Anda di halaman 1dari 4

Resensi Novel Rumah Di Seribu Ombak

Siti Zakina Azzahra


XI IPS 2
SMA Negeri 17 Makassar
Judul : Rumah Di Seribu Ombak
Penulis : Erwin Arnada
Penerbit : Gagas Media
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Halaman : 388

Rumah Di Seribu Ombak adalah sebuah novel indah yang dibuat oleh Erwin
Arnada. Tema novelnya adalah tentang pertemanan. Novel itu menceritakan
tentang Wayan Manik dan Samihi Ismail. Mereka memiliki pengalaman traumatik
yang sama dan mereka ingin melawan pengalaman menakutkan itu. Novel ini
diperuntukkan bagi orang dewasa dan remaja, tetapi juga bisa dibaca oleh anak-
anak dengan pengawasan orang tua.
Biografi Penulis
Setelah dua puluh dua tahun menjadi wartawan dan merangkap sebagai
produser film, ia sering disebut sebagai Media Entrepreneur. Berbagai jenis media
pernah ia dirikan, yang terakhir malah membuatnya harus mendekam sembilan
bulan di Penjara Cipinang. Sampai akhirnya, ia diputus tidak bersalah dan divonis
bebas murni oleh Mahkamah Agung. Semangat menulisnya tak luntur walau harus
berada di sel pengap.
Novel ini adalah satu dari tiga buku yang ditulisnya selama berada di
penjara. Karier Jurnalistik dan pengalaman di industri film membuatnya peka
menangkap problem masyarakat dan menuangkannya secara literal maupun
audiovisual. Seperti problem sosial di Singaraja ini. Tak heran bila akhirnya cerita
novel ini ia jadikan sebuah feature film. Ia sendiri yang menjadi sutradara
sekaligus produsernya.
Sinopsis
Novel berjudul Rumah Di Seribu Ombak menceritakan tentang hubungan
antara Wayan Manik dan Samihi Ismail di Singaraja, Bali. Mereka bertemu untuk
pertama kalinya ketika Wayan Manik membantu Samihi Ismail dari orang-orang
yang mencoba mencuri sepedanya. Sejak kejadian itu, mereka sering
menghabiskan waktu bersama.
Hubungan yang baik membuat Samihi berani berbagi rahasianya kepada Wayan
Manik. Orang tua Samihi tidak mengizinkannya mendekati sungai, pantai, dan
hutan liar, karena hal itu akan mengancam hidupnya. Samihi Ismail tidak bisa
berenang dan dia takut mendekati pantai. Wayan Manik memahami perasaannya
dan dia mencoba meyakinkan Samihi untuk melawan rasa takutnya. Dia
mengajarkannya bagaimana cara berenang dan menjadi pribadi yang berguna di
masa depan.
Wayan Manik mengalami trauma pelecehan seksual dari orang asing. Dia tidak
pernah menceritakannya kepada siapa pun, karena dia berpikir bahwa hal itu
adalah aibnya. Namun, ia percaya bahwa Samihi akan menjaga rahasia dari semua
orang.
Kondisi buruk membuat Wayan Manik tidak bisa melanjutkan sekolahnya dan
menikmati masa kecilnya. Dia harus bekerja menjadi pemandu wisata lumba-
lumba di Pantai Lovina. Dia hanya tinggal bersama ibunya yang memiliki penyakit
tertentu. Situasi yang buruk membawa Wayan Manik ke hari-hari yang suram, itu
membuatnya merasa sedih. Suatu hari, Samihi Ismail harus memberi tahu Wayan
Manik rahasia untuk pemimpin Desa Kalidukuh, karena Wayan Manik dalam
bahaya. Dia diculik oleh orang asing yang melakukan pelecehan seksual ke Wayan
Manik. Wayan Manik kecewa oada Samihi ketika orang-orang di Kalidukuh tahu
aibnya. Dia berpikir Samihi melupakan janji dan persahatannya. Kesedihan dan
kesedihan yang ua rasaakan meningkat ketika tragedi bom Bali terjadi karena
ayahnya merupakan salah satu korban dalam insiden itu.
Realitas membuat Wayan Manik mengambil keputusan untuk meninggalkan
Singaraja untuk waktu yang lama. Di sisi lain Samihi Ismail tumbuh menjadi lelaki
pemberani. Dia tidak takut dengan air lagi. Hobi berselancar membuatnya
mendapatkan beasiswa ke Australia. Namun, Samihi Ismail dan keluarganya tidak
melupakan Wayan Manik.
Setelah beberapa tahun, Wayan Manik kembali ke Singaraja. Dia berharap dia bisa
memperbaiki nasibnya dan menemukan kehidupan yang baru. Dia jatuh cinta
pada saudari Samihi dan cintanya terbalaskan, tapi agama membuat situasinya
rumit.
Kebahagiaan tidak pernah datang pada Wayan Manik. Ibu Wayan Manik menderita
penyakit dan kemudian meninggal. Dia merasa bahwa dia kehilangan segalanya
dalam hidupnya dan sendirian di dunia ini. Sehari setelahnya kematian ibunya,
Wayan Manik merenungi segala sesuatu yang telah terjadi padanya dan dia
memutuskan untuk tinggal di rumah seribu ombak. Tinggal di rumah seribu
ombak berarti membunuh dirinya sendiri di tengah laut.
Kekuatan
Kekuatan novel adalah sampul buku, tema dan karakter. Pertama, sampul buku
novel ini memiliki desain yang bagus. Penulis memberikan gaya sekolah lama
untuk membuat pembaca tertarik. Kedua, temanya adalah tentang hubungan
pertemanan. Itu berarti novel ini bisa dibaca oleh semua orang. Ketiga, Pembaca
dapat mengambil nilai moral dari karakter. Misalnya: selalu patuh pada agama
sebagai ditunjukkan oleh sosok Samihi Ismail, tidak pernah menyerah pada nasib
buruk seperti yang ditunjukkan oleh Wayan Manik dan sosok yang memberi
pelajaran moral bagi warga desa oleh Haji Aminullah.
Kelemahan
Kelemahan buku ini adalah alur dan settingnya. Keduanya cukup membosankan.
Pertama, buku tesebut menggunakan alur mundur. Penggunaan alur mundur
sebagai alur utama dalam cerita membuatnya menjadi monoton. Hal ini
menyebabkan ceritanya mudah ditebak oleh pembaca. Kedua, setting novelnya
hanya menyebutkan beberapa tempat. Penulis sebaiknya membuat variasi dalam
setting novel agar bisa mengeksplorasi imajinasi mereka. Walaupun begitu, novel
Rumah Di Seribu Ombak adalah buku bagus untuk dibaca.