Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perawat sebagai ujung tombak yang berhubungan langsung dengan

klien selama 24 jam diharapkan perawat memiliki pengetahuan yang baik

sehingga mampu berpikir kritis agar dapat memecahkan masalah klien dan

dapat mengambil pilihan atau keputusan yang lebih baik [ CITATION

Koz11 \l 1057 ]. Menurut Watson, keperawatan merupakan dasar dalam

kesatuan nilai-nilai kemanusian seperti kebaikan, kepedulian,

kesungguhan untuk merawat, dan tindakan merawat baik meliputi

komunikasi, tanggapan yang positif, dukungan atau intervensi fisik oleh

perawat [ CITATION Koz11 \l 1057 ].

Salah satu pelayanan kesehatan yang tersedia di rumah sakit adalah

perawatan paliatif. Menurut Kassa, (2014) perawatan paliatif merupakan

sebuah pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan

keluarga dengan cara meringankan penderita dari rasa sakit yang

mencakup fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Perawatan paliatif

diberikan kepada pasien dengan penyakit kronis dan terminal (Felenditi,

2013). Menurut Kemenkes dalam Septian, (2016) rumah sakit di Indonesia

yang menyediakan perawatan paliatif masih sangat terbatas dan hanya

tersedia di beberapa kota besar seperti di Jakarta ( RSCM dan Rs Kanker

Dharmais ), Yogyakarta ( Rs Dr Sarjito), Makasar ( Rs Wahidin

1
Sudirohusodo ), Surabaya ( RSUD Dr Soetomo ) dan Denpsar ( Rs

Sanglah). Sehingga di kota Ambon juga sendiri belum ada layanan

perawatan paliatif masih belum tersedia.

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 19 juta orang

di dunia saat ini membutuhkan pelayanan perawatan paliatif, dan kanker

menjadi penyebab kematian nomor 2 di dunia sebesar 13% setelah

penyakit kardiovaskuler. Kemudian pada tahun 2016 prevelansi penyakit-

penyakit yang termasuk dalam perawatan paliatif seperti penyakit

kardiovaskuler dengan prevelansi 38.5%, kanker 34%, penyakit

pernapasan kronis 10.3% dan yang memerlukan perawatan paliatif sekitar

40-60%. Prevelansi penyakit di dunia menurut WHO berdasarkan kasus

tertinggi terdapat di Benua Pasifik Barat diikuti Eropa dan Asia Tenggara.

Dengan kata lain Indonesia merupakan salah satu negara yang

membutuhkan perawatan paliatif [CITATION Yod18 \l 1057 ].

Kementerian Kesehatan memperkirakan tahun 2030 insiden kanker

mencapai 26 juta orang dan 17 juta diantaranya meninggal akibat kanker.

Berdasarkan data dari riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018

prevalensi tumor/kanker 1,8%, penyakit gagal ginjal kronik 3,8% dan

prevelasi diabetes melitus 8,5%. Pada tahun 2014 jumlah pasien dengan

kondisi terminal mengalami peningkatan menjadi 22,86% dengan

presentase kematian 17,31%, kanker payudara 0,8% (Eka, 2015).

Sedangkan di Maluku berdasarkan data Depkes provinsi Maluku tahun

2014, persentase penderita AIDS laki-laki sebanyak 57,34% dan penderita

2
perempuan sebanyak 42,66%, persentase penderita kanker sebesar 12,4 %,

persentase penderita Penyakit paru obstruktif kronis 4,3 % dan persentase

penyakit jantung 1,70 %.

Perawat sebagai salah satu tim dalam perawatan paliatif mengalami

kesulitan. Adhisty, dkk (2016) dalam Fitri, (2016) menyatakan bahwa

tenaga kesehatan khususnya perawat memiliki beberapa hambatan dalam

melakukan perawatan paliatif ini antara lain terbatasnya pengetahuan

perawat mengenai bagaimana cara pemberian perawatan paliatif yang

berkualitas dan bagaimana menyiapkan kepribadian perawat agar

pelayanan paliatif dapat dioptimalkan pemberiannya. Menurut Wulandari

(2012) yang meneliti 93 responden di Rumah Sakit dr Moewardi

Surakarta, didapatkan hasil pengetahuan perawat dengan frekuensi cukup

46 (49,5 %), pengetahuan baik 27 (29,0 %), dan pengetahuan kurang 20

(21,5 %) dan menurut Dewi (2016) yang meneliti 78 responden di rumah

sakit dr Moewardi Surakarta, didapatkan 73,1 % perawat memiliki peran

yang baik dan sisanya 26,9% memiliki peran yang kurang baik.

Rumah sakit dr. M. Haullussy merupakan salah satu Rumah Sakit

yang berada di kota Ambon. Berdasarkan data kepegawaian tenaga

perawat di ruangan Interna Wanita berjumlah 18 orang yang terdiri dari

Ners sebanyak 1 orang, S1 keperawatan sebanyak 4 orang, DIII

keperawatan sebanyak 9 orang dan SPK sebanyak 3 orang. Di ruang

Interna Lelaki tenaga perawat sebanyak 19 orang yang terdiri dari Ners

sebanyak 2 orang, S1 keperawatan sebanyak 2 orang, DIII keperawatan

3
sebanyak 9 orang dan SPK sebanyak 1 orang. Tenaga perawat di ruang

ICU sendiri berjumlah 10 orang yang terdiri dari Ners sebanyak 2 orang,

DIII keperawatan sebanyak 7 orang dan SPK sebanyak 1 orang.

Studi awal yang dilakukan penulis di Rumah Sakit Umum Daerah

dr. M. Haulussy Ambon pada tanggal 27 July 2019 jumlah pasien yang

masuk dengan penyakit terminal dari tahun 2018 sampai Juni 2019 adalah

sebagai berikut pasien yang masuk dengan penyakit gagal ginjal kronik

sebanyak 330 orang, penderita HIV Aids sebanyak 178 orang, penderita

Diabetes Melitus tipe II sebanyak 357 orang, pasien gagal jantung

sebanyak 269 orang, penderita penyakit paru obstruktif kronis sebanyak

150 orang, penderita kanker payudara sebanyak 61 orang, penderita kanker

ovarium sebanyak 20 orang, penderita kanker payudara sebanyak 61

orang, kanker serviks sebanyak 30 orang,kanker idung telur sebanyak 2

orang, kanker prostat sebanya 4 orang, kanker testis sebanyak 1 orang,

kanker rektum dan anus sebanyak 21 orang, kanker kolon sebanyak 13

orang, kanker pankreas sebanyak 3 orang, kanker hati dan saluran empedu

sebanyak 7 orang, kanker nasofaring sebanyak 3 orang, kanker tulang dan

sendi sebanyak 1 orang, pederita parkinson sebanyak 5 orang dan

penderita sirosis hati sebanyak 42 orang.

Penulis juga melakukan wawancara dengan 3 perawat yang berada

di ruangan mengenai apa yang mereka ketahui tentang perawatan paliatif,

kemudian ketiga perawat menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang

perawatan paliatif. Penulis menilai berdasarkan jawaban yang diberikan

4
kedua perawat mengenai perawatan paliatif masihlah kurang dilihat dari

jawaban yang diberikan kedua perawat belum sepenuhnya benar karena

hanya terfokus pada pengobatan kuratif saja dan mereka juga mengatakan

dalam menjalankan mereka melakukan peran mereka dengan baik, saat

penulis meminta untuk menjelaskan peran seperti apa yang mereka

lakukan sesuai dengan masing-masing peran perawat, mereka mengatakan

sebagai caregiver perawat melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan

standar operasional prosedur rumah sakit dan sesuai arahan dokter, sebagai

konselor dengan menerima pertanyaan yang ingin diajukan oleh pasien

atau keluarga, berkolaborasi dengan dokter,tenaga gizi dll, memberikan

edukasi kepada pasien dan keluarga berkaitan dengan permasalahan

pasien, menghormati hak dan kewajiban pasien. Penulis juga melakukan

obsevasi mengenai bagaimana peran perawat, dan penulis melihat perawat

melakukan sama seperti yang dikatakan dan penulis juga melihat ada tim

kerohanian yang juga berkunjung untuk memenuhi kebutuhan spiritual

pasien dan keluarga, sehingga penulis menilai perawat melakukan

perannya dengan cukup baik.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian lebih lanjut tentang “Hubungan Pengetahuan dengan Peran

Perawat dalam Pelayanan Perawatan Menjelang Ajal di Rumah Sakit

Umum Daerah dr. M. Haullusy Ambon”.

5
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik

merumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu “apakah ada Hubungan

Pengetahuan dengan Peran Perawat dalam Pelayanan Perawatan

Menjelang Ajal di Rumah Sakit Umum Daerah dr. M Haullusy Ambon?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui tentang hubungan pengetahuan dengan peran

perawat dalam pelayanan perawatan menjelang ajal di Rumah Sakit

Umum Daerah dr. M Haullusy Ambon.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui pengetahuan perawat tentang perawatan menjelang ajal

di Rumah Sakit Umum Daerah dr. M Haullusy Ambon

b. Mengetahui peran perawat dalam pelayanan perawatan menjelang

ajal di Rumah Sakit Umum Daerah dr. M Haullusy Ambon.

c. Mengetahui hubungan pengetahuan dengan peran perawat dalam

pelayanan perawatan menjelang ajal di Rumah Sakit Umum Daerah

dr. M Haullusy Ambon.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

6
Penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam pengembangan

ilmu keperawatan paliatif khususnya tentang adanya Hubungan

Pengetahuan dengan Peran Perawat dalam Pelayanan Perawatan

Menjelang Ajal

2. Manfaat Aplikatif

a. Sebagai informasi tambahan bagi siswa dan institusi

pendidikan untuk menambah pengetahuan terhadap Hubungan

Pengetahuan dengan Peran Perawat dalam Pelayanan

Perawatan Menjelang Ajal

b. Bagi institusi pelayanan kesehatan ini diharapkan dapat

menjadi masukan dan pertimbangan untuk Rumah Sakit Umum

Daerah dr. M. Haullusy Ambon.

c. Penelitian ini merupakan tahap aplikasi dari setiap ilmu yang

peneliti dapatkan selama di bangku perkuliahan, sehingga

menjadi pelajaran dan pedoman dalam menghadapi dunia

perkuliahan.

d. Sebagai bahan informasi tambahan bagi peneliti lain untuk

mengembangkan serta melakukan penelitian lebih lanjut

mengenai Hubungan Pengetahuan dengan Peran Perawat

dalam Pelayanan Perawatan Menjelang Ajal .

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Pengetahuan

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata,

hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu

pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat

dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.

Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra

pendengaran yaitu telinga dan indra penglihatan yaitu mata

(Notoatmodjo, 2012) dalam (Alfaqinisa, 2015). Pengetahuan

memberikan pedoman kepada perawat untuk mengambil tindakan dalam

asuhan keperawatan (Wulandari, 2012).

Pengetahuan diperoleh melalui pendidikan formal maupun informal

seperti yang diungkapkan oleh Burns & Grove, 2005 dalam Wulandari,

2012 bahwa pengetahuan diperoleh dari berbagai macam cara dan

diharapkan dapat direfleksikan dengan tepat. Dalam kenyataan

pengetahuan dalam ilmu keperawatan diperoleh melalui tradisi authory

(ahli), meminjam (mengambil dari disiplin lain), trial and error

8
(percobaan dan kesalahan), pengalaman pribadi, role modeling and

mentorship, intuisi, pemikiran, dan penelitian.

2. Tingkat Pengetahuan

Menurut (Notoatmodjo, 2012) dalam [CITATION Rar15 \l 1057 ]

pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6

tingkatan yaitu:

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya, pada tingkatan ini reccal (mengingat

kembali) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsang yang diterima. Oleh sebab itu tingkatan ini

adalah yang paling rendah.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar tentang

objek yang dilakukan dengan menjelaskan, menyebutkan

contoh dan lain-lain.

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi

sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau

penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya

9
dalam kontak atau situasi yang lain.

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau

objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam

suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu sama

lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata

kerja yang dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,

mengelompokkan dan sebagainya.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu

bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis ini

suatu kemampuan untuk menyusun, dapat merencanakan,

meringkas, menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang

telah ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian-

penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau

menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan menurut

Sukanto, (2000) dalam Febriyanto, (2016) antara lain :

10
a. Tingkat Pendidikan

Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga

terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat.

b. Informasi

Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak

akan mempunyai pengetahuan lebih luas.

c. Budaya

Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam

memenuhi kebutuhan yang meliputi sikap dan kepercayaan.

d. Pengalaman

Sesuatu yang pernah dialami seseorang akan menambah

pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat informal

B. Peran Perawat

1. Pengertian

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang

lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system.

Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari

luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang

diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier

Barbara, 2010) dalam [ CITATION Dav16 \l 1057 ].

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi

keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh

pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

11
(UU No 38 tahun 2014). Peran perawat adalah cara untuk

menyatakan aktivitas perawat dalam praktik, dimana telah

menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi

kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung

jawab keperawatan secara profesional sesuai dengan kode etik

professional[ CITATION Dav16 \l 1057 ]. Peran perawat merupakan

tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang

sesuai dengan kedudukan dan system, dimana dapat dipengaruhi oleh

keadaan social baik dari profesi perawat maupun dari luar profesi

keperawatan yang bersifat konstan. [ CITATION Dav16 \l 1057 ]

2. Peran Perawat

Menurut pendapat Doheny dalam [ CITATION Dav16 \l 1057 ] ada

beberapa elemen peran perawat professional antara lain:

a. Pemberi perawatan (Care Giver)

Pada peran ini perawat harus mampu memberikan pelayanan

kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai

diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat

sederhana sampai masalah yang kompleks. Memperhatikan klien

berdasarkan kebutuhan signifikan dari klien. Perawat

menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi

diagnosis keperawatan mulai dari masalah fisik sampai pada

masalah psikologis.

12
b. Pembela klien (Client Advocate)

Sebagai pembela klien tugas perawat disini adalah bertanggung

jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterprestasikan

informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberi

informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan

(inform consent) atas tindakan keperawatan yang diberikan

kepadanya.

Perawat adalah anggota tim kesehatan yang paling lama kontak

dengan klien, sehingga diharapkan perawat harus mampu

membela hak- hak klien. Seorang pembela klien adalah pembela

dari hak-hak klien. Pembelaan tersebut termasuk didalamnya

peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan

klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien. Hak- hak klien

antara lain, hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya, hak atas

informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk

menentukan nasibnya sediri dan hak untuk menerima ganti rugi

akibat kelalaian tindakan.

c. Konselor (Conselor)

Peran konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari

dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah social untuk

membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk

meningkatkan perkembangan seseorang. Di dalamnya diberikan

dukungan emosional dan intelektual.

13
d. Pendidik (Educator)

Sebagai pendidik klien sejalan dengan proses keperawatan dalam

fase pengkajian seorang perawat mengkaji kebutuhan

pembelajaran bagi pasien dan kesiapan untuk belajar. Selama

perencanaan perawat membuat tujuan khusus dan strategi

pengajaran. Selama pelaksanaan perawat menerapkan strategi

pengajaran dan selama evaluasi perawat menilai hasil yang

didapat. Perawat membantu pasien meningkatkan kesehatannnya

melalui pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan

dan tindakan medik sehingga pasien dan keluarga dapat

menerimanya.

e. Kolaborator (Collabolator)

Peran perawat sebagai kolabolator dapat dilaksanakan dengan cara

bekerja sama dengan tim kesehatan yang lain, baik perawat dengan

dokter, perawat dengan ahli gizi, perawat dengan ahli radiologi dan

lain-lain dalam kaitannya membantu mempercepat proses

penyembuhan klien.

f. Koordinator (Coordinator)

Pada peran ini, perawat diharapkan mampu untuk mengarahkan,

merencanakan, dan mengorganisasikan pelayanan dari semua

anggota tim kesehatan, karena klien menerima pelayanan dari

banyak profesi.

14
g. Pembawa perubahan/pembaharu (Change Agent)

Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang

berinisiatif merubah atau yang membantu orang lain membuat

perubahan pada dirinya atau pada sistem. Peningkatan dan

perubahan adalah komponen esensial dari perawatan. Dengan

menggunakan proses keperawatan, perawat membantu klien unutk

merencanakan, melaksanakan dan menjaga perubahan seperti,

pengetahuan, keterampilan, perasaan dan perilaku yang dapat

meningkatkan kesehatan klien tersebut.

h. Konsultan (consultant)

Sebagai konsultan perawat berperan sebagai tempat konsultasi bagi

pasien terhadap masalah yang dialami oleh pasien atau tindakan

keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas

permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelajaran

pelayanan keperawatan.

C. Konsep Dasar Perawatan Paliatif

1. Definisi Perawatan Paliatif

Istilah perawatan hospis sering digunakan sebagai sinonim untuk

perawatan paliatif. Paliatif berasal dari bahasa latin yaitu “palium”

yang berarti menyelimuti atau menyingkapi dengan kain atau selimuti

untuk memberikan kehangatan dan perasaan nyaman.

15
Menurut World Health Organization (2016) perawatan paliatif

adalah pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup

pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam

jiwa dengan cara meringankan penderita dari rasa sakit melalui

identifikasi dini, pengkajian sempurna dan penatalaksanaan nyeri

serta masalah lainnya baik fisik, psikologis, sosial dan spiritual

[ CITATION Hiw14 \l 1057 ].

The National Consensus Project For Quality Palliative Care

mendefinisikan perawatan paliatif adalah suatu tujuan akhir untuk

mencegah dan mengurangi penderitaan serta memberikan bantuan

untuk memperoleh kualitas kehidupan terbaik bagi pasien dan

keluarga mereka tanpa memperhatikan stadium penyakit atau

kebutuhan terapi lainnya. Perawatan paliatif merupakan gabungan

dari sebuah filosofi perawatan dan pengorganisasian, sistem sangat

terstruktur dalam memberikan pelayanan. Perawatan paliatif

memperluas model pengobatan penyakit tradisional ke dalam tujuan

dalam peningkatan kualitas hidup pasien dan keluarga,

mengoptimalkan, membantu membuat keputusan dan menyiapkan

kesempatan pengembangan pribadi [ CITATION Mar13 \l 1057 ] .

Perawatan paliatif diberikan kepada pasien dengan penyakit kronis

dan terminal (Felenditi, 2013).

Pelayanan paliatif tidak hanya mengatasi masalah fisik pasien akan

tetapi juga mencakup masalah dari dari aspek psikologis, sosial dan

16
spiritual. Semua aspek tersebut saling berintegrasi sehingga dapat

saling mempengaruhi satu sama lain (Care, 2018)

2. Tujuan Perawatan Paliatif

Dalam bukunya Care, (2018) mengatakan perawatan paliatif

bertujuan untuk mengurangi nyeri dan mencegah penderitaan pada

pasien dengan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi. Proses

keperawatan membutuhkan pendekatan yang lebih komperensif baik

dari segi kedokteran, keperawatan, psikologis, sosial, budaya dan

spiritual. Pendekatan holistik yang mencakup seluruh aspek

perawatan yang tercantum diatas akan dapat memberikan layanan dan

praktik yang lebih baik dan hal tersebut sebagai hal yang esensial

dalam perawatan paliatif.

Potter & Perry, (2009) dalam Wulandari dkk, (2012) juga

menjelaskan tujuan utama dari perawatan paliatif adalah untuk

membantu klien dan keluarga mencapai kualitas hidup terbaik.

Perawatan paliatif tidak menenkankan pada penyembuhan melainkan

memberikan bantuan terhadap penderitaan yang dialami dengan

mengelola gejala yang muncul dan memaksimalkan kualitas hidup.

Tujuan akhir dari perawatan paliatif adalah mencegah dan

mengurangi penderitaan serta memberikan bantuan untuk

memperoleh kualitas kehidupan terbaik bagi pasien dan keluarga

mereka tanpa memperhatikan stadium penyakit atau kebutuhan terapi

17
lainnya, dengan demikian perawatan paliatif dapat diberikan secara

bersamaan dengan perawatan yang memperpanjang atau

mempertahankan kehidupan atau sebagai fokus keperawatan

(Campbell, 2013). Sedangkan menurut Hudson & Bruce (2003)

dalam Andi Septian, (2016) mengatakan bahwa aspek spiritual

merupakan tujuan dari pelayanan perawatan paliatif yang bertujuan

untuk membuat seseorang menjadi lebih tenang, berpikir positif

senantiasa mengkreasikan hidup sejahtera. Spiritual menjadi

komponen yang sangat penting bagi sebagian orang bahkan lebih dari

interaksi sosial. Pada bagian ini perawat dan ahli spiritual saling

berkolaborasi sehingga menghasilkan sifat perawatan yang berfokus

pada akhir kehidupan seseorang ( Hudson & Bruce, 2003) dalam

(Septian, 2016).

Selain spiritual ada juga aspek hubungan dengan lingkungan yang

ada disekitar mencakup hubungan pasien dengan perawat, hubungan

sosial, peran keluarga merupakan aspek yang juga penting dalam

pelayanan perawatan paliatif (Campbell, 2013).

3. Prinsip Perawatan Paliatif

Prinsip dasar perawatan paliatif sangat penting dalam memberikan

perawatan paliatif. Adapun prinsip dasar perawatan paliatif menurut

Comitee On Bioethic And Comitee On Hospital Care (2000) dalam Andi

Septian (2016) :

a. Menghormati serta menghargai pasien dan keluarganya

18
b. Kesempatan atau hak mendapatkan kepuasan dan perawatan paliatif

yang pantas

c. Mendukung pemberi perawatan

d. Pengembangan profesi dan dukungan sosial untuk perawatan

paliatif.

Perawatan paliatif adalah perawatan yang membutuhkan pendekatan

holistik yang mencakup semua aspek perawatan sehingga dapat

memberikan pelayanan yang lebih baik. Care, (2018) mengatakan

prinsip perawatan paliatif mencakup :

a. Perilaku dalam Merawat

Perilaku caring meliputi kepekaan, simpati, dan iba. Hal tersebut

menunjukan bentuk perhatian kepada pasien dimana perhatian

tersebut ditunjukan untuk semua aspek yang menyebabkan

timbulnya masalah atau keluhan pada pasien yang bukan hanya

masalah medis saja. Perilaku caring merupakan hal yang mendasar

dalam pelayanan pasien di perawatan paliatif.

b. Komunikasi

Komunikasi yang baik antara pasien dan keluarga adalah hal vital.

Komunikasi dibagi menjadi 2 bagian yaitu komunikasi verbal dan

nonverbal. Hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi verbal

adalah penggunaan bahasa, kecepatan dan voice tone (Elias &

Nowlis, 1994) dalam (Septian, 2016). Sedangkan komunikasi

nonverbal merupakan komunikasi yang tidak melibatkan bicara dan

19
tulisan dan bertujuan untuk mengekspresikan emosi,

mengekspresikan tingkah laku interpersonal, membangun,

mengembangkan dan memeilihara interaksi sosial dan mendukung

komunikasi verbal (Stuart & Sundeen, 1995) dalam (Andi Septian,

2016). Komunikasi antara pasien dan keluarga akan menjadi

terbuka bila pasien menginginkan informasi yang lebih detail

mengenai penyakitnya.

Disaat ingin menyampaikan berita buruk ada beberapa hal yang

perlu diperhatikan yaitu siapa yang menyampaikan dan apa yang

akan disampaikan (Care, 2018). Menurut American Nurse

Association Scope And Standart Of Practice (2004) dalam

Campbell, (2013) perawat yang teregeristasi adalah :

1) Berkomunikasi dengan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan

mengenai perawatan pasien serta peran perawat dalam

menyediakan perawatan tersebut

2) Kolaborasi dalam membuat perawatan dan pelayanan,

mengindikasikan komunikasi dengan pasien, keluarga dan yang

lainnya.

Dikatakan pula bahwa komunikasi adalah hal yang paling penting.

Perawat akan sukses berkomunikasi dengan keluarga pasien jika

memperkuat jalinan komunikasi antardisiplin keilmuan, memastikan

dokter-dokter menyadari tentang adanya perbedaan komunikasi,

mendengar sama banyak dengan berbicara, mengungkap perasaan

20
memberikan jaminan kenyamanan bagi pasien. [ CITATION Mar13 \l

1057 ].

c. Perawatan

Semua tindakan atau intervensi dalam proses perawatan paliatif

harus sesuai dengan tahap atau fase penyakit pasien serta

pronogsisnya. Intervensi yang sesuai merupakan hal terpenting

dalam pelayanan perawatan paliatif karena timbulnya keluhan

tambahan terkadang diakibatkan oleh intervensi yang bersifat aktif

atau proses perawatan yang kurang memperhatikan pasien sebagai

individu yang unik. Perawat harus memperhatikan dan melakukan

observasi disaaat pasien mendapatkan intervensi dengan membatasi

segala kemungkinan timbulnya keluhan tambahan serta memantau

pronogsis dan kondisi pasien. Penilaian keberhasilan perawatan

paliatif yang bersifat simptomatik dan supportif didasarkan pada

laporan pasien yang menyatakan bahwa mereka merasakan adanya

penurunan keluhan dan menyatakan kondisinya membaik

dibandingkan sebelumnya. Perawatan paliatif yang baik yaitu

mencakup proses perencanaan yang disusun secara teliti, cermat dan

berhati-hati dimana aspek seperti pencegahan akan terjadinya

kondisi kritis baik secara fisik berdasarkan progres penyakit pasien

maupun emosional.[CITATION Yod18 \l 1057 ]

4. Lingkup Perawatan Paliatif

Jenis kegiatan paliatif adalah jenis kegiatan untuk mengatasi

21
permasalahan yang sering digambarkan pasien yang dapat mengancam

diri sendiri yaitu seperti mengenai masalah seperti nyeri, masalah fisik,

psikologi sosial, kultural serta spiritual (Care, 2018). Permasalahan yang

muncul pada pasien yang menerima perawatan paliatif dilihat dari

persepktif keperawatan meliputi masalah psikologi, masalah hubungan

sosial, konsep diri, masalah dukungan keluarga serta masalah pada

aspek spiritual atau keagamaan (Campbell, 2013).

a. Masalah Fisik

Masalah fisik yang seringkali muncul yang merupakan keluhan

dari pasien paliatif yaitu nyeri (Anonim, 2017).Nyeri merupakan

pengalaman emosional dan sensori yang tidak menyenangkan yang

muncul akibat rusaknya jaringan aktual yang terjadi secara tiba-tiba

dari intensitas ringan hingga berat. Nyeri akut pada pasien paliatif

biasanya disebabkan oleh beberapa hal seperti tidak efektifnya

manajemen nyeri, fraktur patologis,tidak terdeteksi luka baring dll

(Care, 2018).

Masalah nyeri dapat ditegakan apabila subjektif dan objektif dari

pasien minimal memenuhi tiga kriteria (Nanda, 2015).

Menurut Care, (2018) ada 4 prinsip dasar dalam pengontrolan

nyeri tetapi dimodifikasi beberapa metode selama masa menjelang

akhir hayat yang mungkin dibutuhkan selama menjelang akhir

hayat yang mungkin dibutuhkan

1) Identifikasi stimulus yang sifatnya merusak dan reversible

22
2) Identifikasi hal-hal yang dapat meningkatkan intensitas nyeri

3) Memberi opioid saat faktor pencetus ditemukan

4) Jika sesuai dan memungkinkan berikan co-analgesik.

Selain nyeri perawat juga perlu mengatasi agitasi, mual mul

muntah, dispnea, memberikan perawatan mulut dan mengatasi

masalah mikturisi.

b. Masalah Psikologis

Masalah psikologi yang paling sering dialami pasien paliatif

adalah kecemasan. Hal yang menyebabkan terjadinya kecemasan

ialah diagnosa penyakit yang membuat pasien takut sehingga

menyebabkan kecemasan bagi pasien maupun keluarga

(Misgiyanto & Susilawati, 2014 dalam Anonim, 2017).

Menurut NANDA (2015) kecemasan adalah perasaan tidak

nyaman atau kekhawatiran yang diseratai oleh respon otonom,

perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.

Hal ini merupakan tanda waspada yang member tanda individu

akan adanya bahaya dan mampukah individu tersebut

mengatasinya.

The Hospital Anxiety And Depression Scale (HADS), merupakan

instrument yang cukup singkat dan mudah digunakan untuk

mengukur tingkat distress psikologi pasien. The HADS

instrument sangat sensitif terhadap adanya perubahan pada pasien

baik yang akibat dari proses penyakit itu sendiri maupun bagian

23
dari respon dari intervensi medis maupun intervensi psikologis.

Instrument The HADS terdiri dari 2 kategori skala dengan 14

item pertanyaan yang mana masing-masing kategori yaitu

kecemasan 7 item dan depresi 7 item. Selain Th HADS distress

termometer juga digunakan untuk menilai tingkat distress pasien.

Distress thermometer merupakan instrument yang menggunakan

skala visual analog sehingga penggunaannya menjadi lebih

mudah terutama pada pasien paliatif. Cara penggunaan distress

thermometer yaitu pasien diminta untuk menentukan skor atau

nilai yang tertera pada termometer tersebut yang mana skor atau

nilai menggambarkan derajat distress yang dialami oleh pasien

setelah itu pasien diminta untuk menjawab setiap item dengan

membubuhkan atau checklist pada kolom yang telah disediakan

pilihan jawabannya ( Care, 2018)

c. Masalah Sosial dan Spiritual

Masalah pada aspek sosial dapat terjadi karena adanya ketidak

normalan kondisi hubungan social pasien dengan orang yang ada

disekitar pasien baik itu keluarga maupun rekan kerja (Misgiyanto

& Susilawati, 2014 dalam Anonim, 2017).

Menurut Campbell (2013) ketika pasien sudah mendekati ajal

maka satu atau lebih anggota keluarga dapat berada disisi pasien

terus menerus, hal ini kadang-kadang disebut “ berjaga-jaga

dengan kematian” dan hal ini penting bagi pasien sesaat

24
menjelang ajal. Bagi pasien yang tidak memiliki anggota keluarga

atau teman-teman maka perawat, sukarelawa dan pemuka agama

dapat memberikan sumber dukungan sosial bagi pasien yang

kesepian.

Masalah spritual merupakan salah satu hal yang juga penting bagi

pasien dan meskipun isu terkait spiritual bukanlah tanggung

jawab perawat untuk mengatasi masalah tersebut namun perawat

harus tahu dan dapat melakukan pengkajian terkait spiritual

pasien untuk mengidentifikasi ketika pasien atau keluarga

mengalami distress spiritual, sehingga dapat membantu

menciptakan suasana lingkungan yang nyaman bagi pasien dan

keluarga juga dapat membantu perawat dalam mengeksplorasi

kebutuhan spritual pasien dan memberikan dukungan pada pasien

dan keluarga terkait dengan isu-isu spiritual.

Pengkajian terkait spiritual pasien dapat menggunakan metode

FICA dimana F (Faith) merujuk pada keyakinan, I (Influence)

yang merujuk pada pengaruh, C (Community) merujuk pada

komunitas yang memiliki karateristik yang sama, A (Addressing

Spiritual Concern) yang merujuk pada cara-cara mengatasi isu

spiritual.

Keyakinan seseorang terhadap suatu agama kemungkinan dapat

mempengaruhi keputusan seseorang terhadap proses

pengobatannya terlebih jika penyakit tersebut semakin parah atau

25
kritis ( Care, 2018).

d. Kerangka Konsep

Menurut sugiyono (2014) kerangka konsep adalah kerangka – kerangka

yang menghubungkan secara teoritis antara variabel-variabel penelitian

yaitu antara variabel independent dengan variabel dependent. Secara ringkas

kerangka konseptual ini menjelaskan hubungan pengetahuan perawat

tentang perawatan menjelang ajal dan peran perawat dalam pelayanan

perawatan menjelang ajal.

Variabel Independent Variabel Dependent

Pengetahuan Perawat
Peran Perawat Dalam
Tentang Pelayanan
Keterangan : Pelayanan Perawatan
Perawatan
Menjelang Ajal
Menjelang Ajal

Keterangan :

: Variabel Independent

: Variabel Dependent

: Hubungan antara Variabel

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

e. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah

penelitian.penelitian ini terdapat dua kemungkinan hasil hipotesa yaitu :

Ho :Tidak ada hubungan pengetahuan perawat dengan peran perawat dalam

pelayanan menjelang ajal di RSUD dr. M Haullusy Ambon

26
Ha : Ada hubungan pengetahuan perawat dengan peran perawat dalam

pelayanan menjelang ajal di RSUD dr. M Haullusy Ambon.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan

pendekatan cross sectional. Menurut Arikunto, (2010) penelitian deskriptif

korelasi bertujuan untuk mempelajari ada tidaknya hubungan antara dua

variabel atau lebih. Pendekatan cross sectional adalah penelitian yang

dilakukan pada satu waktu atau satu kali untuk mencari hubungan variabel

dependent dan independent (Notoatmodjo, 2012).

B. Lokasi Dan Wakti Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di rumah sakit umum daerah Dr. .Haullusy

Ambon

2. Waktu Penelitian

27
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus selama satu bulan

C. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian hari ditarik kesimpulannya

(Sugiono, 2017). Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh perawat

di ruang intern perempuan, intern laki-laki dan perawat di ICU yang

berjumlah 41 orang di RSUD dr. M Haullusy Ambon.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi (Sugiyono, 2017). Teknik pengambilan sampel menggunakan

teknik total sampling dimana sampel dari peneltian ini adalah seluruh

perawat yang berada di ruang intern laki-laki yang berjumalah 19 orang

perawat dan di ruang interen perempuan yang berjumlah 18 orang, dan

perawat di ruang ICU 10 orang sehingga total sampel berjumlah 41

orang.

D. Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu satu variabel bebas dan satu

variabel terikat :

1. Varibel Bebas (Independent)

Menurut Sugiyono dalam Zulfikar (2016), variabel independent adalah

variabel yang menjadi penyebab adanya perubahan variabel dependent

28
atau dengan kata lain adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain.

Variabel independent pada penelitian ini adalah pengetahuan tentang

pelayanan perawatan menjelang ajal perawat di RSUD dr. M. Haullusy

Ambon.

2. Variabel Terikat (Dependent)

Menurut Sugiyono dalam Zulfikar (2016), variabel dependent adalah

variabel yang dipengaruhi atau variabel yang menjadi akibat karena

adanya variabel independent. Variabel dependent dari penelitian ini

adalah peran perawat dalam pelayanan perawatan menjelang ajal di

RSUD dr. M. Haullusy Ambon.

E. Defenisi Operasional

Definisi operasional adalah operasionalitas konsep agar dapat diteliti atau

diukur melalui gejala-gejala yang ada. Definisi operasinal merupakan

petunjuk tentang bagaimana variabel diukur, sehingga peneliti dapat

mengetahui baik dan buruk pengukuran tersebut. Definisi operasional

dalam penelitian ini dapat dilihat dalam table : 3.1

No Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Skala


1 Pengetahuan Pengetahuan Kuesioner 1. Baik
Perawat responden jika skor Ordinal
Tentang mengenai ≥ median
pelayanan pelayanan
Perawatan perawatan 2. Kurang Baik
Menjelang mejelang ajal jika skor
Ajal yang meliputi ≤ median.
pengertian,
tujuan, prinsip,
dan ruang lingkup
yang diangap
sesuai.

29
2 Peran Peran yang Kuesioner 1. Terlaksana
Perawat dilakukan perawat sepenuhnya Ordinal
2 dalam dalam pemberian jika skor
pelayanan pelayanan ≥ median.
perawatan perawatan
menjelang menjelang ajal 2. Terlaksana
ajal sebagai caregiver, sebagian
educator, jika skor
counselor, ≤ median
koordinatoor,
kolaborator dan
advocate.

Tabel 3.1 Variabel dan Definisi Operasional

F. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini untuk mendapatkan informasi yang diinginkan, peneliti

menggunakan kuesioner. Kusioner merupakan teknik pengumpulan data

yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau

pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.

1. Kuesioner Demografi

Kuesioner ini adalah kuesioner yang dibuat oleh peneliti berisi tentang

identitas responden meliputi nama (inisial), usia, jenis kelamin, lama

bekerja, pendidikan terakhir, pernah atau tidak mengikuti seminar

tentang perawatan paliatif.

2. Kuesioner Pengetahuan

Penulis menggunakan kuesioner pengetahuan dari Andry Septian (2016)

tentang “Gambaran Pengetahuan Perawat Tentang Perawatan Paliatif

Pada Pasien Dengan Kondisi Terminal Di RSUD Kabupaten Bekasi”

yang ditujukan kepada perawat terkait dengan pengetahuan perawat

30
tentang perawatan paliatif. Kuesioner terdiri dari 15 item yang

diantaranya terdiri dari 9 item favourable pernyataan dengan pilihan

Benar =1 dan Salah =0 dan 6 item unfavourable pernyataan dengan

pilihan Benar = 0 dan Salah = 1.

3. Kuesioner Peran Perawat

Penulis menggunakan kuesioner peran perawat dari Miftaful Ulya

Awaluddin (2017) tentang “Analisa Peran Dan Fungsi Profesi Tenaga

Perawat Dan Bidan Dalam Mendukung Peningkatan Kesehatan di

RSUD Labuang Baji Makasar” yang ditunjukan terkait dengan peran

perawat. Kuesioner ini terdiri dari 20 pernyataan yang diantaranya

tentang peran perawat sebagai care giver (1-4), educator ( 5-7),

koordinator dan kolaborator ( 8-12), konsultan ( 13-15) dan advocate

(16-20). Penilaian menggunakan pilihan jawaban Tidak Pernah (1),

Kadang (2), Sering (3), Selalu (4).

G. Metode Pengumpulan Data

1. Data Primer

Menurut Sugiono, (2017) data primer adalah data yang bersumber atau

diberikan langsung dari sumber data ke pengumpul data. Data primer

dari penelitian ini yaitu data yang didapat dari kusioner yang akan diisi

oleh responden

2. Data Sekunder

Menurut Sugiono, (2017) data sekunder adalah data yang tidak langsung

diberikan dari sumber data ke pengumpul data, data ini hanya bersifat

31
mendukung keperluan data primer. Data sekunder dari penelitian ini

yaitu data yang diperoleh dari perawat RSUD dr. M. Haullusy Ambon

yang sudah tersedia sebagai penunjang penelitian yaitu jumlah perawat

di ruangan yang akan dilakukan kegiatan penelitian dan angka penyakit

kronis dan terminal selama satu tahun terakhir.

H. Pengolahan Data

Ada 4 teknik pengolahan data Menurut Notoatmodjo (2012) dalam

Hendarwati, M. (2015).

1. Editing (penyuntingan data)

Hasil angket yang diperoleh atau dikumpulkan melalui kuesioner perlu

disunting (edit) terlebih dahulu, Apabila ada jawaban yang belum

lengkap kalau memungkinkan perlu dilakukan pengambilan data ulang

untuk melengkapi jawaban tersebut, tetapi apabila tidak memungkinkan

maka pertanyaan yang jawabannya tidak lengkap tersebut tidak diolah

atau tidak dimasukkan dalam pengolahan (data missing).

2. Coding

Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan

peng”kode”an atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat

atu huruf menjadi data angka atau bilangan. Coding atau pemberian

kode ini sangat berguna dalam memasukkan data (data entry).

32
3. Memasukkan data (data entry)

Data yakni jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk

kode (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program atau “software”

komputer.

4. Pembersihan data (cleaning)

Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai

dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat

kemungkinankemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode,

ketidaklengkapan dan sebagainya kemudian dilakukan pembetulan atau

koreksi

I. Analisa Data

1. Analisa univariat

Penelitian ini menggunakan analisis univariat yang berguna untuk

medeskripsikan masing-masing variabel yang diteliti .

2. Analisa Bivariat

Menggunakan tabulasi silang yang bertujuan untuk melihat hubungan

variabel bebas yaitu pengetahuan perawat dan variabel terikat yaitu sikap

perawat. Uji statistik yang digunakan adalah chi square dengan tingkat

kemaknaan p < 0,05.

J. Etika Penelitian

Etika penelitian bertujuan untuk melindungi hak-hak subjek. Dalam

penelitian ini peneliti menekankan masalah etika penelitian yang meliputi :

1. Autonomy

33
Peneliti mempertimbangkan hak-hak responden untuk mendapatkan

informasi yang terbuka berkaitan dengan jalannya penelitian serta

memiliki kebebasan menentukan pilihan dan bebas dari paksaan untuk

berpartisipasi dalam kegiatan penelitian.

2. Anonimility

Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak mencatumkan nama responden

tetapi hanya diberikan kode jika diperlukan.

3. Confidentialy

Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya

oleh peneliti,hanya kelompook data tertentu yang akan dilaporkan pada

hasil penelitian sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian.

4. Justice

Penelitian yang dilakukan secara jujur, tepat, cermat, hati-hati dan

dilakukan secara profesional,penelitian ini memberikan keuntungan dan

beban secara merata sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan subjek.

34