Anda di halaman 1dari 9

PERMASALAHAN REMAJA

KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN

Oleh:

MONICA MUASLIMAH (P07124519001)


LINDA NUR WAHYUNI (P07124519002)
TIARA VALENTINA (P07124519003)
SEPTI WAHANA P (P07124519004)
RIZKI LUTFAIDA (P07124519005)
SRIYULAN ISMAIL (P07124519006)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN


JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
2020
A. TEORI
1. Pengertian Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD)
Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) juga bisa diartikan sebagai
Kehamilan Tidak Dikehendaki (unintended Pregnancy). Kehamilan yang tidak
dikehendaki adalah kehamilan  yang terjadi baik karena alasan waktu yang tidak
tepat (mistimed) atau karena kehamilan tersebut tidak diinginkan (unwanted).1
Ketika seorang perempuan tidak menginginkan kehamilan ketika terjadi
pembuahan (konsepsi), tapi masih menginginkan kehamilan di masa mendatang,
maka kehamilan tersebut bisa dikategorikan sebagai kehamilan yang terjadi tidak
pada waktu yang direncanakan (mistimed / unplanned).
Ketika seorang perempuan tidak menginginkan kehamilan yang terjadi dengan
berbagai alasan dan tidak ingin ada kehamilan di kemudian hari, maka kehamilan
tersebut bisa dikategorikan sebagai kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted).
Bisa juga ketika suatu kehamilan harus dialami oleh seorang perempuan, pada
suatu kondisi dimana perempuan tersebut belum melakukan suatu ikatan yang sah
menurut norma-norma yang ada (baik norma agama maupun norma hukum yang
berlaku), maupun secara psikis belum siap menerima kehamilan yang dialaminya.2
Seks pranikah bagi masyarakat Indonesia masih dipandang sebagai perbuatan
yang tidak bisa diterima, baik secara sosial maupun budaya. Menurut Bearack et al.
(2018) terdapat 30 persen kehamilan tidak diinginkan di negara maju sedangkan
16 persen di negara berkembang dan terjadi di usia 15 sampai 44 tahun. 3 Di
Indonesia, terdapat 86% kelahiran dari kehamilan yang diinginkan, 7% kelahiran
dari kehamilan yang tidak direncanakan dan 7% kelahiran dari kehamilan tidak
diinginkan.4
2. Etiologi Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD)
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kehamilan tidak diinginkan pada
seorang wanita. Menurut Winarti, et al. (2011), pada perilaku seksual pranikah
menunjukkan bahwa dari 362 responden, 43 responden (11,9%) mengaku telah
melakukan intercourse dan 319 responden (88,1%) mengaku tidak melakukan
intercourse. Hal ini berarti bahwa perilaku seksual yang dilakukan responden
dengan melakukan intercourse dengan persentase 11,9% dapat menyebabkan
terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) yang sebagian besar dilakukan
oleh responden laki-laki (74,4%).5
Faktor yang menyebabkan KTD antara lain : 1
a. Kegagalan alat kontrasepsi
b. Pada remaja, disebabkan karena remaja kurang informasi (masih banyak mitos
seksual yang beredar di kalangan remaja, informasi yang disebarkan media
cenderung permisif, kurang proporsional dalam menjelaskan seksualitas).
c. Tidak diberikannya hak informasi dan pendidikan kesehatan seksual dan
reproduksi kepada remaja sehingga mereka tidak memiliki ketrampilan dalam
pengambilan keputusan yang tepat dan aman dari risiko seksual dan reproduksi
d. Kehamilan yang diakibatkan hubungan seksual diluar pernikahan
e. Kehamilan yang diakibatkan oleh pemerkosaan
f. Kehamilan datang pada saat yang belum diharapkan
g. Persoalan sosial6
3. Dampak KTD bagi remaja dan keluarga
Menurut Mohammadi, et al. (2018), kehamilan tidak diinginkan paling besar
menimbulkan efek secara emosional yang tidak hanya berdampak pada kehamilan
tetapi juga pada pengambilan keputusan dan langkah yang diambil selanjutnya.
Kehamilan yang tidak diinginkan selain mempunyai dampak kecenderung untuk
melakukan aborsi, dapat berdampak pula pada proses dan outcome dari kehamilan
itu sendiri.7
Berbagai akibat yang mungkin dapat ditimbulkan oleh kehamilan yang tidak
diinginkan, antara lain :1
a) Bagi remaja :
1) Kehamilan yang tidak diinginkan dapat mengakibatkan lahirnya seorang
anak yang tidak diinginkan (unwanted child). Masa depan anak yang tidak
diinginkan ini sering tidak mendapat kasih sayang dan pengasuhan yang
semestinya dari orang tuanya.
2) Terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dapat memicu terjadinya
pengguguran kandungan (aborsi) karena sebagian besar perempuan
mengalami kehamilan yang tidak diinginkan mengambil keputusan atau jalan
keluar dengan mengalami aborsi, terlebih lagi aborsi yang tidak aman.
3) Terganggunya kesehatan reproduksi
4) Kurangnya perawatan kehamilan baik dalam segi kesehatan ibu maupun
janin.
5) Tidak diakui oleh keluarga
6) Dilecehkan/dikucilkan oleh teman
7) Dikeluarkan dari sekolah
8) Menerima hukuman sosial dari masyarakat
9) Adanya risiko bunuh diri
b) Bagi Keluarga :
1) Menerima hukuman sosial dari masyarakat
2) Terganggunya kesehatan psikologis akibat menerima kenyataan yang buruk
4. Upaya pencegahan KTD
Upaya pencegahan KTD antara lain:1
a. Pencegahan primer
Memberikan banyak informasi seputar permasalahan seksualitas kepada
remaja sehingga diharapkan dapat mecegah terjadinya kehamilan yang tidak
diinginkan. Memberikan penjelasan akibat yang akan terjadi jika melakukan
hubungan seksual pranikah, menjelaskan pula mitos dan fakta yang berkembang
di masyarakat dengan harapan mereka mengetahui apa yang selama ini diyakini
ternyata belum tentu benar. Tetapi pencegahan primer tidak terbatas pada
mengajarkan kaum muda tentang seksualitas. Selain itu, masyarakat harus
membahas ketidakadilan dalam memberi kesempatan yang menempatkan
wanita dan etnik minoritas dalam kondisi dimana mereka beresiko lebih besar
untuk menjadi korban masalah sosial, seperti kehamilan remaja sehingga
pelayanan yang komprehensif bagi remaja harus tersedia.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder harus mencakup pelayanan kontrasepsi bagi remaja
yang aktif seksual.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier harus mencakup kemudahan untuk memperoleh
perawatan prenatal, keluarga berencana, dan perawatan lebih lanjut untuk bayi
dan anak – anak remaja ini. Selain itu, sangat diperlukan adanya suatu kontrol
diri dari remaja, dengan memunculkan self esteem dalam diri remaja, melatih
asertif terhadap apa yang diinginkan, membekali diri remaja dengan
kemampuan komunikasi. Peran orang tua untuk menjadi teman diskusi bukan
sebagai polisi bagi remaja.
5. Program pemerintah dalam mengatasi KTD
a. Program pencegahan KTD yang sudah dan sedang dilaksanakan oleh
Pemerintah
Program kesehatan reproduksi remaja diintegrasikan dalam Program
Kesehatan Remaja di Indonesia. Sejak tahun 2003, Kementrian Kesehatan telah
mengembangkan model pelayanan kesehatan yang disebut dengan Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
(PKPR), yaitu pelayanan konseling dan peningkatan kemampuan remaja dalam
menerapkan Pendidikan dan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS). Terintegrasi
dengan organisasi swasta dan LSM bisa dilakukan di Puskesmas, Rumah Sakit,
sekolah, klinik swasta, Praktik Mandiri Bidan dan sebagainya. Ciri khas
pelayanan kesehatan peduli remaja adalah pelayanan konseling dan peningkatan
kemampuan remaja dalam menerapkan Pendidikan dan Keterampilan Hidup
Sehat (PKHS).
Kegiatan pelayanan kesehatan reproduksi remaja juga terdapat dalam
Program Generasi Berencana (GenRe) yang diselenggarakan oleh Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN). Program GenRe
dilaksanakan melalui pendekatan dari dua sisi yaitu pendekatan kepada remaja
itu sendiri dan pendekatan kepada keluarga yang memiliki remaja
Pendekatan kepada remaja dilakukan melalui pengembangan Pusat Informasi
dan Konseling Remaja/Mahasiswa. Pendekatan kepada keluarga dilakukan
melalui pengembangan kelompok Bina Ketahanan Remaja (BKR). Remaja
sebagai sasaran program adalah penduduk usia 10-24 tahun yang belum
menikah.
b. Kebijakan Pemerintah terhadap Kasus KTD
Wanita yang mengalami kehamilan tidak diinginkan dihadapkan pada dua
pilihan, yaitu tetap melanjutkan kehamilan atau menggugurkan kandungan
dengan menanggung risiko menghadapi bahaya bagi kesehatan karena cara
pengguguran yang ditempuh biasanya adalah aborsi tidak aman. Tindakan
aborsi diperbolehkan secara Undang-undang pada kasus pemerkosaan dengan
melibatkan tenaga profesional yang ditunjuk oleh pemerintah dalam penangan
aborsi.
c. Kebijakan Pemerintah dalam kasus kawin hamil diluar nikah
Kasus perkawinan karena hamil di luar nikah secara khusus diatur dalam UU
yang menjelaskan tentang kebolehan melangsungkan perkawinan bagi wanita
hamil di luar nikah. Meskipun demikian, ada ketentuan yang harus dipenuhi
dalam perkawinan tersebut, diantaranya:
1) Seorang wanita hamil di luar nikah bisa dikawinkan dengan pria yang
menghamilinya;
2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat
dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya;
3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak
diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

B. Peran bidan dalam menanggulangi KTD


1. Sebagai pemberi asuhan kebidanan. Walaupun pasien termasuk kasus KTD tetapi
seorang bidan tetap wajib melakukan asuhan kebidanan dan tidak boleh
membeda-bedakan pasien.
2. Sebagai advokat, bidan dapat mengintrepetasikan berbagai informasi dalam
pengambilan persetujuan atas tindakan medis yang akan dilakukan oleh pasien.
3. Sebagai edukator, bidan dapat menginformasikan pengetahuan seputar
kehamilan, edukasi seks, dan resiko berbagai tindakan medis yang mungkin
dilakukan terhadapnya.
4. Sebagai koordinator, penghubung antara pasien dengan tenaga kesehatan lainnya
seperti dokter, laboran, psikolog dan apoteker untuk keperluan tindakan medis.
5. Sebagai kolabolator, bidan dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya
seperti dokter untuk tindakan medis, psikolog untuk berkonsultasi masalah
kesehatan jiwa, apoteker untuk pemberian obat, dan yang lainnya.
6. Sebagai konsultan, bidan dapat membantu pasien dengan menjadi konsultan
untuk perencanaan tindakan medis yang akan dilakukan.
Penanganan kasus KTD pada remaja yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan
yaitu:6
1. Bersikap bersahabat dengan remaja
2. Memberikan konseling pada remaja dan keluarganya
3. Apabila ada masalah yang serius agar diberikan jalan keluar yang terbaik dan
apabila belum bisa terselesaikan supaya konsultasikan dengan dokter ahli
4. Memberikan alternative penyelesaian masalah apabila terjadi kehamilan pada
remaja yaitu:
a) Diselesaikan secara keekluargaan
b) Segera menikah
c) Konseling kehamilan, persalinan dan keluarga berencana
d) Pemeriksaan kehamilan sesuai standar
e) Bila ada gangguan kejiwaan, rujuk kepsikiater
f) Bila ada resiko tinggi kehamilan, rujuk ke SPOg
g) Bila tidak terselesaikan dengan menikah anjurkan pada keluarga supaya
menerima dengan baik
h) Bila ingin melakukan aborsi berikan konseling risiko aborsi
C. Soal

1. Seorang remaja putri berusia 15 tahun datang ke BPM bersama ibunya


mengatakan mual dan muntah serta belum mendapatkan haid selama 10 hari. Ibu
meminta bidan untuk memberi obat agar dapat haid. Hasil pemeriksaan
menunjukkan terdapat pembesaran ayudara aerola mnghitam palpasi abdomen
teraba tegang PP test +. Apakah tindakan bidan yang tepat dilkaukan oleh bidan
pada kasus tersebut?

A. Memberikan terapi hormonal agar haid

B. Memberikan konseling tentang siklus haid

C. Memberikan terapi kontrasepsi darurat

D. Memberikan pendampingan dan konseling tentang kehamian

E. Informasi tentang risiko aborsi

Jawaban:

Pendampingan dan bimbingan bagi remaja yang hamil diluar nikah (BKKBN)

a. Memberikan tuntunan kepada remaja tersebut agar dapat menerima


kehailannya dengan menjaga kehilannya dengan baik

b. Bersama keluarga membantu remaja tersebut membebaskan diri dari konflik


batin yang dialami

c. Memberikan tuntunan dan bimbingan agar remaja tersebut menyadari arti


tuntunan moral dan pertanggungjawaban mengasuh dan mendidik anak

d. Membantu orang tua dan keluarga untuk membantu remaja tersebut


menghadapi kehailannya

e. Melibatkan pemuka agama untuk bimbingan yang diperlukan

f. Memberikan pelayanan/ asuhan kebidanan untuk ibu hamil sesuai keluhan


2. Seorang remaja perempuan berusia 16 tahun datang dengan keluarganya ke
puskesmas. Keluarga mengatakan bahwa remaja tersebut menjadi korban perkosaan.
Remaja tersebut sedih karena takut hamil. Apakah yng harus dilakukan bidan
puskesmas untuk mengatsi masalah tersebut?

A. Memberikan kontrasepsi darurat

B. Segera melakukan pencucian vagina

C. Segera dikonsulkan ke bagian urologi

D. Segera laporkan ke pihak berwenang

E. Segera mencari pria perkosa untuk dinikahkan

Jawaban:

Metode kontrasepsi post coital tidak dianjurkan dilakukan sebagai suatu pilihan cara
ber KB. Tetapi hanya digunakan sebagai suatu metode cadangan untuk keadaan
darurat waktu terjadi senggama yang tidak direncanakan sebelumnya dan tidak
dilindungi oleh metode kontrasepsi apapun. Pemberian dilakukan dala jangka waktu
72 ja setelah senggama (Hartanto 2002).

3. Seorang remaja perempuan berusia 19 thun bekerja sebagai IRT dan datang ke
puskesmas mengatakan dipaksa harus melayani maikannya laki- laki untuk
berhubungan seksaul sehingga Ia mengalami tauma. Apakah masalah yang dialami
remaja tersebut?

A. KDRT

B. Perkosaan

C. Kekerasan

D. Pengaruh obat- obatan

E. Penyalahgunaan hak perempuan

Perkosaan adalah penetrasi pada alat kelamin perempuan oleh penis dengan paksaan
(bukan berdasarkan kehendak bersama) baik oleh satu ataupun beberapa laki- laki
atau dengan ancaman (Baziad 2011).
D. Referensi

1. PKBI. Kehamilan Yang Tidak Diinginkan. 2019 Diakses melalui https://pkbi-


diy.info/kehamilan-yang-tidak-diinginkan/ (tanggal 30 Agustus 2019)
2. Guttmacher. Studies in Family Planning. 2014. Vol 45(3): 301-314. Diakses
melalui https://www.guttmacher.org/article/2014/09/intended-and-unintended-
pregnancies-worldwide-2012-and-recent-trends (30 Agustus 2019)
3. Bearack, J., Popinchalk, A., Alkema, L & Sedgh, G. 2018. Global, regional and
subregional trends in unintended pregnancy and its outcomes from 1990 to 2014:
estimates from a Bayesian hierarchial model. Lancet Glob Health 2018;6: e380–
89. New York: Guttmacher Institute.
4. SDKI. Survey Demografi Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.2017
5. Winarti, P., Shaluhiyah, Z. & Syamsulhuda, B.M., 2011. Perilaku Seksual
Pranikah Berisiko KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) Pada Mahasiswa. Jurnal
Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 6 / No. 1 / Januari 2011.
6. Marmi. 2015. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
7. Mohammadi, E., Nourizadeh, R., Simbar, M., & Rohana, N. 2018. Iranian
women’s experiences of dealing with the complexities of an unplanned pregnancy:
A qualitative study. Midwifery Journal 62 . p 81–85. New York: Elsevier Ltd.