Anda di halaman 1dari 11

UJIAN AKHIR SEMESTER TEKNOLOGI BERSIH

UPAYA TEKNIK MINIMASI LIMBAH (WASTE MINIMIZATION


TECHNIQUE) PRODUK MSG (MONOSODIUM GLUTAMATE) DI
PT.AJINOMOTO

Oleh :

RIA YOLANDA ARUNDINA

NIM.175100600111008

JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2019
1. Latar Belakang
Perkembangan Ilmu dan Teknologi berlangsung dengan pesat
seiring dengan berkembangnya jaman, sehingga memberikan banyak
dampak terhadap seluruh aspek pada kehidupan, salah satunya
perkembangan teknologi pada sektor industri pangan. Salah satu produk
yang merupakan hasil dari perkembangan teknologi di industri pangan
adalah Monosodium Glutamate (MSG). MSG merupakan penyedap rasa
yang memberikan rasa yang gurih atau umami pada suatu masakan.
Monosodium Glutamate berbentuk Kristal halus berwarna putih.
Monosodium Glutamate atau disebut juga Mononatrium Glutamate
yang merupakan garam natrium dari asam glutamat yang menyebabkan
rasa gurih atau rasa umami pada makanan. MSG dihasilkan dari asam
glutamat dan sodium yang diproses melalui proses fermentasi dengan
menggunakan bahan baku utama tetes tebu (Sano, 2009). MSG dihasilkan
pada proses fermentasi dari tetes gula (molasses oleh bakteri
Brevibacterium lactofermentum. Hasil dari fermentasi ini menghasilkan
asam glutamat yang selanjutnya ditambahkan soda (Natrium karbonat)
sehingga dihasilkan monosodium glutamat (MSG), setelah itu dimurnikan
dan dikristalkan sehingga membentuk serbuk Kristal murni (Simanjuntak,
2010).
Industri MSG menghasilkan limbah yang memiliki potensi
pencemar yang tinggi. Oleh karena itu, sebelum dibuang ke lingkungan
limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan limbah tersebut
menghasilkan sludge (lumpur). Untuk mengurangi biaya pengolahan
limbah lanjutan (pengolahan lumpur) tersebut maka dilakukan teknik
minimasi limbah. Limbah cair industry MSG mengandung bahan organic
8%-12% dan nitrogen 2%-7%. Selain itu, limbah cair tersebut
mengandung unsur ikatan Ca, Mg, K, P, dan S. Kandungan logam
beratnya sangat sedikit dengan tingkat kemasaman mendekati netral
(Utami, 2016).
Salah satu industri yang memproduksi yang memproduksi MSG di
Indonesia adalah PT. Ajinomoto. MSG yang dihasikan PT. Ajinomoto
dipasarkan dengan brand “AJI-NO-MOTO”. Penjualan MSG PT.
Ajinomoto sudah berjalan selama 47 tahun dan merupakan salah satu
penghasil MSG terbesar di Indonesia. Bahan baku yang digunakan oleh
PT. Ajinomoto untuk pembuatan MSG adalah tetes tebu (Cane Molasses)
dan tepung tapioca. Proses pembuatan MSG di PT. Ajinomoto secara
ringkas yaitu dimulai denga proses pengolahan bahan baku, lalu dilakukan
proses fermentasi menggunakan bakteri Brevebacterium lactofermentum
yang selanjutnya melalui proses isolasi, netralisasi, purifikasi,
pengeringan, pengayakan, pengemasan, dan dipasarkan.

2. Deskripsi Produk
MSG merupakan produk utama yang dihasilkan oleh PT.
Ajinomoto dengan merek dagang AJI-NO-MOTO. AJI-NO-MOTO
merupakan penyedap rasa yang dibuat melalui proses fermentasi dengan
menggunakan bahan utama tetes tebu atau cane molasses. Produk ini
sudah memiliki standar internasional dan berada dibawah lisensi
Ajinomoto Co.,Inc., Jepang sebagai perusahaan pertama yang
memproduksi penyedap rasa ini sejak 1909. Ajinomoto telah dipasarkan
dengan berbagai ukuran baik untuk konsumsi dalam negeri maupun luar
negeri. AJI-NO-MOTO berbentuk Kristal, tidak berwarna, tidak berbau.
Kualitas ini tetap terjaha meskipun pada suhu tinggi. Komponen utama
AJI-NO-MOTO adalah 78% glutamate, 12% natrium, dan 10% air.

Gambar 1. Produk MSG AJI-NO-MOTO


(Sumber:ajinomoto.co.id/produk-resep/produk-retail/aji-no-moto)
3. Skema Waste Minimization Techniques

Minimasi Limbah

Reduksi Pada Pemanfaatan


Sumbernya Limbah

Bahan Operasi Teknologi Produksi Reuse Recycle Recovery


Baku

Cake AJIFOL Sukrosa


Tetes Good House Teknologi Produk dan
Tebu Keeping Bersih Tidak Carbon Gula
e Amina Reduksi
Berbahaya
Tepung Larutan
Preventif Super
Tapioka Produk ML FML
Maintenance Decanter
Tidak
Centrifuge
Banyak AJITEN
Proses Limbah
Pengaturan Falling
Kondisi Film
Produk
Operasi dan Evaporator
Tahan
Proses Lama

Gambar. Skema Minimasi Limbah


4. Penjabaran Setiap Kerangka Waste Minimization Techniques
4.1 Proses Produksi
Proses yang dilakukan pertama pada produksi MSG adalah proses
diskalsifikasi. Proses dikalsifikasi merupakan proses pengurangan atau
penghilangan kalsium yang terkandung dalam tetes tebu dengan cara
menambahkan H2SO4 dan akan menghasilkan Treated Cane Molasses
(TCM). Pada proses ini dilakukan pada pH sekitar 2,5-3,3 untuk
mencapai titik isoelektrik sehingga membentuk endapan. Untuk
memepermudah proses pengendapan maka ditambahkan aronvis sebagai
koagulan. Proses ini dilakukan pada tangki dikalsifikasi pada suhu 90°C
dalam waktu selama ± 2 jam. Proses akhir disklasifikasi yaitu TCM dan
Heavy Liquor.
Proses sakarifikasi diperlukan untuk bahan tepung tapioka. Proses
sakarifikasi merupakan proses yang dilakukan untuk meningkatkan kadar
glukosa yang rendah pada TCM. Proses sakarifikasi dilakukan dengan
melarutkan tepung dan disaring menggunakan penyaring sekita 40 mesh.
Hasilnya ditampung dan ditambahkan enzim α-amilase dengan control
pH dan suhu 90-95°C.
Proses fermentasi terjadi karena adanya aktivitas bakteri yang
menghasilkan asam glutamat. PT. Ajinomoto menggunakan bakteri
spesies bateri Brevibacterium lactofermentum. Bateri tersebut digunakan
untuk mencegah glukosa pada TCM menjadi asam glutamat dengan
penambahan bahan pembantu fermentasi berupa ammonia (NH3) sebagai
sumber N pada media fermentasi dan sebagai control pH; H 2PO4 sebagai
sumber fosfat pada media dan juga sebagai antifoam pada proses
fermentasi. Pada fermentor juga dilakukan aerasi yaitu dengan
mengalirkan oksigen ke dalam fermentor.
Proses isolasi dilakukan untuk memisahkan asam glutamat dari
cairan fermentasi Hakko Broth (HB). HB yang mengandung asam
glutamat dipisahkan dari bahan lain yang tidak diinginkan, yang terdapat
dalam cairan induk (Mother liquor). Tahap isolasi terdiri dari 5 tahapan
yaitu asidifikasi, separasi, pencucian, kristalisasi, dan neutralisasi.
Proses purifikasi merupakan tahap lanjut dari tahap isolasi dan
merupakan tahap akhir dari proses produksi MSG. tujuan purifikasi yaitu
menghilangkan zat pengotor yang terdapat dalam MSG. Terdapat 3
tahapan utama dalam purifikasi yaitu dekolorisasi, Kristalisasi, dan
Separasi.

4.2 Teknik Minimasi Limbah


a. Reduksi Pada Sumber
 Bahan Baku
a. Tetes Tebu merupakan bahan dasar utama yang digunakan untuk
menghasilkan MSG di PT. Ajinomoto. Tetes tebu ini berasal dari hasil
samping dari produksi gula dan didalamnya masih terkandung glukosa
yang tidak dapat dikristalkan menjadi gula. Bahan baku yang
digunakan adalah hasil samping pada industri gula yang berarti
pengolahan ini juga merupakan teknik lanjut untuk mengolah limbah
tetes tebu menjadi produk bernilai jual dan meminimalisasikan limbah
yang ada.
b. Tepung tapioka yang diproses sakarifikasi yaitu pengubahan pati
menjadi glukosa.
 Operasi
a. Good House Keeping merupakan usaha menjaga kebersihan
lingkungan yang dilakukan dengan cara mencegah terjadinya ceceran,
tumpahan, atau bocoran bahan serta menangani limbah yang
dihasilkan dengan optimal. Salah satu upaya yang dilakukan pada PT.
Ajinomoto yaitu pada proses pencucian yang dilakukan pada kristal
asam glutamat dengan cara penyemprotan air ke kristal asam glutamat
dan laju air dijaga secara optimal agar menghindari loss kristal asam
glutamat.
b. Preventif Maintenance adalah pemeliharaan mesin secara periodic
dengan cara melakukan pengecekan pada mesin mulai dari kinerja dan
kondisi visualnya guna mencegah kerusakan yang tidak diinginkan
dan memperpanjang umur mesin sehingga mengurangi biaya
operasional.
c. Proses Pengaturan Kondisi Operasi dan Proses pada proses ini dimulai
dari tetes tebu hingga membentuk kristal MSG. Pengaturan kondisi
yang dilakukan diantaranya yaitu : (1)Persiapan bahan baku hingga
membentuk TCM yang akan dip roses pada proses fermentasi;
(2)Proses Fermentasi tetes tebu hingga menghasilkan asam glutamat;
(3)Memproduksi asam glutamat menjadi NL (Neutral Liquor);
(4)Penanganan unit purifikasi yang merupakan tahap akhir proses
produksi MSG.
 Teknologi
a. Teknologi Bersih yang diterapkan yaitu pemanfaatan hasil samping
dari hasil produksi MSG yang tidak dapat dibuang sehingga hasil
samping berupa limbah dapat diolah menjadi produk yang benilai jual.
Salah satu bentuk pengolahan produk yaitu : pembuatan pupuk
semprot, pupuk cair, dan pakan ternak berprotein tinggi.
b. Super Decanter Centrifuge penggunaan teknologi ini dapat
mengurangi air pengencer hingga 60% sehingga mengurangi
penggunaan air pengencer.
c. Falling Film Evaporator menguapkan larutan dan memekat larutan
dengan waktu tertahan yang pendek sehingga larutan tidak mengalami
pemanasan berlebihan selama mengalir melalui evaporator.
 Produksi
a. Produk Tidak Berbahaya produk PT. Ajinomoto sudah mendapatkan
sertifikat ISO 22000 untuk keamanan pangan dan ISO 9001 untuk
jaminan mutu. Sehingga produk MSG sudah dapat dipastikan tidak
berbahaya dan memenuhi standar jaminan mutu. Selain itu PT.
Ajinomoto memiliki standar mutu ajinomoto internasional yaitu
Ajinomoto Japan International Standard (AJIS) yang membuktikan
bahwa PT. Ajinomoto selalu menjamin bahwa kualitas produk yang
dihasikan selalu memenuhi standar.
b. Produk Tidak Banyak Limbah PT. Ajinomoto sudah mendapatkan
sertifikat 14001 untuk jaminan lingkungan, sehingga sudah menjamin
pengolahan limbah di PT. Ajinomoto baik. Pemanfaatan hasil samping
atau limbah membuktikan bahwa PT. Ajinomoto menerapkan
produksi bersih pada proses produksinya.
c. Produk Tahan Lama produk MSG yang dihasikan tahan lama
dikarenakan produk berbentuk kristal kering sehingga memiliki
kandungan air yang sedikit sehingga menyebabkan mikroba tidak bisa
tumbuh.

b. Pemanfaatan Limbah
 Reuse
a. Cake Carbon yang merupakan hasil penyaringan Niagara Filter 1
yang digunakan kembali pada proses neutralisasi Filtrate Liquor
penambahan cake carbon berfungsi untuk memaksimalkan karbon
aktif yang ada.
b. Larutan ML yang sudah dievaporasi dapat digunakan kembali menjadi
Industrial Waste (IW).
 Recycle
a. AJIFOL merupakan hasil pengolahan limbah yang berupa pupuk
semprot yang disemprotkan melalui daun. Kandungan dalam AJIFOL
yaitu Nitrogen, Fosfor, Kalium, dan hara makro lainnya dengan
beberapa hara mikro serta tambahan asam amino.
b. Amina merupakan hasil pengolahan limbah yang berupa pupuk cair
yang berfungsi untuk pertumbuhan tanaman dan meningkatkan
kegiatan mikroorganisme dalam tanah. Kadungan pupuk amina yaitu
Nitrogen, Fosfor, Kalium, dan beberapa unsure mikro.
c. FML (Fermented Mother Liquour) merupakan hasil pengolahan cane
molasses yang difermentasi sehingga memiliki kandungan protein
yang tinggi. Karena kandungan protein yang tinggi FML dijadikan
sumber protein alternatif bagi pakan ternak. Pemberian FML pada
ramsun mampu meningkatkan kecepatan laju pertumbuhan mikroba di
dalam rumen sehingga meningkatkan kandungan serat dan memenuhi
asam amino yang dibutuhkan dalam tubuh ternak.
d. AJITEN merupakan protein sel tunggal dengan kandungan protein dan
asam amino yang tinggi dan produk samping dari PT. Ajinomoto.
AJITEN mengandung beta glukan yang mampu meningkatkan efek
immunostimulasi yang bergunak untuk meningkatkan kekebalan atau
daya tahan tubuh.
 Recovery
a. Recovery sukrosa dan gula reduksi dari tetes menggunakan resin
dalam bentuk K atau Na.

5. Peran Pekerja Dalam Waste Reduction


Pekerja mampu menjadi faktor penting dalam waste reduction
kemampuan pekerja untuk memahami produksi bersih dan waste
management sangatlah penting untuk merealisasikan waste reduction.
Salah satu upaya merealisasikan waste reduction di bidang pengolaan
lingkungan dengan cara pelatihan-pelatihan dan pengenalan mengenai
waste management pada instansi tersebut. Adanya keputusan dan
kesepakatan seluruh elemen perusahaan untuk menjalanjan waste
reduction sehingga memiliki satu visi dan menjalankan dengan rajin akan
merealisasikan waste reduction. Untuk merealisasikan waste reduction
maka penerapan produksi haruslah berjalan dengan baik sehingga tidak
terjadi kesalahan dan error dalam produksi Untuk menjalankan produksi
bersih dengan baik maka harus ada komunikasi internal yang intensif,
mekanisme evaluasi, dan sistem intensif. Adanya kesadaran konsumen
yang telah menyadari pentingnya masalah yang terjadi pada lingkungan
menjadikan motivasi bagi pekerja untuk meningkatkan upaya waste
reduction yang dijalankan pada perusahaan atau instansi tersebut sehingga
memenuhi peraturan pemerintah di bidang lingkungan hidup. Peran
pekerja sangatlah penting dalam mewujudkan waste reduction karena
untuk merealisasikan itu diperlukan kerja sama dan satu visi dalam
prosesnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ajinomoto. 2019. AJI-NO-MOTO. ajinomoto.co.id/produk-resep/produk-


retail/aji-no-moto. Diakses tanggal 16 Desember 2019.

Sano, C. 2009. History of Glutamate & Production.


http://m.ajcn.nutrition.org/content/90/3/728S.full. Diakses tanggal 16
Desember 2019.

Simanjuntak, L. 2010. Pengaruh Pemberian Vitamin C Terhadap Gambaran


Histologis Hati Mencit (Mus Musculus L) yang Dipapari Monosodium
Glutamate. Medan : Universitas Sumatera Utara.