Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang berat di era
globalisasi ini. Berbagai masalah mulai dari ekonomi, sosial, budaya, politik dan
pendidikan menerpa masyarakat Indonesia secara bersamaan. Kenyataan penuh
problema ini yang mencuatkan pikiran bahwa bangsa kita sedang mengalami
keterpurukan. Diantara begitu banyaknya masalah, yang paling dirasakan adalah
menurunnya martabat bangsa, baik dalam pandangan masyarakatnya sendiri atau bahkan
hingga di masyarakat internasional. Dengan menurunnya martabat bangsa ini, maka
individu-individu dalam bangsa akan mudah tergelincir serta tersihir oleh berbagai
pengaruh yang datang dalam orbit globalisasi. Jati diri bangsa akan mudah menghilang
ditelan oleh gelombang dunia yang berada dalam genggaman kapitalis.
Dunia pendidikan yang diharapkan sebagai “kawah candradimuka” bagi
penyebaran tata nilai yang humanis, produktif kreatif serta ketahanan mental bangsa
ternyata banyak mendapat kritikan karena tidak berdaya mengemban pencerahan
bangsa. Ironisnya lagi, dunia pendidikan malah justru mengidap kesimpangsiuran
informasi sehingga berdampak pada kerapnya terjadi penyalahgunaan. Untuk itu, apa
yang bisa dijalankan adalah dengan menguatkan kembali dunia pendidikan. Institusi-
institusi pendidikan yang dibangun secara mandiri yang mengedepankan dan
menitikberatkan pada pendidikan yang dapat membangun ke peradaban. Pendidikan
yang peduli pada pembentukan sikap-sikap mental yang tahan banting, berorientasi
kreatifitas dan bermoral tinggi. Melalui pendidikan karakter maka diharapkan
dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Pendidikan karakter dalam konteks sekarang ini sangan relevan digunakan
untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda Negara Indonesia. Krisis tersebut
antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak
dan remaja, kejahatan terhadap teman, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan
perusakan fasilitas-fasilitas umum sudah menjadi masalah social yang sampai
sekarang belum dapat diatasi secara menyeluruh.
2

Pendidikan karakter adalah respon dari tantangan globalisasi untuk


menyediakan kualitas pendidikan untuk semua. Makalah ini dimaksudkan sebagai
kajian tentang pendidikan karakterdi Indonesia dan bahan kajian lanjutan
tentang pentingnya peran pendidikan karakterdi institusi pendidikan, untuk
meningkatkan kepekaan peserta didik dan mempersiapkan mereka mencapai
pilar pendidikan UNESCO, learning to live together dalam kemajemukan Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belang tersebut dapat ditarik rumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana konsep karakter dan pendidikan karakter?
2. Bagaimana pengembangan pembentukan karakter?
3. Bagaimana alternatif pendekatan pembelajaran dalam membangun karakter
peserta didik?

1.3 Tujuan
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah landasan
pendidikan dan pembelajaran untuk menambah wawasan mengenai pendidikan
karakter diantaranya:
1. Untuk mengetahui konsep karakter dan pendidikan karakter
2. Untuk mengetahui pengembangan pembentukan karakter
3. Untuk mengetahui alternatif pendekatan pembelajaran dalam membangun
karakter peserta didik
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Karakter dan Pendidikan Karakter


Tidak semua orang mempunyai pemahaman yang sama tentang apa
sesungguhnya arti karakter, sehingga banyak asumsi yang timbul atas pengertian
karakter. Secara umum Doni (2010) mengatakan karakter sering diasosiasikan dengan
apa yang disebut dengan temperamen yang memberinya pada pengertian yang
menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks
lingkungan, selain itu karakter bisa juga dipahami dari sudut pandang behavioral
yang menekankan unsur somatopsikis yang dimiliki individu sejak lahir. Dalam hal
ini istilah karakter dianggap sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai
ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari seseorang yang bersumber dari
bentukan- bentukan yang diterima dari lingkungan misalnya keluarga pada masa
kecil, dan juga bawaan seserorang sejak lahir.
Jakoep Ezra (2008) mendefinisikan karakter sebagai “cultur” untuk sebuah
kesuksesan yang langgeng dan tahan uji, karena telah melewati banyak persitiwa
dalam kehidupan ini. Jadi menurut Jakoep karakter adalah sebuah kekuatan dan
landasan, karakter adalah sebuah jaminan untuk sukses dan tahan uji di masa sulit
dalam menyongsong masa depan yang penuh harapan. Untuk itu agar kemenangan
dapat diraih dalam upaya mengatasi kesulitan hidup diperlukan sikap karakter yang
tepat. Soemarmo Soedarsono (2010) mengartikan karakter adalah nilai-nilai yang
terpatri dalam diri kita melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan dan
pengaruh lingkungan yang dipadukan dengan nilai-nilai dari dalam diri manusia
sehingga menjadi semacam nilai intrinsik yang mewujud dalam sistem daya juang
yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku kita. Sementara Imam Al-Ghazali
mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam/menghujam dalam jiwa dan sifat itu,
seseorang akan secara spontan dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan
dan perbuatan.
4

Di dalam Kebijakan Nasional (2010:7) karakter diartikan sebagai nilai-nilai


khas-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik dan
berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan dalam perilaku.
Karakter memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa
seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau
sekelompok orang yang mengandung nilai- nilai, kemampuan, kapasitas moral dan
ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Sedangkan karakter bangsa
adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas-baik yang tercermin dalam
kesadaran pemahaman, rasa, karsa dan perilaku bebangsa dabn bernegara sebagai
hasil olah pikir, olah hati, olah raga dan olah rasa seseorang atau sekelompok orang.
building)
Seperti telah dikemukakan, terwujudnya dan terbentuknya bangsa Indonesia
tidak dengan sendirinya melainkan harus diupayakan, diusahakan dan diperjuangkan
terus menerus. Setiap kali upaya menanamkan nilai- nilai kebangsaan "kendor maka
merosot pulalah semangat kebangsaan bangsa Indonesia. Pembangunan bangsa
Indonesia tidak ada hentinya dan tidak ada akhirnya selama bangsa Indonesia Ini
masih eksis dan masih dikehendaki eksistensinya. Sehubungan dengan hal tersebut,
beberapa tahun belakangan ini istilah karakter muncul dan mencuat kembali, adalah
sesungguhnya istilah tersebut sudah lama didengungkan oleh tokoh pendidikan kita
yaitu Ki Hajar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara mengungkap kan bahwa “pendidikan
adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin,
karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan
agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita”.
Secara diagramatik, bentuk konfigurasi karakter dalam konsteks totalitas
proses psikologis dan sosio kultural tersebut dapat dilihat dari gambar sebagai
berikut:
5

OLAH OLAH HATI :


PIKIR :
CERDAS bertanggung Jawab

OLAH
RAGA
OLAH

Bersih RASA DAN KARSA


dan

Sumber: Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia (2010)

Selanjutnya apabila kita simak secara substantive, maka karakter terdiri atas
tiga yaitu operatives values, values in action atau tiga unjuk perilaku yang satu sama
lain saling berkaitan yaitu moral knowing, moral feeling , and moral behaviour.
Lickona (1991:51) menyebutkan bahwa karakter yang baik adalah terdiri atas proses
psikologis knowing the good, desiring the good, and doing the good- habit of the
mind, habit of the heart and habit of action. Dari ketika substansi dan proses
psikologis tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu.
Karakter juga dimaknai sebagai kualitas kepribadian yang baik, dalam arti tahu
kebaikan, mau berbuat baik dan nyata berperilaku baik, yang secara koheren akan
memancar sebagai hasil olah pikir, olah hati olah raga, dan olah rasa dan karsa.
Sebagai suatu konsep akademis, karakter memiliki makna substantive dan
proses psikologis yang sangat mendasar. Lickona (1992:50) merujuk pada konsep
good character yang dikemukakan oleh Aristoteles sebagai …”the life of right
conduct-rignt in relation to other persons and in relation to oneself. Pengertian ini
dimaknai bahwa karakter dapat diartikan sebagai suatu kehidupan berprilaku
baik/penuh kebajikan yakni berprilaku baik terhadap pihak lain. Pihak lain dalam hal
ini adalah Tuhan Yang Mahas Esa, manusia dan alam semesta) dan terhadap dirinya
sendiri. Selanjutnya Lickona menjelaskan bahwa dalam dunia modern sekarang ini
kita cenderung melupakan the virtous life (kehidupan yang penuh kebajikan,
6

termasuk di dalamnya self oriented virtous atau kebajikan terhadap diri sendiri,
seperti self control and moderation atau pengendalian diri dan kesabaran, dan other
oriented virtous atau kebajikan terhadap orang lain, seperti generously and
compassion (kesadaran berbagi dan merasakan kebaikan).
Selanjutnya apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter? Pendidikan
karakter adalah suatu sistem penanaman nilai- nilai karakter kepada warga sekolah
yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri
sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan. Dalam pendidikan karakter di
sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-
komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan
penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,
pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan
sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Pendidikan karakter bukanlah hal yang baru dalam sistem pendidikan nasional
kita sebab jika jika kita telaah tujuan pendidikan national kita yang terdapat dalam
semua Undang-Undang yang pernah berlaku, diantaranya adalah UU No 12 Tahun
1954 Jo UU yang menyebutkan bahwa UU No.4 Tahun 1950, bahwa tujuan
pendidikan dan pengajaran menurut UU No. 4 Tahun 1950 Bab. II pasal 3 adalah
”membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air, Selanjutnya di
dalam di dalam UU No. 20 Tahun 1989 Undang- Undang No. 2 Tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional meneguhkan dasar pendidikan nasional adalah Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal tersebut termaktub dalam Bab II pasal 2 yang
bunyi lengkapnya adalah ”Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945”. Sedangkan tujuan pendidikan nasional tercantum dalam Bab II
pasal 4 yang berbunyi ”Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuh- nya, yaitu manusia yang
beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
memiliki pengetahuan dan keterampilan , kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian
7

yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan”.
Pendidikan karakter dapat diintegrasi- dalam pembelajaran pada setiap mata
pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada
setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks
kehidupan sehari- hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai- nilai karakter tidak
hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan
nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat Pernyataan tersebut
menunjukkan bagaimana peran pendidikan dalam membangun karakter bangsa yang
berbudaya dan berkarakter. Jika dicermati dari tahun ke tahun di atas jelaslah bahwa
pendidikan karakter bukanlah merupakan sesuatu yang baru, melainkan sudah la
menjadi perhatian pemerintah, hanya saja implementasinya belum begitu ditekankan,
namun sejak tahun 2007 istilah pendidikan karakter ini baru muncul kembali, bahkan
sudah diperkenalkan oleh “Bapak Pendidikan Nasional kita Ki Hajar Dewantara”
sejak jauh sebelumnya. Menurut-nya “pendidikan merupakan daya upaya untuk
memajukan bertumbuh-nya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect)
dan tubuh anak.
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara psikologi dan sosio kultural,
pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi
individu manusia baik secara kognitif, afektif, konatif dan psikomotor) dalam konteks
interaksi social kultural baik dalam kehidupan keluarga, satuan pendidikan maupun
dalam kehidupan bermasyarakat dan berlangsung sepanjang hayat. Kementrian
Pendidikan Nasional 2010.

Wahab (2010) mengemukakan bahwa salah satu kebijakan penting dalam


pembangunan pendidikan nasional jangka menengah adalah adanya penekanan pen-
didikan karakter. Karena pendidikan karakter dapat menjadikan individu ''smart and
good''. Menurutnya pendidikan karakter bukanlah suatu proses yang linier, melainkan
suatu proses dinamis. Dari uraian di atas jelaslah bahwa pendidikan merupakan upaya
yang dapat ditempuh untuk mewujudkan karakter bangsa yang berbudaya dan
8

berkarakter. Menurut Suhardi (2010) bahwa "Pendidikan budaya dan karakter bangsa
mesti dipraktekkan sehingga titik beratnya bukan pada teori. Apalagi, selama ini
pendidikan budaya seperti "hidden curiculum."

2.2 Pengembangan Karakter

Selanjutnya Kementrian Pendidikan Nasional mengembangkan Desain Induk


Pendidikan Karakter yang merupakan kerangka paradigmatik implementasi pem-
bangunan karakter bangsa melalui sistem pendidikan. Secara umum pengembangan
karakter dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
hasil.

a. Tahap perencanaan
pada tahap ini dikembangkan perangkat karakter yang digali, dikristalisasi dan
dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber, antara lain pertimbangan
● Filosofis : agama, Pancasila, UUD 1945, UU Sisdiknas.
● Teoritis : teori tentang otak (brain theories), dan lain-lain,
● Empiris : berupa pengalaman dan praktek terbaik (best practices)

b. Tahap implementasi, yang dikembangkan adalah pengalaman belajar (learning


experiences) dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter.
Proses ini dilakukan dalam tiga lingkungan yaitu pendidikan formal, in formal
dan non formal (sekolah, keluarga dan masyarakat). Dalam masing-masing
pilarakan dikembangkan dua jenis pengalaman belajar yaitu : intervensi dan
habituasi. Dalam intervensi, dikembangkan suasana interaksi belajar dan
pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentukan
karakter dengan menerapkan kegiatan terstruktur (structu-red–learning
experiences) . Untuk itu peran guru sangat penting dan menentukan, sedangkan
pada habituasi diciptakan situasi dan konsisi (persistent-life situation) dan
reinforcement yang memungkinkan peserta didik membiasakan diri berperilaku
sesuai dengan nolai-nilai dan karakter yang telah diinternalisasikan melaluiproses
9

intervensi. Proses pembudayaan dan permberdayaan yang mencakup pemberian


contoh, pembelajaran dan pembiasaan dan pe guatan harus dikembangkan secara
Dalam konteks makro, kehidupan berbangsa dan bernegara.

c. Pada tahap evaluasi hasil, dilakukan asessmen program untuk perbaikan


berkelanjutan untuk mendeksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik
sebagai indicator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayakan karakter itu
berhasil baik.

Sebaliknya pada tataran mikro, Kemendiknas, 2010:13-14) menyebutkan dapat ditata


sebagai berikut :

a. Secara mikro pengembangan nilai/ karakter dapat dibagi menjadi empat pilar
yaitu :
● Belajar mengajar di kelas
● Kegiatan keseharian dalam bentuk budaya satuan pendidikan (school culture)
● Kegiatan ko-kurikuler dan atau ekstra- kurikuler serta keseharian di rumah,
dan dalam masyarakat.

b. Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas pengembangan nilai/karaktrer dapat di-


laksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata
pelajaran (embeded approach). Sementara khusus untuk matapelajaran
Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), karena memang
misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap, maka pengembangan
nilai/karakter harus men- jadi fokus utama yang dapat mengguna-kan berbagai
strategi maupun metode pendidikan nilai (value/character educa- tion). Kedua
matapelajaran ini nilai/ karakter dapat dikembangkan baik sebagai dampak
pembelajaran secara langsung (instructional effects) maupun sebagai dampak
penyerta (nurturrant effects).
c. Dalam lingkungan satuan pendidikan, dapat dilakukan dengan dengan dikondisi-
kan agar lingkungan fisik, sosial dan kultural satuan pendidikan yang me-
10

mungkinkan para siswa bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa
membangun kegiatan kesehariannya mencerminkan perwujudan nilai/karakter,
misalnya menjaga kebersihan sekolah, dengan menyediakan tempat-tempat
sampah; dan lain-lain.
d. Di lingkungan keluarga dan masyarakat, diupayakan agar terjadi proses
penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku
berkarakter mulia yang di kembangkan di satuan pendidikan menjadi kegiatan
keseharian siswa ketika berada di rumah maupun dalam lingkungan masyarakat.

2.3 Alternatif Pedekatan pembelajaran dalam Membangun Karakter Peserta


Didik

Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus makalah ini, maka berikut ini
akan disajikan alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru
dalam membangun karakter peserta didiknya. Sebelum dikemukakan alternatif
tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan
pendekatan pembelajaran. Menurut Sudradjat (2008), pen- dekatan pembelajaran
dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnyamasih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan
melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pen-
dekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pem-
belajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan
(2) pendekatan pembelajaran yangberorientasi atau berpusat pada guru (teacher
centered approach)

Karakter berkenaan dengan nilai-nilai dan moral, maka pendekatan pembelajaran


yang dapat digunakan dalam pendidikan karakter adalah pendekatan yang berkenaan
dengan penanaman nilai maupun moral. Dengan kata lain proses pembelajaran
pembentukan karakter dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yang dapat
11

meng-akomodasi kemajemukan dan kedinamisan masyarakat sebagai sumber materi


pem-belajaran, akan tetapi tetap memperhatikan dan mengembangkan nilai-nilai.
Oleh karena-nya pembelajaran memerlukan multi pendekatan. Superka 1976,
menyebutkan setidaknya ada lima pendekatan dalam penanaman nilai yakni:

1. Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach),


Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu pendekatan
yang memberi penekanan pada penanaman nilai- nilai sosial dalam diri siswa.
Pendekatan ini sebenarnya merupakan pendekatan tradisional. Banyak kritik
dalam berbagai literatur barat yang ditujukan kepada pendekatan ini. Pendekatan
ini dipandang indoktrinatif, tidak sesuai dengan perkembang-an kehidupan
demokrasi (Banks, 1985; Windmiller, 1976). Pendekatan ini dinilai mengabaikan
hak anak untuk memilih nilainya sendiri secara bebas. Menurut Raths & Harmin
et al. (1978) kehidupan manusia berbeda karena perbedaan waktu dan tempat.
Kita tidak dapat meramalkan nilai yang sesuai untuk generasi yang akan datang.
Menurut beliau, setiap generasi mempunyai hak untuk menentukan nilainya
sendiri. Oleh karena itu, yang perlu diajarkan kepada generasi muda bukannya
nilai, melainkan proses, supaya mereka dapat menemukan nilai-nilai mereka
sendiri, sesuai dengan tempat dan zamannya.

2. Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development


approach)
Pendekatan Perkembangan Kognitif Pendekatan perkembangan kognitif ini lebih
mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah yang berkenaan
dengan moral dan dalam membuat keputusan- keputusan moral. Perkembangan
moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir
dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju
suatu tingkat yang lebih tinggi (Elias, 1989).

3. Pendekatan analisis nilai (values analysis approach)


12

Berbeda dengan pendekatan lainnya, pendekatan analisis nilai atau values


analysis approach ini lebih menekankan pada per- kembangan kemampuan siswa
untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan
dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan per- kembangan
kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis
nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-
nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada
dilemma moral yang bersifat perseorangan.
4. Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach)
Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi
penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan
perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai- nilai
mereka sendiri. Pendekatan ini memberi penekanan pada nilai yang sesungguhnya
dimiliki oleh seseorang. Bagi penganut pendekatan ini, nilai bersifat subjektif,
ditentukan oleh seseorang berdasarkan kepada berbagai latar belakang
pengalamannya sendiri, tidak ditentukan oleh faktor luar, seperti agama,
masyarakat, dan sebagainya. Oleh karena itu, bagi penganut pendekatan ini isi
nilai tidak terlalu penting. Hal yang sangat dipentingkan dalam program
pendidikan adalah mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan proses
menilai.
5. Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach)
Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach), pendekatan ini memberi
penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan
perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-
sama dalam suatu kelompok.
13

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah sebagai
berikut:

Upaya yang dapat ditempuh adalah dengan membangun karakter melalui sistem
sistem pendidikan, baik secara makro, mulai tahap implementasi dalam pengalaman
belajar (learning experiences) apakah melalui peng- alaman belajar intervensi dalam
bentuk penerapan kegiatan terstruktur (structured– learning experiences) maupun
habituasi dalam situasi persistent-life situation) dan reinforce- ment. Maupun dalam
bentuk mikro berupa pengembangan nilai/karakter, diantaranya melalui kegiatan
belajar mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya satuan
pendidikan (school culture), kegiatan ko-kurikuler dan atau ekstra-kurikuler serta
keseharian di rumah, dan dalam masyarakat.

3.2 Saran

Pembentukan karakter siswa hendaknya dilakukan dengan berbagai alternatif


pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan penanaman nilai/moral, hal ini
mengingat pembentukan karakter itu menyangkut nilai/ moral. Olehkarenanya
alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan diantaranya adalah
Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), Pendekatan perkembangan
moral kognitif (cognitive moral development approach), Pendekatan analisis nilai
(values analysis approach), Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification
approach), dan Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach).
14

DAFTAR PUSTAKA

Banks, J.A. 1985. Teaching strategies for the social studies. New York: Longman.

Chotimah, Umi. 2010. Makalah Seminar Internasional : Membangun Karakter


Bangsa Yang Berbudaya Dan Berkarakter Melalui Penerapan Model
Pembelajaran IPS Yang Inovatif. Makasar, Juli 2010

--------------2011. Makalah Seminar Regional Pemberdayaan Masyarakat Pesisir


Utara Yang diselenggararakan oleh BEM Unsri di Palembang 19 Maret
2011 : “Wawasan Kebangsaan Sebagai Bagian Dari Nation And Character
Building

Elias, J. L. 1989. Moral education: secular and religious. Florida: Robert E. Krieger
Publishing Co., IncBasari, Hasan / Bernhard Dahm, Sukarno dan
perjuangan kemerdekaan, Jakarta : LP3ES, 1987. Judul asli : Sukarno and
the struggle for Indonesia

Fedyani Saifuddin & Mulyawan Karim. 2008. Refleksi Karakter Bangsa. Jakarta :
Forum Kajian Antropologi Indonesia

Gonggong, Anhar dalam “Diskusi Terbatas,” “Perspektif Sejarah atas Demokrasi


Indonesia,” 11 September 2002, di Bappenas, oleh Direktorat Politik,
Komunikasi dan Informasi.

Gumono,2010.http://gumonounib.wordpress.c om/2010/06/23/undang-undang-
sisdiknas-dari-masa-ke-masa

Jumadi, 2010. Pendidikan Integritas dan Publik. Makasar : Proceeding Makalah


Seminar Internasional, 13- 14 Juli 2010

Kohlberg, L. 1977. The cognitive-developmen- tal approach to moral education.


Dlm. Rogers, D. Issues in adolescent psychology: 283-299. New Jersey:
Printice Hall, Inc.

Lickona, T. (1991). Educating for Character.

New York : Bantams Books.


15

Parsons, Talcott. Toward a General Theory of action. New York:Harper & Row,
1951.

Raths, L.E., Harmin, M. & Simon, S.B. 1978. Values and teaching: working with
values in the classroom. Second Edition. Columbus: Charles E. Merrill
Publishing Company.

Superka, D.P. 1973. A typology of valuing theories and values education


approaches. Doctor of Education Dissertation. University of California,
Berkeley.

-------------., Ahrens, C., Hedstrom, J.E., Ford,


L.J. & Johnson, P.L. 1976. Values education sourcebook. Colorado: Social
Science Education Consor- tium, Inc. Sudarsono, Juwono, (Ed.),
Pembangunan Politik dan Perubahan Politik, Jakarta: Gramedia, 1981

Swasono, Sri-Edi dan Fauzie Ridjal. Moham- mad Hatta; beberapa pokok pikiran,
Jakarta : UI-Press, 1992

Winataputra, US (2010). Makalah: Peran Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial


dalam Konteks Pembangunan Karakter Bangsa (Kebijakan, Konsep dam
Kerangka Programatik).