Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM GEOFISIKA

KONFIGURASI SCHLUMBERGER

OLEH
JAWIRUDDIN GALNU
451 414 082

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
2015

i
ii
KATA PENGANTAR

Puji dan rasa syukur kita haturkan kehadirat Allah SWT. yang memberikan
segala nikmat kepada kita yang tak terbatas. Baik itu nikmat iman, nikmat
kesehatan, nikmat kesempatan, nikmat kesabaran dan masih banyak lagi.
Salam dan sholawat kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. yang
memperjuangkan Ad-Dhinnul Islaam dengan penuh kesabaran dengan tujuan
untuk mencapai kehidupan yang bahagia hidup di dunia dan akhirat. Dan
alhamdulillaah buah perjuangan tersebut telah kita rasakan hingga sekarang
faedah dan manfaatnya bagi mereka yang meyakini akan kebenarannya.
Dengan nikmat kesabaran dan kesempatan yang Allah SWT. berikan kepada
Saya sehingga pada akhirnya Saya dapat menyelesaikan laporan Praktikum
geofisika. Dan segala kekurangan yang ada pada isi laporan ini dengan hati yang
lapang saya mohon saran dan kritikan yang dapat memotivasi saya kearah
penyusunan yang lebih baik lagi. Sebab pada dasarnya kita tidak akan dapat
sebuah kesempurnaan yang hakiki karena sifat kita yang ingin dan ingin suatu hal
yang baru.
Dan Alhamdulillaah semoga laporan ini berguna bagi mereka yang
membutuhkan. Wassalaam.

Gorontalo, 29 Desember 2015

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LAPORAN PRAKTIKUM GEOFISIKA ................................................................ i


LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................... .ii
KATA PENGANTAR............................................................................................ iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang.......................................................................................... 1
1.2. Tujuan ....................................................................................................... 2
1.3. Manfaat ..................................................................................................... 2
BAB II GEOLOGI LOKASI PRAKTIKUM.......................................................... 3
2.1. Geomorfologi ........................................................................................... 3
2.2. Stratigrafi .................................................................................................. 4
2.3. Struktur Geologi ....................................................................................... 5
BAB III METODOLOGI ........................................................................................ 7
3.1. Alat ........................................................................................................... 7
3.2. Bahan ...................................................................................................... 11
3.3. Prosedur .................................................................................................. 13
BAB IV PEMBAHASAN ..................................................................................... 15
4.1. Model Inversi.......................................................................................... 15
4.2. Penampang Resistivitas Sebenarnya ...................................................... 18
BAB V PENUTUP................................................................................................ 19
5.1. Kesimpulan ............................................................................................. 19
5.2. Saran ....................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 20
LAMPIRAN .......................................................................................................... 21
Lampiran 1. Tabel Hasil Pengamatan Lapangan Beserta Foto ......................... 21
Lampiran 2. Peta Lokasi Praktikum .................................................................. 23
Lampiran 3. Peta Geologi Regional Lembar Kotamobagu ............................... 24
Lampiran 4. Peta Geomorfologi ........................................................................ 25
Lampiran 5. Foto Kegiatan Praktikum .............................................................. 26

iv
Lampiran 6. Lembar Asistensi .......................................................................... 27

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Geofisika adalah ilmu yang mempelajari bumi dengan menggunakan
metode fisika dan logika geologi untuk mempelajari struktur bawah permukaan
bumi (Pujomiarto, DW. 2013). Dalam pengaplikasiannya, metode geofisika dapat
menggunakan sumber-sumber pengukuran yang berbeda. Salah satu sumber yang
digunakan dapat berupa sumber kelistrikan. Metode yang menggunakan
kelistrikan ini salah satunya adalah metode resistivitas konfigurasi schlumberger
(Supriyadi. dkk. 2012).
Metode resistivitas merupakan salah satu metode aktif geolistrik yang dapat
digunakan untuk mengetahui nilai resistivitas dari lapisan atau batuan, juga
berguna untuk mengetahui kemungkinan adanya lapisan akifer (Sultan. 2009).
Metode ini memanfaatkan sifat resistivitas listrik batuan untuk mendeteksi dan
memetakan formasi bawah permukaan bumi. Metode ini dilakukan dengan
pengukuran beda potensial yang ditimbulkan akibat injeksi arus listrik ke dalam
bumi. Sifat-sifat suatu formasi dapat digambarkan oleh tiga parameter dasar, yaitu
konduktivitas listrik, permaebilitas magnet dan permitifitas dielektrik (Andriyani,
S. dkk. 2010). Metode ini juga dapat mendeteksi adanya panas bumi yang ada di
bawah permukaan.
Percobaan yang dilakukan dengan menggunakan metode ini dilakukan di
Kecamatan Suwawa tepatnya di Desa Pancuran. Kegiatan ini di adakan di Desa
Pancuran karena di sana terdapat mata air panas yang bersumber dari dalam bumi,
sehingga diduga akan adanya aliran geolistrik di sekitar lokasi yang memiliki
sumber panas bumi tersebut. Dalam percobaan ini digunakan alat geolistrik untuk
mendeteksi lapisan batuan berdasarkan nilai risistivitas yang dihasilkan oleh
batuan tersebut.

1
1.2. Tujuan
1.2.1. Mahasiswa dapat mengetahui penerapan metode geolistrik
Schulumberger di lapangan.
1.2.2. Praktikan dapat mengetahui bentuk dan kondisi geomorfologi,
stratigrafi dan struktur geologi yang ada di Desa Pancuran.
1.2.3. Dengan menggunakan metode geolistrik schlumberger restivity,
Praktikan dapat mengetahui lapisan batuan yang ada di lokasi
praktikum dan mampu menginterpretasi data tersebut.
1.3. Manfaat
1.3.1. Manfaat untuk Mahasiswa, yaitu dapat digunakan sebagai objek
pembelajaran tentang cara penerapan metode geolistrik di
lapangan, dapat mengetahui harga resistivitas suatu lapisan atau
batuan yang ada di tempat percobaan dan dapat menginterpretasi
hasil percobaan tersebut berdasarkan data yang diperoleh di
lapangan.
1.3.2. Manfaat untuk Pemerintah, yaitu dapat memberikan informasi baru
bahwa di lokasi tempat dilakukan percobaan terdapat energi panas
bumi yang dapat dijadikan sebagai sumber pembangkit listrik.

2
BAB II
GEOLOGI LOKASI PRAKTIKUM

2.1. Geomorfologi
Satuan geomorfologi daerah praktikum terdiri dari dua bentuk, yaitu; satuan
bentang alam pedataran dan satuan bentang alam perbukitan.
1. Satuan dataran alluvial
Satuan bentang alam pedataran terdiri dari aktivitas sungai Bone, yaitu
berupa endapan alluvial. Lereng gunung yang gundul dan rapuhnya bebatuan dan
kondisi tanah yang tidak stabil membuat tanah tidak mampu menahan air d isaat
terjadi hujan lebat. Selain hujan lebat, longsor juga bisa ditimbulkan oleh gempa.
Erosi, yaitu perubahan bentuk tanah atau batuan akibat kikisan oleh angin, air dan
material lain (Hutagalung, R. dan Bakker, R. 2013). Lama kelamaan dari kikisan
tersebut membentuk sebuah dataran. Tata guna lahan lokasi praktikum, yaitu
kebanyakan penduduk yang berada di sekitar lokasi praktikum menggunakan
lahan sebagai tempat perkebunannya di banding dengan pemukiman. Vegetasi
yang ada di lokasi praktikum tergolong jarang, hanya ada sedikit pohon besar
disekitar satuan bantang alam perbukitan, terdapat rumput-rumputan, dan
sebagian tumbuh-tumbuhan yang kering akibat kemarau yang panjang.
2. Satuan Perbukitan Vulkanik
Satua bentang alam perbukitan dipengaruhi oleh perbukitan yang tersusun
oleh batuan gunung api, relief permukaan bumi yang tidak merata. Kerapatan
kontur di lokasi praktikum sesuai dengan peta geologi lokasi praktikum
Kabupaten Bonebolango tergolong rapat dan curam dengan posisi lereng dari
curam ke landai. Selain itu, di satuan bentang alam ini juga bisa terjadi longsor
dan erosi akibat dari faktor air hujan, angin maupun faktor lain ya ng dapat
mengakibatkan longsor dan erosi (Ngadimin dan Handayani, G. 2001).

3
2.2. Stratigrafi
Stratigrafi daerah penelitian tersusun atas batuan dari tua ke mudah. Hal ini
berdasarkan keterangan dari peta geologi regional daerah penelitian Kabupaten
Bone Bolango, yaitu:
2.2.1 BATUAN GUNUNG API BILUNGALA (Tmbv)
Satuan ini terdiri dari breksi, tuf dan lava yan bersusunan andesit, desit dan
riolit. Zeolit dan kalsit sering dijumpai pada kepingan batuan penyusunan breksi.
Tuf umumnya bersifat dasitan, agak dan berlapis buru dibeberapa tempat. Satuan
di daerah pantai selatan dekat Bilngala, dikuasai oleh lava dan breksi yang
mineralisasi pirit, perekahan yang intensif serta banyak dijumpai batuan terobosan
deorit.
2.2.2 DIORIT BONE (Tmb)
Satuan ini terdiri dari diorit kwarsa, diorit, grano dan granit. Diorit kwarsa
banyak dijumpaidi daerah sungai Bone. Satuan ini menerobos satuan gunung api
Bilungala. Satuan ini umurnya diperkirakan sekitar miosen akhir.
2.2.3 BATU GUNUNG API PINOGU (TQpv)
Satuan ini terdiri dari tuf, lavili, breksi dan lava. Tuf tersingkap di gunung
lemibut dan gunung lolong bulan. Umumnya berbatu apung, kuning mudah,
berbutir sedang sampai kasar dan diselingi oleh lava bersusunan menengah
sampai basa. Lavili disekitar sungai Bone bersusunan dasitan. Lava berwarna
kelabu mudah hingga kelabu tua dan pejal. Umumnya bersusunan andesit
piroksin. Satuan ini secara umum termampatkan lemah sampai sedang, umurnya
diduga pliosen – plistosen. Breksi gunung api di pegunungan Bone, gunung
Mongadalia dan Pusian bersusun andesit dan dasit.
2.2.4 ENDAPAN DANAU (Qpl)
Satuan ini terdiri dari batu lempung kelabu yang mengandung lignit dan
sisa tumbuhan. Batu pasir berbutir halus sampai kasar serta kerikil dijumpai di
beberapa tempat.
2.2.5 BATU GAMPING TERUMBU (Ql)
Satuan ini terdiri dari batu gamping terumbu terangkat dan batu gamping
klastik dengan komponen utama koral.

4
2.2.6 ALLUVIUM DAN ENDAPAN PANTAI (Qal)
Satuan ini terdiri dari pasir, lempeng, kerikil dan kerakal.
2.3. Struktur Geologi

Gambar 2.3.1. Peta geologi lokasi praktikum


Berdasarkan peta geologi daerah penelitian di Kabupaten Bone Bolango,
sturktur geologi daerah penelititan berupa sesar normal dan sesar jurus mendatar.
Sesar merupakan salah satu bentuk rekahan pada lapisan batuan yang
menyebabkan satu blok batuan bergerak relatif terhadap blok yang lain (Broto, S.
dan Afifah RS. 2008). Sesar normal dikenal juga sebagai sesar gravitasi karena
pengerak utamanya adalah gaya gravitasi. Sesar normal merupakan bentuk
rekahan pada lapisan bumi yag menyebabkan satu blok batuan bergerak relatif
turun terhadap blok lainnya. Sedangka sesar jurus mendatar adalah sesar yang
pembentukannya dipengaruhi oleh tegasan kompresi. Umumnya, bidang sesar
mendatar digambarkan sebagai bidang vertikal (Sugito. dkk. 2010).

5
Pada peta geologi regional daerah penelitian Kabupaten Bone Bolango, arah
utara dari lokasi praktikum terdapat sesar normal dan sesar jurus mendatar. Sesar
normal, yaitu terputus-putus bila direka U bagian relatif naik dan D bagian relatif
turun. Sesar jurus mendatar yaitu terputus-putus bila direka anak panah
menunjukan arah relatif gerakan. Sesuai peta, pada sudut 22,50 atau arah Utara
Timur Laut, terdapat sesar normal. Arah Selatan Menenggara (SL) atau sudut
157,50 terdapat sesar jurus mendatar. Pada sudut 202,5 0 atau arah Selatan Barat
Daya terdapat sesar jurus mendatar (Apandi dan bachri, 1997).

6
BAB III
METODOLOGI
3.1. Alat
3.1.1. Megaphone
Megaphone digunakan untuk berkomunikasi di lapangan jika diperlukan.

Gambar 3.1.2. Megaphone

3.1.2. Kompas geologi


Kompas geologi digunakan untuk mengetahui kelurusan lintasan pada
suatu titik.

Gambar 3.1.3. Kompas geologi

3.1.3. Global Positioning System (GPS)


GPS digunakan untuk menentukan titik koordinat dan ketinggian titik
lokasi praktikum.

7
Gambar 3.1.4. GPS

3.1.4. Parang
Parang dapat digunakan untuk membersihkan lintasan kabel roll dan
elektroda.

Gambar 3.1.5. Parang

3.1.5. Resistivity Meter


Resitivity meter digunakan untuk mengetahui karakteristik lapisan batuan
di bawah permukaan sampai ke dalaman beberapa puluh meter

8
Gambar 3.1.6. Resistivity meter
3.1.6. Roll meter
Roll meter digunakan untuk mengukur panjang lintasan yang akan di teliti
dan mengukur interval elektroda.

Gambar 3.1.7. Roll meter

3.1.7. Elektroda
Fungsi dari alat ini adalah untuk mengalirkan arus listrik ke dalam tanah.

9
Gambar 3.1.8. Elektroda

3.1.8. Kabel penghubung


Kabel penghubung digunakan sebagai penghubung elektroda-elektroda
dengan resistivity meter.

Gambar 3.1.9. kabel penghubung

3.1.9. Palu
Palu digunakan untuk menancapkan elektroda potensial dan elektroda arus
di dalam tanah.

10
Gambar 3.1.10. Palu

3.1.10. Alat tulis menulis


Alat tulis menulis digunakan untuk mencatat semua hasil survey yang
dilakukan.

Gambar 3.1.11. Alat tulis menulis


3.2. Bahan
3.2.1. Peta geologi regional
Peta geologi ini berfungsi untuk mengetahui jenis batuan yang ada di
lokasi praktikum dan bentuk sesar yang ada di daerah praktikum.

11
Gambar 3.2.12. Peta geologi daerah penelitian Kabupaten Bonebolango

3.2.2. Peta lokasi


Peta ini berfungsi untuk memberikan informasi tentang bentuk kontur dan
relief lokasi praktikun.

Gambar 3.2.13. Peta lokasi praktikum geofisika

3.2.3. Papan Melamin


Papan melamin digunakan sebagai pengalas alat tulis menulis saat
mencatat hasil survey yang diperoleh.

12
Gambar 3.2.14. Papan melamin

3.3. Prosedur
3.3.1. Tahap Persiapan
Praktikan mempersiapkan alat dan bahan yang telah disediakan. Mencari
informasi yang dapat digunakan dalam pengambilan data baik itu berupa
informasi dari peta atau sumber lain. Menentukan titik utama dengan tujuan untuk
mempermudah praktikan dalam menentukan lokasi yang akan di amati.
3.3.2. Prinsip Kerja

Gambar 3.3.15. Konfigurasi elektroda


Elektroda A dan B merupakan arus sedangkan elektroda M dan N sebagai
tegangan. Untuk mengoperasikan alat ini di butuhkan tiga sampai empat orang.
Dua orang sebagai operator dan yang duanya juga bertugas untuk memindahkan
elektroda. Alat reisistivity meter ini memiliki sumber listrik 12 volt. Alat ini juga
dilengkapi dengan empat buah elektroda, kabel roll dan lubang USB agar dapat
dikoneksika langsung dengan komputer.

13
3.3.3. Pengoperasian Alat
Untuk mengoperasikan alat, pastikan alat sudah dirangkai dengan benar. A
dan B adalah elektroda arus sedangkan M dan N adalah elektroda potensial atau
tegangan.Gunakan meteran untuk mengetahui jarak a (AB/2) dan b (MN/2) di
lapangan. Perhatikan jarak a dan b, sesuaikan dengan tabel pengukuran.
Hubungkan masing- masing elektroda ke alat menggunakan kabel. Hubungkan
multimeter ke alat. Hubungkan alat dengan sumber arus (Accu). Nyalakan alat,
perhatkan setiap indikator telah berfungsi dengan baik. Injeksikan arus, kemudian
catat nilai pembacaan potensial dan arus pada tabel. Hitung ρ (nilai resistivitas)
untuk setiap pengukuran. Plot hasil perhitungan ρ pada kurva semi log. Ulangi
tahapan pengukuran sounding di atas untuk setiap jarak a dan b yang berbeda.
3.3.4 Pengelolahan Data
Untuk mengolah data hasil pengamatan, pemrosesan sepenuhnya
menggunakan software IPI2Win. Software ini didesain untuk mengolah data
vertical Electric Suonding secara otomatis dan semi otomatis. Dengan target
mendapatkan hasil yang dapat diinterpretasikan secara geologi. Tahapan dalam
penggunaan software ini adalah penginputa data, koreksi error atau tingkat
kesalahan data, penambahan data, dan pembuatan cross section. Penginputan data
dari lapangan berupa harga V, I, AB/2 dan k. Sedangkan data secara otomatis dari
software ini adalah AB/2 dan ρ. Data hasil olahan software ini berupa data
resistivity layer, grafik log resistivity terhadap AB/2, resistivity cross section dan
pseudo cross section.

14
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Model Inversi


4.1.1. Grafik dan Tabel Informasi Tahanan Jenis Lapisan

Gambar 4.1.16. Grafik dan tabel informasi tahanan jenis tiap lapisan
Berdasarkan grafik di atas, grafik warna biru memberikan informasi tentang
variasi dari nilai daya hambat (resistivity) yang ada atau banyaknya lapisan yang
memiliki nilai daya hambat berbeda. Sesuai dengan keterangan grafik yang
berwarna biru di atas, bentuk tegangan dan kuat arus yang ditampilkan bervariasi
atau berbeda-beda.
Grafik warnah hitam dan warnah merah menunjukan hubungan nilai kuat
arus (AB/2) dan daya hambat nyata (apparent resistivity). Kurva yang berwarna
merah dapat diatur dengan mengerakkan kurva yang berwarnah biru. Semakin
dekat kurva berwarnah merah dengan kurva yang berwarnah hitam akan
memperkecil nilai error yang diperoleh.
Tabel di atas menunjukan lapisan berdasarkan tahanan jenis yang diperoleh
dari pengolahan data. Lapisan yang didapat berdasarkan informasi dari tabel di
atas adalah tiga lapisan dengan nilai daya hambat (resistivitas) yang berbeda-beda.
Hal ini ditunjukkan oleh kolom N. Keterangan dari tabel diatas adalah sebagai
berikut; ρ menunjukkan nilai resistivitas tiap lapisan. Kolom h menunjukkan

15
informasi tentang ketebalan tiap lapisan. Kolom d menunjukkan kedalaman yang
dihitung dari permukan tanah.
Pada lapisan pertama, nilai resistivatasnya adalah 99,1 Ohm dengan
ketebalan lapisan adalah 0,248 meter. kedalaman dari lapisan ini adalah 0 - 0,248.
Pada lapisan kedua, besar resistivitas yang diperoleh adalah 1.361 Ohm dengan
ketebalah lapisan dari 0,248 - 1,12 meter. kedalaman lapisan yang didapat adalah
1,37 meter. Pada lapisan ketiga, besar hambatan jenis lapisan yang didapat adalah
390 Ohm dengan ketebalan lapisan dari 1,12 - 20,4 meter. Kedalaman dari
lapisan ini adalah 21,8 meter. Data yang didapat dari hasil praktikum setelah
diolah dengan aplikasi tidak sampai untuk menembus lap isan keempat. Untuk
lebih jelasnya, hasil intepretasi di atas dapat ditampilkan berdasarkan tabel
berikut.
No. Tahanan Jenis (ῼ m) Litologi/Material Kedalaman (m)
1 99.1 Lempung 0 – 0.248
2 1361 Pasir Sungai 0.248 – 1.12
3 390 Kerikil Pasiran 1.12 – 20,4

4.1.2. Model Penampang Resistivas

Gambar 4.1.17. Resistivity Cross-section


Resistivity cross section merupakan bentuk tampilan dari lapisan yang
diperoleh berdasarkan data tabel yang ditunjukkan oleh tahanan jenis (resistivitas)
tiap lapisan. H pada gambar di atas menginformasikan ketebalan dengan satuan
meter. Dengan resistivity cross section ini kita dapat mengetahui jenis material
berdasarkan klasifikasi Telford. Sedangkan ρ menunjukkan tahanan jenis atau
daya hambat dengan satuan Ohm meter. Gambar warna warni yang ada di bawah

16
daya hambat merupakan hasil distribusi nilai resistivitas vertikal atau biasa
disebut sebagai pseudo cross section.
Berdasarkan tampilan resistivity cross-section di atas dengan sedikit
merujuk pada tabel lapisan dan nilai resistivitas tiap lapisan menunjukkan bahwa.
Lapisan pertama dengan tahanan jenis 99,1 Ohm meter dan ketebalan dari 0 –
0,248 meter merupakan litologi atau material lempung. Lapisan kedua memiliki
nilai tahanan jenis sebesar 1361 Ohm meter dan ketebalan dari 0,248 – 1,12 meter
merupakan litologi atau material pasir sungai. Lapisan terakhir atau lapisan ketiga
memiliki tahanan jenis sebesar 390 Ohm meter dan ketebalan dari 1,12 – 20,4
meter merupakan jenis litologi atau material kerikil pasiran. Pengklasifikasian
jenis litologi ini sesuai dengan klasifikasi Telford. Agar lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.1.18. Bentuk dan ketebalan masing- masing lapisan

17
4.2. Penampang Resistivitas Sebenarnya

Gambar 4.1.19. Penampang resistivitas VES LPG 7 dan VES LPG 8


Pada penampang VES LPG 7 terdapat pada ketinggian 18 Mdpl dengan
tiga lapisan material, yaitu tanah lempung dengan ketebalan 2,66 meter, tanah
pasiran dengan ketebalan 5,33 meter dan kerikil atau pasir sungai yang memiliki
ketebalan 23,3 meter. Berdasarkan gambar penampang di atas, tanah lempung
digambarkan dengan warnah biru dengan kedalaman dari 18 – 15,34 Mdpl. Tanah
pasiran berwarnah hijau dengan kedalaman dari 15,34 – 7,35 Mdpl. Material
kerkil atau pasir sungai ditandai dengan warnah hijau abu-abu dan memiliki
kedalaman dari 7,35 – (-23,95) Mdpl.
Untuk penampang VES LPG 8 terdapat tiga litologi berupa tanah lempung,
pasir sungai dan kerikil pasiran. Litologi ini terdapat pada ketinggian 20 Mdpl.
Pada penampang resistivitas diatas, tanah lempung berwarnah hijau dengan
kedalaman dari 20 – 19,75 Mdpl. Pasir sungai berwarnah coklat abu-abu dengan
kedalaman dari 19,75 – 18,38 Mdpl. Sedangkan lapisan kerikil pasiran berwarnah
merah dengan kedalaman dari 18,38 – (-3,42) Mdpl. Permukaan laut merupakan
kedalaman 0 Mdpl. Tanda minus dari kedalaman tersebut artinya kedalaman
lapisan tersebut melewati permukaan laut atau titik Mdpl.

18
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang pengolahan data geolistrik
dengan menggunakan metode Schlumberger di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Penerapan metode geolistrik di lapangan dapat dilakukan dengan
menginjeksikan arus ke bawah permukaan bumi sehingga diperoleh beda
potensial atau tegangan. Dari tegangan tersebut akan didapatkan
informasi tentang tahanan jenis suatu lapisan dari dalam bumi.
2. Bentuk geomorfologi lokasi praktikum terdiri dari satuan bentang alam
pedataran dan perbukitan dengan vegetasi yang jarang. Bentuk stratigrafi
lokasi praktikum tersusun atas batuan dari tua ke mudah yang terbentuk
oleh enam jenis batuan. Bentuk struktur geologi lokasi praktikum berupa
sesar jurus mendatar dan sesar normal.
3. Ada tiga bentuk lapisan atau batuan yang diketahui berdasarkan data
yang diperoleh di lapangan, yaitu lempung, pasir sungai dan kerikil
pasiran. Ketiga lapisan tersebut memiliki ketebalan dan kedalaman yang
bervariasi serta dapat diketahui jenis lapisannya berdasarkan nilai
resistivitasnya yang disesuaikan dengan klasifikasi Telford. Untuk hasil
penampang gabungan antara kelompok tujuh dan delapan, memiliki
kesamaan bentuk material. Material yang ada di kelompok tujuh adalah
tanah lempung dengan tebal 2,66 meter, tanah pasiran dengan tebal 5,33
meter dan kerikil atau pasir sungai dengan tebal 23,3 meter.

5.2. Saran
Untuk memperoleh data lapangan yang maksimal, dibutuhkan kerja sama
dan kekompakkan dari masing- masing anggota kelompok. Setiap kelompok harus
berhati- hati dan tidak ceroboh dalam menggunakan alat praktikum saat
pengambilan data berlangsung agar tidak terjadi hal- hal yang tidak diinginkan dan
berakibat fatal.

19
DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, S. dkk. 2010. Metode Geolistrik Imaging di Gunakan untuk


Penelusuran Sistem Sungai Bawah Tanah pada Kawasan Karst di Pacitan
Jawa Timur. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Apandi, T. dan Bachri, S. 1997. Peta Geologi Lembar Tilamuta, Sulawesi.
Puslitbang Geologi: Bandung.
Broto, S. dan Afifah RS. 2008. Pengolahan Data Geolistrik dengan Metode
Schlumberger. Jurusan Teknik Geologi: Universitas Diponegoro.
Hutagalung, R. dan Bakker, R. 2013. Identifikasi Jenis Batuan Menggunakan
Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Schlumberger dalam
Perencanaan Pondasi Bangunan di Terminal Transit Desa Paso. Ambon:
Universitas Pattimura.
Ngadimin dan Handayani, G. 2001. Aplikasi Metode untuk Alat Monitoring
Rembesan Limbah. Bandung: Institut Tekhnologi Bandung.
Pujomiarto, DW. 2013. Aplikasi Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi
Schlumberger untuk Mengidentifikasi Lapisan Akuifer di Desa Slamparejo.
Malang: Universitas Malang.
Sugito. dkk. 2010. Infestigasi Bidang Gelincir Tanah Menggunakan Metode
Geolistrik Tahanan Jenis di Desa Kebarongan Kec. Kemranjen Kab.
Banyumas. Purwokerto: Universitas Soedirman.
Sultan. 2009. Penyelidikan Geolistrik Restivity pada Penentuan Titik Sumur Bor
untuk Pengairan di Daerah Garongkong Desa Lempang Kecamatan Tanete
Riaja Barru. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Supriyadi. dkk. 2012. Pemodelan Fisik Aplikasi Metode geolistrik Konfigurasi
Schlumberger Untuk Mendeteksi Keberadaan Air Tanah. Semarang:
Universitas Negeri Semarang.
Syamsurizal. dkk. 2013. Aplikasi Metode Resistivitas untuk Identifikasi Litologi
Batuan sebagai Studi Awal Kegiatan Pembangunan Pondasi Gedung.
Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

20
LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel Hasil Pengamatan Lapangan Beserta Foto


No. Arah Elevasi Koordinat Singkapan Keterangan
Tanah berwarnah
N = 000 31’ 3,00” coklat, vegetasinya
sedikit dan memiliki
relief yang rata dan
sedikit landai.
24 Terdapat singkapan
1 Utara
(Mdpl) yang memanjang
E = 1230 08’ 41,9” dengan sedikit
vegetasi yang kering.
Singkapan ini terjadi
akibat erosi dari air
hujan.
Tanah berwarnah
coklat, vegetasinya
N = 000 31’ 10,4”
jarang, relief berbukit
dengan kemiringan
sedikit terjal, terdapat
28
2 Timur mata air panas dari
(Mdpl)
dalam bumi dan ada
E = 1230 08’ 40,9” singkapan akibat dari
erosi dengan panjang
± 2 m, lebar ± 1 m dan
tinggi ± 45 cm.

21
Tanah berwarnah
coklat, memiliki
vegetasi yang jarang
N = 000 31’ 10,3”
dengan relief berbukit.
Terdapat singkapan
dengan kondisi tanah
berewarnah coklat
32 yang terdiri dari
3 Barat
(Mdpl) horizon A da B.
Singkapan ini terjadi
akibat longsor.
E = 1230 08’ 39,9”
Panjang singkapan ni
adalah ± 5 meter
dengan lebar ± 60 cm
dan tinggi sekitar 10 –
30 cm.

22
Lampiran 2. Peta Lokasi Praktikum

23
Lampiran 3. Peta Geologi Regional Le mbar Kotamobagu

24
Lampiran 4. Peta Geomorfologi

25
Lampiran 5. Foto Kegiatan Praktikum

26
Lampiran 6. Le mbar Asistensi

27