Anda di halaman 1dari 16

KASUS KEJAHATAN FINTECH (FINANCIAL

TECHNOLOGY) RUPIAH PLUS DI INDONESIA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bank dan Lembaga Keuangan
Bukan Bank
Dosen Pengampu : Dr. Kristiani, M.Si

Disusun Oleh Kelompok 10/Kelas B :

Firani Zofiroh (K7617036)


Isna Samrotul F. (K7617045)
Reynaldi Sanjaya (K7617065)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas kehadirat-Nya yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga tugas mata kuliah Bank
dan Lembaga Keuangan Bukan Bank tentang “Kasus Kejahatan Fintech
(Financial Technology) Rupiah Plus di Indonesia” dapat selesai tepat waktu.

Makalah ini telah disusun secara maksimal dengan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar penyusunan makalah ini. Terimakasih kepada
semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, disadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Kritik dan saran dari
pembaca akan diterima dengan tangan terbuka karena dapat memperbaiki makalah
ini.

Akhir kata, semoga makalah tentang “Kasus Kejahatan Fintech (Financial


Technology) Rupiah Plus di Indonesia” dapat memberikan inspirasi dan
bermanfaat bagi kita semua.

Surakarta, 25 Mei 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .....................................................................................
KATA PENGANTAR .....................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .....................................................................................
B. Rumusan Masalah ................................................................................
C. Tujuan Penulisan...................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Kasus Fintech yang Terjadi di Indonesia ..........................................
B. Definisi Fintech
C. Bentuk Pelanggaran Hukum dari Fintech
D. Faktor Penyebab Fintech Ilegal
E. Kronologi Pelanggaran Hukum Fintech
F. Solusi Mengurangi Kasus Fintech
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lembaga Jasa Keuangan adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang
usahanya bergerak di bidang jasa keuangan. Artinya, kegiatan yang dilakukan
oleh lembaga tersebut  akan selalu berkaitan dengan bidang keuangan, apakah itu
penghimpunan dana masyarakat dan/atau jasa-jasa keuangan lainnya. Menurut SK
Menkeu RI N0. 792 Tahun 1990, Lembaga Keuangan adalah suatu badan yang
kegiatannya bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana
kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan. Meski dalam
peraturan tersebut lembaga keuangan diutamakan untuk membiayai investasi
perusahaan, namun tidak berarti membatasi kegiatan pembiayaan lembaga
keuangan. Dalam kenyataannya, kegiatan usaha lembaga keuangan bisa
diperuntukkan bagi investasi perusahaan, kegiatan konsumsi, dan kegiatan
distribusi barang dan jasa.

Era teknologi merupakan sebuah zaman di mana kehidupan dan aktivitas


masyarakat akan lebih mudah dan efektif dengan adanya peran dunia digital.
Salah satu jenis start-up yang mulai naik daun adalah pada bidang Fintech.
Fintech adalah sebuah sebutan yang disingkat dari kata ‘financial’ dan
‘technology’ di mana artinya adalah sebuah inovasi di dalam bidang jasa
keuangan. Seharusnya dengan adanya Fintech dapat membantu masyarakat untuk
lebih mudah mendapatkan akses terhadap produk yang diberikannya, akan tetapi
pamor industri layanan pinjaman online atau financial technology peer to peer
lending (finctech P2P) sebagai alternatif jasa keuangan konvensional tampaknya
masih harus menempuh jalan panjang. Selama tahun 2018, bukan kinerja
maksimal yang jadi sorotan melainkan berbagai permasalahan hukum melekat
dengan industri ini. Mulai praktik penagihan bermasalah hingga penyalahgunaan
data pribadi kerap dilakukan perusahaan fintech kepada nasabahnya.
Rupiah Plus merupakan aplikasi pinjaman online yang menjadi sarana
pinjaman cepat cair dalam 2 jam. Dengan mengunduh dan menginstal aplikasi
tersebut melalui Google Play Store memungkinkan pengguna mengajukan
pinjaman secara cepat melalui Smartphone. Kehadiran layanan ini menjadi bukti
bahwa pertumbuhan Fintech Lending Peer to Peer di Indonesia sangat pesat dan
bermanfaat. Mengingat layanan Rupiah Plus diciptakan untuk menutup
kekurangan lembaga keuangan seperti Bank maupun Koperasi sehingga syarat
pengajuan bisa dibilang mudah, hanya perlu mengisi identitas diri, alamat, kontak,
rekening bank, dan data pekerjaan/penghasilan, sedangkan persyaratan yang
dibutuhkan hanyalah foto diri dan KTP saja. Peminjaman ini tidak memerlukan
agunan untuk persyaratan.

Dengan segala kemudahan yang ditawarkan, ternyata tidak mampu


menjamin bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Rupiah
Plus pun mengalami kehilangan kepercayaan dari nasabahnya. Debt Collector
Rupiah Plus telah melakukan pelanggaran terhadap SOP penagihan pembayaran.
Dengan adanya pelanggaran yang dilakukan, adalah tugas bagi pihak-pihak terkait
supaya pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak terjadi kembali di kemudian hari.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, adapun rumusan masalah yang akan


dibahas yaitu sebagai berikut.
1. Bagaimana kasus Fintech yang terjadi di Indonesia?
2. Apa definisi dari kasus Fintech?
3. Apa bentuk pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Fintech?
4. Apa yang menjadi penyebab terjadinya Fintech Ilegal?
5. Bagaimana kronologi terjadinya kasus Fintech?
6. Bagaimana solusi untuk mengurrangi kasus Fintech?
C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan disusunnya makalah adalah


sebagai berikut.

1. Mengetahui kasus Fintech yang terjadi di Indonesia.


2. Mengetahui definisi dari kasus Fintech.
3. Mengetahui bentuk pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Fintech.
4. Mengetahui faktor penyebab terjadinya Fintech Ilegal.
5. Mengetahui kronologi terjadinya kasus Fintech.
6. Mengetahui solusi untuk mengurrangi kasus Fintech.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kasus Fintech yang terjadi di Indonesia

Penagihan kredit bermasalah, fintech Rupiah Plus


minta maaf

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Layanan financial technology (fintech)


Rupiah Plus menyatakan permohonan maaf atas penagihan utang kepada nasabah
yang dilakukan secara paksa oleh agen atau pihak yang bekerja untuk perusahaan.
Direktur Rupiah Plus, Bimo Adhiprabowo mengatakan, sangat menyesali adanya
penagihan utang kepada nasabah melalui tindakan yang tidak menyenangkan,
seperti mengancam, intimidasi, pelecehan serta penagihan kepada pihak ketiga
yang tidak memiliki hubungan dengan nasabah.
“Tindakan-tindakan penagihan utang tersebut sudah melanggar dan bukanlah
bagian dari Standard Operating Procedure resmi penagihan dari Rupiah Plus.
Karenanya kami sama sekali tidak membenarkan tindakan-tindakan tersebut,”
kata Bimo, dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Minggu (7/1).
Berdasarkan penyelidikan internal, RupiahPlus menemukan bukti bahwa
penagihan hutang dilakukan di luar standar operasional perusahaan oleh beberapa
kolektor Rupiah Plus.
Atas pelanggaran tersebut, perusahaan telah melakukan tindakan tegas terhadap
pihak terkait, sesuai hukum dan ketentuan yang berlaku.
Selain diselesaikan melalui jalur hukum, Rupiah Plus juga telah berkoordinasi
langsung dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melaporkan tindakan-
tindakan yang termasuk dalam pelanggaran.
Dalam hal ini, perusahaan akan berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah
yang diperlukan demi menyelesaikan masalah tersebut, sehingga nasabah dan
masyarakat tidak lagi dirugikan.
Ke depan, RupiahPlus berupaya untuk terus meningkatkan mutu dan kualitas
pelayanan, karena keamanan dan kenyamanan nasabah adalah prioritas utama
Rupiah Plus.
“Kami sangat berterima kasih atas berbagai kritik dan saran dari nasabah,
masyarakat, maupun OJK sehingga dapat menjadi masukan berharga bagi
perbaikan internal RupiahPlus dalam menjalankan misi inklusi keuangan di
Indonesia,” pungkasnya.
Sebelumnya, netizen di media sosial ramai memperbincangkan penagihan yang
dilakukan Rupiah Plus yang dinilai merugikan karena menyalahgunakan data
pribadi nasabah.
Sebab, Rupiah Plus mengakses kontak ponsel nasabah apabila terjadi
keterlambatan dan gagal bayar. Padahal, banyak kontak nasabah yang tidak
mengetahui apa-apa terkait pinjaman tersebut.
Diketahui, Rupiah Plus merupakan salah satu aplikasi layanan pinjam-meminjam
berbasis teknologi informasi dimana calon peminjam dapat mengajukan pinjaman
tanpa agunan. (https://keuangan.kontan.co.id/news/penagihan-kredit-bermasalah-
fintech-rupiah-plus-minta-maaf)

B. Definisi Fintech

Fintech adalah sebuah sebutan yang disingkat dari kata ‘financial’ dan
‘technology’ di mana artinya adalah sebuah inovasi di dalam bidang jasa
keuangan. Dalam peraturan Bank Indonesia No. 19/12/PBI/2017 tentang
Penyelenggaraan Teknologi Finansial (PBI Tekfin) menyatakan bahwa Teknologi
Finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang
menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat
berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi,
kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran. Inovasi yang
ditawarkan Fintech sangat luas dan dalam berbagai segmen, baik itu B2B
(Business to Business) hingga B2C (Business to Consumer). Beberapa contoh
bisnis yang tergabung di dalam Fintech adalah:

 Proses jual beli saham,


 Pembayaran,
 Peminjaman uang (lending) secara peer to peer,
 Transfer dana,
 Investasi ritel,
 Perencanaan keuangan (personal finance),
 Dan lainnya.

Fintech bertujuan untuk membuat layanan finansial atau perbankan


menjadi lebih efisien karena memanfaatkan kehadiran teknologi. Dalam diskusi
panel Indonesia FinTech Conference di Jakarta dikatakan bahwa para pelaku
financial technology ini mayoritas adalah start-up yang hadir untuk bersinergi
dengan bank.

Akan tetapi baru-baru ini muncul berbagai permasalahan hukum terkait


industri financial technology. Salah satu kasus yang sempat mencuat ke publik
yaitu penagihan kredit perusahaan fintech RupiahPlus (RP) pada Juni lalu.  Kasus
ini menjadi perbincangan publik di media sosial hingga akhirnya diperiksa OJK
setelah ada beberapa rekan debitur RP menceritakan kisahnya di media sosial.
Para rekan debitur tersebut merasa terganggu karena merasa tidak tahu-menahu
dengan utang milik rekannya tersebut. Selain itu, rekan-rekan debitur tersebut
juga mengeluhkan penagihan perusahaan fintech tersebut dilakukan secara kasar
dan intimidatif.

Maraknya dugaaan pelanggaran tersebut tidak bisa dianggap sepele.


Pasalnya, berbagai lembaga seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) telah menerima pengaduan
masyarakat yang menjadi korban pelanggaran hukum perusahaan fintech tersebut.
C. Bentuk Pelanggaran Hukum dari Fintech

Setidaknya, terdapat empat kategori bentuk pelanggaran hukum yang paling


mencuri perhatian dalam industri fintech. Berbagai bentuk pelanggaran hukum
tersebut sebagai berikut:

1. Fintech Ilegal
Setiap perusahaan fintech yang beroperasi memberi layanan kepada
masyarakat harus terlebih dahulu mengantongi izin dari OJK. Ketentuan ini
terdapat dalam Pasal 7 dan 8 POJK Nomor 77 Tahun 2016 tentang Layanan
Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Apabila, perusahaan
tersebut tidak mendaftar maka dikategorikan sebagai perusahaan fintech
ilegal.
Terdapat perbedaan signifikan antara perusahaan fintech berizin dengan
ilegal. Pengawasan perlindungan konsumen diatur lebih ketat pada
perusahaan fintech berizin. Apabila, terjadi sengketa antara nasabah dengan
perusahaan fintech maka ada regulator yang menjadi penengah kedua belah
pihak. Sisi lain, perlindungan konsumen yang menggunakan layanan
perusahaan fintech ilegal sangat lemah. Lemahnya pengawasan tersebut
menyebabkan perusahaan fintech ilegal ini melakukan berbagai pelanggaran
terhadap nasabahnya. Bentuk pelanggaran tersebut berupa pencurian data
pribadi, penetapan suku bunga pinjaman tinggi hingga penagihan intimidatif.

2. Penagihan Intimidatif
Penagihan intimidatif perusahaan fintech merupakan salah satu
pelanggaran hukum paling disoroti publik saat ini. Perusahaan tersebut sering
kali menagih dengan menggunakan kata-kata kasar hingga ancaman
kekerasan kepada nasabahnya yang menunggak pengembalian utang.

Berdasarkan laporan LBH Jakarta, pelanggaran hukum ini tidak hanya


dilakukan perusahaan fintech ilegal tapi juga perusahaan berizin. Mekanisme
penagihannya, perusahaan fintech tersebut menggunakan divisi internal atau
desk collection atau pihak ketiga. Penagihan secara intimidatif merupakan
praktik erlarang dilakukan di perusahaan fintech. Ketentuan tersebut
tercantum dalam kode etik dan perilaku atau Code of Conduct Asosiasi
Fintech Indonesia (Aftech). Dalam kode perilaku tersebut mewajibkan
seluruh perusahaan fintech mengedepankan iktikad baik dalam penagihan
pinjaman kepada nasabah. 

3. Suku Bunga Pinjaman Tinggi


Persoalan tingkat suku bunga pinjaman tinggi juga menambah rangkaian
permasalahan dalam industri fintech. Digadang-gadangkan dapat
menawarkan suku bunga pinjaman lebih rendah, industri fintech justru
menetapkan bunga lebih tinggi dibandingkan perbankan dan perusahaan
pembiayaan. OJK pernah menyatakan tingkat suku bunga pinjaman
perusahaan fintech legal saja sudah mencapai 19 persen per bulan.
Sedangkan, jumlah tingkat suku bunga perusahaan fintech ilegal di atas rata-
rata industri. Bahkan, perusahaan fintech ilegal ini menawarkan bunga bisa 2-
3 persen per hari.

4. Penggunaan Data Pribadi


Kerawanan penyalahgunaan data pribadi nasabah fintech juga menjadi terus
menjadi persoalan saat ini. Kecanggihan teknologi saat ini membuat
perusahaan fintech dapat mengakses data pribadi seperti riwayat telepon dan
daftar kontak pada telepon genggam atau smartphone nasabah. Sehingga,
dengan mengakses data tersebut memungkinkan perusahaan fintech dapat
mengetahui profil pribadi nasabah tanpa bertemu langsung.
D. Faktor Penyebab Fintech Bermasalah

Terdapat empat faktor yang menyebabkan merebaknya fintech ilegal di Indonesia.


Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Permintaan Kredit Lebih Tinggi Dibandingkan Persediaan Pinjaman


Lembaga keuangan yang ada di Indonesia memiliki batasan-batasan
mengenai jumlah kredit yang boleh dilakukan oleh para nasabah, sedangkan
permintaan akan jumlah kredit terus bertambah seiring pertambahan
permintaan modal dan kebutuhan manusia. Dari hal tersebut, mendorong
Fintech hadir memberikan permodalan maupun kredit yang lebih tinggi
dengan syarat-syarat yang diberikannya lebih ringan dan mudah.
2. Industri Fintech Merupakan Terobosan Terbaru Bagi Pihak yang
Membutuhkan Dana
Dengan adanya kecanggihan teknologi, maka hal tersebut dimanfaatkan
industri Fintech untuk menyaingi keberadaan Bank Konvensional dengan
mampu menarik nasabah yang ingin meminjam dana atau membutuhkan dana
dengan waktu yang cepat tanpa prosedur yang panjang seperti saat meminjam
uang di Bank Konvensional.
3. Proses untuk Mendapatkan Pinjaman Lebih Cepat dan Mudah
Waktu yang dibutuhkan untuk proses peminjaman uang di Fintech sangatlah
cepat, pada umumnya meminjam uang di Fintech dapat dicairkan hari itu
juga. Hal inilah yang membuat nasabah sangatlah tertarik dengan layanan
yang ditawarkan oleh lembaga Fintech. Nasabah pun banyak yang tergiur dan
terlanjur mempercayai lembaga tersebut.
4. Fintech Ilegal Menggunakan Teknologi Via Mobile dan Internet yang
Sangat Terbuka Bagi Siapapun.
Saat ini, semua berjalan dengan mudah dengan adanya internet dan
smartphone yang sudah menjadi umum bagi orang-orang yang memilikinya.
Aplikasi pendukung kegiatan sehari-hari pun menjadi idaman bagi para
penggunanya, salah satunya adalah aplikasi Fintech yang menjadi kebutuhan
bagi sebagian orang karena mudahnya proses peminjaman.
E. Kronologi Pelanggaran Hukum Fintech

Awal mula peminjam meminjam uang menggunakan aplikasi Fintech


Rupiah Plus. Pada saat harus membayar pinjaman yang disertai dengan bunga,
nasabah tersebut belum memiliki dana untuk dibayarkan. Setelah adanya
tunggakan pembayaran tersebut, akhirnya Desk Collector Fintech Rupiah Plus
mulai meneror nasabah tersebut melalui aplikasi Whatsapp, sms, dan lain
sebagainya yang isinya berbagai ancaman dan makian. Ancaman tersebut berupa
ancaman untuk menghubungi pihak ketiga yaitu nomor-nomor yang ada di
kontak nasabah untuk memberi tahu bahwa nasabah tersebut telah meminjam
sejumlah uang dan tidak sanggup membayar. Selain itu, ancaman lain yang
diberikan juga berupa ancaman untuk menyebarluaskan foto di media sosial
dengan keterangan membawa kabur uang.

Melalui ancaman-ancaman tersebut yang dirasa terlalu berlebihan dan


memalukan, maka nasabah yang menjadi korban teror Desk Collector Fintech
Rupiah Plus pun melaporkannya kepada pihak berwajib atas pelanggaran UU
ITE.

Layanan peminjaman RupiahPlus mengakui beberapa oknum penagih


hutang melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam Prosedur Standar
Operasional (SOP). RupiahPlus pun meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Direktur RupiahPlus Bimo Adhiprabowo mengatakan salah satu penyebab
pelanggaran SOP oleh para kolektor adalah bonus yang dijanjikan oleh Direktur
Utama (CEO) RupiahPlus Rebecca Wang memberikan bonus Lebaran.
Bonus Lebaran ini bagi kolektor yang berhasil menagih peminjaman dari pihak
peminjam. Bimo menceritakan tujuan Rebecca adalah untuk memberikan
kesejahteraan para kolektor saat Lebaran. "Kami cerita ke CEO kita bahwa bulan
Lebaran mereka ingin punya uang. Pulang ke kampungnya bangga dengan
keberhasilan di kota," kata Bimo kepada CNNIndonesia di bilangan Grogol,
Jakarta Barat, Senin (23/7).

Kendati demikian, Bimo mengatakan beberapa oknum akhirnya malah


melakukan segala cara untuk melakukan penagihan. Di antaranya adalah
mengakses kontak di luar kontak yang sudah didaftarkan pemimjam, selain itu
melakukan ancaman dan makian. Bimo mengatakan peminjam harus
memasukkan nomor ponselnya dan minimal dua nomor darurat. Akhirnya
kolektor ini pakai ancaman, makian, lalu menghubungi kontak yang tidak
terdaftar sehingga jadi viral. Tidak selayaknya dan sepantasnya dalam
melakukan penagihan Sebetulnya tujuan CEO baik. Untuk memotivasi dan
membantu para pegawai.

Bimo menegaskan dalam SOP RupiahPlus, tidak tertulis untuk mengakses daftar
kontak menghubungi nomor telepon. Bimo mengatakan itu sudah jelas
melanggar hak privasi seseorang. Bimo mengatakan apabila peminjam terlambat
membayar jatuh tempo dan tidak dapat dihubungi, RupiahPlus akan memberikan
datanya tersebut ke Sistem Layanan Informasinya Keuangan (SLIK) Otoritas
Jasa Keuangan (OJK). Nantinya, peminjam tidak dapat melakukan transaksi
peminjaman di seluruh fintech peminjaman uang.

Kolektor di RupiahPlus disebut dengan desk collecor karena mereka hanya


menagih lewat panggilan telepon atau pesan singkat. Bimo mengatakan pada
awal bulan pihaknya telah memecat enam kolektor yang melakukan
pelanggaran. Saat ini angka tersebut bertambah menjadi sembilan kolektor.
Bimo mengatakan angka ini masih akan terus berkembang karena proses
investigasi masih berlangsung.

Direktur Hubungan Masyarakat OJK Hari Tangguh Wibowo mengatakan pihaknya telah
memberikan Surat Peringatan (SP) 1 kepada Rupiah Plus pada 5 Juli 2018. Dengan
demikian, terhitung sejak awal Juli itu perusahaan tak bisa melanjutkan proses
perizinannya hingga tiga bulan ke depan, dengan kata lain proses perizinannya
dibekukan. Usai OJK mengeluarkan SP 1 ini, kata Hari, perusahaan perlu menyesuaikan
program kerjanya kembali. Dengan demikian, hal itu berdampak pada ketertarikan
investor baru yang sebelumnya berminat untuk menanamkan saham di Rupiah Plus.
Secara terpisah, Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sarjito
mengatakan salah satu poin yang diminta OJK kepada Rupiah Plus adalah pembenahan
manajemen internal perusahaan karena selama ini direkturnya saja hanya satu dan
merupakan warga negara asing. Menurut Sarjito, kondisi itu menggambarkan situasi
sumber daya manusia (SDM) di Rupiah Plus sebenarnya belum memadai. Saat ini
Rupiah Plus sudah mengganti namanya dengan Rupiah Plus Perdana yang keterangan
di Google pLaystore adalah tidak akan lagi mengganggu data pribadi nasabah.

F. Solusi Mengurangi Kasus Fintech

Berdasarkan beberapa kasus yang pernah terjadi, dirumuskan beberapa saran atau
cara menghindari kejahatan Fintech terjadi lagi, antara lain:

1. Bagi pemerintah
a. Pemerintah Melakukan Pengawasan Lebih Ketat
Sebagaimana Bank Indonesia yang menerbitkan peraturan Nomor
19/12/PBI/2017 tentang penyelenggaraan teknologi finansial. Pengawasan
perlindungan konsumen diatur lebih ketat pada perusahaan fintech berizin.
Apabila, terjadi sengketa antara nasabah dengan perusahaan fintech maka ada
regulator yang menjadi penengah kedua belah pihak. Hal yang sama juga
dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menerbitkan peraturan
Nomor tentang 77/POJK.01/2016 layanan pinjam meminjam basis TI. Selain
itu, OJK bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika
(Kemenkominfo) serta Kepolisian RI telah melakukan pemblokiran operasi
yang dilakukan oleh layanan fintech tak berizin (ilegal) meskipun sampai
sekarang masih ada fintech ilegal yang bermunculan.
b. Pemerintah Memberikan Edukasi Kepada Masyarakat
Edukasi yang diberikan kepada masyarakat terkait fintech dan antisipasi
tindak kecuraangan yang mungkin dilakukan oleh pihak industri fintech.
Masyarakat dihimbau untuk menggunakan layanaan fintech yang telah
memiliki izin resmi dari OJK.

2. Bagi Masyarakat
a. Masyarakat lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan
aplikasi pinjaman online.
Masyarakat haruslah lebih jeli dalam memilih aplikasi pinjaman
online, pastikan aplikasi pinjaman onlie tersebut terdaftar di OJK
dan mempunyai review yang bagus dari pengguna-penggunanya.
b. Masyarakat sebaiknya meminjam uang sesuai kebutuhan saja
dan pastikan sesuai dengan kemampuan untuk membayr pula.
Masyarakat harus memastikan uang yang dipinjam benar akan
digunakan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Selain itu,
nasabah juga harus memastikan bahwa pengasilannya cukup untuk
membayar pinjamannya tersebut beserta dengan bunganya.