Anda di halaman 1dari 2

Nama : Tiara Tari Kupula

NIM : 0606011810043

Kasus Anak ‘SR’ dan Gugatan Kepolisian

Tindakan sewenang-wenang berujung penganiayaan aparat kepolisian saat menangani


perkara anak usia 15 tahun 'SR' alias Koko cukup mencuri perhatian publik. Sekira 8 Juni
2009 silam, Koko ditangkap aparat dari Polsek Sektor Bojong Gede dan dituduh mencuri
perangkat elektronik. Koko bukanlah pelaku yang sebenarnya lantaran beberapa hari setelah
penangkapan itu, pelaku sebenarnya telah tertangkap dan menyatakan bahwa Koko tidak

terlibat sama sekali.

Beruntung, Putusan PN Cibinong No.2101/Pid.B/2009/PN.CBN pada 10 Agustus 2009


membebaskan Koko dari segala tuntutan jaksa dan meminta agar memulihkan hak-hak
terdakwa secara kedudukan, harkat, serta martabat. Putusan itu sempat mendapat perlawan
dari Kejari Cibinong dengan mengajukan kasasi. Hasilnya, 20 Januari 2010 hakim agung
menolak kasasi tersebut. Koko dan keluarganya tidak tinggal diam atas apa yang terjadi.

Melalui LBH Jakarta, pada 29 februari 2012 keluarga Koko menggugat secara perdata ke PN
Cibinong. Sebagai catatan, gugatan perdata kepada pihak kepolisian merupakan yang pertama
kali. Sayangnya, PN Cibinong lewat putusan No. 36/Pdt.G/2012/PN.Cbn menolak gugatan
tersebut. Namun, langkah berani dan pertama tersebut menjadi preseden ketika Kepolisian
melakukan tindakan sewenang-wenang saat menangani perkara. Buktinya, gugatan perdata
serupa di Padang, berhasil dikabulkan dan pihak Kepolisian mesti membayar ganti rugi Rp
100.700.

Menurut opini saya pada kasus tersebut, bila terjadi pada Anak “SR” tersebut adalah tetap
dimasukkan penjara padahal kasus tersebut bukan salah dia maka anak 'SR' tersebut otomatis
tidak bisa melanjutkan pendidikan tetapi di dalam lapas mereka bisa tetap belajar dan ada
ujian juga seperti Ujian Nasional. Nah, jika anak tersebut tidak bisa sekolah dan gugatan
perdata kepada pihak kepolisian tersebut ditolak maka yang mengganti rugi semua itu siapa
kalau bukan pihak kepolisian. Sedangkan anak 'SR' itu sangat sangat rugi. Rugi di waktu dan
bisa dikatakan juga pencemaran nama baik. Kalau ini tidak terdengar ke telinga presiden pada
waktu itu maka ini kasus yang tidak adil. PN Cibinong yang menolak maka mereka juga ynag
harus bertanggung jawab. Ini seperti hukum tumpul kebawah dan tajam ke atas.