Anda di halaman 1dari 16

PENDEKATAN NORMATIF DALAM KAJIAN KEISLAMAN

Guna memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendekatan ilmu-ilmu keislaman


DOSEN PENGAJAR:
Prof. Dr. H. Mohibbin, M.Ag.

DI SUSUN OLEH

Ulul Umami (1900018032)

PROGRAM PASCASARJANA

JURUSAN ILMU AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI WALISONGO SEMARANG


2020

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dalam kehidupan manusia tidak bisa lepas dari aspek-aspek yang
mempengaruhi dalam kehidupannya seperti aspek sosial, ekonomi, budaya, keagamaan
dan lainya. Setiap aktifitas manusia mempunyai tujuan tertentu karena seorang manusia
yang mengerti akan potensi yang dimilikinya tidak tidak akan melakukan pekerjaan yang
sia-sia sebab segala yang dilakukannya baik berfikir, merasa maupun bertindak harus
membawa kebaikan.1Namun masalah keagamaan sesungguhnya mengandung kontrofersi,
sehingga perlu adanya pemahaman yang mampu menengahi akar dari perbedaan tersebut
seperti bagaimana proses atau metode memahaminya. Masalah agama bisa saling
merekatkan antara manusia tetapi juga bisa menimbulkan permusuhan sebab karena
perbedaan cara pemahaman agamanya saja. Disini penulis akan mengulas tentang salah
satu cara atau metode yang mengkaji agama Islam dengan jalan pendekatan pendekatan
normatif.
Pendekatan normative adalah studi Islam yang melihat problem dari sudut legal
formal atau normatifnya.2Artinya legal formal merupakan jalinannya dengan halal–
haram, boleh atau tidak, dan sejenisnya. Sedangkan normatifnya adalah seluruh ajaran
yang bermakna nash. Sehingga pendekatan normative mempunyai jangkauan yang sang
at universal. Problemnya Islam dipandang sebagai akar dari segala bentuk radikalisme,
kejadian Islam yang mana Islam dikambing hitamkan. Hal ini juga di pengaruhi oleh
pemahaman masyarakat kini, yang terlalu fanatic. Pendekatan normative dalam studi
Islam merupakan salah satu cara memahami Islam dengan menggunakan pemahaman
kepercayaan yang hanya mengarah pada yang ada dalam Al-Qur’an dan as-sunnah.
pendekatan normatif ini sama halnya dengan tekstual maksudnya ialah memahami sesuai
yanh hanya di teks, hanya saja dimaksudkan dari pendekatan normative disini adalah
study Islam dengan sudut pandang menggunakan cara memaknai teks.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Normatif?
1
Dedi Wahyudi,” Konsepsi Al-Qur’an Tentang Hakikat Evaluasi Dalam Pendidikan Islam,”Hikmah Journal
of Islamic Studies 12,no. 2 (2-17):251.
2
Isrofil Amar,”Studi normative Islam multicultural,” Islamica: Jurnal Studi Keislaman 4, no. 2 (2010): 321.

2
2. Bagaimana Pendekatan Normatif digunakan dalam Kajian Keislaman?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendekatan Normatif
Pendekatan dalam Kamus Bahasa Indonesia, berarti proses, atau cara mendekati. 3
Pendekatan dapat diartikan cara pandang, atau paradigm yang biasanya melekat pada
suatu ilmu tertentu.4 Sementara, di dalam buku Metodologi Studi Islam karya Koko
Abdul Kodir dijelaskan bahwa pendekatan ialah upaya yang dilakukan peneliti untuk

3
Meity Taqdir Qadratillah, Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan,2011), hlm. 90.
4
Hasyim Hasanah,Pengantar Studi Islam(Yogyakarta; Ombak,2013), hlm. 77.

3
mengadakan interaksi dengan orang yang diteliti, 5 sebagai upaya untuk melihat gerak
laju sesuatu.6
Pendekatan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah cara pandang yang
terdapat dalam suatu ilmu tertentu, yang kemudian untuk memahami agama, atau
serangkaian pendapat mengenai hakikat studi Islam dan pengajaran agama Islam.
Pendekatan tidak terpisah dari tujuan, metode, dan teknik. Pendekatan merupakan suatu
hal yg penting dalam studi Islam karena berhubungan dengan pemahaman akan Islam.
Terdapat berbagai macam pendekatan dalam pengkajian studi Islam salah satunya
adalah pendekatan normative. Kata normatif berasal dari bahasa (Inggris) norm yang
berarti norma, ajaran atua acuan.7 Dementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
normatif artinya patuh pada norma, atau kaidah yang berlaku. 8 Sehingga yang dimaksud
dengan normative ialah peraturan yang mengatur baik-buruknya perbuatan berdasarkan
ajaram yang ada di masyarakat, yang diharapkan mampu menjadikan kondisi yang
aman sentosa.9 Sehingga, jika dihubungkan dengan studi Islam, pendektan normative
berarti Islam sebagai wahyu10 atau doktrin Ilahiyah,11 atau menekankan aspek norma-
norma dalam ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.12Pendekatan
ini belum terdapat pemikiran manusia.13
Pendekatan normative senantiasa berupaya memakai kerangka ilmu ketuhanan14
yang berdasar kepada suatu kepercayaan bahwa suatu wujud empiric suatu keagamaan
dipandang sebagai suatu hal yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya 15
atau dengan kata lain memahami ajaran agama secara subjektif dan bertolak dari teks-

5
Koko Abdul Kodir, Metodologi Studi Islam (Bandung: Pustaka Setia,2014), hlm.112.
6
Muhibuddin Hanafiah, “Revitalisasi Metodologi dalam Studi Islam: Suatu Pendekatan terhadap Studi Imu-
Ilmu Keislaman,” Hurnal Ilmiah Didaktika Vol. 11 No. 2 (Februari 2011); hlm.296.
7
Abuddin Nata, Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia (Jakarta:PT Raja Grafindo, 2001), hlm. 18
8
Suharsono dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Semarang: Widya Karya,2012), hlm.
338.
9
Koko Abdul Kodir,Metodologi Studi Islam. hlm. 113.
10
Abdul Nata, Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia,hlm.28.
11
Nur Khasanah, “Kombinasi Pendekatan Studi Islam Iktiar Menjawab Tantang Studi Islam Ke
Depan,”Religia Vol, 15 No. 1 (April 2012): hlm . 109
12
Koko Abdul Kodir, Metodologi setudi Islam, hlm. 113.
13
Abuddin Nata, Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia,hlm. 28.
14
Abuddin Nata,Metodologi Studi Islam, (Jakarta:Rajawali Pers, 2012), hlm. 28.
15
Siti Zulaiha, “Pendekatan Metodologi dan Teologis bagi Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Guru
MI,” Ar-Riyah: Jurnal Pendidikan Dasar STAIN Curup Bengkulu Vol. 1, No. 1 (2017): 55.

4
teks normative ajaran agama.16 Ajaran-ajaran yang berasal dari Tuhan mempunyai sifat
suci dan pasti yang harus diterima oleh manusia.17
Pendekatan normatif meletakkan Islam sebagai sesuatu yang kebenarannya
diyakini tanpa keraguan.18 Dari pendekatan ini tampilan Islam normative adalah Islam
yang didalam pengkajian atau memahami agama lebih didominasi oleh motivasi dan
kepentingan agama. Islam yang diyakini benar ialah Islam yang sesuai dengan teks yang
telah tercantum dalam kitab bercorak literal, tekstual dan absolut.19
Pendekatan normative memandang dari sudut legal formal Artinya, hubungan
yang terjalin ialah antara halak-haram, boleh atau tidak, dan sejenisnya, yang terdapat di
dalam nash.20 Normatif Islam mengandung ajaran Allah yang berkaitan dengan
mu’amalah dengan cara menjelaskan sebuah fenomena alam melalui dalil nash Al-
Qur’an atau Al-Hadits. Normatif yang berbasis kepada ajaran agama menyatakan
bahwa agama yang benar ialah sesuatu secara normative dikatakan benar oleh ajaran
agama.21
Di sisi lain dari pendekatan normatif secara umum ada dua teori yang dapat
digunakan bersama pendekatan normatif-teologis. Teori yang pertama adalah hal-hal
yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran serta dapat dibuktikan secara empiric dan
eksperimental. Teori yang kedua adalah hal-hal yang sulit dibuktikan secara empiric dan
eksperimental. Untuk hal-hal yang dapat dibuktikan secara empirik biasanya disebut
masalah yang berhubungan dengan ra’yi (penalaran). Adapun masalah-masalah yang
tidak berhubungan dengan empiric (gaib) biasanya diusahakan pembuktiannya dengan
mendahulukan kepercayaan. Hanya saja cukup sulit untuk menentukan hal-hal apa saja
yang masuk klasifikasi empiric dan mana yang tidak sehingga menyebabkan perbedaan
pendapat di kalangan para ahli. Maka sikap yang perlu dilakukan dengan pendekatan
normatif adalah sikap kritis. Dalam aplikasinya pendekatan normatif tekstualis tidak
16
Hasyim Hasanah,Pengantar Studi Islam, hlm. 78-79.
17
Aswan,”Studi Islam dengan Pendekatan Normatif,”Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Ilmia Pendidikan Agama
Islam Vol. 3 No. 1 (2013): 2.
18
Imam Mawardi, ”Perbandingan model Pendekatan Studi Islam di Timur Tengan dan Barat (Formulasi
Model Diskursus Pendidikan Islam di Indonesia),” Edukasia: jurnal Penelitian Pendidikan Islam Jurusan
Tarbiyah STAIN Kudus Vol. 9 No. 2 (Desember 2012): 79.
19
Arif Saifudin, “Memaknai Islam dengan Pendekatan Normatif,” El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama
STAINU Madiun Vol. 5 No. 1 (Juni 2017): 12.
20
Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam (Yogyakarta:Academia, 2010),hlm. 190.
21
Mundir, “Penerapan Penfdekatan Saintifik dan Normatif dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah v
Ibtidaiyah,” JPPI Vol 1, No. 2 (April 2017); 195

5
menemui kendala yang berarti ketika dipakai untuk melihat dimensi Islam normatif
yang bersifat Coth’I. persoalannya justru akan semakin rumit ketika pendekatan ini
dihadapkan pada realita dalam Al-Qur’an bahkan diamalkan oleh komunitas tertentu
secara luas contoh yang paling konkret adalah adanya ritual tertentu dalam komunitas
Muslim yang sudah mentradisi secara turun-temurun, seperti slametan (Tahlilan atau
Kenduren). Dari uraian tersebut terlihat bahwa pendekatan normatif tekstualis dalam
memahami agama menggunakan cara berfikir deduktif yaitu cara berfikir yang berawal
dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak sehingga tidak perlu dipertanyakan
lebih dahulu tetapi dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-
dalil dan argumentasi.22
Dalam makalah ini penulis akan menyenggol tentang teori kekinian yang dapat
digunakan dengan pendekatan normatif, disisi teori-teori yang digunakan oleh para
fuqaha’, usuliyin, muhadditin, dan mufassirin, diantaranya adalah teori teolologis-
folosofis, yaitu pendekatan memahami al-Qur’an dengan cara menggambarkan secara
logis-filosofis, yakni menggali nilai-nilai konkrit dari statis al-Qur’an.23
Nash normative adalah nash yang tidak harus sesuai pada konteks. Sementara
nash sosiologis adalah nash yang penilaiannya harus disesuaikan dengan konteks,
waktu, tempat, dan konteks lainnya.
B. Contoh Pendekatan Normatif dalam Studi Islam
Pendekatan teologis erat kaitannya dengan pendekatan normative, yaitu suatu
pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan
yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Pendekatan ini
memandang agama sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan
sedikitpun dan tampak bersifat ideal. Misalnya, Islam secara normative pasti benar,
menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, secara sosial menawarkan nilai-nilai kemanusiaan,
seperti ukhuwwah, ta’awwun, tasammuh. Secara ekonomi Islam menawarkan konsep
keadilan, kejujuran, konsekuensi, kepercayaan, secara saintek Islam memotovasi
pemeluknya untuk menuntut ilmu pengetahuan.

22
Chuzaimah,Iwan dan Hawari, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018),
hlm.162-163.
23
Amar,”Studi normative pendidikan Islam Multikultural,” Islamica: Jurnal Studi Keislaman 4, no.2 (2010),
hlm.327.

6
Problem yang paling serius umat Islam yang sulit ditemukan solusinya adalah
bagaimana mengaitkan nilai-nilai normativitas yang fundamental yang absolut dengan
historisitas dan konteks kesejahteraan kehidupan manusia yang selalu mengalami
perubahan peradaban.
Ibnu Kaldun dan Al-Gazali telah memberikan klasifikasi dan konsep keilmuan
Islam yang diimilikinya yaitu:24

Al-Gazali
IBNU KALDUN
GHAI SYAR’IYAH SYAR’IYAH
Naqli (Ilmu yang 1. Mahmudah (terpuji) 1. Al- Ushul (dasar)
Bersumber dari Allah dan a. Kedokteran a. Al-Qur’an
Rasul) b. Aritmatika b. Sunnah
c. Industri c. Ijma’ al-ummah
Ilmu-ilmu al-Qur’an d. Politik d. Atsar al-sahabah
Ilmu-Ilmu hadits e. Dan cabang ilmu 2. Al-Furu’ (cabang)
Ilmu-ilmu fiqh fardhu kifatah lain a. Ilmu kemaslahatan
Ilmu Faraidh 2. Mubahah dunia (fiqh)
Ilmu Kalam (diperbolehkan) b. Ilmu kemaslahatan
Ilmu Tasawuf a. Sastra akhirat
Ilmu ta’bir mimpi b. Ilmu-ilmu pada - Mukasyafah
Dll. bagian - Mu’amalah
mahmudah 3. Al-Muqaddamat
Tabi’I (’Aqli;) Ilmu Hasil tingkat lanjut (pengantar)
Upaya Pencarian 3. Mazmumah (tercela) a. Ilmu bahasa
a. Ilmu Sihir b. Nahwu sharaf
Aritmatika b. Ilmu tenung c. Ilmu khat
Geografi c. Ilmu-ilmu semacam itu 4. Al-Mutammimat
Kosmografi (suplemen)
Logika a. Ilmu qiraat
Fisika b. Tafsir
Kedokteran Pertanian c. Usul fiqh
Metafisika d. Ilmu Hadits
Ilmu-ilmu tercela seperti
sihir

Contoh-Contoh Ilmu-Ilmu Keislaman yang di kaji dengan pendekatan Normatif:

1. Ilmu-ilmu al-Qur’an (merupakan wahyu Allah, al-Qur’an merupakan sumber asasi


yang pertama norma dan hukum dalam Islam, ialah kitab kodifikasi firman Allah

24
Nelvawita, POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam Akselerasi Perkembangan Ilmu Keislaman, Vol. 3, No.2, Juli,
2017. Hlm. 249-151.

7
Swt. Kepada umat manusia. Pada garis besarnya Al-Qur’an memuat Aqidah,
Syari’ah Ibadah dan muamalah)25, Misalnya: Perbuatan, tindakan, ucapan misalkan
tentang Tawadu’.
2. Ilmu-Ilmu hadits/ As-Sunnah (Sumber Asasi yang kedua dalam Islam Tradisi
Pengalaman segala perbuatan dan persetujuan Nabi Muhammad Saw) 26, Misalnya:
Membaca Sholawat.
3. Ilmu-ilmu fiqh (Mengetahui sesuatu dengan dalil yang ada, secara istilah menurut
imam syafi’I yaitu pengetahuan tentang syari’ah, pengetahuan tentang hukum-
hukun perbuatan mukalaf berdasarkan dalil yang terperinci)27, Misalnya:
Pernikahan Beda Agama.
4. Ilmu Usul al-Fiqh (ilmu tentang kaidah-kaidah dan pembahasan yang
mengantarkan kepada lahirnya hukum-hukum syari’ah yg bersifat amaliyah yang
diambil dari dalil-dalil yg terperinci)28 Obyek kajian usul Fiqh yakni sumber-
sumber hukum, metode istinbath,Ijtihad , Misalnya: Kebolehan dokter pria melihat
aurat wanita dalam berobat (oprasi dan atau melahirkan) menurut ketentuan umum
(qiyas), seseorang dilarang melihat aurat orang lain, tetapi dalam kasus ini
diperbolehkan berdasarkan istihsan.
5. Ilmu Faraidh (Ilmu yang paling mulia tingkat bahaya, paling tinggi kedudukannya,
paling besar ganjarannya sangking pentingnya Allah sendiri yang menentukan
takarannya)29, Misalnya: Waris
6. Ilmu Kalam (ilmu yang membicarakan kepercayaan-kepercayaan keagamaan
(agama Islam) dengan bukti-bukti yang yakin) 30 Misalnya: Fatwa diluar 4 mazhab,
tradisi Tahlilan 7, 40, 100 Hari dan Haul, Melakukan adat karena Menghindari
Gunjingan Masyarakat.
7. Ilmu Tasawuf (suatu usaha dan upaya dalam rangka mensucikan diri
tazkiyyatunnafs dengan cara menjauhkan dari pengaruh kehidupan dunia yang

25
Anand a Arfa, Faisar, Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam,(Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm.
63
26
Ananda Arfa, Faisar, Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam, hlm. 97
27
Ananda Arfa Faisar, Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam,hlm. 94
28
Abdul Wahab Khalaf, Ilmun Usul al-Fiqh, Cet XII (Kuwait:An-Nasir,1978), hlm.738
29
Ibrahim At-Tuwaijri, Ringkasan Fiqih Islam,(Team Indonesia Islam House,2012), hlm.5.
30
Hasan dan Murif ,dkk, Ilmu Kalam Sejarah dan Pokok Pikiran Aliran-aliran,(Bandung: Azkia Pustaka
Utama,2006), hlm.

8
membuat lalai kemudian memusatkan memusatkan perhatiannya hanya di tuju
kepada Allah Swt)31, Misalnya: Toriqoh.
8. Ilmu ta’bir mimpi Misalnya: Mimpi bertemu Baginda Nabi besar Muhammad
SAW.
C. Ciri dan Aplikasi Pendekatan Normatif -Teologis
Pendekatan normatif-teologis secara umum menggunakan cara berfikir deduktif,
yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang mutlak adanya, dimana ajaran yang
berasal dari Tuhan. Sudah pasti benar dan tidak perlu dipertanyakan lerlebih dahulu.
Dimulai dari keyakinan lalu diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi.
Pendekatan normative-teologis mempunyai ciri-ciri yang melekat sebagai sebuah
pendekatan, yaitu terdiri atas :
1) Loyalitas terhadap diri sendiri
Loyalitas terhadap diri sendiri timbul bila kebenaran keagamaan dimaknai dengan
kebenaran sebagaimana dipahami oleh pribadi itu sendiri. Kebenaran sebagaimana
diyakini oleh seseorang merupakan kebenaran yang tidak bisa lagi di ungkit-ungkit.
Sebagai konsekuensinya, kebenaran yang ditunjukkan oleh orang lain dianggap
kurang benar atau salah sama sekali.
2) Komitmen
Pendekatan normatif-teologis menghasilkan individu yang berkomitmen tinggi
terhadap kepercayaan. Individu yang meyakini suatu kebenaran akan sikap
berjuang mempertahankannya, serta siap menghadapi tantangan dari pihak-pihak
lain yang mencoba menyerang kebenaran yang telah diyakini secara mutlak.
3) Dedikasi
Hasil dari loyalitas dan komitmen yang besar akan menghasilkan dedikasi yang
tinggi dari penganut agama sesuai dengan kebenaran yang diyakini. Dedikasi itu
diwujudkan dlam bentuk ketaatan terhadap ritual keagamaan, antusias dalam
menjalankan keyakinan dan menyebarkannya, serta kerelaan untuk berkorban
demi pengembangan keyakinan yang dianut.32

31
Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: A-Empat,2015), hlm.1.
32
Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Cet. 1: Jakarta: Bulan Bintang, 1987), hlm. 76

9
Pendekatan normative-teologis dalam aplikasinya tidak menemui kendala yang cukup berarti
ketika dipakai untuk melihat dimensi Islam yang bersifat qoth’i. persoalannya justru akan
semakin rumit ketika pendekatan ini dihadapkan pada realita dalam al-Qur’an maupun Hadits
yang tidak tertulis secara eksplisit, namun kehadirannya diakui oleh komunitas tertentu secara
luas. Agama Islam dilihat secara normatif pasti benar satu menjunjung tinggi nilai-nilai luhur.
Untuk bidang sosial, agama menawarkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, kesetiakawanan,
tolong menolong, rasa persamaan derajat dan sebagainya. Sedang untuk ilmu pengetahuan ,
agama tampil mendorong umatnya agar memiliki pengetahuan dan keahlian serta menguasa
teknologi yang setinggi-tingginya. Demikian pula untuk bidang kesehatan, kehidupan,
kebudayaan, politik dan lainnya, agama tampil sangat ideal dan dibangun berdasarkan dalil-dalil
yang terdapat dalam ajaran agama.33

D. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Normatif-Teologis


Pendekatan normative-teologis sebagai sebuah metode pasti memiliki kelebihan
dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan pendekatan normative-teologis adalah:
1. Kelebihan
Melalui pendekatan normtif-teologis, seseorang akan memiliki sikap teguh terhadap
agama yang diyakininya sebagai sesuatu yang benar, serta tidak memandang dan
meremehkan agama lain. Melaui pendekatan ini, seseorang akan memiliki sikap
fanatic dan kecintaan yang dalam terhadap agama yang dianutnya.34
2. Kekurangan
a. Bersifat ekesklusif
Ketika meyakini sesuatu dengan kebenaran yang mutlak, maka individu
tersebut akan menjadi pribadi yang tertutup, tidak mau menerima pendapat
serta pemahaman orang lain. Orang-orang yang memahami Islam dengan
pendekatan normative-teologis akan menutup diri dari kebenaran yang dibawa
orang lain. Namun demikian, jika sikap eksklusif ini hanya berkaitan dengan
masalah tauhid, maka hal itu bukan menjadi suatu kekurangan.
b. Dogmatis

33
Abddin Nata,Metodologi Studi Islam,(Jakarta:PT, Raja Grafindo Persada,2008), hlm. 28
34
Abddin Nata, Metodologi Studi Islam, hlm. 34

10
Dogma adalah pokok-pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang baik
dan benar, tidak boleh dibantah dan tidak diragukan. Individu yang memahami
Islam dengan pendekatan normative-teologis cenderung menganggap ajarannya
sebagai ajaran yang dipertanyakan lagi kebenarannya dan tidak boleh dikritisi.
c. Tidak mengakui kebenaran orang lain
Pendekatan normative-teologis menghasilkan individu yang tidak mengakui
kebenaran orang lain. Hal ini karena adanya anggapan bahwa yang diyakini
adalah sesuatu paling benar dan yang tidak sama adalah sesuatu yang salah.35
E. Pendekatan Normatif dalam Kajian Keislaman
Istilah studi Islam dalam bahasa Inggris adalah Islamic studys dan dalam bahasa
arab disebut isarah al islamiyyah dan secara sederhana dimaknai kajian Islam jadi studi
Islam. Situasi keberagaman di Indonesia cenderung menampilkan kondisi keberagamaan
yang legalistic-formalistik. Agama “harus” dimanifestasikan dalam bentuk ritual-formal,
sehingga muncul formalisme keagamaan yang lebih mementingkan “bentuk” dari pada
“isi”. Kondisi seperti ini menyebabkan agama kurang dipahami sebagai seperangkat
paradigma moral dan etika yang bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan,
keterbelakangan, kemiskinan. Disamping itu, formalisme gejala keagamaan yang
cenderung individualistic dari pada kesalehan sosial, mengakibatkan munculnya sikap
kontra produktif seperti nepotisme, kolusi, dan korupsi.36
Selain itu, akhir-akhir ini kita di hadapkan pada krisis nasional salah satunya
krisis kerukunan umat beragama, tragedy kekerasan terburuk bagi muslim di India,
kekerasan dipicu setelah aksi damai selama berminggu-minggu di New Delhi terhadap
undang-undang kewarganegaraan baru, diserang oleh segerombolan nasionalis
Hindhu.37 Studi Islam diharapkan melahirkan suatu masyarakat yang hidup toleran
(tasamuh) dalam wacana pluralitas agama, sehingga tidak melahirkan muslim ekstrim
yang membalas kekerasan agama dengan kekerasan pula. Oleh karena itu, dalam situasi
hidup keberagamaan didunia, kajian agama terutama Islam, merupakan mayoritas
agama yang dianut. Menurut Mukti Ali (dalam Masdar Hilmy dan Marzuki, 2005; 23),

35
Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm.148
36
Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam, … hlm.116
37
Lihat Konflik [INDIA] Sungguh Zalim, Tragedi Kekerasan Terburuk bagi Muslim di India 27 Februari
2020, www.muslimahnews.com

11
ide-ide agama terpusat pada kitab sucinya, sedangkan biografi agama dapat ditemukan
melalui sejarah yang dialaminya.
Atas dasar permasalahan diatas maka sangat urgen diperolehnya pemahaman
Islam secara utuh dan tidak distortif. Argumentasinya adalah bahwa realitas perbedaan
di atas bila tidak didekati secara tepat akan menimbulkan pemahaman yang pincang
terhadap Islam karena Islam sebagai agama mempunyai dimensi normative historis.
Oleh karena itu dalam kaitan pendekatan normative dalam kajian keislaman dapat
dipahami mulai dari ide-ide Islam yang ada dalam al-Qur’an yang urgen dilakukan. Hal
ini bisa terlihat dari argumentasi bahwa ide-ide dalam kitab suci tersebut merupakan
dasar normative dan fondasi dari ajaran-ajaran Islam yang ditawarkan kepada manusia.
Al-Qur’an memang landasan moral bagi gagasan-gagasan dalam praktik seperti
ekonomi, politik, dan sosial di tengah-tengah kehidupan manusia. Meski al-Qur’an
meliputi ide-ide normative Islam, teks-teksnya ditirunkan kepada Nabi Muhammad saw,
tidak hanya dalam bentuk idenya semata, melainkan juga disampaikan secara verbal.
Pentingnya dilakukan kajian studi terhadap ide-ide normative Islam yang
terhimpun dalam al-Qur’an ini agar diperoleh pemahaman normative doktrinan yang
cukup terhadap sumber dari teks suci Islam untuk menjunjung pemahaman yang
kontekstual-historis sehingga didapatkan pandangan yang relative utuh terhadap Islam
dengan berbagai atributnya. Kesalahan dan kegagalan ilmuan Barat dalam memahami
masyarakat Muslim terletak pada “Perspektif tentang Kebenaran” yang berbeda, karena
ketidaktahuan dan ketidak akuratan dalam memahami masyarakat Muslim. Itulah salah
satu di antara penyebab ketidak tahuan adalah kurang diperankannya teks-teks
normative Islam dalam kajian masing-masing sebagai landasan normative untuk melihat
historitas Islam. untuk dapat menjelaskan motif-motif kesejarahan dalam normatifitas
Islam perlu dilakukan studi terhadap dinamika historis dari perwujudan dari ide-ide
Islam, mulai dari permulaan diturunkannya Islam, mulai dari permulaan diturunkannya
Islam hingga masa akhir ini, baik diwilayah tempat turunnya Islam maupun diwilayah
lain di belahan dunia.38
Secara Numerik dalam kerangka besar Studi Islam diatas, Masdar Hilmy dan
Marzuki menguraikan sebagai berikut:39
38
Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam, … hlm.119-120
39
Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam, … hlm.120-121

12
Pertama; Studi Islam diarahkan sebagai instrument untuk memahami dan
mengetahui proses sentrifugal dan sentripetal dari Islam dan masyarakat.
Kedua; sebagai konsekuensi poin pertama, studi Islam secara metodologis
memiliki urgensi dan signifikasi dalam konteks untuk memahami cara mendekati Islam,
baik pada tataran realitas empiric maupun normative doktrinan secara utuh dan tuntas
hal tersebut agar pemahaman terhadap Islam tidak pincang.
Ketiga; Studi Islam bergerak dengan mengusung kepentingan untuk memperoleh
pemahaman yang signifikan terhadap persoalan hubungan antara normatifitas dan
historisitas dalam rangka memahami esensi dan substansi dari ajaran yang notabene
sudah terlembagakan dalam bentuk aliran-aliran pemikiran (schools of thought).
Keempat; Studi atau kajian Islam diselenggarakan untuk menghindari pemahaman
yang bersifat campu aduk, tidak bisa menunjukkan distingsi antara wilayah agama dan
wilayah tradisi atau budaya.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pendekatan Normatif Lebih konsen pada studi teks yang normative, bersifat
kaku dan menjunjung tinggi norma-norma serta nilai-nilai. Pendekatan Normatif ini
melahirkan tradisi teks: tafsir, teologi, fiqh, tasawuf, filsafat. 40 Karena dalam
perkembangannya dianggap kaku, keras, rigid, maka muncul keritik atas pendekatan
ini.
B. PENUTUP
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna
dan perlu banyak perbaikan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari
pada pembaca sangat penulis harapkan sebagai bahan evaluasi untuk kedepannya.

40
M. Yatimin Abdullah, studi Islam Kontemporer, (Jakarta: Sinar Grafika Offiset,2006), hlm. 222

13
DAFTAR PUSTAKA

Dedi Wahyudi,” Konsepsi Al-Qur’an Tentang Hakikat Evaluasi Dalam Pendidikan


Islam,”Hikmah Journal of Islamic Studies 12,no. 2 (2-17):251.
Isrofil Amar,”Studi Normatif Islam Multicultural,” Islamica: Jurnal Studi Keislaman 4, no. 2
(2010)
Chuzaimah,Iwan dan Hawari, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group,
2018)
Amar,”Studi normative pendidikan Islam Multikultural,” Islamica: Jurnal Studi Keislaman 4,
no.2 (2010)
Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Cet. 1: Jakarta: Bulan Bintang, 1987)
Abddin Nata,Metodologi Studi Islam,(Jakarta:PT, Raja Grafindo Persada,2008)

Lihat Konflik [INDIA] Sungguh Zalim, Tragedi Kekerasan Terburuk bagi Muslim di India 27
Februari 2020, www.muslimahnews.com

Meity Taqdir Qadratillah, Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan,2011)
Hasyim Hasanah,Pengantar Studi Islam(Yogyakarta; Ombak,2013)

14
Koko Abdul Kodir, Metodologi Studi Islam (Bandung: Pustaka Setia,2014)
Muhibuddin Hanafiah, “Revitalisasi Metodologi dalam Studi Islam: Suatu Pendekatan
terhadap Studi Imu-Ilmu Keislaman,” Hurnal Ilmiah Didaktika Vol. 11 No. 2 (Februari
2011)
Abuddin Nata, Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia (Jakarta:PT Raja Grafindo, 2001)
Suharsono dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Semarang: Widya
Karya,2012)
Nur Khasanah, “Kombinasi Pendekatan Studi Islam Iktiar Menjawab Tantang Studi Islam Ke
Depan,”Religia Vol, 15 No. 1 (April 2012)
Abuddin Nata,Metodologi Studi Islam, (Jakarta:Rajawali Pers, 2012)
Siti Zulaiha, “Pendekatan Metodologi dan Teologis bagi Pengembangan dan Peningkatan
Kualitas Guru MI,” Ar-Riyah: Jurnal Pendidikan Dasar STAIN Curup Bengkulu Vol. 1,
No. 1 (2017): 55.
Aswan,”Studi Islam dengan Pendekatan Normatif,”Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Ilmia Pendidikan
Agama Islam Vol. 3 No. 1 (2013): 2.
Imam Mawardi, ”Perbandingan model Pendekatan Studi Islam di Timur Tengan dan Barat
(Formulasi Model Diskursus Pendidikan Islam di Indonesia),” Edukasia: jurnal
Penelitian Pendidikan Islam Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus Vol. 9 No. 2 (Desember
2012): 79.
Arif Saifudin, “Memaknai Islam dengan Pendekatan Normatif,” El-Wasathiya: Jurnal Studi
Agama STAINU Madiun Vol. 5 No. 1 (Juni 2017): 12.
Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Academia, 2010)
Mundir, “Penerapan Penfdekatan Saintifik dan Normatif dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di
Madrasah Ibtidaiyah,” JPPI Vol 1, No. 2 (April 2017); 195
Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: A-Empat,2015)
M. Yatimin Abdullah, studi Islam Kontemporer, (Jakarta: Sinar Grafika Offiset, 2006)
Ananda Arfa, Faisar, Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2015)
Abdul Wahab Khalaf, Ilmun Usul al-Fiqh, Cet XII (Kuwait:An-Nasir,1978)
Ibrahim At-Tuwaijri, Ringkasan Fiqih Islam, (Team Indonesia Islam House,2012)

15
Hasan dan Murif ,dkk, Ilmu Kalam Sejarah dan Pokok Pikiran Aliran-aliran,(Bandung: Azkia
Pustaka Utama,2006)
Nelvawita, POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam Akselerasi Perkembangan Ilmu Keislaman, Vol. 3,
No.2, Juli, 2017.

16