Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

STATUS ASMATIKUS

Oleh :

Bima Samudra Wijayana

NIM 19650115

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
2020
1. LATAR BELAKANG

Meskipun asma sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu definisi asma yang saat ini
umumnya disetujui oleh para ahli adalah merupakan penyakit paru dengan karakteristik
obstruksi saluran nafas yang reversible, inflamasi saluan nafas, peningkatan respon saluran
nafas terhadap berbagai rangsangan.

Asma adalah suatu gangguan jalan nafas pada bronkus yang menyebabkan spasme
bronkus. Asma merupakan reaksi hypersensitive yang disebabkan oleh biokimia, imunologi,
infeksi, endokrin dan faktor fsikologis. Asma adalah penyakit jalan nafas obstrukif intermiten
dimana trakea dan bronki berespon hiperaktif pada stimulasi.

Obstruksi saluran nafas ini memberikan gejala-gejala asma seperti batuk, mengi dan
sesak nafas. Diduga baik obstruksi maupu n peningkatan respon terhadap rangsangan didasari
oleh inflamasi saluran nafas.

Pravelensi asma dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain jenis kelamin, umur klien,
keturunan, serta lingkungan. Pada masa anak-anak ditemukan prevalansi 1,2 : 1. Tetapi
menjelang dewasa perbandingan tersebut lebih kurang sama dengan pada masa menopause
perempuan lebih banyak dari laki-laki. Diindonesia pravelensi asmatikus berkisar anara 5
sampai 7%. (Kosasih, 2010).

Penyebab hipersensitifitas saluran pernapasan pada kasus asma banyak diakibatkan


oleh faktor genetik (keturunan). Sedangkan faktor pemicu timbulnya reaksi hipersensistifitas
saluran pernapasan dapat berupa: Hirup debu yang didapatkan dijalan raya maupun debu
rumah tangga. Hirupan asap kendaraan, asap rokok, asap pembakaran. Hirup aerosol (asap
pabrik yang bercampur gas buangan seperti nitrogen). Pajanan hawa dingin. Bulu binatang.
Stress yang berlebihan. Selain faktor-faktor tersebut kadang juga ada individu yang sensitif
terhadap faktor pemicu tetapi penderita lain tidak. (Kosasih Alvin, 2010).
2. TUJUAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana penanganan secara
gawat darurat status asmatikus

3. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah bagaimana penanganan secara kritis status asmatikus?


4. KONSEP TEORI
Asma adalah suatu peradangan pada bronkus akibat reaksi hipersensitif
mukosa bronkus terhadap alergen. Reaksi hipersensitif pada bronkus dapat
mengakibatkan pembengkakan pada mukosa bronkus. Yakni suatu asma yang
refraktor terhadap obat-obatan yang konvensional status asmatikus merupakan
keadaan emergensi dan tidak langsung memberikan respon terhadap dosis umum
bronkodilator (Depkes RI, 2017 ).
Status Asmatikus yang dialami penderita asma dapat berupa pernapasan
wheezing, ronchi ketika bernapas (adanya suara bising ketika bernapas), kemudian
bisa berlanjut menjadi pernapasan labored, pembesaran vena leher, hipoksemia,
respirasi alkalosis, respirasi sianosis, dyspnea dan kemudian berakhir dengan
tachypnea. Namun makin besarnya obstruksi di bronkus maka suara wheezing dapat
hilang dan biasanya menjadi pertanda bahaya gagal pernapasan. (Depkes RI, 2017 ).
Manifestasi klinik pada pasien asmatikus adalah batuk, dyspnoe (sesak nafas),
dan wheezing (terengah-engah). Pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri
dada, pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis,
sedangkan waktu serangan tampak penderita bernafas cepat, dalam, gelisa, duduk
dengan tangan menyangga ke depan serta tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja
dengan keras.
Karakteristik dasar dari asma ( konstriksi otot polos bronchial, pembengkakan
mukosa bronchial, dan pengentalan sekresi ) mengurangi diameter bronchial dan
nyata pada status asmatikus. Abnormalitas ventilasi perfusi yang mengakibatkan
hipoksemia dan respirasi alkalosis pada awalnya, diikuti oleh respiratori
asidosis.Terhadap penurunan PaO2 dan respirasi alkalosis dengan penurunan PaCO2
dan peningkatan pH. Dengan meningkatnya keparahan status asmatikus, PaCO2
meningkat dan pH turun, mencerminkan respirasi asidosis.
Semua penderita yang dirawat inap di rumah sakit memperlihatkan keadaan
obstruktif jalan napas yang berat. Perhatian khusus harus diberikan dalam perawatan,
sedapat mungkin dirawat oleh dokter dan perawat yang berpengalaman. Pemantauan
dilakukan secara tepat berpedoman secara klinis, uji faal paru ( APE ) untuk dapat
menilai respon pengobatan apakah membaik atau justru memburuk. Perburukan
mungkin saja terjadi oleh karena konstriksi bronkus yang lebih hebat lagi maupun
sebagai akibat terjadinya komplikasi seperti infeksi, pneumothoraks
pneumomediastinum yang sudah tentu memerlukan pengobatan lainnya.
Efek samping obat yang berbahaya dapat terjadi pada pemberian drips
aminofilin. Dokter yang merawat harus mampu dengan akurat menentukan kapan
penderita meski dikirim ke unit perawatan intensif. Penderita status asmatikus yang
dirawat inap di ruangan, setelah dikirim dari UGD dilakukan penatalaksaanan sebagai
berikut :
1. Pemberian terapi oksigen dilanjutkan Terapi oksigen dilakukan megnatasi
dispena, sianosis, danhipoksemia. Oksigen aliran rendah yang dilembabkan
baik dengan masker Venturi atau kateter hidung diberikan. Aliran oksigen
yang diberikan didasarkan pada nilai nilai gas darah. PaO2 dipertahankan
antara 65 dan 85 mmHg. Pemberian sedative merupakan kontraindikasi.
Jika tidak terdapat respons terhadap pengobatan berulang, dibutuhkan
perawatan di rumah sakit.
2. Agonis B2 Dilanjutkan dengan pemberian inhalasi nebulasi 1 dosis tiap
jam, kemudian dapat diperjarang pemberiannya setiap 4 jam bila sudah ada
perbaikan yang jelas. Sebagian alternative lain dapat diberikan dalam
bentuk inhalasi dengan nebuhaler/volumatic atau secara injeksi. Bila terjadi
perburukan, diberikan drips salbutamol atau terbutalin.
3. Aminofilin Diberikan melalui infus/drip dengan dosis 0,5 - 0,9 mg/kg
BB/jam. Pemberian per drip didahului dengan pemberian secara bolus
apabila belum diberikan. Dosis drip aminofilin direndahkan pada penderita
dengan penyakit hati, gagal jantung, atau bila penderita menggunakan
simetidin, siprofloksasin atau eritromisin. Dosis tinggi diberikan pada
perokok. Gejala toksik pemberian aminofilin perlu diperhatikan. Bila
terjadi mual, muntah, atau anoreksia dosis harus diturunkan. Bila terjadi
konfulsi, aritmia jantung dripaminofilin segera dihentikan karena terjadi
gejala toksik yang berbahaya.
4. Kortikosteroid Kortikosteroid dosis tinggi intraveni diberikan setiap 2–8
jam tergantung beratnya keadaan serta kecepatan respon. Preparat pilihan
adalah hidrokortison 200–400 mg dengan dosis keseluruhan 1–4 gr / 24
jam. Sediaan yang lain dapat juga diberikan sebagai alternative adalah
triamsiolon 40–80 mg, dexamethason/betamethason 5–10 mg. bila tidak
tersedia kortikosteroid intravena dapat diberikan kortikosteroid per oral
yaitu predmison atau predmisolon 30–60 mg/ hari.
5. Antikolonergik Iptropium bromide dapt diberikan baik sendiri maupun
dalam kombinasi dengan agonis B2 secara inhalasi nebulisasi terutama
penambahan penambahan ini tidak diperlukan bila pemberian agonis B2
sudah memberikan hasil yang baik.(Muttaqin, 2010).
6. Pengobatan lainnya
a. Hidrasi dan keseimbangan elektrolit Dehidrasi hendaknya dinilai secara
klinis, perlu juga pemeriksaan elektrolit serum, dan penilaian adanya
asidosis metabolic. Ringer laktat dapat diberikan sebagai terapi awal
untuk dehidrasi dan pada keadaan asidosis metabolic diberikan Natrium
Bikarbonat.
b. Mukolitik dan ekpetorans Walaupun manfaatnya diragukan pada
penderita dengan obstruksi jalan berat ekspektorans seperti obat batuk
hitam dan gliseril guaikolat dapat diberikan, demikian juga mukolitik
bromeksin maupun N-asetilsistein.
c. Fisioterapi dada Drainase postural, fibrasi dan perkusi serta teknik
fisioterapi lainnya hanya dilakukan pada penderitahipersekresi mucus
sebagai penyebab utama eksaserbasi akut yang terjadi.
d. Antibiotic Diberikan kalau jelas ada tanda–tanda infeksi seperti
demam, sputum purulent dengan neutrofil leukositosis.
e. Sedasi dan antihistamin Obat–obat sedative merupakan indikasi kontra,
kecuali di ruang perawatan intensif. Sedangkan antihistamin tidak
terbukti bermanfaat dalam pengobatan asma akut berat malahan dapat
menyebabkan pengeringan dahak yang mengakibatkan sumbatan
bronkus
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan fungsi paru adalah cara yang paling akurat dalam mengkaji obstruksi
jalan nafas akut.
2. Pemeriksaan gas darah arteri dilakukan jika pasien tidak mampu melakukan
manufer fungsi pernafasan karena obstruksi berat atau keletihan, atau bilapasien
tidak berespon terhadap tindakan
3. Arus puncak ekspirasi APE mudah di periksa dengan alat yang sederhana,
flowmeter dan merupakan data yang objektif dalam menentukan derajat beratnnya
penyakit
4. Pemeriksaan foto thorax pemeriksaan ini terutama dilakukan untuk melihat hal–hal
yang ikut memperburuk atau komplikasi asma akut yang perlu juga mendapat
penanganan seperti atelektasis, pneuonia, dan pneumothorax
Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah
1.Pneumotoraks
2.Atelektasis
3.Gagal nafas
4.Bronchitis ( Morton, 2011 ).
5. CRITICAL THINKING

Dalam kasus status asmatikus merupakan keadaan darurat yang sangat memerlukan
penanganan gawat darurat yang segera. Kejadian utama pada serangan asma akut adalah
obstruksi jalan napas secara luas yang merupakan kombinasi dari spasme otot polos bronkus,
edem mukosa karena inflamasi saluran napas, dan sumbatan mukus.
Dalam penelitian Ariz Pribadi dan Darmawan BS yang berjudul Serangan Asma Berat
pada Asma Episodik di Jurnal Ilmu Kesehatan Anak FKUI Vol. 5, No. 4, Maret 2015: 171 -
177 Jakarta. Mengatakan bahwa Penanganan awal terhadap pasien dalam serangan asma
adalah pemberian b2-agonis secara nebulisasi yang dapat diulang dua kali dengan selang
waktu 20 menit. Pada pemberian ketiga dapat ditambahkan obat antikolinergik.
Pasien yang datang dengan serangan asma berat yang disertai dehidrasi dan asidosis
metabolik, mungkin akan mengalami takifilaksis atau refrakter, yaitu respons yang kurang
baik terhadap nebulisasi B2 agonis. Pasien seperti ini cukup dinebulisasi sekali saja kemudian
secepatnya dirawat untuk mendapatkan obat intravena, selain diatasi masalah dehidrasi dan
asidosisnya
Penanganan gawat darurat status asmatikus yang dipaparkan oleh penelitian Ariz
Pribadi dan Darmawan BS tersebut menjelaskan bahwa tindakan utama yang dilakukan
adalah memberikan Oksigen kemudian Asidosis dan Dehidrasi diatasi terlebih dahulu lalu
memberikan Steroid IV serta Aminofilin dan lakukan Nebulasi tiap 1-2 jam.
Hal ini sesuai dengan konsep teori yang dipaparkan oleh penulis bahwa dilakukan
penatalaksaanan sebagai berikut :
1. Pemberian terapi oksigen dilanjutkan Terapi oksigen dilakukan mengatasi dispena,
sianosis, dan hipoksemia. Aliran oksigen yang diberikan didasarkan pada nilai nilai gas
darah. PaO2 dipertahankan antara 65 dan 85 mmHg.
2. Agonis B2 Dilanjutkan dengan pemberian inhalasi nebulasi 1 dosis tiap jam, kemudian
dapat diperjarang pemberiannya setiap 4 jam bila sudah ada perbaikan yang jelas.
Sebagian alternative lain dapat diberikan dalam bentuk inhalasi dengan
nebuhaler/volumatic atau secara injeksi. Bila terjadi perburukan, diberikan drips
salbutamol atau terbutalin.
3. Aminofilin Diberikan melalui infus/drip dengan dosis 0,5-0,9 mg/kg BB/jam.
Pemberian per drip didahului dengan pemberian secara bolus. Gejala toksik pemberian
aminofilin perlu diperhatikan. Bila terjadi mual, muntah, atau anoreksia dosis harus
diturunkan. Bila terjadi konfulsi, aritmia jantung dripaminofilin segera dihentikan
karena terjadi gejala toksik yang berbahaya.
4. Kortikosteroid. Kortikosteroid dosis tinggi intraveni diberikan setiap 2–8 jam
tergantung beratnya keadaan serta kecepatan respon. Preparat pilihan adalah
hidrokortison 200–400 mg dengan dosis keseluruhan 1–4 gr / 24 jam. Sediaan yang lain
dapat juga diberikan sebagai alternative adalah triamsiolon 40–80 mg,
dexamethason/betamethason 5–10 mg. bila tidak tersedia kortikosteroid intravena dapat
diberikan kortikosteroid per oral yaitu predmison atau predmisolon 30–60 mg/ hari.
6. KESIMPULAN
Berasarkan hasil pembahasan diatas penulis menyimpulkan bahwa Penanganan gawat
darurat status asmatikus, dapat disimpulkan :
1. Pemberian terapi oksigen
2. Pemberian Agonis B2
3. Pemberian Aminofilin dan Kortikostiroid melalui IV
DAFTAR PUSTAKA

Ariz Pribadi, Darmawan BS. (2015). Serangan Asma Berat pada Asma Episodik Sering.
Jurnal Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Vol. 5, No. 4, Maret 2015
Kosasih, Alvin. (2010). Tatalaksana Kegawat Daruratan Dalam Praktek Sehari-hari.
Jakarta: Sagung Seto.
Morton, Patricia Gone. (2011). Keperawatan Kritis: Pendekatan Asuhan Keperawatan
Holistik, ED & EGC : Jakarta.
Muttaqin, Arif. (2010). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan System
Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika.