Anda di halaman 1dari 22

TUGAS RESUME DASAR KEPENDUDUKAN

MORTALITAS

Disusun Oleh :

Muhamad Rizq Auliansyah 25000119130101


Lavanya Abigail 25000119130137
Dewi Nur Halizah 25000119130179
Dhabitha A Ghassani 25000119140241
Leandrea Rivani Madjid 25000119140253
Nova Afiana 25000119140301
Ilham Rizqi Tanjung 25000119140379
Kelompok 3
C 2019
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2019
A. Kerangka Analisis

MORTALITAS

Definisi Umum

Neo-Natal Death Still Birth

Post Neo-Natal Infant Death

Faktor Penyebab
Sumber Data
Ukuran Kematian Kematian (Halaman
Kematian
Selanjutnya)

Case Fatality Rate Sistem Registrasi Vital Sensus dan Survei Penelitian Estimasi

Infant Mortality Rate Direct Mortality Rate

Under Five Mortality Indirect Mortality


Rate Rate

Neonatal Mortality
Rate

Perinatal Mortality
Rate

Maternal Mortality
Rate

Crude Death Rate

Cause Disease Spesific


Death Rate

Age Spesific Death


Rate
Faktor Penyebab
Kematian

Sosial Ekonomi Kependudukan

Pekerjaan Penghasilan Urban-Rural Jenis Kelamin Perkawinan Umur

Distribusi
Penyakit
Insiden Pelayanan Laki-laki Ibu Hamil Bayi
Degeneratif
Kesehatan

Perempuan Pendarahan Kelainan

Sepsis BBLR

Abortus Prematur

Eklamsia

Penyakit
B. Pendahuluan

Pertumbuhan penduduk merupakan faktor yang sangat strategis dalam


kerangka pembangunan. Hal ini dikarenakan penduduk merupakan pusat dari
seluruh kebijaksanaan dan program pembangunan yang dilakukan. Jumlah
penduduk yang besar jika diikuti dengan kualitas penduduk yang memadai
akan menjadi pendorong bagi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya jumlah
penduduk yang besar jika diikuti dengan tingkat kualitas yang rendah,
menjadikan penduduk tersebut sebagai beban bagi pembangunan.
Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah pada hakikatnya didasarkan oleh tiga
elemen utama yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi (Mantra, 2003: 140).
Mortalitas dapat diartikan sebagai banyaknya bayi yang meninggal sebelum
mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan alam 1000 kelahiran hidup pada tahun
yang sama. Terdapat beberapa ukuran tingkat kematian yang bisa digunakan
diantaranya: angka kematian kasar/Crude Death Rate (CDR), angka kematian
berdasarkan umur/Age Spesific Mortality Rate (ASDR), angka kematian
balita/Under Five Mortality Rate (UFMR), angka kefatalan kasus/Case
Fatality Rate (CFR) dan lain sebagainya.[1]

Dokumen International Conference on Population and Developmant


(ICPD) yang dirumuskan pada 1994 dan disepakati oleh 179 negara
menyebutkan bahwa permasalahan kependudukan yang terjadi di sebagian
besar penduduk dunia harus segera diselesaikan. Permasalahan tersebut
meliputi pertumbuhan penduduk yang tinggi, IMR dan CMR yang tinggi,
fertilitas dan KB, kesehatan reproduksi dan ibu hamil, akses pendidikan yang
terbatas, permasalahan lansia serta permasalahan imigrasi dan urbanisasi. Dari
permasalahan-permasalahan tersebut, mortalitas menjadi salah satu kajian
yang sangat menarik untuk dibahas karena selalu menjadi salah satu target
dalam pembangunan manusia satu negara (UNFPA, 2004). Berbagai indikator
disusun untuk melihat seberapa besar pencapaian pembangunan manusia
dalam kaitannya dengan mortalitas. Tercatat dalam beberapa kesepakatan
internasional target beberapa indikator mortalitas menjadi pagu yang harus
dicapai bagi tiap-tiap negara di dunia, termasuk di dalamnya adalah dokumen
ICPD pada 1994 dan MDGs pada tahun 2000.[2]

Indikator mortalitas yang digunakan sebagai kesepakatan tersebut


meliputi angka harapan hidup, angka kematian bayi, angka kematian balita,
angka kematian ibu dan HIV/AIDS. Indonesia sebagai bagian dari negara-
negara dunia memiliki kewajiban untuk mencapai target yang telah disepakati
bersama. Dalam hal ini target dari indikator mortalitas sebagai salah satu
komponen pembangunan manusia harus dicapai sebagai wujud komitmen
terhadap dunia internasional. Misalnya salah satu target mortalitas adalah
angka harapan hidup. Pada 1977 dalam “Resolusi WHO dengan tema Health
for all by 2000” menyatakan bahwa pada tahun 2000 seluruh negara-negara di
dunia harus mencapai rata-rata angka harapan hidup bagi warganya menjadi
60 tahun. Target pencapaian angka harapan hidup tersebut kemudian
meningkat pada kesepakatan global berikutnya yaitu ICPD tahun 1994. Dalam
kesepakatan bersama dalam ICPD disebutkan bahwa seluruh negara-negara di
dunia harus mencapai rata-rata angka harapan hidup bagi warganya menjadi
berumur lebih dari 65 tahun pada tahun 2005 dan pada tahun 2015 rata-rata
angka harapan hidup menjadi lebih dari 70 tahun. Target angka harapan hidup
yang telah ditetapkan tersebut harus dipenuhi bagi Indonesia agar
pembangunan manusianya tidak tertinggal dari bangsa-bangsa lain di dunia.
[2]

C. Pembahasan
1. Definisi Mortalitas

Menurut Utomo (1985) kematian dapat diartikan sebagai peristiwa


hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa
terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Menurut PBB dan WHO,
kematian adalah hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen
yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Still birth dan
keguguran tidak termasuk dalam pengertian kematian. Perubahan jumlah
kematian (naik turunnya) di tiap daerah tidaklah sama, tergantung pada
berbagai macam faktor keadaan. Besar kecilnya tingkat kematian ini dapat
merupakan petunjuk atau indikator bagi tingkat kesehatan dan tingkat
kehidupan penduduk di suatu wilayah.

Konsep-konsep lain yang terkait dengan pengertian mortalitas


adalah:

a. Neo-natal death adalah kematian yang terjadi pada bayi yang


belum berumur satu bulan.
b. Lahir mati (still birth) atau yang sering disebut kematian janin
(fetal death) adalah kematian sebelum dikeluarkannya secara
lengkap bayi dari ibunya pada saat dilahirkan tanpa melihat
lamanya dalam kandungan.
c. Post neo-natal adalah kematian anak yang berumur antara satu
bulan sampai dengan kurang dari satu tahun.
d. Infant death (kematian bayi) adalah kematian anak sebelum
mencapai umur satu tahun.

2. Sumber Data Mortalitas


 Sistem Registrasi Vital
Dalam sistem ini, sebuah kejadian kematian dilaporkan segera
saat kejadian tersebut terjadi. Namun, sistem registrasi vital belum ada
yang berskala nasional yang mencakup seluruh kejadian di seluruh
bagian Negara, melainkan hanya ada sistem yang bersifat lokal, yang
meliputi kejadian pada kota-kota tersendiri.

 Sensus atau Survei


Merupakan suatu sistem berupa pendataan. Pada sistem ini
pendataan mortalitas baru dicatat setelah beberapa waktu setelah
kejadian kematian tersebut terjadi. Data yang diperoleh melalui survei
dan sensus penduduk digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu :
1. Bentuk Langsung (Direct Mortality Rate)
Data dalam bentuk ini merupakan data yang diperoleh
dengan menanyakan langsung mengenai ada atau tidaknya kejadian
kematian dalam suatu waktu tertentu kepada responden. Bila data
yang diperoleh mengenai kejadian kematian mencakup data
kejadian kematian pada masa keberlangsungan sensus atau survei,
maka data tersebut disebut sebagai Current Mortality Data.
2. Bentuk Tidak Langsung (Indirect Mortality Rate)
Data kematian dalam bentuk ini diperoleh melalui
pertanyaan mengenai ‘survivorship’(kebertahanan hidup) sebuah
golongan penduduk tertentu. Data dalam bentuk ini memiliki
kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan data dalam bentuk
langsung, maka dari itu, data dalam jenis ini lebih sering dan lebih
banyak digunakan di Indonesia.

 Penelitian
Penelitian mengenai tingkat mortalitas suatu penduduk
biasanya dilakukan bersamaan dengan penelitian kelahiran (fertilitas)
yang disebut dengan penelitian statistik vital.

 Perkiraan / Estimasi
Proses memperoleh data mengenai tingkat mortalitas dapat
melalui proses pendekatan tidak langsung, yang dilakukan dengan
mengamati tahapan kehidupan dari waktu ke waktu. Pendekatan tidak
langsung ini memiliki tiga kesulitan utama yaitu terbatasnya sumber
daya untuk memastikan data dan disertai kesalahan pada sampling,
tingkat mobilitas remaja yang tinggi menyebabkan remaja terhindar
dari sampling, dan tidak perkiraan struktur kematian yang tidak mudah
(Wood dan Nisbet, 1990).

D. Ukuran-Ukuran Angka Mortalitas

Seperti halnya pengukuran fertilitas, dalam mortalitas juga dikenal ada


beberapa pengukuran, seperti berikut.
a. Angka Kematian Kasar/Crude Death Rate (CDR)
Crude Death Rate adalah angka yang menunjukkan banyaknya
kematian pada tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun.1
Rumus :
D
CDR= ×k
P

CDR = Angka kematian kasar


D = Jumlah kematian tahun x
P = Jumlah penduduk pertengahan tahun x
k = Bilangan konstan yang bernilai 1000
b. Angka Kematian Menurut Umur/Age Specific Death rate (ASDR)
Age Specific Death Rate menunjukkan hasil yang lebih teliti
dibandingkan dengan angka kematian kasar karena pengukuran ini
menyatakan banyaknya kematian pada kelompok umur tertentu per 1000
penduduk dalam kelompok umur yang sama. 1
Rumus :
Di
ASDR= ×k
Pi
ASDR = Angka kematian menurut umur
Di = Jumlah kematian pada kelompok umur i
Pi = Jumlah penduduk kelompok umur i
k = Bilangan konstan yang bernilai 1000
c. Angka Kematian Bayi (AKB)/Infant Mortality rate (IMR)
Angka kematian bayi adalah angka yang menunjukkan banyaknya
kematian bayi yang berumur kurang dari 1 tahun per 1000 kelahiran pada
suatu waktu tertentu. IMR menjadi salah satu indikator yang dapat
digunakan untuk melihat kondisi kesejahteraan suatu kelompok
masyarakat. Jika IMR tinggi, maka kondisi kesejahteraan atau kesehatan
masyarakat tersebut rendah, demikian sebaliknya. Salah satu indikator
dibidang kesehatan yang selalu diprogramkan untuk diturunkan secara
terus menerus adalah tingkat kematian bayi/IMR. 2
Rumus :
Db
AKB= ×k
L
IMF = Angka kematian bayi
Db = Jumlah kematian bayi umur dibawah 1 tahun
L = Jumlah bayi lahir hidup selama tahun x
k = Bilangan konstan yang bernilai 1000
d. Angka Kematian Balita/Under Five Mortality Rate
Angka Kematian Balita adalah jumlah seluruh kematian balita pada
satu tahun dibagi jumlah seluruh balita pada tahun yang sama.3
Rumus :
jumlah seluruh kematianbayi
UFMR= xk
jumlah penduduk balita

UFMR = Angka Kematian Balita


k = Bilangan konstan yang bernilai 1000

e. Angka Kematian Perinatal/Perinatal Mortality Rate


Perinatal Mortality Rate adalah jumlah kematian bayi usia 1
minggu dalam satu tahun dibagi jumlah kelahiran hidup pada tahun yang
sama.3
Rumus :
jumlahkematian bayiusia1 minggu
PMR= xk
jumlah kelahiran hidup

PMR = Angka Kematian Perinatal


k = Bilangan konstan yang bernilai 1000

f. Angka Kematian Neonatal/Neonatal Mortality Rate


Jumlah kematian bayi usia dibawah 28 hari pada jangka waktu satu
tahun dibagi jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama.3
Rumus :
jumlah kematian bayi usia dibawah28 hari
NMR= xk
jumlah kelahiran hidup
NMR = Angka Kematian Neonatal
k = Bilangan konstan yang bernilai 1000

g. Angka Kematian Ibu/Maternal Mortality Rate


Maternal Mortality Rate adalah jumlah kematian ibu akibat
kehamilan, persalinan dan nifas dalam tahun tertentu dibagi jumlah
kelahiran hidup pada tahun yang sama.3
Rumus :
jumlah kematianibu karenamelahirkan
MMR= xk
jumlah kelahiran hidup

MMR = Angka Kematian Ibu


k = Bilangan konstan yang bernilai 100.000
Faktor yang dapat mempengaruhi angka kematian ibu diantaranya:
- Sosial ekonomi
- Kesehatan ibu sebelum hamil, bersalin dan nifas
- Pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil
- Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas
h. Angka Kematian Penyebab Khusus/Cause Disease Spesific Death Rate
Cause Disease Spesific Death Rate adalah jumlah seluruh kematian
karena suatu penyebab khusus dalam jangka waktu tertentu dibagi dengan
jumlah penduduk pada pertengahan waktu yang bersangkutan dalam
persen atau permil.3
Rumus :
jumlah kematian karena penyebab khusus
CDSDR= xk
jumlah penduduk pertengahan

CDSDR = Angka Kematian Penyebab Khusus


k = Bilangan konstan yang bernilai 100.000
i. Angka Kasus Fatal/Case Fatality Rate
Angka Kasus Fatal adalah jumlah seluruh kematian akibat satu
penyebab dalam jangka waktu tertentu dibagi jumlah seluruh penderita
pada waktu yang sama dalam persen.3
Rumus :
jumlah seluruh kematian akibat penyakit tertentu
CFR= xk
jumlah seluruh penderita penyakit tertentu
CFR = Angka Kasus Fatal
k = Bilangan konstan yang bernilai 100
Angka kasus fatal berguna untuk memperoleh gambaran tentang distribusi
penyakit dan tingkat kematian penyakit tertentu.

E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fertilitas

Kematian dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang


dapat mempengaruhi dan penyebab kematian yaitu :

1. Komposisi penduduk menurut urban-rural (perbedaan status


kesehatan)
2. Komposisi jabatan atau pekerjaan
3. Komposisi penghasilan yang berpengaruh pada pelayanan kesehatan
4. Komposisi jenis kelamin
5. Status perkawinan

Kematian juga disebabkan oleh penyakit generatif maupun degeneratif


dan faktor sosial ekonomi suatu keluarga atau masyarakat (insiden, bunuh
diri, dan/atau pembunuhan).

Data kematian didapat dari survei, sensus atau survey direct mortality
data dan indirect mortality data, data rumah sakit, kantor polisi, kantor/dinas
pemakaman

1. Mortalitas Ibu
Berdasarkan trias penyebab kematian ibu (pre-eklampsia,
perdarahan dan infeksi). Penyebab kematian ibu di Indonesia 80%
disebabkan oleh penyebab langsung obstetri seperti perdarahan, sepsis,
abortus tidak aman, preeklampsia-eklampsia, dan persalinan macet.
Sisanya 20 % terjadi oleh karena penyakit yang diperberat oleh kehamilan.

Melahirkan pada usia < 20 tahun meningkatkan risiko kematian


neonatal karena kondisi fisiologis ibu yang belum matang, sedangkan usia
> 35 tahun kemampuan ibu untuk mengejan pada saat persalinan
berkurang (Paryati, 1990). Bayi yang dilahirkan dari ibu yang berumur
kurang dari 20 tahun memiliki risiko kematian neonatal 2 kali lebih besar
dari bayi yang dilahirkan dari ibu yang berumur antara 20-34 tahun
(Kasmiyati, 1991). Selain itu, kondisi fisik ibu yang belum siap pada usia
< 20 tahun dan berkurangnya kemampuan fisik ibu juga dapat membuat
sang ibu meninggal akibat pendarahan hebat ataupun kelelahan akut.

2. Mortalitas Bayi

Kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.


Kematian bayi endogen atau kematian neonatal disebabkan oleh faktor-
faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya
pada saat konsepsi (Sudariyanto, 2011). Menurut Mochtar (1998),
kematian bayi yang disebabkan dari kondisi bayinya sendiri yaitu BBLR,
bayi prematur, dan kelainan kongenital. Pendapat Saifudin (1992),
kematian bayi yang dibawa oleh bayi sejak lahir adalah asfiksia. Kematian
bayi eksogen atau kematian postneonatal disebabkan oleh faktor-faktor
yang kaitan dengan pengaruh lingkungan luar (Sudariyanto, 2011).

Kematian bayi banyak terjadi pada bayi yang lahir dengan berat
badan kurang. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan Ibu
terkait kehamilan dan kesehatan selama kesehatan. Banyak faktor yang
mempengaruhinya, diantaranya, Ibu jarang memeriksakan kandungannya
ke bidan; hamil di usia muda; jarak yang terlalu sempit; hamil di usia tua;
kurangnya asupan gizi bagi ibu dan bayinya; makanan yang dikonsumsi
ibu tidak bersih; fasilitas sanitasi dan higienitas yang tidak memadai,
(Fauziyah, 2011). Disamping itu, kondisi ibu saat hamil yang tidak bagus
dan sehat, juga dapat berakibat pada kandungannya, seperti faktor fisik;
faktor psikologis; faktor lingkungan, sosial, dan budaya. (Sulistyawati,
2009).

Kelangsungan hidup bayi yang dilahirkan dalam periode neonatal


dini sangat erat hubungannya dengan berat badan lahir (Depkes RI, 1994).
Hal ini berkaitan dengan pertumbuhan dan pematangan (maturasi) organ
dan alat-alat tubuh belum sempurna, akibatnya BBLR sering mengalami
komplikasi yang berakhir dengan kematian (Depkes RI, 2000). Menurut
Wahid(2000), Penelitian yang dilakukan di Purworejo menunjukkan hasil
yang sama dimana BBLR merupakan faktor terjadinya kematian bayi
neonatal. Menurut Ochman(1999), BBLR sebagai faktor penyebab
kematian neonatal juga sama dengan penelitian di Banjarmasin yang
menunjukkan BBLR menyebabkan kematian 6,5 kali lebih tinggi
dibandingkan bayi lahir normal.

Hal lain yang dapat menyebabkan mortalitas bayi yaitu faktor


penyulit persalinan, seperti penyakit yang diderita bayi, maupun perawatan
bayi di rumah, kondisi ibu saat hamil. Hal ini terbukti menurut data yang
diperoleh yang menunjukkan faktor penyebab kematian sangat beragam
seperti melahirkan sungsang, kelainan sejak dalam kandungan, kondisi ibu
saat hamil yang menyebabkan bayi prematur, BBLR, dan asfiksia.

Kematian bayi juga dipengaruhi kondisi bayi ketika lahir.


Penyebab utama kematian setelah lahir yaitu Asfiksia. Asfiksia
menyebabkan bayi akan mengalami penurunan denyut jantung secara
cepat, tubuh membiru , dan kekurangan oksigen. Asfiksia merupakan
faktor risiko independen kematian neonatus dengan penyakit membran
hialin. Penanganan asfiksia dengan resusitasi yang tepat diperlukan untuk
menurunkan risiko kematian neonatus dengan penyakit membran hialin
pada bayi baru lahir.
3. Kematian yang disebabkan oleh faktor ekonomi

Kematian bayi neonatal banyak terjadi pada keluarga atau


kelompok masyarakat dengan kondisi perekonomian menengah kebawah.
Hal ini sejalan dengan penelitian Yandrida (2005) di Kabupaten Padang
Pariaman tahun 2004. Penelitian Yandrida mengemukakan sebanyak
75,2% dari kematian neonatal terjadi pada keluarga miskin. Selain itu,
Kompleksnya pembiayaan masalah kesehatan, yang telah beberapa kali
mengalami perubahan mulai dari bentuk kartu miskin, jamkesda,
jamkesmas, jampersal untuk ibu bersalin, hingga JKN (Jaminan kesehatan
nasional) oleh BPJS. Turut membuat masyarakat yang memiliki
perekonomian menengah kebawah cenderung kesulitan untuk
memanfaatkan fasilitas kesehatan.

4. Kematian akibat faktor sosial dan pelayanan kesehatan

Penelitian yang dilakukan di beberapa Negara Asia Tenggara


menunjukkan ada perbedaan yang signifikan terhadap kematian perinatal
pada persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dibandingkan dengan
persalinan yang ditolong oleh dukun (Lubis, 1998). Penelitian lainnya juga
menyimpulkan hasil yang sama bahwa persalinan yang ditolong oleh
tenaga kesehatan memiliki risiko kematian neonatal lebih rendah
dibandingkan dengan persalinan yang ditolong oleh bukan tenaga
kesehatan (Kasmiyati, 1991).

Meskipun demikian, masih memungkinkan terjadi kematian bayi


yang ditolong oleh tenaga kesehatan akibat kendala selama pemeriksaan
kehamilan hingga proses persalinan, diantaranya alat medis yang kurang
lengkap, jarak jauh pada saat persalinan, dan transportasi kurang/terbatas.
Masalah kematian ibu yang tinggi di Indonesia juga sangat dipengaruhi
oleh kondisi geografis negara kepulauan dan medan yang sulit,
ketidakselarasan dalam memperoleh informasi dan pendidikan, sumber
daya manusia bidang kesehatan (menyangkut jumlah, kualitas dan
distribusinya).

Selain itu ada faktor yang diluar kondisi ibu saat hamil yang
memungkinkan mempengaruhi kondisi bayi, diantaranya beban fisik,
konflik keluarga, masalah ekonomi, serta kurangnya perhatian dan kasih
sayang dari keluarga.

5. Kematian akibat insiden, faktor penyakit degeneratif, dan non


degeneratif

Pada umur aman untuk kehamilan dengan paritas yang cukup


ternyata ada suatu fenomena yang melatarbelakangi kejadian suatu
penyakit yang secara tidak langsung mempengaruhi kondisi bayi, salah
satunya riwayat kesehatan ibu yang lalu (misalnya alergi, hipertensi, dll.)
serta riwayat keluarga (misalnya hipertensi, diabetes, riwayat keturunan
kembar, dll.).

Tingginya angka kematian di Indonesia tidak hanya serta merta


disebabkan oleh tingginya angka kematian ibu dan bayi. Tingginya
mortalitas di Indonesia juga dipengaruhi oleh masyarakat Indonesia yang
mengidap penyakit tertentu yang memiliki risiko kematian tinggi ataupun
penyakit pandemik di Indonesia.

Faktor risiko kematian di Indonesia juga disebabkan oleh penyakit


jantung seperti Penyakit Jantung Koroner(PJK) yang meliputi faktor risiko
yang tidak dapat di modifikasi seperti riwayat keluarga, umur, jenis
kelamin, sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti:
hipertensi, merokok, diabetes melitus, dyslipidemia (metabolisme lemak
yang abnormal), obesitas umum dan obesitas sentral, kurang aktivitas
fisik, pola makan, konsumsi minuman beralkohol, dan stres (Ditjen
PP&PL Kemenkes RI,2011:25).

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2008


untuk wilayah Asia Tenggara ditemukan 3.5 juta kematian penyakit
kardiovaskular, 52% diantaranya disebabkan oleh penyakit infark miokard
atau penyakit jantung coroner, dan 7% akibat hipertensi. Menurut
American Heart Association (AHA) dalam Heart Stroke Statistic 2010,
terindikasi setiap 25 detik, terdapat satu orang yang mengalami penyakit
jantung koroner dan setiap menit terjadi satu kematian koroner yang
disebabkan oleh penyakit Jantung Koroner (AHA,2010 dikutip dalam
penelitian Dalusung, 2010).

Selain itu, perluasan dari penyakit sirkulasi yaitu adanya penyakit


hipertensi dan stroke. Hasil SKRT 1995, 2001 dan 2004 menunjukkan
penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit nomor satu penyebab
kematian di Indonesia dan sekitar 20–35% dari kematian tersebut
disebabkan oleh hipertensi. Penelitian epidemiologi membuktikan bahwa
hipertensi berhubungan secara linear dengan morbiditas dan mortalitas
penyakit kardiovaskular.

Sedangkan penyakit stroke merupakan penyakit dengan peringkat


pertama penyebab kecacatan di Indonesia. Data dari laporan Institute Of
Health Metrics and Evaluation 2013 menunjukkan bahwa penyakit stroke
menempati peringkat pertama dari 10 penyakit mematikan dan berpotensi
besar menyebabkan kematian. Stroke juga berpotensi kematian, baik
kematian langsung ketika terserang stroke ataupun kematian dalam jangka
waktu tertentu pasca terserang stroke akibat kematian syaraf otak. Menurut
studi Chaturvedi, stroke khususnya jenis stroke iskemik lebih kerap
menyerang pada pagi hari hingga siang, Sekitar pukul 06.00 hingga 12.00.
Tekanan darah biasanya meningkat pada pagi hingga siang. Peningkatan
tensi darah menyebabkan peningkatan intraplak hemoragik atau
pendarahan pada plak pembuluh darah yang menyebabkan terjadinya
stroke.
Kasus kematian akibat keracunan pangan juga terus meningkat.
Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014 menemukan sekitar 200
laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan terjadi di
Indonesia tiap tahunnya. Pada tahun 2010, tercatat terdapat 429 laporan
kasus keracunan pangan dan diyakini angkanya jauh lebih besar karena
jumlah provinsi yang melaporkan baru 63%. Agen penyebab terjadinya
keracunan pangan ini paling banyak adalah bakteri patogen, dengan E.coli
sebagai penyebab tertinggi. Faktor paling berkontribusi terhadap
keracunan pangan dan fatalitasnya adalah ketahanan hidup patogen dan
pertumbuhan patogen.

Masalah pencernaan lain yang turut meningkatkan angka


mortalitas di Indonesia adalah Diare. Menurut Profil Kesehatan Indonesia
(2013), penyakit diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada
balita (25,2%) di Indonesia. Risiko balita mengalami kematian saat
menderita diare lebih besar dari risiko yang dimiliki orang dewasa karena
proporsi air dalam tubuh balita lebih besar daripada proporsi air dalam
tubuh manusia dewasa. Selain itu hal yang dapat meningkatkan risiko
balita terkena diare adalah faktor lingkungan di sekitarnya meliputi
sanitasi dan sumber air minum yang digunakan. Hampir setiap tahunnya
sanitasi buruk dan air minum yang terkontaminasi tersebut berkontribusi
terhadap 88% kematian anak akibat diare di seluruh dunia.

Mortalitas di Indonesia juga disebabkan oleh penyakit pandemik


Indonesia. Penyakit pandemik Demam Berdarah Dengue merupakan salah
satu penyakit menular yang berbahaya dapat menimbulkan kematian
dalam waktu singkat dan sering menimbulkan wabah. Penyakit Demam
Berdarah Dengue di Indonesia pertama kali dilaporkan di Jakarta dan
Surabaya pada tahun 1968 dengan jumlah kasus 58 orang dengan 24
kematian (CPR = 41,.3%). Setelah itu penyakit Demam Berdarah Dengue
ini menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, yang hingga dewasa ini
seluruh Provinsi di Indonesia telah terjangkit.
Kematian akibat insiden juga terjadi di Indonesia. Baik bunuh diri,
pembunuhan, ataupun suatu insiden. Kematian akibat insiden yang
memiliki angka cukup tinggi yaitu angka kematian akibat tenggelam atau
Drowning. Kematian akibat tenggelam ini banyak terjadi di pulau-pulau
ataupun daerah-daerah yang menjadi tujuan pariwisata dan umumnya
berpantai banyak, seperti Pulau Bali. Berdasarkan data register kematian di
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik RSUP Sanglah pada tahun 2010 – 2012,
kematian akibat tenggelam tertinggi terjadi pada rentang umur 21-30
tahun. Angka kematian tertinggi kedua. berada pada umur lebih dari 50
tahun sedangkan angka kematian tertinggi ke tiga berada pada rentang
umur 31-40 tahun.

Situasi penyakit penyebab kematian di Indonesia berada dalam


proses transisi epidemiologik seiring dengan proses transisi demografi.
Penyakit penyebab utama kematian terbesar adalah penyakit sirkulasi
(jantung/pembuluh darah otak) yaitu 222 per 100.000 penduduk,
selanjutnya penyakit infeksi 174 dan pernapasan 85 per 100.000
penduduk. Angka kematian untuk penyakit infeksi dan pernapasan lebih
tinggi di pedesaan (204 dan102) dibandingkan di perkotaan (136 dan 62).
Pada tahun 2000 terjadi perubahan penyebab kematian di Indonesia yaitu
dari penyakit infeksi menjadi penyakit sirkulasi (jantung dan pembuluh
darah otak). WHO memperkirakan, pada tahun 2020 PTM akan
menyebabkan 73% kematian dan 60% seluruh kesakitan di dunia.
DAFTAR PUSTAKA

Hairil Akbar, S. M. (2018). PENGANTAR EPIDEMIOLOGI. bandung: PT. Refika


Aditama.

Elvia, D. & Idris.2019.Determinan Tingkat Mortalitas di Provinsi Sumatera Barat.


Jurnal Kajian Ekonomi dan Pembangunan. 1(1) : 187-
196.

Muhammad, A.F.A., W.A.N.P. Hanif., dan M. Iffani.2015.Mortalitas di Indonesia


(Sejarah Masa lalu dan Proyeksi ke depan).Seminar Nasional
dan PIT IGI XVIII 2015.Fakultas Geografi, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.

Alfana, Muhammad Arif Fahrudin. "Mortalitas di Indonesia (Sejarah Masa Lalu


dan Proyeksi ke Depan)." (2017).

https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/383/jbptunikompp-gdl-liawarlina-19122-10-
kependud-0.pdf

1
Wirosuhardjo, Kartomo. (1980). Buku Pegangan Kependudukan. Jakarta :
Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Marhaeni, AAIN. (2018). Pengantar Kependudukan Jilid 1. Denpasar : CV Sastra


Utama.

3
Akbar,Hairil. (2018). Pengantar Epidemiologi. Bandung : PT Refika Aditama
Wandira, Arinta Kusuma dan Rachmah Indawati.2012. Faktor Penyebab
Kematian Bayi Di Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Biometrika dan
Kependudukan. Vol. 1, No.1. Hlm 33-42.

Zainuddin, Muhammad. Khasnur Hidjah & I Wayan Tunjung.2016.PENERAPAN


CASE BASED REASONING (CBR) UNTUK MENDIAGNOSIS
PENYAKIT STROKE MENGGUNAKAN ALGORITMA K-
NEAREST NEIGHBOR. Yogyakarta: CITISEE. ISBN: 978-602-60280-1-3

Arisanti, Risalia Reni. Citra Indriani & Siswanto Agus Wilopo.2018. Kontribusi
Agen Dan Faktor Penyebab Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan
Di Indonesia: Kajian Sistematis. BKM Journal of Community
Medicine and Public Health. Vol. 34 , No. 3.

Ashani, Tri Arifah & Abdur Rofi’.2007. KEMATIAN BAYI MENURUT


KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DAN SOSIAL EKONOMI
RUMAH TANGGA DI PROPINSI JAWA BARAT. Analisis Data Koe
SDKI.

Alifah Anggraini dkk.2013. Faktor Risiko Kematian Neonatus dengan Penyakit


Membran Hialin. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada – RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Vol. 15,
No. 2.

Prabamurti, Priyadi Nugraha. Cahya Tri Purnami & Laksmono Widagdo Sigit
Setyono.2008. Analisis Faktor Risiko Status Kematian Neonatal Studi
Kasus Kontrol di Kecamatan Losari Kabupaten Brebes Tahun
2006. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 3, No. 1.

Usaputro, Rizki & Kunthi Yulianti.2013. KARAKTERISTIK SERTA FAKTOR


RESIKO KEMATIAN AKIBAT TENGGELAM BERDASARKAN
DATA BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK RUMAH
SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH 2010 – 2012. E-Jurnal Medika
Udayana. Hlm 551- 561.

Ayuningrum, Feby Victiani dan Mutiah Salamah.2015. Analisis Faktor Sanitasi


dan Sumber Air Minum Yang Mempengaruhi Insiden Diare Pada Balita
Di Jawa Timur Dengan Regresi Logistik Biner. Jurnal Sains Dan Seni
ITS. Vol. 4, No.2. 2337-3520.

Dr. FAZIAH A. SIREGAR.2004. EPIDEMIOLOGI DAN PEMBERANTASAN


DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI INDONESIA.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara: USU
Digital Library.

Indrawati, Lina.2014. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, SIKAP,


PERSEPSI, MOTIVASI, DUKUNGAN KELUARGA
DAN SUMBER INFORMASI PASIEN PENYAKIT JANTUNG
KORONER DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN SEKUNDER
FAKTOR RISIKO (STUDI KASUS DI RSPAD GATOT
SOEBROTO JAKARTA). Jurnal Ilmiah WIDYA. Vol. 2, No. 3. ISSN
2338-3321.

Rahajeng,Ekowati & Sulistyowati Tuminah.2009. Prevalensi Hipertensi dan


Determinannya Di Indonesia. Majalah Kedokteran Indonsia, Vol.59,
No. 12.

Djaja, Sarimawar. Agus Suwandono & Soeharsono Soemantri.2003. Pola


Penyakit Penyebab Kematian di Perkotaan dan Pedesaan di
Indonesia, Studi Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
2001. Jurnal Kedoktran Trisakti. Vol. 22, No. 2.

Chalid, Maisuri T.2015. UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU:


PERAN PETUGAS KESEHATAN. Departemen Obstetri dan Ginekologi,
Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin : PT Gakken.