Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of sciences) yang
mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Mulai dari masalah-masalah
yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala
problematika dan kehidupannya. Filsafat adalah untuk mengetahui hakikat sesuatu.
Namun kalau pertanyaan filosofis itu diteruskan,akhirnya akan sampai dan berhenti pada
sesuatu yang disebut agama. Berikut ini akan dibahas lebih rinci.
Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat. Perkembangan
ilmu pengetahuan dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh aliran-aliran pemikiran
filsafat. kajian ini mengulas tentang sejarah aliran-aliran pemikiran filsafat dimulai dari
zaman Yunani klasik yang pada akhirnya melahirkan spesialisasi dan sub-spesialisasi
ilmu pada abad ke-20. maka menjadi penting dan menarik kiranya kita dapat menggali
kembali sejarah perkembangan filsafat ilmu serta aliran-alirannya, sebagai suatu landasan
berfikir kita demi mengembangkan ilmu pengetahuan secara luas dan mendalam yang
akan berimplikasi kepada kehidupan manusia yang lebih baik.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana tonggak awal kehadiran filsafat ?
2. Bagaimana Sejarah perkembangan filsafat ?
3. Bagaimana filsafat hukum sejak zaman Yunani ?

C. TUJUAN
1. Agar mengetahui tonggak awal kehadiran filsafat
2. Agar mengetahui sejarah perkembangan filsafat
3. Agar mengetahui filsafat hukum sejak zaman Yunani

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Tonggak awal kehiran filsafat

Yunani adalah tonggak kelahiran filsafat ilmu dan juga kiblat dari segala ilmu.
Pada abad ke-5 SM, seorang Sophist di Yunani menanyakan kemungkinan reliabilitas dan
objektivitas ilmu. Lalu seorang Sophist bernama Georgias berpendapat bahwa tidak ada
yang benar – benar wujud, karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui, dan jika ilmu
bersifat nisbi, tidak dapat dikomunikasikan.
Seorang Sophist lainnya, yaitu Protagoras berpandangan bahwa tidak ada satu
pendapat pun yang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain, karena setiap pendapat
adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang dilaluinya.
Pendapat pertama, lebih menyangkal hadirnya kebenaran yang nisbi, sedangkan pendapat
yang kedua sesungguhnnya menolak hadirnya kebenaran tunggal. Filsafat ilmu juga
mengurai adanya kebenaran tunggal dan plural secara mendasar.
Keraguan para ilmuwan terdahulu memang tidak selamanya tepat. Tugas ilmuwan
berikutnya adalah mendudukkan persoalan agar lebih bermakna. Plato, mengikuti
ustadznya Socrates, mencoba untuk menjawab keraguan para Sophist meperumpamakan
keberadaan alam semesta yang bersifat tetap dan bentuk – bentuknya yang tak terlihat,
atau ide – ide, yang melaluinya ilmu pasti dan tetap.
Sementara jika mengandalkan indera-persepsi akan menghasilkan pendapat –
pendapat yang inkonsisten dan mubham (meragukan atau tidak dapat
dipertanggugjawabkan) Aristoteles mengikuti Plato mengenai ilmu abstrak adalah ilmu
yang lebih ahli atas ilmu – ilmu yang lainnya, namun tidak setuju dengan metode dalam
mencapainya. Aristoteles berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari
pengalaman.
Mahzab Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu
pengetahuan bersumber dari indera-persepsi. Akan tetapi kedua mahzab itu menentang
keduanya gagasan Aristoteles dan Plato yang berpandangan bahwa filsafat harus dinlai
sebagai sebuah bimbingan praktis untuk menjelani hidup. Mereka berpendapat sebaliknya
bahwa filsafat adalah akhir dari kehidupan.

2
Aquinas seorang filsuf dan teologitali pada abad ke-13 mengungkapkan bahwa
sudah berupaya mensintesiskan keyakinan Nasrani dengan ilmu pengetahuan dalam
cakupan yang lebih luas. Dia memanfaatkan sumber – sumber beragam seperti karya –
karya filsuf Aristoteles, cendekiawan Muslim dan Yahudi untuk menyusun dasar – dasar
keilmuan.
Pemikiran Aquinas pada masa – masa awal itu sangat memengaruhi
perkembangan teologi Nasrani dan kosmos filsafat barat. Para pemikir barat, sering
bercampuraduk antara ilmu dan agama. Seiring perkembangan pemikiran, teolog sering
bersinggungan dengan filsafat.
France Bacon dengan metode induksi yang ditampilkannya pada abad 19 dapat
dikatakan sebagai peletak dasar fisafat ilmu khazanah bidang filsafat secara umum.
Namun, sebenarnya filsafat ilmu meluas pada abad ke-20. Sebagian ahli filsafat
berpandangan bahwa perhatian yang besar terhadap peran dan fungsi filsafat ilmu mulai
mengedepan tatkala ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mengalami kemajuan yang
sangat pesat.
Dalam hal ini, ada semacam kekhawatiran yang muncul pada kalangan ilmuwan
dan filsuf, termasuk juga kalangan agamawan, bahwa kemajuan iptek dapat mengancam
eksistensi umat manusia, bahkan alam beserta isinya.
Para filsuf mulai muncul lantaran melihat perkembangan iptek berjalan terlepas
dari asumsi asumsi dasar filsufnya seperti landasan ontologi, epistemologis dan aksiologis
yang cenderung berjalan sendiri – sendiri. Untuk memahami gerak perkembangan iptek
yang sedemikian itulah, maka kehadiran filsafat ilmu sebagai pada awal pertumbuhannya
sebagai upaya meletakkan kembali peran dan fungsi iptek sesuai dengan tujuan semula,
yakni mendasarkan diri dan menaruh perhatian khusus terhadap kebahagiaan umat
manusia.
Setelah kurangnya ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik, filsuf skolatik,
Aquinas dan beberapa filsuf abad pertengahan berusaha membantu utuk mengembalikan
konfidensi terhadap rasio dan pengalaman, mencampur metode – metode rasional dengan
iman dalam sebuah sistem keyakinan integral.
Filsafat ilmu semakin komples. Struktur ilmu pun juga berubah seiring dengan
perkembangan masyarakat. Suatu perspektif tertentu dipakai tidak hanya satu disiplin
ilmu, artinya bisa jadi beberapa disiplin ilmu memakai objek formal yang sama. Maka
bisa dipahami, peryataan Qomaruddin Hidayat, bahwa ilmu-ilmu yang pada awalnya
merupakan cabang dari filsafat, dewasa ini ilmu-ilmu yang sudah menjadi dewasa,
3
bahkan beranak cucu ini cenderung mengadakan “reuni”, dalam hal ini disebut
reunifikasi. Karena itu dengan filsafat ilmu, beberapa disiplin ilmu ternyata bisa”pulang
kembali” ( dikelompokkan ) pada pola pikir ( epistemologi )yang sama.
Stuctur fundamental juga bisa dipahami sebagai, kerangka “paradigna keilmuan
( asumsi filsfuf. Sebagian besar penelitian keilmuan merupakan usaha terus-menerus
untuk menafsirkan dan memahami seluk beluk alam lewat kerangka teoritik yang disusun
terlebih dulu oleh ilmuan/peneliti.
Teori-teori yang fundamentalah yang lebih memerankan peran yang sangat berarti
di dalam menentukan arti yang sedang diteliti. Arti penting data-data yang terkumpulkan
dari lapangan akan segera berubah maknanya ketika revolusi ilmu pengetahuan terjadi.
Tema-tema yang paling penting dalam filsafat ilmu baru adalah penekanannya
pada penelitian yang berkesinambungan dan bukannya hasil-hasil yang diterima sebagai
inti pokok kegiatan ilmu pengetahuan. Tahap berpikir yang dilandasi
teori,keraguan,logika dan rasionalitas itulah gema filsafat ilmu.

B. Sejarah perkembangan filsafat

Sejarah perkembangan filsafat berkembang atas dasar pemikiran kefilsafatan yang


telah dibangun sejak abad ke-6 SM. Ada dua orang filsuf yang corak pemikirannya boleh
dikatakan mewarnai diskusidiskusi filsafat sepanjang sejarah perkembangannya, yaitu
Herakleitos (535-475 SM) dan Parmenides (540-475 SM).
Pembagian secara periodisasi filsafat barat adalah zaman kuno, zaman abad
pertengahan, zaman modern, dan masa kini. Aliran yang muncul dan berpengaruh
terhadap pemikiran filsafat adalah Positivisme, Marxisme, Eksistensialisme,
Fenomenologi, Pragmatisme, dan NeoKantianianisme dan Neo-tomisme.
Pembagian secara periodisasi Filsafat Cina adalah zaman kuno, zaman
pembauran, zaman Neo-Konfusionisme, dan. zaman modern. Tema yang pokok di filsafat
Cina adalah masalah perikemanusiaan. Pembagian secara periodisasi filsafat India adalah
periode Weda, Wiracarita, Sutra-sutra, dan Skolastik. Adapun pada Filsafat Islam hanya
ada dua periode, yaitu periode Muta-kallimin dan periode filsafat Islam.
Untuk sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di sini pembahasan mengacu ke
pemikiran filsafat di Barat. Periode filsafat Yunani merupakan periode penting sejarah
peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari mite-
mite menjadi yang lebih rasional.
4
Pola pikir mite-mite adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan
mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi
tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan
kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi
dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. 
Perubahan pola pikir tersebut kelihatannya sederhana, tetapi implikasinya tidak
sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati bahkan
dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam menjadi
lebih proaktif dan kreatif, sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian.
Dari proses ini kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat, yang akhirnya kita
nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu, periode perkembangan filsafat Yunani
merupakan poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia. Jadi, perkembangan
ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan
terjadi secara bertahap, evolutif.
Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus
melakukan pembagian klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri
khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara
teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodisasi perkembangan ilmu
dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer.
Pemikiran filsafat ilmu banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Secara periodisasi
filsafat ilmu barat adalah zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman modern dan masa
kini. Periodisasi filsafat ilmu Cina adalah zaman kuno, zaman pembauran, zaman
neokonfusionisme dan zaman modern dan dikenal dengan sebutan periode weda,
biracarita, sutra – sutra dan skolastik. Yang terpenting dalam filsafat ilmu India adalah
bagaimana manusia berteman dengan dunia bukan untuk menguasai dunia. Sedangkan
filsafat ilmu Islam dikenal dengan periode mutakalimin dan filsafat ilmu Islam.
Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung secara bertahap dan berkembang
berdampingan dengan agama. Sejarah perkembangan ilmu terbagi secara periode, yakni :
1. Zaman Pra Yunani Kuna (zaman batu), pada abad VI SM muncul lahirnya filsafat
sehingga orang mencari jawaban rasional tentang problem alam semesta.
2. Zaman Yunani Kuno, pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk
mengungkapkan ide.
3. Masa Helinistis Romawi. Pada masa ini muncul beberapa aliran yaitu :
a. Stoisisme, segala kejadian menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari.
5
b. Epikurisme, segalanya terdiri dari atom – atom.
c. Skepisisme, bidang teoretis manusia tidak mampu mencapai kebenaran.
d. Eklektisme, pengambilan unsur filsafat dari aliran – aliran lain tanpa berhasil
mencapi suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
e. Neoplatoisme, paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat Plato.
4. Zaman Abad Pertengahan, mengalami 2 periode yakni:
a. Periode Patrikis mengalami tahap: permulaan agama Kristen dan filsafat
Agustinus.
b. Periode Skolastik menjadi 3 tahap yakni; periode awal, periode puncak, dan
periode akhir.
5. Zaman Renaissance, zaman peralihan menjadi kebudayaan modern.
6. Zaman Modern, ditandai dengan berbagai penemuan ilmiah.
7. Zaman kontemporer (abad XX dan seterusnya).

Perkembangan filsafat ilmu, antara ontologi, epistemologi, aksiologi seiring


tidak seimbang. Ilmu pengetahuan terbentuk dengan beberapa tahap dan periode –
periode perkembangan sebagai berikut :

1. Abad ke-4 SM, peninggalan – peninggalan menggambarkan ilmu pengetahuan mulai


ditemukan. Pada abad ini terjadi pergeseran dari persepsi mitos ke persepsi logos atau
rasional. Aristoteles adalah tokos yang terkenal pada periode ini. Pandangan
Aristoteles yang dapat dikatakan sebagai awal dari perintisan “ilmu pengetahuan”
adalah hal – hal sebagai berikut:
a. Pengenalan, terbagi menjadi 2 (dua) macam yakni: pengenalan indrawi yaitu
pengetahuan tentang hal – hal konkret dari suatu benda, dan pengenalan rasional.
b. Metode. Metode untuk mengembangkan ilmu pengetahuan ada 2 (dua) yakni :
induksi intuitif yaitu penyusunan hukum yang berasl dari fakta, dan dedukasi
(silogisme) yaitu pengetahuan universal menuju fakta – fakta.
2. Abad 17 sesudah Masehi, pada periode yang kedua ini terjadi revolusi ilmu
pengetahuan karena adanya perombakan total dalam cara berpikir. Apabila Aristoteles
cara berpikirnya bersifat ontologis rasional, sedangkan Gallileo Gallilei (tokoh pada
abad 17 sesudah masehi) cara berpikirnya bersifat analisis. Abad 17 meninggalkan
cara berpikir matafisi ( apa yang berada di balik yang Nampak atau apa yang ada di

6
balik fenomena) dan beralih ke elemen – elemen yang terdapat pada suatu benda, jadi
tidak mempersoalkan hakikat.

Sejak abad 17, ilmu pengetahuan berpijak pada prinsip – prinsip yang kuat yaitu
jelas dan terpilah – pilah serta di satu pihak berpikir pada kesadaran, dan pihak lain
berpihak pada materi, dilihat dari pandangan Rene Descartes (1596-1650) dengan
ungkapan Cogito Ergo Sum yang artinya karena aku berpikir maka aku ada.
Untuk mencapai sesuatu yang pasti menurut Descartes kita harus ragukan apa
yang kita amati, karena melalui keraguan akan menimbulkan kesadaran. Prinsip ilmu
pengetahuan satu pihak berpikir pada kesadaran dan pihak lain berpijak pada materi juga
dapat dilihat dari pandangan Immanuel Kant (1724-1808), bahwa ilmu pengethuan itu
bukan merupakan pengalaman terhadap fakta, tetapi merupakan hasil konstruksi oleh
rasio dan berpendapat bahwa pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
Menurut Syadali (1997) rasionalisme sangat bertentangan dengan empirisme.
Rasionalisme adalah faham atau aliran yang berdasarkan rasio, ide – ide yang masuk akal.
Pengalaman nyata, itu hanyalah fotokopi dari sebuah ide. Namun, realitas keilmuan tidak
selalu demikian.
Oleh sebab itu, dalam mencari kebenaran, filsafat ilmu tidak mempermasalahkan
paham tersebut, yang terpenting adalah ada kontinuitas, tidak saling bertentangan antar
paham. Filsafat ilmu sebagai induk keilmuan tidak akan kehilangan jejak ketika
menempatkan ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu menjadi fondasi berpikir tentang ilmu
pengetahuan.

C. Filsafat hukum sejak zaman Yunani

1. ZAMAN PRA YUNANI KUNO

Pada masa ini manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Oleh karena
itu, zaman pra Yunani Kuno disebut juga Zaman Batu yang berkisar antara empat juta
tahun sampai 20.000 tahun. Antara abad ke-15 sampai 6-SM, manusia telah menemukan
besi, tembaga, dan perak untuk berbagai peralatan. Abad kelima belas Sebelum Masehi
peralatan besi dipergunakan pertama kali di Irak, tidak di Eropa atau Tiongkok.

7
Pada abad ke-6 SM di Yunani muncul lahirnya filsafat. Timbulnya filsafat di
tempat itu disebut suatu peristiwa ajaib (the greek miracle). Ada beberapa faktor yang
sudah mendahului dan seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani.
Pada bangsa Yunani, seperti juga pada bangsa-bangsa sekitarnya, terdapat suatu
mitologi yang kaya serta luas. Mitologi ini dapat dianggap sebagai perintis yang
mendahului filsafat, karena mite-mite sudah merupakan percobaan untuk mengerti. Mite-
mite sudah memberi jawaban atas pertanyaan yang hidup dalam hati manusia: dari mana
dunia kita? Dari mana kejadian dalam alam? Apa sebab matahari terbit, lalu terbenam
lagi? Melalui mite-mite, manusia mencari keterangan tentang asal usul alam semesta dan
tentang kejadian-kejadian yang berlangsung di dalamnya.
Mite jenis pertama yang mencari keterangan tentang asal usul alam semesta
sendiri biasanya disebut mite kosmogonis, sedangkan mite jenis kedua yang mencari
keterangan tentang asal usul serta sifat kejadian dalam alam semesta disebut mite
kosmologis. Khusus pada bangsa Yunani ialah mereka mengadakan beberapa usaha untuk
menyusun mite-mite yang diceritakan oleh rakyat menjadi suatu keseluruhan yang
sistematis.
Dalam usaha itu sudah tampaklah sifat rasional bangsa Yunani. Karena dengan
mencari suatu keseluruhan yang sistematis, mereka sudah menyatakan keinginan untuk
mengerti hubungan mite-mite satu sama lain dan menyingkirkan mite yang tidak dapat
dicocokkan dengan mite lain.
Kedua karya puisi Homeros yang masing-masing berjudul Ilias dan Odyssea
mempunyai kedudukan istimewa dalam kesusasteraan Yunani. Syair-syair dalam karya
tersebut lama sekali digunakan sebagai semacam buku pendidikan untuk rakyat Yunani.
Pada dialog yang bernama Foliteia, Plato mengatakan Homeros telah mendidik seluruh
Hellas.
Karena puisi Homeros pun sangat digemari oleh rakyat untuk mengisi waktu
terluang dan serentak juga mempunyai nilai edukatif. Pengaruh Ilmu Pengetahuan yang
pada waktu itu sudah terdapat di Timur Kuno. Orang Yunani tentu berutang budi kepada
bangsa-bangsa lain dalam menerima beberapa unsur ilmu pengetahuan dari mereka.
Demikianlah ilmu ukur dan ilmu hitung sebagian berasal dari Mesir dan Babylonia pasti
ada pengaruhnya dalam perkembangan ilmu astronomi di negeri Yunani.
Namun, andil dari bangsa-bangsa lain dalam perkembangan ilmu pengetahuan
Yunani tidak boleh dilebih-lebihkan. Orang Yunani telah mengolah unsur-unsur tadi atas

8
cara yang tidak pernah disangka-sangka oleh bangsa Mesir dan Babylonia. Baru pada
bangsa Yunani ilmu pengetahuan mendapat corak yang sungguh-sungguh ilmiah.
Pada abad ke-6 Sebelum Masehi mulai berkembang suatu pendekatan yang sama
sekali berlainan. Sejak saat itu orang mulai mencari berbagai jawaban rasional tentang
problem yang diajukan oleh alam semesta. Logos (akal budi, rasio) mengganti mythos.
Dengan demikian filsafat dilahirkan.
Pada zaman Pra Yunani Kuno di dunia ilmu pengetahuan dicirikan berdasarkan
know how yang dilandasi pengalaman empiris. Di samping itu, kemampuan berhitung
ditempuh dengan cara one-to one correspondency atau mapping process. Contoh cara
menghitung hewan yang akan masuk dan ke luar kandang dengan kerikil. Namun pada
masa ini manusia sudah mulai memperhatikan keadaan alam semesta sebagai suatu proses
alam.

2. Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani Kuno (600 SM – 400 SM)

Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu, karena waktu yang
sangat menentukan terjadinya sejarah, yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa
lampau, sekarang, dan masa depan. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah
perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno).

Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan
sebutan kaumSofis. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsafat
hukum pada zaman Yunani. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini, antara lain:
Anaximander, Herakleitos, Parmenides, Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM), Herakleitos (540-475


SM), dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya keharusan alam ini.Untuk itu
diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak
bersumber pada dewa tetapi logos(rasio).

Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti


manusia.Tetapi jelas baginya, bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan
keharusan alamiah. Apabila hal ini terjadi, maka timbullah keadilan (dike).

Sementara itu, Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai


dengan keteraturan alamiah, tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan

9
pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Sedangkan Parmenides sudah melangkah
lebih jauhlagi.Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam, sehingga alam dan
hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap.

Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam
polis-polis. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi
hokum, dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi, karena dalam negara demokrasi
peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang.
Dengan kata lain, kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada,
yang ada hanyalah kebenaran subjektif, karena manusialah yang menjadi ukuran untuk
segala-galanya.

Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Socrates
berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati, terlepas dari
hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. Ia tidak menginginkan terjadinya
anarkisme, yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Ini terbukti dari kesediaannya untuk
dihukum mati, sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Dalam
mempertahankan pendapatnya, Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami
kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria).Pendapat ini
dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates.

Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat
memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya, sehingga hukum ditafsirkan menurut selera
dan kepentingan penguasa.Oleh karena itu, Plato menyarankan agar dalam setiap undang-
undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. Tujuannya tidak lain agar penguasa
tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Pemikiran Plato inilah yang
menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal.

Aristoteles, murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Aristoteles


berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. Pemikiran Aristoteles
sudah membawa kepada hukum yang realistis. Menurut Aristoteles, manusia tidak dapat
hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Oleh
karena itu, perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis.

Hukum yang harus ditaati dibagi menjadi dua, yakni hukum alam dan hukum
positif. Dari gagasan Aristoteles ini, pengertian hukum alam dan hukum positif muncul,

10
kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Aristoteles, hukum
alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana, karena
hubungannya dengan aturan alam, sehingga hukum tidak pernah berubah, lenyap dan
berlaku dengansendirinya.

Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada


ketentuan manusia.Misalnya, hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi
kepentingan umum, jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif, yakni
undang-undang negara, yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh
instansi yang berwibawa.

Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Pada masa ini keemasan
kebudayaan Yunani masih sangat terasa. Tokoh yang berjasa pada pengembangan
kebudayaan Yunani pada saat itu adalah Iskandar Agung (356 SM-323 SM) dari
Macedonia yang merupakan salah satu murid Aristoteles .

Pada masa Hellenisme ini terdapat tiga aliran filsafat yang menonjol yaitu
dipelopori oleh aliran Epikurisme yang diritis oleh filsuf Epikuros (341-270 SM),
Stoisisme dirintis oleh Zeno (336-264 SM) yang berasal dari kata Stoa, dan
Neoplatonisme yang dirintis oleh Plotios (206-269). Semua aliran ini menekankan
filsafatnya pada bidang etika. Meskipun demikian, dari Epikurisme muncul konsep
penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan
individu sebagai perjanjian antar individu, sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme
merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat.

Stoisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam


hukum. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber
dari jiwa dunia (logos), yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. Dengan kata lain,
telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos, yang selanjutnya diartikan sebagai
rasio. Oleh karena itu, menurut Stoisisme, tujuan hukum adalah keadilan menurut logos,
bukan menurut hukum positif. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat
dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam.

Neoplatoisme memberikan tempat khusus terhadap pemikiran Plato. Karena itulah


aliran ini disebut dengan Neoplatoisme yaitu mengajak kembali kepada pemikiran Plato.
Aliran Neoplatoisme memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan filsuf Yunani

11
karena aliran ini tidak hanya mempengaruhi wiayah Eropa saja tetapi juga mempengaruhi
pemikir-pemikir Islam terkemuka seperti Al-Kindi (801-873) dan Al-Farabi (870-956).
Inti Neoplatoisme berpangkal pada konsep kesatuan sehingga adanya proses gerakan satu
sama lain.

3. Zaman keemasan filsafat Yunani

Pada waktu Athena dipimpin oleh Perikles kegiatan politik dan filsafat dapat
berkembang dengan baik. Ada segolongan kaum yang pandai berpidato (rethorika)
dinamakan kaum sofis. Kegiatan mereka adalah mengajarkan pengetahuan pada kaum
muda. Yang menjadi objek penyelidikannya bukan lagi alam tetapi manusia, sebagaimana
yang dikatakan oleh Prothagoras, Manusia adalah ukuran untuk segala-galanya.
Hal ini ditentang oleh Socrates dengan mengatakan bahwa yang benar dan yang
baik harus dipandang sebagai nilai-nilai objektif yang dijunjung tinggi oleh semua orang.
Akibat ucapannya tersebut Socrates dihukum mati. Hasil pemikiran Socrates dapat
diketemukan pada muridnya Plato.
Dalam filsafatnya Plato mengatakan: realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia
yang hanya terbuka bagi pancaindra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dunia
yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua dunia ide. Pendapat tersebut dikritik
oleh Aristoteles dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang
konkret. “Ide manusia” tidak terdapat dalam kenyataan.
Aristoteles adalah filsuf realis, dan sumbangannya kepada perkembangan ilmu
pengetahuan besar sekali. Sumbangan yang sampai sekarang masih digunakan dalam
ilmu pengetahuan adalah mengenai abstraksi, yakni aktivitas rasional di mana seseorang
memperoleh pengetahuan. Menurut Aristoteles ada tiga macam abstraksi, yakni abstraksi
fisis, abstraksi matematis, dan metafisis.
Abstraksi yang ingin menangkap pengertian dengan membuang unsur-unsur
individual untuk mencapai kualitas adalah abstraksi fisis. Sedangkan abstraksi di mana
subjek menangkap unsur kuantitatif dengan menyingkirkan unsur kualitatif disebut
abstraksi matematis. Abstraksi di mana seseorang menangkap unsur-unsur yang hakiki
dengan mengesampingkan unsur-unsur lain disebut abstraksi metafisis.
Teori Aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi dan bentuk.
Keduanya ini merupakan prinsip-prinsip metafisis, Materi adal.ah prinsip yaug tidak
ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal dengan

12
sebutan Hylemorfisyme.

4. Masa Helintis dan Romawi

Pada zaman Alexander Agung (359-323 SM) sebagai kaisar Romawi dari
Macedonia dengan kekuatan militer yang besar menguasai Yunani, Mesir, Hingga Syria.
Pada masa itu berkembang sebuah kebudayaan trans nasional yang disebut kebudayaan
Hellinistis, karena kekuasaan Romawi dengan ekspansi yang luas membawa kebudayaan
Yunani tidak terbatas lagi pada kota-kota Yunani saja, tetapi mencakup juga seluruh
wilayah yang ditaklukkan Alexander Agung.
Bidang filsafat, di Athena tetap merupakan suatu pusat yang penting, tetapi
berkembang pula pusat-pusat intelektual lain, terutama kota Alexandria. Jika akhirnya
ekspansi Romawi meluas sampai ke wilayah Yunani, itu tidak berarti kesudahan
kebudayaan dan filsafat Yunani, karena kekaisaran Romawi pun pintu di buka lebar untuk
menerima warisan kultural Yunani.
Dalam bidang filsafat tetap berkembang, namun pada saat itu tidak ada filsuf yang
sungguh-sungguh besar kecuali Plotinus. Pada masa ini muncul beberapa aliran berikut:
Pertama, Sinisme. Menurut paham ini jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang
disebut Logos. Oleh karena itu, segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang
tidak dapat dihindari. Aliran Sinisme merupakan pengembangan dari aliran Stoik. Kedua,
Stoik. Menyatakan penyangkalannya adanya “Ruh” dan “Materi” aliran ini disebut juga
dengan Monoisme dan menolak pandangan Aristoteles dengan Dualismenya. Ketiga,
Epikurime. Segala-galanya terdiri atas atom-atom yang senantiasa bergerak.
Manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut
pada dewa-dewa. Setiap tindakan harus dipikirkan akan akibatnya. Aliran ini merupakan
pengembangan dari teori atom Democritus sebagai obat mujarab untuk menghilangkan
rasa takut pada takhayul. Keempat, Neo Platonisme.
Paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat Plato. Tokohnya adalah
Plotinus. Seluruh filsafatnya berkisar pada Allah sebagai yang satu. Segala sesuatu
berasal dari yang satu dan ingin kembali kepadanya.

5. Filsafat hukum pada zaman pertengahan ( 400-1500 )


13
Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak
runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark
ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic), dan
mulai berkembangnya agama Islam. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase
yang disebut dengan Masa Gelap, terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh
dihancurkan oleh suku-suku Germania, sehingga tidak ada satupun peninggalan
peradaban bangsa Romawi yang tersisa, sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap.

Pada abad pertengahan, pengaruh teologi gereja katolik sangat berpengaruh. Hal
ini disebabkan oleh lahirnya gagasan unity dari Tuhan yang melibatkan satu gereja dan
satu kepercayaan dan tentunya berpengaruh terhadap reputasi perkembangan filsafat
menjadi tidak mengutungkan sehingga segala sesuatu yang bertentangan pendapat dengan
gereja dianggap sebagai dosa dan harus dimusnahkan

Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini, antara lain Augustinus (354-
430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). Dalam perkembangannya,
pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada
zaman Yunani, misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang
hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Tentu saja pemikiran
Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa
manusia.

Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan


perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Tuhan (Lex
Aeterna), hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina), hukum yang
berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis), dan hukum positif (Lex Positivis).
Pandangan Thomas Aquinas mengenai Negara dapat ditemui dalam tulisannya “De
Regimine Principum”, dimana tampak pengaruh Aristoteles dimana manusia itu menurut
kodratnya adalah makhluk kemansyarakatan.

Oleh karena itu, mereka harus hidup bersama orang lain dalam masyarakat.
Menurut Thomas Aquinas, monarchi adalah bentuk pemerintahan yang terbaik sebab
dapat memelihara perdamaian yang sebaik-baiknya oleh kesatuan pikiran dari
pemerintahannya. Akan tetapi kalau pemerintah tidak adil, maka ini adalah bentuk
pemerintahan yang seburuk-buruknya.

14
6. Filsafat hukum pada zaman modern ( 1500-1800 )

Pada zaman ini ditandai oleh pemberontakan terhadap dominasi gereja, para filsuf
telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri, yang terlepas sama sekali dari hukum
abadi yang berasal dari Tuhan. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad
pertengahan ini, antara lain: William Occam (1290-1350), Rene Descartes (1596-1650),
Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), George Berkeley (1685-1753),
David Hume (1711-1776), Francis Bacon (1561-1626), Samuel Pufendorf (1632-1694),
Thomasius (1655-1728), Wolf (1679-1754), Montesquieu (1689-1755), J.J. Rousseau
(1712-1778), dan Immanuel Kant (1724-1804).

Zaman modern ini juga disebut Renaissance yang artinya lahir kembali yaitu
dilahirkan kembali sebagai manusia yang bebas untuk berfikir dan berkesenian.
Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya
zaman ini.Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam
segi kehidupan manusia, perkembangan teknologi yang sangat pesat, berdirinya negara-
negara baru, ditemukannya dunia-dunia baru, lahirnya segala macam ilmu baru, dan
sebagainya.

Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum, rasio manusia tidak lagi dapat
dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan, sehingga rasio manusia sama sekali terlepas
dari ketertiban ketuhanan. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber
hukum. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang
rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum.

Awal tonggak penting perubahan pada masa modern ini adalah munculnya teori
baru yang dikenal dengan Revolusi Copernicus (1473-1543) dengan berani menantang
pandangan geosentris bahwa tata surya berpusat pada bumi dan memperkenalkan teori
baru yaitu helosentris bahwa matahari sebagai psat tata surya.

Kemudian dilanjutkan oleh Rene Descartes (1596-1650) alias Cartesius dikenal


juga sebagai Bapak Filsafat Modern yang mempelopori aliran Rasionalisme dimana
menegaskan bahwa ada tiga hal pokok yang bersifat kodrati pada diri manusia yaitu
realitas pikiran, realitas materi dan realitas Tuhan. Realitas pikiran dianggap sebagai
realitas manusia yang menyebabkan manusia memiki keistemewaan.

15
Realitas materi menjadi penyempurna realitas berfikir yang manusia miliki, tanpa
realitas materi maka realitas pikiran tak berarti apa-apa. Realitas Tuhan dimaknai sebagai
realitas yang sesungguhnya tanpa ketergantungan realitas pikiran yang materi. Beliau
berpendapat agar ilmu ( termasuk filsafat ) dapat dipahami secara baik, mutlak diperlukan
suatu metode yang baik dimana metode ini dicapai melalui cara berpikir yang sungguh-
sungguh dengan meragukan segala-galanya sehingga pada akhirnya akan diperoleh suatu
pengertian yang terang dan jelas. Descartes juga memperkealkan metode berfikir deduktif
logis yang umumnya diterapkan untuk ilmu-ilmu alam.

Thomas Hobbes merupakan salah satu filsafat dengan aliran hukum alam dimana
mempunyai prinsip pokok yaitu hak alami utk menjaga diri. Asal mula terbentuknya
negara adalah kontrak sosial untuk hidup bersama sehingga pentingnya kekuasaan negara
yg besar harus diberikan kepada penguasa yg absolut. Dan oleh karena negara dan hukum
diwujudkan manusia, maka kebenarannya tergantung dari manusia.

John Locke banyak mencetuskan filosofi mengenai Negara hukum yaitu suatu
Negara bisa dikatakan menjadi negara hukum jika prinsip-prinsip dari hukum privat dan
hukum publik diwujudkan untuk mengatasi kesewenang-wenangan. John Locke juga
membagi fungsi ketatanegaraan menjadi tiga bagian yaitu legislative, eksekutif,
federative. John Locke mempunyai prinsip pokok dimana Negara dibentuk untuk
menjamin hak-hak orang dan Negara tidak mempunyai kemampuan untuk mencabut hak
alam manusia.

Aliran empirisme dipelopori oleh David Hume (1711-1776) dimana menekankan


pada sifat empiris atau dengan kata lain harus berdasarkan pengalaman dan memiliki
bukti terhadap suatu hal. Oleh karena itu Ia lebih mencermati dua persoalan pokok yaitu
substasi dan kausalitas.

Pada zaman modern juga berkembang aliran kritisme yang dipelopori oleh
Immanuel Kant (1724-1804) dimana menurut Immanuel Kant bahwa pendekatan empiris
maupun rasionalisme memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam hal ini, ia berpendapat
bahwa pada saat tertentu pengetahuan diperoleh melalui indera manusia, akan tetapi pada
sisi lain kondisi-kondisi batiniah manusia mengenai proses-proses yang tunduk pada
kausalitas yang tak terbantahkan sehingga dapat dikatakan bahwa titik berat filsafat
zaman modern adalah pada manusia itu sendiri (mikro-kosmos), bukan pada kosmos
seperti zaman kuno atau Tuhan seperti pada Abad Pertengahan.

16
Montesquieu,  antara hukum alam dan situasi konkrit bangsa erat hubungannya.
Hukum alam berlaku untuk manusia sebagai manusia dimana perealisasian dalam bentuk
hukum dan negara tergantung dari situasi, histories, psikis, cultural suatu bangsa sehingga
Undang-Undang yang dilahiran berbeda-beda. Montesquieu berpendapat bahwa bentuk
Negara yag ideal ada tiga bentuk pemerintahan Negara yaitu monarchi, republik,
despotism. Seperti John Locke, ia membagi fungsi ketatanegaraan menjadi tiga bagian
yang dikenal dengan istilah Trias politica yang terdiri dari legislative, eksekutif,
yudikatif .

Rousseau berpendapat bahwa kontrak social dapat terbentuk apabila kebebasan


asli dapat dipertahankan jika setiap orang dan harta bendanya menyerahkan diri pada
masyarakat. Sesudah kontrak, manusia bebas lagi, sebab apa yg telah diserahkan tadi
akan dikembalikan kepada orang-orang utk perkembangan masing-masing. Dengan
kontrak sosial manusia mendapat pengesahan dari hak-haknya sebagai manusia, baik
secara moral, yuridis.

7. Filsafat hukum pada zaman Sekarang ( setelah 1800-sekarang )

Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19.Filsafat hukum
yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang
pada zaman modern.Jika pada zaman modern berkembang rasionalisme, maka pada
zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme, seperti
Hobbes.

Namun, aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19, sehingga faktor sejarah juga
mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu, seperti Hegel (1770-1831),
Karl Marx (1818-1883), juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah.

Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman, ia merupakan penerus


rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Menurut Hegel, rasio tidak hanya
rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Teorinya disebut Dialektika, yang
popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya, seperti J.F. Fichte (1762-1814) dan
F.W.J. Schelling (1775-1854).

Menurut teori dialektika Hagel, setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan


rentetan dari fase berikutnya, artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian

17
itu sendiri. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya
mengandung katagori yang ketiga, yaitu akan menjadi. Tritunggal tersebut terdiri
dari these-antithese-synthese, yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik
tolak dari tritunggal yang baru.Selain Hegel, masih ada beberapa ahli pikir lain, seperti
Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan
hidup dalam masyarakat.

Di samping Marx dan Engels, juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum
tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Pandangan
Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam pemikiran hukum yang
selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum sehingga pandangan dari
Savigny melahirkan Mazhab Sejarah.

18
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Yunani adalah tonggak kelahiran filsafat ilmu dan juga kiblat dari segala ilmu.
Yang paling penting dalam filsafat ilmu baru adalah penekannanya pada penelitian
yang berkesinambungan dan bukannya hasil – hasil yang diterima sebagai inti pokok
kegiatan ilmu pengetahuan. Tahap berpikir yang dilandasi teori, keraguan, logika, dan
rasionalitas itulah gema filsafat ilmu.
Filsafat sebagai pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang
seluruh kenyataan objek, metode, dan sistematika tertentu bersifat universal. Dalam
kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu
adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Ilmu hukum sebagai ilmu empiris, hanya
melihat hukum sebagai gejala saja, Luasnya pemahaman filsafat terhadap hukum
menyebabkan hukum mengalami perubahan dari masa ke masa.

Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan
sebutan kaum Sofis. Pada masa inilah paham demokrasi lahir dan berkembang.
Sementara pada zaman pertengahan lebih menekankan tentang hubungan antara ide-
ide abadi dengan benda-benda duniawi yang timbul akibat adanya pemikiran setelah
berakhirnya zaman kegelapan.

Pada zaman modern rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan
dari rasio Tuhan, sehingga rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber
hukum. Adapun pada zaman sekarang, rasionalisme yang berkembang dilengkapi
dengan empirisme dan hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam
masyarakat.

19
Dengan perkembangan filsafat hukum dari masa ke masa dan diiringi juga
dengan perkembangan ilmu pengetahuan meningkatkan pemahaman
kaum sofis mengenai diri sendiri, alam dan tuhan juga meningkatkan sasaran berfikir
yang semakin berkembang.

Sejarah perkembangan ilmu terbagi secara periode, yakni: Zaman Pra Yunani
Kuno, Zaman Yunani kuno, Zaman Keemasan Filsafat Yunani, Zaman Abad
pertengahan, Zaman Renaissance, Zaman Modern, Zaman Kontemporer ( Abad XX
dan Seterusnya).

20
DAFTAR PUSTAKA

http://suarakritingfree.blogspot.com/2012/09/sejarah-perkembangan-filsafat.html

https://www.academia.edu/26499457/Sejarah_Filsafat_Hukum_Pada_Zaman_Yunani_Kuno_600_S
M_400_SM

Endraswara, Suwardi. Dr.,M.Hum., 2012. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: CAPS.

21