ketiga substansi yang muncul dalam urine terbentuk dari
berbagai produk akhir metabolisme protein. Produk akhir yang utama
adalah ureum, dengan jumlah sekitar 25 gram, diproduksi dan
diekskresikan setiap harinya. Produk lain dari metabolisme protein yang
harus diekskresikan adalah kreatinin, fosfat dan sulfat. Asam urat yang
terbentuk sebagai produk metabolisme asam nukleat juga dieliminasi ke
dalam urine.
Kita harus mengetahui bahwa sebagian substansi yang terdapat
dengan kadar konsentrasi yang tinggi dalam darah biasanya akan
direabsorpsi seluruhnya melalui transportasi aktif dalam tubulus ginjal.
Sebagai contoh asam amino dan glukosa biasanya disaring di glomerulus
dan direabsorpsi sehingga kedua substansi ini tida diekskresikan ke dalam
urine. Namun, glukosa akan terlihat dalam urine jika kadarnya dalam
darah begitu tinggi sehingga konsentrasinya di dalam filtrate glomerulus
melampaui kapasitas reabsopsi tubulus. Dalam keadaan normal, seluruh

10
glukosa akan direabsorpsi bila konsentrasinya dalam darah kurang dari
200 mg/dL (11 mmol/liter). Pada diabetes ketika kadar glukosa darah
melebihi kapasitas reabsorpsi ginjal maka dalam urine akan dijumpai
adanya glukosa. Protein dalam keadaan normal juga tidak ditemukan
dalam urine. Molekul – molekul ini tidak akan disaring di glomerulus
karena ukurannya yang besar. Penampakan protein dalam urine biasanya
menunjukkan adanya kerusakan glomerulus yang menyebabkan organ
tersebut menjadi keropos sehingga molekul – molekul berukuran besar
dapat melewatinya.

D. Penyimpanan Dan Eliminasi Urine


1. Penyimpanan
Urine yang terbentuk oleh ginjal diangkut dari pelvis ginjal melalui
ureter dan ke dalam kandung kemih. Gerakan ini difasilitasi oleh
gelombang peristaltic yang terjadi sekitar 1 hingga 5 kali permenit dan di
hasilkan oleh otot polos dalam dinding ureter. Antara kandung kemih dan
ureter tidak terdapat sfingter. Meskipun aliran balik urine dari kandung
kemih dalam keadaan normal dicegah oleh sifat gelombang peristaltic
yang satu arah dank arena setiap ureter memasuki kandung kemih dengan
sudut miring (oblique). Meskipun demikian, pada keadaan distensi
kandung kemih, yang berlebihan akibat suatu penyakit, kenaikan tekanan
dalam kandung kemih tersebut dapat dialihkan balik melalui
uretersehingga terjadi distensi ureter dan kemungkinan refluks atau
pengaliran balik urine. Keadaan ini dapat menyebabkan infeksi ginjal
(pielonefritis) dan kerusakan ginjal akibat kenaikan tekanan
(hidronefrosis).
2. Eliminasi Urin
Beberapa struktur otak yang mempengaruhi fungsi kandung kemih
meliputi korteks serebral, thalamus, hipotalamus dan batang otak. Secara
bersama – sama struktur otrak ini menekan kontraksi otot detrusor
kandung kemih sampai individu ingin berkemih atau bunag air kecil. Dua
pusat di pons yang mengatur mikturisi atau berkemih yaitu : pusat M yang

11
mengaktifkan reflex otot detrusor dan pusat L mengkoordinasi tonus otot
pada dasar panggul. Pada saat berkemih respon yang terjadi adalah
kontraksi kandung kemih dan relaksasi otot pada dasar panggul yang
terkoordinasi. Mikturisi dipengaruh oleh beberapa factor yaitu :
a. Tekanan Kandung Kemih
Normalnya tekanan dalam kandung kemih sangat rendah bahkan
meskipun terjadi akumulasi urine, karena otot polos kandung kemih
akan melakukan adaptasi terhadap peningkatan regangan ketika
kandung kemih terisi secara perlahan-lahan. Sensasi pertama yang
timbul dari pengisian kandung kemih umumnya terjadi ketika sekitar
100 hingga 150 ml urine berada dalam kandung kemih. Pada sebagian
besar kasus, keinginan untuk buang air kecil timbul ketika kandung
kemih berisi kurang lebih 200 hingga 300 ml urine. Dengan jumlah
urine 400 ml,rasa penuh yang mencolok biasanya akan ditemukan.
b. Pengendalian Otot
Eliminasi urin dikendalikan oleh kontraksi sfingter uretra eksterna.
Otot ini berada di bawah kendali volunter dan diinervasi oleh saraf
yang berasal dari medulla spinalis daerah sakral. Pengendalian ini
merupakan perilaku yang dipelajari dan bukan bawaan sejak lahir.
Ketika muncul keinginan untuk buang air kecil, sfingter uretra
eksterna akan melemas dan muskulus detrusor (otot polos kandung
kemih) berkontraksi serta mendorong urine keluar dari dalam kandung
kemih melalui uretra. Tekanan yang timbul dalam kandung kemih
pada waktu urinasi (mikturisi) kurang lebih sebesar 50 hingga 150 cm
H2O. sisa urine dalam uretra akan mengalir keluar akibat pengaruh
gaya berat pada wanita dan akan didorong keluar oleh kontraksi otot
volunter pada laki – laki.
c. Pengendalian Neural
Kontraksi muskulus detrusor yang diatur oleh suatu reflex yang
mencakup sistem saraf parasimpatik. Refleks tersebut terintegrasi
dalam bagian sakral traktus spinalis. Sistem saraf simpatik tidak
memiliki peranan yang penting dalam mikturisi tapi dapat mencegah

12
masuknya semen (air mani) ke dalam kandung kemih pada saat terjadi
ejakulasi. Jika terjadi kerusakan pada saraf pelvis yang menginervasi
kandung kemih dan sfingter, maka kendali volunteer serta urinasi yang
bersifat refleks akan menghilang dan kandung kemih tersebut
mengalami distensi yang berlebihan akibat akumulasi urine. Jika
lintasan spinal dari otak ke sistem urinarius terganggu atau rusak
(misalnya sesudah terjadi trauma medulla spinalis), kontraksi kandung
kemih yang reflektoris tetap dipertahankan kendali volunteer atas
proses tersebut akan menghilang. Pada kedua keadaan ini, otot
kandung kemih dapat berkontraksi dan mendorong urine keluar
meskipun kontraksinya tidak cukup kuat untuk mengosongkan
kandung kemih secara tuntas sehingga di dalamnya akan terdapat urine
sisa (atau urine yang tertinggal setelah eliminasi urine).
d. Kateterisasi
Kateterisasi yaitu pemasangan ureter melalui uretra ke dalam kandung
kemih dapat dilakukan untuk mengkaji fungsi kandung kemih dengan
mengukur volume urine sisa. Normalnya, urine sisa berjumlah tidak
lebih dari 50ml. Namun tindakan kateterisasi sedapat mungkin
dihindari karena tindakan ini akan meningkatkan resiko infeksi.
Pemeriksaan lain untuk memastikan disfungsi kandung kemih adalah
dengan mengukur tekanan dalam kandung kemih sesudah
memasukkan larutan garam fisiologis (saline) dengan jumlah yang
bervariasi. Tindakan terakhir ini disebut sistometrogram.

E. Pemekatan Urine, Mekanisme Counter-Current


1. Pemekatan Urine
Proses untuk pemekatan urina tidak sesederhana mengencerkannya.
Namun terkadang sangat penting untuk memekatkannya sehingga dapat
membuang solute yang kelebihan dengan kehilangan air sekecil mungkin
dari tubuh. Untungnya ginjal mempunyai mekanisme khusus untuk
memekatkan urina tersebut, yang disebut mekanisme ‘counter current’.

13
Mekanisme ‘counter current’ tergantung kepada suatu susunan
anatomis khusus dari ansa Henle dan vasa rekta. Pada manusia, ansa Henle
dari kira-kira sepertiga sampai seperlima nefron jatuh turun ke dalam
medulla kemudian kembali ke korteks. Kelompok nefron ini dengan ansa
Henle panjang dinamai nefron juktameduler. Sejajar dengan ansa Henle
panjang adalah gelung kapiler peritubular yang dinamai vasa rekta, gelung
ini turun ke bawah ke dalam medulla dan kemudian kembali ke korteks.
Empat mekanisme pemekatan solute yang berbeda bertanggung jawab
bagi hiperosmolalitas adalah sebagai berikut :
a. Pertama, penyebab utama sangat meningkatnya osmolalitas cairan
interstisial medulla ini adalah transport aktif ion klorida (ditambah
absorpsi pasif elektronikion-ion natrium) keluar dari bagian tebal pars
asendens ansa Henle.
b. Kedua, ion-ion juga ditranspor ke dalam cairan interstisial medulla dari
duktus koligens, terutama sebagai hasil transport aktif ion natrium dan
absorpsi pasif elektrogenik ion-ion klorida bersama dengan ion-ion
natrium.
c. Ketiga, bila konsentrasi hormon antidiuretik tinggi di dalam darah,
makasejumlah besar urea akan di absorpsi ke dalam cairan medulla dar
i duktus koligens medulla dalam. Bila ada hormone antidiuretik, maka
duktus koligens di bagian dalam medulla menjadi permeable secara
moderate bagi urea. Akibatnya, konsentrasi urea dalam cairan
interstisial medulla meningkat sehingga hampir sama dengan
konsentrasi di dalam duktus koligens.
d. Keempat, kejadian terakhir yang menyebabkan peningkatan
konsentrasi osmolal cairan interstisial medulla adalah absorpsi ion-ion
natrium dan klorida ke dalam interstisium bagian dalam medulla dari
bagian segmen tipi sans Henle. Bila konsentrasi urea meningkat sangat
tinggi di dalam interstisium medulla karena absorpsi urea dari duktus
koligens, ini segera menggerakkan osmosis air keluar dari cabang tipis
desendens ansa Henle. Sehingga konsentrasi natrium klorida di
dalamcabang tipis ansa Henle meningkat hamper dua kali normal.

14
Karena konsentrasi yang tinggi, ion-ion natrium dan klorida berdifusi
secara pasif keluar dari segmen tipis ke dalam interstisium.
Ringkasnya, ada empat faktor berbeda yang menyokong peningkatan
osmolalitas di dalam cairan interstisial medulla, yaitu: transport aktif
ion-ion ke dalam interstisium oleh bagian tebal cabang asendens ansa
Henle, transport aktif ion-ion dari duktus koligens ke dalam
interstisium, difusi pasif sejumlah besar urea dari duktus koligens ke
dalam interstisium, dan absorpsi tambahan natrium dan klorida ke
dalam interstisium dari segmen ansa Henle. Hasil bersihnya adalah
peningkatan osmolalitas cairan interstisial medulla.
2. Mekanisme Counter-Current
Aliran darah medulla mempunyai dua karakteristik, yang keduanya
sangat penting untuk mempertahankan konsentrasi solute yang tinggi di da
lam cairan interstisial medulla:
a. Pertama, aliran darah medulla sangat lambat, hanya berjumlah 1
sampai 2% aliran darah ginjal total. Karena aliran yang lambat ini,
maka pembuangan solute minimum.
b. Kedua, fungsi vasa rekta sebagai penukar ‘counter current’ yang
mencegah hanyutnya solute dari medulla.
Mekanisme pertukaran ‘counter current’ merupakan salah satu
mekanisme cairan mengalir melalui tabung U yang panjang, dengan dua
lengan U yang terletak dekat satu dengan yang lain sehingga cairan dan
solute dapat segera bertukar antara kedua lengan. Bila cairan dan solute ini
di dalam dua aliran sejajar berdampingan dapat segera bertukaran, maka
konsentrasi solute yang tinggi dapat dipertahankan pada puncak ansa
dengan jumlah solute yang hanyut yang relative dapat diabaikan. Jadi,
ketika darah mengalir menuruni pars desenden vasa rekta, natrium
kloridadan urea berdifusi ke dalam darah dan cairan interstisial, sementara
air berdifusi keluar ke dalam interstisium dan dua efek ini menyebabkan
konsentraasi osmol dalam darah meningkat secara progresif, mencapai
suatu konsentrasi maksimum sebesar 1.200 milosmol/liter pada ujung vasa
rekta tersebut. Kemudian ketika darah mengalir kembali ke atas mendaki

15
air asendens, sifat semua molekul yang sangat udah berdifusi melalui
membrane kapiler pada dasarnya memungkinkan semua natrium klorida
dan urea yang sama berdifusi kembali keluar dari darah ke dalam cairan
interstisial sementara air kembali berdifusi ke dalam darah. Oleh karena
itu, pada saat darah akhirnya meninggalkan medulla, konsentrasi osmolnya
hanya sedikit lebih tinggi daripada konsentrasi osmol darah yang mula-
mula masuk vasa rekta. Sebagai akibatnya, darah yang mengalir melalui
vasa rekta hanya mengangkut sejumlah kecil solute interstisial medulla
keluar dari medulla.

16
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Dua ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, diluar rongga
peritoneum. Setiap ginjal pada orang dewasa beratnya kira-kira 150 gram dan
kira-kira seukuran kepalan tangan. Sisi media setiap ginjal merupakan daerah
lekukan yang disebut hilum tempat lewatnya arteri dan vena renalis, cairan
limfatik, suplai saraf, dan ureter yang membawa urine akhir dari ginjal ke
kandung kemih, dimana urin disimpan hingga dikosongkan.
Ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra membentuk sistem urinarius.
Fungsi utama ginjal adalah mengatur cairan serta elektrolit dan komposisi
asam basa cairan tubuh : mengeluarkan produk akhir metabolic dari dalam
darah : dan mengatur tekanan darah. Urine yang terbentuk sebagai hasil dari
proses ini diangkut dari ginjal melalui ureter ke dalam kandung kemih tempat
urine tersebut disimpan untuk sementara waktu. Pada saat urinasi, kandung
kemih berkontraksi dan urine akan diekskresikan dari tubuh lewat uretra.
Urine berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam
ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian
plasma darah. Ada tiga tahap pembentukan urine yaitu proses filtrasi,
reabsorpsi, dan sekresi.

B. Saran
Sebagai mahasiswa keperawatan kita harus mampu menjelaskan serta
memahami anatomi, fisiologi, kimia, fisika dan biokimia sistem perkemihan
agar nantinya dapat mengaplikasikannya dengan baik pada saat berada di
rumah sakit dan bertemu dengan pasien langsung.

17
DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C. & Hall, John E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed. 9
Hal. 399 - 401. Jakarta : EGC

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol. 2
Hal. 1364 – 1371. Jakarta : EGC

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol.2.
Jakarta : EGC

Syaifuddin. 1997. Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat Ed. 2 Hal.108.Jakarta :


EGC