Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

STUDI FIQIH

PENGERTIAN HADAST
Disusun guna memenuhi tugas
Dosen pengampu: YAZIDUL BUSTHOMI M.pdi

DISUSUN OLEH:

1. KHAIRUMAN (20178401011063)
2. HALIMATUS SA’DIYAH (20178401011152)

INSTITUT AGAMA ISLAM AL-QOLAM FAKULTAS TARBIYAH


PROGRAM STUDY S1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
MALANG
2018
Daftar isi

KATA PENGANTAR

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Rumusan masalah

BAB 2

PEMBAHASAN
A. Pengertian dan macam macam hadast
B. pengertian wudhu
C. Pengertian dan macam macam mandi
D. Pengertian tayamum

BAB 3

PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Daftar pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Fiqh (hukum islam) adalah salah satu bidang studi islam yang amat popular dan
melekat dalam kehidupan umat islam. Kajian Yurisprudensi (fikih) adalah salah satu
dari kajian yang paling luas dalam islam. Yurisprudensi telah dikaji pada skala yang
sangat luas sepanjang sejarah. Dengan fungsi dan sejarahnya yang demikian panjang
itu, maka fiqh sering pula disebut ilmu al-hal (ilmu yang berkaitan dengan tingkah laku
manusia) dalam berbagai aspek kehidupan
Adanya fikih yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan manusia itu menunjukkan
bahwa fikih memiliki keterlibatan dn kepedulian yang luar biasa terhadap kehidupan
mausia, yakni dengan cara memberi status hukum pada semua aspek kehidupan
tersebut, sehingga menjadi jelas bagi mereka,dan mendapatkan kepastian untuk
melakukannya atau meninggalkannya. Keberadaan fikih adalah merupakan akibat dari
keadaan manusia sebagai makhluk sosial atau sebagai realisasi dari kehidpan
bermasyarakat insani yang dlam mendapatkan berbagai kehidupan hidupnya ia mesti
berinteraksi dengan orang lain.
Sebagai kosenkuensi dari kenyataan manusia sebagai makhluk sosial, maka dengan
sendirinya memerluka adanya peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara
anggota-anggota asyarakat. Keadaan manusia semuanya mendorong dan menuntut
adanya kaiah-kaidah untuk mengatasi hak-hak dan mengatur cara cara
pelaksanaannya dari setiap anggota masyarakat dari seiap anggota masyarakat dalam
hubungan antara masyarakat dalam hubungan antara satu dengan lainnya.
Dengan demikian, fikih memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, fikih merupakan
respon atau jawaban atas berbagai masalah kehiupan manusia dari segi legalitasnya;
kedua, fikih merupakan akibat dari pelaksnaan fungsi manusia sebagai makhuk
bermasyarakat, agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut berjalan
tertib,aman damai dan harmonis; ketiga, fikih adalah hasil penalaran bebas terkendali,
bersumberkan pada nash al-quran dan al-sunnah;

B. RUMUSAN MASAH
A. Apa pengertian dan macam-macam hadast
B. Apa pengertian wudhu
C. Apa pengertian dan macam-macam mandi
D. Apa pengertian tayamum
BAB II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN DAN MACAM-MACAM HADAST
Hadas terdiri atas hadas besar dan hadas kecil dan cara menyucikannya.
Dalam pengertian hadas menurut definisi para ahli mengatakan bahwa pengertian
hadas adalah keluarnya sesuatu benda dari kubul dan dubur. Hadas dilakukan
untuk menyucikan diri kita. Hadas merupakan bagian dari taharah (bersuci) dimana
taharah terbagi atas dua yakni najis dan hadas. Setelah membahas pengertian
hadas, selanjutnya akan dibahas macam-macam atau jenis-jenis hadas yang
dapat teman-teman lihat seperti yang ada dibawah ini.
Macam-macam hadast dan cara menyucikan-nya
Seperti pembahasan diatas bahwa dalam macam-macam hadas terbagi atas dua
yakni hadas besar dan hadas kecil, antara lain sebagai berikut..

 Hadas Besar : Hadas besar adalah hadas yang terdiri atas air mani, haid
(menstruasi), nifas (mengeluarkan darah sesudah bersalin), dan wiladah atau
melahirkan. Cara menyucikannya dengan mandi atau tayamum apabila
tidak ada air. 
 Hadas Kecil   :  Hadas kecil adalah hadas yang mencakup keluarnya sesuatu
dari dua jalan (dubur dan kubul), hilangnya kesadaran karena mabuk atau
pingsan, tidur nyenyak, kecuali tidur sambil duduk, dan menyentuh
kemaluan dan dubur dengan telapak tangan. Cara menyucikannya dengan
berwudu atau tayamum. 

B. PENGERTIAN WUDHU

Wudhu secara bahasa berarti husnu/keindahan dan nadhofah/kebersihan.


Wudhu menurut istilah dalam syari’at, wudhu adalah menggunakan air pada
anggota badan tertentu dengan cara tertentu yang dimulai dengan niat guna
menghilagkan hadast kecil.
Dalil tentang keharusan wudhu

‫م إِلَى‬8ْ ‫ بِ ُر ُءو ِس ُك ْم َوأَرْ ُجلَ ُك‬8‫ق َوا ْم َسحُوا‬


8ِ ِ‫م َوأَ ْي ِديَ ُك ْم إِلَى ْال َم َراف‬8ْ ‫صاَل ِة فَا ْغ ِسلُوا ُوجُوهَ ُك‬
َّ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آَ َمنُوا إِ َذا قُ ْمتُ ْم إِلَى ال‬
‫ْال َك ْعبَي ِْن‬

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan(basuh)
kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. (Q.S Al Maidah [5] : 6)

Syarat-syarat wudhu
 Sudah baligh
 Tidak berhadast besar maupun kecil
 Menggunakan air yang suci mensucikan(air mutlak)
 Tidak ada yng menghalangi sampainya air ke kulit.
Fardhu (rukun) wudhu
 Membasuh muka
 Membasuh telinga kanan dan kiri
 Membasuh tangan sampai siku
 Mengusap sebagian rambut kepala
 Membasuh kedua telapak kaki sampai mata kaki
 Tertib
Sunnah wudhu
 Membaca bismillah ketika hendak memulai wudhu
 Mendahulukan anggota kanan dari pada yang kiri
 Mencuci telapak tangan sampai pergelangan
 Berkumur-kumur
 Membasuh lubang hidung(istinsyak)
 Mengusap seluruh rambut kepala
 Mengusap ke-2 telinga baik dalam maupun luar
 Menyilang-nyilangi jari tangan
 Menggosok anggota wudhu sebanyak 3 kali
Hal-hal yang membatalkan wudhu
 Keluarnya sesuatu dari kubul dan dubur/salah satu dari ke-2 nya
 Tidur kecuali apabila tidurnya dengan duduk dan masih dalam
keadaan semula.
 Hilang akal
 Menyentuh kubul/dubur dengan telapak tangan
 Bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan
C. PENGERTIAN MANDI

Mandi wajib ini adalah sebuah aturan dari Allah untuk umat muslim dalam
kondisi tertentu dan syarat tertentu. Bagaimana sebetulnya mandi wajib dan cara
untuk melaksanakannya, akan dibahas dalam artikel di bawah ini.

Dalam bahasa arab, mandi berasal dari kata Al-Ghuslu, yang artinya mengalirkan
air pada sesuatu. Menurut istilah, Al-Ghuslu adalah menuangkan air ke seluruh
badan dengan tata cara yang khusus bertujuan untuk menghilangkan hadast
besar.  Mandi wajib dalam islam ditujukan untuk membersihkan diri sekaligus
mensucikan diri dari segala najis atau kotoran yang menempel pada tubuh
manusia. Untuk itu, mandi wajib diharuskan sebagaimana dalam Ayat diatas.

Kondisi yang Mensyarakatkan Mandi Wajib dalam Islam


Dalam Islam, ada kondisi-kondisi dimana seorang muslim atau muslimah
diwajibkan untuk melaksanakan mandi (mandi wajib). Hal-hal tersebut membuat
seseorang terhalang untuk shalat, masuk ke dalam masjid, dan juga melaksanakan
ibadah lainnya karena dalam kondisi yang tidak suci.

1. Keluarnya Air Mani (Setelah Junub)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam
keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan (jangan
pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar
berlalu saja, hingga kamu mandi”. (QS : An-Nisa : 43)
Dalam ayat diatas ditunjukkan bahwa setelah berjunub (berhubungan suami istri),
yang dimana antara laki-laki atau perempuan akan mengeluarkan cairan dari
kemaluannya, maka wajiblah ia untuk melaksanakan mandi wajib setelahnya.
Sedangkan jika tidak, ia tidak bisa shalat dan menghampiri masjid, dan jika
dilalaikan tentu akan berdosa, karena meninggalkan yang wajib.
Selain itu, sebagaimana Rasulullah SAW dalam sebuah hadist, mengatakan bahwa
“Diriwayatkan dari Abu Sa’id berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Mandi
diwajibkan dikarenakan keluar air mani” (HR. Muslim)
“Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Ummu Sulaim berkata,’Wahai
Rasulullah sesungguhnya Allah tidak malu tentang masalah kebenaran, apakah
wanita wajib mandi apabila dia bermimpi? Nabi saw menjawab,’Ya, jika dia
melihat air.” (HR. Bukhori Muslim dan lainnya)
Sayyid Sabiq, seorang ulama fiqh mengatakan tentang persoalan keluarnya air
mani dan mandi wajib, hal-hal tersebut adalah berikut :

 Jika mani keluar tanpa syahwat, tetapi karena sakit atau cuaca dingin, maka
ia tidak wajib mandi.
 Jika seseorang bermimpi namun tidak mendapatkan air mani maka tidak
wajib baginya mandi, demikian dikatakan Ibnul Mundzir.
 Jika seseorang dalam keadaan sadar (tidak tidur) dan mendapatkan mani
namun ia tidak ingat akan mimpinya, jika dia menyakini bahwa itu adalah mani
maka wajib baginya mandi dikarenakan secara zhohir bahwa air mani itu telah
keluar walaupun ia lupa mimpinya. Akan tetapi jika ia ragu-ragu dan tidak
mengetahui apakah air itu mani atau bukan, maka ia juga wajib mandi demi kehati-
hatian.
 Jika seseorang merasakan akan keluar mani saat memuncaknya syahwat
namun dia tahan kemaluannya sehingga air mani itu tidak keluar maka tidak wajib
baginya mandi.
 Jika seseorang melihat mani pada kainnya namun tidak mengetahui waktu
keluarnya dan kebetulan sudah melaksanakan shalat maka ia wajib mengulang
shalatnya dari waktu tidurnya terakhir

2. Bertemunya/bersentuhannya alat kelamin laki-laki dan wanita,


walaupun tidak keluar mani

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila


seseorang duduk diantara anggota tubuh perempuan yang empat, maksudnya;
diantara dua tangan dan dua kakinya kemudian menyetubuhinya maka wajib
baginya mandi, baik mani itu keluar atau tidak.” (HR. Muslim dan
Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Apabila dua
kemaluan telah bertemu maka wajib baginya mandi. Aku dan Rasulullah saw
pernah melakukannya maka kami pun mandi.” (HR. Ibnu Majah)
Dari hadist di atas dapat dipahami bahwa bila suami-istri yang telah berhubungan
badan, walaupun tidak keluar mani, sedangkan telah bertemunya kemaluan dia
antara keduanya, maka wajib keduanya mandi wajib, untuk mensucikan diri.

3. Haid dan Nifas


“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu
kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu
haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila
mereka telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan
Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan
menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS : Al-Baqarah : 222)
Darah yang dikeluarkan dari proses Haidh dan Nifas statusnya adalah suatu
kotoran, najis, dan membuat tidak suci diri wanita. Untuk itu wanita yang telah
melewati haidh dan nifas, maka wajib baginya untuk bersuci dengan mandi wajib,
agar bisa kembali beribadah.  Hal ini disebabkan ada larangan saat haidh dan nifas
untuk melangsungkan shalat dan puasa, sebelum benar-benar suci dari hadast.
Sedangkan menundanya, merupakan kedosaan karena meninggal hal wajib, yang
dalam kondisi telah melewati haidh atau nifas.
Melakukan mandi atau Keramas saat haidh tentunya tidak menjadikan diri
muslimah suci, sebelum benar-benar berhentinya darah haidh dan nifas. Hal ini
pun sebagaimana dalam Hadist Rasulullah, wanita dalam kondisi haidh dilarang
shalat dan wajib untuk mandi setelahnya.
Sabda Rasulullah saw kepada Fatimah binti Abu Hubaisy ra adalah,”Tinggalkan
shalat selama hari-hari engkau mendapatkan haid, lalu mandilah dan shalatlah.”
(Muttafaq Alaih)
Sebetulnya bagi wanita, ada kondisi dimana melahirkan diwajibkan juga untuk
mandi wajib. Namun, hal ini terjadi perbedaan pendapat antar ulama fiqh. Secara
umum mewajibkan, sedangkan yang lainnya ada yang tidak mewajibkan.
Muslimah bisa mengambil mana yang sesuai dengan keyakinan hati dan
pertanggungjawaban masing-masing ulama.

4. Karena kematian                                 

“Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah saw bersabda dalam keadaan


berihram terhadap seorang yang meninggal terpelanting oleh ontanya,”Mandikan
dia dengan air dan daun bidara.” (HR.Bukhori Muslim)
Orang yang mengalami kematian, ia wajib untuk dimandikan. Untuk itu mandi
wajib ini berlaku pula bagi yang meninggal, walaupun ia bukan mandi oleh dirinya
sendiri, melainkan dimandikan oleh orang-ornag yang lain. Untuk pelaksanaannya,
maka setelah dimandikan ada pelaksanaan shalat jenazah dalam islam, sebagai
shalat terakhir dari mayit.

Rukun dan Cara Pelaksanaan Mandi Wajib


Cara mandi dalam islam disampaikan teknisnya oleh Rasulullah SAW, untuk
menunjukkan cara mensucikan diri yang benar. Untuk melaksanakan mandi wajib,
berikut cara-caranya yang diambil dari HR Muslim dan Bukhari, mengenai bab
tata cara pelaksanaan mandi wajib.

1. Niat untuk mengangkat hadas besar

Segala sesuatu berasal dari niatnya. Untuk itu, termasuk pada pelaksanaan mandi
wajib pun juga harus diawali dari niat. Untuk pelafadzan niat adalah “Aku berniat
mengangkat hadas besar kerana Allah Taala”. Setelah itu bisa kita mengucapkan
bismillah, sebagai permulaan untuk mensucikan diri. Hal ini dikarenakan ada
banyak fadhilah bismillah jika dibacakan seorang muslim dalam aktivitasnya.

2. Membasuh seluruh anggota badan yang zahir.

“Ummu Salama RA, aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang cara-cara
mandi, beliau bersabda, “Memadailah engkau jiruskan tiga raup air ke kepala.
Kemudiian ratakannya ke seluruh badan. Dengan cara itu, sucilah engkau” (HR
Muslim)
Membasuh semua anggota badan termasuk kulit atau rambut dengan air serta
meratakan air pada rambut hingga ke pangkalnya. Selain itu wajib juga membasuh
dengan air ke seluruh badan termasuk rambut-rambut, bulu yang ada pada seluruh
anggota badan, telinga, kemaluan bagian belakang ataupun depan.

3. Rambut dalam kondisi terurai/tidak terikat

Untuk mandi besar, maka rambut harus dalam kondisi terurai atau tidak terikat.
Hal ini untuk benar-benar mensucikan seluruh tubuh, sedangkan jika terikat maka
tidak sempurna mandinya. Dikhawtirkan tidak semua bagian dibasuh atau terkenai
air. Selain itu, bisa juga selepas dalam kondisi junub atau haidh bagi wanita
mencukur bulu kemaluan. Mencukur bulu kemaluan dalam islam adalah suatu
yang juga sangat dianjurkan dan mencukur bulu kemaluan pria dalam islam pun
sangat dianjurkan. Hal ini bisa menambah kebersihan, dan tidak banyak kotoran
yang bersisa yang masih melekat dalam bulu di badan.
Namun, perlu diperhatikan walaupun mencukup bulu-bulu atau rambut dianjurkan
dalam islam, namun berbeda dengan mencukur alis. Untuk itu, ada hukum
mencukur alis dalam islam yang perlu diperhatikan, terutama bagi kaum wanita.

4. Memberikan wewangian bagi wanita yang setelah haid

“Ambillah sedikit kasturi kemudin bersihkan dengannya”


Hal ini sifatnya tidak wajib, melainkan sunah saja. Untuk wanita, maka bisa
memberikan semacam wewangian ataupun sari-sari bunga yang bisa
membersihkan dan membuat wangi kemaluannya, dimana telah terkena darah haid
selama periodenya. Untuk itu di zaman Rasulullah diberikan bunga kasturi,
sedangkan di zaman sekarang ada banyak sari-sari bunga atau hal lainnya yang
bisa lebih membersihkan, mensucikan, dan membuat wangi.

Cara Mandi Wajib yang Baik Menurut Rasulullah


Hal-hal berikut adalah cara mandi yang baik menurut Rasulullah dalam hadist yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Muslim yang melaksanakannya maka
akan sesuai sebagaimana Rasulullah melakukannnya. Tahapannya adalah sebagai
berikut :

1. Terlebih dahulu mencucui tangan sebanyak tiga kali, sebelum tangan


tersebut digunakan mandi, atau dimasukkan ke dalam tempat pengambilang atau
penampungan air
2. Untuk membersihkan kemaluan dan kotoran, maka hendaklah untuk
menggunakan tangan kiri, bukan tangan kanan. Tangan kanan digunakan untuk
makan, sedangkan tidak mungkin menggunakannya untuk membersihkan
kemaluan.
3. Setelah membersihkan kemaluan, maka cucilah tangan dengan
menggosokkannya pada tanah, bisa juga dengan sabun agar hilang kotoran tersebut
dari tangan.
4. Berwudhu dengan cara berwudhu yang benar sesuai aturan/rukunnya dalam
islam, selagi akan melakukan shalat.
5. Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali
6. Mencuci kepala (keramas) mulai dari kepala bagian kanan ke bagian kiri dan
membersihkannya hingga sela-sela rambut, agar benar-benar bersih dan sempurna
7. Mengguyur air mulai dari sisi badan sebelah kanan lalu pada sisi sebelah kiri
Hal yang makruh saat melaksanakan mandi wajib

1. Menggunakan air secara berlebihan

“Nabi SAW mandi dengan segayung hingga lima gayung air dan berwudhu
dengan secupak air” (HR Bukhari dan Muslim)
“Cukuplah engkau mandi dengan segantang air. Lalu seorang lelalki berkata, ini
tidak mencukupi bagiku. Jabir menjawab, Ia telah pun mencukupi bagi orang yang
lebih baik dan rambutnya lebih lebat daripada engkau (yakni Rasulullah
SAW)” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist di atas dijelaskan oleh Rasulullah bahwa untuk melaksanakan mandi,
maka tidak perlu berlebihan menggunakan air. Air yang digunakan adalah
secukupnya dan tidak menghambur-hamburkannya. Hal ini mengingat bahwa
dalam ajaran islam tidak mengajarkan sikap berlebih-lebihan termasuk dalam
menggunakan sesuatu.

2. Mandi dari air yang tenang

“Janganlah seseorang daripada kamu yang junub mandi di dalam air yang
tenang. Orang ramai bertanya. Wahai abu hurairah bagaimanakah sepatutnya dia
lakukan? Abu hurairah menjawab, ambil air. (Dengan tangan atau bekas kecil
beserta niat mencedok sekiranya air itu sedikit, supaya tidak menjadi musta’mal
disebabkan bersentuh dengan tangan, atau ambil sedikit air dari bekas sebelum
berniat mengangkat janabah. Kemudia berniat, memasuh tangan, dan ambilah air
seterusnya dengan tangannya itu”
Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa hendaknya muslim yang akan melaksanakan
mandi wajib, menggunakan air yang mengalir.
D. PENGERTIAN TAYAMUM

Tayamum adalah cara bersuci selain mandi dan wudhu, tayamum juga merupakan
pengganti wudhu dan mandi untuk meringankan seseorang bersuci sebab tidak
dapat menggunakan air karena berbagai halangan.

Sedangkan pengertian Tayamum adalah Mengusapkan tanah atau debu ke muka


dan kedua tangan sampai siku dengan beberapa syarat yang telah ditentukan
sebagai pengganti wudhu dan mandi.
Hal ini berdasarkan firman Allah Swt dalam surat Al-maidah ayat : 6.

َ ‫ َما ًء فَتَيَ َّم ُموا‬8‫ض ٰى أَوْ َعلَ ٰى َسفَ ٍر أَوْ َجا َء أَ َح ٌد ِم ْن ُك ْم ِمنَ ْالغَائِ ِط أَوْ اَل َم ْستُ ُم النِّ َسا َء فَلَ ْم ت َِجدُوا‬
 ‫ص ِعيدًا‬ َ ْ‫َوإِ ْن ُك ْنتُ ْم َمر‬
ُ‫م ِم ْنه‬8ْ ‫ بِ ُوجُو ِه ُك ْم َوأَ ْي ِدي ُك‬8‫طَيِّبًا فَا ْم َسحُوا‬

Artinya:
"Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air
atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu
dengan tanah itu" (Q.S Al-Maidah :6)

Baca juga : Niat wudhu dan doa setelah wudhu

Berdasarkan ayat diatas sebab-sebab seseorang di perbolehkan untuk bertayamum


ialah.
1. Karena sakit, di khawatirkan jika memakai air dapat dapat menambah parah
dan memperlambat kesembuhan sakit yang di derita.
2. Karena dalam perjalanan.
3. Karena tidak ada Air.

Syarat-Syarat Tayamum
Tayamum juga mempunyai syarat-syarat tertentu diantaranya yaitu:
1. Sudah masuk waktu Sholat
2. Sudah berusaha mencari air namun namun tidak menemukannya, sedangkan
sudah masuk waktu sholat (kecuali bagi orang yang bertayamum karena sakit atau
sudah yakih di sekitar tempat tersebut tidak ada air)
3. Menggunakan tanah yang suci dan berdebu (pendapat ini menurut imam
syafi’i sedangkan menurut imam lainnya boleh menggunakan tanah, pasir atau bisa
juga menggunakan batu).
4. Menghilangkan najis sebelum melakukan tayamum.
Rukun Tayamum
1. Niat karena akan melaksanakan sholat, bukan semata-mata untuk
menghilangkan hadast.
2. Mengusap muka dengan tanah.
3. Mengusap kedua tangan sampai ke siku dengan tanah
4. Menertibkan rukun-rukun tersebut.
Tata Cara Bertayamum
Untuk tata cara bertayamum adalah sebagai berikut:

1. Membaca Basmalah
2. Niat, niat dalam hati untuk melakukan tayamum karena Allah Swt
Berikut ini adalah bacaan niat tayamum.
‫صالَ ِة فَرْ ضً ِهللِ تَ َعالَى‬ َ َ‫ْت التَّيَ ُّم َم اِل ِ ْستِب‬
َّ ‫اح ِة ال‬ ُ ‫نَ َوي‬

Nawaitut tayammuma li-istibahatis sholaati fardhal lillaahi ta'aalaa

Artinya:
"Sengaja aku  bertayamum untuk melakukan sholat, fardhu karena Allah Ta'ala"

3. Menepukkan kedua tangan ke tanah, lalu menipiskannya dengan meniup-niup


atau mengibaskannya.
4. Mengusap kedua tangan hingga pergelangan tangan
5. Tertib (berurutan)
6. Membaca doa setelah selesai wudhu
Sunahnya Tayamum
Hal-hal yang disunahkan dalam tayamum adalah:

1. Membaca Basmalah
2. Meniup atau menghembuskan debu dari dua telapak tangan agar debu yang
ada di tangan menipis.
3. Membaca dua kalimat Syahadat sesudah selesai tayamum
Hal-hal yang membatalkan tayamum

1. Semua hal yang membatalkan wudhu


2. Ada air, jika yang bertayamum dikarenakan tidak ada air, itu pun jika terjadi
sebelum sholat ,kalau sudah selesai sholat maka tidak batal tayamumnya.
Nabi Saw bersabda :

‫ك َولَوْ لَ ْم ت َِج ِد ْال َما َء َع َش َر ِسنِ ْينَ فَاِ َذا َو َجدْتَ ْال َما َء‬
8َ َ‫التُّ َرابُ َكافِي‬:‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬
َ ِ‫ع َْن اَبِى َذ ٍر قَا َل َرسُوْ ُل هللا‬
َ ‫فَا َ ِم َّسهُ ِج ْل َد‬
‫ك‬
Artinya:
"Dari Abi Zar: Rasulullah saw bersabda: "Tanah itu cukup bagimu untuk bersuci
malau engkau tidak mendapat air selama 10 tahun, tetapi jika engkau memperoleh
air,maka sapukan air itu pada kulitmu." (H.R Tirmidzi)

Beberapa masalah yang berkaitan dengan tayamum yaitu:

1. Bagi orang yang bertayamum karena tidak ada air, tidak wajib mengulangi
sholatnya apabila setelah itu ia mendapat air, sedangkan orang yang bertayamum
karena junub, wajib mandi setelah mendapatkan air bila akan mengerjakan sholat
berikutnya, karena tayamum tidak menghilangkan hadast melainkan hanya
memperbolehkan sholat karena darurat.
2. Kekuatan hukum tayamum sama dengan wudhu oleh karena itu satu kali
tayamum boleh digunakan untuk beberapa kali sholat fardhu ataupun sunah, bagi
orang yang bertayamum karena tidak dapat menggunakan air. namun demikian
sebagian ulama berpendapat bahwa tayamum hanya dapat di gunakan untuk sekali
sholat fardhu dan beberapa kali sholat sunah.
3. Tayamum juga boleh bagi orang yang luka atau karena suhu sangat dingin,
dikarenakan luka merupakan termasuk dalam arti sakit dan kedinginan yang amat
sangat bisa membuat orang sakit.
Untuk Orang yang sedang luka Nabi Saw menjelaskan dalam sebuah hadist berikut
ini.

‫ َر َج َس ِد ِه‬8ِ‫ب ع َٰلى جُرْ ِح ِه ثُ َّم يَ ْم َس ُح َعلَ ْي ِه َويَ ْغت َِس ُل َسا ِٔٔى‬ َ ‫اِنَّما َ َكانَ يَ ْكفِ ْي ِه اَ ْن يَتَيَ َّم َم َويَع‬
َ ‫ْص‬
Artinya:
"Sebenarnya cukup ia tayamum saja dan di ikat lukanya, lalu kemudian disapu
dengan air di ikatannya itu, dan dibasuh seluruh badannya." ( H.R Abu Daud dan
Daruqutni)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bersuci merupakan persyaratan dari beberapa macam ibadah, karena itu bersuci
memperoleh tempat yang utama dalam ajaran Islam. Berbagai aturan dan hukum
ditetapkan oleh syara dengan maksud antara lain agar manusia menjadi suci dan
bersih baik lahir maupun batin.
Kesucian dan kebersihan lahir dan batin merupakan pangkal keindahan dan
kesehatan. Oleh karena itu hubungan kesucian dan kebersihan dengan keindahan
dan kesehatan erat sekali. Pokok dari ajaran islam tentang pengaturan hidup bersih,
suci dan sehat bertujuan agar setiap muslim dapat melaksanakan tugas dan
kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi.
Kebersihan dan kesucian lahir dan batin merupakan hal yang utama dan terpuji
dalam ajaran Islam, karena dengan kesucian dan kebersihan dapat meningkatkan
derajat harkat dan martabat manusia di hadirat Allah SWT

B. Daftar pustaka

http://www.artikelsiana.com/2014/12/pengertian-hadas-macam-macam-
hadas.html

http://www.masuk-islam.com/pembahasan-tentang-wudhu-lengkap.html

https://dalamislam.com/info-islami/mandi-wajib