Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH TOKSIKOLOGI

DAMPAK PENCEMARAN AIR BAGI KESEHATAN


(STUDI KASUS PENCEMARAN AIR SUNGAI
BENGAWAN SOLO)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Toksikologi


Disusun oleh kelompok 7 :
1. Idil Alfitri Yuliamsal
2. M. Egi Kurniawan
3. Qorry Afifah
4. Rizkyah Putri Amalia
5. Shelly Rizkiah Hermawan

Dosen pengampu: Dr. Dra. Tjipto Rini, M.Kes

TINGKAT 1D-IIIB
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Jakarta, 2020

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan YME yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami
tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Kami mengucapkan syukur kepada Tuhan YME atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga kami mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah mata kuliah Toksikologi Lingkungan yang berjudul “Pencemaran di
Suatu Daerah ”

Kami tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Kemudian, apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini
kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah
membantu dan semoga Tuhan melimpahkan karunianya dalam setiap amal kebaikan kita dan
diberikan balasan. Amin.

Jakarta, Maret 2020

Penulis

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................4
1.1 Latar Belakang...................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................5
1.3 Tujuan...............................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................6
2.1 Studi Kasus Pencemaran Sungan Bengawan Solo..................................................6
2.2 Cara mengatasi pencemaran tersebut.....................................................................7
2.3 Dampak pencemaran tersebut bagi kesehatan manusia...........................................9
2.4 Biotransformasi.................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................17
LAMPIRAN..................................................................................................................18

4
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sungai merupakan pilihan utama untuk membuang limbah industri dari pabrik,
limbah rumah tangga, maupun limbah pemakaian hasil pabrik (pupuk, pestisida, dan lain-
lain) (Riyatun, 2004). Banyaknya pabrik atau industri yang membuang limbahnya ke
badan air atau sungai, menyebabkan tercemarnya lahan sawah yang menggunakan sungai
tersebut sebagai sumber pengairan. Unsur-unsur kimia yang terbawa limbah mengendap
di dalam tanah, dan mengakumulasi bahan berbahaya, beracun (B3), serta logam berat di
dalam tanah. Bersamaan dengan penyerapan unsur-unsur hara oleh tanaman, unsur-unsur
racun tersebut dapat terserap tanaman dan akan terakumulasi pada jaringan tanaman
(Kurnia, 2004). Tanah sawah sekitar Jaten Karanganyar sudah terakumulasi oleh logam
berat Cd dalam takaran yang cukup tinggi, dan Pb dalam kisaran yang rendah (Dewi,
1997). Logam berat akan terakumulasi pada jaringan tubuh dan dapat menimbulkan
keracunan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan apabila melebihi batas toleransi. Di
berbagai daerah, telah diteliti bahwa Pb dan Cd merupakan karsinogenik potensial yang
menyumbangkan berbagai penyakit, terutama penyakit kardiovaskuler, ginjal, sistem
syaraf, serta penyakit tulang dan darah (Jarup, 2003). Lacatusu (1996), melaporkan bahwa
tanah dan sayuran di Copsa Mica dan Baia Mare, Romania yang tercemar Pb dan Cd,
menyebabkan 1 2 penurunan angka hidup hingga 9-10 tahun pada penduduk yang tinggal
dan mengkonsumsi sayuran di daerah tersebut. Sungai Bengawan Solo merupakan
merupakan sungai terbesar di Pulau Jawa yang terletak di propinsi Jawa Tengah dan Jawa
Timur dengan luas wilayah sungai kurang lebih 12% dari seluruh wilayah Pulau Jawa
(Anonim, 2010). Sungai tersebut mengaliri persawahan di Kabupaten Wonogiri,
Sukoharjo, dan pinggiran kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen dan
berlanjut ke wilayah Jawa Timur (Pertiwi, 2000). Tingkat pencemaran air di sungai
Bengawan Solo paling tinggi dari sekian banyak sungai di Jawa Tengah. Terdapat 50
pabrik di dekat Bengawan Solo dan 42 di antaranya di wilayah Karanganyar. Pusat
Penelitian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Surakarta pada tahun 2004,
menemukan kandungan logam berat kromium (Cr) dan kadmium (Cd) di sepanjang aliran
sungai Bengawan Solo yang melebihi ambang batas normal. Pencemaran terberat

5
ditemukan di hulu aliran Bengawan Solo yang melintas di tiga kecamatan yang termasuk
dalam Kabupaten Karanganyar, yakni Jaten, Kebakkramat, dan Tasikmadu (Solikun,
2004). Kangkung termasuk salah satu tanaman yang mudah menyerap logam berat dari
media tumbuhnya (Seregeg dalam Kohar, 2005). Padahal kangkung banyak dikonsumsi
dan sering dijumpai tumbuh atau sengaja ditanam di sekitar daerah sungai Bengawan Solo
dan menggunakan pengairan yang berasal dari sungai tersebut. Berdasarkan uraian di atas,
perlu dilakukan penelitian mengenai kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium
(Cd) pada kangkung yang di tanam di sekitar sungai Bengawan Solo.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai
berikut:

1. Apa saja racun yang terdapat pada daerah Sungai Bengawan Solo?
2. Bagaimana cara mengatasi racun yang terdapat pada daerah tersebut ?
3. Apa dampak bagi kesehatan tubuh manusia ?
4. Bagaimana proses biotransformasinya ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui racun yang terdapat pada daerah Sungai bengawan solo
2. Untuk mengatahui cara mengatasi racun yang terdapat pada daerah tersebut agar tidak
terus menerus merusak lingkungan dan sebagai manusia dapat terhindar dari racun
berbahaya tersebut
3. Untuk mengetahui dampak racun pada lingkungan bagi kesehatan manusia

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Studi Kasus Pencemaran Sungan Bengawan Solo

Pencemaran Sungai Bengawan Solo telah mencapai titik tertinggi. Sungai yang
dipuja dalam lagu ciptaan Gesang tersebut memiliki air yang beracun dan mematikan
biota air. Selain aroma tidak sedap, air di Sungai Bengawan Solo berwarna hitam pekat
dan banyak ikan mati ditemukan.

Aliran Sungai Bengawan Solo yang berhulu di Pegunungan Sewu, Wonogir, Jawa
Tengah dan hilir di Gresik, Jawa Timur tidak seindah sebelumnya .Pencemaran yang
parah telah menjadikan sungai tidak lagi dapat memberikan kehidupan warga sepanjang
sungai itu.

Pembuangan limbah di daerah Surakarta seperti industri Ciu (alkohol), pewarna tekstil
hingga pengolahan industri lain di sekitar Bengawan Solo diduga menjadi biang keladi
terjadinya pencemaran.

Bahkan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Blora yang memanfaatkan aliran
Bengawan Solo sebagai air baku terpaksa menghentikan operasionalnya karena
pencemaran. Dampaknya, 12 ribu pelanggan PDAM tidak dapat lagi mendapat pasokan
air bersih.

"Karena kondisi pencemaran Bengawan Solo cukup parah, 12 ribu pelanggan PDAM di
delapan kecamatan di Blora tidak dapat lagi aliran air bersih," kata Kepala Bagian Teknik
PDAM Blora Suyitno.

Menelusuri aliran Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Blora sepanjang sungai mengalir
hanya melihat hamparan tanaman eceng gondok dan air berwarna hitam pekat.

Aroma tidak sedap menyeruak ketika semakin dekat, berbagai jenis ikan terlihat mati
mengambang dan ada rasa gatal di kulit saat mencoba membasahi tangan.

7
Puluhan perahu nelayan hanya bersadar di dermaga sepanjang Bengawan Solo, aktivitas
ratusan nelayan mencari ikan yang sebelumnya cukup ramai dari pagi hingga petang kini
terhenti setelah sungai itu tercemar.

"Tidak ada ikan, warga juga tidak berani mengkonsumsi ikan karena takut keracunan,"
ujar Sukamdi,35, nelayan di Bengawan Solo di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora.

Warga sepanjang sungai lainnya juga tidak dapat lagi memanfaat sumur, karena juga
telah tercemar dengan kondisi air berwarna hitam dan beraroma tidak sedap, sehingga
untuk memenuhi kebutuhan air bersih terpaksa mencari ke lokasi cukup jauh.

2.2 Cara mengatasi pencemaran tersebut

 Pembuatan kolam stabilisasi

Di kolam stabilisasi ini air limbah akan diolah secara alami untuk menetralisir zat
pencemar sebelum dialirkan ke sungai.

 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

Di sini pengolahan air limbah menggunakan alat khusus dengan tiga tahapan yakni tahap
pertama (primary), kedua (secondary) dan tahap lanjutan (tertiary).

Pembuatan IPAL di hilir anak Sungai Bengawan Solo dinilai mampu mengatasi
permasalahan limbah yang selama ini dianggap mencemari air Sungai Bengawan Solo.
Adapun pembuatan IPAL di hilir anak Sungai Bengawan Solo akan melibatkan seluruh
lembaga terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup, Balai Besar Wilayah Sungai
Bengawan Solo, dan pelaku industri.

 Pengelolaan Excrexta

Pengelolaan ini biasanya dijumpai untuk penanganan limbah dari septic tank yang bisa
diolah menjadi biogas alias sumber gas yang bisa digunakan untuk keperluan rumah
tangga.

Dengan demikian, limbah-limbah yang terbentuk tidak sampai mencemari lingkungan,


termasuk perairan.Limbah dari septic tank sendiri bisa berasal dari kegiatan industri,
peternakan, maupun pertanian.

8
Bicara pengelolaan limbah ini bisa dilakukan secara tradisional maupun secara modern
dengan memanfaatkan teknologi tertentu.

Dan setidaknya dalam hal ini ada beberapa hal yang harus diaplikasikan, yaitu recycle
(daur ulang), reuse (penggunaan ulang), reduce (pengurangan penggunaan) dan repair
(perbaikan).

 Menggunakan detergen yang ramah lingkungan

Seperti yang disinggung sebelumnya bahwa air sabun seperti detergen menjadi salah satu
sumber polusi yang cukup banyak terjadi.Salah satu indikasi bahwa deterjen mengandung
bahan kimia yang banyak adalah menghasilkan busa melimpah.Jika busa ini sampai
terbawa ke sumber perairan, maka bisa langsung membuat mikroorganisme di dalamnya
mati.

 Memberantas dan mengurangi pemakaian plastik

Untuk mengatasi limbah plastik, masyarakat harus mencoba untuk menerapkan strategi
pengelolaan limbah sampah khususnya plastik di rumah masing-masing dan
memaksimalkan upaya dalam mengurangi ketergantungan pada plastik sebagai bagian
dari kehidupan sehari-hari. Banyak di Indonesia yang sering menggunakan kantong
plastik, sedotan, botol, gelas, dan lain-lain. Sebagai pengganti, masyarakat bisa membeli
dan menggunakan tas yang dapat digunakan kembali dan minum tanpa menggunakan
sedotan.

Alangkah baiknya jika setiap komplek perumahan menyediakan bank sampah di mana
penduduk setempat dapat menyerahkan sampah plastik dan semua sampah yang bisa
didaur ulang kepada bank sampah dengan imbalan uang tunai. Limbah yang dikumpulkan
harus dibagi menjadi 2 bagian yaitu sampah organik dan non-organik.

Sampah organik diubah menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik dikirim ke


pabrik-pabrik daur ulang dan dipisahkan menjadi 4 kategori yaitu plastik, kertas, botol,
dan logam. Mendaur ulang sampah adalah cara yang paling layak dan efisien dalam
mengatasi bertambahnya limbah plastik sehingga tercapailah ekonomi

9
2.3 Dampak pencemaran tersebut bagi kesehatan manusia

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri
maupun domestik (rumah tangga). Di mana masyarakat bermukim, di sanalah berbagai
jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air
buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).  Bentuk limbah tersebut
dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang
bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (Limbah B3).

Berdasarkan UU No. 32/2009  “ Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup”, dan PP


No. 18/1999 Jo. PP No. 85/1999 “Pengelolaan Limbah B3” Pengertian limbah
adalah “sisa suatu usaha dan/atau kegiatan”. Sedangkan limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun, disingkat Limbah B3 adalah “sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang
mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau
konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup
lain”. Sedangkan definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah “setiap bahan
sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta
konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia”.

Sumber Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

1. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik. Berasal bukan dari proses utamanya, tetapi
berasal dari kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, pencegahan korosi, pengemasan, dll.
2. Limbah B3 dari sumber spesifik. Limbah B3 sisa proses suatu industri atau kegiatan
yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah.

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:

10
1. Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan
awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah
menguap
2. Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi
3. Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengn
lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil
proses tersebut
4. Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested
aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan
banyak mengandung padatan organik.

Secara konvensional terdapat tujuh kelas bahan berbahaya, yaitu:

1. Flammable (mudah terbakar), misalnya: jenis pelarut ethanol, gas hidrogen, methane.


2. Materi yang spontan terbakar
3. Explosive (mudah meledak), misalnya dinamit.
4. Oxidizer (pengoksidasi), misalnya amonium nitrat dan benzoyl perioksida.
5. Corrosive ( bersifat korosif )
6. Toxic ( beracun )
7. Radioactive

Dengan karakteistik yang dimilikinya, B3 mempengaruhi kesehatan dengan


mencelakakan manusia secara langsung (akibat ledakan, kebakaran, reaktif dan korosif)
dan maupun tidak langsung (toksik akut dan kronis) bagi manusia. Zat toksik yang
dihasilkan oleh limbah B3 masuk ke tubuh manusia melalui:

1. Oral yaitu melalui mulut kemudian saluran pencernaan, sulit mencapai peredaran
darah;
2. Inhalasi yaitu melalui saluran pernapasan, bersifat cepat memasuki peredaran darah;
3. Dermal yaitu melalui kulit sehingga mudah masuk ke dalam peredaran darah;
4. Peritonial yaitu melalui suntikan, langsung memasuki peredaran darah.

11
Pengaruh limbah B3 terhadap mahluk hidup, khususnya manusia terdiri atas 2 kategori
yaitu: (1) efek akut, dan (2) efek kronis. Efek akut dapat menimbulkan akibat berupa
kerusakan susunan syaraf, kerusakan sistem pencernaan, kerusakan sistem kardio
vasculer, kerusakan sistem pernafasan, kerusakan pada kulit, dan kematian. Sementara
itu, efek kronis dapat menimbulkan efek karsinogenik (pendorong terjadinya kanker),
efek mutagenik (pendorong mutasi sel tubuh), efek teratogenik (pendorong terjadinya
cacat bawaan), dan kerusakan sistem reproduksi. Contoh limbah B3 ialah logam berat
seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Hg, dan Zn serta zat kimia seperti pestisida, sianida,
sulfide, fenol dan sebagainya.

Berikut tabel unsur logam yang menjadi limbah B3 dan efek yang di timbulkan :

Sumber dan Cara Penyebaran Efek yang


No Unsur Logam
Alamiah Kegiatan Manusia ditimbulkan
Proses pertambangan,
Pelapukan batuan Industri insektisida
1. Arsen(As) sulfida dan emisi gas arsenik, dan Pembakaran Sangat beracun
panas bumi bahan bakar minyak dan
gas
menyebabkan
Limbah industri cat  dan 
Pelarutan mineral gangguan otot dan
2. Barium(Ba) kertas, dan proses
barit (BaSO4) jantung, dan merusak
pengeboran
ginjal
Pelarutan kulit bumi Keracunan, mual –
3. Besi(Fe) Air limbah elektroplating
dan bijih besi mual
Menyebabkan
Limbah industri cat,
Kadmium(Cd Pelepasan dari sel karapuhan tulang dan
4. baterai, dan plastik, dan
) mikroorganisme nyeri dengan
proses elektroplating
intensitas tinggi,
Air limbah industri cat
Konsentrasi tinggi
5. Kobal(Co) - dan tekstil, dan emisi
beracun
pembakaran mineral
Kromium Air limbah
heksavalen elektroplating, Gangguan kulit,
6. - penyamakan kulit, kerusakan liver dan
(Cr (VI))
industri tekstil  dan karsinogenik
pembuatan cat.
Industri pembuatan
7. Mangan(Mn) Pelarutan mineral -
baterai
8. Merkuri(Hg) Emisi gas panas bumi Limbah industri Beracun dan merusak
pembuatan termometer, sistem syaraf

12
lampu, baterai,
insektisida, soda kostik,
dan  ekstraksi emas dan
perak
Air limbah proses
9. Nikel(Ni) Pelarutan kulit bumi elektroplating, dan Karsinogenik
pembuatan baterai kering
Air limbah proses
Pelarutan mineral Beracun bagi biota
elektroplating, industri
kalkopirit (CuFeS) dan ikan. Konsentrasi
10. Tembaga(Cu) pembuatan soda kostik,
dan atau malasit tinggi menyhebabkan
cat, dan pestisida,  dan
(Cu(OH)2CuCO3) iritasi
kegiatan  pertambangan
Industri pembuatan cat
dan soda kostik,  dan
Pelarutan batuan Kerusakan otak dan
11. Timbal(Pb) kegiatan pertambangan,
galena (PbS) ginjal
serta emisi kendaraan
bermotor
Industri pembuatan
12. Selenium(Se) - Beracun jika dihirup
komponen listrik
Air limbah proses
Pelepasan dari sel elektroplating, industri Tidak beracun bagi
13. Zenk(Zn)
biota pembuatan cat, baterai, manusia dan ikan
dan  soda kostik

2.4 Biotransformasi

1. Reaksi Penguraian (Fase I)

Yaitu pemutusan hidrolitik, oksidasi dan reduksi.Umumnya reaksi fase I mengubah baha
n yang masukke dalam sel menjadi lebih bersifat hidrofilik (mudahlarut dalam air) daripa
da bahan asalnya.

Pada reaksi fase I ini mengubah bahan kimia menjadi metabolit yang lebih polar, yang
dapat bersifat inaktif, kurang aktif, atau lebih aktif daripada bentuk aslinya. Fungsi utama
metabolisme fase I adalah menyiapkan senyawa untuk metabolisme II dan tidak
menyiapkan obat untuk diekskresi. Yang termasuk dalam reaksi fase I adalah oksidasi,
reduksi, dan hidrolisis.

 Reaksi oksidasi

Yang sangat penting untuk biotransformasi ialah reaksi oksidasi yang melibatkan
oksidase, monooksigenase, dan dioksigenase. Oksidase mengoksidasi melalui penarikan

13
hidrogen atau elektron. Oleh monooksigenase, satu atom oksigen dari molekul oksigen
diikat pada bahan asing dan atom oksigen lain direduksi menjadi air

 Reaksi reduksi

Dibandingkan dengan oksidasi, reduksi hanya memegang peranan kecil pada


biotransformasi. Senyawa karbonil dapat direduksi menjadi alkohol oleh
alkoholdehidrogenase atau aldol ketoreduktase sitoplasma. Untuk penguraian senyawa
azo menjadi amina primer melalui tahap antara hidrazo tampaknya ada beberapa enzim
yang terlibat, di antaranya NADPH-sitokrom P-450 reduktase. Yang masih belum
diketahui seluruhnya ialah enzim yang terlibat dalam reduksi senyawa nitro menjadi
amina yang sesuai. Secara toksikologik berarti ialah dehalogenisasi reduktif, misalnya
pada karbromal serta dari karbontetraklorida menjadi kloroform.

 Reaksi hidrolisis

Reaksi biohidrolisis penting :

penguraian ester dan amida menjadi asam dan alkohol serta amina oleh esterase  
(amidase). Hidrolisis ester dapat berlangsung dalam plasma (asetilkolinesterase
nonspesifik, pseudokolinesterase dan esterase-esterase lain) atau dalam hati. Amida dapat
dihidrolisis oleh esterase plasma meskipun lebih lambat dari esternya tetapi lebih
mungkin dihidrolisis oleh amidase hati.

pengubahan epoksida menjadi diol berdampingan (visinal) oleh epoksidahidratase


(sinonim epoksidahidrolase)

hidrolisis asetal (glikosida) oleh glikosidase.

Ester dan amida dihidrolisis oleh enzim yang sama menurut pengetahuan saat ini.
sesungguhnya ester lebih cepat dihidrolisis daripada amida. Enzim ini terdapat baik
intrasel maupun juga ekstrasel, terikat pada mikrosom dan dalam bentuk terlarut. Untuk
metabolisme bahan asing, terutama penting sekali pseudokolin-esterase dan yang
disebut ali-esterase, yang menguraikan terutama ester alifatik dan amida, serta aril-
esterase,yang memiliki afinitas tinggi terhadap ester dan amida aromatik.

14
Epoksidahidratase, yang terdapat dalam suatu kompleks neka-enzim dengan
monooksigenase, memiliki arti untuk penguraian epoksida.

2. Reaksi Konjugasi (Fase Ii)

Terdiri dari reaksi sintesis dan konjugasi. Reaksi fase IIini merupakan proses biosintesis y
ang mengubahbahan asing atau metabolit dari fase I membuat ikatankovalen dengan mole
kul endogen menjadi konjugat.Merupakan penggabungan obat aslinya atau metabolitnya
dengan bermacam-macam komponen endogen. Reaksi konjugasi yang dilakukan oleh
enzim transferase memerlukan baik komponen endogen maupun eksogen. Reaksi
konjugasi mencakup:

reaksi antara senyawa yang mempunyai gugus hidroksil alkohol atau fenol, gugus amino,
gugus sulfhidril dan sebagian juga gugus karboksil dengan senyawa tubuh sendiri yang
kaya akan energi.

reaksi penggabungan antara senyawa asing, setelah diaktivasi dengan senyawa tubuh
sendiri (tidak teraktivasi). Kedalam reaksi terakhir termasuk konjugasi asam karboksilat
dengan asam amino.

Umumnya reaksi konjugasi mempunyai sifat reaksi bioinaktivasi atau reaksi


detoksifikasi, karena produk yang dihasilkan hampir selalu tidak aktif secara biologi,
walaupun demikian dalam beberapa hal konjugat dapat dihidrolisis lagi menjadi senyawa
asal. Metabolit fase II yang masih aktif secara biologi adalah ester asam sulfat triamteren,
diuretika penyimpan kalium. Contoh obat yang mengalami reaksi fase II antara lain,
sulfanilamid, siproheptidin, parasetamol, dimetranidazol, isoprenalin.

 konjugasi dengan asam glukuronat aktif

Glukuronidasi melibatkan konjugasi metabolit atau molekul obat dengan asam


glukuronat. Pada reaksi ini, molekul asam glukuronat ditransfer pada substrat dari
kofaktor (uridine-5’-diphospho-α-D-glucuronic acid). Glukuronidasi dikatalisis oleh
glukuronil transferase mikrosomal yang beragam. Glukurinad secara umum inaktif dan
secara cepat dikeluarkan melalui urin da empedu. Substrat yang melalui jalur ini adalah
hidroksil fenolik, hidroksil alkoholik, dan gugus asam karboksilat.

15
Alkohol yang dikonjugasi dengan asam glukuronat aktif terutama alkohol yang tidak
dapat cepat dioksidasi yaitu alkohol sekunder dan alkohol tersier. Fenol, asam karboksilat
dan amina dapat juga dikonjugasi dengan asam glukuronat.

 Konjugasi dengan asam amino

Asam karboksilat eksogen, bersama dengan asetat dapat membentuk derivat-derivat KoA
dalam tubuh dan kemudian dapat bereaksi dengan amin-amin endogen, seperti asam
amino untuk membentuk konjugatnya. Jadi, konjugasi asam amino, suatu bentuk khusus
dari N-asilasi, dimana yang diaktifkan adalah bukan kofaktor endogen. Asam amino yang
biasanya terlibat adalah glisin, glutamin, ornitin, arginin dan kaolin. Reaksinya :

R-COOH +   ATP                   R-CO-AMP   +   Ppi

R-CO-AMP  + CoASH                         R-CO-S-CoA  + AMP

R-CO-S-CoA + R’-NH2 R-CO—NH-R’+ CoASH

Jalur reaksi ini dilibatkan dalam produksi dari suatu metabolit obat yang pertama
diuraikan oleh Keller pada tahun 1842 ketika ditemukan asam hipurat sebagai suatu
produk ekskresi urin dari asam benzoat. Asam amino yang dipilih dihubungkan dengan
metabolisme antara dari spesies yang dikaji sedemikian rupa sehingga binatang ureotelik
(yang mensekresikan urea) cenderung untuk menggunakan glisin, sedangkan spesies
urikotelik (yang mensekresikan asam urat) lebih banyak menggunakan ornitin. 

 Konjugasi dengan sulfat aktif

Konjugasi sulfat melibatkan transfer molekul sulfat dari kofaktor (PAPSF: 3’-
phosphoadenosine-5’-phosphosulfat) pada substrat (metabolit atau obat) oleh enzim
sulfotransferase. Konjugasi sulfat adalah reaksi konjugasi umum pada substrat yang
memiliki gugus hidroksil alkoholik, hidroksil fenolik (parasetamol, salisilamid) dan
amina aromatis.

Sulfotransferase merupakan enzim yang larut dengan kespesifikan yang berbeda-beda.


Yang terbentuk adalah setengah ester asam sulfat yang diekskresi dalam urin.
Perbandingan sulfat organik terhadap sulfat anorganik dalam urin meningkat jauh sesuai

16
dengan pemasukan fenol ke dalam tubuh atau pemasukan senyawa yang diuraikan
menjadi fenol.

3. Biotransformasi Alkohol

17
DAFTAR PUSTAKA

https://mediaindonesia.com/read/detail/274823-pencemaran-parah-sungai-
bengawan-solo-kian-parah

https://hendronurcahyo-wordpress-
com.cdn.ampproject.org/v/s/hendronurcahyo.wordpress.com/2013/07/02/dampak-
limbah-b3-bagi-kesehatan/amp/?usqp=mq331AQFKAGwASA
%3D&amp_js_v=0.1#aoh=15851514970502&referrer=https%3A%2F
%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%

https://suarabanyuurip.com/index.php?/kabar/baca/indonesia-dapat-mengurangi-
sampah-plastik-dan-mencapai-sustainability

https://www.99.co/id/panduan/cara-mengatasi-pencemaran-air

http://www.umpalangkaraya.ac.id/dosen/dwipurbayanti/wp-
content/uploads/2017/08/Pertemuan-3.-BIOTRANSFORMASI-TOKSIKAN.pdf

18
LAMPIRAN

Ikan-ikan mati
Sungai berwarna hitam pekat
dan sampah berserahkan

19