Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

Klasifiksi Hadist

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Study Hadist

DOSEN PEMBIMBING: Bpk. Beadie Busyroel Basyar, M.Pd.I

Disusun Oleh :

DHARMA OCTAVIYANTI

ACHMAD MARZUQI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM AL-QOLAM

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt atas segala limpahan Rahmat dan Hidayahnya sehingga
makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini dibuat dengan tujuan menyelesaikan tugas yang
telah diberikan oleh Dosen yang bertemakan “Klasifikasi Hadist ”

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan dan perlu lebih
banyak belajar lagi baik dari segi penulisan maupun materi. Sehingga kritik dan saran sangat
kami harapkan demi menyempurnakan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini kami ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada
Dosen yang tak pernah lelah membimbing kami. Semoga Allah Swt memberikan perlindungan
serta pertolongan kepada pembimbing kami. Dan semoga tercatat sebagai pahala ibadah Amin
Ya Rabbal ‘Alamin.

Malang,5 Desember 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................................................................iii
BAB I..........................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................................................1
C. Tujuan Masalah...........................................................................................................................1
BAB II.........................................................................................................................................................2
PEMBAHASAN.....................................................................................................................................2
A. KLASIFIKASI HADIST DARI SEGI KUANTITAS.................................................................2
B. KLASIFIKASI HADIST DARI SEGI KUALITAS....................................................................5
BAB III.......................................................................................................................................................9
PENUTUP...............................................................................................................................................9
A. Kesimpulan..................................................................................................................................9
B. Saran............................................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan banyak bermunculan penelitian tentang kajian
keilmuan Islam, terutama dalam ilmu hadits banyak sekali bahasan dalam ilmu hadits yang sangat
menarik dan sangat penting untuk dibahas dan dipelajari, terutama masalah ilmu hadits.
Sebagian orang bingung melihat jumlah pembagian hadits yang banyak dan beragam. Tetapi
kemudian kebingungan itu menjadi hilang setelah melihat pembagian hadits yang ternyata dilihat
dari berbagai tinjauan dan berbagai segi pandangan, bukan hanya segi pandangan saja. Misalnya
hadits ditinjau dari segi kuantitas jumlah perawinya, hadits ditinjau dari segi kualitas sanad dan
matan.
Untuk mengungkapkan tinjauan pembagian hadits maka pada bahasan ini hnya akan
membahas pembagian hadits dari segi kuantitas dan segi kualitas hadits saja.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja klasifikasi hadist di tinjau dari segi kuantitas ?


2. Apa saja klasifikasi hadist di tinjau dari segi kualitas ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui klasifikasi hadist di tinjau dari segi kuantitas.


2. Untuk mengetahui klasifikasi hadist di tinjau dari segi kualitas.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Hadis secara harfiah berarti "berbicara", "perkataan" atau "percakapan". Dalam terminologi Islam
istilah hadis berarti melaporkan, mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad.1
Berdasarkan pengertian Hadist tersebut, maka hadist diklasifikasikan menjadi beberapa aspek, yaitu
klasifikasi hadist dari segi kuantitas dan kualitasnya.

A. KLASIFIKASI HADIST DARI SEGI KUANTITAS

Hadits berdasarkan kuantitas (banyaknya jumlah perawi) atau orang yang meriwayatkan suatu
hadits dapat dibagi menjadi dua, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad.

1. Hadist mutawatir

a. Pengertian hadist mutawatir


Mutawatir (b. Arab: ‫متواتر‬, mutawātir) ialah kata serapan bahasa Arab yang bermaksud
"diturunkan daripada seorang ke seorang. Istilah ini digunakan dalam pengajian Ulum al-Quran
dan Mustalah Hadith. Hadis Mutawatir ialah nas hadist yang diketahui/diriwayatkan oleh
beberapa bilangan orang yang sampai menyampai perkhabaran (Al-Hadis) itu, dan telah pasti
dan yakin bahwa mereka yang sampai menyampai tersebut tidak bermuafakat/ berdusta
tentangnya. Ini kerana mustahil terdapat sekumpulan periwayat dengan jumlah yang besar
melakukan dusta.2
Hadis Mutawatir ialah hadis yang memiliki banyak sanad dan mustahil perawinya berdusta
atas Nabi Muhammad saw, sebab hadis itu diriwayatkan oleh banyak orang dan disampaikan
kepada banyak orang. Contohnya, "Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka
tempatnya dalam neraka. " (H.R Bukhari, Muslim, Ad Darimi, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmizi,.
Abu Ha'nifah, Tabrani, dan Hakim).

1
https://id.wikipedia.org/wiki/Hadis ( akses tanggal 07 desember 2018 )
2
https://ms.wikipedia.org/wiki/Hadis_Mutawatir (akses tanggal 07 desember 2018 )
2
Menurut para ulama hadis, hadis tersebut di atas diriwayatkan oleh lebih dari seratus orang
sahabat Nabi dengan seratus sanad yang berlainan. Oleh sebab itu jumlah hadis Mutawatir tidak
banyak. Keseluruhan daripada ayat-ayat al-Quran adalah mutawatir, manakala terdapat
sebahagian hadis sahaja yang mutawatir. Hadis yang tidak mencukupi syarat-syarat mutawatir
dikenali sebagai Hadis Ahad.
b. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir
Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :
 Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan
(daya tangkap) pancaindera. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar
merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain
dan yang semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak
didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits
mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak.
 Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka
untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah
untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta.
 Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut diqiyaskan
dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.
 Ashabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan
jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.
 Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut
berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang
mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah
200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65).
 Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang.
Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah:“Wahai nabi cukuplah Allah dan
orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu).” (QS. Al-Anfal: 64).

Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama


maupun thabaqat berikutnya. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak
banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir
tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. Sedangkan Ibnu Salah
berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada, tetapi jumlahnya hanya sedikit. Ibnu Hajar
Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. Ibnu Hajar
mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits, kelakuan dan sifat-sifat
perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana

3
dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus
menghimpun hadits-hadits mutawatir, seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-
Mutawatirah, susunan Imam As-Suyuti(911 H), Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-
Mutawatir, susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H).

c. Faedah Hadits Mutawatir


Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu daruri, yakni keharusan untuk
menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa
keyakinan yang qath’i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW
benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-
rawi mutawatir.
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawi hadits
mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi, karena
kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak
bersepakat dusta. Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan
mengamalkan semua hadits mutawatir. Umat Islam telah sepakat tentang faedah hadits
mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil ilmu daruri
dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri yang
berdasarkan musyahailat (penglibatan pancaindera).
d. Macam–macam hadits mutawatir
Hadist mutawatir terbagi menjadi dua bagian, yaitu Mutawatir Lafdzy dan Mutawatir
Ma’nawi
 Mutawatir lafzhi, adalah apabila lafadz dan maknanya mutawatir. Misalnya Hadist
(yang artinya) :”Barangsiapa yang sengaja berusta atas namaku ( Rasululloh saw )
maka dia akan mendapatkan tempat duduknya dari api neraka”. Hadist ini telah
diriwayatkan lebih dari 70 orang sahabat dan diantara mereka termasuk 10 orang
yang di jamin masuk surga.
 Mutawatir ma’nawi, adalah maknanya yang mutawatir, sedangkan lafadznya
tidak. Misalnya, hadist-hadist tentang mengangkat tangan ketika berdo’a. Dan
setiap hadist tersebut berbeda kesnya dari hadist yang lain. Namun boleh menjadi
mutawarie karena adanya beberapa jalan dan persamaan antara hadist-hadist
tersebut, yaitu tentang mengangkat tangn ketika berdo’a.

2. Hadits ahad

Menurut Istilah ahli hadits, tarif hadits ahad antara lain adalah :
“Suatu hadits (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadits
4
mutawatir; baik pemberita itu seorang. dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan
seterusnya, atau hadist ahad ialah hadist yang tida mencapai derajat mutawatir,3 tetapi jumlah
tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadits tersebut masuk ke dalam hadits mutawatir
Klasifikasi hadist ahad ada 3 , yaitu :
a. Hadis ‘Aziz, ialah hadist yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun dua orang rawi
tersebut terdapat pada satu thabaqat saja, kemudian setelah itu orang-orang akan
meriwayatkannya.
b. Hadist masyhur, ialah hadist yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, serta blum
mencapai derajat mutawatir.
c. Hadist gharib, ialah hadist yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri
dalam meriwayatkan, di mana saja dalam penyendirian periwayatan itu terjadi.

B. KLASIFIKASI HADIST DARI SEGI KUALITAS

Berdasarkan kualitas hadits dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Hadits Sahih

Hadist shahih menurut Ibnu Sholah ialah, hadist yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan
oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz ( tidak bertentangan
dengan hadist lain yang shahih ), dan tidak mu’allal ( tidak cacat ) ,4jadi hadist shahih itu memenuhi
beberapa syarat sebagai berikut :

Syarat hadits Sahih adalah:

a. Diriwayatkan oleh perawi yang adil Maksudnya adalah tiap-tiap perawi itu seorang Muslim,
bersetatus Mukallaf (baligh), bukan fasiq dan tidak pula jelek prilakunya.
b. Kedhabitan perawinya sempurna maksudnya Periwayat itu harus memahami dengan baik makna
dan pengertian riwayat yang telah didengarnya (diterimanya),Periwayat itu memiliki hafalan
dengan baik terhadap riwayat yang telah didengarnya itu dengan tanpa terdapat kesalahan atau
kekeliruan pengutipan redaksi kata-katanya, Periwayat itu mampu menyampaikan riwayat yang
telah didengarnya dan dihafalnya dengan baik kapan saja dia menghendakinya.
c. Sanadnya bersambung Maksudnya adalah tiap-tiap perawi dari perawi lainnya benar-benar
mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya, dari sejak awal hingga akhir sanadnya.

3
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196509171990011-ACENG_KOSASIH/HADITS.pdf (akses tanggal 8 Desember
2018)
4
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/129/jtptunimus-gdl-sofyanefen-6409-1-ebook--i.pdf (akses tanggal 8 Desember 2018 )
5
d. Tidak ada cacat atau illat Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya, dalam arti adanya sebab
yang menutup tersembunyi yang dapat menciderai pada ke-shahih-an hadis, sementara dhahirnya
selamat dari cacat.

‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama.
Namun demikian, ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad, seperti menyebutkan muttasil
terhadap hadis yang munqati’ atau mursal. Matannya tidak syaz atau janggal Maksudnya ialah hadis
itu benar-benar tidak syadz, dalam arti bertentangan atau menyalesihi orang yang terpercaya dan
lainnya.

Pembagian hadits shahih

a. Hadis Shahih li dzati, Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti
adanya,bukan dia itu terputus tetapi shahih dalam hakikat masalahnya, karena bolehnya salah
dan khilaf bagi orang kepercayaan.
b. Hadis Shahih Li Ghoirihi, Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat
hadis shahih tersebut baik keseluruhan atau sebagian. Bukan berarti sama sekali dusta,
mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah.

Hadis shahih li-ghoirih, adalah hadis hasan li-dzatihi apabila diriwayatkan melamui jalan yang lain
oleh perowi yang sama kualitasnya atau yang lebih kuat dari padanya.

2. Hadits Hasan.

Pengertian hadits hasan Menurut bahasa, hasan berarti bagus atau baik. Menurut Imam
Turmuzi hadits hasan adalah : “yang kami sebut hadits hasan dalam kitab kami adalah hadits yng
sannadnya baik menurut kami, yaitu setiap hadits yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak
terdapat rawi yang dicurigai berdusta, matan haditsnya, tidak janggal diriwayatkan melalui sanad
yang lain pula yang sederajat. Hadits yang demikian kami sebut hadits hasan.”

Syarat hadits hasan adalah:


a. Para perawinya adil.
b. Kedhabitan perawinya dibawah perawi hadits sahih.
c. Sanadnya bersambung.
d. Tidak mengandung kejanggalan pada matannya.
e. Tidak ada cacat atau illat.

Pembagian hadits hasan


6
a. Hasan Li-Dzatih, Hadis hasan li-dzatih adalah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis
hasan yang telah ditentukan. pengertian hadis hasan li-dzatih sebagaimana telah diuraikan
sebelumnya.
b. Hasan Li-Ghairih, Hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna. dengan kata
lain, hadis tersebut pada dasarnya adalah hadis dha’if, akan tetapi karena adanya sanad atau
matan lain yang menguatkannya (syahid atau muttabi’), maka kedudukan hadis dha’if tersebut
naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairih.

3. Hadits Daif

Hadits daif menurut bahasa berarti hadits yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang
lemah (keci atau rendah) tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasulullah SAW.
Para ulama memberi batasan bagi hadits daif :
Artinya :
“Hadits daif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak
menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”
Jadi hadits daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadits sahih, melainkan juga tidak
memenuhi syarat-syarat hadits hasan. Pada hadits daif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih
besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.

Pembagian hadits dhoif

Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi
dalam sanadnya, dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan.

a. Hadits dhaif karena gugurnya rawi


Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi, yang
seharusnya ada dalam suatu sanad, baik pada permulaan sanad, maupun pada pertengahan
atau akhirnya. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi,
antara lain yaitu :
 Hadits Mursal, Hadits mursal menurut bahasa, berarti hadits yang terlepas. Para ulama
memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir
sanad. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat
yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.
7
(penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan
imam yang membukukan hadits, seperti Bukhari, sampai kepada rawi yang terdekat
dengan Rasulullah). Jadi, hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak
menyebutkan sahabat Nabi, sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari
Rasulullah.
Contoh hadits mursal : Rasulullah bersabda, “ Antara kita dan kaum munafik munafik
(ada batas), yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh; mereka tidak sanggup
menghadirinya”.

 Hadits Munqathi’
Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. Para ulama memberi
batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi
tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat
Nabi, maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabi’in. Jadi, pada hadits munqathi’
bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabi’in. Bila
dua rawi yang gugur, maka kedua rawi tersebut tidak beriringan, dan salah satu dari dua
rawi yang gugur itu adalah tabi’in.
contoh hadits munqathi’ :
Artinya :Rasulullah SAW. bila masuk ke dalam mesjid, membaca “dengan nama Allah,
dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku
segala pintu rahmatMu”.
 Hadits Mu’dhal, Menurut bahasa, hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami.
Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits mu’dhal adalah hadits yang gugur dua
orang rawinya, atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya.
Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba, dalam kitabnya “Al-
Muwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku, dari Abu
Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Artinya :Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik.
 Hadits mu’allaq, Menurut bahasa, hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung.
Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di
awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan (tidakdisebutkan).
Contoh : Bukhari berkata :Kata Malik, dari Zuhri, dan Abu Salamah dari Abu Huraira,
bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain.

8
b. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi

Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Seperti pendusta,
fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil
pada rawi. Sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan
hafalannya, dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith
pada perawi. Adapun cacat pada matan, misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz
hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz
yang sebenarnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan kuantitas (banyaknya jumlah perawi) atau orang yang meriwayatkan suatu
hadits dapat dibagi menjadi dua, yaitu

1. Hadits mutawatir : suatu hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi yang menurut
kebiasaan mustahil mereka berdusta dan tidak terdapat kejanggalan didalamnya.
2. Hadits ahad : suatu hadist yang pemberitaannya tidak mencapai jumlah perawi hadist
mutawatir

Berdasarkan kualitas hadits dibagi menjadi tiga yaitu

1. Hadits sahih : hadist yang bersih dari cacat, hadist yang benar berasal dari nabi.

9
2. Hadits hasan : bagus atau baik, yaitu hadist yang sanadnya baik, tidak ada rawi yang dicurigai
berdusta.
3. Hadits dhoif : hadist yang kebenarannya lemah, dan tidak memenuhi hadist2 hasan dan
shahih.

B. Saran
Semoga dalam makalah ini dapat membantu para pembaca untuk mengerti akan klasifikasi
hadist dari segi kuantitas dan kualitasnya, namun kami sebagai penyusun makalah ini mohon maaf
apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam penjelasan, sebab dengan adanya referensi terbatas
yang kami peroleh dan buku-buku penunjang yang kurang kami pahami. Sekian terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Hadis

https://ms.wikipedia.org/wiki/Hadis_Mutawatir

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196509171990011-ACENG_KOSASIH/HADITS.pdf

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/129/jtptunimus-gdl-sofyanefen-6409-1-ebook--i.pdf

Ushul al-Hadits: ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, Beirut: Dar al-‘Ilmu li al-Malayin 1977

Nuruddin Itr ter: Mujiyo, Ulum Hadits, Bandung: Remaja Rosdakarya 1997 Hadits-Ilmu Hadits. Departemen Agama
RI. Jakarta, Oktober 1992.

10