Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MATA KULIAH JEMBATAN

Pertimbangan Dalam Perencanaan Jembatan

Di Susun Oleh:
Roihans Muhammad Iqbal
4117110005

Program Studi Perancangan Jalan dan Jembatan Konsentrasi Jalan Tol


Politeknik Negeri Jakarta
Depok
2020
Jembatan adalah suatu struktur kontruksi yang memungkinkan route
transfortasi melalui sungai, danau, kali, jalan raya, jalan kereta api dan lain-lain.
Jembatan adalah suatu struktur konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan
dua bagian jalan yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah
yang dalam, alur sungai saluran irigasi dan pembuang. Jalan ini yang melintang
yang tidak sebidang dan lain-lain.
Jembatan dibangun dengan melalui proses perencanaan yang matang.
Proses dalam perencanaan jembatan perlu memerhatikan factor-faktor penting,
diantaranya jembatan itu harus kuat, layak digunakan, memiliki workability
pelaksanaan konstruksi yang mudah, memiliki durability yang baik, tetap memiliki
nilai ekonomis atau dalam kata lain pembangunannya tetap memerhatikan faktor
ekonomi, yang terakhir adalah jembatan memiliki nilai estetika yang bagus.
Faktor-faktor tersebut akan diuraikan sebagai berikut,

1. Kekuatan Jembatan

Suatu.jembatan yang baik adalah jembatan yang memiliki atau telah


rnemenuhi kriteria perencanaan yang menjadi dasar dari pembuatan sebuah
jembatan. Salah satu dasarnya adalah kekuatan dan stabilitas struktur yang
harus di penuhi dari desain suatu jembatan.
Unsur-unsur tersendiri harus mempunyai kekuatan memadai untuk
menahan beban ULS (Ultimate Limit State) - keadaan batas ultimate, dan
struktur sebagai kesatuan keseluruhan harus berada stabil pada pembebanan
tersebut. Beban ULS didefenisikan sebagai beban beban yang mempunyai 5%
kemungkinan terlampaui selama umur struktur rencana.

2. Kelayakan Struktural

Bangunan bawah dan pondasi jembatan harus berada tetap dalam


keadaan layan pada beban SLS (Serviceability Limit State) - keadaan batas
kelayanan. Hal ini berarti bahwa struktur tidak boleh mengalami retakan,
lendutan atau getaran sedemikian sehingga masyarakat menjadi khawatir atau
jembatan menjadi tidak layak untuk penggunaan atau mempunyai pengurangan
berarti dalam umur kelayanan. Pengaruh-pengaruh tersebut tidak diperiksa
untuk beban ULS (Ultimate Limit State), tetapi untuk beban SLS
(Serviceability Limit State) yang lebih kecil dan lebih sering terjadi dan
didefenisikan sebagai beban-beban yang mempunyai 5% kemungkinan
terlampaui dalam satu tahun.

3. Kemudahan Pelaksanaan/Pekerjaan (Workability)


Pemilihan rencana harus mudah dilaksanakan. Rencana yang sulit
dilaksanakan dapat menyebabkan pengunduran tak terduga dalam proyek dan
peningkatan biaya, sehingga harus dihindari sedapat mungkin.

4. Durability
Bahan struktural yang dipilih harus sesuai dengan lingkungan, misalnya
jembatan rangka baja yang digalvanisasi tidak merupakan bahan terbaik
untuk penggunaan dalam lingkungan laut agresifgaram yang dekat pantai.

5. Ekonomis
Rencana termurah sesuai pendanaan dan pokok-pokok rencana lainnya
adalah umumnya terpilih. Penekanan harus diberikan pada biaya umur total
struktur yang mencakup biaya pemeliharaan, dan tidak hanya pada biaya
permulaan konstruksi.

6. Estetika Jembatan

Struktur jembatan harus menyatu dengan pemandangan alam dan


menyenangkan untuk dilihat. Penampilan yang baik umumnya dicapai tanpa
tambahan dekorasi.

7. Pertimbangan aspek lingkungan, sosial dan aspek keselamatan jalan


Suatu perencanaan struktur jembatan perlu memerhatikan aspek
lingkungan, agar dalam pembangunannya tidak banyak merusak alam,
mencemari lingkungan, dan menyebabkan kerusakan permanent pada
kondisi alam setempat. Perencanaan jembatan harus memerhatikan aspek
sosial dalam tujuan perencanaan pembangunannya agar dapat diterima dan
dimanfaatkan oleh masyarakat dengan baik. aspek yang tidak kalah penting
adalah keselamatan jalan, bahwa perencanaan pembanguann jembatan
harus tetap memerhatikan kaidah-kaidah keselamatan dalam berlalu lintas
di jalan

Agar mencapai faktor-faktor dalam perencanaan diatas, perlu


diperhatikan parameter-parameter dalam perencanaan jembatan. Adapun
parameter tersebut adalah umur rencana jembatan, pembebanan jembatan,
geometrik, superelevasi/kemiringan lantai jembatan, ruang bebas vertikal
dan horizontal, lokasi dan tata letak jembatan, penentuan bentang, serta
material yang akan digunakan.

Parameter Dalam Perencanaan Jembatan

1. Umur Rencana Jembatan

Umur rencana jembatan standar adalah 50 tahun dan jembatan khusus


adalah 100 tahun. Umur rencana untuk jembatan permanen minimal 50 tahun.
Umur rencana dipengaruhi oleh material/bahan jembatan dan aksi lingkungan
yang mempengaruhi jembatan. Jembatan dengan umur rencana lebih panjang
harus direncanakan untuk aksi yang mempunyai periode ulang lebih panjang.
Hubungan antara:

Hubungan antara periode ulang dengan umur rencana

2. Pembebanan jembatan

Pembebanan jembatan sesuai SK.SNI T-02-2005 menggunakan BM 100.

3. Geometrik

Lebar jembatan ditentukan berdasarkan kebutuhan kendaraan yang


lewat setiap jam, makin ramai kendaraan yang lewat maka diperlukan lebar
jembatan lebih besar.
Tabel Penentuan Lebar Jembatan

Untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pemakai


jembatan, maka lebar lantai jembatan ditentukan sebagai berikut:

• Lebar jembatan minimum jalan nasional kelas A adalah l+7+ I meter

• KelasB=0,5+6,0+0,5meter

• Tidak boleh lebih kecil dari lebar jalan.

• Memenuhi standar lebar lajur lalu lintas sebesar n (2,75 - 3,50 ) m,

dimana n = jumlah lajur lalu lintas.

4. Superelevasi / kemiringan Lantai Jembatan

Kemiringan melintang lantai jembatan adalah 2%. Kemiringan


memanjang jembatan adalah tanjakan atau turunan pada saat melalui
jembatan.
Perbandingan kemiringan dari tanjakan serta turunan tersebut disyaratkan
sebagai
berikut:

• Perbandingan l : 30 untuk kecepatan kendaraan > 90km/jam


• Perbandingan l : 20 untuk kecepatan kendaraan 60 s/d 90 km/jam
• Perbandingan l : 10 untuk kecepatan kendaraan < 60 km/jam
Jembatan pada ruas jalan nasional dengan kemiringan memanjang
jembatan maksimum adalah l : 20 atau 5%. Ketentuan tersebut di atas
menyatakan bahwa semakin besar kecepatan kendaraan, maka semakin
landai pula tanjakan atau turunan yang diberikan pada jembatan. Hal ini
memang diberikan dengan tujuan agar pada saat kendaraan akan masuk
ke badan Jembatan kendaraan tersebut tidak "jumping", yang secara
otomatis akan memberikan beban kejut tumbukan vertical pada struktur
jembatan. Struktur Jembatan tidak diperhitungkan terhadap beban
tumbukan akibat jumping kendaraan. Jembatan hanya diperhitungkan
menahan beban kejut kendaraan yang melaju.

5. Ruang Bebas Vertikal dan Horizontal

Ruang bebas adalah jarak jagaan yang diberikan untuk menghindari


rusaknya struktur atas jembatan karena adanya tumbukan dari benda-benda
hanyutan atau benda yang lewat di bawah jembatan. Clearance (ruang
bebas) vertikal diukur dari permukaan air banjir sampai batas paling bawah
struktur atas jembatan. Besamya clearance bervariasi, tergantung dari jenis
sungai dan benda yang ada di bawah jembatan. Nilai ruang bebas di bawah
jembatan ditentukan sebagai berikut:

C = 0,5m ; untuk jembatan di atas sungai pengairan


C = 1,0m ; untuk sungai alam yang tidak membawa hanyutan.
C = 1,5m ; untuk sungai alam yang membawa hanyutan ketika
banjir
C = 2,5m ; untuk sungai alam yang tidak diketahui kondisinya.
C = 5,1m ;untuk jembatan jalan layang.
C ≥ 15m ; untuk jembatan di atas laut dan di atas sungai yang
digunakan untuk alur pelayaran. jenis sungainya, jalan : 5 m, laut l5 m ).

Horizontol clearance ditentukan berdasarkan kemudahan navigasi


kapal ditentukan US Guide Specification, horizontal clearance minimum
adalah :
• 3 kali panjang kapal rencana, atau

• 2 kali lebih besar dari lebar channel

Gambar Clearance pada jembatan distas selat/laut/sungai yang


dilewati kapal

Gambar Clearance pada jembatan layang

6. Bidang permukaan jalan yang sejajar terhadap permukaan jembatan

Pemberian syarat bidang datar dari permukaan jalan yang


menghubungkan antara jalan dengan jembatan dilakukan untuk meredam energi
akibat tumbukan dari kendaraan yang akan melewati jembatan. Bila hal ini tidak
diberikan,dikhawatirkan akan berakibat pada rusaknya struktur secara perlahan
– lahan akibat dari tumbukan kendaraan - kendaraan terutama kendaraan berat
seperti truk atau kendaraan berat lainnya.

Energi kejut yang diberikan pada strukur akan meruntuhkan struktur


atas, seperti gelagar dan juga lantai kendaraan. Tentu saja untuk menguranginya
maka diberikan jarak berupa jalan yang datar mulai dari kepala jembatan sejauh
minimum 5 meter ke arah jalan yang di beri struktur pelat injak untuk
pembebanan peralihan dari jalan ke jembatan.

Gambar Potongan melintang jembatan

Untuk melindungi agar kendaraan yang lewat jembatan dalam


keadaan aman, baik bagian kendaraan maupun barang bawaannya, maka
tinggi bidang kendaraan ditenrukan sebesar minimum 5 m yang diukur dari
lantai jembatan sampai bagian bawah balok pengaku rangka bagian atas
( Top lateral bracing )

7. Lokasi dan Tata letak Jembatan.

Lokasi jembatan menghindarkan tikungan di atas jembatan dan oprit.


Peletakan jembatan dipengaruhi oleh pertimbangan - pertimbangan

a) Teknik (aliran sungai, keadaan tanah)

• Aliran air dan alur sungai yang stabil (tidak berpindah-pindah)


• Tidak pada belokan sungai
• Tegak lurus terhadap sungai
• Bentang terpendek (lebar sungai terkecil)
b) Sosial (tingkat kebutuhan lalulintas)
c) Estetika(keindahan)
Untuk kebutuhan estetikapada daerah tertenhr/pariwisata dapat
berupa bentuk parapet dan railing maupun lebar jembatan dapat dibuat
khusus atas persetujuan pengguna jasa.

Gambar Sungai dan penampang sungai

Pada daerah transisi atau daerah perbatasan antara bukit dengan


lembah aliran sungai biasanya berkelok-kelok, karena terjadinya
perubahan kecepatan air dari tinggi ke rendah, ini mengakibatkan bentuk
sungai berkelok-kelok dan sering terjadi perpindahan alur sungai jika
banjir datang. Untuk itu penempatan jembatan sedapat mungkin tidak
pada aliran air yang seperti ini, karena jembatan akan cepat rusak jika
dinding sungai terkikis air banjir, dan jembatan menjadi tidak berfungsi
jika aliran air sungai berpindah akibat banjir tersebut.

Pada dasarnya, penentuan letak jembatan sedapat mungkin tidak


pada belokan jika bagian bawah dari jembatan tersebut terdapat aliran air.
Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi scouring (penggerusan) pada
kepala jembatan, namun jika terpaksa dibuat pada bagian belokan sungai
maka harus di bangun bangunan pengaman yang dapat berupa perbaikan
dindin sungai dan perbaikan dasar sungai pada bagian yang mengalami
scouring (penggerusan).
Penempatan jembatan diusahakan tegak lurus terhadap sungai,
untuk mendapatkan bentang yang terpendek dengan posisi kepala
jembatan dan pilar yang sejajar terhadap aliran air. Hal ini dimaksudkan
untuk mencegah terjadinya gerusan pada pilar, yang akan mempengaruhi
kinerja pilar jembatan. Bila scouring telah terjadi dikhawatirkan pilar
yang seharusnya menopang struktur atas jembatan akan rusak sehingga
secara otomatis akan merusak struktur jembatan secara keseluruhan.

Agar pembuatan jembatan lebih ekonomis, diusahakan mencari


bentang yang terpendek diantara beberapa penampang sungai.
Karakteristik lokasi jembatan yang ideal adalah :

1. Secara geologis lokasi pondasi untuk kepala jembatan dan pilar


harus baik. Dibawah pengaruh pembebanan, permukaan tanah yang
mendukung harus bebas dari faktor geseran (slip) dan gelinding
(slide). Pada kedalaman yang tidak terlalu besar dari dasar sungai
terdapat lapisan batu atau lapisan keras lainnya yang tidak erosif,
dan aman terhadap gerusan air sungai yang akan terjadi.
2. Batasan sungai pada lokasi jembatan harus jelas, jembatan
diusahakan melintasi sungai secara tegak lurus.
3. Bagian punggung atau pinggir harus cukup kuat, permanen dan
cukup tinggi terhadap permukaan air banjir.
4. Untuk mendapatkan suatu harga pondasi yang rendah, usahakan
mengerjakan pekerjaan pondasi tidak di dalam air, sebab pekerjaan
pondasi dalam air mahal dan sulit.

8. Penentuan Bentang

Bentang jembatan (L) adalah jarak antara dua kepala jembatan.


Ada 2 (dua) cara dalam menentukan bentang dalam pembangunan
jembatan, yaitu untuk sungai yang merupakan limpasan banjir dan sungai
yang bukan limpasan banjir.

Hal tersebut dilakukan karena berdasar pada apakah alur sungai itu
akan membawa hanyutan - hanyutan berupa material dari banjir dari suatu
kawasan, atau sungai tersebut hanyalah digunakan sebagai aliran sungai
biasa yang tentunya tidak membawa hanyutan - hanyutan besar dari banjir.
Material - material yang dibawa pada saat banjir sangat beraneka ragam
tentunya, baik jenis maupun ukurannya sangatlah bervariasi..Oleh sebab itu
pada sungai yang dijadikan limpasan banjir penentuan bentang akan sedikit
lebih panjang dibandingkan dengan sungai yang bukan limpasan banjir.

Gambar Bentang jembatan untuk bukan sungai limpasan

Gambar Bentang jembatan untuk sungai limpasan banjir


9. Material

a. Beton

Lantai jembatan dan elemen struktural bangunan atas lainnya menggunakan mutu
beton minimal K-350, untuk bangunan bawah adalah K-250 termasuk isian tiang
pancang.

b. Baja tulangan

Baja tulangan menggunakan BJTP 24 untuk D<13, dan BJTD 32 atau BJTD 39
untuk D>13, dengan variasi diameter tulangan dibatasi paling banyak 5 ukuran
DAFTAR PUSTAKA

http://adekurniads.blogspot.com/2019/03/syarat-syarat-perencanaan-
jembatan_15.html

Bridge Management System, Ditjen Bina Marga, 1992

Perencanaan Teknik Jembatan, Dit Bintek, Ditjen Bina Marga, 2010

Prinsip Dasar Teknik Jembatan dan Alikasinya, Dit Bintek, Ditjen


Bina Marga, 2008