Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

LITERASIS SAINS PISSA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester (UTS)

Mata Kuliah: Inovasi Pembelajaran

Dosen Pengampu: Ipin Aripin, M.Pd

Disusun Oleh :

Iin I’anah

14121620640

TADRIS IPA-BIOLOGI C/VI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI CIREBON

2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Memasuki abad ke-21 dunia pendidikan Indonesia masih mengalami masalah yaitu
masih rendahnya mutu pendidikan. Hal ini disebabkan oleh belum meratanya
pembangunan di Indonesia dalam berbagai aspek dan keadaan geografis Indonesia yang
masih sulit dijangkau sehingga pembangunan dunia pendidikan masih tertinggal dan
terjadi kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan.
Dengan kenyataan tersebut dikhawatirkan Indonesia akan gagal memasuki pasar
bebas pada tahun 2020. Indikasi ke arah tersebut telah nampak pada beberapa kompetisi
akademik dan kenyataan di masyarakat. Pada tahun 2003, studi PISA (Programme for
International Student Assessment) menunjukkan bahwa Indonesia di peringkat ke-38 dari
41 negara peserta pada bidang literasi sains. Sedangkan pada TIMSS (Trends
Internasional in Mathematics and Science Study), Indonesia menduduki urutan ke-34
dari 45 negara peserta. (Ali, 2006). Mutu pendidikan Indonesia yang tercermin dalam
kedua studi internasional tersebut masih belum memuaskan.
Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya
pemahaman, penyadaran, dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui
pembelajaran. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang
fenomena alam yang meliputi produk dan proses. Pendidikan sains merupakan salah satu
aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan
pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains
khususnya, yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien, 1992:
19-20).
Untuk menilai apakah IPA diimplementasikan di Indonesia, kita dapat melihat
hasil literasi IPA anak-anak Indonesia. Hal ini mengingat arti literasi sains/IPA (scientific
literacy) itu sendiri yang ditandai dengan kerja ilmiah, dan tiga dimensi besar literasi
sains yang ditetapkan oleh PISA, yaitu konten IPA, proses IPA, dan konteks IPA.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu literasis sains PISSA
2. Mengetahui perkembangan literasi pada PISSA
3. Mengetahui komponen dan aspek-aspek dalam literasi sains
4. Mengetahui karakteristik literasi sains
5. Mengetahui peranan literasi sains dalam pendidikan

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu literasis sains PISSA
2. Untuk mengetahui perkembangan literasi pada PISSA
3. Untuk mengetahui komponen dan aspek-aspek dalam literasi sains
4. Untuk mengetahui karakteristik literasi sains
5. Untuk mengetahui peranan literasi sains dalam pendidikan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Literasis Sains PISSA


PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi literasi yang
bertujuan untuk meneliti secara berkala tentang kemampuan siswa usia 15 tahun (kelas
III SMP dan Kelas I SMA) dalam membaca (reading literacy), matematika (mathematics
literacy), dan sains (scientific literacy). Penelitian yang dilakukan PISA meliputi tiga
periode, yaitu tahun 2000, 2003, dan 2006.
Pada tahun 2000 penelitian PISA difokuskan kepada kemampuan membaca,
sementara dua aspek lainnya menjadi pendamping. Pada tahun 2003 aspek matematika
menjadi fokus utama kemudian diteruskan aspek sains pada tahun 2006.
Studi PISA yang dilaksanakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-
operation & Development) dan Unesco Institute for Statistics itu mengukur kemampuan
siswa pada akhir usia wajib belajar untuk mengetahui kesiapan siswa menghadapi
tantangan masyarakat-pengetahuan (knowledge society) dewasa ini. Penilaian yang
dilakukan dalam PISA berorientasi ke masa depan, yaitu menguji kemampuan anak
muda itu untuk menggunakan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam menghadapi
tantangan kehidupan nyata, tidak semata-mata mengukur kemampuan yang dicantumkan
dalam kurikulum sekolah.
Literasi sains menurut PISA diartikan sebagai “ the capacity to use scientific
knowledge , to identify questions and to draw evidence-based conclusions in order to
understand and help make decisions about the natural world and the changes made to it
through human activity”. Literasi sains didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan
pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan
bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam
dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia.
Definisi literasi sains ini memandang literasi sains bersifat multidimensional,
bukan hanya pemahaman terhadap pengetahuan sains, melainkan lebih dari itu. PISA
juga menilai pemahaman peserta didik terhadap karakteristik sains sebagai penyelidikan
ilmiah, kesadaran akan betapa sains dan teknologi membentuk lingkungan material,
intelektual dan budaya, serta keinginan untuk terlibat dalam isu-isu terkait sains, sebagai
manusia yang reflektif.
Literasi sains dianggap suatu hasil belajar kunci dalam pendidikan pada usia 15
tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan belajar sains atau tidak setelah itu. Berpikir
ilmiah merupakan tuntutan warga negara, bukan hanya ilmuwan. Keinklusifan literasi
sains sebagai suatu kompetensi umum bagi kehidupan merefleksikan kecenderungan
yang berkembang pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan teknologis. Sesuai dengan
pandangan di atas, penilaian literasi sains dalam PISA tidak semata-mata berupa
pengukuran tingkat pemahaman terhadap pengetahuan sains, tetapi juga pemahaman
terhadap berbagai aspek proses sains, serta kemampuan mengaplikasikan pengetahuan
dan proses sains dalam situasi nyata yang dihadapi peserta didik, baik sebagai individu,
anggota masyarakat, serta warga dunia.

B. Perkembangan Literasi (reading, mathematical, scientific literacy) pada PISSA


Pada tahun 2000, Indonesia ikut-serta dalam penelitian PISA (Programme for
International Student Assessment), suatu studi internasional yang diikuti oleh 42 negara
di bawah koordinasi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)
yang diharapkan akan menjadi survey yang bersifat reguler dan berkesinambungan.
Hasil studi PISA berupa informasi tentang profil pengetahuan, keterampilan, dan
kompetensi siswa di Indonesia di antara bangsa-bangsa di dunia dapat dimanfaatkan
sebagai bandingan dalam perumusan kebijakan dalam peningkatan mutu pendidikan
dasar kita, khususnya dalam menentukan ambang batas bawah (tresh-hold) dan batas
ambang ideal (benchmark) kemampuan dasar membaca, matematika, dan sains di akhir
usia wajib belajar. Selain itu, dari studi PISA ini dapat diperoleh sekumpulan indikator
kontekstual tentang demografi siswa, sekolah, dan variabel lainnya yang mempengaruhi
pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi siswa.
PISA bertujuan meneliti secara berkala tentang kemampuan siswa usia 15 tahun
dalam membaca (reading literacy), matematika (mathematics literacy), dan sains
(scientific literacy). Penelitian yang dilakukan PISA meliputi tiga periode, yaitu tahun
2000, 2003, dan 2006. Pada tahun 2000 penelitian PISA difokuskan kepada kemampuan
membaca, sementara dua aspek lainnya menjadi pendamping. Pada tahun 2003 aspek
matematika akan menjadi fokus utama kemudian diteruskan aspek sains pada tahun
2006. Melalui program tiga tahunan ini diharapkan kita dapat memperoleh informasi
berkesinambungan tentang prestasi belajar siswa sebagai upaya untuk mengetahui
tingkat kualitas pendidikan dasar Indonesia di dalam lingkup internasional.
Hasil penelitian PISA (the Programme for International Student Assessment )
tahun 2000 dan tahun 2003 menunjukkan bahwa literasi siswa-siswa Indonesia tersebut
diduga baru mampu mengingat pengetahuan ilmiah berdasarkan fakta sederhana
(Rustaman, 2006). Hal ini dikuatkan oleh Dasar Pemikiran yang ditulis pada Panduan
Seminar Sehari Hasil Studi Internasional Prestasi Siswa Indonesia dalam Bidang
Matematika, Sains, dan Membaca, yang menyebutkan bahwa salah satu sebab rendahnya
mutu lulusan adalah belum efektifnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran selama
ini masih terlalu berorientasi terhadap penguasaan teori dan hafalan dalam semua bidang
studi yang menyebabkan kemampuan belajar peserta didik menjadi terhambat.
Metode pembelajaran yang terlalu berorientasi kepada guru (teacher centered)
cenderung mengabaikan hak-hak dan kebutuhan, serta pertumbuhan dan perkembangan
anak, sehingga proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan, dan
mencerdaskan kurang optimal (Panduan Seminar Sehari Hasil Studi Internasional
Prestasi Siswa Indonesia dalam Bidang Matematika, Sains, dan Membaca, 2006).
Kemampuan literasi sains siswa Indonesia dari hasil studi internasional PISA tahun
2006, diperoleh hasil bahwa (Tjalla, 2009)
1. Kemampuan literasi sains siswa Indonesia berada pada peringkat ke-50 dari 57
negara. Skor rata-rata sains yang diperoleh siswa Indonesia adalah 393. Skor rata-rata
tertinggi dicapai oleh Finlandia (563) dan terendah dicapai oleh Kyrgyzstan (322).
Kemampuan literasi sains rata-rata siswa Indonesia tidak berbeda secara signifikan
dengan kemampuan literasi sains siswa dari Argentina, Brazil, Colombia, Tunisia, dan
Azerbaijan. Kemampuan literasi sains rata-rata siswa Indonesia lebih tinggi secara
signifikan dibandingkan dengan kemampuan literasi sains siswa dari Qatar dan
Kyrgyzstan. Dua negara yang berada dua peringkat di atas Indonesia adalah Mexico
dan Montenegro.
2. Secara internasional skala kemampuan literasi sains dibagi menjadi 6 level
kemampuan. Berdasarkan level kemampuan ini, sebanyak 20,3% siswa Indonesia
berada di bawah level 1 (skor di bawah 334,94), 41,3% berada pada level 1 (skor
334,94 – 409,54), 27,5% berada pada level 2 (skor 409,54 – 484,14), 9,5% berada
pada level 3 (skor 484,14 – 558,73), dan 1,4% berada pada level 4. Tidak ada siswa
Indonesia yang berada pada level 5 dan level 6. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian
besar (41,3%) siswa Indonesia memiliki pengetahuan ilmiah terbatas yang hanya
dapat diterapkan pada beberapa situasi yang familiar. Mereka dapat
mempresentasikan penjelasan ilmiah dari fakta yang diberikan secara jelas dan
eksplisit. Sebanyak 27,5% siswa Indonesia memiliki pengetahuan ilmiah yang cukup
untuk memberikan penjelasan yang mungkin dalam konteks yang familiar atau
membuat kesimpulan berdasarkan pengamatan sederhana. Siswa-siswa dapat
memberikan alasan secara langsung dan membuat interpretasi seperti yang tertulis
dari hasil pengamatan ilmiah yang lebih mendalam atau pemecahan masalah
teknologi.
3. Dibandingkan dengan kemampuan literasi sains gabungan, kompetensi siswa
Indonesia dalam mengidentifikasi masalah ilmiah lebih rendah (-0,4), menjelaskan
fenomena secara ilmiah lebih tinggi (1,1 poin), dan menggunakan fakta ilmiah lebih
rendah (-7,8). Sementara itu, pengetahuan siswa Indonesia tentang sains lebih rendah
(-6,4), bumi dan antariksa lebih tinggi (8,3), sistem kehidupan lebih rendah (-2,5), dan
sistem fisik lebih rendah (-7,4). Hal ini menunjukkan bahwa siswa Indonesia memiliki
kompetensi paling tinggi dalam menjelaskan fenomena secara ilmiah dan memiliki
pengetahuan sains tertinggi dalam bumi dan antariksa.
4. Berdasarkan jenis kelamin, kemampuan literasi sains rata-rata siswa Indonesia
lakilaki (skor 399) lebih tinggi daripada kemampuan literasi sains rata-rata siswa
Indonesia perempuan (skor 387). Perbedaan skor rata-rata siswa laki-laki dan
perempuan adalah 12. 5. Dibandingkan dengan hasil studi PISA tahun 2000/2001 dan
2003, kemampuan literasi sains siswa Indonesia pada tahun 2006 relatif stabil atau
tidak mengalami peningkatan. Skor literasi sains rata-rata siswa Indonesia pada tahun
2000/2001 adalah 393 dan tahun 2003 adalah 395.
Hasil Studi PISA tahun 2009 menunjukkan tingkat literasi sains siswa Indonesia
yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi tahun 2006. Tingkat literasi sains siswa
Indonesia berada pada peringkat ke 57 dari 65 negara peserta dengan skor yang diperoleh
383 dan skor ini berada di bawah rata-rata standar dari PISA (OECD, PISA 2009
Database).
Data yang dikumpulkan dalam PISA terdiri atas tiga kelompok besar, yaitu
kelompok pengetahuan, latar belakang siswa, dan latar belakang sekolah. Data yang
diperoleh dari kelompok pengetahuan adalah data kemampuan aspek membaca,
matematika, dan sains sebagaimana terdapat di dalam kurikulum sekolah (curriculum
focused) serta bersifat lintas-kurikulum (cross-curricular elements).
Aspek membaca bertujuan untuk untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
memahami bacaan (understanding), menggunakan (using) dan mengidentifikasi
(identifying) informasi yang ada di dalam bacaan, dan merefleksi serta mengevaluasi
bacaan (reflecting on written text)
Aspek matematika bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
mengidentifikasi, memahami, dan menggunakan dasar-dasar matematika yang
diperlukan siswa dalam menghadapi kehidupan sehari-hari
Aspek sains bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
mengidentifikasi masalah dalam rangka memahami fakta-fakta alam dan lingkungan
serta menggunakan pengetahuannya untuk memahami berbagai fenomena alam dan
perubahan yang terjadi pada lingkungan kehidupan.
Sementara itu, untuk mendukung data dari ketiga aspek tersebut, PISA juga
menggali informasi tentang latar belakang siswa, yaitu demografi siswa, latar belakang
status sosial dan ekonomi, harapan dan keinginan siswa di masa yang akan datang, serta
motivasi dan disiplin siswa. Data kemudian dilengkapi dengan latar belakang sekolah
untuk menggali informasi tentang aspek demografi sekolah, organisasi sekolah, keadaan
guru dan karyawannya (staffing patterns) serta prasarana pembelajaran (instructional
practices) dan iklim pembelajaran.
Pelaksanaan studi PISA dilakukan oleh suatu konsorsium internasional yang
diketuai oleh Australian Council for Educational Research (ACER) dan terdiri atas
lembaga testing yang terkenal di dunia yaitu The Netherlands National Institute for
Educational Measurement (CITO) Belanda, Educational Testing Service (ETS) Amerika
Serikat, Westat Amerika Serikat, dan National Institute for Educational Research (NIER)
Jepang. PISA diikuti oleh 42 negara, mulai dari negara maju seperti Amerika Serikat,
Australia, Kanada, Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol, Swedia, dan Swiss, sampai pada
negara berkembang seperti Brasil, China, Cile, Meksiko, dan Indonesia.

C. Komponen dan Aspek-aspek dalam Literasi Sains


Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu
pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi
bukti serta menerangkan kesimpulan (Rustaman et al., 2004). PISA (2000) menetapkan
lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu:
1. Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah,
seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains.
2. Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini
melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab
pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk
memperoleh bukti itu.
3. Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan
menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari
kesimpulan itu.
4. Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat
kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia.
5. Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan
menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah
dipelajarinya.

Dari hasil akhir proses sains ini, siswa diharapkan dapat menggunakan konsep-
konsep sains dalam konteks yang berbeda dari yang telah dipelajarinya. PISA
memandang pendidikan sains untuk mempersiapkan warganegara masa depan, yang
mampu berpartisipasi dalam masyarakat yang akan semakin terpengaruh oleh kemajuan
sains dan teknologi, perlu mengembangkan kemampuan anak untuk memahami hakekat
sains, prosedur sains, serta kekuatan dan keterbatasan sains. Termasuk di dalamnya
kemampuan untuk menggunakan pengetahuan sains, kemampuan untuk memperoleh
pemahaman sains dan kemampuan untuk menginterpretasikan dan mematuhi fakta.
Alasan ini yang menyebabkan PISA tahun 2003 menetapkan 3 komponen proses sains
berikut ini dalam penilaian literasi sains.
1. Mendiskripsikan, menjelaskan, memprediksi gejala sains.
2. Memahami penyelidikan sains
3. Menginterpretasikan bukti dan kesimpulan sains.

D. Karakteristik scientific literacy (Literasi Sains)


a. Kemampuan Dasar yang Diukur
Kemampuan yang diukur dalam PISA adalah kemampuan pengetahuan dan
keterampilan dalam tiga domain kognitif, yaitu membaca, matematika, dan ilmu
pengetahuan alam. Untuk memperoleh data yang dimaksud, disusun dua kategori
bentuk soal, yaitu bentuk soal pilihan ganda yang memungkinkan siswa memilih
salah satu jawaban yang paling benar dari beberapa alternatif jawaban yang
diberikan (sebanyak 44.7% dari keseluruhan soal) dan bentuk soal uraian
(constructed response) yang menuntut siswa untuk dapat menjawab dalam bentuk
tulisan atau uraian (sisanya atau 55.3%).
Kemampuan yang diukur itu berjenjang dari tingkat kesulitan yang paling
rendah kepada tingkat yang lebih sulit. Soal-soal yang harus dijawab pada bentuk
pilihan ganda dimulai dari memilih salah satu jawaban alternatif yang sederhana,
seperti menjawab ya/tidak, sampai kepada jawaban alternatif yang agak kompleks,
seperti merespons beberapa pilihan yang disajikan. Pada soal-soal yang
memerlukan jawaban uraian, siswa diminta untuk menjawab dengan jawaban yang
singkat dalam bentuk kata atau frase, kemudian jawaban agak panjang dalam
bentuk uraian yang dibatasi jumlah kalimatnya, dan jawaban dalam bentuk uraian
yang terbuka.
b. Sampel dan Variabel
Sebanyak 290 sekolah di Indonesia telah dijadikan sampel untuk studi ini,
dengan jumlah siswa dalam sampel ini sebanyak 7.355 siswa dari keseluruhan
siswa yang berusia 15 tahun dan berada dalam sistem pendidikan. Sekolah tersebut
dipilih berdasarkan status sekolah dan jenis sekolah, yang mencakup SLTP (38%),
MTs (27.6%), SMU (15.9%), MA (8.5%), dan SMK (9.7%).
Data yang dikumpulkan dalam PISA ini terdiri atas tiga kategori data, yaitu
literasi siswa, latar belakang siswa, dan latar belakang sekolah. Aspek literasi
adalah aspek utama dari data yang dikumpulkan yang terdiri atas pengetahuan dan
keterampilan dalam membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan alam.
c. Desain Tes Literasi Membaca
Soal-soal PISA yang didesain untuk mengukur literasi membaca dapat dibagi
menjadi tiga aspek utama, yaitu aspek struktur dan jenis wacana, aspek proses
membaca, dan aspek konteks pemanfaatan pengetahuan dan keterampilan
membaca.
d. Struktur dan Jenis Wacana
Struktur dan jenis wacana di dalam PISA dibagi menjadi dua jenis yaitu
struktur wacana berkelanjutan (continuous texts) dan wacana tak-berkelanjutan
(non-continuous texts). Seperti telah dijelaskan di atas, wacana berkelanjutan
adalah jenis wacana yang terdiri atas rangkaian kalimat yang diatur dalam paragraf
dalam bentuk deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi atau injungsi; sementara
wacana tak-berkelanjutan adalah wacana yang dirancang dalam format matrik,
termasuk di dalamnya pengumuman, grafik, gambar, peta, skema, tabel, dan aneka
bentuk penyampaian informasi.

Sementara jenis soal PISA juga mengukur tiga proses membaca, yaitu kemampuan
mencari dan menemukan informasi, kemampuan mengembangkan makna dan
menafsirkan isi bacaan, dan kemampuan melakukan refleksi dan evaluasi terhadap isi
bacaan dalam kaitannya dengan pengalaman sehari-hari, pengetahuan yang sudah
didapat sebelumnya, dan pengembangan gagasan dari informasi yang diperolehnya.
Soal-soal itu berhubungan dengan konteks membaca yang mencakup konteks membaca
untuk kepentingan pribadi, untuk kepentingan umum, untuk kepentingan bekerja, dan
untuk kepentingan pendidikan. Aspek struktur, proses, dan konteks membaca ini
selanjutnya diwujudkan dalam serangkaian wacana yang berjumlah 48 wacana.
Sebanyak 141 soal kemudian dikembangkan berdasarkan wacana tersebut.

E. Peranan Literasi Sains dalam Pendidikan


Negara-negara maju sudah membangun literasi sains sejak lama, yang
pelaksanaannya terintegrasi dalam pembelajaran. AS dengan “Project 2061” membangun
literasi sains di Amerika Serikat melalui riset yang hasilnya digunakan untuk
menetapkan “standar pendidikan sains Amerika”. Dibuatnya standar ini untuk
mewujudkan literasi sains secara kongkrit dalam pendidikan Amerika, yang tujuan
jangka panjangnya adalah kejayaan sains dan teknologi di masa depan. Hasil penelitian
sains di Australia menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan sains di Australia adalah
meningkatkan literasi (melek) sains (Anonim, 2006).
Cina menerapkan strategi yang tak kalah penting: menjadikan "literasi (melek)
sains" (science literacy) sebagai program negara. Cina telah memulainya lima tahun
silam dengan mencanangkan Rencana 15 Tahun untuk meningkatkan jumlah penduduk
yang melek sains. Orang literasi sains akan dapat berkonstribusi terhadap kesejahteraan
baik dari aspek social maupun ekonomi. Jadi di negara maju, literasi sains merupakan
prioritas utama dalam pendidikan sains (Anonime, 2011).
Pengembangan evaluasi untuk mengetahui pencapaian literasi sains merujuk pada
proses sains, yaitu proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau
memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta
menerangkan kesimpulan.
PISA (2006) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi
sains, yaitu: a) Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki
secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains. b)
Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini
melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab
pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk
memperoleh bukti itu. c) Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan
kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya
mendasari kesimpulan itu. d) Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni
mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia. e)
Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan
menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah
dipelajarinya.
Pengukuran terhadap pencapaian literasi sains berdasarkan standar PISA yakni
proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Proses sains merujuk pada proses
mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah,
seperti mengidenifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan.
Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab
oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta
mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang ada. Konten sains merujuk pada
konsep-konsep kunci yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan
yang dilakukan terhadap alam melalui akitivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak
secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya pada pengetahuan yang menjadi
materi kurikulum sains sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang dapat diperoleh
melalui sumbersumber lain.
Penilaian PISA diadakan setiap 3 tahun sekali terhitung sejak tahun 2000. PISA ini
mengikutkan siswa yang berusia 15 tahun, sekarang terdiri dari 65 negara, negara maju
dan negara berkembang. Kriteria penilaian PISA ini mencakup kemampuan kognitif
(knowledge) dan juga keahlian siswa di bidang Reading, Matematika dan Scientific
Literacy (Kemampuan Sains/Literasi sains/melek sains). Literasi sains itu sendiri yang
ditandai dengan kerja ilmiah, dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh
PISA, yaitu konten sains, proses sainns, dan konteks sains.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Secara harfiah literasi berasal dari “Literacy” (dari bahasa inggris) yang berarti melek
huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf. Kata sains berasal dari “Science” (dari bahasa
inggris) yang berarti ilmu pengetahuan. Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai
berpikir logis, berpikir kreatif, dan teknologi dapat dilihat dari penguasaan Literasi Sains
siswa dari Program PISA.

PISA (2000) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains,
yaitu: 1) Mengenal pertanyaan ilmiah, 2) Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam
penyelidikan ilmiah, 3) Menarik dan mengevaluasi kesimpulan, 4) Mengkomunikasikan
kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik
dari bukti yang tersedia, 5) Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains.

Pentingnya literasi sains bagi setiap orang sebagai masyarakat, warga negara dan warga
dunia sudah disadari orang-orang dinegara maju. Setiap warga negara memiliki tingkat
literasi sains agar dapat bertahan hidup di alam maupun di tempatnya bekerja berbekal
pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. Literasi
sain diartikan sebagai kapasitas siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan serta
untuk menganalisis, bernalar dan berkomunikasi secara efektif apabila mereka dihadapkan
pada masalah, harus menyelesaikan dan menginterpretasi masalah pada berbagai situasi.
DAFTAR PUSTAKA

Darliana. 2011. Pendekatan Fenomena Mengatasi Kelemahan Pembelajaran IPA.


http://www.p4tkipa.org/. Diakses pada tanggal 09 April 2015 pukul 20.00 WIB.

Diah harianti. 2007. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPA. Departemen
Pendidikan Nasional. Diakses pada tanggal 09 April 2015 pukul 20.00 WIB.

Emiliannur. 2010. Literacy Science. http://emiliannur.wordpress.com/. Diakses pada tanggal


19 April 2015 pukul 20.00 WIB.

Irwandi Yogo Suaka. 2010. Peningkatan Literasi Sains dan Teknologi dalam Pendidikan dan
Implementasinya dalam KTSP. http://www.blogger.com/. Diakses pada tanggal 19
April 2015 pukul 20.00 WIB.

Masfrana Wijaya. 2011. Perkembangan Literasi. http://masprana.blogspot.com/. Diakses


pada tanggal 19 April 2015 pukul 20.00 WIB.