Anda di halaman 1dari 6

Hukum Pernikahan Beda Agama Islam dan Non-Muslim

Pandangan Islam tentang Nikah Beda Agama

1. Haram
Pernyataan ini didasari oleh dalil-dalil Al-Quran surat Al-baqarah ayat 221 dan Al-Mumtahanah ayat 10 yang menjelaskan bahwa orang-
orang mukmin dilarang menikahi wanita musyrik. Menikah dengan orang kafir tidak dihalalkan dalam islam.
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari
wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik [dengan wanita-wanita mu’min]
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka
mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya [perintah-
perintah-Nya] kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS Al-Baqarah: 221)
Pendapat Ulama Muhammadiyah
Dalam sidang Muktamar Tarjih ke-22 pada tahun 1989 di Malang, para ulama Muhammadiyah telah menetapkan keputusan bahwa
pernikahan beda agama hukumnya tidak sah. Laki-laki muslim tidak boleh menikahi wanita musyrik. Begitupun dengan pernikahan laki-
laki muslim dengan wanita ahlul kitab (Yahudi atau Nasrani) hukumnya juga haram.
Menurut ulama Muhammadiyah, wanita ahlul kitab di jaman sekarang berbeda dengan jaman nabi dahulu. Selain itu menikahi wanita beda
agama juga mempersulit membentuk keluarga sakinah yang sesuai syariat islam.

2. Diperbolehkan (antara makruh dan mubah)


Pendapat dari ulama yang kedua tentang hukum pernikahan beda agama antara makruh dan mubah. Pernyataan mereka didasari oleh surat
Al-Maidah ayat 5 yang menjelaskan bahwa menikahi wanita ahlul kitab dihalalkan untuk seorang mukmin. Namun dengan syarat,
 wanita ahlul kitab tersebut tidak pernah melakukan perbuatan maksiat, seperti zina dan sejenisnya
 Hanya laki-laki muslim yang boleh menikahi wanita ahlul kitab, sedangkan wanita muslim tidak boleh menikahi laki-laki beda
agama.
Mengapa demikian? Sebab posisi wanita dalam keluarga adalah menjadi makmum. Belum tentu bisa membimbing suaminya. Jadi jika
suaminya non muslim maka bisa berisiko merusak pondasi keimanan rumah tangga.
 “Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan
makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang
beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah
membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat
Termasuk orang-orang merugi”. (QS. Al-Maidah: 5)
Diperbolehkannya laki-laki muslim menikah dengan wanita ahlul kitab dikarenakan adanya pendapat yang mengatakan bahwa waniat ahlul
kitab berbeda dari wanita musyrik. Namun demikian dalam surat Al-bayyinah Allah Ta’ala menjelaskan bahwa ahli kitab dan orang-orang
musyrik termasuk orang kafir.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal
di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”  (QS. Al-Bayyinah: 6)
WANITA-WANITA YANG HARAM DINIKAHI
1. Mahram karena nasab
Golongan wanita yang haram dinikahi dalam islam adalah wanita yang terikat dengan hubungan nasab atau keturunan. Berdasarkan surat
An Nisa ayat 23 maka wanita yang tidak boleh dinikahi berdasarkan nasab meliputi
 Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita
 Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
 Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu
 Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau
seibu
 Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau
seibu
 Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur
laki-laki maupun wanita
 Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur
laki-laki maupun wanita

2. Mahram karena pernikahan


Berdasarkan surat An Nisa ayat 23 golongan wanita ini termasuk:
 Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas
 Istri anak, istri cucu atau menantu dan seterusnya ke bawah
 Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas
 Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib,
dan seterusnya ke bawah

Talak perceraian
 Perceraian atau dalam islam dikenal dengan talak yang dapat diartikan sebagai terlepasnya ikatan sebuah perkawinan atau juga bisa
diartikan terputusnya hubungan perkawinan antar suami dan istri dalam jangka waktu tertentu atau untuk selama-lamanya. Mengapa
dikatakan dalam jangka waktu tertentu? Karena dalam islam diperbolehkan adanya rujuk, dengan beberapa catatan seperti firman Allah
SWT berikut ini :
 “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.
Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak
akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum
Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah,
maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS.
Al- Baqarah ayat 229)
Kapankan perceraian atau talak itu dapat dilakukan?
Islam telah mengajarkan bahwasannya talak atau cerai tidak bisa dilakukan kapan saja. Al- Qur’an dan As- Sunnah telah mengajarkan
bahwa talak hendaknya dilakukan secara pelan-pelan dan memilih waktu yang sesuai.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam talak atau cerai diantaranya :
1. Talak atau cerai tidak boleh dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya pada saat istrinya sedang dalam masa haid, nifas, atau
saat istrinya dalam keadaan suci akan tetapi ia menggaulinya. Jika suami melakukan hal tersebut maka dianggap telah
melakukan talak yang bid’ah dan diharamkan. Rasulullah Shalallahu Alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang melakukan perbuatan
tanpa dilandasi perintah kami maka itu tertolak (tidak diterima).”
2. Hendaknya ketika mengucapkan talak, suami dalam keadaan sadar, karena apabila suami mentalak istrinya dalam keadaan tidak
sadar seperti ketika sedang marah, sehingga karena amarah tersebut dapat menutupi kesadarannya hingga ia bicaa yang tidak diinginkan,
maka talak yang ia lakukan adalah tidak sah. 
3. Seorang suami yang mentalak atau menceraikan istrinya bermaksud untuk benar-benar mencerai atau berpisah dengan istrinya
tersebut, jangan sampai talak yang diucapkan hanya sekedar menakut-nakuti atau menjadikan talak itu sebagai sumpah. Hal tersebut tidak
dibenarkan dalam islam. Ibnu Abbas pernah berkata: “Sesungguhnya talak itu harena diperlukan.”

Hukum Talak
1. Wajib ; Perceraian atau talak dikatakan wajib apabila :
 Antara suami dan istri tidak dapat didamaikan lagi
 Tidak terjadi kata sepakat oleh dua orang wakil baik dari pihak suami maupun istri untuk perdamaian rumah tangga yang hendak
bercerai
 Adanya pendapat dari pihak pengadilan yang menyatakan bahwa perceraian/ talak adalah jalan yang terbaik.
Dan jika dalam keadaan-keadaan tersebut keduanya tidak diceraikan, maka suami akan berdosa.
2. Haram ; Suatu perceraian/ talak akan menjadi haram hukumnya apabila :
 Seorang suami menceraikan istrinya ketika si istri sedang dalam masa haid atau nifas
 Seorang suami yang menceraikan istri ketika si istri dalam keadaan suci yang telah disetubuhi
 Seorang suami yang dalam keadaan sakit lalu ia menceraikan istrinya dengan tujuan agar sang istri tidak menuntut harta
 Seorang suami yang menceraikan istrinya dengan talak tiga sekaligus, atau juga bisa dengan mengucapkan talak sat akan tetapi
pengucapannya dilakukan secara berulang-ulang sehingga mencapai tiga kali atau bahkan lebih.
3. Sunnah ; Perceraian merupakan hal yang disunnahkan, apabila :
 Suami tidak lagi mampu menafkahi istrinya
 Sang istri tidak bisa menjaga martabat dan kehormatan dirinya
4. Makruh ; Perceraian/ talak bisa dianggap sebagai hal yang makruh apabila seorang suami menjatuhkan talak kepada istrinya yang baik,
memiliki akhlak yang mulia, serta memiliki pengetahuan agama yang baik.
5. Mubah ; Sedangkan perceraian atau talak bisa dikatakan mubah hukumnya apabila suami memiliki keinginan/ nafsu yang lemah atau
juga bisa dikarenakan sang istri belum datang haid atau telah habis masa haidnya.

Rukun Perceraian/ Talak
1. Bagi Suami ; Suami yang hendak menceraikan istrinya haruslah :
 Berakal sehat
 Baligh
 Bercerai atas kemauan sendiri atau tanpa adanya paksaan dari pihak lain
2. Bagi Istri ; Seorang istri yang bisa diceraikan haruslah :
 Memiliki akad nikah yang sah dengan suami
 Suami belum pernah menceraikannya dengan mengucapkan talak tiga
3. Lafadz Talak ; Talak dianggap sah apabila dalam lafadznya :
 Terdapat kejelasan ucapan yang menyatakan perceraian
 Disengaja atau tanpa adanya paksaan dari pihak manapun atas pengucapan talak tersebut.

Jenis – Jenis Talak
Talak dibagi dalam beberapa jenis, yaitu :
A. Dilihat dari sighat (ucapan/ lafadz) talak
Jika ditinjau dari segi ini, talak dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Talak Sharih (Talak langsung)
Ini adalah talak yang diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya dengan lafadz atau ucapan yang jelas dan terang. Meskipun talak ini
diucapkan tanpa adanya niat ataupun saksi, akan tetapi sang suami tetap dianggap menjatuhkan talak/ cerai.
Contoh Lafadz/ ucapan Talak Sharih :
 Aku menceraikanmu
 Engkau aku ceraikan
 Engkau kutalak satu, dan lain sebagainya.
2. Talak Kinayah (Talak Tidak Langsung)
Ini adalah talak yang diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya dengan menggunakan kata-kata yang di dalamnya mengandung makna
perceraian akan tetapi tidak secara langsung. Seorang suami yang apabila menjatuhkan talak dengan lafadz  talak kinayah sementara tidak
ada niat untuk menceraikan istrinya, maka talak tersebut dianggap tidak jatuh.
Akan tetapi apabila sang suami mempunyai niat untuk menceraikan istrinya ketika mengucapkan kalimat-kalimat talak tersebut, maka talak
dianggap jatuh. Contoh Lafadz talak kinayah :
 “Pulanglah engkau pada orang tuamu karena aku tidak lagi menghendakimu”
 “Pergi saja engkau dari sini kemanapun engkau suka”
 “Tidak ada hubungan apapun lagi di antara kita,” dan lain sebagainya.

B. Dilihat dari pelaku perceraian


Jika ditinjau dari segi tersebut, cerai atau talak terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Cerai Talak oleh Suami
Ini merupakan jenis perceraian atau talak yang paling umum terjadi, dimana seorang suami menjatuhkan talak kepada istrinya. Begitu
seorang suami mengucapkan lafadz talak kepada sang istri, maka talak atau cerai tersebut telah dianggap jatuh atau terjadi.
Jadi status perceraiannya terjadi tanpa harus menunggu keputusan dari pengadilan agama. Dengan kata lain, keputusan dari Pengadilan
Agama hanyalah sebagai formalitas saja.
Talak jenis ini dibedakan menjadi 5 jenis, yaitu :

Talak Raj’i
Yaitu suatu proses perceraian dimana suami mengucapkan talak satu atau talak dua kepada istrinya. Akan tetapi sang suami bisa
melakukan rujuk dengan istrinya ketika sang istri masih dalam masa iddah, dan ketika masa iddahtelah habis atau lewat, rujuk yang
dilakukan oleh suami tidak dibenarkan kecuali harus dengan akad nikah yang baru.
Talak Bain
Ini adalah suatu proses perceraian dimana seorang suami mengucapkan atau melafadzkan talak tiga kepada istrinya. Dalam kasus seperti
ini, sang suami tidak diperbolehkan untuk rujuk dengan istrinya, kecuali sang istri telah menikah kembali dengan orang lain lalu sang istri
diceraikan oleh suami barunya tersebut dan telah habis masa iddahnya.
Talak Sunni
Ini adalah perceraian dimana seorang suami mengucapkan talak kepada istri yang belum disetubuhi ketika si istri dalam keadaan suci dari
haid.
Talak Bid’i
Yaitu perceraian dimana suami menjatuhkan talak kepada istrinya yang masih dalam masa haid atau istri yang dalam keadaan suci dari
haid akan tetapi sudah disetubuhi.
Talak Taklik
Yaitu perceraian yang terjadi akibat syarat atau sebab-sebab tertentu. Jadi apabila sang suami melakukan sebab atau syarat-syarat tersebut,
maka terjadilah perceraian atau talak.
2. Gugat Cerai oleh istri
Ini merupakan proses perceraian dimana sang istri mengajukan permohonan gugat cerai atas suaminya kepada Pengadilan Agama, dan
sebelum lembaga pemerintah tersebut memutuskan secara resmi, maka perceraian dianggap belum terjadi.
Ada dua istilah terkait gugat cerai yang dilakukan oleh istri atas suaminya, yaitu :

Fasakh
Yaitu pengajuan perceraian yang dilakukan seorang istri atas suaminya tanpa adanya kompensasi yang diberikan oleh istri kepada sang
suami. Fasakh bisa dilakukan ketika :
 Suami telah dianggap tidak memberikan nafkah lagi baik nafkah lahir maupun batin kepada istrinya selama enam bulan berturut-
turut.
 Apabila seorang suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa adanya kabar berita
 Suami dianggap tidak melunasi mas kawin atau mahar yang telah disebutkan di dalam akad nikah, baik sebagian maupun
keseluruhan.
 Suami berlaku buruk kepada istrinya seperti menganiaya, menghina, maupun tindakan lainnya yang dapat mengancam
keselamatan dan keamanan sang istri.
Khulu’
Yaitu proses perceraian atas permintaan dari pihak istri dan suami setuju dengan hal tersebut dengan syarat sang istri memberikan imbalan
kepada sang suami.
Dampak dari gugatan cerai yang dilakukan istri tersebut adalah hilangnya hak suami untuk melakukan rujuk selama sang istri sedang
dalam masa iddah atau yang disebut dengan talak ba’in sughra. Dan apabila sang suami menghendaki untuk rujuk, maka ia harus
melakukan proses melamar dan menikahi kembali wanita yang telah menjadi mantan istrinya tersebut. Dan apabilan wanita tersebut
hendak menikah dengan pria lain, maka ia harus menunggu hingga masa iddahnya selesai.
AKIBAT PUTUSNYA PERKAWINAN
1.  Bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib:
a. memberikan mut`ah yang layak kepada bekas isterinya, baik berupa uang atau benda, kecualibekas isteri tersebut qobla al dukhul;
b. memberi nafkah, maskah dan kiswah kepada bekas isteri selama dalam iddah, kecuali bekas isteri telahdi jatuhi talak ba1in atau nusyur
dan dalam keadaan tidak hamil;
c. melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya, dan separoh apabila qobla al dukhul;
d. memeberikan biaya hadhanan untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun
2. Bekas suami berhak melakukan ruju` kepada bekas istrinya yang masih dalam iddah.
3. Bekas isteri selama dalam iddah, wajib menjaga dirinya, tidak menerima pinangan dan tidak menikah dengan pria lain.
4. Bekas isteri berhak mendapatkan nafkah iddah dari bekas suaminya kecuali ia nusyuz.
Bagian Kelima
Akibat Khuluk
5, Perceraian dengan jalan khuluk mengurangi jumlah talak dan tak dapat dirujuk

Makanan, minuman dan pakaian dalam islam


A.    Makanan dan Minuman
1.      Makanan yang Halal
Halal artinya boleh, jadi makan yang halal ialah makan yang di bolehkan untuk dimakan menurut ketentuan syariat Islam. Segala
sesuatu baik berupa tumbuhan, buahan-buahan ataupun binatang pada dasarnya adalah halal dimakan, kecuali apabila ada nash Al-Qur'an
atau Al-Hadits yang menghatamkanya. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah : 17
Yang artinya:
“ Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah,
jika benar-benar hanya kepada kamu menyembah.
 Berdasarkan firman Allah dan Hadits Nabi saw. Dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis makan yang halal adalah:
a.       Semua makanan yang baik, tidak kotor dan tidak menjijikkan.
b.      Semua makan yang tidak diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya
c.       Semua makanan yang tidak memberi mudharat, tidak membahayakan kesehatan jasmani dan tidak merusak akal, moral, dan aqidah.
d.      Bidang yang hidup di dalam air, baik air laut maupun air tawar.  

2.      Makanan Haram
Haram artinya dilarang, jadi makanan yang haram adalah makanan yang dilarang oleh syarat untuk di makanan. Yang termasuk
makanan yang diharamkan adalah
a.       Semua makanan yang disebutkan dalam firman Allah swt. S.Q.                        Al-Maidah ayat 3 
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang
tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[395], dan
(diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396], (mengundi nasib
dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini[397] orang-orang kafir Telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu
janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-
cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] Karena kelaparan
tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Firman Allah dalam Q.S. Al-An’am ayat 145
“Katakanlah: "Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak
memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - Karena Sesungguhnya semua itu kotor -
atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya
dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang".

b.      Semua makanan yang keji, yaitu kotor, dan menjijikkan


c.       Semua jenis makanan yang dapat mendatangkan mudharat terhadap jiwa, raga, akal, moral dan aqidah.
d.      Bagian yang dipotong dari binatang yang masih hidup
e.       Makanan yang didapat dengan cara yang tidak halal seperti makanan hasil curian, rampasan, dan korupsi riba dan cara-cara lain yang
dilarang agama.
1)      Bangkai
2)      Darah
3)      Daging Babi
4)      Sembelihan Untuk Selain Allah
5)      Hewan yang Diterkam Binatang Buas
6)      Binatang Buas Bertaring
7)      Burung yang Berkuku Tajam
3.      Minuman yang Halal
Minuman yang halal pada dasarnya dapat dibagi 4 bagian:
a.       Semua jenis air atau racun yang tidak membahayakan
b.      Ari atau cairan yang tidak memabukkan walaupun sebelumnya pernah memabukkan seperti arak yang berubah menjadi cuka.
c.       Air atau cairan itu bukan berupa benda najis atau benda suci yang terkena najis
d.      Air atau cairan yang suci itu didapatkan dengan cara-cara yang halal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.
4.      Minuman yang Haram
a.       Semua minuman yang memabukkan atau apabila minuman menimbulkan mudharat dan merusak badan, akal, jiwa, moral dan aqidah
seperti arak, khamar, dan sejenisnya.
b.      Minuman dari benda najis atau benda yang terkena najis.
c.       Minuman yang didapatkan dengan cara-cara yang tidak halal atau yang bertentangan dengan ajaran Islam.
B.     Pakaian
Syarat-syarat busana yang dijadikan wanita sebagai jiblat dan penutup tubuhnya adalah sebagai berikut:
1.      Bukan pakaian milik orang lain yang digunakan tanpa seizin pemiliknya
2.      Bukan pakaian mewah
3.      Pria tidak mengenakan pakaian khusus wanita dan wanita tidak mengenakan busana khusus pria.
4.      Wanita harus menghindari dari busana yang menarik perhatian orang
5.      Pakaian tidak boleh ketat dan tipis sehingga menempatkan lekuk-lekuk tubuh wanita
a)      Pakaian Laki-laki
1)      Isbah (menjulurkan kainnya ke bawah mata kaki) biak itu baju, mantel atau celananya. Artinya: memanjangkan sampai kebawah kedua
mata kaki
2)      Memakai pakaian yang sempit dan sempit dan tipis (transparan)
3)      Memakai pakaian yang menyerupai pakaian wanita
4)      Memakai pakaian kebanggaan 
5)      Memakai Pakaian Yang Tidak Menutup Aurat
6)      Meremehkan Masalah Memakai Pakaian Yang Indah Ketika Di Mesjid
7)      Memakai pakaian yang ada gambar makhluk bernyawa, khususnya gambar orang-orang kafir seperti: para artis, pemain atau para
pemimpin yang terkenal memakai pakaian yang ada gambar manusia, hewan atau burung adalah haram.
8)      Memakai cincin dari emas bagi kaum laki-laki sebagai perhiasan, pernikahan atau yang lain.
Larangan memakai cincin yang terbuat dari emas ini, meliputi semua tujuan memakainya, jadi tidak dibolehkan memakainya untuk
perhiasan, lamaran, pernikahan dan tunangan.
b)      Pakaian Wanita
1)      Memakai pakaian yang sempit, transparan dan menarik perhatian laki-laki asing.
Hal ini termasuk perkara yang diharamkan, wanita ketika berada dikalangan laki-laki tidak dibolehkan memakai pakaian sempit yang
menampakkan lekuk badan dan bentuk anggota tubuhnya dan tidak pula memakai pakaian transparan yang menggambarkan warna
kulitnya.
2)      Memakai kain yang terbuka bagian bawahnya, yang tidak menutup betis dan kedua kaki, serta pakaian-pakaian yang menampakkan
berbagai kecantikan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnnya.
3)      Memakai pakaian yang berlengan pendek, memperlihatkan kedua tangan, dan menampakkannya di hadapan kaum laki-laki, baik di pasar
maupun di mobil
4)      Memakai pakaian yang menyerupai pakaian laki-laki baik terpisah atau dalam suatu bentuk (yang sama)
Hal ini dilarang, seorang wanita tidak boleh menyerupai laki-laki dalam berpakaian bertingkah laku dan berjalan, Nabi saw. melaknat
wanita-wanita yang menyerupai laki-laki
5)      Memakai rambut palsu (wig, karena hal itu termasuk penyambung rambut)
6)      Menggunakan cat kuku (pacar) yang menghalangi sampainya air ke kulit ketika wudhu
7)      Memakai kuku buatan atau memanjangkan kuku kedua tangan dan kaki.

WARISAN
Pewaris adalah orang yang meninggalkan harta dan hak-hak yang pernah diperoleh karena meninggal dunia; laki-laki atau perempuan, baik
dengan surat wasiat maupun tidak.
Sementara ahli waris adalah orang yang berhak menerima harta warisan dari pewaris karena ada hubungan keluarga, pernikahan, ataupun
karena wala’ (membebaskan hamba sahaya) dengan pembagian-pembagian yang sudah diatur oleh syariat.
PENGERTIAN FARAIDH

Faraidh adalah bentuk jama’ dari kata fariidhah. Kata fariidhah terambil dari kata fardh yang berarti taqdir, ketentuan. Allah swt
berfirman:“(Maka bayarlah) separuh dari mahar yang telah kamu tentukan itu.” (QS al-Baqarah: 237). Sedang menurut istilah syara’
kata fardh ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris.
 Kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah:
1. mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai;
2. menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan, termasuk kewajiban pewaris maupun penagih piutang;
3. menyelesaikan wasiat pewaris;
4. membagi harta warisan di antara ahli waris yang berhak.
Secara bahasa wasiat artinya “berpesan”. Sedangkan menurut istilah wasiat  adalah sesuatu tasharruf terhadap harta
peninggalan yang akan dilaksanakan sesudah meninggal yang berwasiat.[4] Jelasnya pengelolaan terhadap yang jadi obyek
wasiat berlaku setelah yang berwasiat itu meninggal.
menurut istilah syara' wasiat berarti pesan yang diberikan oleh seseorang yang hendak meninggal dunia tentang sesuatu
yang baik, yang harus dilaksanakan atau dijalankan sesudah ia meninggal dunia. 
Rukun Wasiat
Rukun wasiat adalah ijab dari orang yang mewasiatkan. 
1. Ijab dengan ucapan. Ijab itu dengan segala lafadz yang menunjukkan kepemilikan yang dilaksanakan sesudah dia matai dan tanpa
adanya imbalan. Seperti: "Aku wasiatkan kepada si A begini setelah aku mati", atau "Aku berikan itu " atau "Aku serahkan
pemilikannya kepada si B sepeninggalku." dll.
2. Ijab dengan isyarat dan tulisan. Selain terjadi dengan melalui pernyataan, wasiat bisa terjadi pula melalui isyarat yang dapat dipahami,
bila pemberi wasiat tidak sanggup berbicara; juga sah pula akad wasiat melalui tulisan.
3. Wasiat untuk umum. Apabila penerima wasiat tidak tertentu, seperti untuk masjid, tempat pengungsian, sekolah atau rumah sakit,
maka ia tidak memerlukan kabul; cukup dengan ijab saja, sebab dalam keadaan yang demikian wasiat itu menjadishadaqah. 
4. Wasiat untuk orang tertentu. Apabila wasiat diberikan kepada orang tertentu, maka ia memerlukan kabul dari si penerima wasiat
setelah si pemberi mati, atau kabul dari walinya jika si penerima wasiat belum memiliki kecerdasan. Jika wasiat diterima, maka
terjadilah wasiat itu, tetapi jika ditolak, maka batallah wasiat itu, dan ia tetap menjadi milik para ahli waris si pemberi.
5. Hak mengubah dan membatalkan. Di dalam wasiat, si pemberi punya hak untuk mengubah atau menarik kembali wasiatnya.
Penarikan kembali (Ruju') itu harus dinyatakan dengan ucapan, misalnya: "Aku tarik kembali wasiat itu." boleh juga penarikan
kembali itu dengan perbuatan, misalnya tindakan si pembari wasiat menjual objek wasiat.