Anda di halaman 1dari 15

PENDEKATAN HERMENEUTIKA DALAM KAJIAN KEISLAMAN

Makalah
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Pendekatan Ilmu-ilmu Keislaman
Dosen Pengampu : Prof. Dt. H. Muhibbin, M. Ag

Oleh :

Uly Natiqotul Ashfa (1900018033)

PROGRAM MAGISTER ILMU AGAMA ISLAM

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

2020
I. PENDAHULUAN
Al-Qur’an sebagai kalamullah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai
mukjizat yang paling agung. Pada waktu al-Qur’an diturunkan, kondisi masyarakat Arab
berbeda dengan kondisi masyarakat lain dari segi sosial dan sejarahnya. Begitu juga dengan
hadits/sunnah Nabi sebagai representasi dari al-Qur’an yang disandarkan kepada perkataan,
perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW.
Dalam hal ini, hermeneutika sebagai metode pembacaan teks telah dikenal luas dalam
berbagai bidang keilmuan Islam tradisional, terutama dalam tradisi Fiqh dan tafsir al-
Qur’an. Oleh karena itu, hermeneutika dalam kajian Islam juga perlu dipelajari untuk
menambah khazanah keilmuan dan dapat memberikan pengetahuan baru terhadap
bagaimana memahami teks serta penafsiran terhadap teks yang akan diteliti. Sebagaimana
yang diketahui, bahwa al-Qur’an mampu menjawab berbagai persoalan yang terjadi di
masyarakat. Agar al-Qur’an dapat diterima di semua kalangan dan sesuai dengan
perkembangan zaman, maka perlu dilakukan penafsiran terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.
Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya hermeneutika terhadap teks-teks keislaman,
yakni al-Qur’an dan as-Sunnah.
Akhir-akhir ini hermeneutika menjadi perbincangan yang kian menarik perhatian
banyak ilmuan dan ulama, khususnya di Indonesia. Tidak hanya karena hermeneutika relatif
mengemuka dan semakin populer di tengah-tengah masyarakat, bahkan implikasi yang
ditimbulkan dari pendekatan yang ditawarkan hermeneutika terhadap penafsiran al-Qur'an
seringkali memicu kontroversi di kalangan ummat Islam. Bahkan beberapa ulama dengan
tegas menolak rekomendasi hermeneutika sebagai salah satu metode istinbat hukum.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana perkembangan historis pendekatan hermeneutika?
B. Bagaimana karakteristik dasar pendekatan hermeneutika?
C. Bagaimana aplikasi pendekatan hermeneutika terhadap Ilmu keislaman?
III. PEMBAHASAN
A. Perkembangan Historis Pendekatan Hermeneutika
Hermeneutika merupakan salah satu bentuk metode filsafat kontemporer yang
mencoba menguak makna sesuatu teks. Teks tersebut didialogkan oleh reader dan
dikomunikasikan dengan the world of the text. Mircea Aliade menyebutkan: Hermeneutics
refers to the intellectual dicipline concerned with the nature and presupposition of the
interpretation of human expression. Dimana secara etimologis kata hermeneutika berasal
dari bahasa Yunani yaitu hermeneue yang dalam bahasa inggris menjadi hermeneutics (to
interpret) yang berarti menafsirkan, menjelaskan dan menginterpretasikan atau
menerjemahkan.1
Dalam mitologi Yunani, hermeneutika sering dikaitkan dengan tokoh bernama
Hermes, seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan berita (pesan) dari sang
Maha Dewa kepada manusia. Dalam versi lain disebutkan bahwa Hermes digambarkan
sebagai seorang yang mempunyai kaki bersayap, dan lebih dikenal dengan sebutan
Mercurius. Tugas utama Hermes adalah menterjemahkan pesan-pesan dari gunung
Olimpus ke dalam Bahasa yang dapat dimengerti oleh umat manusia. Indikasi keberhasilan
untuk menyampaikan pesan sang dewa tergantung pada cara bagaimana pesan itu
disampaikan, sehingga manusia yang semula tidak tahu menjadi mengetahui pesan
tersebut.2
Menurut Palmer yang dikutip oleh Wachid mengatakan bahwa proses membawa
pesan “agar dipahami” yang diasosiasikan dengan Dewa Hermes itu terkandung dalam tiga
bentuk makna dasar dari herme-neuein dan herme-neia. Pertama, herme-neuein sebagai to
express (mengungkapkan), “to assert” (menegaskan), atau “to say” (menyatakan), hal ini
terkait dengan fungsi “pemberitahuan” dari Hermes. Kedua, herme-neuein sebagai “to
explain” (menjelaskan), interpretasi sebagai penjelasan menekankan aspek pemahaman
diskursif. Interpretasi lebih menitikberatkan pada penjelasan daripada dimensi interpretasi
ekspresif. Hal yang paling esensial dari kata-kata bukanlah mengatakan, menjelaskan,
merasionalkan sesuatu untuk membuat jadi jelas. Seseorang dapat mengekspresikan situasi
tanpa menjelaskan dan mengekspresikannya merupakan interpretasi, serta menjelaskannya
juga merupakan bentuk interpretasi. Ketiga, sebagai to translate. Pada dimensi ini “to
1
M. Rikza Chamami, Studi Islam Kontemporer, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2012), Hal. 134
2
Ibid,Hal. 135
interpret” (menafsirkan) bermakna to translate (menerjemahkan) yang merupakan bentuk
khusus dari proses interpretative dasar “membawa sesuatu untuk dipahami”. Dalam
konteks ini, seseorang membawa apa yang asing, jauh, dan tidak dapat dipahami ke dalam
mediasi Bahasa seseorang itu sendiri, seperti dewa Hermes menjadi media penerjemah
antara satu dunia dan dunia yang lain.3
Istilah hermenutika pertama kali ditemukan dalam karya Plato. Plato dengan jelas
menyatakan hermeneutika memiliki arti menunjukkan sesuatu. Dalam Timeus Plato, kata
hermenutika dikaitkan dengan otoritas kebenaran. Stoicisme mengembangkan
hermeneutika sebagai ilmu interpretasi alegoris. Metode alegoris dikembangkan Philo of
Alexandria. Ia mengajukan metode typology yang menyatakan bahwa pemahaman makna
spiritual teks tidak berasal dari teks itu sendiri, tetapi kembali pada sesuatu yang di luar
teks.
Hermeneutika alegoris ini kemudian di adaptasi dalam Kristen oleh Origen yang
membagi tingkatan pembaca Bibel menjadi tiga:
1. Mereka yang hanya membaca makna luar teks.
2. Mereka yang mampu mencapai ruh Bibel.
3. Mereka yang mampu membaca sempurna dengan kekuatan spiritual.
Menurut Hamid Fahmi Zarkasyi, sejarah hermeneutika terbagi menjadi tiga fase yaitu:
1. Dari mitologi Yunani ke teologi Yahudi dan Kristen.
2. Dari teologi Kristen yang problematik ke gerakan rasionalisasi dan filsafat.
3. Dari hermeneutika filosofis menjadi filsafat hermeneutika.

Pada awalnya, pendekatan hermeneutika banyak dipakai dalam penafsiran kitab suci
Injil. Pada abad 20, kajian hermeneutika berkembang ke wilayah kajian sejarah, hukum,
filsafat, kesusateraan dan ilmu lainnya tentang kemanusiaan.4

Perkembangan hermeneutika dapat dijabarkan sebagai berikut:


3
Abdul wachid B.S, Hermeneutika sebagai Sistem Interpretasi Paul Ricoeur dalam memahami Teks-teks
Seni, imaji, vol. 4, No.2, Agustus 2006, Hal. 199
4
Ansori, “Teks dan Otoritas (Memahami Pemikiran Hermeneutika Khaled M. Abou El-Fadl)” dalam Jurnal
Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadis Vol. 10 No. 1, (Yogyakarta: Jur. Tafsir Hadits, 2009), Hal. 55
1. Hermeneutika sebagai Teori Eksegesis Bibel
Perkembangan hermeneutika dalam tahap ini merujuk pada prinsip-prinsip
interpretasi yang digunakan pada kitab suci Bibel. Pada waktu itu, di lingkungan
Protestan menggunakan buku Hermeneutica Sacra Siva Methodus Exponendarum
Sacrarum Litterarum karya JC. Dannhauer untuk membantu para pendeta dalam
menafsirkan Bibel. Buku ini terbit pada tahun 1654.
2. Hermeneutika sebagai Metodologi Filologi
Dalam tahap ini, hermeneutika tidak hanya digunakan untuk meneliti dan mengkaji
teks-teks kitab suci tetapi juga untuk menginterpretasi teks-teks kuno lainnya.
Hermeneutika ini muncul seiring dengan terbitnya buku pedoman hermeneutika
karya Johan August Ernesti pada tahun 1761.
3. Hermeneutika sebagai Ilmu Pemahaman Linguistik
Hermeneutika ini merupakan konsep hermeneutika yang lebih luas dari hermeneutika
sebagai metodologi filologi. Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik ini
berupaya memberikan penafsiran tidak hanya terbatas pada teks-teks tertulis saja,
baik teks-teks sakral maupun bukan. Hermeneutika ini lebih bersifat umum. Tokoh
yang memulai hermeneutika ini adalah Schleirmacher (1768-1834).
4. Hermeneutika sebagai Fondasi Metodologis Geisteswissenschaften
Hermeneutika ini dipopulerkan oleh Wilhelm Dilthey pada abad ke-19. Dalam tahap
ini, hermeneutika tidak hanya memberikan penafsiran terhadap teks saja, tetapi juga
dapat digunakan untuk menafsirkan semua jenis ekspresi manusia
(geisteswissenschaften), baik yang berupa praktek sosial, sejarah, karya seni, dan
lain-lain.
5. Hermeneutika sebagai Fenomenologi Dassein dan Pemahaman Eksistensial
Perkembangan hermeneutika pada tahap ini tidak lagi mengacu pada ilmu/kaidah
interpretasi teks atau fondasi metodologi geisteswissenschaften, tetapi merupakan
penjelasan fenomenologis tentang keberadaan manusia sendiri. Model hermeneutika
ini dibawa oleh Martin Heidegger dalam bukunya Being and Time (1927), kemudian
Gadamer dalam Truth and Method (1960).5
6. Hermeneutika sebagai Sistem Interpretasi

5
Ulya, Berbagai Pendekatan Studi al-Qur’an, (Yogyakarta: Idea Press, 2010), Hal. 58U
Paul Ricoeur dalam karyanya De I’nterpretation (1965) menggunakan hermeneutika
untuk menafsirkan teks partikular, baik yang berupa simbol dalam mimpi ataupun
mitos-mitos yang hidup dalam masyarakat atau sastra. Adapun simbol yang menjadi
fokus dalam hermeneutika ini adalah simbol yang mempunyai makna equivokal atau
multi makna.6
B. Karakteristik Dasar Pendekatan Hermeneutika
Walaupun dalam perkembangannya, hermeneutika digunakan dalam berbagai kajian
keilmuan, namun secara singkat hermeneutika dapat diartikan sebagai suatu metode
interpretasi yang memperhatikan konteks kata-kata (dari suatu teks) dan konteks budaya
pemikirannya. Hermeneutika juga dapat diartikan sebagai salah satu metode interpretasi
yang mempunyai tugas untuk memahami isi dan makna sebuah kata, kalimat, teks, serta
untuk menemukan instruksi-instruksi yang terdapat dalam bentuk simbol-simbol.7
Josef Bleicher membagi konsep dasar hermeneutika menjadi tiga (3) macam, yaitu teori
hermeneutika, filsafat hermeneutika, dan hermeneutika kritis. Penjelasan lebih rincinya
sebagai berikut:
1. Teori Hermeneutika
Teori hermeneutika memusatkan pada teori umum interpretasi sebagai metodologi
ilmu-ilmu humaniora, termasuk ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan. Kegiatannya
adalah mengkaji metode yang sesuai untuk menafsirkan teks sebagaimana yang
diinginkan oleh penulis/pengarang teks agar terhindar dari kesalahpahaman. Tujuan
teori hermeneutika adalah untuk mendapatkan arti yang objektif atas suatu teks
menurut ukuran pengarang teks.
Schleiermacher menggunakan pendekatan psikologis yang menyatakan bahwa
hermeneutika adalah kegiatan penafsiran untuk mengalami kembali proses-proses
mental dari pengarang teks. Dilthey lebih menggunakan pendekatan historis dalam
teori hermeneutika. Dia berpendapat bahwa makna merupakan hasil dari aktifitas
penafsiran yang tidak ditentukan oleh subyek transendental tetapi lahir dari realitas
hidup yang menyejarah. Menurutnya teks adalah representasi dari kondisi
historikalitas pengarang teks.8

6
Edi Mulyono, Belajar Hermeneutika, ( Yogyakarta : IRCiSoD, 2013), Hal. 24
7
Ansori, “Teks dan Otoritas (Memahami Pemikiran Hermeneutika Khaled M. Abou El-Fadl)”,.., Hal. 55
8
Ulya, Berbagai Pendekatan Studi al-Qur’an…, Hal. 62
2. Filsafat Hermeneutika
Hermeneutika filosofis merupakan aktifitas penafsiran yang lebih melihat pada
aspek ontologis dari sebuah teks. Dalam hal ini penfasir telah memiliki prasangka
atau pra-pemahaman atas teks sehingga tidak memperoleh makna teks secara
obyektif. Apabila teori hermeneutika bertujuan untuk mereproduksi makna
sebagaimana makna awal yang dikehendaki oleh penulis teks, maka filsafat
hermeneutika bertujuan untuk memproduksi makna baru.
Tokoh filsafat hermeneutika yaitu Heidegger dan Gadamer. Heidegger menggeser
konsep hermeneutika dari wilayah metodologis-epistimologis ke ontologis.
Hermeneutika bukan a way of knowing tetapi a mode of being. Gadamer juga
berpendapat bahwa penafsiran adalah peleburan horizon-horizon, horizon penulis
teks dan horizon penafsir (masa lalu dan masa kini).9
3. Hermeneutika Kritis
Hermeneutika kritis maksudnya adalah penafsiran yang mengkritik standar
konsep-konsep penafsiran sebelumnya (teori hermeneutika dan filsafat
hermeneutika). Meskipun antara teori hermeneutika dan filsafat hermeneutika
memiliki sudut pandang yang berbeda tentang penafsiran, tetapi keduanya tetap
berusaha menjamin kebenaran makna teks. Hal inilah yang menjadi letak kritik
hermeneutika kritis karena lebih cenderung mencurigai teks karena teks diasumsikan
sebagai tempat persembunyian kesadaran-kesadaran palsu.
Tokoh yang menggunakan hermeneutika kritis adalah Habermas. Dia selalu
mempertimbangkan faktor-faktor di luar teks yang dianggap dapat membantu
memahami konteks suatu teks. Inti dari hermeneutika kritis adalah:
a. Bahwa makna adalah milik manusia
b. Tanpa konteks, maka teks yang dimaknai menjadi tidak berharga dan tidak
berfungsi apa-apa.10

C. Aplikasi Pendekatan Hermeneutika terhadap Ilmu Keislaman


1. Pro Kontra Hermeneutika

9
Ibid, Hal. 63
10
Ibid, Hal. 64
Manusia secara naluri diciptakan dengan kelebihan berupa akal yang
membedakannya dengan makhluk lain. “Man is an interpreter being” diartikan sebagai
manusia adalah makhluk penafsir. Ini yang melatarbelakangi manusia selalu melakukan
pemahaman dan penafsiran atas fenomena yang terjadi di sekeliling, termasuk penafsiran
terhadap teks-teks keislaman.
Al-Qur’an sebagai sebuah teks yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dan
akan tetap terjaga sampai hari akhir, menimbulkan suatu problem tersendiri. Persoalan
pertama adalah bagaimana menemukan pemahaman yang diterima umat manusia agar
sesuai dengan pemahaman yang dikehendaki pengarangnya (Allah). Problem kedua,
bagaimana menjelaskan isi teks keagamaan kepada masyarakat yang hidup di tempat dan
dalam kurun waktu yang berbeda.11
Penafsiran terhadap teks al-Qur’an pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad
sebagai penerima wahyu dari Allah. Penafsiran pertama tentang pengungkapannya dalam
bahasa Arab. Penafsiran kedua adalah penafsiran atas maksud dari al-Qur’an tersebut,
yang disebut dengan sunnah/hadits. Dan sepeninggal Rasulullah proses penafsiran
terhadap al-Qur’an dan hadits terus berlangsung sampai sekarang. Hal ini disebabkan
karena al-Qur’an yang pada waktu itu diturunkan di Arab sudah pasti kondisi
masyarakatnya berbeda dengan kondisi masyarakat di Indonesia maupun di negara-
negara lain.12
Berdasarkan pada peroblem di atas, maka terjadi pro dan kontra dalam
penggunakan pendekatan hermeneutika dalam al-Qur’an. Bagi mereka yang menganggap
perlu penggunaan hermeneutika terhadap al-Qur’an adalah karena al-Qur’an sebagai
wahyu Allah yang diturunkan melalui perantara malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad
yang dipergunakan untuk umatnya sepanjang masa. Dengan demikian, al-Qur’an mampu
menjawab berbagai problem yang terjadi di masyarakat sehingga al-Qur’an selalu dapat
mengikuti perkembangan zaman dan dapat dipahami oleh semua kalangan. Sedangkan
mereka yang menolak penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an adalah
sebagaimana yang dijelaskan dalam firmanNya surat al-Hijr ayat 9 bahwa Allah sendiri
yang menurunkan al-Qur’an dan akan menjaganya sampai akhir zaman.

11
Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian Hermeneutika, (Jakarta: Paramadina,
1996), Hal.12
12
Ibid, Hal.17
Hermeneutika al-Qur’an merupakan istilah yang masih asing dalam wacana
pemikiran Islam. Diskursus penafsiran al-Qur’an tradisional lebih banyak mengenal
istilah al-tafsir, al-ta’wil, dan al-bayan. Pendekatan hermeneutika terhadap al-Qur’an
ialah salah satu metode untuk membedah kandungan makna ayat Allah dengan
menyesuaikan konteks sosio historis konkret saat ini agar dapat mengimplementasikan
nilai-nilai al-Qur’an secara baru.13Sedangkan pendekatan hermeneutika terhadap as-
Sunnah ialah bahwa sebagaimana yang dipahami Fazlur Rahman tentang konsep As-
sunnah yang berbeda dengan hadits. As-Sunnah merupakan perilaku Nabi yang memiliki
sifat normatif sehingga harus dipandang sebagai suatu konsep teladan/pedoman dengan
perlu memperhatikan konteks sosio historisnya. Apabila perilaku Nabi tersebut
dilanjutkan secara diam-diam dan non verbal oleh generasi sesudah Nabi dengan tujuan
untuk meneladani perilaku beliau, maka metamorfosis dari “sunnah normatif” menjadi
“sunnah yang hidup dan aktual”. Tujuan dari pendekatan hermeneutika terhadap as-
Sunnah ialah agar hadits yang telah terformulasikan dalam beberapa kitab hadits tidak
dianggap sebagai sebuah ketentuan yang bersifat pasti, kaku dan tertutup.14
Tokoh-tokoh yang menggunakan hermeneutika dalam penafsiran teks-teks
keislaman yakni:
a. Tokoh-tokoh Hermeneutika al-Qur’an: Abu Hamid al-Ghazali, Fazlur Rahman,
Muhammad Syahrur, Muhammad Abid al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zayd, Nurcholish
Madjid, Mohamad Mojtahed Shabestari, Khaled M. Abou El-Fadl, Amina Wadud
Muhsin, Abdullah Saeed, Muhammad Talbi.
b. Tokoh Hermeneutika Hadits: Fazlur Rahman, Muhammad al-Ghazali, Syuhudi
Ismail, Muhammad Syahrur, Khaled M. Abou El-Fadl, Yusuf Qardhawi.15

Bagi mereka yang menolak penggunaan hermeneutika adalah karena pada mulanya
hermeneutika muncul untuk menafsirkan Bibel karena keraguan atas keaslian Bibel. Hal
ini tentunya berbeda dengan sakralitas al-Qur’an yang tidak dapat disamakan dengan
Bibel. Al-Qur’an telah dijamin kemurniannya oleh Allah sebagai penciptanya. Adapun

13
M. Rikza Chamami, Studi Islam kontemporer,…, Hal.161
14
Sahiron Syamsudin, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadits, (Yogyakarta:eLSAQ Press, 2010), Hal. 331-
332
15
Ibid, Hal. 3
kalangan yang mendukung karena mereka beranggapan bahwa hermeneutika dapat
memberikan semangat baru dalam dunia pemikiran Islam.
2. Hermeneutika Para Tokoh-tokoh
Berikut di antara beberapa pendapat para tokoh tentang pendekatan hermeneutika
terhadap ilmu keislaman (al-Qur’an dan as-Sunnah):
a. Hermeneutika al-Qur’an Fazlur Rahman
Fazlur Rahman memiliki pandangan tentang al-Qur’an yaitu,
Al-Qur’an secara keseluruhan adalah kata-kata (kalam) Allah, dan dalam
pengertian biasa, juga keseluruhannya merupakan kata-kata Muhammad. Jadi, al-
Qur’an murni Kata-kata Ilahi, namun tentu saja, ia sama-sama secara intim
berkaitan dengan personalitas paling dalam Nabi Muhammad yang hubungannya
dengan kata-kata (kalam) Ilahi itu tidak dapat dipahami secara mekanis seperti
hubungan sebuah rekaman. Kata-kata (kalam) Ilahi mengalir melalui hati Nabi.
Konsep hermeneutika Fazlur Rahman terkenal dengan teori doble movement (gerak
ganda interpretasi). Gerak pertama, dengan memahami makna al-Qur’an sebagai suatu
keseluruhan sebagai respon terhadap situasi-situasi khusus. Dalam hal ini, penafsir juga
harus memperhatikan aspek sosio historis pada saat al-Qur’an diturunkan. Setelah itu,
dilakukan generalisasi terhadap pesan yang ingin disampaikan oleh al-Qur’an. Gerak kedua,
membawa pandangan umum tersebut untuk diwujudkan ke dalam konteks sosio historis
konkret saat ini sehingga dapat mengimplementasikan nilai-nilai al-Qur’an secara baru.16
b. Hermeneutika Khaled M. Abou El-Fadl
Gerak heremeneutika yang ditawarkan oleh Khaled M. Abou El-Fadl adalah
“keseimbangan kekuatan” yang harus ada antara maksud teks, pengarang dan pembaca.
Dengan kata lain, penetapan makna berasal dari proses kompleks, interaktif, dinamis, dan
dialektis antara ketiga unsur (teks, pengarang, dan pembaca). Sementara itu seorang
pembaca/penafsir, dalam membaca teks agar tidak terjadi penyelewengan. Otoritas harus
memenuhi “lima syarat keberwenangan” sebagai prinsip-prinsip penafsiran yang
“bertanggung jawab”. Antara lain, kejujuran, kesungguhan, kemenyeluruhan, rasionalitas,
dan pengendalian diri.17
c. Hermeneutika Hadits Muhammad Syahrur
16
Sahiron Syamsudin, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadits,..., Hal. 272
17
Ibid, Hal.
Menurut Syahrur, as-sunnah merupakan metodologi penerapan hukum-hukum atau
al-Kitab dengan mudah dan ringan tanpa keluar dari batasan-batasan Allah dalam
persoalan hudud atau pembuatan batasan-batasan adat lokal dalam persoalan-persoalan
non hudud dengan mempertimbangkan realitas nyata (waktu, tempat, dan syarat-syarat
objektif yang mana hukum-hukum akan diterapkan di dalamnya).
Dari pengertian di atas, nampak bahwa as-Sunnah menurut pandangan Syahrur
adalah ijtihad Nabi dalam mengubah Islam yang mutlak menjadi Islam yang nisbi dan
ditujukan untuk masyarakat Arab abad ke-7, dan tidak ditujukan untuk masyarakat
seluruh dunia pada semua masa. Berdasarkan pada definisi as-Sunnah tersebut, maka
Syahrur membedakan antara sunnah dengan hadits. Menurutnya, as-Sunnah merupakan
ijtihad Nabi Muhammad SAW, sedangkan hadits adalah produk ijtihad Nabi dalam
bentuk verbal yang karena alasan politik kemudian dibukukan. Dengan demikian, as-
Sunnah yang seharusnya dijadikan sebagai model ijtihad, dan bukan hadits. Oleh karena
itu, umat Islam sekarang harus mengikuti jalan atau metode Nabi (as-Sunnah) untuk
menyelesaikan berbagai permasalahan terkini, bukan kata-kata verbalnya (hadits).18
d. Hermeneutika Hadits Fazlur Rahman
Sunnah Nabi merupakan perkataan, perbuatan serta ketetapan Nabi Muhammad
SAW sebagai penjelas al-Quran. Dalam perkembangannya, terdapat pembukuan hadits
yang terjadi pada masa sahabat. Akan tetapi permasalahannya adalah adanya fenomena
penyebaran hadits-hadits palsu sehingga perlu dilakukan penyeleksian hadits-hadits
tersebut yang benar-benar bersumber dari Nabi dan selainnya. Problem lain adalah hadits-
hadits yang telah terformulasikan dalam beberapa kitab hadits tersebut justru dianggap
sebagai sebuah ketentuan yang bersifat pasti, kaku dan tertutup.Melihat kondisi demikian,
Fazlur Rahman memiliki konsep tersendiri tentang sunnah. Pertama, sunnah berarti
perilaku Nabi yang memiliki sifat normatif (sunnah normatif/ideal) sehingga harus
dipandang sebagai suatu konsep teladan atau pedoman. Dalam hal ini perlu memperhatikan
konteks sosio historisnya. Kedua, sepanjang perilaku Nabi tersebut berlanjut secara diam-
diam dan non verbal yang diterapkan pada generasi sesudah Nabi, sepanjang perilaku
tersebut dinyatakan untuk meneladani perilaku Nabi. Dalam hal ini terjadi metamorfosis
dari “sunnah normatif” menjadi “sunnah yang hidup dan aktual”.19
18
Ibid, Hal.
19
Ibid, Hal.
Konsep “sunnah yang hidup” ini akan memberikan cara baru dalam memahami
sunnah dan hadits Nabi secara lebih progresif dan dinamis. Melalui kerangka studi historis
dan sosiologis dari hadits tersebut, maka perlu adanya reinterpretasi terhadap hadits agar
selalu selaras dengan perubahan-perubahan kondisi sosial moral pada masa kini. Oleh
karenanya, hadits harus dipandang sebagai suatu masalah yang harus ditinjau ulang, bukan
sebagai hukum yang sudah siap saji atau sudah jadi.
e. Hermeneutika Hadits Yusuf Qardhawi
Pandangan Yusuf Qardhawi terhadap kedudukan Sunnah adalah sebagai penafsiran
al-Qur’an dalam penerapan ajaran Islam secara faktual dan ideal, yang memiliki manhaj
komprehensif, seimbang dan memudahkan. Dalam hal ini, Yusuf Qardhawi menawarkan
tiga prinsip dasar dalam memahami Sunnah. Pertama, meneliti kesahihan sunnah sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan oleh ahli hadits. Kedua, memahami nash yang berasal
dari Nabi sesuai pengertian bahasa dan asbabul wurudnya, kaitannya dengan nash al-
Qur’an dan Sunnah yang lain. Ketiga, memastikan nash tersebut tidak bertentangan dengan
nash lain yang kedudukannya lebih kuat.
Untuk melaksanakan ketiga prinsip tersebut, Yusuf Qardhawi memiliki beberapa
metode, yakni:
1) Memahami hadits sesuai petunjuk al-Qur’an
2) Menghimpun hadits-hadits yang setema
3) Pentarjihan terhadap hadits-hadits yang tampaknya bertentangan
4) Memahami hadits sesuai latar belakang, situasi, kondisi dan tujuannya
5) Membedakan antara sarana yang berubah-ubah dan sasaran yang tetap
6) Membedakan antara ungkapan haqiqat dengan majaz
7) Membedakan yang ghaib dengan yang nyata
8) Memastikan makna kata-kata dalam hadits.

3. Contoh Pendekatan Hermeneutika terhadap ayat-ayat al-Qur’an


Ayat yang menjadi basis hukuman potong tangan bagi pencuri adalah:

ِ ‫ أَ ْي ِديَهُ َما َجزَ ا ًء بِ َما َك َسبَا نَ َكاال ِمنَ هَّللا ِ َوهَّللا ُ ع‬l‫َّارقَةُ فَا ْقطَعُوا‬
(٣٨( ‫َزي ٌز َح ِكي ٌم‬ ُ ‫َّار‬
ِ ‫ق َوالس‬ ِ ‫َوالس‬
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al-Maidah {5} :38)

Dalam penafsiran Fazlu Rahman ‫ أَ ْي ِديَهُ َما‬l‫( فَا ْقطَعُوا‬maka potonglah tangan keduanya)
sebagai bentuk perintah untuk menghalangi tangan-tangan pencuri melalui perbaikan
ekonomi, yang menjadi ideal moral dalam kasus ini adalah memotong kemampuan pencuri
agar tidak mencuri lagi.
Praktik hukuman potongan tangan bagi pencuri telah dilaksanakan dikalangan suku-
suku Arab sebelum Islam. Secara historis-sosiologi,mencuri menurut kebudayaan mereka
dianggap tidak saja sebagai kejahatan ekonomi, tetapi lebih sebagai kejahatan melawan
nilai-nilai dan harga diri manusia. Namun seiring dengan perkembangan kebudayaan
manusia, mencuri dalam masyarakat urban telah mengalami pergeseran pemahaman.
Pencurian dalam monsep modernitas tidak lebih dari sekadar kejahatan dalam bidang
ekonomi. Yakni penghilangan hak milik seseorang oleh orang lain secara tidak sah belaka.
Pencurian saat ini tidak ada hubungannya dengan pelecehan terhadap harga diri manusi. Ini
semata-mata tindak criminal murni, yang tidak dimotivasi oleh pelanggaran terhadap harga
diri seseorang. Karena itu, pergeseran pemahaman nyata tentang define pencuri ini
memerlukan perubahan bentuk hukuman. Menurut Fazlur Rahman, ayat diatas juga
diniscayakan untuk diberlakukan ideal moralnya, yaitu memotong kemampuan sang
pencuri untuk tidak mencuri lagi. Mengamputasi segala kemungkinan yang memungkinkan
dia mencuri lagi bias dilakukan dengan berbagai yang lebih manusiawi, semisal
pemenjaraan dalam waktu yang relative lama, atau denda seberat-beratnya. Ini lebih cocok
dan sejalan dengan nilai-nilai luhur manusia. Bukan memperlakukan ayat itu secara literer.
Bagi banyak kebudayaandidunia ini, bentuk hukuman potong tangan seperti itu dianggap
amat sadis dan sampai pada batas tertentu bertentangan dengan rasa perikemanusiaan.20
IV. KESIMPULAN
Hermeneutika merupakan salah satu bentuk metode filsafat kontemporer yang
mencoba menguak makna sesuatu teks. Perkembangan historis hermeneutika dimulai dari
hermeneutika sebagai teori eksegesis bibel, hermeneutika sebagai metodologi filologi,
hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik, hermeneutika sebagai fondasi
20
Sibawaihi, Hermeneutika al-Qur’an Fazlur Rahman,…, Hal. 80-81
metodologis geisteswissenschaften, hermeneutika sebagai fenomenologi dassein dan
pemahaman eksistensial, serta hermeneutika sebagai sistem interpretasi. Konsep dasar
hermeneutika menurut Josef Bleicher ada tiga, yaitu teori hermeneutika, filsafat
hermeneutika, dan hermeneutika kritis. Aplikasi pendekatan hermeneutika terhadap ilmu-
ilmu keislaman dapat dilihat dari kajian hermeneutika terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah
agar ketentuan-ketentuan yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dapat
digunakan untuk masyarakat sepanjang masa. Meskipun demikian, terjadi pro dan kontra
dalam penggunakan hermeneutika terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.
V. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, Apabila terdapat kesalahan dalam
makalah kami, mohon kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki makalah kami
selanjutnya, dan semoga bisa bermanfaat. Amin

DAFTAR PUSTAKA

Ansori, 2009, “Teks dan Otoritas (Memahami Pemikiran Hermeneutika Khaled


M. Abou El-Fadl)” dalam Jurnal Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadis Vol. 10 No.
1,Yogyakarta: Jur. Tafsir Hadits
Chamami, M. Rikza, 2012, Studi Islam Kontemporer, Semarang : Pustaka Rizki
Putra
Hidayat, Komaruddin, 1996, Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian
Hermeneutika, Jakarta: Paramadina
Mulyono, Edi, 2013, Belajar Hermeneutika, Yogyakarta : IRCiSoD
Syamsudin, Sahiron, 2010, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadits, Yogyakarta:
eLSAQ Press
Ulya, 2010, Berbagai Pendekatan Studi al-Qur’an, Yogyakarta: Idea Press
Wachid B.S, Abdul, 2006, Hermeneutika sebagai Sistem Interpretasi Paul
Ricoeur dalam memahami Teks-teks Seni, imaji, vol. 4, No.2