Anda di halaman 1dari 29

APLIKASI ASKEP DEKUBITUS

PADA LANSIA

OLEH :
KELAS B12-C
KELOMPOK 5

1. IDA BAGUS ANANDA MANUABA 193223178


2. I GUSTI MADE AMERTA YASA 193223179
3. NI MADE DWIYANI 193223189
4. NI MADE RAI DIAH PURNAMA DEWI 193223190
5. NI MADE SANTHI ASTUTI 193223191
6. NI MADE SUWARTINI 193223192

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga makalah “Aplikasi Asuhan
Keperawatan Dekubitus pada Lansia” ini bisa selesai tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah tentang Keperawatan Gerontik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini.
Penulis sadar makalah ini belum sempurna dan memerlukan berbagai
perbaikan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua
pihak.

                                          

         
Denpasar, 9 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1
1.1 Latar Belakang..............................................................................................1
1.2 Rumusan masalah..........................................................................................3
1.3 Tujuan...........................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................4
A. Konsep Teori................................................................................................4
2.1 Definisi Dekubitus..................................................................................4
2.2 Etiologi...................................................................................................4
2.3 Patofisilogi..............................................................................................6
2.4 Manifestasi Klinis ..................................................................................9
2.5 Pemeriksaan Diagnostik.........................................................................10
2.6 Penatalaksanaan......................................................................................10
2.7 Pengobatan.............................................................................................11
2.8 Pencegahan.............................................................................................12
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan.............................................................13
I. Pengkajian..................................................................................................13
II. Diagnosa....................................................................................................17
III. Intervensi...................................................................................................18
IV. Implementasi.............................................................................................23
V. Evaluasi.....................................................................................................23
BAB III PENUTUP...........................................................................................25
3.1 Kesimpulan...............................................................................................25
3.2 Saran..........................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Pada lanjut usia terdapat banyak perubahan fisiologis yang normal

yang dialami lanjut usia, salah satunya yaitu perubahan pada sistem

integumen, seiring dengan terjadinya proses penuaan kulit akan kehilangan

elastisitas kulit (misalnya kering, kendur, kerut dan mudah luka),

perubahan pigmentasi, atrofi kelenjar (misalnya, kelembaban, kelenjar

keringat) karena adanya perubahan tersebut dapat berisiko terjadinya ulkus

dekubitus (Potter & perry, 2009)

Ulkus dekubitus dapat terjadi pada setiap tahap umur, tetapi hal ini

merupakan masalah yang khusus pada lanjut usia. Kekhususannya yang

terletak pada insiden kejadiannya yang erat kaitannya dengan immobilitas,

di negara maju prosentase terjadinya ulkus dekubitus mencapai sekitar 11

% dan terjadi dalam dua minggu pertama perawatan. Adapun faktor risiko

timbulnya ulkus dekubitus adalah immobilisasi, inkontinensia, malnutrisi,

diabetes mellitus, insufisiensi vaskular, obesitas, hipoalbuminemia,

dimensia berat, dan berubahnya tingkat kesadaran (Darmojo, 2011).

Area yang biasa terjadi ulkus dekubitus adalah tepat diatas tonjolan

tulang dan tidak dilindungi cukup dengan lemak subkutan, misalnya

daerah sacrum, daerah trokanter mayor dan spina ischiadica superior

anterior, daerah tumit dan siku. Sekitar 6,5 – 9,4 % dari populasi umum

orang dewasa yang dirawat dirumah sakit menderita paling sedikit satu

ulkus dekubitus pada setiap kali masuk rumah sakit, pada pasien lanjut

usia yang dirawat dirumah sakit, insiden ulkus dekubitus dapat menjadi

jauh lebih tinggi (Morison, 2004).

Pada umumnya masalah kesehatan pada lanjut usia dipengaruhi

1
karena kurangnya gerak yang turut berperan terhadap intoleransi aktifitas,

awitan imobilitas atau intoleransi aktifitas untuk sebagian besar orang

tidak tarjadi secara tiba-tiba, bergerak dari mobilitas penuh sampai

ketergantungan fisik total atau ketidakaktifan, tetapi lebih berkembang

secara perlahan dan tanpa disadari. Penyebab imobilitas bermacam-

macam, pada kenyataannya terdapat banyak penyebab imobilitas yang

unik pada orang-orang yang diimobilisasi. Semua kondisi penyakit dan

rehabilitasi melibatkan beberapa derajat imobilitas (Stanley, 2007). Salah

satu masalah bagi lansia yang dirawat dirumah sakit, atau rumah

perawatan lainnya, pasien tersebut memiliki risiko untuk mengalami risiko

terjadinya ulkus dekubitus selama perawatan karena tekanan berat badan

pada tempat tidur dan kurangnya mobilitas.

Dekubitus merupakan suatu keadaan dimana ada kerusakan

jaringan setempat atau luka yang diakibatkan oleh tekanan dari luar yang

berlebih, dan pada umumnya terjadi pada pasien yang menderita penyakit

kronik yang sering berbaring lama di tempat tidur . Kerusakan integritas

kulit dapat berasal dari luka karena trauma dan pembedahan, namun dapat

disebabkan juga karena kulit tertekan dalam waktu yang lama yang

menyebabkan iritasi dan akan berkembang menjadi dekubitus atau luka

tekan.

Ulkus dekubitus biasa disebut dengan ulcus pressure terjadi pada

daerah kulit yang menutupi tulang yang menonjol yang dipengaruhi

beberapa faktor, diantaranya karena imobilisasi ditempat tidur,

pergesekan, perubahan posisi yang kurang dan mengakibatkan paraplegia

atau penurunan fungsi sensorik dari gerak tubuh dalam jangka waktu yang

lama. Masalah ini menjadi problem yang serius karena mengakibatkan

meningkatnya biaya dan memperlambat perawatan dan program

rehabilitas bagi pasien atau penderita. Selain itu dekubitus juga


2
menyebabkan nyeri yang berkepanjangn, rasa tidak nyaman dan dapat

menyebabkan komplikasi berat yang mengarah ke sepsis dan infeksi

kronis. Namun yang menjadi perhatian adalah penanganan dan

pencegahan pada penderita pasien kronis agar menurunkan angka kejadian

ulkus dekubitus yang mengancam kehidupan (Sari, 2016).

1.2 Rumusan masalah

a. Bagaimanakah konsep penyakit dekubitus ?


b. Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan dekubitus ?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Untuk mengetahui konsep penyakit dekubitus ?
b. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan dekubitus ?

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP TEORI
2.1 DEFINISI DEKUBITUS
Dekubitus sering disebut ulkus dermal/ ulkus dekubitus atau luka tekan terjadi akibat
tekanan yang sama pada suatu bagian tubuh yang mengganggu sirkulasi (Harnawatiaj,
2008). Dekubitus adalah kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan dibawah kulit,
bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu
area secara terus-menerus sehingga mengakibatkan ganguan sirkulasi darah setempat
(Hidayat,2009). Dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi
ketika jaringan lunak tertekan di antara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal
dalam jangka waktu lama (National Pressure Ulcer Advisory Panel [NPUAP], 1989).
Ulkus Dekubitus  atau istilah lain Bedsores  adalah kerusakan/kematian kulit yang terjadi
akibat gangguan  aliran darah setempat dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang
menonjol, dimana kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips,
pembidaian atau benda keras lainnya dalam jangka waktu yang lama.

2.2. ETIOLOGI
Luka Dekubitus disebabkan oleh kombinasi dari faktor ekstrinsik dan intrinsik pada
pasien.
a. Faktor Ekstrinsik
1. Tekanan : kulit dan jaringan dibawahnya tertekan antara tulang dengan permukaan
keras lainnya, seperti tempat tidur dan meja operasi. Tekanan ringan dalam waktu
yang lama sama bahayanya dengan tekanan besar dalam waktu singkat. Terjadi
gangguan mikrosirkulasi lokal kemudian menyebabkan hipoksi dan
nekrosis. tekanan antar muka (interface pressure). Tekanan antar muka adalah
kekuatan per unit area antara tubuh dengan permukaan matras. Apabila tekanan
antar muka lebih besar daripada tekanan kapiler rata rata, maka pembuluh darah
kapiler akan mudah kolap, daerah tersebut menjadi lebih mudah untuk terjadinya
iskemia dan nekrotik. Tekanan kapiler rata rata adalah sekitar 32 mmHg.
2. Gesekan dan pergeseran : gesekan berulang akan menyebabkan abrasi sehingga
integritas jaringan rusak. Kulit mengalami regangan, lapisan kulit bergeser terjadi
gangguan mikrosirkulasi lokal.

4
3. Kelembaban : akan menyebabkan maserasi, biasanya akibat inkontinensia, drain
dan keringat. Jaringan yang mengalami maserasi akan mudah mengalami
erosi. Selain itu kelembapan juga mengakibatkan kulit mudah terkena pergesekan
(friction) dan perobekan jaringan (shear). Inkontinensia alvi lebih signifikan dalam
perkembangan luka tekan daripada inkontinensia urin karena adanya bakteri dan
enzim pada feses dapat merusak permukaan kulit.
4. Kebersihan tempat tidur, alat-alat tenun yang kusut dan kotor, atau peralatan medik
yang menyebabkan klien terfiksasi pada suatu sikap tertentu juga memudahkan
terjadinya dekubitus.

b. Fase Intrinsik
1. Usia :  pada usia lanjut akan terjadi penurunan elastisitas dan vaskularisasi. Pasien
yang sudah tua memiliki resiko yang tinggi untuk terkena luka tekan karena kulit
dan jaringan akan berubah seiring dengan penuaan. Penuaan mengakibatkan
kehilangan otot, penurunan kadar serum albumin, penurunan respon inflamatori,
penurunan  elastisitas kulit, serta penurunan kohesi antara epidermis dan dermis.
Perubahan ini berkombinasi dengan faktor penuaan lain akan membuat kulit
menjadi berkurang toleransinya terhadap tekanan, pergesekan, dan tenaga yang
merobek.  Selain itu, akibat dari penuaan  adalah berkurangnya jaringan lemak
subkutan, berkurangnya jaringan kolagen dan elastin. menurunnya efesiensi
kolateral kapiler pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan rapuh.
2. Penurunan sensori persepsi : Pasien dengan penurunan sensori persepsi akan
mengalami penurunan untuk merasakan sensari nyeri akibat tekanan diatas tulang
yang menonjol. Bila ini terjadi dalam durasi yang lama, pasien akan mudah
terkena luka tekan. karena nyeri merupakan suatu tanda yang secara normal
mendorong seseorang untuk bergerak. Kerusakan saraf (misalnya akibat
cedera, stroke, diabetes) dan koma bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan
untuk merasakan nyeri.
3. Penurunan kesadaran : gangguan neurologis, trauma, analgetik narkotik.
4. Malnutrisi : Orang-orang yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) tidak
memiliki lapisan lemak sebagai pelindung dan kulitnya tidak mengalami
pemulihan sempurna karena kekurangan zat-zat gizi yang penting.Karena itu klien
malnutrisi juga memiliki resiko tinggi menderita ulkus dekubitus. Selain itu,
malnutrisi dapat gangguan penyembuhan luka.

5
Biasanya berhubungan dengan hipoalbumin. Hipoalbuminemia, kehilangan berat
badan, dan malnutrisi umumnya diidentifikasi sebagai faktor predisposisi untuk
terjadinya luka tekan. Menurut penelitian Guenter (2000) stadium tiga dan empat
dari luka tekan pada orang tua berhubungan dengan penurunan berat badan,
rendahnya kadar albumin, dan intake makanan yang tidak mencukupi.
5. Mobilitas dan aktivitas : Mobilitas adalah kemampuan untuk mengubah dan
mengontrol posisi tubuh, sedangkan aktivitas adalah kemampuan untuk berpindah.
Pasien yang berbaring terus menerus ditempat tidur tanpa mampu untuk merubah
posisi beresiko tinggi untuk terkena luka tekan. Orang-orang yang tidak dapat
bergerak (misalnya lumpuh, sangat lemah, dipasung). Imobilitas adalah faktor
yang paling signifikan dalam kejadian luka tekan.
6. Merokok : Nikotin yang terdapat pada rokok dapat menurunkan aliran darah dan
memiliki efek toksik terhadap endotelium pembuluh darah. Menurut hasil
penelitian Suriadi (2002) ada hubungaan yang signifikan antara merokok dengan
perkembangan terhadap luka tekan.
7. Temperatur kulit : Menurut hasil penelitian Sugama (1992) peningkatan
temperatur merupakan faktor yang signifikan dengan resiko terjadinya luka tekan.
8. Kemampuan sistem kardiovaskuler menurun, sehingga perfusi kulit menurun.
9. Anemia
10. Hipoalbuminemia, beresiko tinggi terkena dekubitus dan memperlambat
penyembuhannya.
11. Penyakit-penyakit yang merusak pembuluh darah juga mempermudah terkena
dekubitus dan memperburuk dekubitus.

2.3 PATOFISIOLOGI
      Tiga elemen yang mendasar terjadi dekubitus yaitu :
a. Intensitas tekanan dan tekanan yang menutup kapiler (Landis,1930)
b. Durasi dan besarnya tekanan (Koziak,1959)
c. Toleransi jaringan (Husain, 1953;Trumble, 1930)
Dekubitus terjadi sebagai hubungan antara waktu dengan tekanan (Stotts,
1988). Semakin besar tekanan, maka semakin besar pula insiden terbentuknya luka.
Kulit dan jaringan subkutan dapat mentoleransi beberapa tekanan. Tapi pada tekanan
eksternal terbesar daripada tekanan dasar kapiler akan menurunkan atau
menghilangkan aliran darah ke dalam jaringan sekitarnya. Jaringan ini menjadi

6
hipoksia sehingga terjadi cedera iskemia. Jika tekanan ini lebih besar dari 32mmHg
dan tidak dihilangkan dari tempat yang mengalami hipoksia, maka pembuluh darah
kolaps dan thrombosis (Maklebust,1987). Jika tekanan dihilangkan sebelum titik kritis
maka sirkulasi pada jaringan tersebut akan pulih kembali melalui mekanisme
fisiologis hyperemia reaktif. ”Karena kulit mempunyai kemampuan yang lebih besar
untuk mentoleransi iskemia dari otot, maka dekubitus dimulai di tulang dengan
iskemia otot yang berhubungan dengan tekanan yang akhirnya melebar ke
epidermis”(Maklebust, 1995)
Pembentukan dekubitus juga berhubungan dengan adanya gaya gesek yang terjadi
saat menaikan posisi klien di atas tempat tidur . Efek tekanan juga dapat ditingkatkan
oleh distribusiberat badan yang tidak merata. Jika tekanan tekanan tidak terdistribusi
secara merata pada tubuh maka gradien tekanan jaringan yang mendapatkan tekanan
akan meningkat. Metabolisme sel kulit di titik tekanan mengalami gangguan. Respon
kompensasi jaringan terhadap iskemi yaitu hyperemia reaktif memungkinkan jaringan
iskemia dibanjiri dengan darah ketika tekanan dihilangkan. Peningkatan aliran darah
meningkatkan pengiriman oksigen dan nutrient ke dalam jaringan. Gangguan
metabolic yang disebabkan oleh tekanan dapat kembali normal. Hyperemia reaktif
akan efektif  hanya apabila tekanan dihilangkan sebelum terjadi kerusakan. Beberapa
penelitian merasa bahwa interval sebelum terjadi kerusakan berkisar antara 1 sampai
2 jam. Tetapi, hal ini interval waktu subjectif, dan tidak berdasarkan data pengkajian
klien.

7
PATHWAY DEKUBITUS

Faktor tekanan, toleransi jaringan ( elastisitas kulit akibat usia)durasi &besar tekanan

Tekanan eksterna > tekanan


dasar

Aliran darah ke jaringan sekitar

Jaringan Hipoksia

Cedera iskemia
anoreksia
Pem.darah Kolaps

Penurunan
Perubahan
peristalik usus Iskemia otot
nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh
Dekubitus
Nyeri akut

Perubahan temperature kulit


Nyeri
Kerusakan
integritas kulit
Hilang sebagian lap.kulit &
Terjadi luka
Keterbatasan luka
gerak Resiko infeksi
Lap. Kulit Hilang secara lengkap &
Luka dalam
Kerusakan
mobilitas fisik

Lap. Kulit Hilang secara lengkap & meluas

Ggn citra tubuh Tingkat kesakitan tinggi Koping tdk efektif

8
2.4 MANIFESTASI KLINIS
Terjadi pada pasien-pasien paraplegia, quadriplegia, spina bifida, multipel
sklerosis dan imobilisasi lama di rumah sakit. Selain itu, factor lain perlu diketahui dari
riwayat penderita meliputi onset, durasi, riwayat pengobatan sebelumnya, perawatan
luka, riwayat operasi sebelumnya, status gizi dan perubahan berat badan, riwayat alergi,
konsumsi alkohol, merokok serta keadaan sosial ekonomi penderita. Anamnesa sistem
termasuk di dalamnya antara lain demam, keringat malam, spasme (kaku), kelumpuhan,
bau, nyeri (Arwaniku, 2007). Menurut NPUAP (National Pressure Ulcer Advisory
Panel), luka tekan dibagi menjadi empat stadium ,yaitu :
1. Stadium 1 :
Ulserasi terbatas pada epidermis dan dermis dengan eritema pada kulit. Penderita
dengan sensibilitas baik akan mengeluh nyeri, stadium ini biasanya reversible dan
dapat sembuh dalam 5-10 hari.
2. Stadium 2 :
Ulserasi mengenai dermis, epidermis dan meluas ke jaringan adiposa terlihat eritema
dan indurasi serta kerusakan kulit partial (epidermis dan sebagian dermis) ditandai
dengan adanya lecet dan lepuh . Stadium ini dapat sembuh dalam 10-15 hari.
3. Stadium 3 :
Ulserasi meluas sampai ke lapisan lemak subkulit dan otot sudah mulai terganggu
dengan adanya edema dan inflamasi, infeksi akan hilang struktur fibril. Kerusakan
seluruh lapisan kulit sampai subkutis, tidak melewati fascia. Biasanya sembuh dalam
3-8 minggu.
4. Stadium 4 :
Ulserasi dan nekrosis meluas mengenai fasia,otot serta sendi. Dapat sembuh dalam 3-6
bulan.

Tanda dan Gejala dari masing-masing stadium :


Stadium 1 :
 Adanya perubahan dari kulit yang dapat diobservasi. Apabila dibandingkan dengan
kulit yang normal, maka akan tampak salah satu tanda sebagai berikut: perubahan
temperatur kulit (lebih dingin atau lebih hangat)
 Perubahan konsistensi jaringan (lebih keras atau lunak)
 Perubahan sensasi (gatal atau nyeri)

9
 Pada orang yang berkulit putih, luka mungkin kelihatan sebagai kemerahan yang
menetap. Sedangkan pada yang berkulit gelap, luka akan kelihatan sebagai warna
merah yang menetap, biru atau ungu.
Stadium 2 :
 Hilangnya sebagian lapisan kulit yaitu epidermis atau dermis, atau keduanya. Cirinya
adalah lukanya superficial, abrasi, melempuh, atau membentuk lubang yang dangkal.
Stadium 3 :
 Hilangnya lapisan kulit secara lengkap, meliputi kerusakan atau nekrosis dari jaringn
subkutan atau lebih dalam, tapi tidak sampai pada fascia. Luka terlihat seperti lubang
yang dalam.
Stadium 4 :
 Hilangnya lapisan kulit secara lengkap dengan kerusakan yang luas, nekrosis jaringan,
kerusakan pada otot, tulang atau tendon. Adanya lubang yang dalam serta saluran
sinus juga termasuk dalam stadium IV dari luka tekan.

2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK        


a. Kultur : pertumbuhan mikroorganisme tiruan atau sel – sel jaringan
b. Albumin serum : protein utama dalam plasma dan cairan serosa lain.

2.6 PENATALAKSANAAN
a. Perawatan luka decubitus
b. Penerangan untuk pasien dan keluarga
c. Bila ulkus kecil dapat sembuh sendiri bila faktor penyebab dihilangkan.
d. Usaha pencegahan keadaan yang lebih buruk.
e. Mengurangi tekanan dengan cara mengubah posisi selama 5 menit setiap 2 jam.
f. Menggunakan alas tidur yang empuk, kering dan kebersihan kulit  dijaga jangan
sampai kotor karena urin dan feses.
g. Terapi obat :
1) Obat antibacterial topical untuk mengontrol pertumbuhan bakteri
2) Antibiotik prupilaksis agar luka tidak terinfeksi
h. Terapi diet
Agar terjadi proses penyembuhan luka yang cepat, maka nutrisi harus adekuat yang
terdiri dari kalori, protein, vitamin, mineral dan air. Penatalaksanaan klien dekubitus
memerlukan pendekatan holistic yang menggunakan keahlian pelaksana yang berasala

10
dari beberapa disiplin ilmu kesehatan (AHCPR, 1994; Olshansky, 1994) Gambaran
keseluruhan dekubitus akan menjadi dasar pembuatan pohon pengangambilan
keputusan yang digunakan untuk menentukan rencana tindakan (AHCPR, 1994,
Maklebust dan Siegreen, 1991).

2.7 PENGOBATAN
Pengobatan ulkus dekubitus dengan pemberian bahan topikal, sistemik ataupun dengan
tindakan bedah dilakukan sedini mungkin agar reaksi penyembuhan terjadi lebih cepat.
Pada pengobatan ulkus dekubitus ada beberapa hal yang perlu diperhatkan antara lain :
a. Mengurangi tekanan lebih lanjut pada daerah ulkus. Secara umum sama dengan
tindakan pencegahan yang sudah dibicarakan di tas. Pengurangan tekanan sangat
penting karena ulkus tidak akan sembuh selama masih ada tekanan yang berlebihan
dan terus menerus.
b. Mempertahankan keadaan bersih pada ulkus dan sekitarnya. Keadaan tersebut akan
menyebabkan proses penyembuhan luka lebih cepat dan baik. Untuk hal tersebut
dapat dilakukan kompres, pencucian, pembilasan, pengeringan dan pemberian bahan-
bahan topikal seperti larutan NaC10,9%, larutan H202 3% dan NaC10,9%, larutan
plasma dan larutan Burowi serta larutan antiseptik lainnya.
c. Mengangkat jaringan nekrotik. Adanya jaringan nekrotik pada ulkus akan
menghambat aliran bebas dari bahan yang terinfeksi dan karenanya juga menghambat
pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi. Oleh karena itu pengangkatan
jaringan nekrotik akan memper-cepat proses penyembuhan ulkus. Terdapat 3 metode
yang dapat dilakukan antara lain :
1) Sharp dbridement (dengan pisau, gunting dan lain-lain).
2) Enzymatic debridement (dengan enzim proteolitik, kolageno-litik, dan
fibrinolitik).
3) Mechanical debridement (dengan tehnik pencucian, pembilasan, kompres dan
hidroterapi)
d. Menurunkan dan mengatasi infeksi, perlu pemeriksaan kultur dan tes resistensi.
Antibiotika sistemik dapat diberikan bila penderita mengalami sepsis, selulitis. Ulkus
yang terinfeksi hams dibersihkan beberapa kali sehari dengan larutan antiseptik
seperti larutan H202 3%, povidon iodin 1%, seng sulfat 0,5%. Radiasi ultraviolet
(terutama UVB) mempunyai efek bakterisidal.

11
e. Merangsang dan membantu pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi. Hal ini
dapat dicapai dengan pemberian antara lain :
1) Bahan-bahan topikal misalnya :salep asam salisilat 2%, preparat seng (Zn 0,
Zn SO)
2) Oksigen hiperbarik; selain mempunyai efek bakteriostatik terhadap sejumlah
bakteri, juga mempunyai efek proliferati epitel, menambah jaringan granulasi
dan memperbaiki keadaan vaskular.
3) Radiasi infra merah, short wave diathermy, dan pengurutan dapat membantu
penyembuhan ulkus karena adanya efek peningkatan vaskularisasi.
4) Terapi ultrasonik; sampai saat ini masih terus diselidiki manfaatnya terhadap
terapi ulkus dekubitus
f. Tindakan bedah selain untuk pembersihan ulkus juga diperlukan untuk mempercepat
penyembuhan dan penutupan ulkus, terutama ulkus dekubitus stadium III & IV dan
karenanya sering dilakukan tandur kulit ataupun myocutaneous flap.

2.8 PENCEGAHAN
Pencegahan ulkus dekubitus adalah hal yang utama karena pengobatan ulkus dekubitus
membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Tindakan pencegahan dapat dibagi menjadi :
a. Umum :
- Pendidikan kesehatan tentang ulkus dekubitus bagi staf medis, penderita dan
keluarganya.
- Pemeliharaan keadaan umum dan higiene penderita.
b. Khusus :
- Mengurangi/menghindari tekanan luaryang berlebihan pada daerah tubuh tertentu
dengan cara : perubahan posisi tiap 2 jam di tempat tidur sepanjang 24 jam.
melakukan push up secara teratur pada waktu duduk di kursi roda. pemakaian
berbagai jenis tempat tidur, matras, bantal anti dekubitus seperti circolectric bed,
tilt bed, air-matras; gel flotation pads, sheepskin dan lain-lain.
- Pemeriksaan dan perawatan kulit dilakukan dua kali sehari (pagi dan sore), tetapi
dapat lebih sering pada daerah yang potensial terjadi ulkus
dekubitus. Pemeriksaan kulit dapat dilakukan sendiri, dengan bantuan penderita
lain ataupun keluarganya. Perawatan kulit termasuk pembersihan dengan sabun
lunak dan menjaga kulit tetap bersih dari keringat, urin dan feces. Bila perlu dapat
diberikan bedak, losio yang mengandung alkohol dan emolien.

12
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN
1. Identitas
Umur/usia perlu ditanyakan karena adanya hubungan dengan proses penyembuhan
luka atau regenerasi sel. Sedangkan ras dan suku bangsa perlu dikaji karena kulit yang
tampak normal pada ras dan kebangsaan tertentu kadang tampak abnormal pada klien
dengan ras dan kebangsaan lain (Smeltzer & Brenda, 2001). Pekerjaan dan hobi klien
juga ditanyakan untuk mengetahui apakah klien banyak duduk atau sedikit
beraktivitas sehingga terjadi penekanan pembuluh darah yang menyebabkan suplai
oksigen berkurang, sel- sel tidak mendapat cukup zat makanan dan sampah hasil sisa
metabolisme tertumpuk. Akhirnya sel-sel mati, kulit pecah dan terjadilah lubang yang
dangkal dan luka dekubitus pada permukaan (Carpenito , L.J , 1998).
2. Keluhan Utama
Merupakan keluhan yang paling dirasakan oleh klien sehingga ia mencari
pertolongan. Keluhan yang diungkapkan klien pada umumnya yaitu adanya rasa
nyeri. Lokasi luka biasanya terdapat pada daerah- daerah yang menonjol, misalnya
pada daerah belakang kepala, daerah bokong, tumit, bahu, dan daerah pangkal paha
yang mengalami ischemia sehingga terjadi ulkus decubitus (Bouwhuizen , 1986)
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Hal- hal yang perlu dikaji adalah mulai kapan keluhan dirasakan, lokasi keluhan,
intensitas, lamanya atau frekuensi, faktor yang memperberat atau memperingan
serangan, serta keluhan- keluhan lain yang menyertai dan upaya- upaya yang telah
dilakukan perawat disini harus menghubungkan masalah kulit dengan gejalanya
seperti: gatal, panas, mati rasa, immobilisasi, nyeri, demam, edema, dan neuropati
(Carpenito , L.J , 1998)
4. Riwayat Personal dan Keluarga
a. Riwayat penyakit keluarga perlu ditanyakan karena penyembuhan luka dapat
dipengaruhi oleh penyakit – penyakit yang diturunkan seperti : DM, alergi, Hipertensi
(CVA).
b. Riwayat penyakit kulit dan prosedur medis yang pernah dialami klien. Hal ini
untuk memberikan informasi apakah perubahan pada kulit merupakan manifestasi dari
penyakit sistemik seperti : infeksi kronis, kanker, DM

13
5. Riwayat Pengobatan
Apakah klien pernah menggunakan obat- obatan. Yang perlu dikaji perawat yaitu:
a. Kapan pengobatan dimulai.
b. Dosis dan frekuensi.
c. Waktu berakhirnya minum obat
6. Riwayat Diet
Yang dikaji yaitu berat badan, tinggi badan, pertumbuhan badan dan makanan yang
dikonsumsi sehari- hari. Nutrisi yang kurang adekuat menyebabkan kulit mudah
terkena lesi dan proses penyembuhan luka yang lama.
7. Status Sosial Ekonomi
Untuk mengidentifikasi faktor lingkungan dan tingkat perekonomian yang dapat
mempengaruhi pola hidup sehari- hari, karena hal ini memungkinkan dapat
menyebabkan penyakit kulit.
8. Riwayat Kesehatan, seperti
a. Bed-rest yang lama
b. Immobilisasi
c. Inkontinensia
d. Nutrisi atau hidrasi yang inadekuat
9. Pengkajian Psikososial
Kemungkinan hasil pemeriksaan psikososial yang tampak pada klien yaitu:
a. Perasaan depresi
b. Frustasi
c. Ansietas/kecemasan
d. Keputusasaan
e. Gangguan Konsep Diri
f. Nyeri
10. Aktivitas Sehari- Hari
Pasien yang immobilisasi dalam waktu yang lama maka bukan terjadi ulkus pada
daerah yang menonjol karena berat badan bertumpu pada daerah kecilyang tidak
banyak jaringan dibawah kulit untuk menahan kerusakan kulit. Sehingga diperlukan
peningkatan latihan rentang gerak dan mengangkat berat badan. Tetapi jika terjadi
paraplegi maka akan terjadi kekuatan otot tidak ada (pada ekstremitas bawah),
penurunan peristaltik usus (terjadi konstipasi), nafsu makan menurun dan defisit
sensori pada daerah yang paraplegi.

14
11. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Umumnya penderita datang dengan keadaan sakit dan gelisah atau cemas akibat
adanya kerusakan integritas kulit yang dialami.
b. Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah normal, nadi cepat, suhu meningkat dan respirasi rate meningkat.
c. Pemeriksaan Kepala Dan Leher
 Kepala Dan Rambut
Pemeriksaan meliputi bentuk kepala, penyebaran dan perubahan warna rambut
serta pemeriksaan tentang luka. Jika ada luka pada daerah tersebut,
menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan kerusakan kulit.
 Mata
Meliputi kesimetrisan, konjungtiva, reflek pupil terhadap cahaya dan
gangguan penglihatan.
 Hidung
Meliputi pemeriksaan mukosa hidung, kebersihan, tidak timbul pernafasan
cuping hidung, tidak ada sekret.
 Mulut
Catat keadaan adanya sianosis atau bibir kering.
 Telinga
Catat bentuk gangguan pendengaran karena benda asing, perdarahan dan
serumen. Pada penderita yang bet rest dengan posisi miring maka,
kemungkinan akan terjadi ulkus didaerah daun telinga.
 Leher
Mengetahui posisi trakea, denyut nadi karotis, ada tidaknya pembesaran vena
jugularis dan kelenjar linfe.
d. Pemeriksaan Dada Dan Thorax
Inspeksi bentuk thorax dan ekspansi paru, auskultasi irama pernafasan, vokal
premitus, adanya suara tambahan, bunyi jantung, dan bunyi jantung tambahan,
perkusi thorax untuk mencari ketidak normalan pada daerah thorax.
e. Abdomen
Bentuk perut datar atau flat, bising usus mengalami penurunan karena
inmobilisasi, ada masa karena konstipasi, dan perkusi abdomen hypersonor jika
dispensi abdomen atau tegang.

15
f. Urogenital
Inspeksi adanya kelainan pada perinium. Biasanya klien dengan ulkus dan
paraplegi terpasang kateter untuk buang air kecil.
g. Muskuloskeletal
Adanya fraktur pada tulang akan menyebabkan klien bet rest dalam waktu lama,
sehingga terjadi penurunan kekuatan otot.
h. Pemeriksaan Neurologi
Tingkat kesadaran dikaji dengan sistem GCS. Nilainya bisa menurun bila terjadi
nyeri hebat (syok neurogenik) dan panas atau demam tinggi, mual muntah, dan
kaku kuduk.
12. Pengkajian Fisik Kulit
Pengkajian kulit melibatkan seluruh area kulit termasuk membrane mukosa, kulit
kepala, rambut dan kuku. Tampilan kulit yang perlu dikaji yaitu warna, suhu,
kelembaban,kekeringan, tekstur kulit (kasar atau halus), lesi, vaskularitas.
Yang harus diperhatikan oleh perawat yaitu :
a. Warna, dipengaruhi oleh aliran darah, oksigenasi, suhu badan dan produksi
pigmen.
b. Lesi, dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1) Lesi primer, yang terjadi karena adanya perubahan pada salah satu
komponen kulit
2) Lesi sekunder, adalah lesi yang muncul setelah adanya lesi
primer. Gambaran lesi yang harus diperhatikan oleh perawat yaitu warna,
bentuk, lokasi dan kofigurasinya.
3) Edema
Selama inspeksi kulit, perawat mencatat lokasi, distribusi dan warna dari
daerah edema.
4) Kelembaban
Normalnya, kelembaban meningkat karena peningkatan aktivitas atau suhu
lingkungan yang tinggi kulit kering dapat disebabkan oleh beberapa faktor,
seperti lingkungan kering atau lembab yang tidak cocok, intake cairan
yang inadekuat, proses menua.
5) Integritas
Yang harus diperhatikan yaitu lokasi, bentuk, warna, distribusi, apakah ada
drainase atau infeksi.

16
6) Kebersihan kulit
7) Vaskularisasi
Perdarahan dari pembuluh darah menghasilkan petechie dan echimosis.
8) Palpasi kulit
Yang perlu diperhatikan yaitu lesi pada kulit, kelembaban, suhu, tekstur
atau elastisitas, turgor kulit.
13. Pemeriksaan Penunjang
a. Darah lengkap
Peningkatan tertentu awal menunjukkan hemo konsentrasi, sehubungan dengan
perpindahan atau kehilangan cairan dan untuk mengetahui adanya defisiensi
nutrisi pada klien. Jika terjadi leukositosis karena adanya kehilangan sel pada sisi
luka dan respon inflamasi terhadap edema. Glukosa serum yang terjadi
peningkatan karena respon stres.
b. Biopsi luka
Untuk mengetahui jumlah bakteri.
c. Kultur swab
Untuk mengidentifikasi tipe bakteri pada permukaan ulkus.
d. Pembuatan foto klinis
Dibuat untuk memperlihatkan sifat serta luasnya kelainan kulit atau ulkus dan
dipergunakan untuk perbaikan setelah dilakukan terapi.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul :
1. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan, perawatan luka.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,
ketidak mampuan memasukkan makanan melalui mulut.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan mekanis dari jaringan
sekunder akibat tekanan dan gesekan.
4. Kerusakan mobilitas fisik bergubungan dengan nyeri atau tak nyaman, penurunan
kekuatan dan tahanan.
5. Koping individu inefektif  berhubungan dengan luka kronis, relaksasi tidak adekuat,
metode koping tidak efektif.
6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan hilangnya lapisan kulit, kecacatan, nyeri.

17
7. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajannya informasi, salah
interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.
8. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan
kulit, pemajangan ulkus decubitus terhadap feses/drainase urine dan personal hygiene
yang kurang.

III. INTERVENSI
NO. DX TUJUAN DAN KH INTERVENSI RASIONAL
DX. 1 Setelah diberikan 1.      Tutup luka 1.      Suhu berubah dan
asuhan keperawatan sesegera mungkin. gesekan udara dapat
selama 3 x 24 jam, menyebabkan nyeri hebat
diharapkan nyeri 2.      Tinggikan pada pemajanan ujung kulit. 
pasien berkurang ekstremitas yang 2.   Untuk menurunkan
dengan KH : terdapat luka secara pembentukan edema,
1.      Klien periodik. menurunkan
melaporkan nyeri 3.      Beri tempat tidur ketidak nyamanan.
berkurang atau yang dapat diubah 3.      Peninggian linen dari
terkontrol ketinggiannya. luka membantu menurunkan
2.      Menunjukkan 4.       Ubah posisi nyeri.
ekspresi wajah atau dengan sering dan ROM 4.      Menurunkan kekakuan
postur tubuh rileks secara pasif maupun sendi
aktif sesuai indikasi.
5.       Perhatikan lokasi 5.      Perubahan
nyeri dan lokasi/intensitas nyeri
intensitas (skala 0-10). mengindikasikan terjadinya
komplikasi.
6.       Berikan tindakan 6.      Meningkatkan
kenyamanan seperti relaksasi, menurunkan
pijatan pada area yang tegangan otot.
tidak
sakit, perubahan posisi
dengan sering. 7.      Memfokuskan kembali
7.      Dorong perhatian, meningkatkan
penggunaan tehnik relaksasi dan meningkatkan

18
manajemen rasa kontrol.
stress. Seperti relaksasi
progresif,napas dalam. 8.      Kekurangan tidur
8.      Tingkatkan periode meningkatkan persepsi
tidur tanpa gangguan. nyeri.

9.      Untuk mengurangi rasa


9.      Kolaborasi dalam nyeri yang ada
pemberian analgesik
sesuai indikasi.

DX. 2 Setelah diberikan 1.      Auskultasi bising 1.      Immobilitas dapat


asuhan keperawatan usus. menutunkan bising usus.
selama 3 x 24 jam,
diharapkan kebutuhan 2.      Anjurkan makan 2.      Membantu mencegah
nutrisi pasien sedikit tapi sering. distensi gaster atau
terpenuhi dengan KH : ketidaknyamanan dan
1.      Nutrisi adekuat meningkatkan pemasukan.
(sesuai dengan
kebutuhan) 3.      Dorong pasien
2.      Tidak mual dan untuk memandang diet 3.      Kalori dan protein
muntah sebagai pengobatan dan diperlukan untuk
3.      Berat badan untuk membuat pilihan mempertahankan berat
stabil makanan / minuman badan dan meningkatkan
tinggi kalori/protein. penyembuhan.
4.      Lakukan oral
hygiene sebelum makan. 4.      Mulut yang bersih
dapat meningkatkan rasa dan
5.      Kolaborasi dengan nafsu makan yang baik.
ahli gizi dalam 5.      Untuk memenuhi
pemberian nutrisi. kebutuhan nutrisi.
DX. 3 Setelah diberikan 1.  Observasi ukuran, 1.  Untuk mengetahui
asuhan keperawatan warna, kedalaman luka, sirkulasi pada daerah yang
selama 3 x 24 jam, jaringan nekrotik dan luka.

19
diharapkan integritas kondisi sekitar luka.
kulit pasien teratasi 2.  Pantau/ evaluasi 2.  Demam
dengan KH : tanda- tanda vital dan mengidentifikasikan adanya
1.      Menunjukkan perhatikan adanya infeksi.
regenerasi jaringan. demam.
2.      Menunjukkan 3.  Identifikasi derajat 3.  Mengetahui tingkat
penyembuhan perkembangan luka keparahan pada luka.
decubitus tekan (ulkus).

4.  Lakukan perawatan 4.  Mencegah terpajan


luka dengan tehnik dengan organisme infeksius,
aseptik dan antiseptik. mencegah kontaminasi
silang, menurunkan resiko
infeksi.
5.  Bersihkan jaringan 5.  Mencegah auto
nekrotik. kontaminasi
6.  Kolaborasi: 6.  Kolaborasi :
a.       Irigasi luka. a.       Membuang jaringan
nekrotik / luka eksudat untuk
b.      Beri antibiotik meningkatkan
oral,topical, dan intra penyembuhan.
vena sesuai indikasi. b.      Mencegah atau
c.       Ambil kultur luka. mengontrol infeksi.
c.       Untuk mengetahui
pengobatan khusus infeksi
luka.

DX. 4 Setelah diberikan 1.  Anjurkan keluarga 1.  Menghilangkan tekanan


asuhan keperawatan membantu klien pada daerah yang terdapat
selama 3 x 24 jam, mobilisasi. ulkus.
diharapkan kerusakan 2.  Atur posisi klien tiap 2.  Penghilangan tekanan
mobilitas fisik pasien 2 jam. intermiten memungkinkan
teratasi dengan KH : darah masuk kembali ke
1.    Klien mampu kapiler yang tertekan.

20
beraktivitas, miring 3.  Bantu klien untuk 3.  Mencegah secara
kanan miring kiri latihan rentang gerak progresif
dengan dibantu oleh secara konsisten yang untuk mengencangkan
keluarga diawalai dengan pasif jaringan parut dan
2.    Keadaan luka kemudian aktif. meningkatka pemeliharaan
membaik 4.  Dorong partisipasi fungsi otot atau sendi.
klien dalam semua 4.  Meningkatkan
aktivitas sesuai kemandirian dan harga diri.
kemampuannya.
5.  Buat jadwal latihan
secara teratur. 5.  Mengurang kelelahan dan
meningkatkan toleransi
6.  Tingkatkan latihan terhadap aktivitas.
ADL melalui fisioterapi, 6.  Meningkatkan hasil
hidroterapi, dan latihan secara optimal dan
perawatan. maksimal.
7.  Kolaborasi dengan
fisioterapi 7.  Membantu melatih
pergerakan

DX. 5 Setelah diberikan 1.  Kaji keefektifan 1.  Mekanisme adaptif perlu


asuhan keperawatan strategi koping dengan untuk mengubah pola hidup
selama 1 x 24 jam, mengobservasi perilaku. seseorang.
diharapkan koping Misalnya kemampuan
klien efektif dengan menyatakan perasaan
KH : dan perhatian. 2.  Pengenalan terhadap
1.  Menyatakan 2.  Bantu pasien untuk stresor adalah langkah
kesadaran kemampuan mengidentifikasi stresor pertama dalam mengubah
koping / kekuatan spesifik dan respon seseorang terhadap
pribadi kemungkinan strategi stresor.
2.  Mendemonstrasikan untuk mengatasinya. 3.  Dukungan dapat
metode koping efektif. 3.  Beri reinforcement meningkatkan kepercayaan
positif dan support diri klien.`
mental pada klien.

21
DX. 6 Setelah diberikan 1.  Kaji perubahan pada 1.  Episode traumatik
asuhan keperawatan pasien. mengakibatkan perubahan
selama 1 x 24 jam, tiba-tiba.
diharapkan gangguan 2.  Berikan harapan 2.  Meningkatkan perilaku
citra tubuh pasien dalam parameter situasi positif individu.
teratasi dengan KH : individu, jangan
1.  Menyatakan memberikan keyakinan
penerimaan situasi diri. yang salah.
2.  Memasukan
perubahan dalam
konsep diri tanpa harga
diri negatif.
DX. 7 Setelah diberikan 1.       Kaji tingkat 1.      Memberikan
asuhan keperawatan pemahaman klien dan kesempatan untuk
selama 1 x 30 menit, keluarga terhadap proses memberikan informasi
diharapkan pasien dan penyakit. tambahan sesuai keperluan.
keluarga mengetahui 2.      Beri HE tentang 2.      Meningkatkan
tentang penyakitnya penyakit, pencegahan, pengetahuan klien dan
dengan KH : dan pengobatannya. keluarga agar dapat
1.      Menyatakan mencegah dan mengikuti
pemahaman kondisi, 3.      Tekankan terapi pengobatan.
prognosis, dan pentingnya melanjutkan 3.      Nutrisi optimal
pengobatan. pemasukan diet tinggi meningkatkan regenerasi
2.      Berpartisipasi kalori dan protein. jaringan dan penyembuhan
dalam program 4.      Identifikasi tanda umum kesehatan.
pengobatan dan gejala yang 4.      Deteksi dini terjadinya
memerlukan evaluasi komplikasi.
medik seperti inflamasi,
demam, perubahan
karakteristik nyeri.
DX. 8 Setelah diberikan 1.      Observasi tanda 1.      Dugaan adanya infeksi.
asuhan keperawatan vital. Perhatikan demam,
selama 3 x 24 jam, mengigil, berkeringat,
diharapkan resiko peningkatan nyeri. 2.      Hangat, kemerahan,

22
infeksi klien teratasi 2.      Catat warna kulit, merupakan tanda awal dari
dengan KH : suhu, kelembaban. infeksi.
1.      Mencapai 3.      Ganti laken yang 3.      Laken yang kotor
penyembuhan luka sudah kotor dengan yang tempat bakteri
tepat pada waktunya bersih. berkembangbiak sehingga
dan bebas dari jaringan sangat beresiko untuk
eksudat, demam atau terinfeksi.
mengigil. 4.      Jaga kebersihan 4.      Mengurangi resiko
diri pasien. infeksi.

IV. IMPLEMENTASI
       (sesuai dengan intervensi)

V. EVALUASI
Diagnosa 1:
1. Klien melaporkan nyeri berkurang atau terkontrol
2. Menunjukkan ekspresi wajah atau postur tubuh rileks
Diagnosa 2 :
1. Nutrisi adekuat (sesuai dengan kebutuhan)
2. Tidak mual dan muntah
3. Berat badan stabil
Diagnosa 3 :
1. Menunjukkan regenerasi jaringan.
2. Menunjukkan penyembuhan decubitus
Diagnosa 4 :
1. Klien mampu beraktivitas, miring kanan miring kiri dengan dibantu oleh keluarga
2. Keadaan luka membaik
Diagnosa 5 :
1. Menyatakan kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi
2. Mendemonstrasikan metode koping efektif.
Diagnosa 6 :
1. Menyatakan penerimaan situasi diri.Memasukan perubahan dalam konsep diri tanpa
harga diri negatif.
Diagnosa 7 :

23
1. Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.
2. Berpartisipasi dalam program pengobatan
Diagnosa 8 :
1. Mencapai penyembuhan luka tepat pada waktunya dan bebas dari jaringan eksudat,
demam atau mengigil.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Ulkus Dekubitus  atau istilah lain Bedsores adalah kerusakan/kematian kulit yang
terjadi akibat gangguan  aliran darah setempat dan iritasi pada kulit yang menutupi

24
tulang yang menonjol, dimana kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur,
kursi roda, gips, pembidaian atau benda keras lainnya dalam jangka waktu yang lama.
Ulkus dekubitus dapat terjadi pada setiap tahap umur, tetapi hal ini merupakan
masalah yang khusus pada lanjut usia. Kekhususannya yang terletak pada insiden
kejadiannya yang erat kaitannya dengan immobilitas, inkontinensia, malnutrisi,
diabetes mellitus, insufisiensi vaskular, obesitas, hipoalbuminemia, dimensia berat,
dan berubahnya tingkat kesadaran (Darmojo, 2011).

3.2 SARAN
Dalam pembuatan makalah ini penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran
dari pembaca sangatlah kami perlukan agar dalam pembuatan makalah selanjutnya
akan lebih baik dari sekarang dan kami juga berharap pengetahuan tentang aplikasi
asuhan keperawatan gerontik dengan decubitus dapat terus di kembangkan dan
diterapkan dalam bidang keperawatan gerontik.

25
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marylynn E. Dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta : EGC
Rosernberg, Martha Craft & Smith, Kelly. 2010. Nanda Diagnosa Keperawatan. Yogyakarta:
Digna Pustaka.

26