Anda di halaman 1dari 4

Nama : ADITIYA PANDU WIJAYA

NIM : B1033171056

1. Apa yang dimaksud dengan Indeks Harga Saham Gabungan?


JAWAB:
Indeks Harga Saham Gabungan (disingkat IHSG, dalam Bahasa Inggris disebut juga
Jakarta Composite Index, JCI, atau JSX Composite) merupakan salah satu indeks pasar
saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI; dahulu Bursa Efek Jakarta
(BEJ)). Diperkenalkan pertama kali pada tanggal 1 April 1983, sebagai indikator
pergerakan harga saham di BEJ, Indeks ini mencakup pergerakan harga seluruh saham
biasa dan saham preferen yang tercatat di BEI.
Menurut para ahli:
Jogiyanto (2013 :147) : “Indeks Harga Saham Gabungan merupakan angka indeks
harga saham yang sudah disusun dan dihitung dengan menghasilkan trend, dimana
angka indeks adalah angka yang diolah sedemikan rupa sehingga dapat digunakan
untuk membandingkan kejadian yang dapat berupa perubahan harga saham dari dari
waktu ke waktu.”
Zulbiadi Latief (Analis.co.id, 2018): “IHSG adalah indeks untuk seluruh saham yang
diperdagangkan di BEI, yang mencerminkan trend pergerakan dan nilai rata-rata
keseluruhan saham dari emiten yang ada di Indonesia.”

2. Apa tujuan dibentuknya Indeks Harga Saham Gabungan?


JAWAB:
Indeks harga saham mempunyai tiga tujuan utama. Yaitu: sebagai penanda arah pasar,
pengukur tingkat keuntungan, dan tolok ukur kinerja portofolio.

1. Penanda Arah Pasar


Boleh dibilang, Indeks merupakan nilai representatif atas rata-rata dari sekelompok
saham. Karena menggunakan harga hampir semua saham di BEJ dalam
perhitungannya, IHSG menjadi indikator kinerja bursa saham paling utama.
Gampangnya, jika ingin melihat kondisi bursa saham saat ini, kita tinggal melihat
pergerakan angka IHSG.

Jika IHSG cenderung meningkat seperti yang terjadi akhir-akhir ini, artinya harga-harga
saham di BEI sedang meningkat. Sebaliknya, jika IHSG cenderung turun, artinya harga-
harga saham di BEI sedang merosot. Sekedar catatan, persentase kenaikan atau
penurunan IHSG akan berbeda dibanding dengan kenaikan atau penurunan harga
masing-masing saham. Kadang ada kalanya peningkatan atau penurunan harga saham
melebihi atau bahkan berlawanan dengan pergerakan angka IHSG.

2. Pengukur Tingkat Keuntungan


Misalnya kita dapat menghitung secara rata-rata berapa keuntungan berinvestasi di
pasar saham. Sekarang di tahun 2013, IHSG bernilai 4400. Lima tahun lalu IHSG
bernilai 1400. Kita dapat menghitung secara sederhana berinvestasi selama 5 tahun dari
tahun 2008-2013 menghasilkan keuntungan (4400-1400)/1400*100% = 214%. Secara
rata-rata per tahun keuntungan berinvestasi di pasar saham adalah 214%. Berarti per
tahun 42,8%. Angka tersebut belum termasuk keuntungan dari dividen.

3. Tolok Ukur Kinerja Portofolio


Bila Anda memiliki reksadana atau portofolio saham, Anda bisa membandingkan
kinerjanya dengan IHSG. Misalnya dalam 5 tahun terakhir IHSG naik sebanyak 214%.
Kalau reksadana atau portofolio Anda kinerjanya di bawah angka tersebut, sebaiknya
Anda perlu berganti strategi
3. Ada berapa jenis indeks saham yang terdapat di Bursa Efek Indonesia?
JAWAB:
Terdapat beberapa indeks saham lainnya yang merupakan bagian dari IHSG, di
antaranya adalah:
1. Indeks Sektoral
2. Indeks LQ45
3. Jakarta Islamic Index (JII)
4. Kompas 100
Sedangkan komponen-komponennya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Ada 9
sektor yang mencantumi komponen-komponennya yaitu Pertanian, Pertambangan,
Industri Dasar, Aneka Industri, Industri Barang Konsumsi, Properti, Infrastruktur,
Keuangan dan Perdagangan dan sektor khusus seperti KOMPAS 100, JII, LQ45,
BISNIS 27, PEFINDO 25 dan SRI-KEHATI. Semua emiten yang tercatat di BEI
tergantung pada tipe usahanya dan likuidasinya sendiri.

4. Jelaskan faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi indeks saham di pasar
modal Indonesia dan dunia?
JAWAB:
Penelitian yang membahas pengaruh faktor-faktor ekonomi makro terhadap
perkembangan pasar saham telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Lee (1992)
menyatakan bahwa perubahan tingkat bunga (interest rate) mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap indeks harga saham.
Bodie, Kane dan Marcus (2006) mengemukakan secara lengkap bahwa tujuh faktor
yang
mempengaruhi perkembangan pasar saham bila dilihat dari makro ekonomi, yaitu: (1)
Gross Domestic Product (GDP); (2) Inflasi; (3) suku bunga; (4) nilai tukar; (5) tingkat
pengangguran; (6) transaksi berjalan; (7) defisit anggaran. Dari ke tujuh faktor/variabel
makro tersebut paling representatif yaitu transaksi berjalan, nilai tukar, dan SBI. Dengan
demikian ada empat variabel yang tidak perlu digunakan yaitu: GDP, tingkat
pengangguran, inflasi dan defisit anggaran (Ebert & Griffin 2000).

5. Bagaimana cara menghitung Indeks Harga Saham Gabungan?


JAWAB:
Perhitungan lndeks Harga Saham Gabungan
Agar bisa memahami situasi pasar secara umum, Anda harus mengetahui apa yang
disebut sebagai indeks harga saham gabungan (IHSG).

Pada dasarnya perhitungan IHSG tidak berbeda dengan perhitungan indeks harga
saham individu. Namun dalam perhitungan IHSG Anda harus menjumlahkan seluruh
harga saham yang ada (listing).

Rumus:
IHSG = (Ht / H0) X 100%
Ht : Total harga semua saham pada waktu yang berlaku
H0 : Total harga semua saham pada waktu dasar

Jika IHSG nilainya diatas 100% menunjukkan kondisi pasar sedang dalam keadaan
bergairah, namun sebaliknya jika IHSG nilainya berada di bawah angka 100%, maka
pasar sedang dalam keadaan lesu. Jika IHSG nilainya tepat di angka 100%, maka pasar
dalam keadaan stabil.

lndeks Harga Saham Gabungan Tertimbang


Perhitungan IHSG di atas merupakan perhitungan sederhana, karena menganggap
semua saham memiliki peran yang sama dalam memengaruhi pasar. Dalam keadaan
tertentu, masih ada bursa yang menggunakan metode itu. Perhitungan IHSG yang lebih
kompleks adalah dengan memasukkan unsur bobot (timbangan).

Di dalam mempengaruhi situasi pasar, tentu saja berbeda antara saham yang satu dan
yang lain. Ada beberapa jenis saham yang mempunyai pengaruh yang sangat besar.
Artinya, apabila terjadi sesuatu pada saham tersebut, maka seluruh harga saham akan
terpengaruh.

Pembobotan yang digunakan lazimnya adalah jumlah saham yang didaftarkan oleh
emiten. Demikian pula yang berlaku di pasar modal Indonesia. Jadi peran emiten dalam
menentukan IHSG ditentukan oleh banyak sedikitnya jumlah saham yang didaftarkan.
Semakin banyak saham yang didaftarkan, semakin penting perusahaan tersebut dan
semakin besar bobotnya dalam membentuk IHSG.

Persoalan berikutnya adalah menentukan rumus yang akan digunakan. Sebab,


meskipun pembobotan sudah dapat dilaksanakan, yaitu dengan memilih jumlah saham
yang didaftarkan sebagai kriteria, tetapi jumlah saham yang diterbitkan saat kapan?

Apakah saat waktu dasar atau waktu yang berlaku? Jumlah saham yang beredar pada
waktu dasar ini, bisa diartikan pula sebagai jumlah saham yang diterbitkan saat
perusahaan go public (emisi perdana).

Bila Anda menggunakan jumlah saham yang beredar pada waktu dasar sebagai
pembobotan, berarti Anda mengikuti rumus yang dikemukakan oleh Laspeyres.

Rumus:
IHSG = (HtK0 / H0K0) X 100%
K0 : Jumlah Saham yang beredar pada waktu dasar

Jika melihat tabel diatas maka untuk menghitung IHSG maka masing-masing harga
saham Ht dan H0 dikalikan dengan jumlah saham yang beredar.
Sebagai contoh untuk bulan februari didapat perhitungan sebagai berikut:

IHSG = (1.100 X 2.500) + (750 X 5.000) + (3.250 X 1.000) X 100%


(1.000 X 2.500) + (600 X 5.000) + (3.150 X 1.000)
= 107 %

Hasilnya, kebetulan sama dengan perhitungan IHSG secara sederhana. Namun tidak
semua hasil yang diperoleh sama, cobalah Anda hitung untuk bulan-bulan berikutnya.

Jika metode yang digunakan yaitu menghitung jumlah saham yang diterbitkan pada
waktu yang berlaku sebagai timbangannya, maka Anda menggunakan rumus Paasche,
rumusnya adalah sebagai berikut:

Rumus:
IHSG = (HtKt / H0Kt) X 100%
Kt : Jumlah Saham yang beredar pada waktu yang berlaku

Sebagai contoh untuk bulan Februari didapat perhitungan sebagai berikut:

IHSG = (1.100 X 2.000) + (750 X 4.550) + (3.250 X 1.500) X 100%


(1.000 X 2.000) + (600 X 4.550) + (3.150 X 1.500)
= 111 %
Tentu timbul pertanyaan, mana di antara IHSG itu yang lebih akurat. Artinya benar-benar
mewakili keadaan pasar. Untuk menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah. Anda
memerlukan waktu yang panjang untuk membuktikannya, apakah perilaku pasar sesuai
dengan rumus Laspeyres atau Paasche?

Namun demikian, ada jalan pintas, yaitu dengan menggunkan rumus Irving Fisher atau
Drobisch. Kedua ahli ini memang sengaja mencari jalan tengah dari dua hitungan
tersebut.

Irving Fisher mencari jalan tengah dengan cara mengalikan IHSG menurut Laspeyres
dengan IHSG menurut Paasche kemudian diambil akarnya. Sedang Drobisch, dengan
mengambil rata-ratanya, yaitu IHSG menurut Laspeyres dijumlahkan dengan IHSG
menurut Paasche kemudian dibagi dua.

Rumus Irving Fisher adalah:


IHSG = √IHSGL X IHSGP
Dimana:
IHSGL : Perhitungan IHSG menggunakan rumus Laspeyres
IHSGP : Perhitungan IHSG menggunakan rumus Paasche

Kalau dilihat dari perhitungan contoh diatas didapat :


IHSG = √107 X 111
= 109

Rumus Drobisch adalah:


IHSG = IHSGL + IHSGP / 2

Kalau dilihat dari perhitungan contoh diatas didapat :


IHSG = (107 + 111) / 2
= 109