Anda di halaman 1dari 13

IMAM MUSLIM

Disusun oleh : ALI YAMAN HUSEN


NIM : 181370019

FAKULTAS USULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI MAULANA
HASANUDDIN BANTEN 2020/2021
PENDAHULUAN
Dalam masa Rasulullah SAW. Hadis memang tidak dibukukan namun keberadaan
hadis ini selalu menghiasi dan mendominasi dari seluruh kehidupan Rasulullah SAW. Mulai
dari perkataan, perbuatan,dan dalam semua tingkah laku dalam diri beliau, para sahabat
memperoleh hadits pada masa Rasulullah SAW pun dari cara langsung dan tidak langsung.

Pada masa Sahabat dan Tabiin, hadis sudah mulai ditulis dan sedikit demi sedikit
sudah mulai mengalami perkembangan terutama pada abad II dan III H, hadis pun sangat
berkembang dan sudah dimulai masa-masa penulisan dalam sebuah bentuk buku. Sehingga
dalam penulisan hadis ini banyak yang mencari hadis-hadis ke berbagai Negara. Maka
terkumpul hadis-hadis dan mulai untuk menyaring dan memilih hadis yang shahih dan palsu
lemah oleh Ishaq Ibn Rahawah.

Kualitas keshaḥiḥan suatu Ḥadits merupakan hal yang sangat penting, karena hal
tersebut sangat menentukan apakah Ḥadits tersebut dapat dijadikan Ḥujjah yang kuat atau
tidak. Bersama Shaḥiḥ Bukhori, Shaḥiḥ Muslim merupakan kitab hadith paling Shaḥiḥ dari
kitab hadits yang lain. Kitab Ṣaḥiḥ muslim banyak menjadi rujukan para ulama’ dalam
mencari dasar hukum yang berkenaan.

Pada makalah ini penulisan akan membahas lebih dalam tentang biografi, karya-karya
dan sepek terjang Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi sebagai seorang ahlul hadis.
BAB I

PEMBAHASAN

A. BIOGRAFI IMAM MUSLIM

Imam Muslim adalah salah seorang ulama hadits yang sangat masyhur di kalangan
ulama-ulama hadits lainnya, bahkan di kalangan ulama-ulama mutaakhirin. Beliau
mempunyai nama lengkapnya ialah Abul- Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairy. Beliau
dinisbatkan kepada Nisabury karena beliau adalah putra kelahiran Nisabur, pada tahun 204 H.
(820 M), yakni kota kecil di Iran bagian Timur Laut. Beliau juga dinisbatkan kepada nenek
moyangnya Qusyair bin Ka'ab bin Rabiah bin Sha- Shaah suatu keluarga bangsawan besar.

Imam muslim Rahimahullah adalah seorang yang kaya dan dermawan, sebagaimana riwayat-
riwayat yang menceritakan tentang dirinya, seperti Adz-Dzahabi menjelaskan dalam kitab
“Siyar an-Nubula” bahwa beliau adalah seorang pengusaha, dermawan kota Naisabur yang
memiliki banyak harta dan kekayaan.

Al-Hakim berkata, “ia adalah seorang pedagang muslim toko Mahmasy, melancarkan
bisnisnya di Ustuwa, saya melihat imam Muslim bin Al-Hajjaj mengeluarkan hadits-hadits di
toko mahmasy. Imam Muslim juga dikenal sebagai seorang saudagar kain (pakaian) yang
kaya lagi dermawan di Naisabur dan Beliau juga memiliki sawah-sawah di daerah Ustu yang
menjadi sumber penghasilan keduanya.

Beliau adalah pribadi yang memiliki berbagai akhlak mulia, seperti sabar dan berbuat
baik kepada orang lain, hingga beliau di gelari Muhsin Naisabur (orang yang suka berbuat
baik dari Naisabur). Beliau adalah seorang tokoh terpandang, banyak beribadah dan memiliki
sifat wara' ( sangat berhati-hati agar tidak terjerumus dalam hal yang shubhat).

Ia belajar hadis sejak masih dalam usia 12 tahun, yaitu mulai tahun 218 H. ia pergi ke
Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan Negara-negara lainnya. Beliau melazimi akidah kaum salaf dan
para ahli hadis, beliau memegangi madzhab ahli hadis dalam menetapkan persoalan fiqhiyah.
Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadis kepada
mereka.

Imam Muslim adalah sosok muhaddis, hafidz yang terpercaya. Beliau sering
mendapatkan pujian dan pengakuan dari ulama hadits maupun para fuqoha’ lainnya. Al-
Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanad lengkap, dari Ahmad bin Salamah, berilau
berkata; ‘saya melihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim senantiasa mengistimewakan dan
mendahulukan Imam Muslim bin al-hajjaj di bidang pengetahuan hadits shahih atas guru-
guru mereka pada masanya. Beliau Imam Muslim juga terkenal sebagai saudagar yang
beruntung, dermawan, ramah dan memiliki reputasi tinggi. Al-Zahabi menjulukinya sebagai
Muhsin Naisabur. Beliau tidak fanatik dengan pendapatnya sendiri, murah senyum, toleran
dan tidak malu untuk menerima pendapat atau kebenaran dari orang lain.

Guru-guru Beliau

Di antara guru Imam Muslim adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Yahya
Adz- Dzahali, Abd bin Humaid, Abdullah bin Maslamah Al-Qa'nabi, Ab Zur'ah Ar-Razi, Ali
bin Al-Madani, Adz-Dzahabi. Menyatakan bahwa Imam Muslim memiliki lebih dari 220
orang guru.

Murid-Murid Imam Muslim

Banyak ulama besar yang merupakan murid dari Imam Muslim dalam ilmu hadits,
sebagaimana di ceritakan dalam Tahdzibut Tahdzib. Diantaranya adalah Abu Hatim Ar Razi,
Abul Fadhl Ahmad bin Salamah, Ibrahim bin Abi Thalib, Abu ‘Amr Al Khoffaf, Husain bin
Muhammad Al Qabani, Abu ‘Amr Ahmad Ibnul Mubarak Al Mustamli, Al Hafidz Shalih bin
Muhammad, ‘Ali bin Hasan Al Hilali, Muhammad bin Abdil Wahhab Al Faraa’, Ali Ibnul
Husain Ibnul Junaid, Ibnu Khuzaimah, dll.

Wafatnya Imam Muslim

Ibnus Shalah berkata, " sebab kematian Imam Muslim sungguh aneh. Sebab
kematiannya bermula dari gejolak fikiran tentang satu masalah ilmiahnya yang membuat
beliau risau." Kemudian dia menyebutkan dengan sanadnya yang sampai pada Al-hakim
ucapannya, '' Aku mendengar Abu Abdillah Muhammad bin Ya'kub berkata,''Aku mendengar
Ahmad bin Salamah berkata, Abul Husain Muslim bin Hajjaj memiliki sebuah majelis untuk
mudzakarah. Suatu ketika, di majlis itu, Muslim mendengar sebuah hadis yang tidak dia
kenal, seketika itu dia pulang kerumahnya. Setiba dirumahnya, dia langsung menyalakan
lampu minyak dan berkata kepada penghuni rumahnya, jangan ada orang pun diantara
diantara kalian masuk kamar ini!. Dikatakan kepada beliau,'kita diberi hadiah berupa
sekeranjang kurma? Muslim berkata, sajikanlah kepadaku! Keluarga pun menyajikannya
kehadapan Imam Muslim, yang sedang mencari hadis yang baru saja didegarnya, Muslim
terus mencari hadis itu sembari makan kurma, sebutir demi sebutir, dia mengunyahnya.
Keesokan harinya kurma itu habis dan hadis itu pun sudah ditemukan."

Al-Hakim berkata, " sahabat kami yang terpercaya menambahkan informasi bahwa
disebabkan kajadian malam itu, dia sakit dan meninggal dunia.

Imam Muslim wafat pada hari ahad sore, tanggal 25 rajab, tahun 261 H (875 M),
dikebumikan pada hari senin di Nisabur,meninggal pada usia 55 tahun. Ini berdasarkan
keterangan ulama yang paling shahih.

B. KARYA-KARYANYA

Dalam bidang hadis beliau banyak menyumbangkan karya-karyanya kepada umat


muslim, antara lain:

1. Al-Jami' ash-Shahih atau lebih dikenal sebagai Shahih Muslim

2. Al-Musnad al-Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi)

3. Kitab al-Asma wal-Kuna

4.Kitab al-ilal

5. Kitab al-Aqram

6. Kitab Su'alatihi Ahmad bin Hambal

7. Kitab al-Intifa bi Uhubis-siba

8.Kitab al- Muhadramin

9. Kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahid

10. Kitab Auladish- Shahabah

11.Kitab Auhamil-Muhadditsin

12.dan lain sebagainya

Di antara kitab-kitab diatas yang paling agung dan sangat bermanfaat luas, serta
masih tetap beredar hingga kini ialah al-jami al-shahih, terkenal dengan Shahih Muslim.
Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling shahih dan murni sesudah
kitabullah. Kedua kitab Shahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.

Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannnya untuk meneliti dan


mempelajari keadaan para rawi, menyaring hadis-hadis yang diriwayatkan,
membandingkan riwayat-riwayat itu satu sama lain. Imam Muslim sangat teliti dan hati-
hati dalam menggunakan lafad-lafad, dan selalu memberikan isyarat akan adanya
perbedaan antara lafad-lafad itu. Dengan usaha yang sedemikian rupa, maka lahirlah kitab
Shahihnya.

Bukti konkret mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim
menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan bahwa
ia pernah berkata :'' Aku susun kitab shahih ini yang disaring dari 300,000 hadis."

Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata: "Aku menulis bersama Imam
Muslim untuk menyusun kitab Shahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000
buah hadis

Dalam pada itu, Ibn Shalah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahwa jumlah
hadis Shahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadis. Kedua pendapat tersebut dapat kita
kompromikan, yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadis-hadis yang berulang-
ulang penyebutnya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadis-hadis yang
tidak disebutkan berulang.

Berkat kegigihan dan kecintaannya pada hadits, Imam Muslim tercatat sebagai orang
yang dikenal telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Muhammad Ajaj Al Khatib, guru
besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, menyebutkan, hadits yang tercantum
dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa
pengulangan.

Bila dihitung dengan pengulangan, lanjutnya, berjumlah sekitar 10.000 hadits.


Sedang menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam
karya Muslim berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan.
Jumlah hadits yang ditulis dalam Shahih Muslim merupakan hasil saringan sekitar
300.000 hadits. Untuk menyelasekaikan kitab Sahihnya, Muslim membutuhkan tidak
kurang dari 15 tahun.
Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan
yang diterimanya; " Apabila penduduk bumi ini menulis hadis selama 200 tahun,
maka usaha mereka hanya akan berputar-putar disekitar kitab musnad ini".

Ketelitian dan kehati-hatian Imam Muslim terhadap hadis yang diriwayatkan


dalam Shahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : " Tidaklah aku
mencantumkan sesuatu hadis dalam kitabku ini,melainkan dengan alasan; juga tiada
aku menggurkan sesuatu hadis daripadanya melainkan dengan alasan pula.

C. Metode Dan Sistematika Ṣaḥiḥ muslim

Penulis kitab Ṣaḥiḥ muslim adalah Abu Al Husain Muslim Ibn Hajaj Al Qusyairi.
Kitab ini disusun denagn sistematia yang baik, sehingga isi ḥadith - ḥadith nya tidak
bertukar tukar dan tidak berlebihan dan berkurang sanadnya. Secara global kitab ini
tidak ada bandinganya didalam ketelitian menggunakan isnad. Ṣaḥiḥ muslim telah
disarah oleh lama'-ulama' ḥadith sebanyak 15 buah, seperti al-Mu'lim bil fawaidi
muslim oleh Mazary, Al Ikmal leh al Qadi 'iyad, Minhaj Al Muhaddithin Oleh Al-
Nawawi, Ikmal Al -Iklmal Oleh Al-Zawawi, dan Ikmal Al -Iklmal Li Mu'lim Oleh
Abu Abdullah Muhammad Abi Al -Maliki. Diantara yang mengihtisarkanya adalah
al-qurtubi yang disyarahkan kembali dalam kitabnya al mufhim, zawaidnya telah
disarah oleh ibn al-mulaqqin.

Berdasarkan jalan yang ditempuh imam muslim dalam mentakhrijkan ḥadith nya,
para ulama' memandang bahwa muslim meriwayatkan ḥadith yang sempurna, yang
memiliki syarat-syarat keṣaḥiḥan dan memiliki sanad muttasil dengan syarat adil dan
kuat hafalan dari awal hingga ahir tanpa shad dan ‘ilat. Hal itulah yang menjadikan
ḥadith dalam kumpulan Ṣaḥiḥ muslim memilki keunggulan dari kitab hadith yang
lain. Disamping itu muslim sangat teliti, sehingga ia bedakan antara kata ḥaddathanã
dengan kata akhbarona. Yang pertama mengandung pengertian bahwa hadith tersebut
langsung didengar melalui ucapan guru, sedangkan yang kedua hadith itu dabacakan
atas nama guru. Hadith hadith tersebut ditulis dengan matan yang sempurna tanpa
pengulangan.

Imam muslim telah menjadikan prinsip ‘an’anah (transfer secara langsung antara
periwayat hadith dengan nara sumber hadith) sebagai azaz dalam pola seleksi mutu
transmisi hadith. Karena asas itulah imam muslim selalu memelihara bukti kepastian
bahwa antar pendukung riwayat itu benar-benar hidup semasa ( mu’asarah) yang
mungkin pila dapat dibuktikan segi kecukupan waktu bagi proses berlangsungnya
kintak pribadi( subutu al-liqa’i) antar mereka.

Syarat kepribadian rijalul ḥadith mengutamakan mereka yang hafidz dan


mutqin(profesionala dalam ilmiah hadith),adil lagi pula ḍabit( terpercaya hafalanya).
Jujur serta terjamin stabil cara berfikirnya. Koleksi sahih muslim menampung pula
ḥadith - ḥadith eks perawi yang tingkat hafalan dan keahlianya ḥadith nya kaliber
menengah. Perawi setingkat mereka lazim disejajarkan dengan peringkat ( ṭobaqah)
kedua. Yang jelas imam muslim sama sekali tidak memberi tempat pada perawi
ḥadith yang disepakati kelemahan pribadinya atau perawi ḥadith yang disepakati
kelemahan pribadinya atau perawi ḥadith yang sekalian ulama’ muhaddisthin
menolak periwayatanya. Koleksi ḥadith pada Ṣahih Muslim mengkhususkan pada
ḥadith - ḥadith musnad, muttasil, nyata bersandar(marfu’) kepada nabi/ rasulullah
SAW, sejalan dengan spesifikasi tersebut maka sulit dijumpai Qoul ( ucapan sahabat)
apalagi qoul tabi’in.

Tata letak dalam menyajikan ḥadith senantiasa diawali dengan ḥadith yang
berkualitas tersahih disusul kemudian dengan hadis sahih dan urutan terahir untuk
ḥadith yang diunggulkan sebagai sahih. Ḥadith- ḥadith dengan aliokasi terahir itulah
yang menurut analisa Alqadi’iyadh setara dengan ḥadith ḥasan seperti pola koleksi
yang dilakukan oleh ibnu huzaimah dan ibnu hibban.

Pengantar sanad maupun redaksi matan sepenuh hadis-hadis koleksi sahih muslim
menjunjung tinggi tehnik riwayah billafdzi, yakni cara pengungkapan seluruh batang
tubuh hadis dengan mempertahankan keaslian redaksinya. Pemuatan hadis dalam
sahih muslim selalu diwarnai oleh penyajian inormasi matan selengakapnya tntas dan
utuh. Pola penyajian semacam itu telah menjadi redaksi suatu hadis dalam sahih
muslim demikian panjang, mirip laporan pandangan mata yang sempurna.

Periode penapisan dan penyusunan sahih muslim berlangsung selama masa hidup
guru-guru imam muslim dan seluruhnya dikerjakan dirumah kediaman tetap beliau.
Proses tersebut amat menunjang segi kerapian tex dan menjadi kecil kemungkinan
salah tulis dalam mencantumkan nama pera pendukung/rijal hadisnya. Pada tahap ahir
proses pengujian mutu validitas hadis imam muslim memanfaatkan konsultasi rutin
dengan ulama’ hadis di naisabur bernama abu zu’rah arrazi (w.264H ). Setioap kali
abu zurah arrazi mengisyaratkan indikasi illat segera saja imam muslim membatalkan
pemuatan hadis berilat itu kedalam koleksi sahihnya. Apabila abu zur’ah tidak
mencurugainya maka ḥadith tersebut akan dimuatnya.

Metodologi Penyusunan Kitab Shahih Muslim

1. Sebagaimana imam Bukhari, Imam Muslim dalam penyusunan hadis, tidak


bermaksud untuk menginfentarisir hadis shahih yang beliau ketahui. Hal itu beliau
lakukan semata untuk dapat meringkas hadis-hadis Nabi dalam satu karya kitab
hadis.

2. Imam Muslim di dalam penulisan shahihnya tidak membuat judul setiap bab
secara terperinci. Judul-judulkitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah
Shahih Imam Muslim yang sudah di cetak,sebenarnyadibuat olehpara pengulas
yang datang kemudian. Diantara pengulas yang paling baikmembuat judul-judul
bab dan sistematika babnya adalah imam nawawi dalam syarahnya, adapun
penomoran dalam Shahih Muslim dilakukan oleh Fuad Abdul Baqi ketika
mentahqiq (memeriksa, mengoreksi ,menyunting, menomori hadits) Shahih
Muslim. Penomoran beliau berdasarkan hadits yang serupa, beliau menghitung
setiap hadits yang serupa sebagai satu hadits. Penomoran beliau banyak digunakan
dalam penulisan kitab, buku, dan artikel kkeislamn.

3. Mengenai metode penuyusunan hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip


ilmu jarh dan ta'dil, yakni suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya
suatu hadits. Beliau juga menggunakan sighat at-tahamm(mengabarkan kepada
saya), aqabarana(mengabarkan kepada kami), dan qaalaa(ia berkata)

4. Dibanding kitab-kitab hadits Shahih lainnya, kitab Shahih Muslim karakteristik


tersendiri, dimana Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi
yang resmi. Beliau bahkan tidak mencatumkan judul-judul setiap akhir dari suatu
pokok bahasan. Disamping itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba'at dan
syawahid.

5. Walaupun dia memiliki nilei beda dalam metode penyusunan kitab hadits,Imam
Muslim sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun
mengemukakan ilimu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap
hadits ditempat paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya ditempat
tersebut. Sementara Al-Bukhari memotong-motong suatu hadits dibeberapa
tempat dan pada setiap tempat beliau sbutkan lagi sanadnya.

6. Kitab Shahih Muslim memang dinilai kalangan muhaitsin berada setingkat dibawa
Al-Bukhari. Namun ada sejumlah ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim
lebih unggul ketimbang kitabnya Al-Bukhari. Dari sisi kualitas keshahihan,
Bukhari berada setingkat diatas Imam Muslim, namun dari sisi metode
penyusunan Imam Muslim berada setingkat diatas Al-Bukhari.

Kelebihan dan kekurangan kitab

a. Kelebihan

Keistimewaan kitab hadis Sahih Muslim ialah mengandungi 7275 buah hadis Sahih termasuk
hadis yang matannya disebut secara berulang kali. Manakala jumlah hadis yang matannya
tidak berulang ialah sebanyak 4000 buah hadis. Hadis-hadis ini telah dibahagikan kepada 54
tajuk kecil yag dikenali sebagai kitab.25 Tajuk-tajuk tersebut merangkumi berbagai bidang,
antaranya ialah ibadah muamalah, jihad, zikir, doa serta fada’il al-a’mal. Menyerlahkan lagi
keistimewaan Sahih Muslim ini, ialah ianya disusun mengikut BAB tanpa mencampur aduk
antara satu sama lain. Hal ini, lebih mudah dirujuk oleh para pengkaji.

Selain itu juga, kitab sahih ini turut memuatkan hadis yang ditinggalkan oleh al-
Bukhari.

Keistimewaan lain yang terdapat dalam sahih ini ialah:

1. Tidak ada sebarang penambahan atau pengurangan dalam kitab Sahih ini sejak dari
zaman beliau sehingga selepas kewafatan beliau dan berlarutan sehingga sekarang

2. Majoriti ulama telah bersepakat dan mengiktiraf kedudukan kitab Sahih Muslim
sebagai kitab kedua selepas Sahih al-Bukhari.

3. Sahih Muslim adalah pelengkap kepada kitab gurunya yaitu Sahih al-Bukhari. Hal ini
diakui oleh Imam Muslim dengan mengatakan: “aku kumpulkan hadits-hadits supaya
aku dan orang yang menulis haditsku mempunyai satu kumpulan hadits yang tidak
diragui kebenarannya”.
4. Kaedah penulisan atau metodologi yang digunakan dalam mengumpulkan matan-
matan hadits adalah berbeda dalam satu riwayat walaupun dalam BAB yang sama.
Kaedah ini berbeda dengan metodologi al-Bukhari.

5. Pengumpulan segala jalan hadits adalah dilakukan pada satu tempat untuk
memudahkanpembaca dan pengkaji untuk mencari dan mengeluarkan hukum dari
padanya.

6. Pengulangan yang berlaku dalan hadits coba dielakkan supaya tidak banyak hadits
yang berulang-ulang.

b. Kelemahan

Beliau mengakui apa yang dilakukan itu masih belum sempurna. Beliau pernah
berkata: “tidak semua hadits dalam kitabku ini adalah hadits sahih Aku hanya meletakkan
hadits yang telah disepakati bersama yakni ulama hadits”. Maka tidak heranlah sekiranya
ibnu al-Salah pernah menyatakan bahawa terdapat beberapa hadits dalam sahih al-bukhari
dan muslim tidak memenuhi syarat sahihnya. Al-Daruqutni pula menjumpai sebanyak 200
hadits yang tidak memenuhi syarat yang ditetapkan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
Muslim.

Ada juga ulama yang mengatakan bahawa tedapat sebanyak 210 hadits yang tidak
memenuhi syarat sahih. 78 dari pada hadits riwayat al-Bukhari, 32 hadits yang diriwayatkan
oleh al-Bukhari dan Muslim, dan 100 hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Namun begitu,
taraf-taraf yang dikritik ini tidaklah jatuh ketahap hadits dai’f yang keterlaluan seperti hadis
maudu’, atau munkar. Da’if yang dimaksukan adalah da’if yang biasa dan tidak menjejaskan
autoriti kitab tersebut Penilaian terhadap Sahih Muslim dan nilai hadis-hadisnya

Menurut para ulama hadis, kitab koleksi hadis sahih Muslim ini memiliki banyak kelebihan,
yaitu:

a. Susunan isinya sangat tertib dan sistematis

b. Pemilihan redaksi (matan) hadisnya sangat teliti dan cermat

c. Seleksi dan akumulasi sanadnya sangat teliti, tidak tertu-kar-tukar, tidak lebih
dan tidak kurang

d. Penempatan dan pengelompokkan hadis-hadis kedalam temaatau tempat


tertentu, sehingga sedikit sekali terjadi pengulan- gan penyebutan hadis.
Adapun nilai hadis-hadis yang terdapat dalam Sahih Muslim pada umunya berkualitas
shahih, atau dinilai shahih oleh sebagian besar ula-ma hadis. Jadi tidak semua hadis dalam
kitab ini berkualitas shahih, dantidak pula berarti bahwa hadis-hadis diluar kitab ini
berkualitasnya ti-dak shahih. Dalam kaitan ini imam muslim pernah menyatakan bahwaia
tidak memasukan semua hadis sahih ke dalam kitabnya, melainkanhanya hadis-hadis yang
disepakati oelh ulama hadis saja. Menurut IbnuSalah, mungkin yang dimaksudnya itu ialah
beliau hanya memasukkanhadis yang memenuhi persyaratan shahih yang telah disepakati
oleh paraulama hadis.Para ulama hadis sering membandingkan nilai hadis-hadis dalamkitab
ini dengan yang terdapat pada kitab lainnya. Umumnya merekamenilai bahwa kualitas hadis-
hadis dalam kitab ini menempati posisikedua setelah kitab Sahih Bukhari. Alasan utama
mereka menempatkanSahih Muslim pada urutan kedua adalah karena kriteria seleksi kesahi-
han hadis yang dipakai olehnya lebih longgar daripada yang dipakai olehImam al-Bukhari,
gurunya. Jika Imam Bukhari mensyaratkan adanyapertemuan (liqa`) antara guru dan murid
bagi hadis-hadis dalam kitab-nya.

Inilah faktor yang dijadikan argumentasi untuk menempatkan posisi sahih Muslim
padaperingkat tertinggi jika dibandingkan dengan kitab-kitab koleksi hadis lainnya. Namun
demikian,jika dilihat dari aspek kualitas atau otentitas dan kuantitas atau kekayaan hadisnya
sahih muslimini peringkatnya berada dibawah sahih Bukhari.
KESIMPULAN

Setelah penulis banyak menelusuri tentang Imam Muslim, maka dapat penulis simpulkan
bahwa beliau adalah ahli hadits yang termasyhur setelah Imam Bukhari. Meskipun begitu,
dalam riwayat hidupnya beliau banyak menuntut ilmu dari berbagai macam tempat yang
berbeda dan guru yang berbeda pula. Bahkan, Imam Muslim pernah berkali-kali
mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits.

Disamping itu, Imam Muslim juga telah menulis banyak karya-karya bukunya dan bahkan
berjilid-jilid yang sampai saat ini masih dipakai dan dipelajari. Diantara karya-karya Imam
Muslim, salah satu kitab yang paling bermutu dan bermanfaat yaitu

adalah kitab Sahih Muslim yang telah penulis jelaskan secara detail pada bagian tiga. Dengan
kata lain, Imam Muslim dapat dikatakan sebagai suri tauladan yang patut penulis ikuti di
dalam kehidupan sehari-hari. Kitab shahih muslim adalah kitab koleksi haditsNabi
Muhammad SAW yang penyusunnya sangat dikenal sebagai orang yang terpercaya karena
integritas kepribadian dan kapasitas intelektualnya. Kitab ini sangat penting untuk diketahui,
dikaji, dipahami dan dijadikan sebagai acuan atau pedoman bagi semua umat Islam. Studi
pada penelitian ini menunjukkan bahwa hadits-hadits yang terdapat dalam kitab ini umumnya
sangat berkualitas dan merupakan hasil seleksi yang sangat teliti, ketat dan cermat dari
ratusan ribu hadits.

Kitab shahih Muslim ini disusun dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga
terhihat sistematis dan pengulangan haditsnya relative dangat sedikit. Namun demikian,
dalam kitab ini terdapat beberapa hadits yang dikritik, dimana kritikan yang muncul bukan
pada sanadnya akan tetapi lebih pada matannya, hal itupun dikarenakan adanya perbedaan
pemahaman atau pemaknaan.