Anda di halaman 1dari 6

TUGAS KMB II

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Ns. Arabta M. Peraten Pelawi, M.Kep
Disusun oleh :
HAVIF FEBY EXCEL
18.156.01.11.014
2A Keperawatan
A. ABDOMEN

Pemeriksaan bersifat kompleks, karena organ-organ terletak didalam dan didekat rongga
abdomen. Pemeriksaan mencakup pengkajian struktur traktus gastrointestinal,
hati,lambung,uterus,ovarium,ginjal dan kandung kemih.Pemeriksaan abdomen klien
harus rileks, klien berkemih sebelum pemeriksaan dimulai Posisi klien terlentang atau
dengan posisi dorso rekumben,lengan dan kedua sisi lutut sedikit ditekuk. Area yang
nyeri dikaji paling akhir. Mempertahankan percakapan kecuali selama auskultasi
membantu mendistraksi klien.

a.INSPEKSI

Perawat mengobservasi klien selama aktivitas layanan rutin. Perawat mencatat postur
klien dan mencari adanya bukti-bukti pembelatan abdomen,berbaring dg lutut ditarik.
Untuk menginspeksi gerakan abnormal pada abdomen, perawat berdiri disisi kanan klien
dan inspeksi dari atas abdomen. Dengan posisi duduk untuk melihat tegak lurus pada
abdomen.

2. KULIT

 Perawat menginspeksi kulit abdomen untuk warna, adanya jaringan parut,pola


vena, lesi dan strie.
 Kulit memiliki warna yang sama dg bagian tubuh lain
 Pola vena normalnya samar, kecuali pd klien yg kurus.
 Strie terjadi karena peregangan jaringan (obesitas dan kehamilan)
 Jaringan parut menunjukan trauma/pembedahan masa lampau
 Tampilan regangan mengkilat mengindikasikan adanya asites

3. KONTUR DAN SIMETRISITAS

o Perawat menginspeksi kontur,kesimetrisan, dan gerakan permukaan abdomen,


memperhatikan adanya massa,penonjolan atau distensi.
o Abdomen datar membentuk bidang horisontal dan prosesus sifoideus sampai
simpisis pubis
o Abdomen yg bulat menonjol kedalam bola cekung dari bidang horizontal
o Normalnya bentuk abdomen simetris
o Perawat harus perhatikan hati agar tidak rancu antara distensi dengan obesitas

4. PEMBESARAN ORGAN ATAU MASSA

 Sambik observasi kontur abdomen, perawat meminta klien menarik nafas dalam
dan menahannya
 Kontur harus tetap halus dan simetris
 Manuver mendorong diafragma kebawah dan mengurangi ukuran rongga
abdomen
 Pembesaran Hati dan limfa dapat menurun kebawah rongga iga sehingga
menyebabkan tonjolan, pemeriksaan lebih cermat dengan palpasi
 Mengevaluasi muskulatur abdomen, klien mengangkat kepalanya, menyebabkan
massa dinding abdomen superfisial,hernia atau pemisahan otot lebih mudah
terlihat.

5. GERAKAN ATAU PULSASI


o Pria bernafas secara abdominal dan wanita berbafas secara kostal
o Jika klien nyeri hebat, gerakan pernafasan akan hilang,dan klien mengencangkan
otot-otot abdomenya untuk mengatasi nyeri.
o Inspeksi yg lebih cermat perawat dapat melihat gerakan peristaltik dan pulsasi
aortik dengan melihat abdomen dari samping untuk mendeteksi gerakan
o Pulsasi aortik terjadi bersama setiap denyut sistole dan muncul digaris tengah atas
umbilikus (area epigastric ).

6. AUSKULTASI
Mengauskultasi abdomen untuk mendengarkan bising usus dari motilitas usus dan untuk
mendeteksi bunyi vaskuler. Klien diminta untuk tidak berbicara Jika klien memakai
selang nasogastrik/selang intestinal yg dihubungkan ke pengisap intermiten, selang harus
dimatikan sememtara karena dapat mengaburkan bising usus.

7. MOTILITAS USUS
 Peristaltik/motilitas usus merupakan fungsi normal usus halus dan usus besar
 Bising usus merupakan bunyi lintasan udara dan cairan yg diciptakan oleh
peristaltik.Terjadi tidak teratur 5 – 35 kali per menit (Seidel et all,95),
 Perawat mengauskultasi klien tepat setelah makan atau lama sesudah makan,
bising usus cenderung meningkat
 Tidak adanya bunyi mengindikasikan berhentinya motilitas gastrointestinal terjadi
akibat obstruksi usus tahap akhir,ileus paralitik atau peritonotis.

b. PERKUSI

Perkusi abdomen dilakukan untuk mengetahui letak organ-organ yang berada


dibawahnya, tulang dan massa dan membantu mengungkapkan adanya udara didalam
lambung dan usus. Perkusi secara sistemik setiap kuadran untuk mengkaji area-area
timpani dan pekak. Area yang berpotensi menimbulkan nyeri selalu diperiksa paling
akhir. Timpani mendominasi adanya udara dalam lambung dan usus. Perkusi pekak
terdengar diatas massa padat seperti hati,limpa,pankreas,ginjal dan kandung kemih yang
terdistensi atau adanya tumor.

1. NYERI TEKAN PADA GINJAL

Dengan posisi klien duduk atau berdiri tegak, perawat menggunakan perkusi langsung atau tidak
langsung untuk mengkaji adanya inflamasi ginjal. Perawat memperkusi posterior sudut
kostovertebra digaris scapula. Jika ginjal meradang, klien akan merasakan nyeri tekan selama
perkusi.

c. PALPASI

Palpasi yang digunakan palpasi ringan dan dalam Palpasi ringan pada semua kuadran. Area yang
menimbulkan nyeri dipalpasi paling akhir. Palpasi sistematik dari setiap kuadran mengkaji
adanya resistensi muskuler,distensi,nyeri tekan dan organ atau massa superfisial. Abdomen
normalnya halus,lunak konsisten dan tidak ada nyeri tekan tanpa massa. Ketegangan otot
disebabkan oleh peritonitis, kolesistitis dan apendiksitis.

1. HATI

Untuk mempalpasi hati, perawat meletakkan tangan kiri dibawah toraks posterior kanan
klien pada iga ke 11 dan 12 dan membeti tekanan keatas dan kebawah secara perlahan,
klien menarik nafas melalui abdomen. Hati normal tidak dapat dipalpasi, tetapi hati tidak
mengalami nyeri tekan dan memiliki tepi yang tegas,teratur dan tajam.

B. GINJAL

TIPE LOKASI KARAKTERISTIK SYMPTOMS

GINJAL Titik costovertebra Nyeri menjalar, tajam, menusuk Mual, muntah, diapo
pucat.

KANDUNG Area suprapubik Nyeri tumpul, kontinue, Urgency, nyeri pada


KEMIH berkemih,
URETER Titik costovertebra, panggul, Nyeri memberat, tajam, Mual, muntah
abdomen bawah, testis, labia menusuk,

PROSTAT Perineum, rectum Nyeri dirasa tersamar, didaerah Obstruksi aliran urin
punggung belakang dan frequensy, urgency,
perineum dysuria, nocturia.

uRETRA Laki-laki: Sepanjang penis Nyeri dirasakan selama berkemih Frequency, urgency,
dysuria
Wanita: pada meatus

1. INSPEKSI

 Inspeksi warna kulit, adanya strie, scars, lesion, pergerakan abdomen saat bernafas.
 Inspeksi warna umbilikus, lokasi dan bentuk
 Inspeksi pulsasi aorta dan pergerakkan peristaltik.
 Kulit dan membran mukosa. Catat warna, turgor, tekstur, dan pengeluaran keringat.

1. Mulut
2. Wajah
3. Abdomen
4. Pasien posisi terlentang, catat ukuran, kesimetrisan, adanya massa atau pembengkakan,
kembung, nyeri menetap, distensi, kulit mengkilap atau tegang.

2. AUSKULTASI
Auskultasi dilakukan setelah inspeksi sebelum palpasi dan perkusi dengan alasan suara
yang dihasilkan tidak bias, karena kalau palpasi dan perkusi lebih dulu dilakukan maka
akan merangsang peristaltik usus. Mengkaji adanya bruits yang merupakan indikasi
adanya stenosis arteri renalis atau aneurisma aorta. Jika terdengar bunyi bruit (bising)
pada aorta abdomen dan arteri renalis, maka indikasi adanya gangguan aliran darah ke
ginjal (stenosis arteri ginjal).
3. PALPASI
PALPATION : Area yang penting untuk palpasi adalah (abdomen, area suprapubik, genitalia,
punggung belakang bawah, ekstremitas bawah).
Palpasi langsung pada ginjal, dapat menilai ukuran. Posisi, bentuk dan mobility.
Hasil palpasi, teraba lunak disekitar ginjal, ginjal kanan lebih mudah dirasakan, karena letaknya
lebih rendah dari ginjal kiri.
Palpasi akan lebih sulit pada pasien obesitas.

PALPASI GINJAL
 Posisikan pasien terlentang/supine
 Pemeriksa berdiri di samping kanan pasien
 Latakkan tangan kiri di bawah pinggang pasien dan tangan kanan diatasnya.
 Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam kemudian angkat telapak tangan kiri untuk
menilai ginjal.
 Ulangi prosedur ini pada ginjal kiri.